Aku Santri?

Aku Santri?
Cerita Masa Lalu Ibu


__ADS_3

Sakit dan begitu perihnya ketika bibit cinta yang kita tanam dihati seseorang tidak tumbuh. Apalagi cinta itu harus mati karena tidak ada sedikit pun siraman, perhatian, dan kesetian. Hal itu sudah dirasakan Ibu dan aku.


Setelah kejadian naas itu, Saeful meninggal. Atas kejadiaan itu juga, Ibu banyak cerita tentang dia. Dan yang membuat aku terkejut, Ibu dengan jujur mengatakan bahwa Saeful bukan Ayah kandungku.


Ibu bercerita panjang lebar, bahkan membingungkan. Ibu berkata, bahwa Saeful adalah mantannya dulu ketika Ibu masih duduk di bangku SMP. Banyak wanita sebayanya yang berebut Saeful. Dia pintar matematika, bahasa inggris, dan jago bermain musik. Bagaimana wanita tidak suka dengan pria yang jago matematika? Ditambah Saeful juga jago bermain musik. Tapi sayang, kata Ibu, Saeful mempunyai watak yang buruk. Dia arogan dan tidak berpikir panjang jika sedang menghadapi masalah. Wataknya terlihat jelas ketika Saeful ingin membunuhku.


Cerita Ibu berlanjut, setelah dua bulan berkenalan. Akhirnya Ibu dan Saeful berpacaran. Hampir setiap harinya, hari-hari Ibu terisi dengan kehadiran Saeful. Ketika Ibu sedih, Saeful selalu ada. Ketika Ibu butuh pun, Saeful selalu ada. Bahkan, kata Ibu, Ibu sampai berani menjual harga dirinya pada Saeful karena cinta. Hanya saja waktu itu, Ibu tidak sampai berani mengorbankan kewanitaannya secara berlebih. Alias hanya sekadar cium bibir, cium pipi, cium kening, dan pelukan mesra. Tidak sampai ke rana hubungan intim layaknya suami istri.


Begitulah ketika cinta sudah mengubah iman menjadi debu yang tidak terlihat. Apapun akan terlihat indah walau itu harus menjatuhkan harga diri. Seakan tubuh wanita yang seharusnya mulia, justru dijual murah dengan bayaran cinta.


Sejahat itukah cinta? Merusak iman seseorang dengan menawarkan nafsu cinta yang terlihat indah?


Sampai pada akhirnya, Ibu dan Saeful harus dipisahkan oleh keadaan. Setelah mereka kepergok sedang berduaan di rumah. Akhirnya, Ibu dipaksa Kakek untuk melanjutkan SMAnya di pondok pesantren. Kisah cinta mereka tertutup sementara karena jarak dan waktu yang tidak bisa dipertemukan. Bahkan aku baru tahu bahwa aku mempunyai ayah kandung yang bernama Umar Hababi.


Kata Ibu, Ayah kandungku meninggal ketika aku baru berusia empat bulan. Perasaan Ibu pada saat itu sangat sakit sekali. Bagaimana tidak sakit, perjalanan kisahnya sangat indah daripada kisah cintanya dengan Saeful.

__ADS_1


Pada waktu itu, Ibu sudah menjadi seorang santri, dan ayahku juga seorang santri. Mereka dipertemukan di acara lomba tilawatul Qur'an.


Ibu yang saat itu hanya duduk sebagai penonton dan Ayah kandungku sebagai peserta yang berhasil menjadi juara dua.


Dari pertemuan itu, Ibu jatuh hati pada seorang yang bernama Umar Hababi, pria berkacama mata yang pada saat itu bacaan Qur'annya begitu merdu nan indah.


Awal cinta Ibu dengan Umar berawal saat Umar menyampaikan perasaannya melalui surat yang dititipkan pada teman Ibu. Kebetulan teman Ibu adalah sepupuh dari Umar Hababi.


Isi surat itu Ibu bacakan sambil menangis.


Dari surat menyurat itu, akhirnya kisah percintaan mereka berlanjut sampai menikah dan mempunyai anak bernama, Aleya Ibtasamah Hababi, yaitu aku.


