Aku Tak Mengerti

Aku Tak Mengerti
DIMAS


__ADS_3

Ting!


Ting!


Ting!


Suara notifikasi yang terus berbunyi seakan tanpa henti membangunkan Mayla, rupanya perempuan itu tertidur di meja belajar untuk kesekian kalinya.


"berisik sekali" gumamnya seraya mencari ponsel. namun nihil dia tidak menemukan ponselnya di sekitar meja belajar. kembali ponsel itu menyala menampilkan notifikasi baru lagi. Memilih abai dengan keberadaan ponsel yang ntah dimana, Mayla beranjak mencari beberapa potong baju untuk dia kenakan dan mengambilnya ke kamar mandi.


keluar kamar mandi dia menemukan ponselnya tergeletak di bawah kulkas. matanya langsung melotot tatkala dia melihat banyaknya notifikasi yang terpampang di layar, baterainya sampai habis karena seringnya menyala dan notifikasi masuk.


Lihatlah dirinya kini, hanya karena tak sengaja menumpahkan kopi Mayla akan menjadi sorotan.


"oh sial, muka ku jelek sekali" umpatnya kesal, seraya menscroll sebuah artikel yang di unggah seseorang tadi pagi di laman website UNSENO tentang dirinya. Rasanya dia sedikit malas ke kampus mengingat kini dirinya akan menjadi buah bibir semua mahasiswa UNSENO. baru kemarin dia ketakutan dengan munculnya masalah baru, dan saat itu juga langsung Tuhan kabulkan tanpa jeda.


"tanggal tua, uang abis, muncul masalah baru, sakit pula... Haachiiim... ah sial" kembali bibir itu mengumpat seraya mengacak kasar rambutnya. dia beranjak menarik tas berserta payung karena cuaca di luar sedang Hujan.


Mayla memutuskan untuk berjalan, karena uang di dompetnya kini sisa tinggal dua puluh ribu. gajian masih ada tiga hari lagi, sedang kebutuhannya sangat banyak. Uang dua puluh ribu tidak akan cukup.


sepanjang jalan Mayla menggerutu, bukan karena hujan melainkan karena dia kesal uang lima puluh ribu yang dia belikan untuk kopi sia-sia. Karena kopi itu tumpah dan belum sempat dia minum sama sekali.


"tau gitu kan kemarin aku jangan beli kopi aja, haachiiim.. "


"sial, mana HP ku bunyi terus lagi ah" ujarnya kembali, seraya mematikan ponsel.


Mayla bahkan tak memperdulikan beberapa pedagang yang sekilas menoleh kearahnya karena dia yang terus menggerutu sepanjang jalan.


Hingga tepat di depan minimarket sebuah suara tiba-tiba mengudara memanggil namanya.


"Mayla", mendengar namanya di panggil, Mayla menoleh menemukan Arseno yang terlihat baru saja keluar dari minimarket.


"pak Arseno" ujar Mayla,


"Ah benar ternyata, kamu ada kelas pagi may?" tanya Arseno seraya berjalan menghampiri Mayla, terlihat laki-laki yang lebih tua membawa sekotak tehbotol di tangan kirinya.


"iya pak—


"mama.... mama.... " sebuah suara kecil memotong perkataan. menarik atensi perempuan muda itu untuk melangkah ke arah mobil grey yang terparkir di depan minimarket.


"Rehan" ujarnya tatkala melihat sikecil Sadewa kini menatap ke arahnya, terhalang kaca mobil.


"mau berangkat bareng lagi?" tanya yang lebih tua, Mayla menoleh dia hendak menolak. sebelum si kecil sadewa mengetuk kaca mobil brutal, kembali mengalihkan atensinya.


"mama.. mama..." kembali mulut kecil Rehan berujar seraya tangan kecil itu memukul kaca mobil terus menerus. Mayla yang tidak tega melihat si kecil, mengangguk. seulas senyuman terpatri di bibir yang lebih tua.


"kemarikan payungnya, dan masuklah" ujar Arseno seraya mengambil alih payung Mayla dan melipatnya, kemudian dia simpan di kursi belakang.


tepat ketika Mayla memasuki mobil, si kecil langsung berpindah ke pangkuan yang lebih muda, seraya tanganya mengacung menunjukkan rubik dengan warna acak yang berhasil dia buat.


