
"YAH COPOT", Ujar Mayla baru saja dia hendak memutar kran air, untuk mengisi bak di kamar mandi namun dengan tiba-tiba kran air itu copot membuat air sulit untuk di tutup kembali.
oh tuhan—Mayla bingung harus bagaimana membiarkannya dan pergi ke kampus, atau mencari bantuan. pasalnya tekanan air sedang kuat nampaknya mesin air tengah memompa secara otomatis. atau dia menunggu sampai tekanan air mengecil? tapi sampai kapan?? karena cape, semalaman Mayla membiarkan bak mandinya dalam keadaan kosong, untung saja sehingga air tidak terbuang percuma. tapi bagaimana jika bak mandinya sudah penuh, Mayla tak dapat membayangkan apa yang terjadi setelahnya. Dia membawa sebuah kresek dan lakban untuk menutup kran air walau terlihat sia-si tapi itu dapat menekan keluarnya air ke bak dengan pelan.
Karena kakinya yang basah, tepat ketika keluar kamar mandi dia tergelincir kepala belakangnya membentur dinding dengan sangat kuatnya. dalam seketika menarik kesadarannya.
"Jangan sampai ini menjadi hari sialku tolong, " Ujar Mayla sambil berdiri memegang bagian kepala yang terbentur. ntah kenapa kejadian itu mengingatkannya pada Arsaka ketika dirinya tak sengaja terbentur pada kening si bungsu sadewa. Mayla dengan cepat menggeleng mengusir pikirannya tidak baik pagi-pagi dirinya memikirkan Arsaka.
Selesai membereskan semuanya Mayla kemudian beranjak meninggalkan kosan di benaknya berharap semoga saja listrik mati lama karena bisa saja air yang di penampungan surut atau bahkan kosong.
Mayla memutuskan untuk berjalan kaki walau cape ini juga temasuk pengiritan, tak apa cape yang penting uangnya bisa di tabung itung-itung bantuin mamahnya. pikirnya. apalagi dia teringat dengan pesan yang dikirimkan sang ayah dua hari lalu
"May ini ayah, jangan kaget ya ayah akan menikah ayah harap kamu datang"
sebuah pesan yang tak pernah Mayla jawab sampai saat ini, dia bingung harus menjawab seperti apa mengiyakan? hatinya masih belum menerima tapi jika menolak? Mayla masih menganggapnya seorang ayah, rasa kasih sayang yang ayahnya berikan selama beliau jadi sosok kepala keluarga tidak dengan serta merta dia lupakan hanya karena sang ayah yang bercerai dengan ibunya. Mayla pun tak harus menyalahkan ayahnya karena memilih berpisah, terlalu lamat memandangi ponselnya sampai dia tak menyadari panggilan seseorang.
Tin! Tin! Tin!
—Tepat di sekitar lampu merah suara klakson mobil membuatnya kaget, Spontan dia langsung menghindar tanpa sadar dirinya kini yang berjalan di trotoar. Apa yang dia hindari?
"Mayla" Teriak seseorang yang kini cukup familiar di pendengaran, Mayla menoleh mendapatkan Arseno berteriak dari dalam mobil sambil melongokkan kepalanya.
"Pak Arseno? "
"Masuk May, biar saya antarkan sekalian" Ujar Arseno tangannya masih di kemudi mobil, sedang fokus si sulung sadewa itu bergantian dari lampu merah di depannya dan Mayla.
Rupanya dengan hadirnya dua kakak beradik sadewa ini Mayla harus lebih banyak meminum air putih agar pikirannya fokus bukannya seperti sekarang yang malah terdiam . lemot. suara klakson yang bersahutan mengeluarkannya dari kelemotan otaknya, seraya kakinya merajut langkah menghampiri mobil Arseno. tidak mungkin kan dia menolak sambil berteriak dimana letak sopan santunnya.
"Habis dari mana pak?" Tanya Mayla tepat setelah dia mengisi kursi belakang mobil Arseno.
"saya mau ke kantor" Jawab Arseno sambil melajukan mobilnya kembali, setelah berhenti di lampu merah tadi. Mayla yang mendengar jawaban atasannya melingo.
'hah'
"kamu hari ini ada jadwal WFO" Tanya Arseno namun pandangan laki-laki sadewa itu masih kedepan-fokus ke jalanan.
