
Mayla menggenggam erat tas selempang kecilnya. mendongak, menatap ke depan hiruk pikuk aktivitas di stasiun kereta api menjadi gambaran pertama yang dia lihat.
Jujur ini baru pertama kali dia menggunakan KRL, karena biasanya dia hanya akan menggunakan ojek online, busway dan angkot. tiga jenis transportasi umum yang sering Mayla gunakan.
Awalnya Mayla bermaksud untuk menunggu di luar mengingat dirinya baru pertama kali ke stasiun, dia belum tau apa-apa hanya berbekal informasi dari mesin pencarian ketika malam hari dia browsing di internet.
Namun pesan dari teman-temannya menyuruh Mayla segera masuk saja agar menunggunya di dalam, karena mereka masih lama. Mayla mendengus sedikit kesal dengan dirinya yang kerajinan atau teman-temannya lah yang lelet? Mayla tidak tau.
Dengan ragu Mayla mulai mengantri mengikuti yang lain. ah padahal dia tidak tau mereka mengantri apa? mungkin saja nanti dia bisa bertanya pada petugasnya kan? karena melihat semua orang di sana tidak ada yang bisa Mayla tanyakan, mereka terlihat sangat sibuk dengan aktivitas masing-masing. membuat Mayla bingung sendiri.
sial tau begini dirinya mending kesana pas teman-temannya sampai saja.
Dari ujung pintu selatan seorang laki-laki baru saja memasuki kawasan stasiun, langkahnya terhenti ketika tiba-tiba dia membuka ponselnya.
"Mayla sudah sampai?" Gumamnya seraya melihat kesana kemari mencari keberadaan perempuan itu.
Raksa—laki-laki itu berlari kembali keluar stasiun, melihat kesana kemari mencari Mayla, hingga pandangan laki-laki itu jatuh pada perempuan yang tengah mengantri di loket kereta api jarak jauh. menghela nafas pelan sebelum tungkai panjangnya dia langkahkan kearah Mayla.
Ting!
sebuah pesan masuk, Mayla kemudian berbalik mencari si pengirim pesan. ah itu dia, Disana Raksa berdiri dengan satu tangan di masukkan pada kantong celana jeansnya. laki-laki Arganta itu mengenakan jaket denim sebagai luaran, di pundaknya terdapat tas kamera hitam kecil yang dia selempangkan . Mayla berjalan menghampiri. mendongak menatap Raksa yang lebih tinggi darinya.
"yang lain sudah ada?" tanya Mayla, Raksa menggeleng.
"tunggu disini" ujarnya, tanpa memberi alasan yang jelas laki-laki Arganta itu meninggalkan Mayla. tak lama kemudian Raksa datang menyerahkan sebuah kartu padanya.
"gunakan ini untuk masuk May" ujarnya seraya berjalan mendahului, Mayla mengekori.
Ketika Mayla hendak menempelkan kartu mengikuti apa yang orang depannya lakukan, dia dikagetkan dengan tangan Raksa yang tiba-tiba menekan tangannya dari belakang, membuat perbedaan kontras dari kedua tangan yang bertumpang tindih itu. karena kaget Mayla menoleh bersamaan dengan lampu yang berubah menjadi hijau.
"masuklah" ujar Raksa.
keduanya kini mulai menaiki eskalator,
"sa yang lain udah pada dateng belum ya?, kamu udah cek grup" ujar Mayla menoleh kearah Raksa yang berdiri di belakangnya.
"ngga tau" jawabnya. ah iya Mayla lupa Raksa jarang sekali mengecek ponselnya apalagi membuka grup chat kelompok mereka. buktinya selama bersama Raksa, laki-laki Arganta itu sangat jarang menggunakan ponsel.
"sa---
" lihat kedepan, nanti saja bicaranya" ujar Raksa memotong. membuat Mayla sedikit kesal, hingga dia baru menyadari jika mereka sudah sampai di atas.
"Raksa" sebuah teriakan mengudara, dari kejauhan terlihat Mario melambai bersama Harvin di sampingnya.