Mayla tersenyum rupanya dia baru menyadari si kecil sadewa memiliki lesung pipit di sebelah kirinya, terlihat lucu. ah ntah kenapa dia jadi teringat Rega, laki-laki pradasa itu, juga memiliki lesung pipit sama seperti Rehan.


"biasanya dia tidak sedekat itu dengan yang lain may" ujar yang lebih tua di tengah menyetir mobil, sesekali pandangan Arseno dia alihkan dari jalanan ke arah sang putra. jujur dari pertama kali Arseno sedikit merasa heran, pasalnya Rehan tidak semudah itu dekat dengan orang baru. apalagi menyebutnya—mama, bahkan di pertemuan pertama. Rupa Mayla tidak seperti mantan istrinya, begitu juga sifatnya. terkadang Arseno bingung, apa yang mendasari si kecil sadewa menyukai Mayla?.


"oh ya pak?, saya kira dia dekat dengan semua orang" pasalnya tepat ketika pertama kali Mayla mengenal Rehan si kecil langsung mau dia gendong. Mayla sempat menerka mungkin saja Rehan dekat dengan siapa saja.


"tidak, Rehan itu anaknya introvert. dia sangat sulit di dekati, saya saja kaget kamu bisa langsung sedekat itu dengan rehan" jawab yang lebih tua, makanya waktu itu Arseno berani menyuruh Mayla menjemput Rehan di daycare mengingat sang anak sangat dekat dengan perempuan muda itu. Mayla mengangguk sebagai gesture merespon perkataan.


"dulu pernah ayah saya mengenalkan seseorang pada Rehan tapi anak saya menolak bahkan sulit hanya untuk keluar kamar" Arseno kembali teringat saat sang ayah mencarikannya ibu pengganti untuk Rehan dulu. Si kecil sulit di bujuk hanya untuk kenal dengan perempuan baru selain ibu biologisnya. Menyulitkan sang ayah yang tengah susah payah mencarikannya perempuan pengganti untuk Arseno nikahi kembali. Arseno yang melihat sang anak, memilih menduda lama selepas bercerai dengan mantan istrinya. begitu juga sang ayah yang melihat sulitnya Rehan pun, menyerah dan membiarkan si sulung Sadewa memilih jalan hidupnya sendiri. Toh Arseno masih bisa di katakan muda.mengingat Arseno baru saja berusai 25 tahun.


"begitu ya pak"


"iya, Dimas dan Rega saja perlu waktu beberapa tahun untuk mengenal Rehan"


"bagaimana dengan Raksa pak?"


"ah...anak itu tidak begitu menyukai anak kecil may, tidak seperti kakaknya Dimas. saya rasa kepribadian Rehan hampir sama dengan Raksa" ujar yang lebih tua disertai candaan.


"oh saya baru tau pak"


"Raksa itu cukup tertutup, boro-boro kamu. Dimas saja kakak kandungnya. tidak mengerti kadang sama adiknya sendiri may...oh iya mau saya antar sampai ke dalam?" tawar Arseno mengingat sekarang sedang Hujan. Mayla menggeleng guna menolak.


"sampai halte bis aja pak, takutnya bapak sedang buru-buru" tolak yang lebih muda halus.


"tidak begitu, tapi baiklah" ujar Arseno seraya menepikan mobil di samping Halte,


"makasih pak tumpangannya" ujar Mayla, Arseno mengangguk sekilas tangannya menjangkau payung di kursi belakang dan memberikannya pada Mayla


"Sama-sama, awas licin soalnya hujan" jawab yang lebih tua seraya menarik rehan dari pangkuan Mayla.


Mayla mengangguk sekilas sebelum dia membuka pintu mobil, perempuan itu terlihat langsung berlari ke arah halte.


"saya duluan ya" ujar Arseno seraya menurunkan kaca mobil.


"iya Pak"


Jujur dari kemarin Mayla hendak bertanya tentang perempuan yang mereka temui saat membeli bagel. namun urung karena dia masih tau ranah privasi seseorang. terlebih lagi Arseno tidak pernah menyinggung kearah sana.


Sepeninggal Arseno. perempuan itu menghela nafas panjangnya, dia sedikit ragu hanya untuk melangkah memasuki kawasan universitas. apalagi mengingat kini dirinya tengah menjadi topik hangat di UNSENO.


