Aku Tak Mengerti

Aku Tak Mengerti
Headline


__ADS_3

"VOKALIS KANIGARA MARAH KARENA TERSIRAM KOPI"


Begitulah, head Line sebuah judul artikel yang di unggah official akun UNSENO kemarin dan tadi pagi berhasil mendapatkan tanggapan Lian— sang vokalis dari kanigara band.


Disana Lian mengomentari jika dirinya menepis kata marah,


"Aku tidak marah, hanya saja aku kaget. Bagaimana kondisi perempuan kemarin, maaf aku tidak membantu" begitu isi komentar yang Lian tulis lewat akun pribadinya. Beberapa komentar lain pun bermunculan.


"Siapa perempuan itu?"


"Fakultas mana?"


"Apa kamu mengenalnya?"


Dan banyak lagi. Sayangnya tak ada satu pun yang di balas oleh Lian.


.


.


Mayla berjalan menyusuri koridor, sepanjang jalan banyak sorot mata yang sekilas menoleh ke arahnya. Baru saja kemarin dia bernafas lega, pasalnya namanya kini mencuat kembali. Bahkan tadi di kelas hampir semua temannya bertanya apa hubungan Mayla dengan Lian. hanya karena Lian mengomentari artikel yang sialnya ntah milik siapa karena si pengirim tidak berani membubuhkan nama di ujung artikelnya.


Kakinya terus merajut langkah mengabaikan semua mahasiswa yang berbisik tepat ketika Mayla melewatinya. Hanya sebuah komentar dan namanya jadi terlibat. Apa yang selalu dia hindari kini sudah tak bisa, seakan sebuah takdir yang sudah di persiapkan Tuhan. semua itu tak ada yang bisa dia tolak.


Mayla kira ketika sampai di perpustakaan tak kan ada yang membicarakannya. Nyatanya tepat ketika dia memasuki perpustakaan semua mahasiswa di dalam langsung menarik atensi ke arahnya. Memilih abai mayla langsung berjalan kearah rak buku, meninggalkan semua mahasiswa yang tadinya tengah berdiskusi kini mengganti topik membicarakannya.


Langkahnya dengan tiba-tiba terhenti, ketika tak sengaja mendengar seseorang berbisik tak jauh darinya.


"Eh itu Lian kan?"


"demi apa"


"Iya lian"


Mayla dengan spontan langsung bersembunyi kesalah satu rak buku di dekatnya. dia kemudian mengambil satu buku secara acak.


"Kenapa dia harus ke perpustakaan sih" gumam Mayla seraya memperhatikan seorang laki-laki yang memunggungi tak jauh darinya lewat celah buku. seketika hatinya berdegup kencang bukan karena jatuh cinta melainkan karena rasa takut.


"tau gini mending tadi ikut Raksa aja ke adipati" umpatnya, seraya menarik langkah cepat. menjauh ke rak paling ujung dekat dinding.


tadi Raksa memang sempat mengajak Mayla ke adipati karena bu andara tiba-tiba saja menyuruh raksa ke sana. Mayla yang malas menunggu menolak, dia memilih ke perpustakaan. Karena menurutnya perpustakaan adalah tempat teraman untuk menyembunyikan diri dari keramaian kampus, apalagi mengingat dirinya kini sudah menjadi sorotan. Hanya saja dia tidak sampai menerka jika Lian juga akan ke perpustakaan.


"Apa aku keluar aja ya?....jangan May nanti pasti mereka langsung melihat kamu ketika kamu keluar, terus Lian sadar..." bahkan Mayla tak mampu meneruskan perkataannya. Dia tak habis pikir jika nanti Lian melihat dirinya ada disini, apa yang harusnya Mayla lakukan. Minta maaf?


"Ah iya bener aku harus minta maaf, ah itu paling bener...aku harus minta maaf" ujarnya terus menerus.


"Minta maaf sama siapa?" Suara seseorang yang familiar tiba-tiba merespon dari belakang punggungnya, Spontan Mayla berbalik dan mendongak dia menemukan Arsaka yang kini tengah menatapnya seraya bersandar di rak.


"Ar—arsaka?" ujar Mayla gugup.


"Hm, apa kabar?" Tanya si bungsu sadewa seulas senyuman terpatri dari bibir tampannya.


