Aku Tak Mengerti

Aku Tak Mengerti
Kembali bertemu?


__ADS_3

"Nunggu apa mau ikut kedalam sa?” tanya Mayla, seraya memberikan helm kepada Raksa.


Mereka kini sudah sampai di depan kafe yang menjadi langganan mereka setiap membeli kopi, seperti biasa teman kantor mereka atau lebih tepatnya senior mereka menyuruh mereka membeli kopi untuk melembur nanti.


“nunggu” jawab Raksa, tangannya mengambil helm yang di sodorkan Mayla kemudian dia cantelkan di spion motor. Mayla yang mendengar jawaban Raksa hanya mengangguk,


Dia merajut langkah mulai memasuki kafe, Mayla baru menyadari jika ada pelayan di samping pintu. Biasanya Mayla hanya akan berjalan masuk tanpa peduli dengan pelayan yang mungkin selalu Mayla abaikan keberadaannya.


"English breakfast sama croissantnya ya satu"


Mayla berjalan ke meja counter bersiap untuk mengantri bersama yang lain. Sudah hampir lebih lima menit dia berdiri namun laki-laki di depannya tak kunjung menyelesaikan transaksinya.


Mayla mendengus kesal karena menunggu cukup lama, kalau Mayla bukan warga negara yang baik, mungkin dia sudah menyerobot laki-laki didepannya ini dari tadi. Dia sudah pegal berdiri.


'English breakfast? sebenarnya kopi apa yang dia pesan, lama sekali'—batin Mayla kesal.


Mayla menghela nafas mencoba untuk kembali bersabar, namun laki-laki didepannya ini tak juga selesai, membuat dirinya semakin kesal. Mayla mulai berpikir bagaimana menegur laki-laki didepannya ini, untuk memberitahukan bahwa antrian masih panjang dan yang membeli kopi bukan hanya dia seorang.


Mayla sesekali mengecek jam tangannya, sudah sepuluh menit Mayla berdiri. Orang dibelakangg Mayla pun sudah sedikit gaduh akibat laki-laki didepannya yang cukup lama. sungkan, padahal Mayla bisa menegur atau sekedar basa basi misal menanyakan apakah laki-laki di depannya ini sudah selesai atau belum.Namun Mayla memilih diam membiarkan batinnya saja yang berkoar.


'Lama sekali sih'—batin Mayla.


Mayla bernafas lega tat kala dia melihat laki-laki didepannya sudah menyelesaikan transaksinya, matanya terus memperhatikan. tak melepas atensi barang sedetikpun dari laki-laki tadi.


Mayla sampai heran apa ada masalah dengan kepalanya, kenapa dia terus saja memperhatikan laki-laki itu. Kenal saja Mayla tidak.


“kembaliannya pak” teriak pelayan itu terlihat mengacungkan kertas bond dan juga uang kertas lima puluh ribuan yang nampaknya kembalian milik laki-laki tadi.


“ambil aja” jawab laki-laki itu menoleh sekilas, kemudian berjalan kembali menuju pintu keluar kafe sambil mengenggam gelas minuman di tangan kirinya.


“mba.....maaf mba mau pesan apa?” tanya pelayan di depan Mayla. sekaligus menarik atensi Mayla dari pandangannya.


“eh iya maaf mas.... Saya pesan , Matcha green tea 2, ice caffe latte 3 dan 1 chamomile blend, semuanya atas nama Mayla” jawab Mayla menyebutkan pesanannya dengan teliti, dia membaca ulang pesan yang dikirimkan senior di kantornya.


Sambil menunggu Mayla mengedarkan pandanganya kesetiap sudut kafe, sudah lama Mayla tidak kesini, biasanya dia akan kesini setiap akhir pekan hanya untuk menikmati kopi dan menghilangkan jenuhnya dari kerjaan. Namun akhir-akhir ini Mayla sangat sibuk, waktunya tersita penuh untuk kuliah dan juga kerjaannya.


