
"AAAAHH... " Teriak Mayla. seketika dia terbangun dengan deru nafas yang tak beraturan, kenapa dia harus memimpikan kejadian yang sudah terjadi padanya? karena dia bermimpi orang tuanya bercerai. karena faktanya kedua orang tuanya memang sudah bercerai.
Tak lama terdengar seseorang membuka pintu. Mayla menoleh menemukan Resha, Arin dan beberapa temannya berlari menghampiri. kekhawatiran tercetak jelas di wajah semua temannya.
"kamu sudah bangun may? apa terjadi sesuatu?" tanya Resha seraya mengelus punggung Mayla pelan.
"ini dimana?" Tanya Mayla. sesaat setelah dia terdiam begitu lama, perempuan itu cukup lamat memperhatikan setiap sudut di ruangan. tempat ini terasa asing baginya.
"sekarang kamu di kamar Jerry may, tadi kamu ketiduran di mobilnya Mario. aku dan yang lain ngga enak bangunin, karena kamu terlihat kecapean" Jelas Arin seraya mengambil duduk di sampingnya.
"ketiduran?" Mayla membeo, kepalanya sedikit pusing. mimpi buruk tadi seakan manarik kesadarannya paksa pada kenyataan. Resha mengangguk.
"Iya, tadi kan kita rencana mau kerja kelompok di rumah Jerry. Terus kamu Tiba-tiba aja ketiduran dimobil May" Jelas Harvin kemudian. Laki-laki itu Berdiri di ujung kasur samping Mario.
"oh iya aku ingat" ujar Mayla, dia teringat tadi sepulang kuliah mereka akan kerja kelompok bersama di rumah Jerry, karena Mario membawa mobil jadi Harvin, Resha, Arin dan dirinya ikut bersama Mario. sedang Jerry naik motor bersama Raksa. mungkin karena semalam dia terlalu memaksakan diri, tubuhnya kelelahan. tanpa sadar tadi dia tertidur. ah iya dia ingat sekarang.
"kamu tau may, Raksa tadi bela-belain gendong kamu dari mobil Mario— soosweetnya"susul Arin segera, seraya memberikan minuman yang di bawa Jerry pada Mayla.
"Oh ya? Raksa Mana?" Tanya Mayla sesaat setelah dia tersadar, pasalnya orang yang di bicarakan tidak ada.
"disini" ujar Raksa berseru, laki-laki Arganta itu terlihat tengah menyender pada dinding di samping pintu kamar tak jauh darinya.
"sa aku berat ya tadi?" tanya Mayla. Raksa mengangguk
"iya"
"ih harusnya kamu bilang, ngga sa. perempuan itu paling tidak suka kalau disebut gendut" ujar Arin kesal dengan jawaban jujur Raksa.
"memang aku menyebutnya gendut?"
"ya memang tidak, tapi secara ngga langsung kamu menyebut Mayla gendut. Harusnya kamu bilang gini, ngga may kamu seringan kapas, gitu sa" jelas Arin, terdengar kesal.
"atau minimal bilang ngga sa" susul Resha kemudian.
"ngapain", Arin dan Resha menarik nafas bersamaan tidak habis pikir dengan jawaban yang Raksa lontarkan barusan.
"memang apa yang kalian berdua harapkan dari jawaban Raksa?" Tanya Mario. membuat keduanya terdiam.
"sekali lagi aku minta maaf ya, aku menyusahkan kalian terutama kamu sa" susul Mayla segera, kembali dia menatap semua temannya bergantian.
"santai aja may, yang banyak di susahkan Raksa ko" ujar Harvin jenaka, menarik atensi si lelaki Arganta.
"Oh iya, kita disini aja ngerjain tugasnya, di ruang tamu ada bang Reno soalnya" ujar Jerry seraya menyembulkan kepalanya keluar kamar, melihat sang kakak ke arah ruang tamu. Harvin mengangguk kemudian menarik Mario untuk duduk di lantai. diikuti temannya yang lain begitu juga Raksa. mereka duduk melingkar sedang Mayla dia duduk bersandar pada kepala ranjang, diatas.
"Oh iya, kita hampir lupa sama tugas" susul Resha, perkataan Jerry seakan mengingatkan mereka pada tugas kampus yang harus segera mereka kerjakan. karena sedari tadi mereka hanya menunggu Mayla bangun.
Guna mengusir bosan. Jerry, Mario dan harvin sibuk mabar sedang Arin dan Resha mereka sibuk menonton drama Korea yang belum sempat di rampungkan. hanya Raksa yang sedari tadi fokus dengan buku akuntansinya, menandai beberapa bab dan melipat beberapa contoh soal di buku.
