
"masalah satu saja belum selesai, kenapa nambah lagi sih" keluhnya kesal, ntah kenapa kini masalah seperti udara baginya. terhirup setiap saat menimbulkan rasa sesak yang mengisi paru-parunya.
"may kenapa belum ke kelas tumben?"— sebuah suara mengudara, Mayla menoleh menemukan Arin berjalan kearahnya.
"rencananya aku akan ke kelas setelah menghabiskan kopiku rin" ujar Mayla seraya menunjukkan kopi yang dimaksud. Arin mengangguk seraya mengambil duduk di sampingnya dia kembali berujar
"kamu ngga sama Raksa may?"
Gelengan adalah bentuk respon yang diberikan Mayla.
"kamu tahu may?", ujar Arin menarik atensi Mayla dari pandangannya memperhatikan sekitar, perempuan itu menoleh sekilas sebelum dia kembali menegak kopinya
" kenapa rin?"
"Raksa terlihat menyukaimu, apa kamu tidak menyadarinya?" pertanyaan yang di keluarkan temannya itu hampir membuat kopi yang hendak dia tandaskan kembali.
"maksud kamu?" jawab Mayla mengernyitkan dahinya bingung dengan pertanyaan tiba-tiba Arin.
"masa kamu ngga sadar, selain kamu. Raksa mana mau bicara dan lagi Raksa itu laki-laki yang irit omongan aku tuh tau banget ciri-ciri orang yang kaya gitu kalau suka sama seseorang" jawab Arin panjang lebar, membuat Mayla bingung kenapa topik paginya harus diisi Raksa?, jujur Mayla tak begitu memikirkan sibungsu Arganta, karena menurut Mayla apa yang dilakukan laki-laki itu wajar-wajar saja.
Dan lagi masa lalunya saja belum bisa dia lupain, ya gimana mau lupa kalau orang yang kamu suka di masa lalu, mau kamu lupain tapi orang itu terus menerus ada di sekeliling mu? move on nya gimana?
"dia emang kaya gitu, lagian aku rasa biasa aja sih" jawab Mayla sesaat sebelum pandangannya dia alihkan pada laki-laki yang berjalan kearah keduanya.
"May Raksa itu jutek banget sama aku dan Resha apalagi yang lain, boro-boro perhatian sampe mau anter jemput kesana sini—, perkataan Arin terpotong, karena sebuah suara yang tiba-tiba mengudara dari kejauhan.
" kalian lagi apa tumben ngga langsung ke kelas?"
"iya ka, lagi pengen disini aja" jawab Mayla tersenyum ramah, membuat Arin menoleh seraya berujar sedikit kaget akan kehadiran si asisten dosen.
"eh ka Rega, mau ke kelas ya ka? nanti dulu dong ka masih pagi" ujar Arin memohon. Rega tersenyum merespon ucapan kedua perempuan itu.
"saya baru juga sampai, oh iya kertas soalnya udah kalian kumpulin?" tanya Rega seraya menarik langkah semakin dekat kearah keduanya.
"baru beberapa ka, udah ada di Jerry soalnya" jawab Arin. sedang Mayla hanya merespon sebuah anggukan saja.
melihat Rega, Mayla jadi teringat dengan kekasih si tunggal pradasa, ini juga salah satu alasan kenapa dari kemarin-kemarin Mayla tidak pernah fokus dalam hal apapun. dia itu salah satu tipe perempuan yang sebut saja over thingking, apalagi itu menyangkut dirinya sendiri.
Waktu dimana mereka akan membuat video ke perpustakaan kota, Aruna menghampiri Mayla ke fakultas membuatnya urung ketika akan pergi bersama yang lain.
Flashback—
pelajaran terakhir dosen mereka berhalangan hadir, membuat sebagian mahasiswa bersorak gembira karena jamkos. Mayla dan teman-temannya memutuskan pergi ke perpustakaan kota untuk membuat video wawancara bersama pustakawan sesuai usulan jerry sang ketua kelompok.
Arin,Resha dan Jerry memutuskan untuk pulang dulu karena suatu alasan. sedang Harvin dan Mario berkata keduanya ingin mampir ke rumah makan dan bermaksud mengajak Mayla dan Raksa.
"mending kalian berdua ikut kita aja makan dulu, sembari nunggu si Jerry yang katanya ada urusan" usul Harvin seraya beranjak berniat keluar kelas.
