Aku Tak Mengerti

Aku Tak Mengerti
Bintang Kampus


__ADS_3

Sebuah artikel beserta foto yang kembali diunggah di laman UNSENO langsung dibanjiri kolom komentar.


"Ini foto kapan? Kemarin ya?"


"Eh ini perempuan yang kemarin kan?"


"Lian mengenalnya? Demi apa?"


"Mereka saling kenal?"


"Perempuan itu anak FEB sama sepertinya"


"Mungkin mereka ada hubungan"


"Mereka cocok"


"Tidak sama sekali" dan banyak lagi komentar yang di tulis setiap mahasiswa. Ntah itu hujatan, kritikan ataupun hanya sekedar memberi berbagai simbol reaksi pada ujung artikel.


.


.


.


.


"Perempuan ini yang kemarin kan yan?" Dengan tiba-tiba Elang masuk bersama Elios, mengaburkan ide lirik lagu yang sudah Arsaka rangkai di kepalanya dengan susah payah.


"Sial" umpat Arsaka seraya melempar kertas setelah dia merematnya kuat.


"Yan Kau menyukainya?, Elang bilang kau bersama dengannya kemarin di koridor" ujar Elios seraya duduk di samping Arsaka.


"Entahlah" jawab Arsaka tanpa melepas atensi dari kertas partitur miliknya.


"Lalu bagaimana dengan kalista yan?" Kembali pertanyaan muncul dari Ganindra.


Awalnya mereka tidak ingin ikut campur masalah Arsaka, mengingat itu masalah pribadi. hanya saja kini nama mereka pun ikut terbawa. Karena mereka menjadi sasaran pertanyaan hampir semua mahasiswa yang penasaran dengan Arsaka. Diantaranya anak UKM dentawyanjana —media kampus—, anak UKM baswara radio, dan pasembahan– nama akun gosip UNSENO.


Sebutlah Arsaka adalah bintang kampus, vokalis band yang memiliki aura dan daya tarik yang hebat. Memiliki pengikut beribu-ribu di instagram dan subcriber di youtube chanelnya. Siapa yang tidak kenal Lian? Bahkan dari kampus lainpun mengenal Lian— Arsaka Liandanu Sadewa sang bintang kampus. Makanya setiap berita atas namanya selalu menarik untuk pihak jurnalis kampus. Nama Lian cukup dikenal walau pribadi Arsaka yang cuek ,namun justru itulah daya tariknya.


Keempat temannya yang terseret cukup kewalahan karena hampir setiap detik ponsel mereka berdering dengan pertanyaan yang sama, hp mereka bahkan eror akibat pertanyaan yang membludak yang dikirim terus menerus. Cukup menganggu aktivitas dalam setiap menitnya. Belum lagi di kelas mereka masing-masing, sebagian yang penasaran dengan Arsaka akan bertanya dengan detail. Membuat muak.


"Memang kenapa dengan— ouuh shiiii... kenapa dengan muka kalian?"ujar Arsaka kaget. Pasalnya muka keempatnya terlihat kelelahan dengan hiasan mata panda, Terlihat kurang tidur dan frustasi dengan gaya rambut tersengat listrik.


"Yan sudah cukup, aku jadi budak proker. Jangan jadi budak mu juga sialan" kesal Elios seraya melemparkan ponsel yang mati total karena habis batre.


"Baru tadi aku isi daya padahal, dan sekarang sudah habis lagi" ujarnya kaget.


"Lalu hubungannya dengan ku apa?" Tanya Arsaka bingung.


"Gara-gara kau sialan, hp kita jadi penuh sama pertanyaan ngga penting" ujar Julius, dia sampe kaget biasanya kalau bukan grup pasti keluarganya. Namun kini chat keluarganya pun hilang ntah kemana ,tertumpuk chat yang menanyakan kebenaran temannya—Arsaka. Luar biasa sekali memang daya tarik seorang Arsaka ini.


"Bayangkan yan, hanya untuk ke kamar mandi saja rasanya seperti buronan. Susah sekali bos" tambah Ganindra frustasi.


Dia teringat kemarin hanya untuk melangkah ke kamar mandi saja sulitnya minta ampun karena banyak yang menyantroninya pertanyaan di setiap langkah.


"Bahkan mereka menguntitku sampai kamar mandi hanya karena pertanyaan sialan itu" tambah Ganindra kesal seraya masuk ke kamar mandi. Karena sering dikuntit dia merasa tidak tenang di kamar mandi.


