Aku Tak Mengerti

Aku Tak Mengerti
Aku Tak Mengerti


__ADS_3

Dunia Anna—begitulah nama buku yang sedang dia baca sekarang, buku yang pernah direkomendasikan oleh sahabat di bangku sekolahnya dulu, sebuah buku karangan Jostein Gaarder buku yang katanya memfokuskan akan tema lingkungan di bumi, terlebih lingkungan iklim dan dampak pemanasan global. dibukunya si penulis memberikan gambaran terkait di tahun 2082 mendatang. sungguh sangat luar biasa bukan?


Mayla sampai membeli secara online karena buku itu sudah jarang di jual di pasaran, dia tak tanggung-tanggung membeli dua buku sekaligus yaitu Dunia Anna dan Dunia Sophie. dua buku dengan pengarang yang sama. tadinya dia ingin membeli buku yang sempat tertahan di keranjang belanjaannya, namun urung mengingat dia sempat berjanji jika dia akan membaca Novel yang sempat direkomendasikan temannya itu.


selembar demi selembar, sedikit demi sedikit, dia mulai meyelami isi bacaannya. hingga tak terasa dia hampir menghabiskan seperempat dari novel itu.


"menarik tapi buku ini cukup membingungkan" ujarnya yang tak melepas atensi dari buku yang sedang dia baca. Mayla kembali membuka halaman barunya, dahinya mengernyit mencoba mengartikan maksud yang tersirat dari si penulis sampaikan.


Dia masih punya banyak waktu, mengingat seharusnya dia tidak memiliki jam kelas. namun karena sebuah pesan dari grup chat, yang memberitahukan jika hari ini Pak abian berniat akan mengganti jadwal kuliah. sekalian membagikan nilai kuis kemarin yang katanya hampir semua mahasiswa berebut menduduki nilai di bawah rata-rata. kecuali Raksa. bahkan grup chatnya kini tengah membicarakan pak Abian yang katanya baru saja tiba dari Brunei. terkadang Mayla berpikir apa kerjaan dosennya itu selain mengajar di Senopati, dan sekaya apa beliau itu sampai hampir tiap minggu dia selalu mendengar bahwa dosennya itu selalu saja pergi ke luar negeri.


"bagaimana nasib anak dan keluarganya?" gumam Mayla. ntah kenapa dia jadi teringat dengan ayahnya. sesibuk apapun, ayahnya selalu meluangkan waktu untuk keluarganya.


"ayah maaf, bukan Mayla membenci ayah hanya saja Mayla masih belum bisa menerima. semua ini sangat tiba-tiba" ujarnya sendu.


Ting—sebuah notifikasi muncul pada ponselnya.


"oh ya ampun ini bukan nilai" ujar Mayla seraya mengalihkan fokus pada ponselnya, disana tertera sebuah bagan nilai mahasiswa kelasnya. sudah Mayla duga, Raksa pasti menempati nilai pertama dengan nilai yang sempurna. sedang sisanya hanya berebut diangka terendah. termasuk dirinya.


"setidaknya nilai kamu masih wajar" sebuah suara mengudara dari arah belakang membuatnya spontan menoleh.


"wajar?" Mayla membeo.


"nilai ku enam Sa, kamu bilang wajar?" tanya Mayla kaget, hei nilainya enam dan itu berarti dibawah rata-rata. dari mana letak wajarnya?


"setidaknya tidak seperti yang lain" ujarnya seraya menarik kursi didepan Mayla.


"aku iri dengan otakmu" ujar Mayla sesaat setelah Raksa mengambil duduk didepannya.


"ngga harus iri, karena kapasitas orang itu beda-beda may" jawabnya seraya mengeluarkan sebuah buku dan earphone.


"kamu benar, aku hanya perlu belajar lagi dan memperbaiki nilaiku" jawab Mayla, Raksa mengangguk seraya memasang earphone dan mulai membuka bukunya.


Mayla terdiam memperhatikan Raksa. Raksa itu bukan laki-laki kutu buku atau laki-laki cupu yang memakai kecamatan berlapis bukan juga laki-laki penyuka Anime atau gamer. penampilannya setiap ke kampus seadanya kaos oblong polos dengan bedahan kemeja polos atau jaket denim. rambutnya tak pernah rapi karena pengaruh helm, dia tak memakai aksesoris apapun meskipun itu jam sekalipun. Mayla tak pernah melihat Raksa memakainya. hidupnya tak pernah neko-neko seperti kebanyakan laki-laki di kelasnya. hanya saja dia sering membaca buku biografi para tokoh terkenal salah satunya B. J Habibie. buku yang saat ini dia baca.