"paling boker" seru Mario berjalan dibelakangnya.
"boker mah di wc fakultas juga bisa, ngapain jauh-jauh balik yo" seperti biasa Harvin merespon perkataan asal bunyi temannya. seraya mengeluarkan rokok dari tas. Harvin itu tipe laki-laki social smoker yang biasanya mereka hanya akan merokok di beberapa momen saja. seperti Harvin yang akan merokok ketika bersama orang lain.
"boleh sih kalau aku" jawab Mayla, sebenarnya dia tidak begitu lapar mengingat baru saja dia makan banyak di kantin universitas.
"kamu sa?" tanya Harvin menoleh kearah raksa.
"liat nanti deh, masih kenyang" jawab bungsu Arganta seraya mendorong pintu, keluar kelas yang diekori Mayla.
"kamu mau ikut sama mereka?" tanya Mayla, Raksa menoleh namun tak sengaja pandangannya malah jatuh pada perempuan yang berjalan kearah keduanya.
"Raksa!" , sebuah suara mengudara membuat Mayla menoleh—Aruna perempuan itu kini berjalan kearahnya. Mayla sedikit kaget ternyata Raksa dan Aruna saling kenal? semenjak kapan?
"kalian mau pulang?, bukannya kamu masih ada jam sa?" tanya Aruna tepat di depan keempatnya.
"mon maaf Pak geser sedikit ini kita mau lewat brader" ujar Mario mengudara di belakang Raksa dan Mayla. Mayla segera bergeser sedang raksa bergeming, bungsu Arganta itu seakan terlihat tak percaya dengan kedatangan Aruna.
"iya ka, kebetulan dosen terakhir kita berhalangan hadir jadinya jamkos ya mending kita pulang" jawab Mayla.
"memang dosen kalian ngga nyuruh ngerjain apapun?"
"ti—
" ngga" ini Raksa.
"aku pinjem Maylanya boleh sa" ujar Aruna, Raksa terdiam seraya melempar pandang pada perempuan yang berdiri di sampingnya. Mayla yang merasakan Raksa menatapnya menoleh kemudian mendongak sekilas sebelum berujar
"kenapa harus ijin sama Raksa ka, ada perlu apa?" tanya Mayla kemudian. Aruna terkekeh
"habisnya kalian kaya yang pacaran aja ke mana-mana berdua"
"apa hubungannya?" respon si bungsu Arganta. Aruna kembali terkekeh seraya menarik pelan Mayla.
"ayo may ikut aku".
" May—
—lamunannya di paksa berhenti dengan seketika tepat ketika seseorang menguncang pelan pergelangan tangannya.
"Mayla"—suara samar kembali mengudara memangkas lamunan.
"Ka Rega?, eh Arin mana ka?" tanya Mayla tepat ketika pandangannya tak menemukan Arin disana.
"temen kamu udah duluan ke kelas, kamu kenapa melamun tadi?" tanya Rega.
__ADS_1
"oh iya" angguk Mayla sekenanya. menarik kernyitan di dahi yang lebih tua.
"kenapa kamu ngelamun?" kembali si tunggal melempar tanya yang sama lagi. mengejar rasa penasaran dengan apa yang dilamunkan perempuan muda di depannya.
gelengan adalah sebuah respon yang diterimanya.
"aku cuma lagi mikirin kuis kemarin aja ka" jawab Mayla bohong,
"kamu yakin?" kembali yang lebih tua meyakinkan.
"iya ka oh—Raksa" tepat ketika Mayla menoleh, tanpa sengaja pandangan perempuan itu jatuh pada laki-laki yang melintas begitu saja. Raksa—laki-laki itu menoleh kearah si pemanggil yang tiba-tiba.
"mau ke kelas?" susul Mayla secara tak langsung mengabaikan keberadaan Rega yang masih menaruh rasa penasaran dengan lamunan si perempuan muda.
"iya"
"bareng— ka aku ke kelas duluan ya" ujarnya seraya beranjak melangkah menghampiri bungsu Arganta yang berdiri tak jauh dari mereka. Rega mengangguk.
"jadi begini rasanya di tinggal" ujar si tunggal sebelum beranjak pergi.
Sepanjang koridor keduanya tak ada yang bicara. bener kata Arin tadi Raksa itu tipe laki-laki yang irit omongan.
