Aku Santri?

Aku Santri?
Sendiri


__ADS_3

"Bi Ina? Bi Ina? Di kamar pun gak ada kemana ya?"


Aku pandangi seisi kamar Bi Ina. Tapi tidak seperti biasanya. Gantungan baju yang biasanya padat oleh baju Bi Ina sekarang bersih. Barang-barangnya aku lihat sudah tidak ada. Hati mulai merasa khawatir dan rasa bersalah muncul seketika.


"Mungkinkah Bi Ina kabur karena aku sudah kasar padanya? Entahlah."


Rasa ini benar-benar tidak karuan. Rumah sepi, sahabat akan pergi, Bi Ina yang tidak tahu apakah akan kembali, dan keluarga mulai tidak peduli.


"Tutut tutut." Handphone di saku berbunyi. Aku lihat ada satu pesan.


"De Aleya, suami Bi Ina sakit. Dan sekarang sedang dirawat. Maaf Bibi tidak sempat pamit ke De Aleya. Karena di rumah sepi. Tapi Bibi sudah telpon Bapa dan Ibu. Katanya tidak apa-apa. Maafin Bi Ina ya jika selama di rumah Bi Ina sering bikin De Aleya jengkel."


Hati terdiam. Ia tidak bisa berkomentar apapun, akal pun lesu dan malas berpikir, mulut terkunci rapat, mata tak tahan diri untuk menangis, tubuh seakan ingin mati, lemas tak berdaya. Berjalan ke kamar saja kaki serasa sangat berat. Apalagi harus menaiki tangga. Tolong aku. Aku ingin rebah saja tubuh ini dan menghilang sementara.


Langkah demi langkah aku lewati. Dan akhirnya sampai pada kamarku yang indah. Ya inilah saatnya aku hilangkan jiwa dan ragaku. Aku ingin terlelap. Berharap ketika bangun. Masalahku pudar dan sirna.


***

__ADS_1


"Sha! Kamu yakin gak bakal pindah kan?"


"Kata siapa? Aku akan selalu menemanimu. Kamu adalah sahabatku yang paling mengerti."


Senyum manis Sasha. Membuat hatiku justru semakin tidak tenang. Bahkan jawabannya itu membuat aku semakin sakit.


"Sha kamu serius bakal tinggal disini bersamaku?" Kedua tanganku semangat menepuk pundak Sasha. Tapi aneh, wajah Sasha berubah menjadi Bi Ina.


"Kamu jahat De. Kamu jahat!"


"Tidak Bi, Leya gak jahat. Tanyakan saja pada Sasha. Bener kan Sha?" Aku terkejut tiba-tiba disampingku ada Ibu dan Ayah. Darimana mereka muncul?


"Iya nak, sini peluk Ayah juga. Ayah juga sayang Aleya."


"Kalian bohong! Semuanya bohong!!!!"


Teriakanku langsung membangunkan diri dari tidur. Tarikan nafasku begitu cepat, detak jantungku semakin tinggi, mataku melotot satu arah, dan pikiran masih tertuju pada mimpiku tadi. Seburuk inikah aku?

__ADS_1


Jam menunjukan pukul empat belas lebih dua puluh tiga menit. Gara-gara mimpi tadi pikiranku menjadi semakin penuh. Tak tahan ingin segera melepaskannya dan bebas. Terutama tentang Sasha. Aku harus menemuinya sekarang. Mungkin dia sudah pulang dari jam tiga belas tadi.


Aku bergegas menuju kamar mandi. Membasahi sekujur tubuhku. Berharap dengan ini, pikiran dan ragaku segar dan tidak kaku lagi.


***


"Sha kamu ada dirumah?" Tanyaku lewat Wa.


Terlihat hanya pesan itu berhenti di ceklis abu-abu. Biasanya pulang sekolah Sasha selalu menyegarkan dirinya. Walaupun dia anak yang rajin, tapi dia tidak pernah meninggalkan kegiatan yang isinya untuk menyegarkan diri. Apakah aku harus ke rumah Sasha. Sebentar lagi jadwalnya dia akan pergi ke toko Ayahnya yang jauh dari desa ini. Tapi, aku belum shalat dzuhur. Tersusul kah jika aku melaksanakan shalat terlebih dahulu? Ah sepertinya tidak. Nanti aku shalat disana saja. Tapi, aku lupa minggu ini aku kedatangan tamu. Walau begitu, aku ingat nasehat Ibu.


"Dalam kondisi apapun mengingat Tuhan merupakan kewajiban."


Aku akan selalu mengingat kata-kata itu. Kakiku langsung bergegas, tanganku mengambil kunci motor dan tas kecil hello kitty-ku yang berisi beberapa buku dari Sasha, dan tidak lupa ragaku dengan semangatnya menarikku untuk segera menemui Sasha.


"Ya Allah, maafkan aku. Aku lupa mengingat-Mu. Aku akan minta maaf pada-Mu dan pada Sasha. Tolong maafkan aku!".


"Krikkrik Breem." Suara khas motor matic-ku. Tak lupa kepalaku aku balut dengan pelindung. Dan "Bismillahi tawakaltu 'ala Allah. Semoga Sasha tidak marah padaku. Dan kita bisa baikan seperti dulu."

__ADS_1


***


__ADS_2