Aku Tak Mengerti

Aku Tak Mengerti
Bioskop


__ADS_3

sudah hampir setengah jam Mayla menyusuri beberapa buku di perpustakaan. namun tak kunjung menjatuhkan pilihan pada buku yang ingin dia pinjam. kegiatan itu dia lakukan hanya untuk mengusir bosan dari pada berkumpul dengan temannya yang lain, bergosip membicarakan topik random yang tak kan pernah ada hentinya.


"dilorong apa ya bukunya" gumamnya seraya terus mencari buku yang hendak dia pinjam.


harusnya Mayla sekarang masuk jam ketiga mata kuliah, namun karena dosen ketiga berhalangan hadir jadinya dia memutuskan untuk ke perpustakaan saja dari pada berkumpul di kantin UNSENO dengan yang lain.


"sedang mencari buku apa memangnya?", Mayla berbalik mengikuti sumber tanya sebagai si perespon. di belakangnya seorang laki-laki berdiri terlihat sedang membaca buku dalam posisi bersender pada rak tengah menatap kearahnya.


" oh ka—


"Jendral" sela laki-laki itu seraya mengulas senyum sekilas dia kembali menyimpan buku ke dalam rak.


"sendirian?" tanya Jendral, Mayla mengangguk.


"kemarin kalian bukannya bertiga?, dua temen kamu mana?"


"ngga tau ka" jawab Mayla, bohong dia tau teman-temannya sekarang sedang di kantin, tapi karena dia takut si kakak tingkat bertanya lebih dia memutuskan untuk memendekkan percakapan.


Jendral mengangguk, kembali mengulas senyum


"mau minum kopi di depan univ bersamaku?" ajak Jendral tiba-tiba, membuat Mayla tertegun sejenak. pasalnya mereka baru saja bertemu kedua kalinya, dan Mayla tidak mengenal Jendral sama sekali. Begitu juga sebaliknya. Tapi ntah apa alasan dibalik modus si kakak tingkat yang mengajaknya pergi sekarang.


"itu—


"May"—sebuah suara dengan tiba-tiba menginterupsi, membuat keduanya menoleh secara bersamaan. Mayla cukup menghela nafas lega ketika melihat presensi Raksa di depannya sekarang, sebut saja Mayla itu perempuan tak tegaan. type manusia people pleaser yang membuat dirinya tidak bisa menolak keinginan orang lain, Mayla terkadang jengah sendiri dengan sifatnya itu.


" Raksa. ah ka mungkin bisa lain waktu kita—


"oke, lain kali aku tagih lagi may. aku pergi duluan ya" ujar Jendral seraya pergi laki-laki itu menoleh sekilas kearah Raksa. Sedang si bungsu Arganta terlihat acuh, tak berniat menyapa si kaka tingkat ataupun bertanya lebih pada Mayla.


Ingat Raksa bukan type laki-laki yang akan penasaran dengan suatu hal apalagi tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.


"kamu bukan perempuan  yang harus mengikuti keinginan orang lain, ataupun mengikuti ekspetasi orang lain" ujar Raksa tiba-tiba, dan anggukan adalah respon yang selalu diberikan perempuan di depannya,  menghela nafas sejenak si bungsu Arganta kembali berujar


"mau pulang bareng ngga?"


"boleh, kebetulan kita ngga ada wfo. Jadi ngga usah ke kantor"


"perkataan kamu seperti perempuan yang sedang mengkode seorang laki-laki, untuk mengajak pergi may" ujar si lelaki Arganta menatap lamat Mayla seraya bersender di rak. Mayla mengernyit,


"maksudnya?",  Raksa menggeleng,


"ngga. kamu tahu, ntah kenapa aku ingin memecahkan kepalamu sekarang" ujar Raksa membuat Mayla berseru kesal.



'rasanya aku ingin tahu apa isi kelapa perempuan sepertimu may'


" jahat sekali—oh iya! aku mau minjem satu buku sebentar, tapi aku lupa bawa kartu perpustakaan. kamu bawa sa?"  tanya Mayla, tatkala dia teringat dengan salah satu novel yang berhasil membuatnya penasaran dengan ending ceritanya. Abai dengan perkataan yang baru saja Raksa lontarkan.


laki-laki Arganta itu mengangguk seraya merogoh saku tasnya mengeluarkan kartu perpustakaan dari dalamnya.


