Aku Tak Mengerti

Aku Tak Mengerti
Rahasia situnggal Pradasa


__ADS_3

Laki-laki itu terdiam seorang diri, memejamkan matanya sesekali seraya mengarahkan mouse pada beberapa folder file di komputernya. Dia Rega.


Hatinya selalu berkata, lupakan namun semakin dia melupakannya semakin sulit. semua ini bermula tepat ketika Rega kembali meninggalkan Mayla di mall sendirian, semenjak waktu itu Rega melihat Mayla berubah. karena ntah kenapa sudah hampir seminggu Rega merasa Mayla selalu menghindarinya, helaan nafas pertama, lolos dari mulutnya.


Awalnya dia hanya akan abai dan membiarkannya, namun semakin dia melihat Mayla yang terasa semakin jauh dari jangkauannya, dia benci ntah apa penyebabnya. puncaknya itu kemarin ketika dia menyuruh Mayla membawa makalah ke ruangannya. dia bermaksud bertanya perubahan sikap Mayla. sialnya malah ada Dimas yang bahkan tak pernah dia perkirakan akan datang. Makanya dia tak menaruh rasa kasihan sedikitpun ketika Dimas terhimpit pintu kaca waktu itu.


Dia kembali membuka roomchatnya bersama Mayla. semua pesan yang dia kirimkan, perempuan itu balas dengan singkat sampai dia tak mampu memanjangkan percakapan lagi.


kilas balik tentang pertemuannya bersama Mayla terputar secara spontan. tanpa sadar dia tersenyum. Ketika dia mengingat tangan kecil yang dia pegang pertama kali, tepat ketika sang ibu menyuruh dirinya menjaga Mayla kecil waktu itu.


Rega sangat menyukai anak kecil apalagi dia itu tunggal, dengan datangnya Mayla kedalam hidupnya cukup mengobati keinginan situnggal pradasa memiliki seorang adik. namun seiring berjalannya waktu rasa persaudaraan yang di pegang semenjak kecil itu berubah tepat ketika dia mulai memasuki bangku SMP.


spontan dia memegang ulu hatinya, karena Mayla kecil lah, yang membuat hatinya berdetak tak mengerti untuk pertama kalinya.


Jika kalian mengira, Mayla yang jatuh cinta duluan justru kalian salah. tapi sebaliknya perempuan itu lah yang mengenalkan cinta pada Rega.


sudut bibirnya kembali terangkat. kala dia kembali mengingat Mayla kecil yang selalu terekam dalam ingatan, senyumnya, ketawanya bahkan tangisannya. Ah Rega jadi merindukan perempuan muda itu. Rasanya dia ingin memeluk erat dan tak akan pernah dia melepaskannya. namun senyum itu luntur tepat ketika dia mengingat penyesalan yang dia rasakan.


Karena perbedaan usia yang cukup jauh Rega mundur memilih fokus dalam belajar, mengejar impian dan cita-cita mengesampingkan urusan hatinya. terlebih bisa saja ketika besar nanti Mayla tak menyukainya apalagi usia mereka terpaut cukup jauh lima tahun.


karena kesibukkan kuliah dan skripsinya membuat hubungan keduanya merenggang. Rega lebih sering menghabiskan waktunya dengan Aruna, selain karena mereka satu jurusan mereka juga satu esktrakulikuler dulunya. itu lah penyebab kedekatan Rega dan Aruna. ditambah semenjak perceraian kedua orang tua Mayla, dirinya merasa menyesal karena tak ada disamping perempuan itu ketika membutuhkan.


Tanpa sadar kini tangannya mencoret acak kertas di meja. menumpahkan rasa penyesalan yang masih dia sesali sampai sekarang.


Kembali dia mengingat awal kedekatannya dengan sang kekasih—Aruna. dulu dirinya dan Aruna hanya sebatas teman karena banyak yang berspekulasi jika keduanya menjalin hubungan, menyebabkan Aruna lambat laun menyukainya. Rega yang waktu itu masih menaruh rasa pada Mayla mencoba menyangkal dan melupakan dengan mencoba menjalin hubungan dengan temannya. anggaplah dia pengecut karena tak berani mengungkapkan. Dia hanya takut Mayla menjauh dan berbalik membencinya.


