Aku Tak Mengerti

Aku Tak Mengerti
Telur Guling


__ADS_3

Berawal dari selalu tidak enakan dan sering memikirkan sesuatu ntah itu sikap, tingkah laku dan hal yang sepele lainnya yang sebenarnya bisa saja diabaikan. namun karena terlalu sering memikirkannya lambat laun sifat itu akan bermetamorfosa menjadi over thingking, yang terkadang membuat seseorang sulit fokus melakukan aktivitasnya. kurang nafsu makan dan sulitnya tidur. ya seperti itulah yang Mayla rasakan kini.


sudah tiga putaran Mayla berlari, kakinya terus merajut tak berniat memberhentikan langkahnya. mengabaikan rasa cape dan haus, karena dari pertama Mayla sampai dia langsung menarik langkah kakinya berlari begitu saja. tanpa meminum sesuatu sebelumnya.


motorik kewarasan yang tersisa hanya tangannya, yang terus menyeka keringat yang menutupi penglihatan perempuan itu. kegiatan langka itu Mayla lakukan, hanya untuk mengusir rasa over thingking stadium akhir yang dia rasakan.


penggalan episode yang sempat terpangkas kemarin kini terputar kembali secara otomatis.


Flashback—


Aruna menarik Mayla, menjauh dari Raksa dan juga kedua temannya. masih dapat di jangkau oleh penglihatan namun apa yang di suarakan sudah tidak terdengar begitulah posisi Mayla dari Raksa kini. sedang Raksa laki-laki Arganta itu tak menaruh penasaran pada apa yang hendak di bicarakan kedua perempuan beda usia itu. memilih abai meneruskan langkahnya menuju lift bersama dua teman kelasnya— Mario dan Harvin.


"kenapa ka?" tanya Mayla membuka percakapan keduanya, karena sedari tadi Aruna hanya diam, perempuan di depannya ini seakan sedang menimbang apa yang harus di bicarakan lebih dulu padanya.


Aruna mengulas senyum sekilas. dia mengedarkan pandangannya, terlihat mencari sesuatu.


"may kita duduk disana yu" tunjuk Aruna pada sebuah bangku panjang di samping pintu kelas.


Di setiap fakultas memang ada bangku panjang dilapisi keramik di samping setiap pintu kelas.


Mayla mengangguk mengekori Aruna. tak lupa dia mengirim sebuah pesan pada Raksa jika dia akan pergi sendirian ke stasiun kereta. mengingat, dia takut kejadian dulu terulang, dimana Raksa menunggu Mayla sampai mereka pulang kehujanan.


"May apa kamu tahu jadwal Rega di fakultas dan di kantor sesibuk apa?" Tanya Aruna sesaat setelah keduanya duduk berdampingan,


Mayla terdiam sebentar, mencerna maksud pertanyaan yang terlontar tiba-tiba dari si perempuan lebih tua.


"aku ngga tau ka, memangnya kenapa?" tanya Mayla, terlihat jelas perempuan yang muda mengengernyit bingung.


"akhir-akhir ini dia jarang sekali balas chat aku may, kita juga jarang ketemu karena Rega selalu berkata kalau dia sibuk" terang Aruna, dari raut muka sedihnya Mayla dapat menerka masalah serius tengah melanda perempuan yang lebih tua darinya. kembali Mayla mengernyit sebagai respon.


"sifatnya juga sedikit dingin akhir-akhir ini" susul Aruna kemudian. Mayla sedikit bingung ingin menjawab seperti apa, pasalnya dia tidak pernah berpikir sejauh ini dimana Aruna akan datang menemuinya hanya untuk membahas Rega.


"kalau masalah itu aku kurang tau, akhir-akhir ini aku jarang ketemu ka Rega paling cuman di kelas kalaupun di kantor ya secukupnya aja ka" jawab Mayla jujur, karena memang sudah beberapa hari ini Mayla jarang ketemu Rega. lebih tepatnya Mayla yang menghindar.


"atau ngga—coba tanya ka Dimas aku rasa dia lebih tau dari pada aku, karena ka Dimas lebih sering sama ka Rega" susul Mayla segera, tepat ketika dia mengingat sahabat Rega, dan setau Mayla Dimaslah yang paling sering dekat dengan Rega.


