
Mungkin ustadz Arief ada tugas di sekitar sini hingga memaksanya datang kemari. Bodoh, kenapa juga aku harus memikirkan tentangnya.
Di lapangan depan masjid santri berkumpul, bagaimana aku harus menemui ustadzah, sedangkan santri begitu ramai sekali. Apalagi, aku belum mengenal mereka semua. Aku malas jika sudah dihadapkan dengan masalah seperti ini. Bukankah lebih enak jika aku kembali ke kamar, lalu tidur.
Aku putuskan untuk kembali ke kamar. Dalam perjalanan menuju kamar, aku melihat beberapa santri di pojok kamar lantai dua. Tapi gerak-gerik mereka sangat tidak normal. Mungkin mereka sedang sakit sehingga mereka tidak mengikuti kegiatan. Aku lanjutkan saja untuk kembali ke kamar.
Sampainya di kamar, rasa kantukku tiba-tiba datang. Aku tidak tahu ranjang mana yang harus aku tempati dari tiga ranjang ini. Mungkin ranjang pojok kanan saja, terlihat sangat enak dan teduh. Akhirnya aku robohkan saja tubuh ini. Ah, nikmat sekali. Aku pun terlelap.
Tapi, tidak berapa lama setelah aku terlelap. Tiba-tiba, aku dibangunkan oleh orang yang belum aku kenal. Dia memakai kaca mata, mukanya bulat, dengan bentuk wajah khas timur tengah, hidungnya mancul, perawakannya agak kurus, dia seperti anak yang terlahir dari keturunan Arab.
"Cuy, itu kamar ana. Bagian anti di tengah bareng si Amel." Kata wanita itu.
"Oh, maaf, aku belum tahu." Jawabku.
"Anti santri baru ya?" Tanya wanita itu.
"Iya, aku santri baru." Jawabku.
"Kenalin nama ana Humairoh Ratbul Hadad." Wanita itu menyodorkan tangannya.
"Aku Aleya Ibtasamah Hababi." Jawabku dengan gapaian tanganku untuk tangannya.
"Tradisi disini, kalau ada santri baru biasanya ada perkenalan. Kita tunggu saja sebentar lagi temen-temen yang lain pada datang."
Tak berapa lama setelah Humairoh mengatakan itu. Muncul dua orang bersama Amel.
"Wih ada santri baru nih." Kata wanita berkerudung merah. Wajahnya terlihat mirip orang cina. Kulitnya putih, matanya sipit, hidungnya pesek, dan bibir tipis sehingga membuat wajahnya terlihat enak dipandang. Ditambah dengan gaya kerudung yang sederhana. Dia mendekatku dengan raut wajah yang aku rasa dia gemas melihatku.
"Iya Nis, namanya Aleya." Kata Amel sembari membaringkan tubuhnya ke ranjang.
"Lo udah kenalan Mel?" Tanyanya wanita itu sambil tangan kirinya merangkul pundaku.
"Sebelum gue kena hukuman, gue kan ngobrol dulu sama dia." Jawab Amel.
"Kenalin nama ane Nissa El-Karomah, panggil aja Nissa." Dia menyodorkan tangan kanannya dengan mata sedikit tertutup dan bibirnya tersenyum.
__ADS_1
"Aku Aleya Ibtasamah Hababi, panggil aja aku Aleya."
"Halo Aleya, nama abdi Euis Islama Dina salam kenal nya." Kata wanita satu lagi yang menghampiriku dengan menyodorkan tangan kanannya.
"Oh iya salam kenal juga Eius." Balasku dengan tersenyum.
Tidak kusangka, di tempat ini, aku menemukan teman baru. Dan mereka begitu santun padaku.
"Mel lo kenapa?" Tanya Nissa. Tangannya berhenti merangkulku. Dia berjalan menuju keranjang tempat Amel berbaring.
"Gue gak betah di tempat kek gini." Keluh Amel.
"Jika untuk tersenyum saja sulit, bagaimana kau bisa bahagia. Senyumlah senatural mungkin. Jangan berpura-pura senyum. Apalagi menutupi luka dengannya. Senyum senikmat yang kau bisa. Biar makin plong Mel." Saut Humairoh.
"Bodoh amat, gue tetep gak betah." Jawab Amel.
"Habis lo tiap hari bikin kasus terus. Gue juga dulu sama seperti lo, bahkan lebih buruk." Sambung Nissa.
"Mana gue tahu, lo pada kan belum cerita." Dengan nada kesal, dia menutupi wajahnya dengan bantal.
"Apa iya?" Saut Euis.
"Kalau begitu, bagaimana kalau malam ini kita ceritakan masa lalu kita, dan alasan kenapa kita ada di sini." Sambung Humairoh.
"Boleh, gimana Mel, setuju kagak?" Kata Nissa.
"Gue mah setuju-setuju aja. Tergantung lo pada." Jawab Amel.
Suasana kamar semakin cair. Padahal aku baru saja bertatap muka dengan mereka. Aku merasa, mereka adalah jawaban atas kesepianku.
"Oke, ane duluan ya." Kata Nissa.
Belum sempat Nissa bercerita, tiba-tiba pintu kamar berbunyi.
"Tok, tok, tok, tok!"
__ADS_1
"Assalamu'alaikum." Suara dari balik pintu.
"Wa'alaikumussalam." Jawab kami serempak.
"Krek!" Pintu kamar terbuka. Muncul dua wanita yang raut wajahnya lebih tua dari kami.
"Maaf mengganggu waktu istirahat kalian. Ukhti hanya ingin memperkenalkan diri, karena kabarnya di sini ada santri baru ya?" Tanya wanita itu.
"Iya Ukhti." Jawab Euis.
"Oh kamu ya? Nama kamu siapa?" Tanyanya padaku.
"Aleya Ibtasamah Hababi." Jawabku.
"Hababi?" Sambungnya terkejut.
"Iya Ukhti, itu nama Ayahku." Jawabku tersenyum.
"Jadi kamu putri dari Qori internasional itu?" Tanyanya lanjut.
"Aku belum tahu Ukhti, karena Ayahku sudah tidak ada ketika aku masih bayi." Jawabku.
"Berarti kamu belum pernah melihat wajah ayahmu sama sekali?"
"Belum Ukhti."
"Besok kamu ke kantor, nanti disitu ada banyak foto ulama, dan salah satunya foto ayahmu."
Sepertinya aku pernah menanyakan foto itu ketika aku mengambil seragam dan jadwal kegiatan. Pantas, waktu itu aku seperti tidak asing melihat wajah diantara foto itu.
"Maaf, memotong. Gais cerita masa lalu kita nanti setelah ini aja ya." Celetuk Nissa.
"Oh kalian mau cerita pribadi masing-masing. Boleh atuh Ukhti Milla ikutan." Sambung wanita yang sejak tadi berdiri di depan pintu.
"Bentar Ukht, ane tanyain mereka dulu." Nissa berdiri dari samping Amel.
__ADS_1
"Gimana gais, kita cerita aja sekarang ya. Biar Ukhti di sini juga pada tahu dulu kita seperti apa." Sambung Nissa.