Aku Tak Mengerti

Aku Tak Mengerti
SCAR


__ADS_3

Scar atau bekas luka, setiap orang pasti memiliki bekas luka ntah itu fisik ataupun psikis. luka atau cidera parah yang sudah sembuh akan menyisakan bekas. Yang terkadang masih terasa perih kala bekas luka itu kembali tergores, membuat siapa saja enggan terulang kedua kalinya.


.


.


.


Raksa duduk menyender pada kepala ranjang. tangannya mengudara memegang sebuah foto usang, di dalam foto itu terdapat dua anak saling berangkulan yang satu gendut dan satulagi berkepang dua.


Memori pahit sepuluh tahun silam yang dia kubur kuat dalam ingatan kini mulai tergali kembali.


Flashback.


Raksa kecil selalu menunggu Arsaka di rumah sakit. Siang dan malam dia selalu ada di samping Arsaka.


"Tante... Caka kenapa...hiks...belum..hiks..


bangun?" Tanya Raksa terisak pada ibu Arsaka—Meilia Sadewa. Meilia tersenyum seraya mengelus pucuk kepala Raksa.


"Belum sayang, nanti saka pasti bangun" ujar Meilia mendekap Raksa kecil yang terisak.


"sekarang kamu pulang ya, karena kedua orang tua kamu sudah menunggu di luar" tambah Meilia seraya menunjuk keluar, dimana kedua orang tua Raksa berada.


Gelengan kuat perempuan itu terima dari anak yang masih betah di dekapan hangatnya


"Ngga mau...Aca mau nunggu caka bangun..hiks.. dia paci kecakitan tante kalena di tucuk jalum makanya..hiks.. belum bangun" ujar Raksa kecil seraya menunjuk selang infus di tangan Arsaka.


Sedari kecil Raksa kesulitan menyebut huruf 's' makanya dia mengubah huruf 's' dengan huruf 'c'. Aca adalah nama panggilannya sejak kecil diambil dari kata Aksa—Raksa.


Meilia tersenyum, menghela nafas sejenak sebelum kembali berujar.


"Aca kan Katanya mau berlibur ke rumah nenek dan kakek aca di desa. nanti di tinggal ayah dan ibu aca" ujarnya ramah. Raksa kecil mengerjap tak lama kemudian mengangguk seraya memberikan sebuah lolipop baru yang dia pegang di kedua tangannya.


"Tante ini buat Caka, kacihkan nanti pada caka ya. Caka paci cedih Aca ngga ada" ujarnya memohon seraya memberikan lolipop itu pada Meilia.


"Nanti tante berikan"


dengan berat hati Raksa kecil melangkah keluar meghampiri kedua orang tuanya yang sedang menunggu.


Tepat di lorong rumah sakit ketika dia hendak pulang bersama kedua orang tuanya, dia melihat seorang anak kecil yang dia kenal. Perempuan kecil yang gendut dan juga cerewet tapi ntah kenapa Raksa selalu saja menemaninya. Dia melihat perempuan kecil itu menangis sendirian.


"Mah, pah, aca pelgi cebental ya nanti aca cucul ke mobil" ujarnya pada kedua orang tuanya.


"Anak cantik mamah mau kemana dulu sayang?" Tanya sang ibu, Evana Arganta – Evana.


"Dia laki-laki mah" ujar sang ayah, Kajuangga Arganta— Juang.


"Aca mau ketemu temen aca dulu dicana" jari kecil itu menunjuk seorang perempuan kecil yang terduduk seorang diri sembari menangis.


Juang dan Evana yang merasa khawatir memutuskan untuk menunggu sang anak dari kejauhan.


Langkah kecil Raksa berjalan menghampiri perempuan kecil yang sedang menangis.


Bermaksud ingin memberikan lolipop tapi dia lupa lolipopnya sudah habis dia makan dan sekarang tersisa hanya bekasnya saja , dia melihat gambar smile pada bekas lolipop. otak kecilnya berpikir mungkin saja anak gendut itu akan tersenyum sama seperti gambar yang ada dalam bekas lolipopnya.