"ini"


"tunggu disini, aku akan cepat" ujar Mayla seraya berlari, segera dia menarik sebuah buku novel yang dulu sempat dia baca sebentar—Candala.


keduanya kini merajut langkah, tak ada percakapan. Raksa berjalan duluan sedang Mayla mengekor di belakang sampai mereka memasuki kawasan parkiran UNSENO.


"tunggu disini" ujar Raksa. Mayla mengangguk, sedang si bungsu Arganta terlihat berjalan kearah motor aerox merah yang terparkir bersama motor lainnya.


parkiran UNSENO memiliki delapan lantai, lantai satu sampai Lima khusus motor, sedang lantai enam dan tujuh khusus mobil. Satu lantai di atasnya diisi studio band dan ruang siaran.


"Mayla" sebuah suara berseru, Mayla menoleh terlihat Resha, Arin dan Jerry baru saja keluar dari lift.


"nunggu Raksa ya?" tanya Arin seraya berjalan menghampirinya, Mayla mengangguk.


"kalian mau pulang?"


"Rencana kita mau nonton film horor ke bioskop, kalian mau ikut ngga? ayo ikut aja may" ajak Resha,


"iya may ikut aja, ayolah kapan lagi nonton bareng kita" tambah Arin tak kalah antusias


"ajak Raksa juga may" Jerry berseru menambahkan tatkala melihat motor aerox merah keluar barisan,


"ayo naik" ujar Raksa seraya memberikan helm pada Mayla.


"sa, kamu mau ikut ngga? , rencana kita-kita mau nonton film ke bioskop" tanya Arin segera seraya menoleh ke arah Raksa.


"ikut aja, itung-itung malam mingguan bareng sa" kembali Jerry berseru. Terlihat laki-laki itu tengah membuka bagasi motornya, ntah menyimpan apa.


"kemarin kalian ngga ikut ke ngopi yuk, sekarang pokoknya harus ikut!!" ujar Resha kemudian dengan nada penuh paksaan.


"mau ikut ngga?" tanya Raksa menoleh kearah perempuan yang sedari tadi tak kunjung menaiki motornya.


"boleh sa, mumpung kita ngga ada wfo, yu!", terdiam sejenak, Raksa kemudian mengangguk. mengundang senyuman pada dua perempuan yang sedari tadi menunggu jawaban.


"sip. Berarti kita ketemu di mall biasa, ayo rin Mario udah di bawah katanya. kalian nanti bareng sama Jerry ya" tukas Resha sebelum pergi bersama Arin.


"oke sha"


"may kita duluan ya" Arin melambaikan tangan seraya berjalan menjauh.


motor Jerry dan Raksa keluar parkiran bersamaan. kedua motor itu mulai meninggalkan kawasan universitas, dan mulai bergabung dengan kendaraan umum di jalan raya. namun di tengah jalan motor Jerry tiba-tiba berhenti, membuat Mayla segera menepuk pundak Raksa membuat si bungsu Arganta memberhentikan motor segera. seraya membuka kaca helm Raksa menoleh


"kenapa"


"Motor Jerry tiba-tiba berhenti tadi disana, takutnya kenapa-kenapa sa" ujar Mayla seraya menunjuk tempat berhenti Jerry, karena posisi mereka yang lumayan jauh Raksa tak begitu jelas melihatnya.


"aku takut terjadi sesuatu, kamu tunggu disini aku akan kesana" ujar Mayla kembali,  dia hendak turun sebelum Raksa mencegahnya.


"jangan turun, kita putar balik dulu nanti di depan" ujar Raksa, karena tidak mungkin dia seenaknya melakukan putar balik disana. dia bukan ojek online yang dengan suka rela melanggar peraturan untuk alasan mengejar waktu. ataupun masyarakat awam yang tidak mengerti arti rambu-rambu lalu lintas.


"aku turun aja dulu, takutnya Jerry kenapa-kenapa. kalau kita putar balik dulu takutnya lama" ujar Mayla seraya turun dari motor, dia membuka helm dan menyerahkan helm itu pada Raksa.


