Aku Santri?

Aku Santri?
Mencari.


__ADS_3

Sebelumnya bermacam-macam keinginanku berada di kepala. Bertumpukan, berjejer, dan berdesakan memenuhi alam bawah sadar. Seketika langsung sunyi ketika aku berdiri di dataran ini. Kemana tujuan itu pergi?


Aku mulai mencarinya di sela kerudung-kerudung mereka. Aku melihat, tak ada satu pun yang aku dapatkan.


"Aleya kita kesini dulu. Kita harus bertemu dengan Kiyai sebelum Aleya menjadi santri." Saut Ibu.


Aku masih terdiam sejenak. Aku masih memandangi mereka.


Di depan kelas, melihat tertawa anak-anak membawa buku bertuliskan huruf Arab seraya berkata "Assalamu'alaikum Ustad!." Hati ini mulai meraba, mencari lagi dimanakah tujuanku itu? Adakah ia disini?


"Aleya buruan! Sekarang sudah mulai sore!"


Aku menoleh ke arah Ibu yang sudah menurunkan semua barang-barangku.


"Iya Bu."


Aku berjalan ke arah Ibu. Yang sudah siap bertemu dengan Kiyai.

__ADS_1


"Barang-barang langsung dibawa Bu?"


"Nanti, kalau kita sudah diterima oleh Kiyai."


"Lah emang harus ada kriteria Bu?"


"Iya, Kiyai tidak ingin menerima santri yang tidak mempunyai niat untuk belajar dan mempunyai catatan buruk. Kiyai juga tidak mau menerima santri yang mempunyai keadaan tubuh yang lemah, emosi jiwa yang tinggi, rakus makan, suka tidur, tidak mau membaca buku, dan tidak mau berbuat baik. Ditakutkan santri yang seperti itu justru akan menimbulkan efek buruk untuk santri yang lainnya."


"Bagaimana dengan Aleya Bu? Aleya pernah kotor, bahkan Aleya pernah ke club malam dan pergaulan Aleya hampir sama seperti pergaulan muda-mudi jaman sekarang."


"Kita coba saja dulu ya, semoga Kiyainya mau menerima."


Jeritanku halus. Namun kata yang tersurat begitu menyayat hati dan kembali membuatku mencari dimana tujuanku itu? Apalagi pada kalimat ini "Aku belum bisa apa-apa." Aku merasa tanggung jawab di kakiku tidak bisa dihindari.


Bila saja dengan hanya berlari dan menjauhi aku bisa lebih tenang. Sayang, perbuatan itu bukan solusi. Hanya membuang waktu saja.


Di lain kondisi dan situasi seperti ini, tetap tidak ada yang memberiku jalan. Ketika aku mulai pusing dengan keadaan, ketika aku mulai terapung, ketika aku mulai terputus benang, dengan berita yang Ibu katakan. Bahkan Tuhan pun masih belum mengerti. Atau jangan-jangan aku yang terlalu sombong pada-Nya. Padahal yang aku inginkan hanya ingin mengenal lebih dalam tentang-Nya.

__ADS_1


Jika sesusah ini syarat menjadi santri. Semua yang dikatakan Ibu hampir ada padaku. Aku pastikan hidup di daratan ini, aku tak akan mencari tujuan apapun. Aku biarkan dia menghilang. Kemana pun dia pergi, aku tak akan mengejarnya. Dan sampainya aku tidak mendapatkan apa-apa. Mungkin satu, aku bisa membuat ibuku lega dan tersenyum. Kurasa itu cukup. Bahkan lebih dari cukup.


"Yuk, bismillah, semoga kamu diterima ya nak."


"Tapi Aleya masih belum PD Bu!"


"Udah, nanti juga Aleya tahu maksud yang Ibu katakan apa."


Akhirnya aku menurut saja pada Ibu. Aku berjalan dibelakang Ibu menuju rumah Kiyai. Dalam perjalanan aku melihat banyak santri yang tersenyum bahagia. Tidak ada raut wajah yang pucat. Seperti yang aku harapkan, mereka tidak sendiri dan sepi. Sepertinya aku akan bahagia disini.


Tidak berapa lama, sampailah kita di depan rumah Kiyai. Aku menarik baju Ibu dan membisikan sesuatu.


"Ibu, ini benaran rumah Kiyai."


Ibu menundukan kepalanya, mengarahkan telinganya pada bibirku. Setelah mendengar perkataanku itu, Ibu mengelus dadanya.


"Nak, setelah kamu diam disini. Kamu akan mengerti."

__ADS_1


Rumah sejelek ini dengan dikelilingi bangunan megah disekitarnya mirip bangunan ala hotel bintang lima. Apa benar ini rumah sang kiyai? Dinding rumah yang masih terlihat kusam batu bata, alas yang tidak berlantai, hanya alas tanah saja yang sudah tampak halus, jendela kaca hanya ditutupi spanduk bekas, dan atap rumah rapi namun belum tertutupi langit langit. Tidak mampukah kiyai membangun rumah yang indah? Padahal bangunan pondok untuk santrinya begitu megah nan mewah. Aku semakin penasaran ingin segera bertemu dengan sosok itu. Dan aku juga penasaran, apakah aku akan diterima dipondok pesantren yang megah ini.


__ADS_2