Aku Tak Mengerti

Aku Tak Mengerti
Hutang Warteg


__ADS_3

Sebuah motor XSR berhenti tepat di depan halaman rumah, si pengemudi turun dan langsung merajut langkah. setelah menginjakkan kaki di teras rumah, langkahnya terhenti ketika tak sengaja dia melihat sebuah motor klx yang terparkir apik berhasil mengalihkan atensinya, dia tau itu motor milik siapa—adiknya. karena tidak ada orang yang bisa mengendarai motor klx dirumah ini selain sang adik.


Rasa lega sedikit menghampirinya, karena sang adik yang pulang setelah sekian lama diam diluaran. Kakinya melanjutkan kembali langkahnya memasuki rumah.


suara TV dari arah ruang keluarga menjadi penyambut kedatangan laki-laki itu. memilih abai, tungkai panjangnya mulai melangkah menaiki anak tangga satu persatu.


“den Jendral sudah pulang?” Mendengar ada yang bertanya di belakangnya—Jendral— laki-laki itu segera menoleh menemukan salah satu pembantu yang kini berdiri, sedikit membungkuk menghadap kearahnya. Jendral mengulas senyum sekilas dengan ramah dia menjawab


“iya bi, Mamah kemana?"


“ibu masih dirumah sakit den” jawab pembantu itu. Jendral mengangguk mengerti,


“oh iya bi, Satria pulang?” tanyanya lagi,


“iya den, baru saja den Satria pulang beberapa menit sebelum den Jendral datang” kembali dengan sopan pembantu itu menjawab, Jendral terdiam kemudian mengangguk, setelahnya dia merajut langkah kembali. namun langkahnya mengudara tak kala dia mengingat sesuatu


“oh iya, jangan lupa matikan tvnya ya, sepertinya satria tadi menghidupkannya” ujar Jendral seraya kembali berbalik melanjutkan langkahnya setelah menyuruh pembantu itu mematikan TV di ruang keluarga.


Jendral berjalan kearah kamar. sebelum membuka pintu kamar, si sulung melihat kamar sang adik yang pintunya sedikit terbuka. tangan itu terulur membuka lebih lebar pintu kamar adiknya, menyembulkan kepalanya mengedarkan pandanganya kesetiap sudut kamar sang adik namun tak ada tanda-tanda adiknya di dalam. Sebenarnya dimana Satria, pikirnya masih mempertahankan posisinya. Hingga tepukan dibarengi suara seseorang yang dia kenal membuatnya segera menoleh.


"bang jendral lagi ngapain?”, bukannya menjawab Jendral mengerasakan rahang menatap sang adik penuh emosi seraya berujar


“ternyata kamu masih ingat rumah, abang kira kamu milih jadi gembel diluar sana"sarkas Jendral, seraya menatap bungsu Negara yang kini tengah menyender di dinding samping pintu kamar. perkataan sarkas si sulung Negara membuat si bungsu bungkam.


"siapa yang bayar semua hutangmu satria?" tanya Jendral kembali, pasalnya tepat ketika dia hendak membayar hutang sang adik di tempat biasa, orang disana bilang jika hutang adiknya sudah lunas.


"kamu pinjam sama siapa?, jangan kamu buat keluarga Negara dalam masalah terus Satria” ujar sang kakak emosi.


"iya aku memang pembawa masalah untuk keluarga ini, abang puas" jawab Satria menegakkan tubuhnya, memposisikan dirinya berdiri didepan Jendral seakan menantang si sulung Negara.


Jendral tidak bermaksud membuka luka lama adiknya, rasa khawatir yang bercampur kesal membuat sulung Negara tidak sempat memikirkan perkataan yang hendak dirinya lontarkan.


“Ayah dan ibu kita khawatir, berhenti ikutan perkumpulan ngga jelas satria!” suara jendral sedikit meninggi. tangannya mengepal disisi samping tubuhnya menahan amarah yang bisa saja tak dapat dia kontrol. di sulung bahkan mengabaikan keberadaan si bungsu yang rasanya ingin dia peluk erat sekarang. Karena biar bagaimanapun Satria adalah adik kandungnya. orang yang dia sayangi. keluarga satu-satunya Negara yang dia punya setelah sang ibu.


“Ayah mana yang abang maksud? ayah Negara udah meninggal bang” tanya Satria terkesan mencibir. matanya memerah menahan tangis, seraya menatap sengit si sulung Negara.


