
Mayla terlihat betah memandangi monitor yang masih menampilkan sebuah aplikasi serupa jendela word disana, padahal semua tugasnya sudah dia selesaikan. perkataan Arsaka seminggu yang lalu mampu membuatnya hilang fokus sesekali sehingga sebagian kegiatannya terganggu.
Mayla akui dia bukanlah perempuan yang mudah penasaran dalam suatu hal tapi berbeda untuk Arsaka rupanya kehadirannya dalam hidup Mayla mampu membuat hidup damainya kacau. Mengenal saja tidak Mayla pada Arsaka tapi kenapa laki-laki itu seakan mengenal mayla dengan jelas.
Tuk!— sebuah pulpen ntah dari mana jatuh mengenai kakinya.
"tolong ambilkan pulpen ku", mendegar suara yang dia kenal Mayla menoleh
"Raksa..... semenjak kapan kamu disana?" tanyanya, menciptakan guratan kecil di kening lelaki Arganta yang kini tengah menatapnya.
"ada yang menggangu pikiran mu?" alih-alih menjawab Raksa malah berbalik tanya. Mayla menggeleng masih belum sadar dengan apa yang dia tanyakan tadi
"pertanyaan kamu aneh, sejak tadi aku disamping kamu may" ujar Raksa kemudian. sedang Mayla kembali terdiam, untuk beberapa saat detik jam dinding di kantor mereka bahkan terdengar nyaring.
"May tolong ambilkan pulpennya" ujar Raksa lagi seraya menunjuk pulpen castello yang ada di bawah meja Mayla,
"Sa Pak rega dan Pak Dimas sudah pulang?" tanya Mayla seraya menaruh pulpen di meja Raksa, dia baru menyadari kalau sedari tadi mereka hanya berdua di kantor. Raksa mengangguk seraya memasukan pulpennya ke dalam saku tas.
"tadi bang Rega buru-buru pulang katanya mau jemput pacarnya, tadi kan dia nawarin kamu mau bareng atau tidak" ujar Raksa, Mayla menggangguk
"oh"
"kalau mas ku udah duluan ada janji dengan client katannya" susul Raksa yang masih menatapnya seakan menunggu respon, berharap perempuan disampingnya mengatakan sesuatu. karena jujur seminggu ini Raksa selalu menangkap perlakuan aneh Mayla yang kurang fokus dalam segala hal, lebih sering melamun membuat Raksa merasa heran dalam keterdiamannya.
"May?", Mayla sontak menoleh namun pandangannya malah jatuh pada laki-laki yang kini berdiri di sebrang jalan raya yang tak sengaja tertangkap pandangannya dari jendela lantai 2 kantor.
'Arsaka'
"May, kamu ngga papa? Aku lihat seminggu ini kamu lebih sering melamun ngga jelas" Tanya Raksa mengutarakan pertanyaan yang dia pendam semingu ini. Karena jujur saja akibat Mayla yang selalu kehilangan fokus berimbas juga padanya. selain dia harus mengulang perkataan yang baginya tidak penting dia juga harus menyalin materi yang tak sempat Mayla tulis dari setiap mata kuliah. Sedikit menyusahkan memang tapi ntah kenapa Raksa tidak masalah hanya saja dia terganggu dengan sikap Mayla yang sering mengabaikan keberadaannya.
"aku hanya memikirkan event kantor aja sa... iya hanya itu" jawab Mayla seraya menarik pandang dari Arsaka yang kini tengah menatapnya balik. Ntah kenapa Raksa tidak puas dengan jawaban Mayla dia merasa Mayla menyembunyikan sesuatu. memilih abai Raksa mengangguk mencoba mengerti dengan sikap Mayla.
"anggap saja begitu, ayo pulang aku antar" ujar Raksa. Mayla menggeleng,
"aku masih ada urusan, mau nyelesain draf sisa kerjaan"
"kamu berkata seperti tidak punya lagi waktu besok" jawab Raksa seraya mematikan komputernya. Dan mulai membereskan meja kerja. memasukan beberapa buku kedalam tas dan membereskan sebagian di meja kerjanya.
"duluan aja, aku bentar lagi", Raksa itu bukan laki-laki yang akan memaksa seseorang, melihat penolakan dari Mayla laki-laki Arganta itu mengangguk dan mulai meninggalkan area meja.
"hati-hati pulangnya, jangan terlalu malam. Aku duluan" ujar Raksa sambil menutup pintu ruangan. Jujur saja laki-laki Arganta itu sedikit khawatir pada Mayla.
Beberapa menit setelah kepergian Raksa Mayla masih duduk di tempat semula dengan memandangi monitor mati, sambil sesekali melihat keluar jendela kaca dimana Arsaka berdiri.
