Aku Tak Mengerti

Aku Tak Mengerti
Lipstik


__ADS_3

Seorang laki-laki tengah memetik gitar, bibirnya mengalunkan alunan nada yang sesekali dia tuliskan di kertas. kegiatan itu terus dia lakukan berulang, sedang di tangan kirinya tak lepas mengapit sebuah rokok yang sesekali dia hisap. dia Arsaka.


"ck kenapa lagunya jadi ngga nyambung gini sama nada" ujarnya tatkala dia mengulangi lagu yang baru saja dia buat seraya merematnya dan membuangnya. kegiatan itu juga terus dilakukan berulang, sampai kini studio musik kampusnya penuh dengan kertas rematan yang di buang asal oleh sipemilik. hingga ponselnya berdering membuat mulut itu mengerang, kesal.


[calling]


"sialan berhenti menganggu ku, aku sibuk" ujarnya tatkala dia mengangkat panggilan.


"dimana kau sekarang?" tanya orang di sebrang panggilan.


"studio musik senopati" jawab Arsaka, seraya memutus panggilan dia melempar asal ponsel itu.


kembali dia memegang kertas partiturnya mengabaikan pesan yang disimpan si pemanggil tadi. lima menit dia sudah tenggelam dengan kertas partitur dan juga gitarnya kembali.


"kenapa lagunya jadi terdengar aneh" ujarnya lagi. sambil sesekali mencoret beberapa yang di rasa aneh. karena mengganggu sesekali dia menyibakkan rambutnya kebelakang, hingga lama kelamaan dia menguncir rambutnya. berjalan ke sudut studio dia mengambil sebotol minuman dari kulkas kecil yang ada disana, terlalu lama duduk dengan partitur membuat tenggorokannya kering. dan ntah kenapa pikirannya kini malah tertuju pada perempuan yang dua hari lalu berpapasan dengan nya.


"sialan kenapa bang Arseno bisa sama Mayla" ujarnya seraya menyender pada kulkas dia teringat tatkala dia melihat Mayla masuk ke mobil kakaknya tempo hari.


"tu cewe budek banget lagi di panggil ngga nyaut"


"bukannya bang Arseno ngga pernah dekat sama bawahan di kantornya" susulnya lagi seraya berjalan kembali kearah kursi. hingga tiba-tiba dia teringat dengan kejadian serupa dimana dia melihat Mayla.


flashback—


Arsaka keluar dari kamarnya tepat ketika dia akan menuruni tangga dia berpapasan dengan Arseno yang sama akan pergi juga, tak ada interaksi dari keduanya sampai di bawah si sulung langsung menghampiri sang anak dan menggendongnya tak lupa mengecup kepala sang ibu dengan sayang sedang Arsaka abai, si bungsu lebih milih langsung keluar menghampiri motornya. mendengar larian sang ibu dari belakang Arsaka memberhentikan jalannya menunggu sang ibu beberapa langkah berhenti di belakangnya.


"Hati-hati di jalan sayang jangan ngebut" ujar sang ibu, Arsaka tak merespon apapun, dirasa sang ibu sudah selesai bicara bungsu sadewa itu langsung menaiki motornya meninggalkan halaman rumah sadewa.


Sepanjang jalan Arsaka merutuki dirinya yang pulang, karena pada malamnya Arsaka harus mendengar ceramah panjang sang ayah yang selalu saja membandingkan dirinya dengan Arseno, tepat di sebuah lampu merah, dia berniat memarahi angkot yang tiba-tiba saja berhenti tidak tau tempat. namun beberapa menit setelahnya dia melihat seorang perempuan turun yang di tarik oleh laki-laki seusia nya,


"ck drama sampah" ujarnya, dan tepat ketika dia melajukan motornya kembali tak sengaja dia melihat spion motor hingga pandangannya dengan jelas melihat muka perempuan tadi, dia Mayla. Bahkan setelah motor tadi mendahuluinya dia dengan jelas melihat pengendara motor aerox itu adalah Raksa. karena Raksa tidak pernah memakai helm fullface seperti dirinya.