Helaan nafas kesekian kali lolos dari mulutnya. dia sesekali mengacak surai hitam legam itu sampai berantakan.


Penyesalan kedua dia rasakan, tepat ketika dirinya sudah menjalin hubungan dengan Aruna. Dia tak sengaja mendengar ketika Mayla sedang bercerita bersama temannya waktu itu, jika perempuan muda yang sempat dia sukai memiliki perasaan yang sama sepertinya. sedangkan dirinya yang berstatus kekasih orang, kini hanya bisa menyesal karena tak percaya dengan ocehan panjang yang selalu Dimas lontarkan ketika itu. karena sekarang dia tidak mungkin menyakiti Aruna—kekasihnya sendiri.


"Rega?"—sebuah suara mengudara menyadarkannya dari penyesalan masa lalu yang cukup sulit dia lupakan. Rega- laki-laki itu menoleh menemukan Dimas berdiri dari kubikel menatap kearahnya. Rega mengernyit segera melempar tanya


"kenapa?" tanya Rega. Dimas terdiam terlihat menelisik, sebelum menyuarakan kebingungan dari sikap langka si tunggal pradasa.


"tumben sekali melamun, kalau di lihat Arseno kamu melamun di jam kerja. bisa di pecat kamu" susul Dimas kemudian, membuat Rega terkekeh.


"faktanya ini jam kita istirahat" jawab si tunggal pradasa. membuat sisulung arganta merotasikan matanya kesal, seraya menatap Rega dengan muka yang menyebalkan.


"ah aku lupa alasan kamu kerja disinikan, karena Mayla. benerkan?" ujar Dimas lagi seraya kembali duduk meneruskan pekerjaan yang tertunda tadi.


Rega yang mendengar perkataan sulung Arganta barusan spontan langsung berdiri dan melihat kesana kemari, helaan nafas lega, lolos tepat ketika dia melihat kantor dalam keadaan kosong hanya ada dia dan Dimas di dalam.


"aku tak sebodoh dirimu ga, mengatakan secara gamblang di depan semua orang. jelas-jelas kamu sendiri sadar jika sekarang jam istirahat" ujar Dimas menyindir seraya kembali menyibukkan diri dengan kerjaannya. mengabaikan Rega yang hampir melemparkan dirinya pada lumpur hidup.


Gara-gara perkataan Dimas tadi dia jadi teringat kelakuan konyol yang dia lakukan. mulai dari berlari mencari Mayla di Mall sampai lantai dasar, berpindah tempat duduk dengan temannya di ruangan asisten dosen, itu semua semata karena dia ingin memperhatikan Mayla. karena dari tempatnya duduk sekarang dia dapat dengan jelas melihat Mayla yang selalu membaca buku di perpustakaan kampus.


dan lagi, penyebab dirinya mau menjadi wakil divisi Lacerta adalah karena Dimas sempat bercerita jika Raksa akan mengajak Mayla bergabung di perusahaannya. maka dari itu sebelum Mayla bergabung dia ditarik oleh Dimas ke perusahaan dan menjadikan Mayla sebagai hadiah bergabungnya si tunggal pradasa. sungguh licik bukan? menggunakan orang yang masih dia sayang hanya agar dirinya bergabung. Eh tunggu masih dia sayang?


"coba aku tebak kamu melamun lagi pasti karena belum bayar hutang pinjol kan?", Dimas berseru kembali di tengah mengetiknya. seraya sesekali dia memeriksa beberapa berkas yang di berikan Rega.


"aku tak semiskin itu sialan, orang tuaku bahkan masih mampu membiayaiku! meskipun aku tak bekerja" jawab Rega kala melepas lamunan kembali.


"iya deh, keluarga pradasa kan kaya. tujuh turunan ngga bakal habis" ujar Dimas terselip nada candaan disana, seraya menghentakan punggung pada sandaran kursi dia memutarnya kearah Rega.