Baru selangkah dia memasuki kawasan UNSENO, terdengar semua mahasiswa berbisik seraya menoleh ke arahnya sekilas.

__ADS_1


"Eh dia perempuan yang kemarin itu kan?"


"yang numpahin kopi ke muka Lian ya?"


"iya bener, lihat hidungnya merah pasti karena kemarin"


"anak FEB katanya sefakultas sama Lian"


"Liannya marah?"


"ada yang bilang marah, ada juga yang bilang ngga"


"mereka saling kenal?"


"ngga kayanya, katanya anaknya introvert jarang gabung sama yang lain"


dan banyak lagi perbincangan tentang dirinya.


Mayla mempercepat langkahnya seraya menunduk menyentuh hidung yang katanya memerah. Mayla tidak begitu memperhatikan hidungnya tadi ketika di cermin, karena masih pagi dan tidak begitu jelas.


sesampainya di kelas, terlihat Raksa tengah duduk sendirian seraya membaca buku akuntansi.


"kamu udah sampai sa?"


"hm"


"kamu udah siap presentasi sekarang?"


"begitulah", mendengar jawaban Raksa mayla kembali teringat dengan Rehan. Kalau di lihat-lihat memang sifat Rehan mirip dengan Raksa. cuek dan irit berbicara.


"Maylaaa" sebuah suara tiba-tiba mengudara menarik atensi Mayla, tidak dengan Raksa. dari arah pintu, masuk Arin dan Resha yang diekori Mario dan Harvin.


"may tadi kamu dianterin siapa" tanya Arin penasaran, tadi ketika dia dan Resha sampai dia tak sengaja melihat Mayla turun dari mobil seseorang. Mayla kira temannya itu akan membahas dirinya yang kini telah menjadi sorotan. namun tebakannya salah.


"oh itu...dia atasanku, kenapa rin?"


"sekaya apa dia may?" tanya Resha seraya duduk di samping Mayla. Mayla menggeleng dia bukan type perempuan yang penasaran dengan jalur hidup orang lain. selama dirinya tidak terlibat.


"ngga tau sha, kenapa?"


"mobil nya mewah booos" sahut Mario


"gila Maserati cooook, berapa itu harganya" ujar Harvin seraya menarik kursi di samping Mario.


Rumus akuntansi yang sedang Raksa cerna kini menguap ntah kemana, tepat ketika dia mendengar kata Maserati, pasalnya di kantor yang punya mobil itu hanya satu, Arseno. dia teringat dulu, Arsaka sempat bercerita. jika si bungsu sadewa itu iri pada si sulung, karena dipuji berhasil membeli mobil impian. Maserati ghibli dengan harga yang pantastis.


'Mayla diantar bang Seno?, sedekat apa mereka' —batin Raksa.


kurang lebih lima belas menit, dosen pengisi kelas pun masuk bersama Jerry di belakangnya. seperti biasa pak Jonatan akan menulis kata yang sama terlebih dulu di white board sebelum memulai kelas. Bahkan hampir semua mahasiswa hapal.


"Pena lebih kuat dari pedang, tetapi bukan pemegang buku" ujarnya mengutip kata dari Jonathan Grancy.


...•••...


"untuk UI systemnya ada yang kita ubah, ketika premium pihak user nantinya bebas memilih thema yang mereka inginkan. selain menambah daya tarik, penambahan Thema pada aplikasi juga berguna agar pihak user betah berlama-lama mengunakan aplikasi.selain thema kami juga menambahkan tipografi dimana user bebas memilih tulisan yang mereka inginkan. seperti menurut pak Arseno waktu itu, kita mencoba mencari kenyamanan pihak user. selain dari iklan yang dihilangkan. mereka juga akan dengan luwes berkreasi di dalamnya ntah itu menulis novel, cerpen, cerbung, atau bahkan puisi dengan thema yang dapat mereka ubah sesukanya. tentu saja semua itu mengacu pada User Experience. kami tidak mematok harga tinggi tapi setidaknya dengan harga segitu.menurut kami sudah cukup memberikan feedback pada user" Ujar Reno mengakhiri PPTnya.


Arseno dapat menerka rapat kali ini akan alot, mengingat ada beberapa pembahasan. salah satunya softwere Andromed yang kini sedang di paparkan Reno. Sekalu kepala divisi Perseus.


tepat setelah Reno mengakhiri pemaparannya, muncul beberapa pertanyaan dari setiap audience di meja rapat.