— Lamunannya terhenti dengan paksa karena lemparan kunci motor tepat mengenai kepalanya.


"sialan" umpatnya. sedang si pelempar—Raksa— terlihat santai berjalan kearah Arsaka duduk. mengabaikan umpatan yang dilontarkan si bungsu sadewa.


"dimana sopan santun mu sialan, apa kau tak melihat ada pintu disana" ujar Arsaka kesal seraya menunjuk pintu yang dimaksud.


"bahkan aku sudah seribukali mengetuk pintu, kalau saja itu bukan pintu kayu mungkin sudah bolong. Kau saja yang budek aku sampai berpikir kau mati di dalam sialan!" jawab Raksa sarkas. memilih abai pandangan Arsaka kini jatuh pada kunci motor yang tadi Raksa lemparkan.


"dari bengkel?"


"bukan dari hotel, kau habis bermalam sama tante girang mana lagi?" susul Raksa, segera Arsaka melemparkan botol minum yang sudah kosong ke arah Raksa.


memang sudah dua hari ini Arsaka tidak membawa motornya ke kampus bahkan tadi pagi dia menyuruh Raksa untuk menjemputnya.


"mana yang lain tumben sendirian" tanya Raksa seraya membawa buah apel yang ada di dalam kulkas.


"ntah"


"ck, apa-apaan ini bukannya kau sudah menghabiskan dua jam lebih di sini, kenapa cuman sebait gini" ujar si bungsu Arganta meremehkan, seraya menunjuk pada kertas yang tergeletak di meja depan Arsaka. Baru saja gigitan pertama lemparan bungkus rokok yang kuat membuatnya hampir menjatuhkan apel yang baru dia gigit tadi.


"kau kira membuat lagu itu gampang, segampang kau membaca bertumpuk-tumpuk buku sampe muak" jawab si bungsu sadewa tersulut emosi.


"ck, sialan! cobalah untuk berhenti merokok sa" ujar Raksa seraya menyimpan bungkus rokok di atas meja di samping apel yang tadi dia gigit. Mengabaikan emosi dari kemarahan sibungsu sadewa karena meremehkannya tadi.


"justru dengan merokok aku sedang membantu pemerintah, mengurangi kepadatan penduduk di Indonesia" tukas Arsaka seraya menaruh sebatang rokok di bibirnya.


Raksa terdiam menahan amarah. jauh di dalam hatinya, sebenarnya dia sedikit khawatir. candu temannya dengan rokok sangat parah karena Arsaka dalam sehari bisa menghabiskan beberapa bungkus rokok.


"aku tak berharap kau berumur panjang, tapi setidaknya disisa hidupmu, hiduplah dengan baik!. Jangan kau ganti masa mudamu dengan berbaring lemah di rumah sakit sialan!!!!" ujarnya sarkas. Namun Arsaka terlihat abai.


Keduanya memang tak pernah akur, sama-sama bermulut pedas dan saling memandang dengan remeh serta menghardik satu sama lain. karena bagi mereka arti teman itu bukan lah orang yang sering berangkulan setiap saat, ataupun menabur kebahagiaan disetiap tempat dan sok akrab ketika bertemu. tapi mereka punya cara sendiri untuk menunjukkan arti sebuah pertemanan.


"eh Sa disini"— keduanya spontan langsung mendongak pada sumber suara dari arah pintu.


" eh lang, iya nih takutnya Arsaka kelaparan makanya aku sengaja beli makan. tuh kalau mau makan aja soalnya anaknya malah milih rokok" ujar Raksa dagunya menunjuk sebuah kantong makanan berwarna putih yang tergeletak di meja. Arsaka spontan langsung menoleh.