"Betul Jangan memperkeruh suasana yan, pilih salah satunya jangan membuat kita kewalahan juga" ujar Elang seraya rebahan di lantai, sudah dua hari semenjak artikel sialan itu terbit tidurnya terganggu. Matiin hp ngga mungkin karena takut penting. ngg mati itu hp bunyi terus, kaya punya hutang tagihan kredit yang menunggak berabad-abad.


"Tunggu pertanyaan apa yang kalian maksud?" Tanya Arsaka bingung.


"Iya... antara Kalista dan perempuan kemarin itu siapa sih namanya lupa. Kau harus memilihnya, siapa yang kau sukai sialan" kesal Elios seraya beranjak untuk mengisi daya batre ponselnya.


"Apa aku terlihat menyukai keduanya?". Julius yang duduk di panggung tempat mereka latihan menoleh.


"Jika mereka mendengar ini, mereka akan sakit hati yan"


"Aku tidak bermaksud membuat mereka sakit hati yus, sama sekali tidak" ujar Arsaka, seraya kembali membuat not balok di buku partiturnya. Tidak peduli dengan kondisi teman-temannya yang kacau.


"Lalu bagaimana kamu menanggapi semua artikel itu?" Saut elang sesekali matanya akan terpejam karena punggungnya beradu dengan dinginnya lantai studio.


"Biarkan saja nanti juga menghilang, aku bukan seorang artis yang harus melakukan konferensi fers hanya karena sebuah artikel tak berguna, hanya membuang-buang waktuku saja"


"Lalu bagaimana dengan kalista?" Saut Ganindra dari arah pintu kamar mandi. Arsaka menoleh melepas atensi dari partiturnya.


"Kalista lagi, aku tidak peduli", Elang seketika terbangun dari rebahannya, tak habis pikir atas jawaban menyebalkan Arsaka


"Namamu mencuat memenuhi timeline akun UNSENO. bukan hanya nama mu bahkan nama perempuan itu pun ikut terbawa—


"Nama kita pun, nama kanigara juga yan apa kamu tidak berpikir sampai sana?" Sela Elios segera. Terlihat laki-laki itu masih menggerutu di pojokan karena mendapatkan bom notif.


"Abaikan saja nanti juga berlalu"ujar Arsaka tak peduli, berbanding terbalik dengan keempat temannya.


"Lalu siapa perempuan itu? Kau bahkan tak pernah menceritakannya pada kami yan" tanya Ganindra seraya duduk di samping Arsaka.


"Perempuan itu, pasangan Hera kamu nanti kan yan?" Tanya elios, mendengar pertanyaan Elios sejenak dia terdiam. Arsaka kembali teringat kemarin waktu dia menemui Mayla di perpustakaan. dimana dia bermaksud memberitahunya tentang ini, tapi karena keberadaan Raksa yang tiba-tiba dia melupakan tujuannya kemarin. Sedang waktu di koridor kampus pas Elang berteriak memanggil namanya kemarin ntah kenapa Mayla mendadak menghilang ketika dia berbalik. Cukup aneh.


"Dia seorang teman lama, aku kenalkan kapan-kapan"


"Bukan kesana arahnya sialan" kesal Elang seraya mengeluarkan satu batang rokok.


"Lalu kemana?"


"Kau menyukainya? Kita bahkan baru kali ini melihat kau dekat dengan seseorang akuilah brengsek" jawab Julius dengan tak sabaran, Arsaka terdiam sejenak kembali mengalihkan pandangannya pada kertas partitur miliknya.


'Dia tak pantas untuk laki-laki rusak sepertiku'— batin Arsaka.


"Ada seseorang yang lebih pantas dengannya" ujarnya seraya menarik pandangan dari partitur dia menarik satu persatu temannya dan mendorong mereka keluar.


"Sudahlah kalian hanya menganggu waktu berhargaku saja. Aku sedang membuat lagu sekarang..pergilah" ujar Arsaka kemudian seraya menutup pintu studio.


"Haus kan jadinya" ujarnya seraya berjalan kearah kulkas disudut ruangan, tepat ketika dia membuka pintu kulkas sebuah panggilan masuk pada ponselnya


... •••


...


"Hallo, iya kenapa sat" jawab Mayla seraya membuka lemari pendingin bermaksud mengambil kopi kalengan, tangannya mengudara tepat ketika mendengar ocehan panjang dari orang di sebrangnya.


"Baiklah, kenapa satria"


"......."