"kenapa dia masih disana?, sedang apa dia?" gumam Mayla yang tak lepas dari Arsaka jujur Mayla ingin cepat pulang namun keberadaan bungsu Sadewa itu membuat Mayla harus betah di kantor hanya untuk menunggu Arsaka meninggalkan area kantor.
Beberapa menit setelah motor Raksa keluar, Mayla juga melihat Arsaka mulai mengendarai motornya terlihat meninggalkan tempat itu, helaan nafas legapun keluar dari mulutnya, diapun mulai beranjak meninggalakan kursi dan berjalan keluar ruangan.
menghela nafas lelah sepanjang jalan Mayla merutuki dirinya yang selalu mengeluh dengan tektek bengek kehidupan, ntah itu dari segi pekerjaan ataupun kampusnya. Ditambah dengan hadirnya seorang Arsaka Liandanu Sadewa yang justru menambah kacau hidupnya.
__ADS_1
tak terasa Mayla sudah sampai di halte sebrang jalan tepat dimana Arsaka berhenti tadi, dia memutuskan untuk naik angkutan umum mengingat ini masih belum terlalu malam.
"lelah" ujarnya seraya memejamkan mata sejenak hanya untuk menikmati semilir angin malam kota yang terasa.
"butuh tumpangan?", dalam sekejap matanya terbuka hampir saja dia terjatuh kesamping karena kaget, beruntung Arsaka dengan sigap menarik tangannya hingga kepala keduanya saling beradu. spontan keduanya mengaduh.
"hampir aja, kamu tidak papa?" tanya Arsaka seraya menyentuh keningnya yang terasa membenjol akibat beradu dengan kepala Mayla.
"tidak papa bagaimana? keningku sakit" ujar Mayla seraya memegang keningnya yang terasa berdenyut nyeri.
"masih untung kamu berbenturan dengan keningku, bagaimana kalau kamu jatuh dan mencium batu itu" ujar Raksa dagunya mengarah pada sebuah bebatuan di bawah samping Mayla duduk.
jujur tadi Mayla sempat kaget dengan kehadiran Arsaka yang tiba-tiba. sehingga dia hilang kendali dan hampir jatuh untung saja Arsaka langsung menariknya kalau tidak, mungkin benar yang di katakan laki-laki Sadewa tadi dirinya akan berakhir mencium bebatuan itu.
"hay" ujar Arsaka sambil melambaikan tangan di depan muka Mayla, berharap Mayla sadar akan keberadannya.
"Arsaka?" ujar Mayla,
"hm"
"ka..kamu se..sedang apa disini?" tanya Mayla, dia sedikit gugup karena makhluk di depannya yang tiba-tiba datang seperti setan. Arsaka menggeleng
"hanya menikmati malam dan rokok" ujarnya santai seraya duduk di samping Mayla.
"ngga usah kaku gitu, aku bukan orang jahat"
"aku mau minta maaf masalah kemarin" ujarnya kemudian. Mayla terdiam
"kenapa belum pulang?" kembali bungsu sadewa itu bertanya.
"ini mau, kenapa kamu bisa ada disebrang kantor?" tanya Mayla memberanikan diri menoleh kearah Arsaka. alih-alih menjawab laki-laki sadewa itu malah celingak celinguk seakan mencari sesuatu mengabaikan raut wajah Mayla yang kebingungan dengan tingkahnya.
"Astaga!"
"hati-hati" ujarnya, Mayla langsung duduk melepaskan tangan Arsaka seraya menjauh.
Tadi Arsaka dengan tiba-tiba mencondongkan tubuh guna menjangkau rokok yang ternyata ada di samping Mayla duduk. Mayla yang kaget hampir terjatuh. Jika saja Arsaka tidak segera memeluk pinggang ramping perempuan itu.
Ntah kenapa sikap Arsaka benar-benar membuat mayla dalam tanya.
'kenapa ngga berdiri sih' —batin Mayla kesal
"mencari rokok tadi ketinggalan" ujar Arsaka sambil mengacungkan rokok yang di maksudkan. dia mengabaikan Mayla yang masih dalam keterkejutan.
"kan kamu bisa berdiri atau bisa menyuruhku" ujar Mayla, bohong kalau Mayla tidak kaget dengan sikap tiba-tiba Arsaka seperti tadi. Sedang si bungsu Sadewa malah tertawa membuat Mayla kebingungan, apa ada yang lucu. Pikir Mayla.
"kalau bisa sendiri ngapain nyuruh orang lain" ujarnya di akhiri kekehan ringan, Mayla yang baru saja tersadar dengan perkataan Arsaka pun terdiam untuk beberapa saat.
'ada orang kaya gini'— Mayla kembali membatin.
__ADS_1
"ayo pulang aku antar" ujarnya seraya bangkit manarik tangan Mayla kearah motor Ninja yang terparkir di depan mereka. Arsaka bahkan tak memberikan kesempatan mayla menjawab satu katapun.