"ko ngga bilang" ujar Arsaka,


"makanya berhentilah bertingkah. aku yang paling jahat disini, kau kira aku akan membiarkan mu mati kelaparan!" ujar Raksa.


Tepat ketika tadi Arsaka bilang dia sedang di studio musik, Raksa sudah bisa menerka bahwa si bungsu sadewa itu pasti sudah menghabiskan berjam jam waktunya hanya untuk membuat lagu. makanya dia mampir kesalah satu restoran junk food karena lama menunggu balasan dari Arsaka dia memutuskan membeli burger dan beberapa minuman dingin.


"kau datang membuat kepalaku benjol brengsek, bagaimana aku tidak marah padamu sa" ujar Arsaka tak kalah membela diri seraya dia menunjukkan kepalanya yang terkena lemparan kunci motor tadi.


"karena motor sialan mu menghalangi jalan ku tadi" ujar Raksa, jadi tadi ketika dia hendak mengeluarkan motornya dari dalam gerasi dia di kagetkan dengan adanya motor milik Arsaka.


sang kakak—Dimas—menjelaskan jika motor itu dikirim malam hari tepat ketika dimas sampai di rumah. Arsaka memang sering mengirimkan motornya ke rumah Raksa ketika motor selesai dari bengkel. dia tidak pernah mengirimkan motornya ke rumah mengingat dirinya dan kakaknya—Arseno— tidak akur. Dan berakhirlah Raksa pergi memakai motor milik Arsaka.


"lalu bagaimana kau pulang sekarang?" tanya Arsaka seraya bergabung dengan Elang membuka kantong makanan yang dibawa Raksa.


"aku bisa naik taksi, kau akan menginap di sini ka?" tanya Raksa, Arsaka mengangguk selain rumah Raksa, Arsaka memang sering diam di studio kampus Senopati karena dia mendapatkan hak istimewa mengingat dirinya selalu membawa nama baik kampus lewat band kanigaranya.


...•••...


"gimana may kamu udah hubungin Raksa mau dia jemput kamu kesini" ujar Arin,dia merasa tidak enak karena harusnya perempuan itu yang mengantarkan Mayla. Tapi karena suatu alasan Arin tidak bisa mengantarkannya pulang.


"maaf ya may aku tidak bisa mengantarkan mu pulang" ujar Arin tak enak hati.

__ADS_1


"ngga papa sebenernya aku bisa naik ojek online rin, sha. ngga harus sama Raksa" jawab Mayla tak keberatan karena memang dia lebih sering dengan ojek online atau ngga angkutan umum yang lain.


" Jangan may, kalau pulang sendirian takut apalagi ini sudah malam" ujar Resha menambahkan, mereka kini sedang ada di depan sebuah kafe yang cukup jauh dari arah kampus, tadi ketika mereka hendak mengerjakan tugas kelompok di kafe sebrang kampus—ngopi yuk!— ternyata semua bangku terisi penuh, Mario memberi usulan untuk mengerjakannya di kafe ini.


"sepertinya tawaran Harvin transparan" ujar Mario karena memang sedari tadi Harvin menawarkan Mayla untuk pulang bersama namun bukannya Mayla yang menolak melainkan Resha dan Arin, mereka kekeuh menyuruh Mayla menghubungi Raksa mengingat jika mereka yang menghubungi Raksa sudah di pastikan tak akan di angkat sama sekali.


"sudah lah, Raksa mungkin ada urusan kasihan dia kalau harus kesini jauh-jauh, ayo may" ujar Harvin, seraya mengajak Mayla.


"eh jangan, aku khawatir kau membawa Mayla kemana dulu karena aku tahu kau ngga akan secepat itu untuk pulang" ujar Resha menunjuk Harvin,


"aku bisa mengantarkannya dulu sha sebelum main" ujar Harvin.


"ck, berhentilah berdebat , ayo May sama aku aja" ujar Mario akhirnya.