"Jer aku baru tau kamu punya kakak?" tanya Resha seraya menoleh kearah Jerry, karena yang dia tau hanya Mario yang selalu menceritakan kakaknya. sedang Jerry tidak pernah.
"punya sha, dia udah kerja. kita emang ngga dekat...ngga kaya Mario sama abangnya. bang reno sibuk banget, biasa IT" Jawab Jerry seraya memberikan tas satu persatu milik teman-temannya yang sudah disingkirkan oleh sang kakak dari ruang tamu.
"Mereka itu punya kakak yang kuliah dan bekerja di tempat yang sama. tumben banget abangnya udah balik jam segini" ujar Harvin seraya beranjak membantu Jerry membawa beberapa buku milik teman-temannya.
"Bang Reno udah balik jer? tumben" Tanya Mario.
Rumah Mario, Jerry dan Harvin satu komplek, baik Mario ataupun Harvin sering main ke rumah Jerry makanya itu mereka tau jika Reno—kakak Jerry—sering pulang larut malam.
"aku juga ngga tau yo, mungkin udah selesai kerjaan di kantornya" jawab Jerry seraya menyimpan nampan berisi minuman dan sepiring gorengan di tengah-tengah
"oh gitu, baru tau kita ya kan May, Sha" ujar Arin, yang diangguki Mayla dan Resha.
"Bang Iyan sama Bang Reno itu temenan dari orok selesai kuliah mereka di ajak gabung sama temen kuliahnya gitu, karena katanya temennya bang Reno buka usaha" jelas Mario menambahkan. sesaat setelah dia menarik minuman dingin berperasa jeruk dari nampan.
"enak banget kalau punya teman sebaik itu, kakak kalian beruntung banget. soalnya nyari kerja jaman sekarang kan susah" ujar Resha seraya mengambil gorengan dari piring. Arin mengangguk melakukan hal yang sama
"iya, dulu bang Reno sempet mau di terima kerja di perusahaan terkenal gitu, tapi ya biasa lah istilah jaman sekarang mau kerja aja kita harus ngeluliarin dulu duit...bang Reno nolak. makanya itu pas temennya nawarin kerjaan langsung gabung" ujar Jerry, dia kembali teringat saat sang kakak yang menolak dengan tegas ketika ayahnya memberikan uang berupa sogokan agar dirinya bisa bekerja di perusahaan terkenal.
"Hebat ya temannya abang kalian, pasti kaya sampe bisa buka usaha gitu" ujar Arin yang diangguki Resha dan Mayla. sedang Raksa dia abai, laki-laki arganta itu tengah sibuk membaca buku akuntansi seraya sesekali menuliskan sesuatu di buku tulisnya.
__ADS_1
Mayla menoleh kearah Raksa kemudian menepuk pelan pundak Resha memberi kode. Resha menoleh mengerti maksud Mayla.
"eh ayo kita mulai kerja kelompoknya" ujar Resha.
"Jer aku mau ke kamar mandi, mau cuci muka dulu" ujar Mayla. Jerry mengangguk seraya beranjak
"ayo, aku antar" ujarnya
Posisi kamar mandi melewati ruang tamu dan juga ruang keluarga, tepat di ruang tamu tak sengaja pandangannya beradu dengan laki-laki yang tengah sibuk dengan laptop dan ponselnya.
'loh bukannya dia?'
"kamu sianak part time itu kan?" sebuah tanya mengudara membuat Mayla dan Jerry memberhentikan langkah keduanya. Mayla menoleh begitu juga jerry. Tanpa sadar Mayla tak melepas atensi dari laki-laki yang berstatus sebagai kakak Jerry—Reno. pasalnya dia ketua divisi IT di Andromeda. Mayla pernah ketemu di meja rapat, jelas dia tak lupa dengan wajahnya.
"a—aku kak?" tanya Mayla, Reno mengangguk
"bang tumben udah balik?"
"cape ah kerja mulu, kaya ngga sakit iya" jawab Reno jenaka, seraya berlalu terlihat laki-laki itu berjalan memasuki kamar.
"may kamu kenal sama bang Reno?" tanya Jerry tepat ketika mereka sampai di depan kamar mandi, Mayla mengangguk sekilas sebelum memasuki kamar mandi. sedang Jerry ke dapur dia hendak mencari minuman.
"ko bisa kamu kenal sama bang reno may?" tanya Jerry penasaran seraya kembali memasuki kamar, menarik atensi teman-temanya.
"abang kamu soalnya--
"Jer buku akuntansinya mana?" Tanya Mario, Jerry menoleh seraya menujuk rak buku paling bawah.