"sayangnya anak tunggalnya begitu bodoh, sampai tak menyadari perempuan yang menyukainya", ujar Dimas kemudian seraya kembali meraih berkas di depannya.


Sedang Rega hanya diam membiarkan Dimas terus berceloteh, tak berniat sedikitpun merespon apalagi menjawab. karena memang apa yang Dimas katakan semuanya benar. Dia adalah laki-laki yang bodoh karena tak menyadari ketika mata indah perempuan muda itu berbinar ketika menatapnya, tersenyum malu-malu ketika dia menggodanya, dan menjadikan pelukannya sebagai obat penenang pereda kepahitan kehidupan ketika perempuan muda itu menangis. tapi semua itu dulu. balik lagi sebelum dirinya menyandang sebagai pacar Aruna.


"coba saja Mayla menyukai adikku, akan kurestui pasti" perkataan Dimas seakan memanas-manasi si tunggal pradasa, yang kini tengah berpikir jika saja membunuh dan menguliti itu di halalkan hukum, sudah pasti dia akan melakukannya sekarang.


karena dia memang sempat cemburu dengan kedekatan Mayla dan Raksa, namun kembali lagi siapa dirinya? pantaskah dia cemburu? lebih lagi usianya jauh lebih tua, terlihat kekanakan sekali jika dia egois dengan apa yang hatinya inginkan. sial sekarang dia kesal sendiri jadinya.


"asal kamu tau ga, Nampaknya Arseno juga ingin menjadikan Mayla sebagai ibu tiri buat Rehan" susulnya lagi, tak tau saja di sebrang Rega sudah berubah seperti banteng yang siap menyeruduk sahabatnya. tunggu Arseno? Rega mengernyit spontan menoleh seraya melempar tanya tak mengerti


"Arseno?....seno mengenal Mayla?" tanya Rega, anggukan merupakan satu respon positif dari sahabatnya. seraya menoleh Dimas kembali berujar.

__ADS_1


" aku pernah melihat, Arseno berduaan dengan Mayla di kantor. mereka terlihat sangat akrab, aku jarang melihat Arseno tersenyum pada perempuan apalagi setelah dia bercerai" jawabnya seraya mengulurkan beberapa berkas pada Rega.


"ada yang belum kamu tanda tangan ga coba cek ulang" ujarnya kemudian. Rega yang fokusnya masih pada Arseno dan Mayla pun hanya menaruh berkas itu di meja. kembali tunggal pradasa itu bertanya menyuarakan rasa penasarannya.


"semenjak kapan Arseno mengenal Mayla?" tanyanya kemudian. decakan adalah Respon yang dia Terima.


"pertanyaan mu salah ga, yang bener itu semenjak kapan mereka jadi dekat karena aku tak sekali dua kali melihat mereka bersama ketika malam minggu" jawab Dimas, dia menjadi teringat tepat ketika dirinya tengah mengantri waktu itu dia melihat. Arseno dan Mayla sedang makan bersama di lantai atas sebuah mall. dan lagi dia sempat mendengar perbincangan beberapa orang yang menyebutkan jika mereka adalah sepasang suami istri, Dimas kembali tersenyum ketika mengingatnya.


mendengar kata malam minggu ntah kenapa Rega jadi teringat ketika dirinya dua kali meninggalkan Mayla di hari yang sama. mungkin kah, ketika dirinya meninggalkan Mayla, perempuan itu bertemu dengan Arseno dua kali? Mendengar ketika Dimas memberitahunya jika dia melihat keduanya tak sekali dua kali di malam minggu? tapi mendengar jawaban Mayla dulu dia tak begitu yakin karena Mayla tak pernah menceritakan jika perempuan itu bertemu Arseno.


"melamun lagi, kebiasaan melamunmu sepertinya sudah stadium akhir ga. bagaimana jika aku juga menyukai Mayla sepertinya terdengar seru! Setidaknya dapat membantu mengakhiri sikap pengecutmu" susulnya menarik amarah si tunggal pradasa. jika saja Dimas tidak sigap menangkap, mungkin kepalanya sudah benjol akibat mouse yang tiba-tiba di lempar Rega dari kubikelnya.