"Aku?... baik, bagaimana denganmu?" Jawab Mayla kepalanya terus celingak celinguk kebelakang Arsaka. seakan mencari seseorang.


Asal kalian tau Mayla hanya takut ketemu Lian.


"Yakin?" ujarnya seraya menyentuh hidung Mayla dengan ibu jarinya.


Mayla yang mendapatkan perlakukan seperti itu jelas kaget, dia segera menghindar seraya menjauhkan tangan Arsaka dari hidungnya. Mayla mengangguk, tak melepas atensi dari memperhatikan sekitar.


"Kamu mencari siapa? Raksa?" Tanya Arsaka. Mayla menggeleng dia kembali menarik satu buku, namun sayang letak laki-laki yang berdiri memunggunyinya tadi tak dapat terjangkau pandangannya.


'Semoga dia sudah pergi' – pikir Mayla.


"Apa yang kamu lihat?" Tanya Arsaka, seraya mendekat. posisi laki-laki itu mengungkung Mayla dari belakang. Sedang Mayla masih belum sadar, perempuan itu cukup fokus melihat lewat celah buku.


"Apa yang kamu lihat sih?" Tanyanya lagi, seraya melihat lewat celah buku seperti yang Mayla lakukan baru saja. Sedang Mayla tak dapat memproses semua tindakan cepat yang Arsaka lakukan. Tubuhnya seketika malfungsi.


Hingga getar ponsel milik Arsaka menarik diri laki-laki itu sedikit menjauh darinya. Mayla berniat pergi namun tak jadi ketika lengan Arsaka menumpu pada rak, menghalangi jalan. Sedang tangan satunya mengangkat ponsel di depannya. Jadi posisi Mayla kini terperangkap diantara lengan Arsaka dan dinding.


Bungsu sadewa itu berdecak kesal tatkala melihat nama si pemanggil yang terpampang di layar ponselnya.


"Ck..siapa?" Ujarnya. Namun pandangannya tak lepas dari Mayla yang kini terus celingak celinguk memperhatikan sekitar ntah karena apa, Arsaka pun bingung.


"...."


"Simpan di studio UNSENO aja" jawab Arsaka, kembali dia alihkan pandangan kesekitar mencari ntah siapa, seseorang yang Mayla cari. Pasalnya Mayla terlihat tengah menghindari seseorang.


"..."


"Makasih", ujarnya seraya menutup telpon. Sedang Mayla, perempuan itu terus memperhatikan sekitar. Sesekali perempuan itu akan menggigit kuku ibu jarinya. Arsaka yang melihat spontan langsung menarik ibu jari Mayla.


"Jangan di gigit nanti berdarah" ujarnya seraya menyimpan ponsel ke saku. Mayla mendongak ntah kenapa tindakan Arsaka dan Raksa tak pernah bisa di proses dengan cepat otak dangkalnya.


"Gigit tanganku aja nih" ujar Arsaka kemudian seraya memberikan lengan satunya pada Mayla. Sedang perempuan di depannya kini hanya diam. Arsaka terkekeh beruntung mereka cukup jauh, posisi mereka di rak ujung menyudut ke dinding—lorong buku ensiklopedia dan peta dunia, dimana tempat Mayla bersembunyi tadi. Lorong yang jarang di masuki mahasiswa, kecuali jika ada salah satu dari mereka yang membutuhkan ensiklopedia dan peta. Sehingga suara mereka tidak terdengar siapapun.


"Kamu sedang apa disini?" Tanya Mayla, tatkala pikirannya mampu memproses—menarik akal sehat.


"Menemui mu" jawab laki-laki sadewa itu enteng. Seakan sebuah signal yang tadi sudah berubah 4g kini kembali 3g. Mayla kesulitan memproses kembali.


"Mau a–apa?",semakin Mayla gugup semakin mendorong sifat jahil Arsaka. kekehan halus kembali dia dengar dari laki-laki di depannya. Bukannya menjawab, seakan merasakan dejavu Arsaka mendekatkan tubuhnya sedikit mencondong ke arah Mayla, sedang tanpa sadar Mayla yang tak dapat memproses tindakan cepat si bungsu Sadewa hanya bisa menahan nafas.


'Raksa'—batin Mayla spontan. Karena dia berharap ada seseorang yang datang di saat seperti ini.