"kamu kenal sama ka Aru?" tanya Mayla membuka percakapan keduanya. pertanyaan Mayla barusan secara tak langsung memberhentikan langkah si bungsu Arganta. menoleh sekilas sebelum dia melangkahkan tungkai panjangnya kembali dia menjawab
"begitulah"
"semenjak kapan? sa kamu tau ka Aru pacarnya ka Rega" tanya Mayla kembali, kakinya tak henti merajut di setiap langkah mereka. Rega kembali menoleh sekilas
"tau" jawabnya seraya menarik kenop pintu membiarkan Mayla masuk terlebih dulu.
"ahay, pasangan sejoli kita sudah datang" seruan Mario seakan sebuah serangan yang menyambut kedatangan keduanya karena sekaligus menarik sorakan ramai dari setiap mahasiswa yang ada di kelas.
"May kamu udah tau, universitas kita bakal ngadain lomba pencarian kandidat untuk Zeus dan Heranya UNSENO?" tanya Resha seraya memberikan selembaran pada Mayla. namun fokus nya malah teralihkan pada guest star acara tersebut —Kanigara, band UNSENO yang selalu menjadi buah bibir semua mahasiswa namun ntah kenapa Mayla tak pernah menaruh rasa penasaran barang sedikitpun. padahal hampir setiap hari perempuan dikelas mayla membicarakannya.
Sedang Raksa abai bungsu Arganta itu lebih memilih masuk tanpa merespon apapun.
"Zeus dan Hera itu apa?" tanya Mayla bingung.
"Zeus dan Hera, itu ibaratnya queen and king gitu may" jawab Arin tepat ketika Mayla duduk di sampingnya. anggukan adalah sebuah respon yang diberikan perempuan itu, walau jauh di pikirannya Mayla tak tau apa yang di maksudkan temannya barusan.
"rencana kita mau ngajuin kamu, sebagai perwakilan fakultas kita sama Raksa may" susul Resha segera dengan penuh antusias.
"gimana sa mau kan? pasti kepilih nih" susul Harvin kemudian,
"lumayan katanya bagi yang terpilih, keduanya bakalan dapat beasiswa s2 di UNSENO" ujar Jerry menambahkan seraya menoleh kearah Raksa dan Mayla bergantian. Raksa terlihat tak menaruh minat begitu juga Mayla.
makin ngga bisa jauh dong sama ka Rega, mau kapan move onnya—pikir Mayla.
"eh denger-denger Lian sama kalista bakal daftar juga" Mario kembali berseru diambang pintu kelas, nampaknya dia baru saja dari luar.
"pasti sih, secara mereka terkenal banget yang satu ibaratnya queen dan satunya lagi King-nya" ujar laki-laki yang duduk dekat jendela kelas.
"udah ketebak si" respon Jerry.
"lagian aku ngga minat buat jadi apa itu namanya— Ze..Hera apa tadi?" ujar Mayla kemudian,
"daftar aja dulu, nanti kepilih ngga nya belakangan May" ujar Arin seraya menyimpan kertas formulir di depannya.
"kepilih apaan?" —sebuah suara mengudara disusul dengan suara pintu yang di tutup.
"Eh ka Rega" ujar serentak sekelas membuat Rega kaget.
"ini ka lagi ngomongin lomba Zeus dan Heranya UNSENO" jawab Mario. Rega mengangguk seraya menyimpan buku dan laptopnya di meja.
"dari kelas ini ada yang mau daftar jadi Zeus atau Heranya?" tanya Rega sesaat setelah dia membuka laptop.
"rencana mau Mayla sama Raksa ka" ujar salah satu mahasiswi disana.
Rega terdiam, jempolnya mengudara hendak memijit remot kontrol untuk menurunkan screen motorized.
"oh iya—Mayla mau?" tanya Rega bersamaan dengan turunnya screen proyektor tepat ketika Rega berhasil memijit tombol di remot tersebut.
Mayla— perempuan itu hanya merespon dengan senyuman tidak mengiyakan ataupun menolak.
"kita lupakan lomba pencarian Zeus dan Hera UNSENO sejenak ya, Jer bagaimana sudah di kumpulkan soal-soal kuis kemarin?" tanya Rega menoleh kearah Jerry yang duduk di samping Raksa. Jerry mengangguk
"udah ka" jawabnya seraya beranjak dia menyerahkan beberapa lembar kuis yang sudah kelas mereka kumpulkan.