"oh itu mereka sa" ujar Mayla menunjuk Harvin dan Mario seraya menyikut Raksa menarik atensi laki-laki Arganta dari pandangannya.
"ayo kesana" ajak Mayla. sedang Raksa mengekori.
"mana yang lain?" tanya Mayla, sesaat setelah keduanya sampai di depan Mario dan Harvin.
"masih di jalan May, katanya" jawab Mario. Mayla mengangguk mengerti.
"sa kamu yang bawa kamera?" tanya Harvin, Raksa mengangguk.
"selain kamu siapa lagi yang bawa?" tanya Mario,
"Jerry"
sudah dua puluh menit mereka menunggu, namun Jerry, Arin dan Resha tak juga sampai.
"mereka kejebak macet atau gimana? katanya otw" ujar Mario ditengah merokoknya.
"dandannya setahun ini mah, lama banget ampun deh si Jerry juga sama aja lagi lama" susul Harvin tak kalah kesal.
"dandan juga kali nyewa MUA" Mario menyauti.
keduanya—Mariodan Harvin— kini tengah merokok mengusir rasa kesal yang menumpuk dari pada berceloteh mengeluarkan kekesalan, membuang energi. mending mereka merokok. sedang Mayla dia masih betah memperhatikan sekitarnya, karena ini baru pertama kalinya dia melihat aktivitas di stasiun kereta api.
Tepat ketika KRL datang tangan seseorang tiba-tiba menarik Mayla mundur ke belakang, membuat kepalanya bertabrakan dengan dagu orang di belakangnya. Mayla menoleh seraya mendongak hidungnya tanpa sengaja menyentuh rahang tegas si lelaki Arganta.
"jangan terlalu depan, mereka akan keluar. menghalangi nanti" ujar Raksa kemudian, seraya memundurkan tubuhnya beberapa centi menjauh dari punggung Mayla.
__ADS_1
Karena dia takut Mayla terdorong dan jatuh, spontan dia menarik lengan perempuan itu dengan cepat. diapun sedikit merutuki dirinya sendiri karena menarik Mayla terlalu kencang membuat perempuan itu bertubrukan dengan dagunya.
"lama sekali mereka" kembali Mario berseru seraya berjalan kesana kemari. rokoknya sudah habis kekesalanpun kembali. apalagi sudah hampir setengah jam lebih mereka menunggu.
"tinggalkan saja lah udah, lagian siapa sih yang ngide pergi ke perpustakaan kota. batang hidungnya saja belum ada" kembali Harvin menyauti. seraya membuka rokok barunya.
kemarin Jerry mengajak teman-temannya untuk berkunjung ke perpustakaan kota, mewawancarai pustakawan disana untuk tugas video mereka. dari sekian banyaknya tempat, kenapa harus perpustakaan kota yang letaknya sangat jauh. kali ini Harvin menyesali menyetujui ide jerry.
"bentar lagi pasti datang" jawab Mayla, Harvin menoleh dengan muka kesal yang tercipta.
"bentar lagi apaan ini sudah hampir mau sejam kita nunggu" ujarnya kemudian.
"Jerry nyangkut dimana sih?" tanya Mario.
"ngga tau, terakhir kali mereka semua bilang di jalan" jawab Mayla sesaat setelah dia kembali mengecek ponselnya, tak ada pesan lagi setelah itu.
"rumah mereka dimana sih?, demi Tuhan mereka tidak melewati bukit dan danau sampai harus telat sejam gini" tukas Mario dengan kesal. sedang Mayla hanya merespon dengan senyum. Harvin mendengus.
"mereka bilang, duluan aja ketemu di perpustakaan kota katanya" ujar Mayla. membuat Harvin meninju udara dengan kuat.
"kenapa ngga dari tadi sih bilangnya" kesal Harvin
"ayo itu keretanya sudah tiba" ujar Mario kemudian. sedang Mayla menoleh kearah Raksa.
"sa ayo" ajaknya, Raksa mengangguk mengekorinya. tepat ketika pintu terbuka dengan refleks tangannya kembali menarik Mayla kesamping kanannya, mengurungkan perempuan itu menyerobot masuk bersamaan dengan yang ingin keluar.