"Justru Dimas malah nyuruh nanya ke kamu" jawab Aruna.


"HAaah!?"


Rasa kaget atas jawaban Aruna tak dapat Mayla tutupi, Apa katanya? mayla tidak salah denger? menanyakan padanya yang jelas-jelas dia tidak tau akar masalahnya apa?


'oh Tuhan aku harus bagaimana? '


"May kamu tahu kan aku sangat menyukainya, aku yakin, kamu bisa bantu aku May supaya Rega berubah" ujar Aruna dengan nada memohon,


"Tapi ka, bantu dengan cara seperti apa? aku juga bingung"


Jujur, Mayla sedikit kaget mendengar itu. Karena setau Mayla hubungan Aruna dan Rega itu baik-baik saja. bahkan banyak yang mengidam-ngidamkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius—pernikahan. Membuat Mayla iri, orang yang kalian sukai akan melangkah ke jenjang serius sedang kamu hanya bisa menyaksikan. menahan kesakitan tak kasat mata yang bahkan sulit untuk diobati.


Mayla menggeleng mengusir pikirannya. dia sudah menguatkan hatinya untuk membentengi diri dari seorang laki-laki seperti Rega.


"kamu bisa bantu aku, supaya aku dan Rega bisa berbicara berdua?—",


"—soalnya sedari kemarin Rega sulit di hubungi aku menemuinya di Fakultas pun. Rega selalu bilang kalau dia sibuk May" ujar Aruna kemudian. Mayla terdiam untuk beberapa alasan, melihat Aruna yang matanya sedikit memerah karena menahan air mata, Mayla iba. sebegitu sukanya kah Aruna pada Rega? apa sebesar Mayla menyukainya? sampai sesulit ini dia move on dari laki-laki Pradasa? Haruskah Mayla benar-benar melupakannya? sulit. satu kata yang masih membelenggu hatinya kini.


Aruna masih menunggu jawaban ataupun respon dari perempuan yang lebih muda, dia sangat berharap Mayla bisa membantu memperbaiki hubungan dengan kekasihnya, Walau jauh di lubuk hatinya. Aruna tahu, bahkan dia sangat tahu. baik Mayla ataupun Rega mereka masih saling menyukai. dan jujur Aruna sempat membenci Mayla.


"iya ka aku coba nanti ya" jawab Mayla Akhirnya.


Mayla sedikit merutuki dirinya yang kini kembali menarik belati untuk menyakiti hatinya sendiri. ya mau bagaimana lagi kan? menolak? tentu bukan Mayla sekali. sifat buruk Mayla itu, dia berani menyingkirkan kebahagiaannya demi orang lain. ibarat lilin yang sanggup menyinari, sedang dirinya hancur menguap bersama udara. ya begitulah Mayla.


"makasih ya may" ujar Aruna seraya menarik Mayla pada pelukannya, seakan masalah yang menumpuk tadi sirna sudah dalam sekejap. berbeda lagi dengan Mayla yang kini merasakan adanya tumpukan masalah baru yang dikirim secara imajiner dari perempuan yang kini memeluknya erat.


'apa yang harus kulakukan '


—END


'apa yang harus kulakukan? '


"sendirian aja, Raksanya ngga diajak"— sebuah suara mengudara menarik Mayla dari penggalan episode, yang membuatnya melamun cukup lama dalam larinya. dia sedikit beruntung karena jarang orang berlalu lalang di depannya. ya setidaknya itu yang dia rasakan.


"ya ampun ka Dimas" ujar Mayla kaget tepat ketika menoleh dia menemukan Dimas yang tersenyum kearahnya. sulung Arganta itu terlihat memakai baju yang sejenis dengan bajunya. baju olahraga.


"ngga cape dari tadi lari, aku lihat ini putaran ke empat kau berlari may" ujar Dimas, dia tak menyangka jika akan bertemu dengan Mayla di alun-alun kota. Awalnya dia bermaksud mengajak Rega untuk lari sore namun urung, tepat ketika dia melihat perempuan yang dia kenal sedang berlari tanpa henti dengan pandangan tak terbaca. karena perempuan muda itu terlihat tak berniat mengakhiri larinya Dimas kemudian mengejarnya.


