
Seorang laki-laki kini tengah bersandar di atas motornya, pandangannya membias menatap langit dalam kesendirian di atas gedung Rumah sakit, menghiraukan terik matahari yang seakan terletak di atas kepalanya. tangannya merogoh saku jaketnya tersenyum tat kala dia melihat rokok dalam genggamannya. Laki-laki itu Arsaka.
"kau ngga akan pernah mengenal ku may" ujarnya seraya menyimpan sebatang rokok di ujung bibirnya.
sebuah ingatan yang sudah lama dia pendam kini mulai muncul kembali seakan sebuah roda yang tadinya terhenti kini mulai berjalan seperti tanpa hambatan. dia teringat pertama kali mengenal Mayla perempuan yang selalu membuatnya iri dengan kehidupan harmonis keluarganya. perempuan yang selalu membuatnya kesal namun tanpa alasan. Perempuan yang sempat mengisi masa kecilnya.
"kini kamu sudah tumbuh dewasa may, aku tak menyangka kamu akan menjadi perempuan yang sangat cantik, sedang aku malah—" dia menggantungkan perkataannya, menyesap rokok seraya kembali berujar
"—semakin hancur". Arsaka tak pernah menyangka dia akan bertemu kembali dengan Mayla kalau bukan karena Raksa dia tidak akan melihat Mayla kembali. namun pertemuan pertamanya selalu bukanlah pertemuan yang baik melainkan Mayla harus melihatnya bertengkar dengan Arseno di bawah tangga darurat di Andromeda kemarin. Arsaka yang masih dalam amarah tak sengaja menumpahkan semua amarahnya pada Mayla yang tanpa berpikir panjang mungkin saja dia ketakutan kala itu.
Dia kaget ternyata Mayla sudah mengenal Raksa, Dimas, Arseno, dan Rega karena faktanya mereka semua saling berhubungan seperti pentagon. Ada poligon transfaran yang menghubungkan setiap sudutnya.
"kenapa kamu selalu menjadi saksi pertengkaranku may, kenapa Tuhan malah mempertemukan kita lagi?" ujarnya Arsaka tak paham mengapa Tuhan mempertemukan keduanya selalu tidak dalam fase baik-baik, kenapa Mayla selalu ada setiap kali dirinya dalam pertengkaran yang hebat. ntah itu bersama keluarganya, temannya bahkan musuhnya. seandainya dia bisa mengulang waktu, dia berharap Tuhan mengubah kembali pertemuan mereka.
"May, kenapa harus Raksa dan Rega?, aku kira kamu hanya akan mengenal Rega, AHGR....kenapa Raksa mayla" teriaknya kesal.
Tepat ketika dulu, dia tanpa sengaja melihat seorang perempuan yang baru saja keluar dari fakultas yang sama dengannya. Perempuan itu terlihat tengah bersenda gurau dengan teman-temannya.dia Mayla.
sudut bibir Arsaka tertarik mengukir senyum, ketika mengingat keduanya berdiri berhadapan di koridor waktu itu. Namun senyum itu luntur tat kala melihat Mayla yang terlihat dekat dengan sahabatnya—Raksa.
Semenjak Arsaka tau, jika dia satu fakultas dengan Mayla laki-laki sadewa itu sering memperhatikannya, dari sana lah dia tau jika Mayla dekat dengan Raksa.
lamunannya terhenti kala lemparan sebuah ponsel yang hampir mengenai kepala, jika saja dia tidak sigap menghindar mungkin kepalanya sudah benjol. tidak lucu bukan jidatnya membiru bersamaan dengan kepalanya yang benjol, oh jangan lagi!
"sialan, apa yang kau lakukan Sa" ujarnya melempar tanya tak mengerti dengan kelakuan sipelempar.
Si pelempar—Raksa—tak merespon, kakinya merajut langkah cepat berjalan ke arahnya.