Pandangannya jatuh pada sebuah meja disetiap sudut kafe. Disana terdapat sebuah meja bulat kecil berwana hitam, dengan ukiran putih di setiap sisinya, di atasnya ada sebuah toples kaca berukuran sedang berisi bola-bola coklat. Yang lebih menarik di dalam toples itu terdapat beberapa kertas yang bertuliskan “have a nice day”, “smile baby!!”, “Love your self”,”congratulation” dan banyak lagi Mayla tak sempat membaca semuanya. Kehadiran toples coklat itu justru menambah kesan manis kafe. ditambah alunan musik yang tak henti yang membuat siapapun akan betah berlama-lama disana.


Sungguh diam-diam Mayla sedikit kagum kepada pemilik kafe, ataupun orang yang mendesign kafe itu. karena dia seakan memperlihatkan Arti warna monokrom yang manis.


“apakah coklat itu bisa dimakan?” gumam Mayla pandangannya tak lepas dari toples kaca yang disimpan di setiap sudut kafe.


“bisa mba"


"Eh"


"maaf kebetulan saya tak sengaja mendengar. Kalau mba mau silahkan, coklat itu memang sengaja disimpan disitu. agar siapapun yang menyukai coklat bisa dengan mudah mengambilnya. Coklat itu gratis kalau mba mau silahkan diambil saja” susul pelayan itu segera, nampaknya dia sudah terbiasa menjawab terdengar lugas dan jelas.


Satu lagi yang membuat Mayla betah di kafe itu selain kafenya yang bersih, tutur kata pelayan di kafe itu sangat ramah dan sopan.


“terima kasih, nanti saya coba” jawab Mayla tersenyum kearah pelayan itu.


Gratis, siapapun akan tergiur dengan sesuatu yang gratis apalagi itu coklat. Konon katanya coklat bisa membuat mood seseorang kembali baik, tapi tidak bagi Mayla. Karena Mayla tidak begitu menyukai coklat. Semahal apapun coklat itu tetap saja itu coklat, dan Mayla tidak begitu menyukainya. Tiba-tiba Mayla teringat dengan Raksa.


Tak lama setelah itu panggilan atas nama dirinya pun terdengar, Mayla langsung mengambil pesanannya, sebelum keluar dirinya menyempatkan untuk mengambil satu bola coklat di dalam toples yang dapat dia jangkau.


“nunggu lama?” tanya Mayla berjalan ke arah Raksa seraya menyerahkan pesanannya untuk di simpan di dalam box motor.


Alih-alih menjawab Raksa malah menyodorkan helmnya, agar Mayla segera memakainya, sementara Raksa menyimpan pesanan senior mereka ke dalam box motor.


"pakai helmnya" ujar si bungsu Arganta. sedang Mayla sibuk membuka bola coklat yang tadi dia ambil, abai dengan perkataan sibungsu Arganta. hingga tangan Raksa mengambil alih helm itu dan memakaikannya.


“sa mau?” tanya Mayla, seraya memperlihatkan sebuah bola coklat yang baru saja dia buka di telapak tangan kanannya.


Iris kecoklatannya menatap lekat wajah siperempuan, membuat yang di tatap merasa kikuk bercampur bingung. tanpa berkata apapun. dia menunduk memakan coklat yang ada di telapak tangan, membuat kaget sipemilik tangan karena beradu dengan bibirnya.


"sejujurnya aku tidak menyukai coklat" ujar si bungsu Arganta, pipinya terlihat mengembung kerena memakan bola coklat dalam sekali telan.


Sekitar dua puluh menitan perjalanan dari kafe ke kantor, dan selama itu juga pikiran Mayla terpusat pada laki-laki tadi.


'aneh ko bisa kepikiran sama laki-laki tadi ya, memangnya dia siapa???'—pikir Mayla.


...•••...


Selama masuk ke meja Rapat Mayla tak melepas atensi dari seorang laki-laki yang duduk di depan, dia bahkan mengabaikan pemaparan yang sedang disampaikan Dimas sedari tadi.


jujur ketika pertama kali masuk Pisces—ruangan Rapat Andromeda—Mayla kaget dengan adanya orang baru di rapat kali ini.