"oh ya??" jawab Mayla terdengar takpercaya. nampaknya perempuan itu tidak menyadari sudah berapa putaran dia berlari disana. terlihat dari bola matanya yang membesar seketika sebelum senyum perempuan itu berhasil menutupi rasa kagetnya.


yang lebih tua mengulas senyum sekilas sebelum dia membawa Mayla ke pinggir lapangan.


"tumben ngga bareng Raksa biasanya kamu kaya perangko sama adikku, ngga lepas" ujar Dimas. sedang Mayla perempuan itu terlihat masih sedikit ngosngosan, keberadaan Dimas sekaligus membawa Mayla pada realita dunia. dari rantai pikiran yang hampir merusak sebagian indranya.


kakinya sedikit lemas, jantungnya berpacu lumayan kencang, deru nafasnya pun tidak teratur, hanya gelengan yang dapat perempuan itu berikan. Dimas menaikkan alisnya tepat ketika melihat perempuan muda di depannya kini terlihat sangat kecapean. berbanding terbalik dengan tadi yang justru dia melihat Mayla seakan tak memiliki rasa cape sama sekali. karena dia menjadi saksi perempuan muda itu berlari tanpa arah.


Mayla bahkan hampir menabrak nenek-nenek dan kakek-kakek yang sedang menikmati jalan-jalan sore, jika saja Dimas tidak dengan cekatan menarik keduanya ke pinggir lapangan.


Mayla juga hampir menginjak kucing yang tertidur pulas, sebelum Dimas dengan segera menggendong untuk memindahkan kucing itu. atau bisa saja Mayla terkena lemparan bola basket nyasar yang untung saja masih keburu Dimas tangkap.


itulah jawaban di balik keanehan Mayla yang berlari tanpa tau arah, tapi tidak menabrak apapun itu. semua itu karena Dimas. kepala divisi mayla yang dengan sukarela merangkap menjadi seorang penjaga dan pelindungnya tadi. Namun sayang Mayla tak menyadarinya. pikiran polosnya berpikir, mungkin saja tadi pas dirinya berlari keadaan masih sepi.


Mayla memejamkan matanya sejenak karena pandangannya kini mulai mengabur, hingga tangannya dipaksa seseorang untuk memegang sebuah botol minuman, membuat perempuan muda itu membuka mata seketika.


"minum lah" tukas Dimas, terlihat sulung Arganta itu menggengam botol air minum sama sepertinya.


"makasih ka" ujar Mayla sesaat sebelum dia meminum rakus air mineralnya, hingga menyisakan setengah botol. Dimas menggelengkan kepalanya, sesekali mengulas senyum melihat kelakukan perempuan muda di sampingnya.

__ADS_1


"aku kira tadi kamu tidak merasa haus makanya terus berlari" ujar Dimas, menyindir. sifat sarkas kakak beradik Arganta memang tidak diragukan lagi. membuat Mayla tersedak mendengarnya.


"jangan terburu-buru kalau kurang aku bisa belikan lagi" ujar Dimas seraya melangkah kearah tempat duduk di pinggir lapangan. sedang Mayla dia masih terbatuk-batuk seraya mengekori Dimas.


"ka Dimas ko bisa di sini?, ngga kekantor?" tanya Mayla, karena setau dia Dimas akan keluar kubikel jika waktu sudah larut.


Dimas menepuk tempat kosong di sampingnya agar perempuan muda yang berdiri di depannya duduk.


"ke kantor, kalau aku ngga ke kantor Arseno bisa-bisa memecatku" jawab yang lebih tua. Mayla terkekeh.


"iya juga sih ka"


"hm"


Hening, suara sorak sorai anak basket, teriakan kecerian anak-anak bermain, dan juga suara musik senam aerobik sorepun terdengar. cukup di jadikan untuk pengisi kekosongan keduanya.


"kamu sendirian" yang lebih tua mencoba membuka suara, mencari topik mengisi kosongnya suasana yang hanya terdengar suara ibu-ibu yang sedang melakukan senam aerobik yang tak jauh dari mereka. Yang lebih muda terdiam sejenak, memikirkan jawaban pertanyaan yang mungkin saja akan Dimas lontarkan selanjutnya.