"kamu menerimanya sebagai ayah, karena dia dengan suka rela membiayai kuliah abangkan?—


"—bang. Asal bang Jendral tau jauh di luar sana ada seorang perempuan yang hidupnya menderita hanya karena kita—


" —dan perempuan itu menyalahkan aku karena aku merebut ayahnya" tukas Satria dengan nada penuh amarah. Sama dengan Jendral, si bungsu pun sebenarnya sangat merindukan sulung Negara. Namun karena tertutupi amarah dan gengsi diapun mengabaikan keinginannya—memeluk kakaknya.


"...... "


"bang. mungkin kita enak bisa hidup kumplit berkeluarga, tapi coba bang Jendral pikirkan apa bang Jendral tidak ingin tau siapa anak dari orang yang selalu kamu panggil ayah itu?—” Ujar satria menatap kembali si sulung Negara penuh amarah, dia mengacak kasar rambutnya


"Arhg—


"—perempuan itu selalu menyalahkanku, berkata aku merebut ayahnya bahkan untuk mendapatkan maaf darinya. sepertinya aku tak pantas, bang" ujar Satria kemudian,


“kamu mengenalnya?" tanya Jendral, si sulung terlihat sudah reda dari amarah, anggukan adalah jawaban dari respon yang di berikan si bungsu negara. Satria teringat hari dimana dia tanpa sengaja bertemu calon ayah tirinya yang hendak menemui anaknya. Sang ayah tiri yang dia kenal ramah justru terbalik dengan anak tunggalnya yang terkesan dingin dan pendiam.


"awalnya aku kira dia perempuan dewasa yang kuat nyatanya dia perempuan yang sangat rapuh, dia hanya menutupinya saja—


"—rasanya aku ingin memeluknya. sayangnya dia perempuan. dan lebih muda darimu"


"suatu saat bawa abang menemuinya, biar abang yang menjelaskan padanya—


"yang ada dia semakin membenciku" ujar si bungsu menaikkan suara sebelum dia memasuki kamar, tanpa menunggu jawaban si sulung. bungsu Negara itu langsung menutup pintu kamar dengan kencang. membuat Jendral kaget karena suara debuman pintu.


ternyata bukan hanya jendral yang kaget di bawah pembatu di rumah Negara pun tak sengaja menjatuhkan telur dan tepung akibat suara debuman pintu yang tiba-tiba.


"telurnya pecah semua, bagaimana ini"


"ya ampun tepungnya"


"kalau den satria dan den jendral ada di rumah memang selalu saja cekcok"

__ADS_1


"semenjak tuan Negara meninggal, mereka memang tak akur"


"tapi semenjak ada ayah tirinya mereka mulai akur kembali, liat saja sekarang den Satria mau pulang"


"Hus jangan bicarain majikan pamali, udah kalian cepet kerja. sebentar lagi ibu datang"


kira-kira begitulah percakapan akibat percekcokan si sulung dan si bungsu Negara. Telur setengah kilo jatuh bersama tepung satu baskom yang hendak dijadikan adonan kue.


Jendral terdiam, menghela nafas sejenak memikirkan perkataan si bungsu Negara, tentang anak dari ayah tirinya. Dia bermaksud menanyakan perempuan yang di maksud sang adik pada ayah tirinya nanti.


Di dalam kamar, Satria mencoba mendinginkan otaknya. membantingkan tubuhnya ke kasur. Menelentangkan badanya seraya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, Kembali pikirannya teringat dengan Mayla. calon kakak tirinya yang dengan suka rela membayar hutangnya tempo lalu. Dia itu laki-laki yang sebut saja skeptis, tak pernah mempercayai seseorang. namun dengan hadirnya sosok calon sang kakak tiri, Satria mulai menaruh rasa percaya pada perkataan perempuan dewasa itu.


bahkan Jendral yang sejatinya adalah kakak kandungnya tak pernah dia percayai. tapi Mayla, perempuan dewasa itu berhasil membuatnya percaya. padahal mereka tak pernah saling mengenal sebelumnya.


Flashback—


Walau sepanjang jalan terus mengomel dan membuat telinganya pengang, perempuan dewasa itu tetap membayar hutangnya.


"aku tak habis pikir kenapa kamu bisa memiliki hutang di warteg satria?" tanya Mayla padahal keduanya kini menaiki motor namun Mayla terus mengomel, mengabaikan bisa saja dirinya menarik atensi semua orang di sepanjang jalan. Mayla terus menanyakan asal muasal hutang warteg satria.