__ADS_1


"oh.. ngga usah aku masih punya beberapa stok baju yang bisa di pakai" ujarnya kemudian namun tangannya masih mengudara di atas beberapa merek kopi kalengan


"......"


"Ngga usah aku bisa berangkat sendiri"


"...."


"Iya, aku tutup ya" ujar Mayla seraya mengakhiri panggilan.


"Siapa kakaknya Satria?" Gumamnya. Tadi satria berkata, jika nanti pas pernikahan ayahnya Mayla akan di jemput kakak Satria karena Satria tidak bisa menjemputnya. Namun Mayla yang masih belum ada kejelasan menolak karena bisa saja ada sesuatu yang mendadak membuat dia tidak bisa hadir.


"Kau akan tetap berdiri disitu dan menghalangiku?", mendengar suara yang cukup familiar Mayla berbalik menemukan Jendral yang kini berdiri tepat di belakangnya.


"Oh ka—


"Jendral" sela Jendral segera.


"Silakan ka, aku minta maaf" ujar Mayla seraya mengambil kopi kalengan yang hendak dia beli tadi dan dia bawa ke arah kasir.


Tepat ketika dia hendak meminum kopinya diluar, suara deritan kursi yang di tarik seseorang mengejutkannya. dia hampir menyemburkan kembali kopi yang hendak menyapa kerongkongannya.


"Ka Jendral" ujar Mayla seraya mengelap dagu, terkena kopi yang tak sengaja keluar karena kaget tadi. Si kakak tingkat mengulas senyum sekilas


"Ngga ada kelas?" Tanya Jendral, Mayla menggeleng. Jendral mengangguk sebagai reaksi, seraya membuka segel botol aqua yang hendak dia minum.


"Oh iya kamu udah tau siapa pasangan Zeus kamu nanti?" Tanya jendral seraya menyimpan aqua botol di meja menyisakkan isi setengah di dalamnya. Si adik tingkat menggeleng.


"Serius? Pasangan Zeus kamu emang belum ngasih tau?"


"Be—belum" jawab Mayla ragu.


"Memang udah di kasih tau ya ka?" Tanyanya kemudian, Jendral mengangguk


"Kemarin, para Zeus yang di panggil untuk mencari siapa Hera yang akan mendampinginya nanti di pencarian Zeus Dan Hera— dia menjeda perkataan sejenak, kembali meminum air yang dia sisakan setengah botol tadi sampai habis.


"Ah begini saja, nanti datang aja ke Adipati mau ke Bem Univ atau Bem fakultas bebas. Kamu tanyakan siapa Zeus yang bakalan jadi pasangan kamu nanti" ujarnya seraya melempar botol bekas yang sudah dia remukan ke tong sampah.


"Soalnya aku tidak membawa kertas salinannya sekarang" tambahnya lagi, Mayla mengangguk seperti yang dikatakan temen-temannya tempo lalu, Jendral adalah Juri di pencarian Zeus dan Hera nanti, jadi tak heran jika kakak tingkatnya itu memiliki daftar nama beberapa pasangan untuk pencarian Zeus dan Hera.


"MAYLAAAAA....." sebuah teriakan mengudara menarik atensi keduanya. Tak jauh dari sana Arin dan Resha terlihat berlari terburu-buru menghampiri , meninggalkan empat laki-laki yang mengekori di belakang mereka.


"Eh ka Jendral" ujar Resha. Seulas senyum terukir sebagai balasan respon sipemilik nama.


"May aku duluan ya" ujar Jendral melepas pandangan dari Arin dan Resha seraya beranjak berpamitan pada ketiganya.


"Iya ka"


"May ko bisa sama ka Jendral?" Tanya Resha penasaran seraya duduk di depannya.


"Tadi ketemu di dalam minimarket" ujar Mayla jujur seraya menunjuk kedalam minimarket. Resha mengangguk


"Oh"


"May kamu udah lihat artikel nya? Kamu diantar Lian demi apa? Itu beneran bukan gosip?" Tanya Arin beruntun. Kemarin baik Arin dan Resha sempat mendengar gosip tentang Mayla yang di antar Lian ke kampus, namun Mayla terus saja menolak.


Mayla terdiam karena faktanya dia diantar Arsaka bukan Lian seperti apa yang mereka katakan.


"Aku curiga kamu tidak tau Lian may" ujar Harvin menatap penuh sangsi, yang baru saja datang bersama tiga laki-laki lainnya.


"Aku juga" ujarnya.