"Ngga pak" Jawab Mayla menggeleng. Arseno mengangguk paham. pandangan Mayla kini jatuh pada anak laki-laki yang duduk di bangku sebelah Arseno. Dia memperhatikan dengan lamat tangan kecil itu memutar rubik dengan asal bibir kecilnya akan cemberut ketika warna rubik tidak sesuai yang dia inginkan. tanpa sadar Mayla tersenyum.
Setelah kurang lebih tiga puluh menit mereka sampai di kampus, Mayla keluar dari mobil setelah berpamitan dan mengucapkan Terima kasih pada atasannya.
Fakultasnya cukup jauh dari gerbang Universitas tidak mungkin kan tadi Mayla meminta Arseno mengantarkannya sampai depan fakultas? sungguh tidak tau diri. sudah di tawari tumpangan saja Mayla senang dia tidak harus cape berjalan jauh ,uang pun irit.
"May", Mayla menoleh saat dia mendengar teriakan dari arah belakangnya. Arin dan Resha berlari kearahnya.
" tumben ngga bareng Raksa may?" Tanya Resha, membuat Mayla memberhentikan jalannya sejenak, hanya untuk mencerna kemana arah pembicaraan temannya dia kan sendiri ya jelas tidak dengan Raksa. tapi bukan kesana pemikiran temannya.
"ngga, mungkin dia udah duluan ke kelas" jawab Mayla seadanya.
"may kita lihat kamu dekat sekali dengan Raksa, kalian sering banget berduaan bahkan Raksa rela mencari mu kalau kamu telat masuk kelas" ujar Arin, sedang Mayla hanya mengangguk tak merespon jauh perkataan kedua temannya sedari tadi. karena mau sejauh apa? bahkan sampai kini dirinya dan Raksa tak saling mengabari apapun.
" oh iya kamu mau ikut May rencana malam minggu besok kita mau ke ngopi yuk kafe yang sebrang kampus itu" ajak Resha,
"iya ayo ikut, yang ngisi katanya kanigara band dari kampus kita. hampir sekelas ko yang ikut" susul Arin, dia bahkan menunjukkan isi chat grup yang awalnya sedang membahas topik manajemen produksi, melenceng jauh hanya karena Mario yang tiba-tiba saja mengirim pesan chat mengajak ke kafe ngopi yuk.
"boleh" Mayla mengangguk. dia akan mencoba berbaur kembali dengan semua orang, walau tidak menutup kemungkinan dia akan kebingungan nantinya.
"Ajak Raksa jangan lupa may" ujar Resha. membuat Mayla menghela nafas tanpa alasan.
...•••...
“TAK PERNAH KAH KAU SADARI AKULAH YANG KAU SAKITII, AYO BERNYANYI BERSAMA” teriak Mario membawa riuh ramai sekelas.
“eh berisik badak” Ujar Jerry—laki-laki yang dari tadi sibuk belajar sana sini.
__ADS_1
“MATERINYA KAYA DOI, UDAH BERUSAHA SEKUAT TENAGA TAPI TETAP SAJA SIA-SIA ” Harvin berseru dari bangku belakang, laki-laki itu terlihat tengah membulak balik bukunya.
“BERISIK OMONG KOSONG KALIAN SAMPE KELUAR” teriak Raksa yang baru saja datang cukup mengagetkkan semua orang yang ada dikelas akibat teriakannya.
“udah biarin aja, mereka lagi frustasi mikirin kuis dadakan” Ujar Arin yang sedikit kaget akibat kedatangan Raksa. sedang Raksa yang mendengar akan kuis hanya mengangguk wajar, tak ambil pusing seperti ketiga temannya.
"ngga belajar sa?" tanya Jerry tepat ketika Raksa menduduki bangku sampingnya, Raksa menggeleng.
"enak kali ya punya otak kaya Raksa tinggal duduk manis ngga ribet mikirin takut nilai nol" Ujar Mario seraya berjalan kearah bangkunya.
"berhenti mengeluarkan kata-kata tak berguna, lebih baik kalian belajar" ujar Raksa sarkas.
“calon-calon nilai nol nih" Ujar Harvin, nampaknya dia sudah menyerah buku yang tadi dia baca sudah dia tutup kembali.
“PENGEN KE MARS RASANYA" Mario berseru kembali di tengah frustasinya.
“NGGA SEKALIAN AJA PERGI KE SEGITIGA BERMUDA BIAR MUSNAH” Hardik Jerry, nampaknya Otaknya sudah panas padahal dia baru mempelajari beberapa materi pembahasan.