"tunggu mereka keluar dulu, setelah itu baru masuk"
"apa tidak akan ketinggalan kereta?" tanya Mayla menoleh kearah Raksa, karena dia melihat Harvin dan Mario sudah menyerobot masuk duluan. Raksa menggeleng.
"kereta masih banyak may" ujarnya seraya menarik Mayla masuk menaiki KRL. satu yang Mayla rasakan ketika di dalam. pengap.
"sa dimana Harvin dan Mario" tanya Mayla, posisi Raksa kini menyender pada samping pintu. sedang dirinya berdiri di depan Raksa.
Raksa menunjuk dengan dagunya. disana terlihat Mario dan Harvin berdiri, posisi keduanya berpelukan karena berdesakan di dalam kereta. membuat Mayla terkekeh kecil melihat posisi keduanya yang sangat kesusahan, ya walaupun dirinya juga sih termasuk. tapi tidak sampai berpelukan, masih ada celah kosong di depan mereka walau tidak lebar.
kereta berjalan bersamaan dengan Mayla yang terdorong ke depan membuat dirinya mau tak mau memegang kedua ujung jaket milik Raksa.
Dirasa situasi di dalam sudah sedikit kondusif Raksa menarik satu tangan Mayla kearah pegangan tak jauh di atas perempuan itu. Mayla mendongak, dia rupanya baru sadar di atasnya ada pegangan.
Mayla yang tak mau berjauhan dari Raksa berpegangan kuat pada pegangan diatasnya, menahan tubuh dari dorongan di belakangnya.
Semakin banyak stasiun yang mereka lewati, KRL semakin penuh, penumpang semakin berdesakan di dalam. posisi Mayla pun semakin terancam, tangan yang tadinya memegang pegangan kini terlepas karena dorongan kuat, berubah menjadi memeluk pinggang si lelaki Arganta. belum lagi dia sedikit merasa risih dengan orang di belakangnya karena saling dorong membuat keningnya terus menerus beradu dengan ujung dagu Raksa. Mayla sampai berjanji pada dirinya sendiri tidak akan mau lagi menaiki KRL. kecuali terdesak.
hingga tepat ketika di stasiun selanjutnya, dengan cepat Raksa mengikis jarak, menarik pinggang Mayla membuat perempuan itu terhenyak spontan memejamkan mata.
Kini Mayla merasakan punggungya bersandar pada sesuatu yang kuat—samping pintu kereta api, ketika dia membuka mata pandangan pertama yang dia lihat adam's apple milik si lelaki Arganta. Mayla mendongak,
"pakai ini" ujarnya seraya mengalungkan tas kamera pada leher Mayla.
Mayla dapat melihat kedua mata lelaki Arganta itu memejam menahan dorongan dari belakangnya. Sebelah tangan Raksa di jadikan tumpuan agar badan besar itu tidak sepenuhnya menghimpit tubuh Mayla.
"sa apa masih lama" tanya Mayla pelan. karena ntah kenapa dia merasa jika perjalanannya sangat lama.
"sebentar lagi" jawab Raksa, tak menaruh atensi lebih padanya. Mayla mengangguk dia celingak celinguk kembali mencari keberadaan Mario dan Harvin. Raksa yang sedikit terganggu karena gerakan kepala perempuan di depannya, menunduk bersamaan dengan suara pemberitahuan jika sebentar lagi sampai di stasiun tujuan, spontan semua orang memadati area pintu KRL membuat Raksa hilang keseimbangan dan terdorong kedepan. hingga tanpa sengaja bibirnya bertubrukan dengan pelipis Mayla.
"aduh" Mayla mengaduh memegang pelipisnya, walau tidak begitu sakit dia kaget karena tiba-tiba pelipisnya di tubruk dengan benda kenyal yang ntah dia tak tau apa. sedang Raksa hanya berdehem kemudian menarik tangan Mayla keluar. karena mereka sudah sampai di stasiun tujuan.
"sini kameranya" pinta Raksa segera sesaat mereka tiba di pinggir stasiun, Mayla langsung melepaskan kamera yang tadi di kalungkan Raksa di lehernya. bersamaan dengan itu seseorang yang mereka kenal berseru dari arah belakang.