"Iya jangan-jangan kamu ngga tau lagi muka Lian vokalis kanigara band?" Tebak Jerry tepat sasaran. Mayla memang tidak mengetahui siapa Lian.


"Ngga mungkin? Semua mahasiswa UNSENO mengenal siapa Lian" ujar Arin.


"Kecuali Mayla kurasa, dia terus saja menolak padahal kalau di liat-liat ngga sekali dua kali aku pernah liat Mayla ketemu Lian" sanggah Harvin seraya melempar pandangan sekilas ke arah punggung Raksa yang berjongkok di samping Jerry menghadap jalan raya, dia kembali teringat saat tak sengaja menjadi saksi dimana Raksa berhadapan dengan Mayla yang berdiri di belakang Arsaka di perpustakaan kemarin. Ketiganya terlihat canggung anehnya Raksa malah menjawab hal yang diluar nalar, ketika Arsaka terlihat mencoba menarik keterdiaman sibungsu Arganta kemarin.


"Semenjak kapan kamu potong rambut ka?", sedikit ambigu bos. Pikirnya.


Mayla akui dia memang tidak tau muka Lian, karena saking tidak maunya dia terlibat dengan seorang bintang kampus. namun dia tak habis pikir hanya karena kopi dua puluh ribu yang tak sengaja dia tumpahkan. Kini dia harus berurusan dengan Lian. Dan semakin rumit saja semakin sini membuat Mayla bingung mengartikannya, semua terlalu tiba-tiba otak dangkalnya tidak dengan mudah memproses semua runtutan kejadian yang terlewat.


"Sudahlah itu tak penting, yang lebih penting adalah—


"May pasangan Zeus kamu Lian untuk nanti, soalnya Raksa katanya sama Kalista bener itu sa?" Ujar Resha menyela Arin, seraya menoleh kearah punggung Raksa,


"Kamu ngga lagi bohongin atau prank kita kan?" Todong Arin. Raksa menggeleng santai seraya berdiri masih dalam posisi memunggungi.


"Ngga ada untungnya buat ku" jawabnya.


"Kapan kamu disuruh milih Hera sa?" Tanya Mayla penasaran.


"Kemarin waktu ketemu bu andara", Raksa teringat ketika dia baru keluar dari gedung dosen setelah ketemu bu andara. Elios salah satu teman Arsaka berkata jika dirinya disuruh ke ruangan BEM Univ untuk melakukan tradisi menarik sendok, salah satu cara yang di pakai panitia BEM untuk pihak Zeus memilih pasangan Heranya. Raksa tak mengharapkan Mayla atau kalista. Jadi dia tidak begitu peduli dengan pasangan Heranya nanti. Tepat ketika dia menarik ujung sendok nama yang ada di kepala sendoknya Kalista. Sedang Arsaka Mayla.


... •••


...


"Kecuali Mayla kurasa, dia terus saja menolak padahal kalau di liat-liat ngga sekali dua kali aku pernah liat Mayla ketemu Lian"


Ntah kenapa kata-kata Harvin tadi pagi cukup mengganggu pikirannya, terbukti dari jam pulang sampai sekarang Mayla masih betah duduk tanpa melakukan apapun di depan komputer yang masih menyala.


Mayla memang tidak mengenal Lian, sama sekali tidak apalagi bertemu seperti kata Harvin. Tapi kenapa Harvin seakan berkata jika dirinya sering bertemu dengan Lian?


"Kapan? Jelas-jelas aku hanya sekali bertemu dengannya itu juga karena kecelakaan kopi dua puluh ribu" Gumam Mayla, seraya mengarahkan kursor pada tulisan shutdown di layar komputer.


"Tidak mungkin semua mahasiswa UNSENO mengenal Lian"


Kali ini kata-kata Arin yang terekam di kepalanya. Mayla tidak pernah penasaran pada sesuatu hal kecuali meyangkut dirinya dan juga teman-temannya. Jika saja perkataan Harvin tidak mengganggunya Mayla tidak akan sepenasaran itu dengan Lian. Apalagi Arin berkata hanya sebuah ketidakmungkinan tidak mengenal Lian. dari sana saja Mayla sudah bisa menerka sepopuler apa seorang Lian.


"Aku jadi penasaran dia seperti apa" ujar Mayla seraya meraih ponsel yang tergeletak di meja. Namun ternyata ponsel itu mati karena habis daya. Tepat ketika Mayla hendak mencolokkan charger ke terminal di bawah meja, suara seseorang yang dia kenal mengurungkan niatnya.