Hingga suara seseorang yang Mayla kenal berhasil meloloskan nafas yang sedari tadi dia tahan.


"Mayla" mendengar namanya dipanggil tangan Mayla segera mendorong dada Arsaka menjauh. Begitu juga laki-laki sadewa itu yang menoleh sekilas kearah sumber suara. Tak jauh dari mereka Raksa berdiri menatap keduanya dengan tatapan tak terbaca. Seulas senyum kembali terpatri di rupa tampan Arsaka.


"Sampai ketemu nanti ya" ujarnya seraya mengelus pucuk kepala Mayla pelan. Laki-laki sadewa itu berlalu meninggalkan Mayla, terlihat Arsaka menghentikan langkahnya tepat di samping Raksa.


"Makanya jangan pergi-pergian mulu" ujarnya.


"Kapan kau potong rambut ka?" Tanya Raksa. Namun Arsaka abai. Bungsu sadewa itu memilih berlalu tanpa menjawab sama sekali.


Satu senyuman terbit dari bibir Mayla tepat ketika dia melihat Raksa menghampirinya.


"Sa" ujarnya.


"Hm"


"Udah selesai dari adipati?"


"Udah"


"Pasti bu andara bahas yang waktu itu ya, yang kamu disuruh jadi asisten dosennya", Raksa mengangguk.


"Ngapain kamu disini, nyari buku ensiklopedia?" Tanya Raksa, Mayla menggeleng.

__ADS_1


"Ngga, aku itu....nyari yang dingin...iya betul itu" ujarnya bohong. Karena tidak mungkinkan dia berkata jika dirinya tengah bersembunyi dan menghindari Lian. Namun nampaknya Mayla tak dapat membohongi Raksa.


"Kenapa karena artikel itu?" Ujar Raksa tepat sasaran. Mayla menggeleng seraya berjalan meninggalkan Raksa.


"Ada yang lebih penting" ujarnya, Raksa mengernyit mengekori Mayla di belakang.


"Apa itu?"


"Sa uangku sisa sepuluh ribu..." jawab Mayla seraya berbalik,


"Terus?"


"Aku lapar" ujarnya seraya menyentuh perutnya prihatin.


"Ya makan"


"Aku ngga punya uang lagi, ini buat ojol nanti pulang"


"Ya jangan makan berarti"


"Ish nyebelin" ujar Mayla kesal seraya pergi berjalan terlebih dulu dengan raksa yang terus mengekori di belakang. Walau hanya sekilas, garis senyuman tertarik dari bibir si bungsu Arganta.


Keduanya keluar perpustakaan. Ntah kenapa dengan adanya Raksa, Mayla dapat melupakan masalah tentang Artikel dirinya dalam sekejap.


Seakan sebuah drama dimana Zhang Qilling selalu datang disaat-saat krusial Wu Xie. begitu juga Raksa, yang Mayla rasakan selalu datang di saat dirinya membutuhkan.


... •••


...


Mobil Mazda berwarna merah terparkir tepat di depan supermarket. Seorang laki-laki turun seraya melakukan panggilan video bersama seseorang.


"Kau menyuruh ku apa tadi?" Tanya Rega seraya melangkah memasuki kawasan supermarket dengan wireless earphone di telinganya.


"Beli daging sapi ga ya ampun sama bumbu itu kan udah ku kirim di chat" jawab laki-laki di sebrang.


"Males buka chat lama, sebutin aja jadi sekarang aku kemana?" Ujarnya seraya mendorong trolli.


"Supermarket ga ya ampun"


"Ini aku udah di supermarket Rivaldian" ujar Rega.


"Yaudah ambil troli terus—


"Aku tau dim, maksudku aku harus kelorong apa?"


"Lorong daging ga, masa ke lorong paku payung. Kau kan mau beli daging" ujar Dimas kesal di sebrang panggilan. Rega celingak celinguk di tengah-tengah mencari lorong daging yang Dimas maksud tadi.


"Lalu? Dimana aku bisa menemukan bumbu yang kau maksud tadi?" Ujar Rega Tepat ketika dia sudah menemukan lorong daging seraya membawa langkahnya kesana.


"Cari saja kalau itu aku ngga hapal, kamu di supermarket yang mana ga?"