Perempuan kecil itu terlihat menghentikan tangisan, saat tangan kecil Raksa terulur.


"Kamu?"


"..."


"Maka— Tunggu ini untukmu"


ujar perempuan kecil itu seraya mengulurkan sebuah foto padanya.


Tanpa pamit, kaki kecil itu berlari selepas menerima foto kearah kedua orang tuanya. meninggalkan perempuan kecil itu sendirian.


Tanpa Raksa duga ternyata itu pertemuan terkahirnya dengan anak perempuan gendut dan cerewet yang selalu dia temani saat Raksa menunggu Arsaka di rumab sakit. Karena besoknya Raksa di antarkan sang ayah pada nenek dan kakeknya.


Raksa kecil menangis tanpa henti tatkala dia melihat mobil ayahnya meninggalkan halaman rumah nenek dan kakek saat dia tertidur.

__ADS_1


"papah...papah...jangan tinggalkan aca" begitulah teriakan terakhir Raksa kecil sebelum tangis itu berubah, menjadi pejaman mata menjemput bayangan hitam yang menarik kesadarannya.


Semua itu bermula tatkala sang ibu yang di diagnosa memiliki penyakit kejiwaan.


Evana sangat mendambakan seorang anak perempuan, ntah sejak kapan dia selalu mendandani Raksa layaknya perempuan. Menguncir dua rambutnya, membelikannya boneka, memakaikannya bando dan aksesoris lainnya berbau warna pink pastel. Evana seakan mengubah seluruh jati diri sang anak yang sejatinya seorang anak laki-laki tampan dan gagah berubah menjadi perempuan cantik dan lucu.


Awalnya Juang mencoba menasehati Evana namun sikap keras kepala sang istri mengantarkan Juang pada keputusan terkahirnya. Yakni menjauhkan Evana dari Raksa. Walaupun keputusan yang sulit Juang tetap melakukannya, membawa sang anak pergi ke desa.


Raksa kecil yang waktu itu mengenali deru mobil sang ayah pergi meninggalkannya seketika bangun, dan berlari serta berteriak sekuat yang dia bisa. Sama seperti sang anak yang tak rela ditinggalkan ayahnya, begitu juga sang ayah — Juang— yang tak rela meninggalkan anaknya, dia hanya bisa menangis terisak sendirian di dalam mobil. seraya melihat jalanan pedesaan yang tertinggal lewat spion. Dalam hatinya dia berjanji akan membawa kembali Raksa setelah Evana sembuh dari penyakit kejiwaannya.


walau nenek dan kakeknya selalu berkata jika ayahnya akan kembali. Ntah kenapa Raksa tak percaya, karena pada kenyataanya sang ayah tidak pernah kembali.


lambat laun Raksa terbiasa hidup dengan nenek dan kakeknya. Walau nenek dan kakeknya membelikan Raksa pakaian laki-laki seusianya Raksa selalu menolak dengan perkataan yang sama.


"Nanti mamah dan papah tidak mengenaliku nek.. kek meleka akan menjemputku kan?" Anggukan dan air mata yang menggenang adalah respon motorik yang keduanya berikan. Ntah kenapa ucapan itu terdengar getir karena muncul dari mulut kecil cucu mereka.


Setiap harinya Raksa akan berdandan selayaknya perempuan seperti yang selalu ibunya lakukan, menguncir dua rambutnya, memakai bando dan sweeter pink pastel. Raksa sampai berhasil mengecoh warga desa dan teman kecilnya. jika cucu kedua keluarga Arganta adalah seorang anak perempuan.


Sedang kakek dan neneknya selalu bersedih, bahkan sang nenek tak sanggup menyembunyikan kesedihannya. tat kala melihat Raksa memakai rok yang sempat dibelikan mamahnya ketika hendak memasuki sekolah dasar di kota, sebelum diantarkan ke desa seperti sekarang.


cucu mereka yang harusnya tumbuh menjadi sosok laki-laki yang tampan dan gagah berubah menjadi, sosok perempuan cantik bersorot mata dingin dengan rambut panjang yang indah.