"sialan GALVINO!" Teriak Dimas penuh kekesalan. sedang Rega terlihat tak peduli,


"balikin" ujarnya seraya mengulurkan tangan meminta mousenya kembali.Dimas hendak melemparkan sebelum suara pintu terbuka mengurungkan niatnya.


Agita dan Neira masuk yang diekori Raksa dan Mayla di belakangnya.


"ada apa dengan muka kesal kalian itu?" tanya Agita mengernyit bingung, karena tepat ketika perempuan itu membuka pintu ruangan. yang pertama dia lihat, adalah posisi Rega dan Dimas yang berdiri berhadapan, seraya Dimas yang terlihat hendak melempar Rega dengan muka penuh kekesalan.


"ngga ada apa-apa, kami hanya sedang bergurau" jawab si sulung Arganta, seraya menyerahkan mouse dengan sedikit menekan tangan Rega. sedang Rega hanya berdecak sebal, seraya duduk kembali.


"Eh Mayla baru sampe?" tanya Dimas dengan ramah, Mayla mengerjap perlahan semenjak pertemuannya dulu di ruangan Rega, Dimas memang sedikit berbeda tidak begitu seperti dulu, berbicara seadanya pada Mayla. kini sulung Arganta itu lebih banyak berbicara padanya.


"mas Dimas bisa melihatnya kan, kalau kita baru sampe" bukan itu bukan jawaban Mayla, melainkan Raksa si bungsu Arganta. mendengar jawaban Raksa Dimas abai, sudah terbiasa dengan jawaban sarkas adiknya itu.


"kalian datang bersama?" tanya Dimas kemudian, Mayla mengangguk


"iya ka kami datang barengan"


"BAGUS DONG!" Teriak Dimas antusias dan terdengar nada kebahagiaan dari teriakannya, teriakan tadi rupanya mambuat semua orang di sana kaget. terlebih Rega yang sedari tadi memendam kekesalan pada si sulung Arganta. sedang Raksa hanya berdoa semoga penyakit langka masnya itu cepat di angkat Tuhan. sial dia malu. kenapa masnya itu harus kambuh di waktu yang tidak tepat.


"sudah semua kumpulkan?, ayo Arseno sudah menunggu di Piscess" ujar Rega kemudian seraya beranjak meninggalkan Dimas dengan kebahagiaannya.


Arseno mengundang satu persatu divisi untuk berdiskusi bermaksud mendengarkan semua kesulitan dari setiap divisi, agar pemimpin andromeda itu setidaknya dapat membantu masalah yang muncul dari setiap divisinya. dan kini bagian dari divisi Lacerta.


"sial aku ditinggal" ujar Dimas seraya menyusul semua orang ke lantai enam, ruang rapat.


Didalam ruang rapat sudah ada Arseno dan sekretarisnya, keduanya terlihat menyambut kedatangan divisi Lacerta. namun mengernyit ketika sulung sadewa itu tak menemukan Dimas selaku pemimpin Lacerta.


"Dimas mana ga?" tanya Arseno.


"di belakang" jawab Rega seraya menarik kursi dan menyimpan laptop di meja rapat. benar saja tepat ketika Rega menyelesaikan perkataannya tadi Dimas datang dengan ngosngosan. kembali menarik tanya pada si sulung sadewa.


"ada apa dim dengan muka kamu, kenapa berkeringat?" tanya Arseno kaget, mengingat semua karyawan Lacerta mengetahui jika dirinya adalah teman seangkatan Rega dan Dimas. Sulung sadewa itupun berbicara dalam bahasa informal. tidak seperti rapat umum kemarin dia mengimbuhkan kata 'pak' di depan nama keduanya—Rega dan Dimas.


"sial sekali, aku di tinggal dan harus menaiki tangga darurat" ujarnya menarik kursi di samping Rega seraya mendudukinya. Rega yang masih sedikit kesal dengan Dimas menendang pelan kursi Dimas menarik atensi sebal si sulung arganta. Arseno yang sudah mengenal keduanya cukup lama bisa mengenali dengan mudah jika kedua sahabatnya itu tengah berselisih.


