Aku Santri?

Aku Santri?
Siapa


__ADS_3

"Kamu di sini saja dulu sama saya, kita ikuti acara ini sampai selesai. Oiya, kamu tinggal di kamar berapa?" Tanya Hasna.


"Aku gak tahu, aku baru saja tinggal di sini tadi sore." Jawabku.


"Owalah, pasti dapet di kamar lantai tiga."


"Kok Hasna tahu?"


"Biasanya santri baru pasti di situ, dan kebanyakan pasti anaknya nakal-nakal." Tambah Hasna.


"Aku belum tahu pasti sih, soalnya kan aku baru masuk. Aku juga baru ketemu sama satu orang, namanya Amel."


Mendengar nama Amel, nampaknya Hasna begitu terkejut.


"Amel kelas tujuh F?!" Tanya Hasna memegang tanganku.


"Gak tahu, aku hanya ingat namanya Amelia Mahmud."


"Wah, anak itu mah bener-bener di luar batas wajar nakalnya. Setiap hari pasti kena hukuman. Anehnya, tidak ada efek jera sama sekali walau sudah dihukum. Itu mungkin karena di pondok sudah tidak ada lagi hukuman fisik sejak banyak orang tua yang tidak terima anaknya dihukum. Hasilnya jadi begini, santri nakal, susah diatur. Tidak seperti waktu jaman kakakku dulu. Sekarang mah santri sudah manja-manja, sudah bukan kaya santri lagi."


Aku tidak mengerti maksud yang diucapkan Hasna padaku. Tapi memang pernah ada kasus di sekolahku dulu persis seperti yang Hasna ucapkan. Pak Bambang namanya. Dia harus berhenti mengajar karena menegur murid kelas tiga yang susah diatur. Beliau mengajar fisika kalau di kelasku. Aku mengenal beliau, beliau sangat baik pada semua siswa, termasuk diriku. Tapi, karena ada orang tua murid yang tidak terima anaknya ditegur, akhirnya Pak Bambang sampai dipolisikan. Mungkin, demi menjaga reputasi, beliau memutuskan untuk berhenti mengajar. Sangat disayangkan, padahal aku juga tahu, murid yang ditegur Pak Bambang merupakan murid yang terkenal bandel.


"Oiya Hasna, aku kan belum paham tentang hukuman di sini, aku juga belum paham tentang apa itu santri, Hasna bisa jelasin sedikit gak buat Aleya?"


"Santri ya? Hmm, Hasna juga belum terlalu paham sih. Tapi kalau sedikit aja sih bisa. Nanti juga Aleya bakal tahu sendiri apa itu santri kalau sudah betah di sini."


Akhirnya, ada seseorang yang akan menghilangkan rasa penasaranku. Bukanya apa, aku hanya merasa penasaran, kenapa setiap orang yang tinggal di pondok pesantren selalu digelari dengan jabatan santri, aku sama sekali tidak tahu arti dari santri. Maka dari itu, mendengar Hasna ingin menjelaskan tentang santri, hatiku begitu sangat bahagia. Walau aku tahu, ini bukan dari maksud dan tujuanku kesini.


"Gini Aleya, ada banyak sekali definisi santri. Saya ingin mejelaskan dari yang simple dulu ya. Santri itu.."

__ADS_1


Ketika mulut Hasna ingin menjelaskannya. Tiba-tiba ucapan Hasna harus dihentikan oleh teriakan seseorang.


"Kamu santri baru, sini!"


"Eh, kamu dipanggil tuh sama ustadzah." Kata Hasna.


Aku terkejut, kepalaku bergerak ke kanan dan kiri. Dimana seseorang yang Hasna maksud.


"Itu, di belakang." Hasna menunjuk ke arah perempuan cantik yang berdiri tegak di belakang kami.


"Besok setelah shalat dzuhur, kita ketemu di masjid lantai dua ya." Bisik Hasna.


"Oh, insya Allah ya Hasna. Aku akan kesana." Balasku senyum.


"Oke, saya tunggu ya."


Aku berdiri dan segera menghampiri sosok wanita cantik itu. Ketika dalam perjalan, pikiranku masih saja tertuju pada satu kata, santri. Satu kata yang begitu awam sekali di otakku. Bahkan sampai sekarang, tidak ada bahan yang bisa aku cerna tentang maksud dari kata itu. Anehnya, walau aku belum tahu apa-apa tentang kata itu, aku malah sudah berada di tengah-tengah mereka. Hanya karena ambisi untuk mengenal Tuhan, aku terbawa pergi ke cabang lain yang entah cabang ini masih ada ikatan dengan tujuan awalku atau tidak. Rasa penasaran pada satu kata membuat tujuan yang mulanya hanya satu, sekarang berubah menjadi bercabang.