Setiap pulang sekolah dasar Raksa akan ikut berkebun di ladang dan setiap minggu dia akan ikut ibadah ke gereja bersama nenek dan kakeknya.


Dari sanalah penyebab kenapa Raksa berbeda agama dengan kedua orang tuanya dan juga Dimas. Karena nenek dan kakeknya menganut agama kristen berbeda dengan sang anak— Juang— yang sudah memeluk islam karena sang istri—Evana. Raksa yang waktu itu masih ikut-ikutan dan belum tahu menahu masalah agama, mengikuti agama yang di anut nenek dan kakeknya ketika di desa.


Tepat ketika Raksa berusia sebelas tahun, sang ayah datang bersama sang ibu mengajaknya untuk kembali pulang.


Evana dan Juang bahkan menebus kesalahannya selama kurang lebih delapan tahun silam dengan merawat Raksa seutuhnya, serta mengubah jati diri Raksa menjadi laki-laki tinggi dan tampan seperti sekarang. Hanya saja sorot mata dingin yang sang putra pancarkan tak berhasil kedua orang tuanya hangatkan kembali seperti Raksa kecilnya dulu.


Sampai sekarang Raksa tidak begitu dekat dengan ibu dan ayahnya, ataupun Dimas. dia pun masih menganut agama kristen seperti dulu tak seperti orang tua dan kakaknya. Itulah penyebab kenapa Dimas tidak mengerti jalan pikir sang adik, karena sedari kecil Raksa tidak bersamanya.


End.


Lamunannya terhenti tak kala mendengar ketukan pada pintu kamarnya.


"Masuk" ujarnya.


Dia sendiri tak pernah mengira takdir akan membawanya kembali bertemu dengan perempuan gendut dan cerewet yang dia temui di rumah sakit—Mayla.


Tanpa sengaja ketika hendak pergi dia menjatuhkan sebuah kunci dengan gantungan kpop yang tak sengaja tersenggol.


...•••...


"Kenapa pulpenya harus jatuh sih" ujarnya malas.


Jam menunjukkan pukul satu dini hari, Mayla baru selesai mengerjakan tugas kampus dan kerjaan kantornya. Ini masih termasuk dini baginya biasanya Mayla akan menyelesaikan tugas dan kerjaannya sekitar jam tigaan. Sembari mematikan kipas mayla beranjak seraya mengambil pulpen, tanpa sengaja ketika dia menyimpan pulpen di meja sebuah selebaran terjatuh dari meja belajarnya.


"Ah kertas ini" ujarnya tatkala dia mengambil selebaran yang jatuh baru saja. Sebuah selebaran yang dia dapatkan dari anak UKM Dentawyanjana atau UKM media yang mengurus mading kampus UNSENO.


Mayla merasa penasaran dan ingin tau siapa yang menerbitkan Artikel tentang dirinya kemarin,makanya tadi dia memutuskan untuk pergi menemui UKM media. Namun dia tidak berhasil mendapatkan nama sipenulis artikel. dia malah mendapatkan sebuah selebaran dari salah satu anak UKM Dentawyanjana.


BEASISWA UNGGULAN S2 DI BELANDA, begitulah judul artikel dalam selebaran itu. lamat dia memperhatikan.


Dulu dia sempat mempunyai cita-cita mulia, dirinya ingin menjadi seorang dokter seperti sang ayah. Karena dia ingin membantu banyak orang disekitarnya, sebutlah dia seorang perempuan yang naif dulu. Karena pada faktanya semua cita-cita yang dia ukir kuat, lambat laun terkikis dan hancur karena pusaran takdir yang menariknya masuk terlalu dalam dan kuat.