Tapi sayang, ketika cinta mereka sedang dalam bahagia karena kehadiran seorang anak. Umar Hababi harus menderita sakit yang tidak jelas. Kata Ibu, penyakit itu bukan penyakit biasa. Alias ada seseorang yang tidak menyukai Umar. Sampai akhirnya Umar Hababi tidak bisa bertahan hidup karena penyakit yang dideritanya.


Dari cerita Ibu, aku merasa ada yang aneh. Setelah Umar Hababi meninggal, Saeful datang dan mendekati Ibu lagi. Ini kebetulan? Ternyata tidak, Ibu bercerita lebih jauh lagi.

__ADS_1


Kedatangan Saeful setelah Ayah kandungku meninggal itu memang sesuai skenario Saeful. Saeful tidak terima, cinta pertamanya direbut orang lain. Walaupun Ibu tahu, Saeful sejahat itu, anehnya Ibu tetap mau menikah dengannya. Bahkan lebih parah lagi, setelah Saeful menikahi Ibu, tujuan Saeful mulai berbeda, dia ingin menguasai harta kekayaan Kakek. Itu sebabnya juga kematian Umar dan Kakek hampir sama. Ibu tahu tentang kebenaran itu, karena teman dekat Saeful sangat peduli dengan Ibu dan banyak bercerita tentang Saeful.


Memang sulit jika sudah bermain cinta dengan ilmu hitam. Setelah tujuh belas tahun lamanya Ibu menjadi korban cinta, dan baru tersadar sekarang. Bahwa cinta bukan sekadar penampilan fisik dan skill belaka. Melainkan harus ada kesamaan iman dan keterbukaan hati. Kesamaan iman untuk meredam cinta yang terlahir dari nafsu, dan keterbukaan hati untuk melindungi kesamaan iman yang suatu saat bisa berubah.


Kata Ibu, cinta itu bukan sekadar kamu suka dia, dan dia suka kamu. Tapi, lebih dari itu, unsur bathiniyah dan lahiriyah harus sudah ada. Itu alasan kenapa menjalin cinta itu bukan perkara yang mudah. Semuanya harus dengan kesiapan lahir bathin yang matang.


Dari cerita Ibu, aku yakin bahwa bibit cinta akan tumbuh indah, berkembang dengan segar, serta tidak cepatnya ia layu mengering, adalah ketika bibit cinta itu kita tanam dihati yang subur dan sesuai. Seperti cinta Umar Hababi ke Ibu Karena bibit cinta bukan sekadar ditanam lantas dibiarkan. Tetapi bibit cinta itu harus selalu dijaga agar kelak nanti, ketika ia berbuah, ia akan menghasilkan buah yang berkualitas.


Cinta Ibu dan Saeful adalah cinta yang tidak subur serta ditanam pada hati yang tidak sesuai. Akhirnya hanya nafsu yang bermain. Umar Hababi yang tulus, menjadi korban atas keserakahan yang mengatas-namakan cinta.


Maka dari itu, aku menasihati diriku sendiri:


"Aleya, simpan bibit cintamu. Tanamlah nanti dihati yang tepat, jangan asal tanam! Sebab, buah yang akan dihasilkan tidak menjamin tumbuh kembangnya bibit lain. Bisa jadi, akan lebih parah."


Jadi, siapkah aku kelak menanam bibit cinta pada hati yang sesuai dan subur untuk kelangsungan hidupku nanti? Jika aku belum siap. Maka aku harus mencari tempat yang pas dan sesuai. Dan itu aku harus belajar lebih dalam lagi agar buah yang akan aku dapatkan bisa menyelamatkanku di tanah air ini, dan kelak ketika mulut ini tidak bisa berkata lagi.

__ADS_1


Dari cerita Ibu juga, aku mengerti bahwa bibit cinta yang belum mencapai batas umur, alangkah lebih baik dijaga. Mungkin seperti bibit cintaku. Aku harus menunggu sampai bibit cintaku sudah siap untuk aku tanam. Aku harus memaksa. Bukannya apa, aku takut jika aku tanam sekarang tanpa ikatan pasti, Tuhan akan memberikanku bencana bagi bibit cintaku kelak.


__ADS_2