
Jam menunjukan pukul sembilan belas lebih lima belas menit. Suara bedug bergema, disusul kumandang suara adzan dari masjid pondok yang letaknya tidak jauh dari kamarku, kira-kira seratus meter.
Suasana kamar masih sepi. Tidak ada satu orang pun kecuali aku. Aku penasaran dengan kegiatan di luar kamar, se-sepih ini kah? Atau justru lebih ramai?
Aku berjalan keluar kamar. Ketika langkahku sudah berada di garis pintu dan aku buka, tiba-tiba Bruk!" seseorang menabrakku.
"Afwan!" Kata wanita berkerudung putih yang menabrakku. Nampak raut wajahnya sedang tergesah-gesah dan langsung masuk ke dalam kamar.
"Maaf, ada apa dengamu?" Kataku berbalik badan.
Langkah kakinya kembali mengarah padaku. Ketika dia tepat di hadapanku, aku ditarik pelan, lalu pintu kamar ditutup olehnya.
"Ada apa kok ditutup lagi?" Tanyaku penasaran.
Dia menuntunku, ke ranjang tengah. Lalu menyuruhku duduk.
"Lo santri baru ya?" Tanya dia padaku.
"Iya, emang kenapa?" Jawabku.
"Oh ya, kenalin gue Amelia Mahmud. Panggil aja gue Amel, gue juga santri baru disini." Dia menawarkan tangan kanannya.
"Salam kenal, Aku Aleya Ibtasamah Hababi, panggil saja aku Aleya." Tanganku kananku menggapai tangan kanannya.
"Lo yakin mau tinggal di sini?" Tanyanya lanjut.
"Iya."
"Serius?" Aku terkejut, tiba-tiba wajahnya mendekat ke wajahku.
"Serius, emang kenapa?"
"Gue cerita ya, gue tinggal di pondok ini udah lebih dari tiga bulan. Sumpah dah gue gak tahan sama aturannya, ketat banget. Nih sekarang gue juga mbolos shalat isya berjama'ah."
"Aturan?"
"Busyet dah, lo bener-bener gak tau apa-apa ya? Lah kok berani masuk kesini?"
"Aku cuma pengen memperbaiki diri, mungkin menurut aku ini tempat yang cocok."
"Memperbaiki diri apaan, gue justru bosen di sini, bukannya tambah baik, malah jadinya tambah parah. Gue dari dulu gak mau hidup gue diatur-atur. Makanya gue gak betah di sini. Nanti lo juga ngrasain sendiri. Apalagi, temen satu kamar di sini orangnya gak asik. Ada yang sok alim, ada yang kerjanya molor doang, satu laginya malah terlalu over kritik, bikin gue tambah gak betah di sini."
"Bukannya enak punya teman?"
__ADS_1
"Enak apanya, lo belum pernah ketemu sih sama mereka. Liatin aja habis isya. Otak lo bakal di bikin gak tenang sama mereka."
Ternyata benar kata Ustadz Fahmi, kamar ini di khususkan untuk mereka yang mempunyai latar belakang yang aneh. Aku yakin, Amel mempunyai catatan kelam dalam hidupnya. Sampai pada akhirnya, mungkin Amel memutuskan untuk pergi ke sini.
"Kalau boleh tahu, alasan Amel mau tinggal disini karena apa? "
"Lo serius nanya gitu?"
"Iya. Aku penasaran. Barang kali tujuan kita ke sini sama."
"Oke, gue ceritain. Bokap sama nyokap gue sekarang udah pisah. Gue punya saudara laki-laki, namanya Akbar Maulana. Tapi dia kabur dari rumah karena dia gak terima bokap sama nyokap gue pisah. Denger-denger dia sekarang lagi di Malaysia sama temen kampusnya buat nyari duit. Akhirnya gue di rumah sendiri sama nenek. Nyokap sama bokap gue udah gak ada yang ngasih kabar. Sekarang pun gue gak tau mereka ada di mana. Akhirnya, nenek gue mutusin buat mondokin gue di sini, karena hidup gue pas di rumah kerjanya cuma main game online, tidur, nonton tv, video call-an sama pacar. Kalau gue bosen di rumah ya gue main sama pacar gue ke mall, ngabisin duit, belanja tas, belanja sepatu, belanja make up. Pokonya kata nenek, hidup gue kaya gak ke urus. Apalagi gue udah berhenti sekolah gara-gara bokap sama nyokap gue pisah. Padahal tahun ini gue lulus."
"Emang kamu kelas berapa?"
"Gue harusnya kelas tiga smp, cuma gara-gara gue gak dikeluarin dari sekolah, otomatiskan gue gak dapet surat pindah, ujung-ujungnya gue harus kelas satu lagi. Kesel banget gue sama hidup."
"Kamu merasa sepi dan sedih gak?"