"suatu saat aku akan menjelaskannya, kamu bisa menagihnya padaku seperti ibu-ibu warteg itu yang selalu saja menagihku tiap bulan" Jawab Satria, Mayla terdiam kata-kata serupa kembali dia dengar setelah dilontarkan oleh ketua divinya tempo lalu—Dimas.


"Tunggu, kita mau kemana sebenarnya? ini bukan arah kosan ku satria" tanya Mayla, mengabaikan rasa penasarannya tentang hutang warteg lelaki remaja yang kini memboncengnya.


Satria tak kunjung menjawab, kembali menarik tanya pada perempuan dewasa yang kini di boncengnya.


"kita mau kemana lagi? aku ngantuk satria” ujar Mayla.


“aku ingin ke suatu tempat, kamu harus ikut ka” jawab Satria, remaja itu nampaknya tak berniat memelankan motornya sedikitpun.


motor beat yang dia kendarai membelah malam, menerobos dingin yang rasanya menusuk tulang, penerangan yang kurang membuat Mayla kembali berpikir keras. dia sedikit merutuki jiwa gobloknya yang mau saja di bawa pergi oleh orang yang baru saja dia temui, meskipun itu calon adik tirinya.


"kemana? aku bisa saja berteriak kalau kamu macam-macam" kembali Mayla menyuarakan tanya,menyudutkan remaja laki-laki itu agar segera menjawab. Dia mulai ketakutan pasalnya calon adik tirinya kini membawanya ke jalanan gelap dan menanjak. Mayla yang berkerja sebagai proofreader tentu tau jalanan seperti ini biasanya di jelaskan untuk pemeran utama yang hendak di buang, atau pemeran utamanya yang hendak di bunuh. intinya semua menjurus kearah negatif. mungkin jika yang membawanya sekarang Raksa, Mayla tidak begitu ketakutan. mungkin.


"kamu tidak akan membunuhku kan?" tanya Mayla menatap curiga calon adik tirinya, bisa sajakan karena dulu dia sempat menyalahkannya, Satria menaruh dendam padanya. sial, dia jadi teringat salah satu novel yang sedang dia kerjakan tentang pembunuhan.


"aku memang anak motor dan hobi tawuran, tapi pikiran ku tidak krminal dan psikopat" jawab si bungsu Negara di tengah tawanya.


“terus kita mau kemana? demi apapun Satria ini malam. apa kamu ngga takut?" tanya Mayla. Satria menggeleng


"Dunia malam biasa bagi ku, tenang saja kamu bersama ku, Satria Negara tidak akan ada yang berani mencelakaiku" ujar Satria jumawa.


Dunia malam memang menjadi pelarian remaja yang genap berusia enam belas di tahun ini. Rasa penasaran yang tinggi mengantarkan Satria pada perkumpulan geng motor yang selalu ugal-ugalan di jalanan. kekayaan dan kepintaran yang dimiliki membuat si bungsu Negara menjadi remaja yang angkuh, sombong dan gila hormat.


kurang lebih setengah jam mereka sampai di tujuan. Gila. satu kata yang hendak Mayla lontrakan kini, pasalnya Satria membawanya ke pemakaman umum.


"kamu ngga niat jadiin aku tumbal kan satria?" kembali si perempuan dewasa menerka-nerka.


"tidak, tenang saja aku tidak segelap itu sampai mengikuti pesugihan"


"terus"


"hari ini tepat kematian ayahku, dan baru sekarang aku bisa menemuinya. ayo masuk tenang saja disini ada penjaga makamnya ka jangan takut. oh iya—"


"—buang pikiran anehmu, setidaknya kita akan kepemakaman pikiran harus jernih" ujarnya kemudian. Mayla mengangguk mengekori satria,


"Den satria? saya kira den Satria bareng sama Den jen—, maaf den Satria dengan siapa?" tanya penjaga makam itu, tepat ketika melihat Mayla berdiri di belakang tubuh satria.


"dia kakakku—"


"—ayo kak"


Disinilah Mayla berdiri, di depan makam bersama Satria dan penjaga makam disana. menurut Mayla ini hal konyol menjerumus uji nyali yang dia lakukan seumur hidupnya. berdiri di depan makan jam set sebelas malam. konyol sekali bukan?