"Mayla"


"Ka Rega" jawab Mayla seraya menarik kembali kabel chargeran dan menyimpannya di meja.


"Kamu belum pulang?" Tanya yang lebih tua. Mayla menggeleng.


"Ka rega kenapa balik lagi?" Tanya Mayla karena setau Mayla, Rega sudah pulang dari tadi.


"Berkas kontrak penulis ketinggalan, besok soalnya mau langsung di kasih" jawab Rega seraya melangkah masuk berjalan kearah kubikel miliknya. Mayla mengangguk mengerti.


"Berarti besok ka Rega ngga kekantor?"

__ADS_1


"Ke kantor tapi siangan, mau ngasih berkas kontrak dulu soalnya. Mau pulang bareng?" Ajak Rega. Mayla terdiam sejenak menimbang ajakan yang lebih tua.


"Boleh ka"


"Ayo"


Sementara di suatu tempat terlihat laki-laki sedang melakukan panggilan seraya mencari sesuatu.


"Kau jatuhkan dimana ponselnya sialan" ujarnya kesal, seraya terus mengarahkan senter mencari kesana kemari ponsel yang di maksud sipemilik di sebrang panggilan.


"...."


"Tak ada apapun disini" ujarnya sebal.


"...."


"Heh bagaimana aku bisa menghubungi ponselmu jika mati Arsaka" ujarnya kesal, bahkan dia terlihat tak peduli dengan orang-orang yang menoleh sekilas kearahnya karena marah-marah di tengah jalan.


"...."


"Mas Dimas kau bunuh saja dia, menyusahkan ku saja" finisnya seraya mematikan panggilan. Terlihat dia kembali mencari ponsel di sekitar jalanan seraya terus menggerutu mengabaikan tatapan semua orang dengan pandangan aneh yang berlalu lalang di jalanan.


Mayla baru saja keluar dari lift terlihat laki-laki yang lebih tua langsung menghampiri.


"Mau jalan-jalan sebentar? Ada yang mau aku omingin" Ajak yang lebih tua.


'Apa?'


"Boleh ka"


"Ayo" ajak Rega. Mayla mengangguk seraya mengekori yang lebih tua.


keduanya kini berjalan di trotoar jalan, seraya menikmati dinginnya udara malam.Yang lebih tua terlihat ragu, untuk mengutarakan sesuatu. Sedang yang lebih muda diam mengekori di belakangnya. Rega menoleh sekilas seulas senyum terukir di wajah tampannya.


"May"


"Iya". Rega terdiam tak melanjutkan, yang lebih tua terlihat menghela nafas panjang sebelum kembali berujar


"Aku minta maaf karena waktu itu aku ngga ada di sampingmu" ujar yang lebih tua akhirnya. Mayla menghentikan langkahnya seketika, dia tau kemana arah tujuan kata maaf yang rega katakan barusan.


"Ngga papa ka, itu sudah berlalu. Aku..sudah melupakannya" ujar Mayla.


"Dulu aku belum berani mengatakannya. Tapi sekarang aku lega, maafkan aku may harusnya aku selalu di sampingmu bukannya malah sibuk dengan urusanku sendiri" ujar Rega kemudian. Mayla menggeleng seraya melangkah menghampiri yang lebih tua.


"Kamu ngga salah kenapa harus minta maaf, aku juga kalau di posisi ka rega pasti kesulitan. Aku baik-baik aja ka" ujar Mayla


"Pasti kamu kesulitan sendirian may, maaf aku egois. Aku lebih mementingkan diriku dari pada —


"Jangan bicara seperti itu. Kak manusia itu punya takdirnya masing-masing, aku bahagia dengan takdirku sekarang" sela Mayla segera.


"Jangan pernah mengungkit masalalu, dari pada mengungkit masa lalu aku lebih penasaran dengan masa depan" tambah Mayla kemudian.


"Ayo pulang ini sudah malam ka" ajak Mayla. Rega mengangguk


"May berjanji padaku, jalan menghindariku lagi dan lagi" ujar yang lebih tua seraya mengacungkan jari kelingking kearah yang lebih muda. Mayla mengangguk seraya mengaitkan jari kelingkingnya.


"Aku tidak menghindarimu ka" kilahnya seraya melepas tautan kelingking keduanya.


"Masa? Mungkin mulutmu tidak tapi prilakumu iya may, aku merasakannya" ujar Rega, Mayla mendongak menatap sangsi yang lebih tua.