"Hati-hati, aku putar balik sebentar" ujar Raksa seraya mencantolkan helm di depan. Mayla mengangguk


"kamu juga sa", Raksa mengangguk seraya menutup kaca helm, si lelaki Arganta mulai melajukan motornya kembali.


karena posisinya dan Jerry lumayan jauh.Mayla harus sedikit berlari untuk sampai kesana.


" jer kenapa?" ujar Mayla sedikit ngos-ngosan, Jerry yang tengah berjongkok seraya memegang ban menoleh,


"may, loh Raksa mana?" ujar Jerry terdengar kaget, dia celingak celinguk melihat kesana kemari mencari Raksa.


"dia putar balik dulu kesana, kamu kenapa berhenti jer?" tanya Mayla khawatir, sesaat setelah menunjuk kemana arah Raksa melakukan putar balik,


"oh ini, motorku tiba-tiba mogok. Kayanya, gara-gara jarang di service" jawab Jerry seraya menunjuk dengan dagu kearah nmax miliknya.


"terus gimana?"


"ngga tau may, tadi sih udah chat Mario. katanya mereka lagi putar balik juga" , Mayla mengangguk seraya merogoh ponselnya. Dia sedikit bernafas lega ketika melihat presensi motor aerox yang berhenti di depan mereka, sipengendara segera turun menghampiri Jerry.


"akinya soak atau gimana?" tanya Raksa,


"bisa jadi, jarang diperhatiin soalnya si Tom" jawab Jerry. Tom itu nama motor nmax milik Jerry.


"mana kempes lagi sialan" susulnya kemudian seraya menendang ban dengan kesal.


"mana motor gini ngga ada kick-starternya lagi kaya aerox" ujar Raksa.

__ADS_1


"kick starter itu apa sa?" tanya Mayla, Raksa menoleh


"yang biasa di engkol"


"kalau nye-tep, kuat ngga itu ban motor sampe ketemu bengkel?" tanya Raksa kemudian seraya menoleh kembali kearah Jerry yang terlihat kebingungan.


"kuat-kuat aja sih kayanya, tapi Mayla gimana?"


"yah ngga gimana-gimana" jawaban sekenanya Raksa cukup membuat Jerry bungkam. terkadang Jerry penasaran dengan jalan pikir temannya itu.


kurang lebih sepuluh menit mobil Mario sampai.


"Jerry" Harvin berseru seraya membuka pintu mobil di susul Mario, Resha dan Arin.


"ya ampun, ko bisa mogok jer?" Tanya Arin.


"Agak kempes juga itu jer" susul resha kemudian.


"iya sha lumayan, kayanya gara-gara jarang di service rin. akinya soak apa gimana ngga paham" jawab Jerry. Kembali laki-laki itu menjawab dengan jawaban yang sama—jarang di service.


"mur pulley nya lepas kali" ujar Harvin tiba-tiba.


"mur pulley apaan vin" tanya mayla, Harvin menggeleng


"ngga tau, tapi katanya penyakitnya itu" jawab Harvin.


"dari sini, kira-kira bengkel berapa kilometer?" tanya Mario setelah mengecek kondisi motor milik jerry.


"kalau di maps, sekitaran dua kilometer dari sini" jawab Mayla seraya memperlihatkan maps di ponselnya. Karena sedari tadi yang bisa dia lakukan hanya mencari bengkel lewat maps. Mayla tak mengerti masalah otomotif.


"bisa di panggil ngga tukangnya, motor jerry kan mogok" ujar Resha.


"iya, kesananya gimana coba?" tanya Arin kemudian.


"coba aku chat nomor yang tertera disini" jawab Mayla, namun Mario segera menyela


"ngga usah may. Jer motornya masukin aja ke bagasi mobil, muat ngga ya kira-kira" ujarnya seraya memperhatikan nmax dan Ayla putih miliknya bergantian.


"konyol, ya ngga lah yo. Itu nmax bukan sepeda lipet" ujar sarkas Raksa.


"Terus gimana dong?"


"gini aja, aku bantu jerry nye-tep motornya. may kamu naik mobil sama Mario" usul Raksa.