"may" bisik Raksa.


"iya, kenapa sa?" ujar Mayla seraya menoleh sekilas.


"jangan di liatin terus".


"kelihatan ya?" tanya Mayla. Sedang Raksa hanya diam tak merespon. Jelas lah kelihatan mungkin kalau mata Mayla sebuah laser orang yang duduk di depan sudah bolong dari tadi.


“Pak!”, Rega mengacungkan tangan membuat atensi semua anggota rapat terarah kepadanya. Dimas mengangguk sebagai respon. Ketika di meja rapat mereka semua sudah sepakat akan memanggil Dimas dengan sebutan “pak” mengingat pangkat Dimas jauh lebih tinggi dari mereka.


"silahkan Rega"


“saran saya, bagaimana kalau kita memperkenalkan terlebih dahulu pak Arseno, karena sedari tadi banyak karyawan rapat yang penasaran” ujar Rega. Membuat seluruh karyawan disana termasuk Mayla sedikit antusias menantikannya.


"arseno siapa?"


"yg itu kali ya yang duduk di kursinya pak Arsatya?"


"iya, pengganti pak Arsatya kali ya"


"tampan sekali"


"iya, betah nih kalau gini atasan"


"iya bening, ngga bosen kalau di kantor"


Kurang lebih seperti itu bisikan beberapa anggota rapat yang tak sengaja terdengar Mayla.


“betul sekali Pak Rega, terima kasih sudah mengingatkan. Saya pribadi meminta maaf karena tidak memperkenalkan beliau dulu karena tadi waktunya sudah hampir siang ditakutkan pemaparannya tidak cukup" ujar Dimas menjelaskan karena tadi ketika menjelang Rapat, Arseno yang harusnya menjadi pemimpin rapat masih belum juga datang maka di gantikan oleh Dimas sesuai jadwal pemimpin rapat mingguan.

__ADS_1


"silahkan Pak Arseno waktu dan tempat saya persilahkan" ujar Dimas kembali.


"Baik Terima kasih pak Dimas. selamat pagi menjelang siang, sebelumnya saya minta maaf karena saya datang telat di rapat pertama saya bersama karyawan Andromeda, karena tanpa di duga ada sedikit halangan tadi. Perkenalkan Saya Arseno Jenggala Sadewa panggil saja Arseno, seeprti yang kalian lihat saya pemimpin Baru Andromeda menggantikan Pak Arsatya, ada yang mau ditanyakan?" ujar Arseno, dari suaranya Mayla bisa menerka Arseno adalah laki-laki dewasa yang lugas.


'oh namanya Arseno' —batin Mayla.


"pak udah punya pasangan?" tanya Neira yang membuat seluruh pasang mata di sana langsung tertuju kearahnya. Arseno tersenyum sekilas, terlihat menghela nafas sebelum berujar


"kebetulan saya sudah menjadi duda, mau mencoba mengganti mantan istri saya?" ujar Arseno menghangatkan suasana. Jawaban Arseno tadi berhasil mengalihkan suasana menegangkan di meja rapat. terbukti kini sebagian karyawan perempuan disana berbisik-bisik membicarakannya, tapi berbeda lagi dengan Mayla yang tak melepas pandang barang sedikitpun, kenapa karena Arseno adalah laki-laki yang tadi— Laki-laki menyebalkan yang membuatnya pegal karena menunggu. Meskipun hanya melihat sekilas, Mayla dapat mengenal, jika dia adalah laki-laki yang sama. Karena di hari yang sama mereka ketemu.


"pak anak bapak usia berapa tahun?" tanya salah satu perempun di meja Rapat. kembali si pemimpin mengulas senyum sebelum berujar


"mau dua tahun, masih ada yang penasaran dengan saya?", dirasa tak ada yang bertanya lagi Arseno kembali berujar


"baik karena tidak ada yang ingin ditanyakan lagi, bisa kita lanjutkan pemaparan yang tertunda tadi? Silahkan pak Dimas lanjutkan, terima kasih untuk waktunya" pungkas Arseno. Dimas langsung berdiri menggantikan Arseno dan mulai melanjutkan lagi pemaparannya.