"kayanya kalau ngga ada Mario sama Harvin dunia aman damai" ujar Resha, yang diangguki Arin. sedang Mayla masih fokus mempelajari materi.
"pak abian sekalinya datang kuis, mending ngga usah datang aja sekalian" susul Harvin dengan nada sedikit kesal.
"tuh dosen paling pinter, soalnya sebaris eh jawabannya, bisa sampe dua lembar folio, gila ngga tuh!" Mario berseru kembali.
"kalau di pikir ko dosen kita ngga ada yang waras satupun, yang satu killernya udah kaya malaikat maut, yang ini kalau bikin soalnya langsung kepala pusing, yang satu bikin ngantuk, ada juga yang pinternya buat diri sendiri kitanya masih aja tetep bego" Jerry berceramah panjang lebar membuat seisi kelas terdiam.
"itu mah otak kalian aja yang ngga berguna" Ujar Raksa seraya beranjak dia berjalan kearah meja dosen. Perkataan sarkas seorang Raksa Maulana sudah biasa mereka dengar tak menimbulkan perselisihan atau rasa sakit hati.
"ini prediksi soalnya yang bakal keluar inget-inget soal bakal serupa tapi tak sama" susul Raksa seraya menuliskan beberapa soal yang menurutnya bakal ada di kuis nantinya. prediksi Raksa ntah kenapa tidak pernah meleset makanya laki-laki Arganta itu selalu dijadikan tumpuan setiap Mata kuliah yang akan di kuiskan. itulah kenapa penyebab perkataan sarkas Raksa tidak menimbulkan rasa sakit hati, karena meskipun perkataannya sarkas dapat merusak batin rasa peduli dan toleransinya dapat memperbaiki kata-kata sarkas seorang Raksa Maulana.
Hingga beberapa menit setelah nya Pak Abian pun masuk.
Pak Abian adalah nama dosen manajemen produksi yang beberapa hari lalu, selalu digantikan oleh Rega mahasiswa Manajemen Bisnis yang menempuh pasca sarjana, memang dosen ini tak se-killer bu Andara tapi tetep saja cukup menjadi hambatan mengingat dosen ini jarang sekali masuk membuat sebagian materi ada yang terlewat.
"soal tidak akan jauh dari materi yang di sampaikan Rega" pungkasnya seraya duduk.
"bohong banget" Mario berbisik. membuat Harvin dan Jerry menendang kursinya bersamaan takut terdengar Pak Abian.
Lima menit terlewati setumpuk kertas berisi soal yang siap meledakkan kepala sudah di bagikan ke setiap mahasiswa. dalam keadaan terbalik.
“padahal tadi aku berdoa dengan sangat khusu supaya mobil beliau bannya bocor atau kempes ” bisik Mario memandang lembar soal terbalik.
“mungkin dia naik motor ngga naik mobil” jawab Harvin sekenanya.
Sedang Mayla, perempuan itupun tidak jauh beda dengan yang lainnya rasa takut membuat dirinya kembali pesimis dengan hasil yang akan di dapat nantinya.
“Karena saya jarang hadir kalian boleh open book tapi kalian harus mendapatkan nilai yang bagus, semua mengerti” kata Pak Abian sesaat setelah membagikan soal kuis kepada setiap mahasiswa.
"silahkan di buka kertasnya saya tunggu di luar ya"
Mendengar kata openbook membuat semua mahasiswa langsung membuka buku masing-masing.Berbeda dengan Raksa yang mengisi soal tanpa melihat buku sama sekali.
Mungkin selama pak Abian pergi dia membuat soal, karena meskipun dosen itu tak pernah ngajar, dia masih sempat membuat soal kuis yang berbeda untuk setiap mahasiswa. kertas soal itu hanya terisi satu buah soal saja tapi semua soalnya tak ada yang sama satupun, dan tingkat kesukarannyapun diluar batas perkiraan semua mahasiswa.
semua mahasiswa hampir tak merasakan dinginnya dua AC di kelas saking panasnya otak mereka berpikir—ngebul.
Mayla membalik kertas soalnya, mulai membubuhkan nama juga nomor id mahasiswa di sudut kanan kertas. Dia memilih untuk mendalami soal dari pada membaca catatan yang sama sekali tidak berguna.
Soal kuis dan apa yang disampaikan Rega itu sangat jauh berbeda, atau mungkin Mayla yang kurang fokus memperhatikan Rega waktu pemaparan materi. Mayla tidak tau.