"ini semua beda-beda soalnya?" tanya Rega kaget. ntahlah Rega harus kagum atau tidak pada dosennya, karena dalam padatnya kegiatan pak Abian mampu membuat soal sebanyak ini.
"iya ka, itu juga sebagian, karena ada yang kertasnya udah di sobek, ada juga yang langsung di buang pas selesai kuis" jawab Harvin. Rega mengangguk karena memang ada beberapa kertas yang nampaknya sudah di remat dengan kuat ada juga yang terlihat kotor dan yang lebih parah ada yang dipenuhi solatip.
ini bagaimana bacanya—pikir si tunggal pradasa. karena semua kertas tak ada yang utuh, terlihat semua kekesalan mereka pada sang dosen, mereka tumpahkan pada kertas kuis milik masing-masing.
"ada juga yang di bakar" seru Mario. membuat Rega spontan memberhentikan kegiatannya—membaca satu persatu soal tersebut. Menghela nafas sejenak fokus nya masih pada kertas yang sedang dia baca satu persatu. hingga tangan yang sedari tadi memilah kertas, berhasil menemukan kertas utuh yang sangat rapih.
"ini kertas siapa?" tanya Rega seraya mengacungkan kertas tersebut.
"Raksa" ujar serempak sekelas, membuat sipemilik kertas yang hendak menjawab menjadi urung.
"ngga heran sih ka, ngerjain nya juga cuman lima belas menit kelar" ujar salah satu perempuan tak jauh dari mejanya.
"nilainya paling tinggi" seru laki-laki di ujung.
__ADS_1
"kertasnya pasti bersih, ngga kaya kita bermandikan keringat kesusahan" Ini Mario yang menjawab dengan gaya hiperbolannya sehingga menuai tawa sekelas, begitu juga dengan Rega.
"betul banget ka, AC padahal dua tapi masih ngga kerasa. malah gunanya jadi kaya perapian di ruangan, panas" susul Harvin kemudian. Mario dan Harvin itu memang sebelas dua belas sifatnya. Rega kembali terkekeh.
"setelah kita membahas materi, nanti kalau ada waktu kita bahas sebagian soal yang masih bisa di baca ya" ujar Rega seraya mulai membuka kelas dengan power point yang sudah dia siapkan.
...•••...
Seperti perjanjian dulu dimana dirinya menyanggupi akan menjemput Rehan pada Arseno. jadi disinilah sekarang, dirinya berdiri di depan sebuah tempat penitipan anak terlihat elit di kota itu—Honey Bee Daycare. dengan maskot atau simbol lebah bermahkota yang menjadi penyambut pandangannya kini.
Mayla mulai memasuki kawasan Daycare, pandangannya disambut oleh banyaknya anak kecil seusia Rehan yang tengah bermain di halaman bersama pengasuh mereka atau mungkin guru disana? Mayla tidak tahu.
Belum juga tungkainya dia langkahkan pada salah satu ruangan, tepukan di pundak yang tiba-tiba membuatnya segera berbalik hingga pandangannya bertemu dengan si bungsu sadewa—Arsaka— yang menatapnya dengan pandangan tak terbaca.
"sedang apa kamu disini?" tanya Arsaka dengan tatapan menelisik. Mayla terdiam dia sedikit kaget dengan kemunculan Arsaka yang tiba-tiba, bukannya Atasannya itu sempat berkata jika adiknya ada urusan sehingga tidak bisa menjemput Rehan, lalu ini?
"paman taka"—sebuah suara kecil yang tak asing mengudara dari belakang punggung Mayla —Rehan, Mayla menoleh spontan berjongkok menyamakan tingginya dengan Rehan, sikecil sadewa itu terlihat menggenggam rubik dengan warna acak.
"mama?" ujar si kecil ketika mata bulat kecilnya berhasil menangkap Mayla seraya merentangkan tangan kearahnya meminta pelukan. namun Arsaka malah menarik kedua tangan kecil itu untuk dia gendong seraya berjalan, mengabaikan kekesalan Mayla yang siap menerima pelukan hangat dari si kecil.
"kamu lebih pantas menyebutnya, kakak dari pada mama bocah" ujar Arsaka seraya melangkah mulai memasuki ruangan.
kedatangan ketiganya disambut oleh pengasuh atau mungkin guru di Honey Bee daycare.