"bagaimana apakah sudah jelas? Ada yang ingin di tanyakan?—Oh iya silahkan Pak Raksa" ujar Dimas tatkala dia melihat Raksa mengangkat tangan bermaksud bertanya.


“Ma—Pak saya mau bertanya, ini kan even besar Andromeda kenapa memilih indoor kenapa tidak outdoor saja pak?” tanya Raksa, tanpa dia sadari pertanyaan barusan adalah perwakilan dari seluruh isi kepala anggota rapat kini.


"baik Raksa terima kasih untuk pertanyaannya" ujar Dimas.


"begini kenapa kita memilih indoor karena sekarang musim nya tidak bisa diprediksikan ntah itu bakal hujan atau ngga jadinya untuk keamanan bersama kami memutuskan untuk memilih indoor" jawab Dimas


"pak maaf bener kata Pak Raksa kalau, indoor bugdet nya juga besar sedang outdoor saya rasa lebih sedikit dibandingkan indoor" ujar salah satu karyawan yang lain—Reno.


"betul sekali pak apalagi kalau indoor untuk menyewa gedung saja kita harus sebulan atau ngga seminggu sebelum acara. itu juga jarang pak yang nerima mendadak pak, dan harus sudah di booking plus DP. ditambah gedung atau hotel di sekitar sini sangat sulit dan jauh" tambah salah satu karyawan lain—Hendrian.


"sebelum saya menjawab ada lagi yang ingin ditanyakan atau menambahkan?" tanya Dimas.


"saya pak, saya hanya ingin menambahkan saya setuju dengan saran Pak Raksa. Kalau outdoor bukannya tempatnya juga lebih luas dan banyak di sekitar sini lapangan atau lahan yang masih luas pak" tambah Agita.


Sedang Mayla masih fokus dengan apa yang dia lihat. Arseno. Bahkan dia tak menyadari sedari tadi, Rega juga memperhatikannya. memperhatikan bagaimana Mayla memandang Arseno.


“Pak Dimas maaf ijin kan saya yang menjawab boleh pak" ujar Arseno. Tatkala Agita selesai menyuarakan pendapatnya tadi. Dimas menoleh kemudian mengangguk dan mempersilakan Arseno untuk menjawab.


"pertama-tama terima kasih, untuk saran dari kalian semua saya tampung dulu, nah disini saya akan menjawab alasan memilih indoor. bener kata Pak Dimas, cuaca menjadi alasan pertama kenapa saya memilih indoor. dan untuk gedung memang mengingat disini kebanyakan Ruko-ruko dan kafe-kafe maka sangat sulit sekali menemukan gedung dan Hotel makanya disini saya memilih kafe untuk acara nanti. Dan untuk budget yang kalian sebutkan tadi, Tenang itu sudah saya perhitungkan bersama dengan Divisi Corvus sebelum bertemu kalian di meja rapat sekarang. Bagaimana ada yang masih mau bertanya?" ujar Arseno menjelaskan dengan panjang lebar. Tak ada yang bertanya semuanya diam, karena Arseno menjawab dengan jelas dan lugas.


Tepat setelah itu, suara pintu yang terbuka menarik atensi semua orang di ruang rapat. Diambang pintu, seorang laki-laki tampan dengan rambut hitam sebahu berdiri menatap Arseno sekilas.


"siapa itu?"


"orang baru atau karyawan baru kali"


"divisi apaan?"


'bukannya dia itu laki-laki yang waktu itu ya?'


"maaf saya telat" ujarnya seraya berjalan kearah kursi yang kosong, dia mengikat sebagian rambutnya kebelakang. terlihat laki-laki itu memakai anting perak berbentuk bulan sabit.


Deheman Arseno mengembalikan keterkejutan dari datangnya laki-laki tadi, spontan semua perhatian langsung mengarah kembali padanya.