"Di rak bawah yo,coba liat ada ngga? " Jawab Jerry seraya meraih remot AC, sibuk mengatur suhu ruangan di kamarnya. melupakan pertanyaan yang belum sempat Mayla jawab. Begitu juga Mayla yang mulai membaca buku akuntansi yang Resha sodorkan.
"ini buku masih di segel aja jer, ngga niat di baca apa?" ujar Harvin seraya membolak balikan buku yang masih rapih tersegel hanya saja sedikit berdebu, nampaknya sang pemilik belum sempat membuka atau tidak niat membuka buku nya.
"boro-boro niat di baca vin, niat buat buka segelannya aja ngga sudi" ujar Jerry menggebu-gebu menarik tawa semua temannya.
"ngga beda jauh juga sih jer, kita sama" Timpal Mario seraya mengambil buku dari tangan Harvin. dia kemudian membuka segelnya dengan cutter.
"baca dong, biar pinter kaya Raksa. ya ngga sa" seru Arin menoleh ke arah Raksa, sedang si lelaki Arganta itu abai.
"gila coook...pinter ngga, nambah pusing yang ada" Jawab Harvin
"bener juga si" ujar Resha.
"ini yang di bahas semuanya? Banyak banget?" ujar Mayla mengeluh, tat kala dia melihat banyaknya bab yang harus di presentasikan.
"ngga semua May, yang di bahas cuman materi aja kalau hitungan di bahas sama pak Jonatan. terus katanya nanti yang kedepan itu ketuanya aja biar ngga rame di depan kelas" jelas Jerry. si tuan Rumah duduk di atas, di kursi belajar.
"Syukurlah, soalnya sub babnya memang banyak banget jer, bener kata Mayla" Tambah Arin seraya mulai membaca satu persatu sub bab akutansi.
"Iya, lumayan ini sih" susul Resha, melongokkan kepalanya kearah Arin yang tengah membolak balik menandai sub bab di buku Akuntansi.
"Buletin aja sub bab yang kalian kuasai. nanti di bagi" ujar Raksa tanpa menoleh, fokusnya masih pada buku akuntansi di pangkuannya.
"Siap pak ketua" ujar kelimanya spontan. menarik atensi Raksa dari buku akuntansinya.
"eh gimana kalau ketuanya Raksa, aja" Usul Arin yang langsung disetujui oleh semua temannya. Sedang Raksa hanya diam tak mengiyakan ataupun menolak.
"Boleh tuh, maukan sa?" tanya Mayla menoleh kearah Raksa yang duduk tak jauh darinya. satu anggukan yang raksa berikan, membuat kelima temannya melakukan selebrasi.
"pakar segala pakar, apa sih yang kamu ngga bisa sa?" ujar Resha, pasalnya hampir semua mata kuliah Raksa menguasainya. IPnya pun ngga pernah kurang dari empat selalu sempurna. membuat siapa saja iri sekaligus penasaran dengan isi otak si lelaki Arganta.
"pakar cinta" seru Mario tiba-tiba, karena setaunya Raksa tak pernah dekat dengan perempuan manapun kecuali Mayla?
"eh iya sa, kamu ngga kepikiran buat nyari pacar sa?" tanya Arin pandangan perempuan itu jatuh pada Mayla yang tengah sibuk membaca buku, seakan memberi kode kepada silelaki Arganta.
"aku yakin pasti ada yang kamu sukai sa" susul Resha segera, bermaksud membantu Arin mengirimkan signal kode kepada si bungsu Arganta. Sedang Harvin,Jerry dan Mario hanya memperhatikan menunggu respon si lelaki arganta. tapi naas mereka gagal, sepertinya keduanya salah server.
"jadi keingetan sa ada yang nanyain dari anak Baswara" ujar Harvin.
"namanya siapa?" Tanya Jerry penasaran, Harvin terdiam mencoba mengingat nama perempuan yang sempat menanyakan Raksa padanya waktu itu.
__ADS_1
"lupa cook, udah tua kali ya"
"oh iya vin, dengar-dengar kamu bakalan jadi pembawa acara di baswara radio" ujar Arin, Harvin mengangguk
"degdegan nih, takut salah. mana live lagi" ujarnya,
"bismillah aja pasti bisa" ujar Mario menyemangati.
"diacara apa vin" tanya Mayla,
"serba serbi siang may" jawab Harvin.
"wah bintang tamunya siapa? Biasanyakan bang Firgo yang ngisi" ujar Jerry bergabung pada obrolan. Dengan cepat harvin membuka ponsel miliknya. Dia hendak membuka rundown acara yang dikirimkan Firgo—Ketua UKM Baswara.