"tumben lari sore? biasanya aku tak pernah melihatmu disini may" tanya sisulung Arganta, menoleh sekilas pada Mayla. sebelum padanganya kembali dia arahkan pada ibu-ibu yang sedang melakukan senam aerobik disana.


pertanyaan yang Mayla takutkan pun terlontar. penyebab dia lari sore? dia sendiri hanya mengikuti kemana kaki dan pikirannya, yang mencoba bekerja sama mencari jalan keluar atas rasa over thingking yang semakin menjadi .


Karena pikirannya masih dipenuhi dengan masalah, yang sebenarnya sebut saja dia undang sendiri. Ini bukan masalahnya melainkan masalah Aruna dan Rega tapi kenapa Mayla juga terbawa?


Aruna berkata, katanya Rega sulit dihubungi. pada faktanya Rega sangat cepat respon, atau mungkin karena Mayla sudah dianggap sebagai adiknya? atau karena dia anak didiknya?, ya anggaplah begitu. dan tepat ketika Mayla mengajaknya pergi kemarin, si tunggal langsung mengiyakan. Dimana letak sibuknya? jadi siapa yang bohong? Aruna?


"aneh"


"apa yang aneh?" saut Dimas segera, namun tak ada jawaban setelahnya. Lamat Dimas memperhatikan perempuan muda disampingnya. terlihat memiliki masalah.


"May?" yang lebih tua menyikut, menarik atensi perempuan muda dari papingblok segienam yang dia pijak di bawahnya.


"iya ka?" jawab Mayla menoleh kearah Dimas, sedang yang lebih tua kembali menarik ujung bibirnya.


"ada masalah?" susul Dimas, si sulung Arganta mencoba mengejar rasa penasaran atas keterdiaman dari perempuan muda di sampingnya. namun sayang gelengan dia terima, nampaknya Mayla bukanlah type perempuan yang akan menceritakan masalah pribadinya pada siapapun. Dimas mengangguk mengerti.


"kenapa diam saja? apa karena aku bukan Rega atau Raksa jadi kamu diam begini?" tanya Dimas kemudian, seraya kembali meminum air miliknya hingga tandas.


sedang Mayla masih tak habis pikir dengan skenario takdirnya, ntah kebetulan atau apa dia sekarang bertemu Dimas disini.Apa jika Mayla berlari besok dan bukan sekarang, dia juga akan bertemu Dimas?


"may" kembali yang lebih tua bersuara atas kembalinya si perempuan muda terdiam. hanya untuk menarik eksistensinya.


"bukan begitu ka, hanya saja aku tak pernah menyangka akan bertemu dengan mu disini" jawab Mayla jujur, seraya memainkan botol minum miliknya.


"ka Dimas sendirian?" tanya Mayla kemudian seraya menoleh sekilas kearah Dimas. Dimas mengangguk seraya melempar tanya penuh candaan pada perempuan muda di sampingnya.


"kau berharap aku datang dengan Rega atau Raksa? atau— Arseno?"


"tidak juga!" sela Mayla segera, menarik tawa pada yang lebih tua.


"santai aja kali, ngga usah di gas"


Dimas mengangguk,


"iya kami satu SMP, satu kelas hanya berbeda SMA dan Univ"


"oh yang waktu pak Arseno ke Bandung itu ya" ujar Mayla, Anggukan adalah respon dari yang lebih tua.


Mayla bermaksud mengejar rasa ingin tahunya, tentang Arseno. namun dia masih tau batasan untuk tidak mengorek terlalu dalam privasi seseorang.


"Ka Dimas sering kesini?" tanya Mayla kemudian. mengalihkan topik bahasan yang bisa saja terdengar seperti mencari informasi seseorang—Arseno.


"ngga juga sih, tadinya aku hanya ingin nurunin lemak aja. lari sore" jawab yang lebih tua seraya menoleh sekilas sebelum fokusnya dia alihkan, pada tukang dagang makanan pinggir jalan yang masih tertangkap pandangannya.


mendengar perkataan yang lebih tua, Mayla spontan menoleh. pandangannya jatuh pada tubuh Dimas yang tidak terlihat gemuk sama sekali. menurunkan lemak apa?, postur tubuh Dimas itu setinggi Rega namun bobot tubuhnya terlihat jika Dimas jauh lebih ringan dari Rega. memilih mengangguk sekenanya, Mayla abai. karena gemuk atau tidaknya hanya diri kita yang bisa merasakan bukan?


