
"Assalamu'alaikum"
Pria berpeci hitam memberikan salam ketika kaki kami sudah masuk ke dalam ruang TU. Berbeda dengan Arief, dia sepertinya agak tua. Jika dilihat dari raut wajahnya, dia berusia dua puluh tujuh tahun ke atas.
"Wa'alaikumussalam." Balas kami.
"Ada yang bisa saya bantu Bu?"
"Oh, ini Pak, saya ingin mendaftarkan anak saya ke pondok ini."
"Oh sebentar Bu, saya cek dulu daftar ruangannya, apakah masih ada kamar kosong untuk santri baru atau tidak. Silahkan Ibu duduk dulu ya."
"Iya Pak."
Beberapa menit kemudian, pira berpeci hitam itu muncul kembali. Dengan membawa beberapa lembar kertas.
"Maaf, apakah nama Ibu, Ibu Cintia?" Tanya pria itu kepada Ibuku.
"Benar Pak." Ibuku berdiri sembari mendekatinya.
__ADS_1
"Oh iya Bu, saya mendapat amanah dari Abah, katanya anak Ibu bisa mondok disini. Tapi dengan syarat Bu."
"Dengan syarat Pak?" Terkejut Ibu mendengar ucapan pria itu.
"Iya Bu, kata Abah, jika anak Ibu ingin mondok di sini, maka dia harus memulainya dari awal."
"Jangan buat saya bingung Pak, langsung saja ke intinya. Mengingat ini sudah sore."
"Ibu istri dari ustadz Hababi kan? Qori internasional itu?"
"Iya Pak, tapi apa hubungannya mondok di sini sama suami saya? Walaupun dia alumni sini."
Mendengar kabar itu, Ibuku terdiam sejenak. Dan langsung berbalik badan melihat ke arahku.
"Sebentar Pak, saya tanya anak saya dulu."
Ibu berjalan pelan. Matanya seperti sedang menahan sesuatu. Aku melihat jelas matanya berkaca-kaca, menatapku. Ketika Ibu sudah di hadapanku, Ibu memegang pundakku, tarikan nafasnya terdengar keras. Lalu Ibu duduk di sampingku.
"Nak, ayahmu di sana mungkin sedang menanti doa anaknya. Dia ingin anaknya hebat. Dia masih mengingatmu ketika dia hampir menghembuskan nafas terakhirnya. Aleya tahu, ayahmu sudah bilang pada Abah Hasan agar Aleya mondok disini. Tapi, Aleya harus duduk di kelas satu SMP lagi. Aleya mau ya?"
__ADS_1
Tangis Ibu berserta pelukannya yang membuatku ikut terbawa suasana. Dalam kondisi seperti ini, sensitifnya wanita pasti akan keluar secara tiba-tiba. Namun sayang, justru yang aku ingat tentang ayahku bukan pada Hababi, tapi pada Saeful. Kenapa di saat seperti ini justru aku merindukan sosok Hababi yang wajahnya terwakilkan oleh sosok Saeful.
"Aleya dengar Bu, Aleya akan turuti apa kata Ayah Hababi."
Pelukan Ibu semakin erat dan isak tangisnya membawaku kepada kerinduan yang dalam pada sosok Ayahku sebenarnya. Seperti apa rupanya, apakah dia tampan? Bagaimana perangainya, apakah dia baik seperti Sasha. Air mataku tidak bisa berhenti terbawa oleh tangisan Ibu dan bayang-bayang Ayah.
Dari itu, aku tiba-tiba teringat sesuatu. Aku mempunyai tujuan untuk datang ke sini. Aku sudah bertekad dengan seyakin-yakinnya, aku tidak boleh berhenti, aku ingin lebih baik.
"Ibu jangan khawatir, Aleya pasti bisa mendoakan Ayah Hababi setelah Aleya mondok di sini. Aleya juga pasti akan mendoakan Ibu juga."
Tanganku memegang pundak Ibu, lalu aku usap air matanya. Terlalu sombong jika aku berjanji untuk bisa mendoakan Ibu dan Ayah. Tapi aku akan berusaha sekuat mungkin.
Sasha pernah berkata padaku.
"Hidup di dunia adalah suatu hal yang tidak mudah bagi kita. Banyak sekali godaan-godaan yang membuat tujuan hidup di dunia seharusnya hanya untuk beribadah kepada-Nya melainkan bergeser dari yang ada. Dalam masalah ini selaiknya bagi kita agar berusah menjadikan hidup ini tidak sia-sia seperti fatamorgana. Maka dari itu kita harus berusaha dalam hal apapun agar kita tidak menjadi seseorang yang merugi kelak di hari depan."
Waktu itu, aku terjatuh dari lantai dua sekolahku. Kejadian itu membuatku dirawat di rumah sakit selama berbulan-bulan dan berdampak pada kondisi tubuhku yang lemah, tulang rusuk dan tulang kaki kiriku patah. Kontan, kejadian itu membuatku ingin bunuh diri. Tapi saat itu Sasha ada di sampingku. Aku bersyukur, akhirnya aku mengurungkan niatku untuk pergi menjemput Ayah Hababi.
Mungkin inilah waktunya aku menuliskan catatan baru untuk Sasha, untuk Ayah Hababi, untuk Ibu, dan untukku bersama keinginanku mengenal Tuhan.
__ADS_1
"Saya tak apa Pak duduk di kelas satu lagi. Saya ingin belajar apa pun dari awal lagi. Saya siap." Seketika aku langsung berdiri dan dengan lantangnya berucap itu. Walau aku tahu, air mata ini akan terjatuh di atas kepala Ibu.