Aku Santri?

Aku Santri?
Menjadi Santri


__ADS_3

"Alhamdulillah, semangat ade luar biasa. Bagaimana kalau langsung saja saya antarkan ke kamar santri? Mengingat sudah pukul lima sore lebih. Sebentar lagi adzan maghrib berkumandang. Harusnya TU sudah tutup dari jam empat sore tadi. Hanya saja, saya diamanati Abah untuk menunggu kedatangan Ibu. Jadi terpaksa TU buka sampai selarut ini. Mari Bu saya antarkan ke kamar santri."


Seketika Ibu langsung berdiri dan berhenti menangis, tangan halusnya mengusap basahnya pipi, dan nafasnya tersendat-sendat.


"Sebentar Pak, kami ambil barang-barang dulu di mobil. Biar sekalian bisa langsung beres-beres." Jawab Ibu dengan suara serak. Mungkin karena tangisannya yang terlalu berlebihan. Atau memang kesedihannya sudah sampai pada kadar tertinggi.


"Oh silahkan Bu, nanti saya tunggu di depan TU ya Bu."


"Iya Pak."


Hampir semua pakaian yang aku punya, termuat dalam koper besar ini. Mungkin, akan ada satu pakaian yang nanti tidak aku pakai untuk sekarang. Baju SMA-ku yang sudah satu tahun menemani perjalananku dengan Sasha. Mulai saat ini, aku bukan lagi anak SMA. Aku kembali menjadi anak kelas satu SMP. Semoga dengan pilihan ini, semua mimpiku tercapai.


"Aleya sudah siap?" Tanya Ibu padaku.


"Insya Allah Bu, semoga Aleya betah ya Bu."


"Ibu, akan doakan Aleya kapan pun itu. Ibu berharap, Aleya kelak bisa menjadi wanita sholihah yang dapat membahagiakan sesamanya."


"Aamiin."


"Yuk kita kesana."


Koper besar itu aku bawa. Perlahan-lahan menuju ruang TU. Suasana pondok semakin sepi. Tidak ada lalu-lalang santri seperti beberapa jam yang lalu.


"Ibu, kok sekarang sepi? Mereka pada kemana?"


"Oh santri-santri?"


"Iya Bu."

__ADS_1


"Sekarang kan sudah mau masuk shalat maghrib. Berarti mereka sekarang sedang berkumpul di masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah."


"Menjadi santri itu bagaimana rasanya sih Bu?"


"Mmm, bagaimana ya, nanti Aleya juga tau sendiri."


Bukan jawaban yang aku terima dari mulut Ibu. Hanya senyum manisnya yang melengkapi penasaranku tentang bagaimana rasanya menjadi santri.


"Bagaimana sudah siap? Coba dicek lagi barang kali ada yang ketinggalan." Kata penjaga TU itu menyambut kedatangan kami.


"Sepertinya sudah dibawa semua Pak." Jawabku.


"Kalau begitu, mari saya antar ke kamar."


Dalam perjalanan, aku melihat sekeliling bangunan megah pondok ini. Barisan kamarnya berjejeran rapi. Di depan kamar-kamar itu tidak sedikit baju-baju yang sedang dijemur, di samping pintu ada rak khusus untuk sepatu dan sandal, dan di sela antara kamar satu dengan kamar lainnya banyak tersimpan buku-buku yang tersusun rapi.


Benar saja, kamarku di lantai tiga paling ujung. Kata penjaga TU, kamar paling ujung itu dikhususkan untuk santri baru. Dan kebanyakan dari mereka mempunyaj latar belakang yang tidak jauh sepertiku. Alias mereka datang kemari karena terpengaruh oleh pergaulan jahat diluar sana. Akan seperti apa jadinya, dalam satu kamar terkumpul santri yang mempunyai catatan kelam dalam hidup mereka.


"Maaf Pak, satu kamar biasanya ada berapa orang ya?" Tanyaku penasaran.


"Biasanya ada enam orang, tapi untuk kamar ade yang sekarang hanya ada empat orang, lima dengan ade."


"Mereka baru semua ya Pak?"


"Iya baru semua. Dan usianya juga berbeda-beda."


"Apakah mereka mempunyai catatan masa lalu yang begitu buruk Pak?"


"Nanti ade kenalan sendiri saja ya. Kan katanya tak kenal maka tak sayang." Ketawanya pelan.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh. Akhirnya kami sampai juga di depan kamar pondok yang akan aku tempati.


"Krek!" Ketika pintu kamar dibuka, nampak ada tiga keranjang bertingkat, enam lemari besar berwaran pink, dan rak buku. Susunan keranjang itu sangat teratur. Satu di dekat dinding sebelah kiri, satu di dekat dinding sebelah kanan, dan satunya lagi di tengah. Satu keranjang mungkin di khususkan untuk dua orang. Satu di atas dan satu di bawah.


Jendela kamar pun terlihat sangat bagus, di sela antara kamar sebelah kanan dan kiri terdapat jendela dengan ukuran sedang. Jika kita melihat ke luar, maka kita akan disajikan pemandangan sawah dan pegunungan yang indah. Kamar mandi pun sudah disiapkan disini.


Aku mencoba keluar kamar. Dari depan kamar juga sangat indah. Pemandangan luasnya pondok dan megahnya masjid membuat mata tidak bosannya menatap. Apalagi ada banyak buku-buku di samping kanan. Seindah inikah pesantren? Senyaman inikah pesantren?


"Silahkan taruh barang-barang ade di lemari yang tengah. Setelah itu segera mandi dan ganti baju. Nanti setelah isya ade akan dibimbing ustadzah dan akan ada perkenalan dengan teman satu kamar."


"Oiya Pak, terima kasih atas perhatiannya ya." Jawabku.


"Mulai sekarang, panggil saja saya Ustadz Fahmi." Terlihat mukanya senyum.


"Oh, baik ustadz."


"Untuk Ibu, minggu depan saya minta berkas-berkas anak Ibu ya." Tambah Ustadz Fahmi.


"Insya Allah, minggu depan saya ke sini lagi tadz sambil menjenguk Aleya." Jawab Ibu.


"Kalau begitu, saya pamit ke bawa dulu ya Bu, soalnya adzan maghrib sudah berkumandang. Oiya, Ibu sama anaknya jangan lupa shalat ya. Tidak apa shalat di kamar dulu untuk sekarang, tapi besok anak Ibu wajib shalat di masjid, kecuali kalau sedang berhalangan. Yaudah Bu, saya pamit dulu ke bawa ya. Assalamu'alaikum."


"Iya tadz, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Dan Wa'alaikumussalam." Jawab Ibu.


Hari ini aku sudah berada di pondok pesantren. Entah apa yang akan terjadi setelahnya. Aku akan bertemu dengan empat orang lagi di kamar ini. Dan mereka mempunyai catatan masa lalu yang sama sepertiku.


Semoga di sini aku menemukan apa yang aku cari. Aku ingin mengenal Tuhan, aku ingin berhenti kesepian, aku ingin tidak lagi bersedih, aku ingin menjadi wanita seperti yang Ibu dan ayah harapkan, aki ingin di tempat ini aku menemukan segalanya.


Tidak kah harapanku ini terlalu berlebihan? Aku sekarang sudah menjadi santri. Tapi aku tidak tahu, bagaimana rasanya menjadi santri, dan sebenarnya seperti apa itu santri?

__ADS_1


__ADS_2