"tunggu arsakaaaaaaaaaaaa" teriak Mayla kaget seraya memeluk pinggang Arsaka erat karena laki-laki sadewa itu langsung melajukan motornya seakan tanpa pertimbangan—ngebut.
Mendengar teriakan Mayla yang terdengar lucu si bungsu sadewa itu tertawa di balik helm fulfacenya. Sesekali pandangannya dia jatuhkan pada tangan Mayla yang memegang pinggangnya cukup erat.
"jadi ini kemana?" tanya Arsaka seraya melihat kearah spion melihat Mayla. Mayla yang masih mengatur detak jantungnya hanya diam bergeming hingga dia merasakan sebuah tangan mengenggam tangan kirinya.
"hay, kenapa suka sekali diam? atau kepalamu masih sakit karena kepentok keningku tadi?" Tanya Arsaka, karena tak sabaran dia langsung membuka helmnya seraya menoleh ke bangku belakang
"ck, Kalau kamu tidak menjawab sampai lampu berubah warna aku akan membawamu ke tempatku"
"itu disana, belok sana nanti aku kasih tau lagi pemberhentiannya" tunjuk Mayla seraya melepaskan genggaman Arsaka Mayla mengarahkan pundak Arsaka kedepan agar laki-laki Sadewa itu berhenti menatapnya.
Ntah kenapa Arsaka suka sekali melakukan kontak fisik dengan Mayla membuatnya risih karena tak biasa. Ditambah dia salah satu orang baru di hidup Mayla.
Lampu sudah berubah warna. Arsaka melajukan motornya seperti arahan dari Mayla, karena angin malam rambut Arsaka tersibak. tanpa sadar wangi rambut milik laki-laki sadewa itu tercium oleh indra penciuman Mayla membuatnya merasa nyaman ntah kenapa.
"kenapa memilih kerja" tanya Arsaka dia sengaja memelankan sedikit motornya agar Mayla dapat mendengar jelas suaranya. Namun nampaknya Mayla masih tenggelam dalam pemikirannya sehingga tak mengindahkan pertanyaan Arsaka, membuat laki-laki itu mengernyit karena Mayla tak kunjung menjawab,
"hay kenapa selalu saja diam apa pertanyaan ku kurang jelas? Atau kurang keras?" tanya Arsaka lagi terselip nada kesal disana.
"kamu nanya apa tadi?" tanya Mayla bermaksud supaya Arsaka menanyakan kembali pertanyaan yang membuat laki-laki sadewa itu kesal.
"kamu menyukai Raksa?", pertanyaan itu sontak membuat Mayla tertawa mengundang kernyitan hebat di dahi si bungsu sadewa.
"kenapa tertawa tidak ada yang lucu may" ujarnya.
"konyol sekali, aku tidak menyukai Raksa" jawab Mayla di sela tawanya.
"bukannya kalian dekat?", tanyanya lagi seraya mematikan mesin motornya karena mereka sudah sampai di depan kosan Mayla.
"dekat bukan berarti suka kan?" jawab Mayla seraya menyerahkan helmnya. Arsaka mengangguk paham, tangannya menengadah menciptakan kebingungan perempuan di sampingnya.
"oh ini apa cukup?" ujar Mayla menaruh uang 20 ribu di telapak tangan Arsaka. karena biasanya dia akan membayar kisaran 20 ribu untuk ojek online nya.
"kamu kira aku tukang ojek" ujarnya jenaka.
"lalu" , dengan tiba-tiba Arsaka merogoh saku jaket Mayla membuat Mayla memekik kaget hampir berteriak, sebelum dia melihat Arsaka mengeluarkan sebuah rokok dari saku jaket miliknya.
"selain terluka sepertinya aku juga akan budeg karena dekat dengan mu, berhenti berteriak may telingaku sampai pengang" ujar Arsaka seraya menggosok telinganya sampai memerah.
"kamu semenjak kapan menaruhnya disana?" tanya Mayla bingung, karena seingatnya dia tidak menaruh apapun di saku jaketnya. Apalagi rokok.
"tadi pas aku menarikmu kemotor" ujarnya. Sedang Mayla masih dalam mode tidak habis pikir dengan sikap Arsaka. bagaimana Mayla harus menghadapinya?
"hay... yah diam lagi, masuk udah malam, kalau dalam hitungan 3 kamu masih disini. diam seperti itu aku bersumpah akan menyulikmu dan tidak akan mengembalikan mu" ujar Arsaka yang sontak membuat Mayla segera berlari memasuki kosannya. meninggalkan si bungsu sadewa tertawa terbahak sendirian di atas motor.
kali ini malam dan rokok memberikan cerita untuk keduanya, dua anak adam yang Tuhan takdirkan dalam pertemuan yang keduanya tak terduga. Arsaka yang awalnya uring-uringan karena rokoknya tertinggal tak menyangka akan bertemu dengan Mayla di halte tempatnya berhenti tadi.
__ADS_1