"perkenalkan dirimu dulu ka, jangan langsung duduk" ujar Arseno. Laki-laki itu kemudian berdiri melihat satu persatu anggota rapat disana tanpa ragu.


"perkenalkan saya Arsaka. Arsaka Liandanu Sadewa" ujarnya singakat.


"eh iya ya beda rambutnya aja"


"masih satu keluarganya kali"


kurang lebih seperti itu kegaduhan di meja rapat, tepat ketika Arsaka selesai memperkenalkan diri tadi.


"saka" gumam Raksa tatkala pandangannya beradu dengan Arsaka. Mayla menoleh yang tak sengaja mendengar gumaman Raksa.


"kamu mengenalnya sa?" tanya Mayla, Raksa mengangguk.


"sebelumnya saya minta maaf atas keterlambatannya. Arsaka adalah salah satu perwakilan dari band yang akan mengisi event Andromeda nanti" ujar Arseno menjelaskan keberadaan Arsaka di tengah-tengah rapat.


"maaf pak sebelumnya, kalian adik kakak. Soalnya terlihat mirip?" tanya Agita tiba-tiba.


Membuat semua peserta rapat perempuan terlihat antusias menantikan jawaban.


"ngga" jawaban ini keluar dari Arsaka.


"iya, dia adik saya" sedang jawaban ini keluar dari Arseno.


"oh pantes pak kalian sama-sama tampan" ujar Neira yang diangguki agita. Sedang Rega dan Dimas hanya menggeleng melihat kelakuan karyawan mereka.


Mayla sedari tadi hanya memperhatikan setiap pemaparan Arseno tak ikut menyuarakan pendapat seperti karyawan yang lain, mengingat dia hanya seorang pekerja lepas di Andromeda sesekali dia hanya mengangguk sambil menuliskan beberapa materi yang dirasa penting baginya.


Tak terasa rapat pun selesai satu persatu anggota rapat mulai meninggalkan tempat duduknya, begitu Juga Mayla.


...•••...


"kamu nanti sama Mayla harus mau WFO ya jangan WFH dulu soalnya ada even pasti sibuk banget nih para senior kalian" ujar Dimas tepat ketika mereka sampai di Lacerta.


"iya juga Dim, aku ngga kepikiran tapi apa mau kalian jadi WFO?" tanya Rega sambil menyender di kubikelnya.


Agita—perempuan itu berseru semangat, seraya menarik kursi.


"harus mau dong, kalian harapan satu-satunya lacerta" ujarnya dramatis


"eh kopinya kamu simpan dimana sa?" tanya Neira. Raksa yang sedari tadi diam tak merespon kemudian beranjak berjalan kearah pantri.


"Dim adik kamu sedang ada masalah, kenapa dia diam saja dari tadi?" tanya Neira heran dengan keterdiaman Raksa.


"ngga tau, setau ku sih dia emang kaya gitu jarang bicara" jawab Dimas sambil berjalan kemejanya.


"beda tapi ka, sedari tadi Raksa seperti dalam mood buruk" tambah Mayla pandangannya dia arahkan ke Pantri melihat Raksa.


"nah kan aku aja yang ngga deket-deket banget sama Raksa ngeh, apalagi Mayla yang setiap hari kaya perangko, ngga lepas" ujar Agita membenarkan. Sedang Dimas terlihat menyibukkan diri dengan kerjaannya.


"jangan menggosip, orangnya ada di depan kalian tanyakan langsung bisa" ujar Raksa sambil menyimpan beberapa kopi disana.


"ini pesenan kalian" tambahnya, dia mengambil satu kopi yang kemudian dia bawa kemejanya.


"lembur lagi" ujar Neira, yang diangguki Agita.

__ADS_1


"eh iya Ga ini kita mau jadi nambah karyawan?" tanya Agita menoleh kearah Rega


"tanyakan pada kepala divisi kalian lah bukan aku" ujar Rega dagunya dia arahkan pada kubikel Dimas.


"ini sebenarnya usul Arseno karena karyawan di divisi kita paling sedikit" ujar Dimas tanpa menoleh anak sulung Arganta itu masih menyibukkan diri dengan komputernya.