"maaf Pak, apa tidak memberatkan aplikasi nantinya?" tanya salah satu karyawan samping Hendrian. Reno menggeleng,


"tidak, kami tim Perseus (IT andromeda) sudah melakukan testing terlebih dahulu. dengan 150 tester diantaranya 50 dari pihak programer dan sisanya masyarakat luas yang bersedia melakukan uji coba dengan pihak kami. selain testing kami juga melakukan Test driven development sehingga mengurangi bug nantinya" tutur Reno. seperti kata pepatah, keledai tidak akan terantuk pada batu yang sama. begitu juga Reno yang tidak akan mengulangi kesalahan kedua kalinya.


"kami juga sudah memperhatikan usability defect, security error, dan syntax Error" Ujar Reno kemudian.


"maaf menambahkan. betul pak, selain itu kami juga sudah mempersiapkan adanya compatibility error" tambah karyawan IT yang lain. Reno mengangguk membenarkan.


"jangan lupa, kalian juga harus tetap memperhatikan Human Error" ujar Arseno, Reno kembali mengangguk. Begitu juga beberapa karyawan yang berada di meja rapat.


"tentu, kami bekerja secara tim. komunikasi menjadi paling utama dalam sebuah grup" tutur Reno. Arseno mengulas senyum sekilas.


"tapi saya sempat membaca salah satu komentar ada yang menulis jika masih banyak bug di aplikasi" kembali pertanyaan muncul dari Rega.


"begini pak. Seperti halnya manusia tidak ada yang sempurna, bagitu juga aplikasi yang kami buat. tapi setidaknya kami sudah meminimalisir sekecil mungkin" jawab Reno.


"dulu sempat kamu berdiskusi dengan saya selain menghilangkan iklan, penambahan thema dan font yang bisa berubah. ada yang ingin kamu tambahkan lagi apa itu?" tanya Arseno, dia teringat tatkala tim perseus berdiskusi dengannya di meja rapat. Mereka tengah membuat sebuah project, yang waktu itu masih mereka rahasiakan. Dengan alasan takut gagal.


"betul pak. sama halnya seperti sebuah menu makanan, ada appetizer, main course, dan desert. kita juga ada hidangan utama. dimana pihak penulis juga bisa langsung berkomunikasi dengan Dimas" ujar Reno, Dimas yang namanya di sebut spontan memotong seraya melayangkan protes


"maaf pak saya memotong. Tugas saya juga sudah banyak pak, bagaimana mungkin saya bisa menghendle banyaknya penulis berbakat di luar sana"


"anda bisa membagi tugas dengan pak Rega dan yang lainnya pak" tambah Herdian, Dimas menggeleng seraya berujar kembali


"maaf pak. tim saya sudah hampir keteteran. karena banyaknya novel yang harus mereka sunting. selain itu mereka juga harus membaca beberapa cerita yang di kirim secara langsung ke kantor" Dia kembali teringat bagaimana ruangan Lacerta kini dipenuhi beberapa tumpukan kertas yang hampir memenuhi ruangan. disisi lain dia juga masih memikirkan tentang pengajuan printer yang masih mengambang belum ada kejelasan.


"maaf pak ian, saya bukanlah lulusan sastra Indonesia seperti Dimas. mungkin untuk pengejaan dan EYD masih bisa karena di bantu aplikasi. sedangkan jika penulis berdiskusi secara langsung saya sendiri belum mampu pak?" tambah Rega.


"Bukan Pak Dimas, tapi kami akan menambahkan asisten virtual yang kami beri nama Dimas" ujar Reno menengahi. terlihat kepala divisi IT itu kembali memainkan laptop. menampilkan kembali slide power point baru dengan judul smart virtual asistent project.


"kami perkenalkan ini dia visualisasi asisten virtual Andromeda, Dimas —Dimas disini ada kesulitan?—. Hasil kerja sama Perseus dengan Triangulum " ujarnya seraya menampilkan sebuah boneka virtual asisten yang berbicara secara otomatis di layar, hasil design pihak IT yang berkolaborasi dengan pihak Illustrator.