"mungkin kamu penasaran kenapa diantara kita bertiga Arseno punya anak duluan?" ujar Dimas, nampaknya rasa penasaran Mayla cukup terlihat jelas, sampai Dimas dapat menerka dengan mudah letak rasa ingin tahu Mayla.


"jujur— iya ka" jawab Mayla terdengar sedikit berbisik karena ragu dia lontarkan. berbanding terbalik dengan Dimas yang malah terkekeh karena jawaban kelewat jujur perempuan di sampingnya kini.


"tapi aku lebih penasaran dengan rasa telur gulung yang sekarang, ayo kita coba" ujar Dimas, tanpa sadar si sulung Arganta menarik pergelangan Mayla beranjak bersamanya. sedang Mayla yang sedikit kaget hanya bisa patuh di tarik kearah penjual telur gulung di pinggir jalan.


Disinilah Mayla sekarang, bersender di mobil milik Dimas, setelah membeli telur gulung tadi Dimas mengajak Mayla kearah mobilnya. Mayla awalnya menolak dia bermaksud akan pulang. apalagi langit sudah bertudung senja dan sebentar lagi malam siap menggantikannya. Namun karena Dimas berkata akan mengantarkanya pulang Mayla yang sulit menolak hanya bisa patuh.


posisi Dimas duduk di atas kap mobil, sedang Mayla bersender di sampingnya. keduanya kini sedang menikmati telur gulung yang dimas katakan tadi.


Dimas memang tidak memarkirkan mobilnya bersama mobil lain, mengingat dirinya yang tidak betahan di suatu tempat. memudahkan sulung Arganta itu untuk pergi kapan saja.ternyata sifatnya hampir sebelas dua belas dengan Raksa.


"terakhir kali aku makan telur gulung itu, dulu waktu sekolah. masih kecil-kecil bentuknya" yang lebih tua kembali membuka percakapan. menarik atensi yang lebih muda dari pandangan memperhatikan sekitar. Mayla menoleh, mendongak kearah Dimas.


"oh yah ka?" ujar Mayla terlihat sedikit kaget, wajar sih type laki-laki seperti Dimas pasti jarang makan sembarangan apalagi pinggir jalan seperti ini, tidak seperti dirinya yang memakan apapun itu asal kenyang. Dimas mengangguk seraya kembali memasukkan telur gulung kemulutnya.


"dulu waktu berapaan ya lupa—seratus perak kali ya" ujar Dimas, terkekeh di akhir perkataan. terlihat bahwa si sulung Arganta kini tengah mengingat sesuatu. masa kecilnya. menuai tawa pada yang muda terbukti kini Mayla terbahak dalam tawanya. jika diingat, dulu makanan masih ada yang harganya seratus rupiah kalau sekarang ntahlah sulit dijelaskan.


melihat tawa Mayla Dimas tanpa sadar tertegun, perempuan itu terlihat polos dan lucu dalam waktu yang bersamaan. pantas Rega masih menyukainya. untuk Raksa, jujur Dimas sendiri tidak bisa menebak. ntah adiknya menyukai Mayla atau tidak. pasalnya sifat sang adik itu sangat langka, sulit di tebak.


"sekarang seribu" seru Mayla tiba-tiba membuat Dimas kaget dengan respon yang lebih muda. nampaknya Mayla tidak sadar jika sedari tadi Dimas memperhatikannya, karena pandangan perempuan itu masih fokus ke depan memperhatikan kendaraan yang lalu lalang di depannya.


"Ah sepuluh ribu ka" ujar Mayla, yang muda tiba-tiba menoleh membuat yang lebih tua kaget segera mengalihkan pandangan ke sampingnya.


"ayo pulang habiskan telur gulung mu" ujar Dimas seraya meloncat dari kap mobil.


Seperti katanya tadi jika Dimas akan mengantarkan Mayla pulang, mobil Dimas kini mulai bergabung dengan mobil lain di jalan raya menuju arah kosan Mayla.