"baik kita mulai aja ya, santai aja kalian kan juga sudah kenal sama saya. kalau saya dan kedua pemimpin divisi kalian itu satu angkatan" ujar Arseno tepat ketika dia mulai membuka rapat dia memperhatikan satu persatu karyawan Lacerta, namun ntah kenapa pandangannya terhenti tepat ketika jelaga hitamnya bertemu dengan mata indah milik Mayla. walau hanya sepersekian detik dia langsung mengalihkannya.


"oke, supaya mempersingkat waktu kita akan mulai rapat divisi Lacerta" ujar nya kemudian. Dimas langsung beranjak mulai memaparkan presentasi divisinya.


Keadaan pun kembali kondusif para peserta rapat mulai memperhatikan pemaparan Dimas didepan. begitu juga Arseno.


"oh iya Dim, bagaimana apakah sudah menemui salah satu penulis kita?" tanya Arseno. Dimas mengangguk


"sudah, kemarin kami sudah berdiskusi, mengenai penerbitan bukunya" jawab dimas seraya menunjukkan beberapa hasil diskusinya dengan sang penulis. Arseno mengangguk.


"oh iya, tolong kasih tahu pada penulis baru kita. Setiap bukunya pasti akan di promosikan di langit Jingga kafe" tutur Arseno kemudian.


"baik Terima kasih dim, kamu boleh tutup presentasinya" ujar Arseno seraya menyuruh Dimas mengakhiri presentasinya.


"begini, untuk event andromeda nanti saya membutuhkan seseorang untuk mengunjungi kafe saya, karena hari ini saya tidak bisa. mengingat kerjaan saya masih banyak dan tidak bisa di tunda. Kira-kira dari kalian siapa yang bisa kesana? tenang saja nanti saya berikan lokasinya" tukasnya seraya kembali menatap satu persatu peserta rapat.


"bagaimana kalau Raksa saja dengan Mayla" usul Neira. yang diangguki Agita juga Dimas. sedang Rega terlihat sedikit tidak suka,ntahlah semenjak dia termakan perkataan Dimas tadi pikirannya sedikit pusing hanya karena Mayla. sial dia kembali mengingat ketika Dimas berkata jika sahabatnya itu juga akan mendekati Mayla. mengingatnya saja sudah menyebalkan apalagi ketika Dimas serius dengan kata-katanya bertambah sangat memuakan.

__ADS_1


"boleh, kalian bisa? nanti saya kasih lokasinya pada Dimas, biar Dimas yang ngirim lokasi pada kalian ya" ujar Arseno, menoleh pada Raksa dan Mayla bergantian.


"boleh pak" jawab Mayla. sedang Raksa hanya menangguk.


"oke kalian boleh kembali, terima kasih ya" pungkas Arseno seraya mengakhiri rapat.


tepat ketika semuanya sampai di ruangan lacerta Dimas langsung bertanya pada Mayla dan Raksa, ketika keduanya sudah duduk.


"kalian mau langsung pergi atau mau istirahat dulu?" tanya Dimas. mengingat keduanya baru juga sampai dan langsung mengikuti rapat tak sempat istirahat walau sejenak saja. Mayla menoleh kearah Raksa menunggu jawaban dari si bungsu Arganta. Bukannya menjawab Raksa malah melempar tanya pada Mayla


"kamu lapar ngga?" tanyanya, Mayla mengangguk.


"istirahat bentar Mas" jawab Raksa menoleh kearah si sulung. Dimas mengangguk mengerti.


"yasudah kalian istirahat dulu, nanti aku kirim lokasinya padamu sa" ujar Dimas kemudian.


"kenapa ngga jadian aja sih kalian?" ujar Neira, perempuan itu merasa gemas dengan interaksi dua pegawai part time di divisinya.


"iya, dua-duanya jomblo lagi" susul Agita mendukung.