__ADS_1


"kami sengaja menggunakan suara yang lucu agar penulis merasa mempunyai teman dalam merampungkan tulisan, nantinya pihak penulis dapat berdiskusi secara langsung dengan Dimas ketika mereka terkena writer block. jadi Pak Dimas yang asli tidak akan secara langsung membalas satu persatu pesan dari pihak penulis"


"maksudnya pak? lalu bagaimana caranya?" tanya Dimas. Jujur Dimas tidak begitu mengerti masalah IT jadi rapat kali ini membuat kepalanya merasa pusing.


"intinya pak Dimas tidak akan membalas secara langsung, karena nantinya asisten virtual kami akan mempelajari beberapa pertanyaan yang sama, sesuai dari kata kunci yang di tulis pihak penulis"


"lalu hubungannya dengan saya apa pak Reno?" tanya Dimas bingung.


"saya hanya ijin menggunakan nama bapak, untuk Asisten Virtual Andromed kami"


"begitu, baik saya paham. jelas saya memberi ijin tapi kenapa itu pipi saya sedikit tembem pak. tidak tampan seperti saya" ujar Dimas mencairkan atmosfer ketegangan yang melingkupi meja rapat kini.


"namanya juga boneka pak" ujar salah satu karyawan disana. Dimas terkekeh.


"silahkan di lanjutkan kembali pak Reno" ujar Arseno.


"asisten virtual Dimas akan muncul ketika pihak penulis yang sudah mendaftar premium nantinya. ingat karena ini khusus premium saja. sama halnya dengan saran dan pertanyaan yang di tujukan untuk kami. asisten virtual Dimas juga sama, hanya perbedaannya dimana pihak penulis hanya akan berdiskusi mengenai tulisan mereka. Jadi ketika mereka menulis dengan kata kunci yang lain atau melenceng dari seharusnya Dimas akan spontan memblock tulisan yang masuk" Reno menjeda perkataannya sebentar.seraya mengalihkan slide power point.


"hanya saja ketika pihak penulis berdiskusi akan kami batasi secara otomatis. tidak seluwes ketika mereka menggunakan thema dan font. beberapa pertanyaan dasar tentang aplikasi dan tahap-tahapannya sudah kami cantumkan sama seperti aplikasi gratis Andromed. Karena Ini memudahkan pihak user yang kesulitan menggunakan aplikasi setelah kami memperbaharui nantinya" pungkas Reno.


"lalu pak, bagaiman jika kita ingin berkomunikasi dengan Dimas"


"mudah saja, pihak penulis yang mendaftar premiun tinggal mengklik logo Dimas di ujung kiri bawah yang muncul secara otomatis setelah berhasil mendaftar. nantinya suara akan muncul ketika layar sudah berubah menjadi ruang obrolan. seperti ini contohnya" ujar Reno seraya dia mempraktekan secara langsung cara kerja Dimas. tepat ketika layar berubah menjadi ruang obrolan secara otomatis Dimas akan muncul dengan suara yang lucu—Dimas disini ada kesulitan?.


"tepat ketika user mendengar Dimas berbicara. mereka hanya tinggal menulis apa saja yang menjadi titik masalah. Seperti tadi yang saya katakan untuk sekarang kami hanya bisa membatasi pihak penulis berdiskusi secara virtual dengan Dimas. guna meminimalisir system eror dan munculnya bug nantinya"


"WOW" ujar Dimas kagum. Begitu juga para karyawan yang lain langsung bertepuk tangan kagum tepat ketika Reno selesai memaparkan projectnya.


"bagaimana pak Arseno, apa bisa bapak ajukan ke pihak HO nantinya?" tanya Reno. Arseno mengangguk.


"asal kalian sudah matang dalam uji coba dan yang lainnya, akan saya ajukan sesegera mungkin. Saya yakin pihak HO akan setuju"


"selain itu kita juga bisa menambah penghasilan pak, meskipun hanya beberapa yang beralih ke premium" tambah Rega. Arseno mengangguk


"betul pak Rega, Negatifnya bisa saja hanya sedikit yang beralih, positifnya bisa saja dengan harga yang lumayan terjangkau. banyak yang beralih ke premiun. Karena untuk harga, kualitas dan kuantitas yang di berikan saya rasa cukup. bagaimana dari pihak yang lain ada yang ingin di tambahkan lagi sebelum saya menutup pembahasan pertama?"


"tidak pak"


"tidak"


"saya tidak begitu mengerti IT jadi saya juga cukup pak" ujar Dimas.