"kamu bisa nye-tep sa?" tanya Arin, Raksa mengangguk.


"sa kita tau, kamu pintar tapi ngotak dikit Aerox  nye-tep nmax. apa mungkin?"tanya Harvin ragu. Raksa mengangguk seraya kakinya menurunkan step nmax jerry.


" ngga ada cara lain, ini satu-satunya cara", Harvin berniat menyanggah sebelum perkataan Raksa kembali menyela.


"ngga mungkin kan kita dorong rame-rame. Dua kilometer itu jauh ditambah nmax itu berat. Mau di derek pake Mobil Mario? Caranya gimana?"


"pake tali" kembali Harvin menjawab.


"talinya mana?" tanya Raksa. Harvin bungkam.


"oke, gini aja kita ikutin saran Raksa. Sa, Jer kalian berdua jalan duluan. kita dibelakang, kalau kamu ngga kuat kasih kode sama kita sa" tukas Mario akhirnya. Raksa mengangguk. Laki-laki Arganta itu mulai menaiki aerox merahnya.


Kondisi jalanan sore yang macet membuat Raksa sedikit kesusahan menyeimbangkan dua motor, apalagi motor Jerry itu termasuk motor dengan bobot yang lumayan. Beruntung dia memiliki kaki yang panjang sedikit memudahkannya nye-tep motor.


Tak ada percakapan di dalam mobil, terlihat semuanya tak melepas atensi dari Raksa dan juga Jerry di depan. Mario sesekali mengklakson hanya untuk membantu Raksa membuka jalan, namun sifat orang kota yang tak peduli sekitar nampaknya cukup mendarah daging bagi setiap orang. terbukti semuanya terlihat acuh dan malah saling menyerobot mencari celah. kurang lebih setengah jaman mereka sampai di bengkel. Raksa cukup bernafas lega begitu juga Jerry yang terlihat langsung menghampiri mekanik disana.


Resha yang duduk di pinggir segera membuka pintu tepat ketika mobil berhenti.perempuan itu Langsung berjalan menghampiri Raksa di susul yang lainnya di belakang. Raut muka cemas bercampur khawatir tercetak jelas tatkala mereka sampai.


"Kamu ngga papa sa?" Secara spontan Arin dan Resha melempar tanya bersamaan.


"pertanyaan klise, ngga lihat si Raksa bercucuran keringat" ujar Mario seraya menunjuk Raksa yang terlihat sangat kelelahan. Bahkan jaket denim yang di pakai si bungsu Arganta terlihat basah akibat keringat.


"makasih" ujar Raksa, seraya menarik selembar tisue yang langsung dia lapkan ke muka.


"gila macetnya coook" kesal Harvin.


"Jerry mana?" tanya Mayla,


"Tuh" jawab Raksa menunjuk dengan dagunya, seraya membuka jaket denim dan menyampirkannya di pundak menyisakan kaos hitam polos miliknya.


"gimana jer?" tanya Mayla.


"lagi di cek motornya, semoga aja biayanya ngga mahal deh" ujar Jerry dengan raut muka kebingungan. laki-laki itu sedikit menyesali dirinya yang jarang melakukan service rutin dan menganggap enteng masalah mesin motor.


"tenang ada Mario yang sedia membantu" ujar Harvin. Bermaksud mencairkan kekhawatiran juga kebingungan temannya.


"nanti di bantu doa" jawab Mario jenaka. Jerry menghela nafas sejenak seraya berujar


"gini deh, kalian duluan aja ke mall takutnya ngantri tiket lama. nanti kalau keburu aku nyusul sendirian" ujar Jerry kemudian. dia merasa tidak enak karena dirinya enam temannya jadi ikut kerepotan. Terutama Raksa.


Belum sempat Mario dan Harvin melayangkan protes , Raksa langsung menyela.


"jangan, mending gini aja. aku nungguin Jerry disini sampai selesai takutnya gimana-gimana. kalian duluan aja— Raksa menjeda perkataan, seraya menoleh kearah Mayla


"—May kamu ikut sama Mario. nanti aku nyusul sama Jerry" tukas si bungsu Arganta seraya menyibakkan rambutnya kebelakang karena lepek rambutnya hampir menutupi penglihatan.


