
"Kring! Kring!" Alarm handphoneku berbunyi. Pertanda hari senin yang menyebalkan sudah datang. Tapi tidak masalah, pagi ini aku merasa sangat berbeda. Tubuhku merasa lebih segar. Mungkin efek tidurku bertambah dua jam. Ah, itu bukan masalah, yang pasti, hari ini aku harus bisa mengikuti upacara tanpa harus jatuh pingsan.
Langit tampak cerah, cuitan burung-burung kecil begitu syahdu, udara segar, embun-embun yang tersaji manis di atas bunga mawar, membuat semangat pagiku bertambah.
Manusia satu persatu bermunculan keluar, berharap mereka akan menemukan rezeki Tuhan yang dapat membuat mereka bahagia. Entah itu rezeki senyum, keberuntungan, materi, umur yang panjang, atau sekadar bertemu sahabat karib. Seperti aku sekarang, Tuhan selalu meberikanku rezeki yang begitu indah kala pagi hari, yaitu seorang sahabat yang dari dulu selalu membuatku bahagia. Dia bernama Salsabillah Anjani. Tapi aku sering memanggilnya Sasha.
Hampir setiap pagi aku berangkat ke sekolah bersama Sasha. Dia sudah bersahabat denganku sejak kita masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Dan sekarang kita sudah menginjak kelas dua SMA.
Sasha adalah teman baikku yang selalu menasihatiku kalah aku terjatuh ke jalan yang salah. Dia cantik, perawakannya agak tinggi dan dia selalu memakai kacamata.
Kebiasaannya membaca buku. Kapan pun, dimana pun, buku tidak pernah lepas dari genggamnya. Dan dia selalu memarahiku, jika dia tahu aku dekat dengan lawan jenis.
Itu karena pendiriaanya begitu teguh untuk tidak pacaran. Terkadang aku iri dengan prinsip hidupnya Sasha. Tapi bagaimanapun Sasha adalah rezeki yang Tuhan berikan kepadaku untuk menutupi kesendirianku.
"Sha, tadi pagi aku tidak shalat subuh lo." Sambil ketawa kecil berharap dia tidak marah setelah mendengar ucapanku.
"Lah kok bisa?" Sasha berbalik badan dengan wajah terkejut.
"Habisnya Bi Ina bikin kesel aja bangunin Leya. Kan Leya jadi gak tahan kalau terus-terusan."
__ADS_1
Aku berusaha tetap menjaga agar Sasha tidak marah. Aku tahu, Sasha begitu peduli padaku jika aku melakukan kesalahan.
"Tetep aja, itu namanya kamu tidak melaksanakan perintah Allah. Kamu telah melakukan dosa. Kan udah Sasha bilang. Apapun itu lakukan kebaikan jika kita masih sanggup melaksanakan."
Nada keras, muka marah, dan tatapan mata yang selalu aku lihat ketika ketika Sasha emosi. Begitulah dia. Selalu over protect padaku jika aku melakukan kesalahan. Dia bagaikan malaikat dalam hidupku. Selalu dan selalu menasihatiku tanpa lelah.
"Tapi kan aku tidak sanggup Sha. Hehe." Ketawa kecil sambil menunjukan jari tengah dan telunjukku. "Piss!"
"Emang bener ya kamu tuh, perintah Allah kok buat becandaan." Sasha balik badan langsung meninggalkanku.
"Sa tunggu! Sumpah gak bermaksud becandain Allah. Sumpah Sa.!"
Sampainya di sekolah.
"Ayok yang diatas turun! Sudah jam berapa sekarang? Waktunya upacara!" Teriak salah satu guruku.
Syukurlah aku tidak terlambat. Setidaknya hari ini aku bisa mengikuti upacara. Ditambah tubuhku begitu sangat fit. Semoga tidak terjadi apa-apa.
Murid-murid sudah berkumpul dan berbaris rapi. Tiba saatnya upacara bendera dimulai. Aku ingin melihat wajah Sasha, apakah dia terlihat marah padaku. Aku tunggu sampai bagiannya disebut. Biasanya Sasha sering ditunjuk untuk membacakan UUD 45.
__ADS_1
Satu persatu acara demi acara dilakukan. Tapi, aku tidak melihat Sasha. Justru teman sekelasnya yang muncul. Sampai pada pengibaran bendera, wajah Sasha belum juga muncul.
"Indonesia tanah airku." Terdengar anggota panduan suara bernyanyi.
Mataku masih mencari-cari keberadaan Sasha. Kemana dia.
Walau aku bersyukur bisa mengikuti upacara sampai sejauh ini. Tapi, aku tidak yakin bakal ikut sampai akhir atau tidak. Sedangkan wajah Sasha belum juga aku temukan.
Kepalaku mulai pusing, punggungku sudah mulai merasakan basah karena keringat, kakiku mulai tidak kuat menahan berat badanku, mataku bergoyang, dan pandangan tiba-tiba gelap. Sasha maafkan aku.
****
Keramaian itu kemana dia pergi. Padahal beberapa jam lalu mereka berkumpul disini. Adakah dia akan kembali dengan suasana yang sama? Dimana mereka berdiri tegak menghadap satu arah. Mulut mereka terbisu dengan suka hati mengikuti satu demi satu susunan acara. Aku pun turut merasakan euforianya. Tapi kemana Sasha pergi? Apakah Sasha akan datang dengan rasa yang sama?
Berganti waktu dengan berjalannya sang detik. Aku tersadar. Ketika itu aku berada di dalam mobil sekolah. Aku diantar pulang oleh guru BK-ku.
Aku terkejut, dari dalam mobil sekolah yang mengantarku pulang, tampak sekilas wajah teman kecilku dulu. Dia sedang dalam keramaian dengan segudang perbedaan pada apa yang ada di sekolah.
Keramaian itu membuat mereka menangis, berdarah, sakit, dan kecacatan tiada tara. Kenapa temanku berubah sekejam itu? Bukan kah beberapa jam tadi perkumpulan tadi begitu syahdu? Bahkan kesedihan tak akan terlihat sedikit pun. Namun sekarang, kenapa dia datang dengan kesengsaran? Apakah dia benar-benar ingin membuat mereka berdarah? Aku yang hanya melihat saja merasakan betapa sakitnya jika masuk. Kenapa dia harus sekejam itu?
__ADS_1
Kesadaranku hilang kembali. Hingga akhirnya aku sudah berada di rumah. Kepalaku masih pusing. Aku tidak tahan ingin menidurkan mataku. Namun, ada kejanggalan yang membuatku bertanya, keramain yang tadi itu keramaian apa? Begitu seram yang aku lihat. Bahkan teman masa kecilku pun ada. Tapi aku tidak tahu siapa. Ditambah beban pikiranku tentang Sasha lebih sakit, aku pulang lebih dulu. Apakah Sasha akan memaafkanku?