Sudah hampir tiga tahun dia mengubur mimpinya. Seperti debu yang tersapu angin, tak ada lagi mimpi, harapan, dan juga keinginan. Semua itu menghilang, kini hanya meninggalkan puing-puing trauma dari sisa ketakutan mendalam yang diberikan masa lalu.


"Ntahlah sekarang mimpi ku pergi kemana?, aku bahkan takut untuk bermimpi kembali" ujarnya, bagi sebagian orang mungkin menganggap perceraian itu biasa. Tapi berbeda bagi seorang anak seperti dirinya. Dulu mayla bukan anak yang mampu menutupi diri dengan senyuman palsu, mengkedok diri dengan raut wajah kebahagiaan dan berperilaku selayaknya semua itu biasa saja. Tidak ,dulu dia bukan seperti itu. bahkan Mayla sempat hampir putus sekolah saking kacaunya.


Bayangkan saja sosok laki-laki yang 24/7 menemaninya sudah memiliki kekasih, ditambah perceraian kedua orang tuanya. Semua itu berimbas pada sekolah dan kehidupannya dulu. Mayla itu anak manja sangat bergantung pada kedua orang tuanya, dan Rega laki-laki yang selalu menemaninya sedari kecil. Hingga takdir menghancurkan keduanya secara bersamaan.


"Haruskah aku coba lagi?" Kembali bibir itu berujar, mengusir kenangan pahit yang diam dalam ingatan. Dia hanya takut, semua yang sudah dia bangun hancur dalam sekejap seperti dulu.


"Orang tuaku tak kan pernah rujuk kembali, ka Rega bukan laki-laki 24/7 milikku seperti dulu. aku cuman punya diriku untuk bertahan dan meneruskan hidup"ujarnya, mengingat sang ayah yang memutuskan untuk menikah lagi membuat harapannya pupus seketika. Dan Rega yang tak akan pernah kembali seperti dulu.


Kuliah ke luar Negeri adalah salah satu dari seribu mimpi yang sempat dia tulis. Hasrat kuat dalam diri yang selalu menjadi kepercayaannya dulu, kini sedikit demi sedikit bangkit. Menumbuhkan bunga-bunga harapan yang mungkin saja dapat dia petik kembali.


"SEMANGAT...MAYLA SEMANGAAAT...." ujarnya menyemangati diri.


"Oke mulai sekarang aku harus membagi tiga waktuku antara belajar, mempelajari toefl, dan kerjaan" ujar Mayla akhirny. seraya menempelkan selebaran itu di pintu kulkas, Sebelum tidur.

__ADS_1


Mayla memutuskan untuk mencoba kembali, ntah apa yang takdir siapkan nanti. Akankah kedua kalinya dia masuk pada pusaran pahit takdir atau justru kali ini dia akan berterima kasih pada takdirnya.


Mata itu terpejam, mencoba menghapus satu persatu rekaman trauma membekas masa lalu yang memenuhi memori otaknya.


...•••...


Pagi hari ketika Mayla selesai mengunci pintu kosan dia di kagetkan dengan datangnya sebuah motor ninja yang berhenti di depan kosannya.


OH Tuhan baru semalam Mayla menghapus kenangan pahitnya, tapi nampaknya kenangan itu harus tertulis kembali kala jelaga hitam itu menanatapnya lekat dengan muka yang menyebalkan.


'Tunggu kenapa arsaka babak belur' — pikir Mayla tepat ketika dia melihat muka Arsaka yang penuh lebam.


'Mungkinkah dia bertengkar lagi dengan pak Arseno seperti waktu itu?' Kembali pikirannya menduga-duga.


"Aku tau aku tampan, tidak usah terpesona begitu" ujarnya tiba-tiba. Kata-kata yang berhasil menghapus praduga yang susah payah Mayla pikirkan menguap bersama polusi udara perkotaan. Tak penting sama sekali.


"Se—sedang apa kamu didepan kosanku?" Tanya Mayla. Arsaka tersenyum sekilas seraya memberikan helm pada Mayla


"Menjemputmu, ayo naik" ajaknya, namun Mayla masih bergeming.