"Yang ngga jauh dari SMA kita dulu"


"Udah lampau, ngga inget"


"Ini yang mana dagingnya banyak mereknya" ujar Rega seraya mengarahkan kamera ke arah beberapa daging di depannya.


"Coba cari yang mahal dan pastikan dagingnya masih merah ga" ujar Dimas.


"Ini mahal semua dim, beli aja sapi potong kalau mau yang masih merah"


"Yang mana? Ini?"


"Bukan, kanan kamu ga yang ujung itu" ujar Dimas, seraya memetakan lewat tangannya.


"Ini"tunjuk Rega lagi, kembali dimas menggeleng.


"Bukan, Dikit lagi...itu ga..itu"


"yang mana sialan? Ini?" tanya rega mulai emosi.


"Simpan emosimu ga. iya itu ga, coba liat"


"Nih" ujar Rega seraya mendekatkan sekotak daging sapi kearah kamera.


"Eh jangan ini deh, coba yang itu ga yang disebelahnya yang gede"


"Ck...mana lagi, ini?" Ujar rega berdecak kesal seraya menyimpan kembali daging sapi yang dengan susah payahnya dia cari tadi.


"Iya itu yang wadahnya pake sterofom. coba ambil... sama yang ini nih yang deket kaki kamu ga yang wadahnya plastik itu yang kotak?" Ujar Dimas kembali tangannya memetakan letak daging sapi yang dimaksud. Yang sayangnya tak dimengerti Rega sama sekali.


"Mana dim? Semua sterofom... ini?" Ujar Rega, seraya membawa kembali daging sapi yang baru—yang Dimas maksud tadi.


"Iya itu ambil coba...eh tunggu-tunggu...", kembali bibir itu berdecak, rega sudah jengkel. seraya memandang kearah laki-laki di sebrang.


"Ck....buruan sialan"


"Bentar... dulu ga, coba aku mau lihat yang itu yang gede ga yang wadahnya sterofom juga tapi lebih gede" ujar Dimas, Bruuugh...seketika layar ponsel Rega menghitam. Nampaknya tanpa sengaja laki-laki di sebrang menjatuhkan ponselnya. Membuat Rega kembali mengumpat kala telinganya terganggu dengan suara ponsel terjatuh yang lumayan nyaring terdengar.


"Yang mana lagi sialan?" Namun tak ada jawaban di sebrang.


"Yang sabar, kalau istri memang gitu suka ribet ya mas", Rega menoleh menemukan laki-laki setengah baya yang tengah berdiri di sampingnya. Terlihat sedang memilih daging seperti dirinya.


'Istri?'—pikir Rega.


"AHAHAHA...ISTRI, MAKANYA GA JADILAH SUAMI YANG BAIK DAN PENURUT!!" Teriak Dimas disebrang yang tak sengaja mendengar laki-laki tadi berujar, namun nampaknya sulung Arganta itu masih belum membenarkan letak ponselnya, karena layarnya masih hitam.


"Sialan" umpatnya. Kembali laki-laki paruh baya tadi menoleh, terlihat hendak berujar sesuatu sebelum Rega langsung menyela


"jadi daging sapi seperti apa yang mau kau beli, cepatlah sayang!!" ujar Rega dengan suara yang di buat seramah mungkin, seraya menekankan kata sayang di ujung kalimatnya. Kembali laki-laki di sebrang tertawa.


"SABAR SEDIKIT SAYANGKU, AKU SEDANG MENERIMA TELPON"


"Lama..kau kira kerjaan ku cuman beli daging sapi doang sekarang" ujar Rega tak sabaran.


"Harus sabar mas, pasti baru nikah ya" kembali laki-laki paruh baya di sampingnya berujar.


'Ah sial' —umpatnya membatin.


"AHAHAHAH....IYA KITA KAN BARU NIKAH GA" dan teriakan Dimas selanjutnya membuatnya berpikir untuk membeli pisau dulu sebelum pulang.


"Brengsek" bisik rega. Sedang Dimas masih ketawa terbahak-bahak di sebrang.


"Sabar sayang, coba mana aku lihat lagi yang tadi semuanya" ujar Dimas seraya mengambil ponselnya kembali dan laki-laki itu simpan tepat di depannya. Melihat muka suram Rega seketika Dimas kembali tertawa.