Ketika kita sedang asyik berbincang, tiba-tiba pintu ada yang mendobrak dari luar.
"Brakk!"
Kami terkejut ada dua orang wanita dengan tidak sopan mendobrak pintu kamar kami. Apalagi pertanyaan yang aku lontarkan pada Amel belum terjawab.
"Nanti kita lanjut setelah ini." Bisik Amel padaku.
"Mereka siapa Mel?" Tanyaku penasaran.
"Mereka Ustadzah pembimbing kamar kita."
"Brokk!"" Salah satu dari mereka memukul pintu dengan keras.
"Kalian dengar tidak?! Malah masih ngobrol" Dilanjut teriakan wanita berkaca mata tadi.
Amel berdiri dari tempat tidur. Dia melangkahkan kakinya menuju arah mereka.
"Kamu lagi, kamu lagi!" Sepertinya amarah wanita berkaca mata itu semakin tinggi. Terlihat tangannya menunjuk ke arah Amel. Dan Amel pun hanya bisa menundukkan kepalanya.
Melihat kondisi Amel yang seperti itu, aku merasa tidak tega dan seketika ingin sekali melampiaskannya pada dua wanita itu.
"Kalian siapa seenaknya masuk ke kamar orang? Terus pake marah-marah segala. Kalian gak tau sopan santun ya?" Teriakku pada mereka.
Salah satu di antara mereka menghampiriku. Tapi, Amel menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Dia santri baru ukhti, dia belum tahu apa-apa tentang aturan di sini." Kata Amel dengan tetap menundukkan kepalanya.
"Oh, kamu santri baru. Habis isya kamu menghadap kami di depan masjid. Ada yang mau kami sampaikan. Untuk sekarang, kamu shalat di kamar dulu."
Setelah mengucapkan kalimat itu, mereka pergi keluar dengan membawa Amel. Kejadian tadi membuatku semakin aneh. Apakah perilaku seperti itu wajar di sini? Bukankah pondok pesantren yang aku bayangkan adalah pondok pesantren yang dapat mendekatkan-Ku pada-Nya? Entahlah, mungkin karena aku masih baru di sini. Jadi aku tidak tahu apa-apa.
Aku kembali duduk di tempat tidurku. Oiya, aku lupa, aku harus melaksanakan shalat Isya pertamaku setelah beberapa bulan sudah aku tinggalkan.
Miris memang, meninggalkan Tuhan yang ada hanya karena hidup. Jika teringat lagi, hatiku menjadi sakit. Aku pastikan mulai sekarang aku tidak akan lagi melupakan Tuhan.
Setelah aku selesai melaksanakan kewajibanku. Aku duduk di atas ranjang sembari melihat pemandangan malam dari jendela.
Langit begitu cerah, bintang-bintang pun terlihat sangat banyak, apalagi di atas bukit yang hijau. Segar sekali mataku malam ini. Tapi, ada perasaanku sepertu ada yang kurang. Oh iya, aku ingat, ustadzah tadi menyuruhku untuk menemui mereka di depan masjid. Tidak perlu berpikir lama, aku putuskan untuk menemui mereka.
Langkah kakiku baru saja di depan kamar. Aku dikejutkan dengan banyaknya orang berkumpul di lapangan depan masjid. Kalau aku hitung, mungkin ada sekitar lima ratus orang. Karena aku penasaran, langkah kakiku menjadi semakin cepat melangkah.
Dengan jelas sekali aku lihat, mereka semua wanita berkerudung. Sedang apa mereka sebanyak itu berkumpul? Apakah mereka semua santri?
Langkah kakiku semakin kencang melangkah. Dan tiba waktunya aku menginjakkan kakiku di lantai paling bawah. Apa yang sedang mereka lakukan? Dalam benakku masih tersimpan penasaran. Dan akhirnya aku langkah kakiku tiba di antara mereka.
Apa yang harus aku lakukan setelah ini. Dari banyaknya orang yang berkumpul, bagaimana aku bisa mencari ustadzah?
Ketika aku dalam kebingungan, tiba-tiba aku mendengar ada seseorang yang memanggilku.
"Hey kamu, sini."
Aku mencari dari mana suara itu. Akhirnya mataku tertuju lambaian tangan di barisan paling belakang. Aku dekati dia.
"Kamu santri baru ya?" Tanyanya padaku.
"Iya." Jawabku.
"Kenalin, saya Hasna kelas delapan B."
"Oh iya, saya Aleya. Ngomong-ngomong ada apa ya kok ramai sekali?"
"Ini kegiatan wajib belajar pidato Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Nanti di sesi akhir, ada pengumuman santri yang kena hukum."
"Kena hukum?"
"Iya, santri yang bandel, nanti dihukum setelah kegiatan ini."
Santri? Bandel? Sebenarnya apa arti dari kata itu. Seakan telingaku tidak terima mendengarnya.
__ADS_1