"pak Arsaka mau jemput Rehan?" tanya seorang perempuan yang menyambut kedatangan mereka, sedang Mayla hanya mengekor di belakang si bungsu sadewa.
"iya, kakak saya sibuk makanya yang jemput saya" jawab Arsaka seraya menurunkan Rehan dari pangkuan dan membiarkan sikecil sadewa bermain dengan teman-teman seusia anak itu.
Mayla tak begitu menaruh penasaran dengan percakapan Arsaka dan perempuan tadi, perhatiannya ditarik sepenuhnya oleh si kecil sadewa yang terlihat bermain dengan anak yang lainnya. anehnya rubik yang di pegang selalu tak dia lepas dari genggaman tangan kecil itu, meskipun Si kecil sadewa terlihat sangat hiperaktif, berlarian kesana kemari.
"sesayang itu dia pada rubik" gumam Mayla tak melepas atensi dari Rehan.
"kamu mengenal Rehan berapa lama?" tanya si bungsu sadewa yang kini sudah bergabung duduk di sampingnya. jujur tadi Arsaka kaget dengan keberadaan Mayla disana, pasalnya dia tidak pernah menerka kedekatan kakaknya dan Mayla sampai sejauh mempercayakan Rehan pada perempuan itu. setau Arsaka, kakaknya itu sulit percaya apalagi dengan perempuan yang baru di kenalnya begitu juga dengan Rehan. sikecil bukanlah anak yang akan menerima seseorang dengan sangat mudah sampai meminta di gendong seperti tadi.
"baru beberapa hari sih, memang kenapa?" tanya Mayla kembali.
"Rehan itu termasuk anak yang sulit dekat dengan orang lain—sedekat apa kalian maksudku kamu dan kakakku?" tanya si bungsu lagi menoleh sekilas sebelum pandangan laki-laki itu jatuh pada si kecil sadewa yang terus berlari kesana sini bermain dengan yang lain.
Mayla terdiam dia cukup bingung menjawab si bungsu sadewa. beruntung seruan ibu pengasuh Rehan memotong pembicaraan keduanya. menarik atensi Mayla dan Arsaka pada si kecil yang kini tengah tertawa akibat terjatuh selepas berlarian di ruangan.
posisi ruangan yang luas, hampir seperti tempat taman bermain benar-bener membuat anak merasa leluasa mengeluarkan keaktifannya. Ditambah di dinding ruangan banyak tertempel tulisan dengan bahasa asing yang berguna juga untuk tumbuh kembang otak sang anak, selain itu Mayla dapat menerka bagaimana sikap sang guru atau pengasuh dari sikap perempuan yang tadi. terlihat guru-guru disana sangat telaten dan terlatih mendidik anak kecil, mereka juga sangat ramah.
"Rehan ayo pulang" Arsaka berseru menarik perhatian si kecil sadewa berlari kearahnya.
"mama" kembali bibir kecil itu berujar ketika pandangan si kecil menoleh kearah Mayla.
"kakak!" tekan si bungsu sadewa. Membuat sikecil memberengut lucu.
"mama" namun kembali lagi bibir kecil itu mengucapkan hal serupa. mambuat Mayla tertawa. Arsaka abai memilih mengendong kembali Rehan seraya berpamitan pada perempuan yang tadi, nampaknya dia pengasuh Rehan di Honey Bee Daycare.
keduanya berjalan kearah mobil dengan Rehan yang berada di gendongan Arsaka. Mayla yang hendak menarik kenop pintu kedua urung ketika Arsaka menariknya kepintu depan.
"aku bukan supir, kamu bisa memangku Rehan di depan" ujar Arsaka seraya memberikan Rehan untuk Mayla gendong, si kecil sadewa langsung memeluk leher Mayla dengan erat.
"karena anak itu akan tidur kalau masuk mobil" susulnya kemudian seraya memasuki mobil. benar saja baru juga beberapa meter mobil menjauh dari Honey Bee Daycare si kecil sadewa sudah tertidur pulas di pangkuan Mayla.
"lihat apa aku bilang, bocah itu langsung tidur" ujar si bungsu sadewa di tengah menyetirnya. sedang Mayla terlihat betah memperhatikan si kecil sadewa dalam pangkuannya. bulu mata lentiknya tertutup menyembunyikan mata bulat miliknya yang terlihat lucu jika terbuka.