"Lian vokalis kanigara sama bang Jendral, iya bang Firgo ada urusan jer" ujarnya kemudian.
sedang Raksa tak berniat gabung dengan obrolan temannya. Sedari tadi bungsu Arganta itu tak pernah melepas atensi dari buku akuntansi di pangkuannya. Melihat fokus Raksa yang tak terganggu sama sekali, akhirnya mereka pun mulai meninggalkan makanan juga obrolan yang mereka yakini tak kan pernah selesai.
kini semuanya mulai fokus dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang mencari bahan di internet, ada juga yang mencari referensi tambahan dari buku.
"Eh kebayang kalau bu Andara di suruh kerja kelompok kaya gini" Mario berseru di keheningan, menarik atensi kelima temannya kecuali Raksa.
"sekarang aja yang pinter Raksa doang, gimana kalau di suruh kerja kelompok bego sekelas kita" Jawab Harvin yang masih fokus Mencari referensi di laptop untuk presentasi mereka.
"bener banget" Timpal Jerry, laki-laki itu tengah membuat slide power point di laptop bersama Arin.
Mereka kembali fokus dengan kegiatan mereka, yang tadinya duduk kini, tengkurep, kemudian terlentang. mario dan harvin tengkurep tepat di depan pintu kamar, sang pemilik kamar tiduran disamping Raksa, sedang laki-laki Arganta itu duduk bersila di samping Arin, Mayla dan Resha duduk berdekatan di sebrang Raksa.
kurang lebih satu jam setengah mereka menyelesaikan power poin untuk presentasinya, Mayla mulai membereskan buku-bukunya. hingga sebuah notif masuk memberhentikan kegiatannya.
Ting!
setelah membereskan beberapa buku-bukunya Mayla berpamitan pulang lebih dulu karena dia ada janji. menarik tanya pada semua temannya, karena tumben sekali Mayla tidak pulang bersama Raksa.
"may kamu tidak pulang dengan Raksa?" tanya Arin. Mayla menggeleng.
"aku di jemput" jawab Mayla tak sepenuhnya bohong. karena dia memang di jemput oleh Satria.
"aku kira kamu bakal bareng lagi sama Mario" ujar Raksa membuat Arin, Resha dan Harvin menoleh kearahnya.
'Sebenernya apa yang ada di dalam otakmu sa' —pikir ketiganya.
"tidak, aku duluan ya" ujar Mayla baru saja dia hendak beranjak tangannya di cekal oleh Raksa.
"bareng" ujarnya.
di depan gerbang rumah, terlihat seorang remaja laki-laki sedang menyender pada motor XSR tengah memainkan ponselnya.
"satria?" remaja laki-laki itu menoleh menarik atensi dari ponsel pintarnya.
"loh bang Raksa?" ujar satria kaget. sedang pihak yang kaget bukan hanya Satria melaikan Mayla juga.
"kamu kenal Mayla?" tanya Raksa segera, menyalurkan rasa penasaran dalam tanya. satria mengangguk seraya menoleh kearah Mayla yang kini berdiri di belakang Raksa.
"udah selesai, ayo" ajak yang lebih muda. Mayla mengangguk seraya manaiki motor satria, dia berpamitan pada Raksa dan kelima temannya yang ternyata mengekori sampai mereka keluar.
sepeninggal Mayla dengan remaja laki-laki yang bernama satria rupanya menimbulkan tanya pada benak kelimanya. Arin, Resha, Harvin, Mario dan Jerry spontan melempar tatapan penuh tanya pada Raksa yang bahkan tak mengetahui apapun.
Disinilah Mayla sekarang, berdiri berhadapan dengan perempuan setengah baya di depannya.
"duduklah sayang" ujar perempuan tua itu dengan ramah, seraya menyuruhnya duduk.
"kamu pasti Mayla, ayah kamu sering menceritakannya padaku" ujar perempuan tua itu tatkala Mayla sudah duduk di samping Satria. Mayla mengangguk, jujur rasanya dia ingin bertanya apa yang hendak ayahnya rencanakan dengan mempertemukan mereka berdua seperti sekarang.
"aku calon ibu tirimu may, aku menyuruh satria, tanpa sepengetahuan ayahmu. agar bisa ketemu denganmu" jelas perempuan itu ramah. Mayla masih terdiam, dia merasa tak enak badan, kepalanya sedikit pusing. Mayla tak begitu memperhatikan pembicaraan perempuan di depannya—calon ibu tirinya.
"jadi?"
__ADS_1