"berhenti memanggang dirimu hidup-hidup disini, kau tak akan mati dengan cepat" hardiknya ketika dia sampai dua langkah di depan Arsaka.
"meski bunuh diri beberapa kali pun aku tak akan mati" jawab si bungsu sadewa seraya membuang muka.
"ada apa? ", susulnya seraya kembali menoleh. mengingat tidak mungkin Raksa jauh-jauh mau ke tempatnya dengan suka rela.
" brengsek, sudah berapa kali kau mengabaikan panggilan bang Seno?" ujar Raksa dagunya terarah pada ponsel yang tergeletak mengenaskan tak jauh dari motor Arsaka .
Arsaka kembali menolehkan kepalanya kearah ponsel yang di maksud, walau tak begitu jelas, pandangannya dapat menangkap sebuah notifikasi panggilan di dalam ponsel itu. tak berniat menjawabnya Arsaka memilih abai.
"kau bertengkar lagi dengan orang tua mu ka?" tanya Raksa seraya berjalan kearah ponsel tadi dan mengambilnya. Arsaka diam tak merespon ntah kenapa kepalanya berdenyut nyeri ditambah pandangnnya sedikit tak jelas. mungkin karena dia sudah lama berdiri di bawah sinar matahari.
"kenapa tidak kau angkat saja jika menurut mu itu penting, malah kau lempar padaku sialan!" jawab Arsaka setelah dirasa dia bisa mengendalikan dirinya dalam kesadaran. namun pandangannya semakin memburam.
"tutup omong kosong mu, jawab pertanyaan ku dulu sialan!" ujar Raksa berteriak menyuarakan amarah, demi apapun posisi Raksa tadi masih di kampus dia mendapatkan kabar jika Arsaka sudah hampir seminggu tidak pulang. Apalagi Arseno sempat berkata jika Arsaka baru saja bertengkar dengan kedua orang tuanya.
Menghiraukan berjalannya kelas tadi, Raksa mengendarai motornya. Dengan terburu dia tau di mana Arsaka berada. tepat ketika motornya sampai semua orang menatap aneh kearahnya karena dering ponsel yang terus menyala, dia tengah mengabaikan panggilan semua orang karena dirinya yang meninggalkan kelas tiba-tiba. persetan dia ingin sekali menghajar Arsaka.
__ADS_1
"kau tau aku sedang dalam kelas tadi, kalau bukan karena bang Seno aku tidak akan mau jauh-jauh menemui mu disini" susulnya lagi.
"aku tidak pernah menyuruhmu kesini" ujar Arsaka sebelum gelap menjemputnya. dia pingsan.
"kau--" perkataan Raksa tertahan tepat ketika dia melihat Arsaka jatuh tumbang di depannya, dengan cepat Raksa langsung menggendongnya.
"sudah ku bilang jangan sia-sia kan pengorbananku sialan" bisiknya lirih. seakan sebuah siklus yang terus berulang dalam sebuah kehidupan. Raksa akan menemui Arsaka di tempat yang sama dan berakhir dengan Raksa yang menggendong Arsaka karena pingsan.
"berhenti menyusahkan ku brengsek" ujarnya pelan.
...•••...
Seorang perempuan tengah bersandar di jendela kantor dari lantai 2 pandangannya jatuh pada sebuah halte dimana dia dan Arsaka bertemu kemarin malam, dia Mayla.
Karena Hujan yang menyapa bumi dengan tiba-tiba begitu derasnya mengurungkan niat Mayla untuk pulang, dia memilih menyeduh kopi di pantri kantornya dari pada berlari menyebrang dan menerobos hujan.