"Jangan gengsi. Aku tau kamu tidak punya uang untuk naik ojol atau angkot" ujar Arsaka santai, berbanding terbalik dengan Mayla. Jelas Mayla kaget dari mana Arsaka tau dia tidak punya uang?


"Aku—


"Naiklah atau ku tubruk" ujarnya, mengancam. membuat Mayla kesal namun tak berani dia suarakan. Mayla yang malas berdebat di tambah takut, memilih naik mengikuti keinginan si bungsu sadewa.


Sepanjang perjalanan ntah kenapa Mayla merasa Arsaka sedang menghadapi masalah. Namun sikap cuek Arsaka berhasil membuat siapa saja menghilangkan rasa iba, empati dan kasihan.


Mayla terkadang melihat dirinya dalam tubuh laki-laki Arsaka. Karena Mayla pernah ada di posisi itu dulu, dia benci semua orang mengasihaninya, iba padanya ataupun simpati. Karena pada akhirnya semua akan pergi meninggalkannya sendirian seperti kedua orang tuanya yang memilih jalan masing-masing.


Sesampainya di parkiran kampus, tak ada satupun yang tak melepas atensi padanya. Hampir semua mahasiswa UNSENO menoleh kearahnya.


"Artikel itu—


"Aku tidak begitu memikirkan Artikel itu" sela Mayla segera tepat ketika dia mengetahui kemana arah pembicaraan Arsaka. Bohong justru Mayla sangat memikirkan itu, faktanya dia sampai sekarang masih penasaran siapa yang menulis Artikel sialan tentang dirinya. Karena, gara-gara Artikel itu namanya menjadi sorotan di lingkungan kampus.


Arsaka yang berniat meminta maaf karena tak menolongnya waktu itu tak jadi, mengingat Mayla yang langsung menyela seakan tak mau bicara kearah sana.


"Makasih, aku duluan ya ka" ujar Mayla seraya memberikan helm pada sipemilik,


Dia hanya ingin buru-buru pergi. sebelum tangannya kembali di cekal oleh Arsaka.


"Tunggu" ujarnya.


Tepat ketika dia keluar parkiran, semua mahasiswa berbisik seraya memandangnya bergantian dengan Arsaka. Mayla menoleh melihat Arsaka otak dangkalnya berpikir mungkin saja karena muka Arsaka yang lebam.


"Eh itu lian sama perempuan yang kemarin kan?"


"Mereka saling kenal ternyata"


"Mereka punya hubungan deh kayanya, liat Lian deket banget gitu"


"Iya beda pas sama kalista ya?"


Begitulah sebagian bisikan mahasiswa UNSENO yang berhasil tertangkap telinga Mayla. Ntah kenapa dia sangat sensitif dengan nama Lian.


"Lian? Oh Tuhan apa yang di lakukan singa itu lagi sekarang?" Gumam Mayla seraya menghela nafas jengah. Menarik atensi Arsaka.


"Singa?" Ujarnya ketika dia tak sengaja mendengar gumaman perempuan di sampingnya. Mayla menoleh dia mendongak menatap jelaga hitam Arsaka.


"Hah? Apa?" Tanya Mayla.


"Tadi kamu menyebut singa, kenapa dengan singa?" Tanya Arsaka, seraya merapihkan rambut Mayla yang berantakan nampaknya akibat helm miliknya.


"Itu..dia raja hutan" jawab Mayla sekenanya. Menarik kernyitan di dahi si bungsu sadewa.


"Hah?"


"Mayla/Lian" dari arah yang berbeda kedua suara itu mengudara. Menarik keduanya tanpa sadar saling menjauhi dan mendekat pada sumber suara.


'Tunggu lian? Dimana dia? Gawat aku harus menghilang segera' —pikir Mayla seraya berlari tak jadi menghampiri sipemanggil yang terlihat kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2