"JANGAN! " teriak Resha dan Arin bersamaan seraya menarik Mayla kebelakang mereka berdua.


"pokoknya kita khawatir kalau Mayla diantar sama kalian berdua" ujar Arin yang diangguki Resha.


hingga sekitar setengah jam mereka menunggu pengemudia motor aerox pun masuk ke dalam halaman kafe. membuat Resha dan Arin sumringah.


"RAKSA" ujar mereka bersamaan–Arin dan Resha.


"ngga sekalian aja kalian ngerjainnya di perpustakaan kota" ujar Raksa sarkas seraya membuka helmnya. pasalnya temannya itu mengerjakan tugasnya sangat jauh, mungkin bagi Raksa ini tidak. tapi bagi Mayla ini jauh.


"ini usul Mario, sa" tunjuk Arin.


"soalnya cuman disini yang aku tau sa, makanannya enak dan bisa buat nongkrong ngga zonk lah" jelas Mario, Harvin mengangguk membenarkan.


"ayo pulang" ujar Raksa, Mayla kemudian mengekori Raksa ke motor setelah berpamitan dengan teman-temannya.


"udah kerja kelompoknya? atau ada hari lain lagi? " tanya Raksa seraya mengulurkan helm untuk Mayla pakai.


"hari ini aja" jawab Mayla,


"kamu kerja kelompok dimana sa?" susul Mayla seraya menduduki bangku belakang motor Raksa. mereka memang tidak satu kelompok karena Raksa satu kelompok dengan Jerry.


"rumah Jerry palingan, aku ngga tau" jawab Raksa seraya melajukan motornya mulai meninggalkan halaman kafe.


"besok-besok jangan jauh-jauh" ujar Raksa tepat ketika motornya sudah bergabung dengan kendaraan yang lain di jalan raya. membuat Mayla tidak jelas mendengar.


"hah"


"abaikan saja" ujar Raksa akhirnya. membuat Mayla mengernyit kan dahi.


sepanjang perjalanan mereka tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing. Raksa bukan tipe laki-laki yang akan teriak-teriak di atas motor atau berbicara diatas motor kecuali penting baginya.


"turun aku lapar" ujar Raksa seraya membuka helmnya. Mayla turun seraya mengekori Raksa.


"bu nasi gorengnya dua ya, mau teh gelas atau air putih?" ujar Raksa seraya menoleh ke arah Mayla,


"air putih aja"


"berarti nasi goreng dua air putih dua ya bu" ujar Raksa seraya menarik pelan pergelangan tangan Mayla ke salah satu bangku disana.


"kamu dari kantor tadi atau dari mana sa?" tanya Mayla karena ini jadwalnya Raksa WFO, Raksa menggeleng.


"aku ngga betah di kantor may, jelas aku sudah pulang" jawab Raksa.


"tapi kamu ngga marah kan sa?" tanya Mayla lagi. dia merasa tak enak hati mengganggu Raksa. karena bisa saja laki-laki Arganta itu tengah beristirahat ketika dia menghubunginya tadi.


"kenapa aku harus marah, makanlah" ujarnya seraya memberikan satu piring nasi goreng ke depan Mayla. Mayla tak menjawab, memilih memakan nasi gorengnya. dia pun sama laparnya, karena tadi dia hanya memesan minuman saja ketika di kafe.


"kamu besok ikut ke kafe yang sebrang kampus itu sa?" tanya Mayla kembali sesaat setelah dia menyedot teh gelas miliknya.


Raksa yang tengah memandang jalan raya menoleh karena bersamaan dengan datangnya nasi goreng miliknya.


"liat besok aja" ujar Raksa seraya menyendokkan nasi goreng dan mengunyahnya secara perlahan.


Raksa bukan orang yang akan berbicara ketika makan, makanya selama mereka makan hanya ada suara sendok dan garpu yang bersahutan dari keduanya.