"Ahahahaha sepertinya ini hari bahagia ku ga"

__ADS_1


"Terserah" ujar Rega seraya mengambil kembali beberapa daging yang dimas pilih tadi.


"Yang wadahnya hitam aja deh ga, kayanya lebih seger. beli dua ya"


"What the..." ujar Rega kesal tangan satunya mengepal di samping badannya. Pasalnya Dimas tak memilih semua daging yang baru saja Rega perlihatkan—Yang Dimas pilih sebelumnya.


"Sialan daging sapi yang wadah hitam banyak"


"Itu ga yang ujung, sebelah daging sapi yang wadah sterofom"


"Banyak rivaldian, semua strofom kebanyakan"


"Coba kamu tunjuk maksud kamu ga, aku bingung"


"Ini bukan?" Tunjuk Rega.


"Iya itu sayangku sebelahnya tapi ya, beli dua" ujar Dimas senang. Sedang Rega abai dia sendiri bingung, pasalnya kemasan hitam ada di dua sisi yang sama— kanan dan kiri jadi maksud Dimas sebelah mana??. Karena malas bertanya lagi secara acak dia menyimpan daging dengan wadah hitam tadi ke trolli seraya menyimpan ponselnya ke saku jaket, mengabaikan protesan dimas di sebrang karena dengan tiba-tiba layar hpnya menghitam.


"JANGAN LUPA BELI BUMBU YANG AKU KIRIM, GA REGAAAA..GALVINOOO!!!" teriak Dimas. Sedang Rega abai laki-laki pradasa itu terlihat mematikan earphonenya. Disisi lain Dimas terus saja protes tanpa henti seraya memanggil namanya, Agita dan Neira yang tak sengaja mendengar hanya menulikan telinga atas kelakuan kepala divisinya yang ajaib.


"Permisi saya mau tanya, sayuran di lorong mana ya bu?" Tanya Rega pada ibu-ibu yang tak sengaja dia temui ketika keluar dari lorong daging.


"Itu sebelah sana" tunjuk ibu-ibu itu, Rega mengikuti kemana arah telunjuk si ibu. Disana memang terlihat beberapa sayuran segar.


"Makasih bu" ujar Rega. Seraya membungkuk hormat dan berpamitan. Laki-laki pradasa itu menarik langlah sesuai arah ibu-ibu tadi.


"Bawang merah, cabe rawit ,bawang putih, bombay, cabe kriting" gumamnya seraya menyimpan satu persatu kedalam trolli, Rega bahkan tak melihat harga terlebih dulu. Diapun tak memperhatikan kiloan sama sekali dia hanya memasukan sesuai apa yang di tulis Dimas di chat.


Melihat layar ponselnya memburam, Dimas kembali berteriak di sebrang namun sayang rega mematikan earphonenya.


"Cari yang murah dan segar" begitu isi pesan dari dimas. Nampaknya ketika dirinya tak kunjung menjawab, sulung Arganta itu langsung mengiriminya pesan. Kembali bibir laki-laki pradasa itu berdecak seraya menyalakan earphonenya kembali.


"Aku sudah memasukkan semuanya—


"Serius? Jangan lupa beli juga bumbu instan takutnya aku males besok"


"Mana aku tau, dimana letaknya Arganta" ujar Rega emosi.


"Cari sayang"


"Dimana sayang"


"Romantis sekali pasti baru nikah ya mereka"


"Itukan laki-laki yang tadi"


kembali Rega menoleh kali ini ibu-ibu yang tadi yang sempat dia tanya letak sayuran, berada tak jauh darinya terlihat bersama ibu-ibu yang lain.


"Cari apa mas? Istrinya butuh apa?"


"Bumbu instan bu"


"Oh itu mas, di sebelah sana" tunjuk ibu satunya seraya menunjuk lorong di depannya. Rega mengangguk, kembali kakinya melangkah sebelum dia teringat sesuatu dan bertanya kembali.


"Kalau pisau dimana ya bu?"


... •••


...


"Ngapain nyari pisau?" Tanya Elang seraya masuk kedalam studio. Dia tak sengaja tadi mendengar Arsaka tengah mencari pisau.


"Buat buka paket" jawab Arsaka seraya menunjuk paket besar berbentuk kotak di depannya.


"Paket apaan yan, gede banget?" Tanya Elang kaget.