Lacerta memang salah satu divisi paling sedikit karyawannya mengingat sulitnya mencari pekerja yang mahir dalam bidang editor naskah. Meskipun sudah di tambah pekerja lepas—Mayla dan Raksa—divisi ini masih terbilang sedikit dibanding Divisi Andromeda yang lain salah satunya Trianggulum (IT), pegasus (Marketing), dan perseus (Kreatif) yang menempati barisan pertama karyawan terbanyak Andromeda. kedua ada Corvus (Umum) kemudian Lacerta (penyunting) dan di susul oleh Aries (personalia).


"iya bener kata Dimas menurut Arseno kita memang seharusnya nambah orang karena kita bakal keteteran kalau nanti suatu saat aplikasi kita benar-benar diliris" ujar Rega.


mendengar perkataan Rega barusan Raksa menoleh mengernyit bingung sambil berujar


"dirilis gimana bang?" ujar Raksa


"maksudnya diliris di playstore atau appstore gitu ka?" tanya Mayla meyakinkan.


"akan sulit sih kalau itu, karena sudah menjadi pengalaman beberapa pemimpin andromeda tidak berhasil mendapatkan persetujuan pihak HO" ujar Agita


"betul mas, kata mba agit dan lagi pihak IT kita masih melakukan pengembangan. Apa mungkin?" usul Raksa


"simpan pendapat kalian untuk di pisces ya, biar ngomongnya langsung sama Arseno, masalah di setujui atau tidaknya liat aja besok. sekarang ayo ke cassiopea kita istirahat sama sholat dulu" pungkas Dimas, Cassiopea bisa dibilang kafetaria Andromeda disana biasanya menyediakan makanan dan minuman untuk karyawan selain itu disana juga ada mushola.


"kenapa? kamu meragukan Arseno sa" Tanya Dimas seraya menoleh kearah Raksa.


"baru kali ini aku liat kamu meragukannya" tambahnya.


"bukan meragukan hanya saja, kita juga harus mikirin dari pihak IT mas apa mas dimas udah berdiskusi sebelumnya sama pihak IT?" tanya Raksa kemudian.


"Belum sih, kita liat aja nanti di meja rapat" ujar Dimas.


"oh iya dim ko aku liat, kalian udah saling kenal" tanya Neira.


"mereka satu SMP mba satu kelas tadinya, tapi pas SMA bang Seno ke Bandung pindah" jawab Raksa.


"ko pindah sa?" tanya Mayla penasaran.


"aku ngga tau" jawab Raksa.


"kenapa pindah Dim?" tanya Neira melempar tanya kearah Dimas yang kini mulai beranjak


"Ntahlah hanya Arseno yang tau, ya kan Ga" jawab Dimas bohong. Rega mengangguk. Baru saja Dimas akan mengajak karyawannya makan tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu utama membuat semua menoleh serentak.


"rajin sekali divisi lacerta, karyawan yang lain udah pada di kafetaria kalian masih di dalam. lagi pada apa?" tanya Arseno diambang pintu.


"eh pak Arseno, ini mau keluar pak" ujar Agita tidak enak karena baru saja mereka membicarakan atasan baru andromeda.


"kamu ngapain kesini No?" tanya Dimas.


"nyari Saka Dim, adik ku ko abis rapat ilang dia juga ngga bilang mau kemana" jawab Arseno.


"pulang kali no" ujar Rega. Arseno menggeleng


"motornya masih ada ga, pasti masih di sekitar sini" jawab Arseno.


"makan kali ke kafetaria bang atau ngerokok kali di tangga darurat" ujar Raksa sesaat setelah dia beranjak. Arseno terdiam sesaat sebelum dia kembali berujar tenang.


"yaudah kalian cepet ke kafetaria nanti makanannya kehabisan aku mau cari Saka dulu" ujar Arseno.


...•••...