Sekitar lima belas menit berlalu Raksa terlihat sudah menyelesaikan soalnya, menarik tanya pada setiap mahasiswa apa sebenarnya isi kepala lelaki Arganta itu sampai dia bisa dengan mudahnya menyelesaikan soal yang rumit.
setengah jam sudah terlewat Mayla pun menyusul bersamaan dengan Resha yang langsung di susul Arin dan yang lainnya.
__ADS_1
"oke Terima kasih saya harap karena sudah open book hasilnya tidak mengecewakan saya" ujar Pak Abian.
"iya Pak"
"oh iya satu lagi, pertemuan besok kalian bersama Rega lagi karena saya akan ke Brunei. Silahkan kalian boleh meninggalkan kelas, saya mau pake buat anak ekonomi yang lain kelasnya" beberapa menit setelah Pak Abian selesai berbicara terlihat dari arah pintu, mahasiswa yang akan mengisi kelas yang tadi Pak Abian maksudpun sudah masuk satu persatu, bersamaan dengan kelas Mayla yang keluar satu persatu juga. begitupun Mayla
"roman-romannya mereka habis kuis"
"sok tahu"
"liat aja mukanya sepet semua"
"kaya abis lari maraton, keringatnya seember"
Sebagian percakapan yang tak sengaja terdengar oleh Mayla, hingga tepat ketika di ambang pintu dia berpapasan dengan seseorang,
'Arsaka'
Mereka terdiam diambang pintu, untuk beberapa saat Kedua pandangan mereka bertemu, Arsaka yang lebih dulu melepas pandanganya seraya berujar
"permisi", spontan Mayla langsung menggeser jalannya.
" lian sini duduk di samping aku"
"lian duduk di depan sini"
"aku disamping lian"
dan banyak lagi semua berawal dari kata Lian.
"Lian" Mayla membeo. memilih abai dia langsung menyusul teman-temannya ke kantin universitas.
"May sini duduk samping Raksa, udah aku pesenin" ujar Arin melambai kearah Mayla.
"lama banget dari mana?" tanya Raksa sesaat setelah Mayla sampai di kursi sampingnya.
"tadi aku paling akhir banget keluarnya, jadinya lama sa" jawab Mayla, Raksa mengangguk kemudian menyodorkan makanan yang di pesen Arin kedepannya.
"makan" ujar nya seraya mengambil garpu dan sendok untuk dia gunakan.
"sa ambilin juga dong buat Mayla" Resha berseru membuat Harvin, Mario dan Jerry memberhentikan kunyahan, mereka saling pandang satu sama lain. tau maksud tujuan Resha dan Arin.
"tangannya masih berfungsi" jawab sarkas Raksa. membuat Jerry, Harvin dan Mario spontan melanjutkan makannya kembali. sedang Resha dan Arin langsung berdehem bersama.
"Astagfirulloh soal pak Abian tadi itu dari planet mana" seperti biasa Mario mengudara memecah keheningan seraya menyedot jus jeruknya.
“soal dari Ufo nyasar kayanya, yang harusnya buat Alien malah buat kita” susul Harvin.
"padahal katanya tak jauh dari materi ka Rega, lah pas di lihat soalnya abstrak sekali coook" ujar Jerry seraya mengunyah kerupuk dari nasinya.
"terus ya kan itu dosen hobinya pergi mulu, ko keburu sih dia bikin soal beda-beda kaya tadi" susul Jerry lagi yang masih terus menguyah kerupuknya.
"curiga tiap negara yang dia kunjungi bikin soal satu-satu" kali ini Mario yang menimpali.
"besok Pak abian ke Brunei pasti dia bikin satu soal di brunei" ujar Harvin.
"eh sha tadi liat Lian ngga?, makin ganteng ya" ujar Arin seraya menyendok mie ayamnya. Resha mengangguk seraya mempouse video kpopnya.
"udah kaya idol k-pop tau rin pas aku liat, pake anting malah makin ganteng ya" ujar Resha,
"mungkin karena dia anak band ya jadi bebas aja mau pake anting, atau mau pake baju robek sekali pun" Susul Arin, Resha mengangguk, kali ini gantian Resha dan Arin yang terus saja membicarakan tentang Lian, memberhentikan secara spontan pembicaraan Harvin, Mario dan Jerry.
Raksa hanya jadi penyimak, sedang Mayla pikirannya dipenuhi dengan kran air di kosannya. dia tak bisa membayangkan ketika dia membuka pintu kosannya nanti.
__ADS_1