"udah selesai ada yang mau di beli lagi?" tanya Raksa, Mayla menggeleng seraya mengekori Raksa berjalan kearah motornya.


"udah di bayar?" tanya Mayla tepat ketika dia menduduki belakang motor Raksa.


"ibu dan bapak itu akan mengejar kita atau parahnya lagi berteriak jika aku belum membayar makanan yang tadi kita makan may" ujar Raksa seraya menyalakan mesin motornya.


"sa"


"hm", Mayla terdiam dia sedang menimbang apakah dia bisa membicarakan ini dengan Raksa atau tidak. tepat di lampu merah Raksa menoleh


" apa?" tanyanya seraya membuka kaca helmnya.


"kamu bisa memasang kran air?" tanya Mayla akhirnya,


"kita coba, kran air kamu copot atau gimana? udah beli krannya" tanya Raksa seraya menarik gas karena lampu sudah hijau kembali.


"udah" jawab Mayla. perjalanan mereka memakan satu jam lebih hinga tepat jam sepuluh malam mereka sampai di depan kosan Mayla.


"apa ngga apa-apa aku masuk may?" tanya Raksa, mengingat ini adalah kosan perempuan, Mayla mengangguk.

__ADS_1


"suka ada ko yang dateng cowo, lihat pintu yang ujung atau yang atas itu pacarnya selalu aja datang" ujar Mayla sambil menunjuk pintu kosan yang di maksud seraya turun dan melepaskan helmnya.


"tapi kan aku bukan pacarmu, lagian ini sudah jam sepuluh malam apa pantas bertamu pada gadis jam segini?" tanya Raksa lagi dia bahkan belum melepaskan helmnya. Mayla terdiam.


"tapi kan kamu mau benerin kran air sa" , Raksa terdiam menimang beberapa saat akhirnya dia mengangguk, seraya melepaskan helmnya dia mengekori Mayla masuk kedalam kosan perempuan itu. Raksa sengaja tak menutup pintu, dia membiarkannya terbuka.


"mana?" tanya Raksa, Mayla kemudian memberikan kran airnya.


"kamar mandinya disana sa, Hati-hati aku sering tersandung kalau keluar kamar mandi" tunjuk Mayla. Raksa mengangguk langsung berjalan kearah kamar mandi. Pantas saja Mayla sering tersandung karena posisi lantai kamar mandi yang rendah dan tidak sejajar.


"mau aku buatkan sesuatu?" tanya Mayla melongokkan kepala ke arah Raksa.


"aku kenyang abis makan, may dimana lem paralonnya?" tanya Raksa, Mayla mengernyit tak begitu jelas kerena suara air yang cukup nyaring di kamar mandi,


"apa sa" tanya Mayla, Raksa menoleh sekilas


"lem paralonnya mana"


"oh sebentar ada di laci nakas" jawab Mayla dia langsung beranjak keluar dengan kaki yang basah.


"awas hati-hati kaki kamu basah" ujar Raksa. namun Mayla abai.


"sa lem paralon sepertinya di kabinet dapur, di laci nakas ngga ada soalnya" teriak Mayla sesaat setelah dia mengubrak abrik isi laci nakas. Raksa melongokan kepala karena tidak begitu jelas mendengar teriakan Mayla.


Mayla hendak berlari kearah kabinet dapur. karena kaki yang basah, lantai jadi licin dan Mayla tergelincir hampir mencium dinding untung saja tangan Raksa sigap menghalangi.


"aku bilang hati-hati kaki kamu basah, bebal" ujarnya seraya menyentuh bagian punggung tangan yang terkena kepala Mayla barusan.


"apa sakit sa?" tanya Mayla dengan khawatir, seraya memegang hidung dan bibir bergantian.


"tidak begitu, hidung kamu ngga papa?"


"ngga papa hanya sakit sedikit, kamu yakin ngga papa?" tanya Mayla meyakinkan, Hidung dan bibirnya saja sakit sepertinya dia menubruk cukup kuat punggung tangan Raksa.