Raksa memang type manusia apatis dan sarkas tapi bukan berarti anti solidaritas. jika ada temannya yang membutuhkan, Raksa bisa saja menjadi orang satu-satunya yang rela berkorban.


walaupun ragu Mayla tetap mengangguk patuh, apalagi mendengar nada perkataan si bungsu Arganta yang terkesan tidak mau di bantah.


"ngga bisa gitu, kita bakal nunggu sampe kelar itu si Tom" sanggah Mario,


"iya sa, nonton bisa di undur. Calm" ujar Harvin,


"bentar lagi juga kita nyusul vin" ujar Raksa.


"tapi ngga mungkin kita ninggalin kalian disini" ujar Resha. Arin mengangguk setuju


"iya lagipula bener kata Harvin nonton bisa diundur"


"sa mending kamu ikut mereka aja—


"—lagi pula, ini si Tom ngga tau kapan selesainya, takutnya lama" Jerry menambahkan. Tak ada jawaban ataupun respon dari si bungsu Arganta, kelimanya spontan menoleh kearah Mayla, seakan meminta bantuan.


"aku duluan ya sa" perkataan yang terlontar dari mulut Mayla membuat kelima temannya tak bisa menyanggah kembali. Raksa mengangguk


"hati-hati"


Jujur Mayla merasa tidak enak meninggalkan Raksa, dia khawatir sama seperti temannya. Namun karena sikap Raksa yang sedikit keras kepala membuat dirinya tak bisa menolak.


selama perjalanan tak ada percakapan apapun. semuanya tenggelam dengan kata gelisah bercampur khawatir, apalagi Raksa tak kunjung memberikan kabar pada mereka tentang kondisi motor Jerry. hingga Ayla putih milik Mario mulai memasuki kawasan parkiran mall.


"eh chat raksa tanyain gimana Jerry motornya?" ujar Harvin seraya menutup pintu mobil.


"vin hpmu gunanya buat apa?" tanya Mario kesal seraya memukul pundak Harvin hingga sang empu terdorong ke depan dan mengaduh.


"udah, tapi ngga di bales setan. nih!" ujar Harvin dengan kesal seraya dia menunjukkan room chatnya bersama Raksa pada Mario.


"siapa tau, kalau Mayla yang chat di bales" tambah Harvin seraya menoleh kearah Mayla, baru saja Mayla hendak menjawab sebelum jawaban Resha kembali membuatnya urung.


"kata Raksa, dia udah mulai kesini" ujar Resha. Mario mengangguk.


"syukur deh, kita tunggu di depan bioskop berarti"

__ADS_1


"may tadi kenapa kamu ngga cegah Raksa, nonton bisa di undur" ujar Arin yang diangguki Resha. Mayla menggeleng.


"udah hampir satu tahun aku bekerja bersamanya, sifat keras kepala Raksa itu sulit"


sesampainya di bioskop mereka langsung membagi tugas, Resha langsung mengajukan diri untuk mengantri tiket bersama Harvin, Mayla dan Arin mengantri makanan. sedang Mario menunggu Jerry dan Raksa di kursi tunggu yang di siapkan disana.


"Yang lain mana?" Tanya Raksa,membuat Mario yang tengah menscroll hp terlonjak kaget.


"Raksa, Jerry syukurlah kalian udah sampe" ujar Mario dengan dramatis. Seraya memeluk Raksa dan Jerry bergantian. seperti ayah yang sangat mengkhawatirkan kedua putranya. Jerry langsung duduk sedang Raksa kembali melontarkan tanya yang belum sempat di jawab temannya tadi.


"mana yang lain?"


"Lagi antri makanan sama tiket sa" jawab Mario seraya duduk kembali di sebelah Jerry.


"Sa udah sampe?", Resha berseru seraya menghampiri bersama Harvin di sampingnya. Raksa mengangguk.


"Mayla mana?"


"Loh belum kembali emang?, mereka masih ngantri?" Tanya Harvin seraya mengambil duduk di samping Mario.


"Yo, aku titip tiket ya. Aku mau nyusulin mereka dulu" ujar Resha, namun Raksa segera menyela.


"Aku aja sha" ujarnya.