"baik, untuk pembahasan Aplikasi dan project virtual asistent yang di ajukan pihak Perseus saya tutup. kita akan melanjutkan kembali rapat setelah istirahat dan sholat" tutur Arseno mengakhiri rapat.


satu persatu karyawan mulai meninggalkan meja rapat. kini tersisa Dimas, Rega, Hendrian, Reno dan Arseno.


"Gila Ren keren abis itu Dimas" ujar Hendrian seraya membereskan beberapa barang yang dia bawa ke meja rapat. Sedang Reno hanya terkekeh.


"hampir adu urat kita ren di ruang rapat" kesal Dimas.


"iya, hampir kacau tadi karena pro-kontra " tambah rega.


"wajar Ga. Kalau di rapat ada prokontra" ujar Arseno memaklumi.


"tapi ini ngga wajar, tadi kita hampir adu bacok gara-gara Reno. Sialan emang dikata tanganku seribu apa sampai bisa menghendle ribuan penulis" kembali Dimas melayangkan kekesalan seraya mendelik kesal ke arah Reno.


"keselan siapa Dim sama aku yang tiba-tiba diminta Andromed di daftarkan ke PlayStore sama appstore. Mana itu aplikasi masih belum sempurna lagi dulu, masih tahap uji coba. Gagal terus lagi pas uji coba. kampret emang Dimas" rupanya Reno masih menyimpan dendam kesumat karena Dimas dulu.


"iya inget banget aku pas kamu keluar dari ruang rapat mukanya langsung sepet Ren" ujar Hendrian. Tertawa terbahak-bahak seraya memutar kursi kearah Reno.


"emang sialan Dimas" umpat Reno.


"tapikan kamu jadi terkenal, dari pada aplikasi kita kasarnya cuman jadi sampah maju ngga mundur ngga. Lagi pula siapa tau kamu diajak buat gabung di HO nantinya. gajinya gede tuh kalau kamu gabung Ren"


"ck...kerja itu selain ngejar gaji juga ngejar kenyamanan kalau di HO ngga nyaman ya sama aja boong. gaji gede tapi tersiksa buat apa. ya mending disini gaji UMR tapi nyaman"ujar Reno menyanggah.


"eh tapi itu keren lo, bagaimana bisa kamu kepikiran dengan nama Dimas" tanya Rega penasaran.


"Ya itu karena iseng aja sih" ujar Reno dengan nada candaan. Berbalik dengan Dimas yang terus menggerutu kesal, karena berhasil Reno kecoh.


"ngga sia-sia ya kamu tiga bulan honeymoon sama laptop mendekam di ruangan. sampe botak" ujar Hendrian, karena kebetulan ruangan Perseus berdekatan dengan ruangan Pegasus.


"iya yan, akhirnya berhasil membuat Dimas"


"sialan ternyata kalian bekerja sama ya nobita, Suneo" ujar Dimas ketus. sedang Hendrian dan Reno tertawa. Begitu juga dengan Rega dan Arseno keduanya hanya mengulas senyum. keduanya cukup menikmati bagaimana Dimas seakan kebakaran jenggot di meja rapat tadi.


"oh iya No, gimana masalah printer yang udah aku ajuin. gila printer hampir rusak gara-gara di pake terus menerus" ujar Dimas dia kembali teringat tatkala dia melihat karyawan lacerta menggunakan satu printer secara bergantian.


"lagi proses di pihak finance. Tinggal nunggu aja kabar dari tim corvus nanti dim"


"bagus deh, kalau bisa secepatnya kasihan karyawan lacerta proses pengerjaannya terganggu" ujar Dimas kembali.


"iya, nanti aku tanyakan lagi sama pihak finance dim" jawab Arseno. Dimas mengangguk.


"jangan lupa aku sangat membutuhkannya" ujar Dimas tegas, Arseno mengangguk kembali. Rega menggeleng, mengulas senyum sekilas


"bisakah kau lebih lunak dim, dia atasan kita. Ayo kafetaria aku lapar nih" ujar Rega seraya beranjak menarik Dimas.


"tidak bisa aku bukan adonan. Ayo, aku juga lapar" tambah Dimas.


Kelimanya kemudian meninggalkan meja rapat, menuju kafetaria Andromeda.

__ADS_1


__ADS_2