Raksa menggeleng


"lemnya mana?"


"bentar kayanya di kabinet atas dapur" ujar Mayla seraya membuka kabinet atas. Dan benar saja lem paralon yang dia cari ada disana.


"ini" ujar Mayla,


"Sa kamu yakin ngga sakit, tapi itu terlihat memar" kembali Mayla berujar seraya melongokkan kepalanya kearah kamar mandi. Menunggu jawaban dari laki-laki yang kini tengah sibuk memasang kran air baru.


Raksa terdiam. lamat dia memperhatikan, punggung tangannya memang sedikit memerah tapi anehnya dia tidak merasakan sakit sedikitpun kecuali ketika tadi pas kejadian dimana punggung tangannya berbenturan dengan muka Mayla. Tapi itu tadi.


'aneh' —pikirnya.


dia kemudian mengarahkan tangannya pada kucuran kran air di samping kran yang hendak dia perbaiki ternyata warna merah itu luntur. menghela nafas sejenak Raksa menoleh


"ini bukan memar, tapi lipstik kamu may"


Mayla mengerjap seraya kembali menyentuh bibir, oh iya dia kan belum mencuci muka. otomatis lipstiknya masih tertempel di bibir.


"jadi selama dua hari ini kamu ngikat kran airnya?" tanya Raksa tepat setelah dia selesai memasang kran, Mayla mengangguk.


"apa tidak banjir keluar"


"sering, setiap pulang kerja atau kampus aku selalu ngepel lantai atau ganti ember yang udah penuh" jawab Mayla untung saja posisi lantai dapurnya berbeda kedudukan. setidaknya tidak begitu membuatnya cape karena air tidak sampai tempat tidur. namun karena posisi lantai yang tidak sama membuat Mayla terlalu sering tersandung.


"aku pulang ya" ujar Raksa seraya keluar dari kosan Mayla, Mayla mengangguk mengekori Raksa.


"eh kamu pacarnya Mayla" tanya perempuan kosan samping Mayla,


"bukan. tukang" susul Raksa segera. membuat perempuan itu melongo kaget langsung melempar tanya pada Mayla.


"dia tukang may?", Mayla tersenyum sekilas.


"hati-hati di jalan, makasih ya", Raksa mengangguk seraya menaiki aerox merah.


"kamu ngga mengantarkannya sampai gerbang depan kosan kita may?" tanya perempuan satunya lagi yang nampaknya baru saja keluar.


Mayla terdiam, karena dirinya memang tidak pernah mengantar siapapun sampai gerbang depan. toh ada satpam kan di depan, Mayla tak usah susah payah membuka gerbang kosan.


"tidak usah, cepat masuk istirahat" ujar Raksa segera.


sepeninggal Raksa semua perempuan di kosannya keluar mereka menanyakan siapa Raksa karena Mayla tidak pernah membawa laki-laki ke dalam kosan.


"eh apa iya dia tukang, ko aku ngga percaya" ujar salah satu perempuan disana


"kalau iya aku mau minta nomornya pada Mayla biar dia benerin kipas angin ku yang rusak" ujar perempuan satu lagi.


"setampan dan sebersih itu masa tukang?" perempuan yang satunya memberi komentar.


"pasti pacarnya Mayla"— dan banyak lagi nampaknya malam ini telinga Mayla dan Raksa akan panas karena pasti seluruh isi kosan membicarakannya.


"tau gitu tadi ngga usah minta bantuan Raksa" ujarnya seraya menutup gorden kosannya.


Mayla bukan tidak mau melakukannya sendiri, dia sudah mencoba sebisanya tapi kran airnya tidak pernah menempel dan berakhir air kran membanjiri dapur dan tempat tidurnya karena kran air yang terjatuh ke bak mandi.

__ADS_1


__ADS_2