Raksa lamat memperhatikan beberapa antrian, mencari Mayla dan Arin. karena tubuh kedua perempuan itu kecil cukup menyulitkan untuk mencari ketika dalam kerumunan. mengingat ini hari weekend, Pengunjung bioskop lumayan penuh ditambah bioskop disana lumayan luas.


Raksa memutuskan mengirim chat agar Mayla melipir ke belakang sebentar. Tak harus menunggu lama untuk mendapatkan dua centang biru, Mayla langsung keluar antrian menghampiri Raksa.


"lama banget, Resha aja udah selesai ngantri tiket" ujar Raksa, tepat ketika Mayla berjalan menghampirinya.


"udah sampe?" tanya Mayla, Raksa mengangguk


"udah baru aja"


"ngantri sa liat" Jawab Mayla, seraya menunjuk antrian.


"Iya, malam minggu bioskop pasti penuh",


"iya, dan ternyata hari ini lounching film boyband korea gitu sa", Raksa mengangguk sekenanya.


"Kamu balik aja may, biar aku yang ngantri sama Arin" susulnya kemudian seraya membuka jaket denimnya Raksa kembali berujar


"Ambil jaketku", Mayla mengangguk.


"raksa mana may?" Tanya Resha.


"Sama Arin masih ngantri beli popcorn" jawab Mayla. Kurang lebih beberapa menit Raksa dan Arin menghampiri, terlihat keduanya sedikit kesusahan mengambil beberapa popcorn dan minuman. Jerry dan Mario segera membantu Raksa begitu juga Harvin langsung mengahampiri Arin.


"Ayo masuk cinemanya udah di buka tuh. duduknya bebas, di barisan G11 sampe G18 oke" ujar Resha sesaat setelah menunjuk pintu cinema.


posisi duduk mereka itu berjajar pertama Jerry disusul Harvin, Mario, Resha, Arin, Raksa dan terakhir Mayla.


"oh iya aku lupa, minumannya sisa tinggal kopi aja ngga ada yang alergi kopi kan?" bisik Arin.


"ngga ada rin"


"ngga"


"oke aman"


dipertengahan film tenggorokan Mayla sedikit kering tanpa pikir panjang perempuan itu langsung menarik minuman dan menyedotnya.


di sisi lain Raksa sedari tadi ingin melepaskan tanganya dari genggaman tanpa sadar perempuan di sampingnya, sedangkan Arin —perempuan itu—nampaknya tidak menyadari telalu hanyut dalam alur film horor yang tengah mereka tonton sekarang.


bermaksud mengusir kesal karena lumayan terasa, tangan Raksa meraih minuman. namun kosong, dia tidak mungkin salah ngambil minumkan? Raksa melirik Mayla, perempuan yang duduk di sebelah kirinya itu terlihat sedang menyedot minuman. Dia kembali teringat dimana Mayla pernah meminum minuman miliknya, dan sepertinya itu terulang disini.


Popcornnya di ambil Arin dan minumannya di ambil Mayla. sial, ini benar-benar hari sialnya. bahkan sedari tadi Raksa tak sempat memperhatikan film horor yang sedang dia tonton, karena setiap ada efek jumpscare tangan Arin tanpa sadar menggengam tangannya dengan kuat sampai tak bisa Raksa lepaskan.


'Oh Tuhan' jeritnya prihatin.


Raksa mencoba melirik Mario, Harvin dan Jerry. Mario dan Harvin terlihat sedang berebut popcorn sedang Jerry, laki-laki itu sudah hanyut dalam film.


Helaan nafas lega keluar, tatkala dia merasakan Arin melepaskan genggamannya. Raksa menoleh sekilas kearah film, pantas saja suasana didalam film tidak mencekam seperti tadi. karena kondisinya siang hari.


Mayla kembali merasa haus, dia hendak mengambil minuman. sebelum bisikan seseorang yang tiba-tiba membuatnya terlonjak kaget karena bersamaan dengan efek jumpscare di film.


Tanpa sadar Mayla segera menoleh segera memejamkan mata kearah sisi kanannya. membuat hidungnya tanpa sengaja bersentuhan dengan hidung milik sipembisik—Raksa.