"Iya." jawabku.


"Sini ikut saya!" Ajaknya padaku.


Aku dibawa ke ruangan kantor pondok. Dan sesampainya di dalam. Aku disuguhkan dengan pemandangan yang sangat indah. Banyak berjejeran foto-foto pria berjubah seperti wali, buku-buku tebal dengan tulisan Arab, dan bertengger rapi bermacam-macam piala.


"Silahkan duduk." Kata wanita cantik itu.


"Baik." Jawabku.


"Ini jadwal sehari-hari di pondok, silahkan dilihat dulu ya. Untuk besok, ananda Aleya kami sudah tempatkan di kelas tujuh F. Jadi besok, Aleya sudah mulai masuk sekolah. Dan ini seragamnya. Hari senin selasa, pake gamis putih kerudung putih, hari rabu dan kamis pake gamis hijau kerudung hijau, sabtu minggu pake pramuka, dan hari jum'at libur. Kalau untuk seragam pondok, tidak ada seragam khusus, asalkan pakaian itu sopan, rapi, dan tidak boleh memakai celana serta kaos. Sampai sini, ada yang mau dipertanyakan Aleya?"

__ADS_1


"Hmm.. Sekolah sampai jam berapa ya Bu?"


"Oiya, saya belum kenalan ya, perkenalkan nama saya Fadhilah Risma. Panggil saja ukhti Fadhilah. Untuk kegiatan sekolah kita menggunakan sistem full day, berangkat jam tujuh selesai jam empat sore."


"Baik ukhti, terima kasih atas infonya."


"Sama-sama, silahkan untuk sekarang Aleya boleh langsung tidur atau mau langsung ikut kegiatan. Tapi mulai besok, Aleya sudah resmi jadi santri."


"Hmm, santri?" Celetukku keras.


"Ya, ada yang bisa saja bantu Aleya?"


"Oh maaf Ukhti, tidak apa. Aku tadi lagi kurang fokus." Ketawaku kecil yang aku keluarkan terpaksa. Hanya karena salah tingkah.


Aku resmi menjadi santri? Santri? Kata itu muncul kembali. Aku ingin menanyakan pada Ukhti Fadhilah, Namun aku belum terlalu percaya diri jika harus berdialog dengan orang yang lebih tua dariku. Apalagi dia ustadzah di sini.


Rasa penasaranku muncul kembali. Mungkin sementara ini, aku hanya berharap pada jawaban Hasna nanti. Semoga besok, dia benar-benar akan menjelaskan arti kata santri padaku


"Sekarang silahkan Aleya boleh keluar."


"Baik ukhti."


Aku sudah mendapat seragam sekolah dan jadwal pondok. Itu artinya, aku sudah resmi menjadi santri seperti apa yang Ukhti Fadhilah katakan.


Aku berjalan ke arah tangga. Aku duduk sejenak di anak tangga lantai satu. Aku buka lembaran jadwal pondok. Sama seperti di sekolah, di pondok pun aku ditempatkan di kelas tujuh F.


Dalam jadwal tersebut tertulis; kitab kuning dilaksanakan setelah shalat isya dan subuh setiap hari, kecuali hari jum'at, sabtu, minggu. Hari jum'at ada kegiatan speaking setelah shalat isya dan baca buku setelah shalat subuh. Di hari sabtu ada kegiatan pengembangan bakat. Di hari minggu, santri wajib baca buku. Dan setiap hari di jam tiga malam sampai subuh, ada jadwal shalat tahajud dan dzikir. Setelah maghrib makan malam dilanjut dengan musyawarah.


Sepertinya besok hari-hariku akan semakin sibuk. Dari banyaknya kegiatan itu, jujur aku masih saja penasaran, apakah itu semua masih berkaitan dengan arti santri dan tujuanku?

__ADS_1


Kertas jadwal pondok aku lipat. Terdiam dengan tatapan kosong mengarah ke satu titik. Tidak sadar, aku melihat tampak dari jauh, sosok pria yang aku temui di rumah Kiyai. Dia Ustadz Arif, dengan sarung dan peci hitamnya, membuat mataku tidak hentinya menatap. Entah ini hanya perasaanku saja, atau memang dia sangat tampan. Bukannya dia laki-laki? Tapi kenapa dia berada di pondok putri?


__ADS_2