"rupayanya abang ku sudah kesini" ujar satria tepat ketika dia melihat ada bunga baru dan masih segar menabur di atas makam sang ayah.


"siang tadi Den Jend—

__ADS_1


" kakak ku kesini bersama ibu?" sela Satria seraya menoleh kearah si penjaga makam disana. anggukan adalah jawaban yang Satria terima.


"iya bersama Tuan juga"


"ternyata bersama ayahmu juga ka" kembali dia melirik Mayla, perempuan dewasa disampingnya yang terlihat sedikit ketakutan. wajar karena kini mereka ada di pemakaman tengah malam.


Mayla masih tak mengerti, selepas mereka menemui makam ayah satria, tanpa berkata apapun Satria mengantarkan Mayla pulang.


—End


Lamunan itu terhenti seiring dengan tertutupnya kedua mata. remaja laki-laki itu tertidur dengan pulasnya. bersamaan dengan deru suara mobil yang mulai memasuki halaman Rumah Negara.


...•••...


Seorang laki-laki turun dari dalam mobil, bersiul seraya memasuki rumah.


"apa yang kamu beli mas?" laki-laki itu —Dimas— menoleh kearah sang adik yang baru saja menuruni tangga—Raksa.


"kamu baru pulang?"


"iya—apa yang kamu simpan di dalam kulkas mas?" kembali sang adik melontarkan tanya, mengejar rasa penasaran dengan barang yang sang kakak simpan di kulkas.


"Daging, aku rencana ingin membuat rendang sepertinya enak" jawab Dimas. helaan nafas adalah respon yang diberikan sang adik.


"jangan aneh-aneh mas dimas, berhenti bereksperimen dengan dapur"


"cukup sudah perutku dan bang rega menjadi korban eksperimen masakan tidak jelasmu itu"


"jangan lagi ada korban" ujar sang adik sarkas, seraya menghampiri sang kakak. Dimas terdiam, lamat memperhatikan. kening biru sang adik berhasil menarik tanya si sulung Arganta.


"kening kamu kenapa?"


"ini—aku tak sengaja membenturkan kepalaku pada setir mobilmu" ujarnya seraya berlalu mengambil sebotol air mineral.


"MAKANYA HARUSNYA KAMU ITU BERCIUMAN DENGAN PEREMPUAN BUKAN DENGAN SETIR MOBIL SA"


"TIDAK ADA HUBUNGANNYA, LAGIAN AKU MEMBENTUR BUKAN MENCIUM" jawab Raksa kakinya tak henti merajut langkah menaiki tangga seraya terus menjawab sang kakak yang masih berdiri di dapur.


"SAMA SAJA"


"BEDA"


"TERSERAH", memilih abai Dimas menekan kenop pintu mulai memasuki kamarnya. namun dimas kembali melongokkan kepalanya seraya mendongak. melihat kearah kamar adiknya di lantai dua.


" SA"


"APAAN?", Raksa yang hendak memasuki kamar urung karena mendengar suara sang kakak.


"ADA JAKET PEREMPUAN DI KURSI BELAKANG MOBIL MAS, KAMU BAWA SIAPA?"


"BUKAN SIAPA-SIAPA NANTI AKU AMBIL"


"NGGA KAMU PAKAI—


" NGGA MAS DIMAS, JAKET ITU KETINGGALAN PUNYA TEMANKU" tukas sang adik sebelum sepenuhnya tertelan pintu kamar.


sang ibu yang hendak menghampiri keduanya ke ruang makan urung, memilih mendengarkan teriakan sisulung dan si bungsu Arganta bersama dua pembantu setia keluarganya.


"nyonya belum pernah melihat tuan Raksa ataupun tuan Dimas memperkenalkan perempuan pada nyonya?" si pembantu melempar tanya pada majikan di sampingnya. perempuan yang di panggil nyonya itu menggeleng.


" belum"


"nyonya ngga kepikiran untuk menjodohkan keduanya?" kembali pertanyaan hadir dari pembantu satunya lagi. perempuan itu menggeleng seraya mengukir senyum sekilas menambah cantik parasnya.


"biarkan mereka memilih sendiri pasangan masing-masing. asal jangan menyukai perempuan yang sama saja—"


"—karena saya tidak mau mereka bermusuhan hanya karena rebutan perempuan" ujarnya kembali.

__ADS_1


__ADS_2