"May, sa...woooy! ", Mayla menoleh tak jauh dari sana Mario dan Harvin berlari kearahnya.
"kalian di gerbong berapa tadi, aku kira kalian barengan sama kita" tanya Mario.
"barengan gimana kalian berdua yang ninggalin aku dan Raksa" jawab Mayla sedikit kesal. Harvin terkekeh.
"ya maaf soalnya tadi aku takut ngga kebagian tempat taunya iya, sial banget harus pelukan sama Mario"
"Dari pada kamu pelukan sama bapak-bapak, di belakangmu"
"ya iya sih, tapi kan---"
"kita kemana sekarang?" tanya Mayla menengahi percakapan keduanya.
"ikutin aja Raksa. yang tau dia, eh tunggu Jerry nelpon nih" jawab Mario seraya menunjukkan layar ponselnya, disana tertera Jerry si pemanggil.
__ADS_1
"angkat saja kita tunggu, May....raksa mana?" tanya Harvin. karena Raksa memang tak ada disana. Mayla yang baru saja sadarpun tidak tau dimana lelaki Arganta itu.
"keseringan berteman sama jaelangkung gini" ujar Mario sesaat setelah dia menerima panggilan Jerry.
"apa katanya?" tanya Harvin.
"mereka tinggal dua stasiun lagi katanya" jawab Mario.
"mereka datang bersama? Arin sama Resha juga?" tanya Mayla, Mario mengangguk.
"iya mereka barengan"
"astaga, Raksa dari mana kamu" teriak Harvin, sedang Raksa hanya menyodorkan dua botol minuman berperasa jeruk kearah Harvin. dan satu botol kearah Mayla.
"jangan keseringan berteman sama jaelangkung sa, nanti kamu lupa pulang"
"emang jaelangkung balik kemana yo?" tanya Harvin menanggapi seraya menyodorkan botol minum yang tadi diberikan Raksa. Mario mengedip perlahan seraya menerima botol minuman dari Harvin. dia sendiri tak tau kemana jaelangkung pulang, dia hanya berkonotase saja mengeluarkan kekesalan karena kebiasaan Raksa yang selalu saja pergi dan datang tiba-tiba. ibarat jaelangkung. datang tak di jemput pulang tak diantar.
kurang lebih lima belas menitan kereta kedua pun sampai. Mayla terus memperhatikan setiap orang yang turun hingga pandangannya bertemu dengan Jerry yang berjalan kearahnya diapit dua perempuan, Arin dan Resha.
"senangnya dalam hati kalau berisitri dua, seperti dunia Jerry yang punya~" ujar Mario tepat ketika Jerry, Arin dan Resha sampai.
"kalian sampai barengan?" tanya Mayla.
"iya may, tadi aku sama Arin lama karena macet. terus ketemu Jerry deh jadinya kita barengan" jawab Resha jujur.
"Jer, kamu ngga pindah rumah kan ke merauke?" tanya Harvin sarkas membuat Jerry mengernyit bingung.
"kenapa ngga sekalian aja kalian dateng besok" ujar Raksa kemudian,seraya melepas jaket denimnya menyisakan kaos hitam lengan pendek yang dia pakai.
"udah ih, ayo mending kita segera pergi sebelum tutup" ujar Mayla menengahi. Raksa berjalan duluan karena dia memandu jalan. Mayla berjalan bersama Arin dan Resha, sedang di belakang ada Mario, Harvin dan Jerry.
...•••...
berselisih dengan takdir, merenungi nasib, dan membenci penyebabnya. seakan sebuah rantai makanan yang terjadi secara berulang.