Mayla sepontan membuka mata walau pencahayaannya kurang, dia dapat melihat jelaga hitam milik si lelaki Arganta yang juga tengah menatapnya dalam diam. Keduanya hanyut, hampir terbawa suasana yang katanya romansa bioskop. Sebelum suara teriakan perempuan dari belakang ntah milik siapa menyadarkan keduanya. Mayla segera memundurkan tubuhnya, begitu juga Raksa yang langsung menarik diri, dia cukup merutuki dirinya yang tiba-tiba saja malfungsi.


"Tadi apa sa?" Tanya Mayla seraya menoleh. karena tadi dia belum sempat mendengar jelas apa yang Raksa bisikan. Terlihat perempuan itu sesekali menyentuh hidungnya, membuat Raksa merutuki efek jumpscare di film.


'Jumpscare sialan', rutuk Raksa dalam hati.


Raksa terdiam sejenak memperhatikan situasi, termasuk efek jumscare dalam film. dirasa situasi aman si bungsu Arganta kembali menoleh seraya sedikit menunduk untuk mendekatkan bibirnya pada telinga Mayla seperti tadi.


"itu minumanku may" bisiknya, Mayla terlihat kaget.


"Beneran?" , dia hendak mengambil minuman disebelah kirinya. hanya untuk memastikan perkataan si bungsu Arganta. namun, nampaknya film yang sedang mereka tonton selalu memberikan kejutan dengan efek jumpscare yang hampir ada di setiap adegan. membuat Raksa yang mengenali situasi segera menutup mata Mayla.


Dia hanya takut. kejadian seperti dirinya tadi terulang kembali, pada orang asing yang duduk di sebelah kiri perempuan itu. Dimana Mayla yang hendak mengambil minum dengan tiba-tiba menoleh kearah nya, karena kaget.


Mayla terdiam, pasalnya posisi Mereka terlalu dekat. bahkan mayla dapat merasakan kembali ujung hidung si lelaki Arganta menyentuh pipinya. dirasa sudah aman Raksa menarik tangannya bersamaan dengan dirinya yang kembali duduk seperti semula. mengabaikan Mayla yang kini tengah menatapnya.


"jangan menatapku seperti itu may" ujar Raksa seraya menoleh, membalas tatapan mata perempuan disampingnya.


"Sa—


"Filmnya di depan, bukan di samping"


hampir sekitar dua jam, durasi film yang mereka tontonpun selesai. terlihat selama berjalan keluar Harvin dan Mario saling menyahut melempar tatapan dengki satu sama lain. kakinya saling menendang bokong masing-masing bergantian.


"Heh bayar uang popcorn sama tiket tadi setan!" hardik Harvin seraya menendang bokong Mario, membuat sang empu mengaduh dan membalas dengan hal yang sama.


"nih" ujar Mario seraya melempar uang seratus ribu ke arah Harvin


"kembaliannya mana domba" kembali Mario berujar karena harvin terlihat langsung memasukan uang itu kedalam saku celana.


"sabar bujang!, ngga ada receh soalnya. nih liat" ujar Harvin seraya memperlihatkan isi dompetnya.


"kosong vin itu, bukan ngga ada receh" tukas Jerry dengan jenaka sekaligus melerai Harvin dan Mario yang bersiap kembali melakukan adu urat.


"gila jumpscare nya banyak banget sumpah, sampe jantungan aku" ujar Resha, Arin mengangguk begitu menyetujui.


"iya Sha bener banget, aku merem selama film. ngga kuat"


"menurut kamu gimana may?" tanya arin.


"menakutkan iya" angguk Mayla.


"benerkan ngga sia-sia ya kita nonton bareng, filmnya seru" ujar Arin seraya merangkul pundak Mayla dan Resha.


"sa menurutmu gimana?" tanya Resha. Raksa menoleh


"laper"


"HAH???" kaget Harvin dan Jerry bersamaan.


"pantes sih Raksa laper, popcornnya ngga sengaja aku makan soalnya" ujar Arin merasa tak enak hati.

__ADS_1


"minumannya juga aku yang minum tadi" jawab Mayla.


"Gila coooook dua jam di dalem bete mampus sih itu" sahut Mario.


__ADS_2