"untuk pertanyaan kamu tentang Arseno, kamu tagih padaku lagi kapan-kapan", selalu yang lebih tua yang memulai obrolan, Mayla mengangguk.

__ADS_1


"May" ujar dimas menarik atensi yang lebih muda kembali.


"May kau suka kembang gula kapas?" tanya Dimas seraya menunjuk dengan dagunya kearah penjual kembang gula kapas, tak jauh di depan mereka.


"suka, dulu ka Rega pernah beliin dua" ujar Mayla seraya dia mengacungkan dua jari kearah Dimas. ternyata meskipun sedang berdua, nama Rega masih tersemat, keluar dari mulut perempuan muda itu. membuat Dimas sedikit iri karena tidak mengenal Mayla sebelumnya. Dimas memang tahu siapa Mayla, gadis SMP yang menyukai sahabatnya bahkan sering menunggu di parkiran SMA. ya, hanya sebatas itu Dimas mengetahui Mayla dulu.


"terus kamu habisin semuanya?" tanya Dimas seraya memutar kemudi mendekat kearah tukang kembang gula kapas.


"ngga, satu aku makan. satu lagi aku simpan dikulkas" ujar Mayla jujur, menarik tawa pada yang lebih tua.


"kacau, masa di kulkas" ujarnya seraya menginjak rem, memberhentikan mobil tanpa mematikan mesinnya.


"iya, besoknya kembang gula kapasnya masa mengecil" jawab yang lebih muda, Dimas tergelak dalam tawanya sebelum tangannya membuka pintu mobil, Mayla lebih dulu bertanya


"eh mau ke— pertanyaan Mayla terpotong


" tunggu sebentar" sela yang lebih tua segera, sebelum keluar dari mobil.


Mayla dapat melihat jika Dimas kini sedang membeli kembang gula kapas yang dimaksud laki-laki itu tadi.


"ini" ujar Dimas seraya memberikan kembang gula kapas pada Mayla, membuat yang lebih muda terdiam sulit mencerna dengan mudah perlakuan ketua divisinya kini. mereka memang sudah kenal lama tapi tidak seakrab ini. Mulai dari duduk berdampingan, dibelikan kembang gula kapas, dan dianterin pulang.


Terkadang Mayla ingin mengetahui apa ending dari tulisan takdir hidupnya. karena tak terbersit sedikit saja di pikirannya dia akan sedekat ini dengan Dimas. Dulu, Dimas hanya menjadi laki-laki si penanya yang selalu menanyakan dirinya karena menunggu Rega di parkiran SMA.


"dimakan" ujarnya kemudian seraya menarik gas mulai melajukan mobilnya kembali.


tak terasa perjalanan mereka sampai. mobil Dimas mulai memasuki gerbang kos Mayla. pandangan keduanya di kagetkan dengan terparkirnya motor ninja merah di depan kosan Mayla. dengan si pemilik yang kini menatap keduanya sangsi.


"ah May sepertinya aku tidak turun, aku langsung parkir saja" ujar Dimas tepat ketika pandangannya beradu dengan tatapan tajam Rega, walau terhalang kaca mobil. Mayla mengangguk tak lupa mengucapkan Terima kasih pada kepala divisinya itu, sebelum benar-benar turun dari mobil.


tepat ketika mobil Dimas hendak keluar Gerbang kosan Mayla, dengan tiba-tiba Dimas melongokan kepalanya. seraya berujar dengan lantang, membuat Mayla kaget seketika.


"Jangan lupa berkas yang harus di tanda tangani besok simpan di meja ya ga, yuhuuu babaiiii" teriak Dimas seraya melambaikan tangannya pergi. seakan memberi tahu si tungggal pradasa jika laki-laki yang mengantarkan Mayla itu dirinya. tidak tahu saja Dimas jika Rega kini sedang menyusun rencana, kapan waktu yang tepat melemparkan sahabat sialannya itu pada lumpur hisap.


"kamu ko bisa sama Dimas?" pertanyaan Rega menjadi penyambut sampainya dia di halaman kosan. belum sempat Mayla menjawab, pertanyaan selanjutnya muncul kembali


"kalian ngapain?"