Aroma kopi yang dia seduh mampu membuat pikiran perempuan itu sedikit tenang, di samping cangkir kopi ponsel itu masih berdering dari panggilan orang yang sama. namun sudah beberapa panggilan tertera di layar, Mayla tak berniat mengangkatnya sama sekali. memilih menyesap kopinya dengan pelan, dia berhasil mengecap rasa pahit yang bertemu indra perasanya karena Mayla memang sengaja tidak menambahkan gula dalam kopinya. dia hanya membiarkan lidahnya merasakan pahit dari kopi.
jujur saja semua ini terasa tak nyata terasa tiba-tiba mulai dari perceraian, kampus, pekerjaan hadirnya Arsaka, ditambah ketika orang yang sedari tadi menelponnya memberikan kabar yang tak ingin di dengarnya.
"menyebalkan" ujarnya pelan.
"apa yang menyebalkan"— sebuah jawaban tiba-tiba mengudara dalam keheningan membuatnya segera berbalik, hingga pandangannya bertemu dengan seorang laki-laki dewasa yang berdiri di ambang pintu pantri.
“pak Arseno?, sedang apa pak Arseno disini? " tanya Mayla kaget, karena atasannya itu tidak mungkin iseng kan keliling kantor setiap lantai hanya untuk mengecek sesuatu? soalnya Mayla ada di pantri lacerta bukan di casiopeaia—kafetaria di kantor mereka.
“saya mau ketemu Dimas, tapi sepertinya dia udah duluan" jawab Arseno sambil berjalan kearah mayla.
“kamu kenapa belum pulang juga?” tanyanya sesaaat setelah sampai disamping Mayla duduk, spontan Mayla menggeser tempat duduk agar atasannya itu tidak berdiri.
“Di luar hujan saya tidak membawa jas hujan, sedari tadi ojek online meng-kensel mungkin karena mereka tidak punya jas hujan" jawab Mayla. Arseno mengangguk paham.
Untuk beberapa saat kacanggungan mengambil alih suasana Mayla tak mengerti kenapa Arseno malah berdiam diri di sini. Tadi dia mengira Arseno akan menolak ketika Mayla manyodorkan sebuah kursi ke arahnya, di luar dugaan sulung sadewa itu malah menduduki kursi. dan lucunya hingga kini mereka masih terdiam terjebak di keheningan. bahkan suara setetes air dari kran wastafel bocor pun yang harusnya tak terdengar kini cukup nyaring.
hingga sebuah panggilan membuat mereka menoleh bersamaan.
"ayah kamu menelpon" ujar Arseno menunjuk ponsel milik Mayla. namun Mayla hanya mengangguk tak berniat mengangkatnya seraya menatap cangkir kopi dalam genggaman.
Arseno yang mengerti ranah privasi memilih abai, walau dia penasaran kenapa perempuan di sampingnya itu tak mengangkat panggilan ayahnya. Apa mungkin sungkan karena ada dirinya?
"kenapa pak Arseno belum pulang?" tanya Mayla mencoba menoleh ke arah atasannya. hingga kini dia dapat melihat dengan jelas pahatan muka Arseno dari jarak dekat.
"kamu mengusir saya?"
"bukan begitu pak, maksud saya-"
__ADS_1
"saya bercanda, selain saya masih ada kerjaan. saya juga ada janji dengan dimas tapi sepertinya dia melupakan janjinya" sela Arseno tatkala melihat reaksi Mayla yang mungkin saja merasa tak enak atas pertanyaaan yang baru saja perempuan itu tanyakan.
"begitu pak, mau saya buatkan kopi" tawar Mayla, sebenarnya dia merasa bingung harus bagaimana karena sedari tadi atasannya itu hanya diam. Arseno menggeleng seraya berujar
"saya tidak suka kopi" sontak jawaban Atasannya itu membuat Mayla kaget bukannya biasanya seorang pemimpin menyukai kopi? mengingat banyak di novel-novel yang sering dia revisi untuk di edit semua CEO menyukai kopi. ternyata berbeda dengan Arseno?
'terus waktu itu?'
"kenapa kamu suka kopi?" tanya Arseno seraya menunjuk kearah cangkir Mayla.