"aku akan mengantarkan mu dulu ke senopati, sebelum ke rumah" ujar Arsaka, Mayla terdiam seakan mengingat sesuatu. Dahinya mengernyit tepat ketika matanya menangkap sebuah gelang biru yang melingkar di pergelagan kanan si bungsu sadewa.
'Arsaka seorang pasien? Dia sakit apa?' —batin Mayla.
"kenapa diam saja?, apa anak kecil itu terlihat sangat tampan sampai kamu terus memandangnya seperti itu?" ujar Arsaka seraya menginjak rem karena lampu sudah berubah menjadi merah.
"aku jadi iri" susulnya kemudian.
"sudah seberapa dekat kalian sampe bang Seno menyuruhmu menjemput anaknya?" tanya Arsaka lagi seraya melepas rem dan mulai melajukan mobilnya kembali. Mayla terdiam dengan pertanyaan serupa Arsaka yang kembali membuatnya bungkam, karena dia tidak tahu harus menjawab apa. pasalnya dia sendiri bingung dan tidak mengerti apa tujuan atasannya menyuruh Mayla menjemput si kecil sadewa.
"oh iya s—ka, pak Arseno bilang katanya suruh bawa Rehan ke kantor bukan kerumah" ujar Mayla tatkala dia teringat pesan Arseno tadi. Arsaka mengangguk seraya menarik lampu rihting karena mobilnya mulai memasuki kawasan senopati.
"itu temen kamu kan?" tunjuk si bungsu sadewa. Mayla mengikuti kemana arah telunjuk Arsaka dan benar saja di sana teman-temannya sedang berkumpul di bawah pohon beringin yang tumbuh di tengah-tengah kampus. Mayla mengangguk bersamaan dengan Arsaka mengarahkan kemudi stir kearah teman-teman Mayla berkumpul–DPR.
"turunlah, Rehan biar jadi urusanku" ujar Arsaka seraya menekan tombol membuka kunci pintu mobil. Mayla mengangguk seraya membangunkan si kecil sadewa pelan.
"hay bocah bangun cepat" ujar Arsaka seraya menarik Rehan dari pangkuan Mayla. membuat si kecil sedikit merengek karena terganggu tidurnya.
"makasih ya ka, aku turun" ujar Mayla tepat ketika Rehan berpindah ke pangkuan bungsu sadewa. anehnya meskipun tertidur tangan kecil itu masih setia menggenggam rubik yang sama.
Turunnya Mayla dari dalam mobil menarik atensi sebagian mahasiswa yang ada disana. terutama teman-temannya kini.
"may kamu sama siapa?" tanya Arin tepat ketika Mayla bergabung bersama mereka.
"iya kamu tumben pergi tiba-tiba, mentang-mentang sering barengan jadinya sifat kalian hampir sama" ujar Mario penuh nada sindiran seraya menatap kearah Mayla dan Raksa bergantian.
"tadi aku ada urusan sebentar" jawab Mayla tak sepenuhnya bohong.
"terus kamu diantar siapa itu may tadi?" tanya Resha penuh penasaran. sedang Raksa terlihat tak melempar tanya apapun, pandangannya tak lepas dari mobil yang baru saja mengantarkan Mayla. dia dapat menerka dengan mudah, itu mobil si bungsu sadewa. karena itu adalah mobil hadiah ulang tahun dari ayahnya, Arsaka sempat memamerkannya sebelum munculnya sebuah masalah yang membuat keretakan keluarga Sadewa dulu. dan kini mobil itu hanya menjadi penjaga gerasi di kediaman sadewa. karena Arsaka jarang menggunakannya kecuali butuh atau kepepet saja.
"sa kamu ngga penasaran?" tanya Harvin menyikut Raksa sekaligus melepas pandangan si bungsu Arganta karena mobil sudah termakan belokan gedung fakultas psikologi. Raksa menggeleng
"tidak" jawabnya.
__ADS_1
"eh bentar lagi kelas mulai ayo ke fakultas" ajak Mayla sekaligus mengalihkan topik penasaran dari pembicaraan mereka menyangkut siapa yang ada di balik kemudi mobil tadi.
"ayo", ujar Resha dan Arin. sisanya mengekor di belakang.