"a—... "


"pantes Dimas pulang cepet, kalian janjian?"


"i—... "


"ko kamu ngga pernah cerita kalian sedeket itu?"


"ka—... "


"Dimas beliin kamu kembang gula kapas?, dimana?", cukup sudah Mayla memilih diam, menghela nafas jengah dengan sikap langka si tunggal pradasa.


Rega terus memberondongi Mayla pertanyaan, membuat perempuan muda di depannya sulit menjawab dan hanya bisa mengerjap. sedang yang lebih tua terus melontarkan tanya, mengejar rasa penasaran sejauh apa Mayla dan Dimas saling mengenal. Dirasa Rega tak akan melontarkan pertanyaan nya lagi, Mayla mulai membuka suara. bukannya menjawab satu persatu pertanyaan, Mayla malah melempar tanya dengan keberadaan si tunggal pradasa di depan kosannya.


"ka Rega sendiri sedang apa disini?"


"pertanyaan aku ngga kamu jawab?" ujar yang lebih tua keras kepala. melihat keterdiaman Mayla, Rega mengalah.


"aku datang kesini karena kamu ngga jawab telponku, chat aku juga ngga kamu bales, makanya aku kesini" tukas Rega, menarik kernyitan di dahi yang lebih muda, segera dia membuka ponselnya melihat room chat dirinya dan Rega. ternyata ada satu pesan belum Mayla kirimkan yang masih tertahan di papan obrolan.


"maaf ka belum ke kirim ternyata tadi" ujar Mayla seraya memperlihatkan chat yang baru saja Mayla kirimkan.


"berarti besok aku jemput kamu ke—


" kita ketemu di tempatnya aja ka, soalnya besok aku lumayan padat" jawab Mayla kemudian.


"jadi sekarang bisa kamu jelaskan, kenapa kamu pulang dengan Dimas?" tanya yang lebih tua kembali. Mayla hendak menjawab sebelum sebuah suara mengudara menarik atensi keduanya.


"Ka Mayla", Mayla menoleh begitupun Rega. tak jauh dari sana sebuah motor beat hitam terparkir, dengan si pengemudi yang terlihat sedang melepaskan helm.


" satria?"


"kamu mengenalnya?" tanya Rega. Mayla mengangguk.


"besok kita bicarain lagi ya ka, ka Rega mending pulang. maaf ya ka" ujar Mayla, perempuan itu mencoba mengusir Rega dengan halus. Rega mengangguk mencoba mengerti, segera yang lebih tua melajukan motornya keluar dari gerbang kosan Mayla.


"kenapa sat" tanya Mayla tepat ketika satria berjalan kearahnya.


"dari pada kamu memanggilku begitu, mending panggil saja Bumi" ujar yang lebih muda, Satria memang selalu mengomentarinya jika dia salah memanggil nama.


"ada apa satria?" ulang Mayla. dia memilih mengalah, otak dan hatinya sudah sangat lelah dan cape.


"sebenarnya aku malu mengatakannya"


"tapi—bisa aku pinjam uang duaratus ribu?" ujar satria kemudian.


oh tuhan apalagi ini? sebenarnya apa ending dari semua takdir sialan ini. kesal Mayla, perempuan itu sangat membenci takdir yang selalu saja membuatnya bingung dengan kejutan yang dunia berikan padanya.


"buat apa?", bukannya menjawab satria menarik Mayla kearah motornya, memaksa calon kakak tirinya untuk ikut pergi bersamanya.


hingga motor matic yang di lajukan satria berhenti, tepat di sebuah warteg tak jauh dari sekolah swasta di sampingnya. tanpa kata Satria mengajak Mayla turun.


"mana! kamu bilang akan melunasi hutangmu satria!!!", amarah menjadi penyambut kedatangan keduanya. pandangannya kini tertuju pada ibu-ibu dengan daster bunga-bunga penuh rolan di rambut dan koyo di salahsatu pipinya, sedang berkacak pinggang penuh emosi di depan warteg.


"HAaaaaaah!!!!" jujur Mayla kaget, apalagi iniiiiii??????


dengan enteng satria berujar

__ADS_1


"aku berhutang makan disini sudah hampir sebulan nunggak ka"


"Oh shht—


__ADS_2