"aneh sih, atau mungkin hanya sugesti saja. Saya tidak tau kenapa, karena bagi saya kopi menyelesaikan masalah" ujar Mayla membuat Arseno mengernyit merajut dahinya.
"ada ada saja dasar anak muda" ujar Arseno tak habis pikir.
'bapak udah tua?' ingin rasanya dia menyuarakannnya namun tertahan mengingat kata sopan santun.
"karena bagi saya masalah itu seperti kopi, pahit tapi meskipun pahit semua orang mencicipinya" ujar Mayla, kembali dia menyesap kopinya seraya mengarahkan pandanganya kedepan.
Arseno mengangguk samar menatap lekat kearah Mayla tak ada yang salah dari perkataan perempuan muda di sampingnya namun, Tak tahukah dia bahwa laki-laki dewasa yang kini tengah duduk bersamanya belum pernah menyentuh kopi seumur hidupnya.
"hm, kalau misal kopi itu seperti masalah bagimu, saya ajukan kamu sebuah pilihan. di depan kamu ada dua buah kopi inget, kopi disini adalah masalah. seperti katamu tadi" ujar Arseno tanpa sadar dia menarik cangkir kopi yang tengah Mayla pegang dan ponsel Mayla sebagai perumpamaan kopi satunya.
"Gelas pertama diisi dengan kopi yang sangat pahit tanpa gula namun berisi hanya setengah saja," Arseno menyodorkan cangkir kopi kedepan Mayla.
"sedang gelas kedua terisi penuh oleh kopi dengan gula yang manis, apa yang akan kamu pilih?” tanya Arseno menyodorkan HP sejajar dengan cangkir yang tadi.
Ntahlah perumpamaan itu seketika tercipta di otaknya begitu saja, dia hanya ingin merealisasikan pada perempuan di depannya. Arseno sendiri tak mengerti, kenapa dia malah diam bersama perempuan muda di sampingnya. hanya saja topik pembicaraan mereka tentang kopi cukup menarik minatnya.
Mayla mengernyit, dengan perumpamaan yang di buat atasannya.
'dari mana perumpamaan itu muncul' pikirnya.
“kalau saya pilih kesukaan, saya suka americano. jelas saya akan memilih kopi yang pahit walau setengah saja. Tapi kalau kopi ini adalah masalah saya akan memilih kopi yang ditambahkan gula. karena siapa yang mau hidupnya penuh masalah bukan, atau kepahitan? semua orang mau hidup seimbang baik itu manisnya ataupun pahitnya. apalagi kopi itu ditambah banyak gula sudah dari awal kopi itu manis bukan? Meskipun kita berhenti meminumya, sampai akhir kopi itu akan terasa manis” jelas Mayla. Arseno terdiam sesaat untuk beberapa alasan.
'pantas saja Dimas memilihnya waktu itu, aku kira karena Mayla teman Raksa ternyata memang gaya bahasa dan penyampaian perempuan ini dalam bidang bahasa cukup mumpuni juga'—pikir Arseno.
"betul juga, may kenalkan saya pada kopi" ujar Arseno. membuat Mayla menoleh spontan berujar
"pada masalah pak?" tanyanya, Arseno menggeleng menyela dengan cepat
"bukan, ini kopi dalam artian sebenarnya" ujar nya seraya tertawa renyah.
"kapan-kapan saya akan mengajak pak Arseno ke kedai kopi" ujar Mayla,
"oke saya tunggu" jawab yang lebih tua.
__ADS_1
gemericik Hujan malam itu mengantarkan sebuah cerita sebelum tidur pada kedua anak adam yang tengah duduk berdampingan, membahas apa saja yang terlintas di benak keduanya, meruntuhkan dinding kecanggungan yang sedari tadi melingkupi membuat kikuk kini mencair menguap bersama hujan malam itu.
hingga keduanya tak menyadari jauh di ambang pintu masuk pantri seseorang berdiri disana.