"cepatlah pergi kalian, sebelum sore" Rega yang sedikit belum sembuh dengan kekesalan tak berdasarnya, menghindari dua pembicaraan perempuan itu yang menjurus ke ranah pencomblangan. Dimas diam-diam kagum dengan kehandalan aktingnya karena berhasil memanas-manasi sahabatnya.


"bener kata Rega lebih baik kalian segera pergi mungkin saja kalian sudah lapar" tukasnya. Raksa dan Mayla mengangguk keduanya beranjak keluar dari ruangan.


"mau makan dimana?" tanya Raksa, Mayla terdiam seraya memukul pelan bibir dengan telunjuknya. Raksa ntah kenapa langsung membuang muka. dia teringat ketika bibirnya tak sengaja menubruk pelipis perempuan di depannya. atau bisa kita sebut mencium? ah tidak kalau mencium itu sengaja sedangkan dirinya kemarin itu tidak sengaja jadi mari kita sebut tubrukan.


Raksa berdehem guna mengusir pikiran anehnya.


"kayanya rumah makan yang dekat gang arah kesini enak Sa" jawab Mayla akhirnya. Raksa mencoba mengingat rumah makan yang Mayla maksud barusan. walau tak begitu yakin dia mengangguk seraya merajut langkah kearah parkiran, yang di ekori Mayla.


tak memakan waktu lama mereka pun sampai karena rumah makan yang di maksud Mayla tak begitu jauh dari Andromeda.


"mau pesen apa?" tanya Raksa tepat ketika keduanya menduduki kursi, saling berhadapan. Mayla yang baru pertama kali ke rumah makan itu sedikit bingung memilih menu.


"aku ngga tau, aku baru pertama kali kesini" jawab Mayla. Raksa kemudian mengambil alih menu.


"walau pertama kali, setidaknya kamu bisa memilih nama makanan yang kamu sukai atau dengan melihat gambarnya" tutur Raksa seraya menunjuk beberapa gambar menu disana.


"aku mau ikan, minumnya air putih aja sa" tunjuk Mayla kemudia tepat ketika Raksa membuka lembaran kedua buku menu itu. Raksa mengangguk.


"tunggu"


tak begitu lama pesanan mereka pun datang. keduanya kini menikmati santapan masing-masing. meskipun ini baru pertama kali untuk keduanya mendatangi rumah makan itu, namun makanan yang dihidangkan disana patut di rekomendasikan karena rasanya yang lezat.


setelah selesai makan kini keduanya tengah menunggu pesan chat dari Dimas di parkiran rumah makan itu, karena bosan Raksa pergi ntah kemana meninggalkan Mayla sendiri yang duduk menyamping di motor. seraya terus menyapukan pandangan, hingga pandangannya jatuh pada stand banner dengan tulisan "Terima steril kucing", dan tanpa sengaja Raksa muncul dari sampingnya. dia teringat dengan perkataan Mario bahwa steril itu sama saja dengan sunat.


'apa benar?'


"sa" tanya Mayla tepat ketika Raksa mengulurkan minuman dingin padanya.


"apa" jawabnya seraya menyender pada motor, disamping Mayla duduk.


"steril kucing itu gimana? kata Mario katanya disunat ya?"tanya Mayla menoleh kearah Raksa. Raksa menoleh sekilas sebelum dia meminum air putihnya.


"ngga tau. jangan percaya sama perkataan Mario may" susulnya kemudian.


"sa"


"Hm"


"apa.....kamu disunat?",


bruush!!


Rupanya pertanyaan random Mayla tadi berhasil meloloskan air putih keluar kembali dari mulut si bungsu arganta. Raksa dengan cepat mengelap air di dagunya. dia menatap Mayla seakan bertanya dari mana pertanyaan konyol perempuan itu lontarkan barusan. jujur Raksa bingung menjawabnya, ditengah kebingunganya mencari jawaban pesan dari Dimas rupanya sebuah penyelamat situasinya kini.

__ADS_1


"ayo, mas Dimas sudah mengirimkan lokasinya, nanti keburu sore May" ajak Raksa seraya menaiki motor yang sedari tadi dia sandari. Mayla mengangguk kemudian mengganti posisi duduknya.


__ADS_2