Ketika kedua anak adam memutuskan untuk saling menikah dan memiliki momongan adalah yang paling mereka inginkan. kebahagiaan menjadi kata ketika mereka dalam vase kelengkapan membentuk keluarga yang sederhana. kesuksesan dan kemapanan adalah bonus dari jerih payah kebersamaan.
namun ibarat kata semakin tinggi pohon semakin kencang juga anginnya, sama seperti keluarga namun kali ini nampaknya anginnya begitu kencang hingga dapat mematahkan pohon yang tinggi ambruk menjadi dua, hingga bertemu dengan kata perceraian. siapa yang paling tersiksa?.Anak. justru dialah yang paling tersakiti.
seorang anak atau momongan menjadi keinginan dari sebuah pernikahan karena tak lengkap jika sudah menikah kedua mempelai tak lekas menyandang kata ayah dan ibu. namun ketika mereka bercerai tanpa sadar yang mereka inginkan lah yang paling tersakiti. Anak mereka.
"May kami akan berpisah", seakan mendengar petir di siang bolong. Mayla ambruk, lututnya melemas pandangannya mengabur karena pelupuknya penuh air mata. hanya kata kenapa yang terucap sebelum gelap menjemput.
"kak!" —sebuah suara mengudara menyadarkannya dari masa lalu yang masih terekam jelas dalam ingatan, Mayla menoleh menemukan Satria di sampingnya. ah dia lupa, setelah mereka membayar hutang satria, tadi mereka memutuskan untuk berhenti di taman bermain. lebih tepatnya satria yang mengajak Mayla.
namun sudah hampir lima belas menit keduanya terdiam membuat Mayla sedikit jenuh dan berniat mengajak pulang, hingga pandangannya tanpa sengaja jatuh pada anak kecil bersama kedua orangtuanya yang sedang bermain tak jauh dari mereka.
Ah sial Mayla iri apalagi ketika anak itu bermain jungkat jungkit bersama kedua orang tuanya. padahal dirinya sudah besar bukan anak-anak lagi. tapi kenapa dia masih saja iri.
"mau bermain jungkat jungkit dengan ku?" ajak satria. Mayla menggeleng.
"kekanakan sekali" jawabnya. hati dan mulutnya berkata lain padahal baru saja tadi Mayla iri melihat anak kecil itu bermain jungkat jungkit, atau bukan kesana letak iri yang dimaksud? lalu apa?
"ayolah, sudah lama aku tidak bermain jungkat jungkit" ajak yang lebih muda menarik tangan yang lebih tua kearah jungkat jungkit.
"kak berat badan mu berapa?" tanya satria. Mayla mengernyit.
"apa urusannya"
"jawablah cepat agar aku bisa memastikan kamu duduk dimana nantinya" ujar Satria segera.
"42" jawab Mayla. satria kemudian menarik Mayla pada dudukan jungkat jungkit sebelah kiri sedang dirinya menaiki sebelah kanan. bersamaan dengan itu Mayla terangkat rupanya bobot badan adik tirinya jauh lebih berat darinya.
"kaki dan tangan kamu sudah sembuh?" tanya satria. seraya memainkan jungkat jungkitnya. dia menaik turunkan kakinya merealisasikan momen gaya yang dia pelajari di mata pelajaran fisika.
"lumayan, kamu?" tanya Mayla,
"mengering....kamu tau ka kenapa aku membawamu pada permainan ini?" , Mayla menggeleng.
"karena permainan ini ada di soal ulangan fisikaku" jawab yang lebih muda. Mayla mengangguk sekenanya karena dia tak menaruh penasaran dengan soal fisika yang di maksud Satria barusan. sejujurnya dia sudah amat sangat lelah jika saja dia tidak berjanji pada calon adik tirinya, mungkin kini dirinya sudah menghilang dari dunia menjemput alam mimpi.
"aku akan mengganti uangmu nanti ka" ujar Satria, Mayla menggeleng.
"tidak perlu, tabungkan saja uangmu untuk masa depan cerahmu" ujar Mayla.
__ADS_1
dua calon sodara tiri itu, rupanya belum sadar pada pusaran takdir yang menarik keduanya bertemu. karena keduanya tak menyadari kecanggungan ketika mereka bertemu, perselisihan kemarin malam dan yang lebih penting kedekatan. semenjak kapan mereka sedekat itu?. bermain jungkat jungkit di malam hari? tolong bangunkan mereka ingatkan mereka jika keduanya adalah dua orang asing yang di pertemukan takdir.