"Aku tidak, apa jangan-jangan ka Rega lagi yang menghindariku", Rega terkekeh seraya kembali menautkan kelingking pada yang lebih muda.


"Mungkin iya. Ayo pulang" ajaknya seraya menarik Mayla tanpa melepas tautan. Ntah kenapa setelah mengucapkan kata maaf tadi kini Rega sedikit merasa lega. Ntah dirinya yang menghindar atau Mayla yang menghindarinya. Hanya saja secara tak langsung kata maaf menjadi batasan untuknya mengutarakan segalanya. Rega merasa bersalah.


"Ngga ada sialan, cari saja sendiri besok .aku capek"


Mayla menghentikan langkahnya tepat ketika mendengar suara familiar dari kejauhan.


'Raksa'


"Ka kamu duluan aja, aku mau melihat kesana sebentar" ujar Mayla seraya melepas tautan, tanpa menunggu jawaban yang lebih tua.


"May— namun Mayla sudah berlari menjauh tertelan gelapnya malam. Tanpa rasa takut Mayla berlari kearah laki-laki yang Mayla yakini dia Raksa. Dan benar saja Raksa terlihat sedang menelpon seseorang seraya mencari sesuatu.


"Sa kamu sedang apa?" Tanya Mayla. Raksa yang sedang mencari sesuatu kaget dengan keberadaan tiba-tiba Mayla.


"Mayla? Kamu sedang apa disini? Kamu belum pulang?" Tanya Raksa seraya mematikan panggilan , Mayla menggeleng.


"Kamu sedang apa?"


"Ntahlah, aku seperti orang bodoh mencari sesuatu di malam hari" jawabnya seraya memasukan ponsel ke saku celana.


"Kamu nyari apa sa?"


"Kodok, udah ayo mending pulang aku antar. Ini sudah malam" ujar Raksa seraya berjalan kearah motor Aerox yang terparkir di pinggir jalan.


"Aku bantu, ayo kita cari lagi sa" ujar Mayla, Raksa menggeleng seraya menyimpan senter kedalam bagasi.


"Pakailah" ujarnya mengulurkan helm. namun Mayla tak kunjung menerima helm itu.


"Apa yang kamu cari dari tadi sa?" Tanya Mayla kembali. Namun Raksa seakan tak mendengar.


"Kamu kira tanganku ngga pegal pegang helm" ujar Raksa, dengan kesal Mayla langsung mengambilnya namun tak dia pakai.


"Pakai, tanganku sudah pegal megang senter dari tadi. Jangan mau ku pakaikan helmnya" ujar Raksa seraya menyalakan mesin motor. sejenak Mayla terdiam, menatap Raksa. namun Raksa terlihat abai.


"Naik atau ku tinggal" ujar Raksa, Mayla mengangguk memakai helmnya seraya menaiki motor. Tepat ketika Raksa hendak menjalankan motor, Krek.... terdengar sesuatu yang pecah baru saja terlindes ban motor miliknya. Namun bungsu Arganta itu terlihat tak peduli,


"Tunggu sa" Ujar Mayla menepuk pundak Raksa, seraya turun melihat benda apa yang tergeleng.


"Kena—


"Ini hp siapa yang kegeleng?" Ujar Mayla seraya mengacungkan ponsel yang sudah retak bagian layar karena terlindes ban motor tadi. Kali ini Raksa tak dapat menutupi rasa kagetnya, iris mata kecoklatannya membola seketika seraya mengambil alih segera ponsel itu dari tangan Mayla.


"Mampus" ujarnya. Itu ponsel milik Arsaka yang dia cari-cari sedari tadi.


"hp siapa?kamu tau?" Tanya Mayla, Raksa mengangguk terpatah-patah terlihat masih dalam keterkejutan.


"Punya siapa sa?" Tanya Mayla penasaran. Raksa menggeleng seraya menyimpan ponsel di saku jaket.


"Ngga penting, Ayo naik sudah malam" ujarnya kemudian.Mayla yang tau sikap Raksa tidak bertanya lebih lagi.


Sepanjang jalan keduanya tenggelam dengan pikiran masing-masing. mayla tiba-tiba saja teringat Rega, sedang Raksa kini sedang mempersiapkan mental menghadapi amukan Arsaka.

__ADS_1


Disisi lain Rega masih bergeming di tempat yang sama, meskipun dua orang yang dia perhatikan sudah pergi sedari tadi.


__ADS_2