"Ngga tau kita aja penasaran lang" jawab Elios terlihat manager kanigara itu tengah mengetik sesuatu di laptop depannya. Julius mengangguk seraya memutar string winder pada bagian headstock —kepala gitar. Terlihat gitaris kanigara itu hendak mengganti senar.


"Iya makanya si Lian nyari pisau buat buka paket atau minimal cutter"


"Awas bom" ujar Ganindra seraya melepas es batu satu persatu dari cetakan menggunakan gunting.


"Ada. tapi cutter, di motor bentar" ujar Elang seraya berlari kembali keluar kearah motor yang terparkir.


"Senar gitar baru yus" tanya Elios seraya beristirahat menghentikan ketikan. Julius mengangguk


"Iya yos"


Tak lama Elang kembali dengan cutter di tangannya.


"Kenapa ngga pake gunting"


"Tumpul. Nih ada, biasa di pake es sama elios" ujar Ganindra. Seraya menunjukan gunting yang dia pakai untuk mengeluarkan satu persatu es dari cetakan ke wadah dengan susah payah.


"Si elios bukannya beli cemilan buat nugas di ruangan bem. Malah es batu apa enaknya sih yos" ujar Julius seraya mencabut pin pada bridge dengan kekuatan penuh.


"Soalnya hidup itu ibaratnya kita makan es batu, keras boss" ujar Elios, menarik atensi Ganindra,Julius, dan Elang. Tidak untuk Arsaka karena terlihat vokalis kanigara itu tengah kebingungan sendiri.


"Keras, kalau terus diemut jadi cair juga itu es" saut Elang seraya bergabung dengan Arsaka membuka paket ntah kiriman dari siapan, karena si pengirim tidak membubuhkan nama di depan paketnya.


"Sama aja kaya kerjaan, awalnya sulit tapi lama-kelamaan kalau di tekuni gampang. Ibarat es batu awalnya keras jadinya mencair" ujar Elios.


"Bentar, pepatah dari mana itu yos" ujar Ganindra bingung.


"Elios Saga Arden" ujar Elios menyebut namanya.


"Woooy ini apaan yan, ko isi paketnya kotak lagi?" Bingung elang, Elios menoleh seraya beranjak mendekat. Kotak paket yang sudah di buka berisi kotak yang jika di buka muncul kotak baru lagi yang dipenuhi lakban tak beda jauh dengan kotak sebelumnya, membuat siapa saja akan kesusahan membuka walau hanya satu kotak saja.


"Ah sial" ujar Arsaka, mengumpat tepat ketika dia menemukan kotak baru setelah membuka kotak tadi dengan susah payah. Dia sudah muak melakukan hal yang sama berulang-ulang. Nampaknya si pengirim paket sangat rajin dan niat.


"Gila rajin banget itu orang" ujar Julius bertepuk tangan seraya memasang senar gitar yang baru.


"Sini berikan padaku biar aku yang buka yan" ujar Elang seraya mengambil alih cutter di tangan Arsaka.


Untuk membuka satu paket saja mereka menghabiskan waktu setengah jam, itupun kelimanya membuka kotak secara bergantian. Hingga tersisa satu buah kotak pipih kecil berwarna hitam dengan nama sipengirim di atasnya. Kembali bibir itu mengumpat


"Lelucon sampah macam apa ini sialan" ujar Arsaka kesal seraya kembali membuka kotak, yang nampaknya kotak terakhir dari si pengirim.


"Eh ini yang ngirim Raksa, serius?" Tanya ganindra kaget. Begitu juga Elang, Julius dan Elios tidak untuk Arsaka.


Di dalam kotak terakhir, berisi satu buah undangan yang di bungkus rapih dengan kotak beludru biru.


... •••


...


Sedang di sebuah pom bensin Rega kembali menggerutu seraya keluar dari mobil.

__ADS_1


"Sialan Rivaldian, pantesan nyuruh pake mobil taunya bensinnya habis" ujarnya seraya membanting pintu mobil, kesal. Tanpa sengaja rega melihat sesuatu yang nampaknya terjatuh di pintu belakang, dengan cepat dia mengeceknya.


"Jaket ini?" Ujarnya seraya melihat jaket yang terjatuh dari dalam paperbag coklat yang nampaknya milik Dimas.


__ADS_2