Mayla mendengus ketika isi drafnya menumpuk kembali, baru juga dia selesaikan kemarin kenapa drafnya kembali menumpuk lagi. Seakan seperti cucian kotor yang tak kunjung di cuci, menumpuk tiada henti. membuat Mayla malas melihatnya. menghela nafas dia kemudian beranjak setelah mematikan komputer miliknya.


Setiap malam sebagian karyawan Andromeda akan memilih tangga dari pada lift karena konon terjadi hal mistis di dalamnya. Padahal benar atau tidaknya tak ada yang tau. Hanya saja semenjak cerita lift mistis menyebar, jarang karyawan menggunakan lift malam hari.


dia berjalan gontai hendak menuruni tangga sebelum sebuah seruan mengudara dari tangga di bawahnya.


"ko baru pulang jam segini? Si Raksa mana?", dia Arsaka


"Eh kamu? iya. Raksa sepertinya ada urusan" jawab mayla bohong, karena faktanya dia tidak tau kemana sibungsu Arganta.


Arsaka terlihat mengangguk sambil sesekali dia menyesap rokoknya.


"kamu belum pulang, tadi bukannya Pak Arseno nyariin kamu ya?" tanya Mayla ntah kenapa kakinya tak berani untuk menuruni tangga selanjutnya.


Arsaka menoleh sebentar sebelum dia kembali mengapit rokok di belah bibirnya, sedang Mayla masih bergeming di tangga atas.


"kamu liat pertengkaran tadi kan may?" tanya Arsaka sibungsu sadewa itu terlihat membuang puntung rokoknya sembarang, kemudian mulai beranjak menaiki tangga terlihat menghampiri Mayla. Sedang Mayla hanya mengernyit bingung dengan maksud si bungsu sadewa.


"aku tau kamu melihatnya" ujar Arsaka seraya menaiki tangga satu persatu.


"jam tiga sore di bawah tangga darurat, aku dan Arseno bertengkar hebat. Dan kamu satu-satunya orang yang melihat pertengkaran kami" kembali bungsu sadewa itu berujar seraya menunjuk luka di sudut bibirnya yang sedikit robek, ntah kenapa membuat Mayla sedikit ketakutan dengan nada bicara sibungsu Sadewa yang terkesan dingin dan menyudutkan.


"itu....tadi aku" Mayla bingung dia harus menjawab apa kakinya terus melangkah mundur seiring Arsaka melangkah maju menaiki tangga, dirinya memang melihat pertengkaran hebat kedua kakak beradik Sadewa tadi sore.


Arsaka terkekeh sumbang seraya terus merajut langkah kearah Mayla, sedang perempuan itu hanya berharap seseorang datang dengan tiba-tiba. Namun sayang, tepat ketika punggungnya menyentuh dinding dia pasrah. Dia hanya berharap pertemuannya dengan Arsaka bukan pertemuan yang buruk.


Arsaka berdiri dua langkah darinya. bungsu sadewa itu menatap lamat perempuan yang terlihat ketakutan di depannya. Mayla mendongak memberanikan diri menatap Arsaka. Dengan tiba-tiba Arsaka mengikis jarak mencondongkan tubuhnya mendekatkan kepala pada telinga mayla,


"kenapa kita harus ketemu kembali may" ujarnya, Mayla mengernyit tak berani menoleh karena posisi Arsaka yang sangat dekat.


"Haruskah kita berkenalan lagi Mayla Nirwana Azzara?" tanya Arsaka seraya menarik diri. sedang Mayla masih bergeming pikirannya blank.


"Mau aku antar pulang May" tawar Arsaka, Mayla menggeleng ribut,


"E...eng..ga usah, ojol aku udah di depan soalnya" jawab Mayla seratus persen bohong.


"hati-hati pulangnya, oh iya dan sepertinya....kita akan sering ketemu" ujar Arsaka seraya berlalu, meninggalkan tanya pada benak Mayla. Kenapa Arsaka mengetahui nama lengkap dirinya?


Mayla masih mematung disana sampai terdengar suara pintu tertutup, menandakan jika bungsu sadewa itu sudah keluar dari tangga darurat.


Meet the cast :


ARSAKA



ARSENO

__ADS_1



__ADS_2