"jangan melihatku seperti itu" ujar raksa yang nampaknya terganggu, namun dia tak melepas atensi dari buku yang sedang dia baca.


"Eh"


".... "


"kamu sedang mendengarkan lagu apa sa?" tanya Mayla.


"let it be, mau denger?" jawab Raksa mendongak melepas atensi dari buku.


"mau" jawab Mayla. Raksa menutup buku, Dia beranjak dan pindah ke samping Mayla seraya melepaskan sebelah earphonenya.


"sebelah sini, kabel earphone ku pendek soalnya" ujarnya memasangkan earphone ke telinga Mayla seraya menarik kursinya.


Tak ada percakapan setelah itu, keduanya hanyut dalam buku bacaan masing-masing.


"oh iya sa, lusa katanya ada rapat ya?" tanya Mayla sesaat setelah dia membuka notif dari grup kantornya. Raksa menggeleng


"aku ngga tau", Ah iya Mayla lupa selain Raksa itu tidak neko-neko, dia juga tidak pedulian terhadap sesuatu. seperti sekarang padahal ponsel di depannya, namun lelaki Arganta itu ntah males atau apa enggan membuka notif chat di ponselnya.


"katanya kita di suruh ke kantor besok, sesore apapun itu soalnya mau bahas yang event udah mulai deket" jawab Mayla seraya menscroll isi grup chatnya. Raksa mengangguk masih tak melepas atensi dari bukunya. Menghela nafas Mayla menoleh hingga pandangannya tak sengaja jatuh pada jam dinding perpustakaan.


"sa kita telat" ujarnya, seraya mengambil buku. dia tak menyadari jika earphone Raksa masih terpasang di telinganya dia beranjak, sebelum tangan Raksa menariknya. Karena tak siap Mayla oleng dan jatuh dipangkuan Raksa membuat lelaki Arganta itu mengerang tertahan karena nyeri tertindih yang bercampur kaget,


"maafkan aku, saking kagetnya aku lupa melepas earphone" ujar Mayla yang nampaknya masih belum menyadari posisinya. sedang Raksa nampaknya juga sama kagetnya. dia sama sekali tak menduga kalau Mayla akan jatuh dan menindihnya, karena dia hanya bermaksud memberitahu Mayla jika earphone miliknya masih perempuan itu gunakan. ntah Mayla yang kurang makan jadi ringan atau Raksa yang terlalu kuat menariknya tadi, sampai berakhir begini.


"May kamu berat" ujarnya seraya mendongak menoleh kearah Mayla yang kini duduk di pangkuannya. Mayla merajut dahi dengan muka penuh tanya,


"bangun May, aku mau ke kelas" susulnya seraya menarik earphone di telinga Mayla sekaligus manarik kesadaran perempuan di pangkuannya. terbukti Mayla spontan langsung beranjak dan berteriak.


"OH ASTAGA, MAAF"


untung saja petugas perpustakaan sedang tidak di dalam, jadi mereka masih aman namun, rupanya tidak karena mereka melupakan atensi semua mahasiswa yang kini menatap keduanya.

__ADS_1


"malu aku" ujar Mayla sambil menelungkupkan kepalanya ke meja, sedang Raksa hanya menggeleng seraya memasukkan buku dan earphonenya ke dalam tas. kemudian beranjak.


"ayo ke kelas"


...•••...


Mayla berjalan seorang diri, hanya ditemani lampu penerangan disetiap kanan kiri jalan. tadi ketika teman-temannya memaksa untuk mengantarkannya, Mayla menolak beralasan akan pergi ke suatu tempat terlebih dulu. Padahal dia hanya tidak mau menyusahkan orang lain. Hingga tepat ketika dia sampai di depan kosannya dia mendapati sebuah mobil yang familiar di ingatannya.


"ayah" gumamnya. tepat ketika seorang pria setengah baya keluar dari mobil itu, dengan senyum ramah yang tak lepas dari wajahnya, sang ayah merajut langkah berjalan kearah Mayla.


"May, kamu baru pulang?" tanya sang ayah tepat di depan anaknya. Mayla terdiam lidahnya kelu, kedua tangannya memaksa untuk tidak memeluk berhambur pada pelukan yang dia rindukan. ayahnya.


"ada apa ayah?" tanya Mayla mencoba tersenyum kearah sang ayah.


"ayah hanya merindukanmu" jawab sang ayah seraya mengelus pelan kepala anaknya. Mayla tersenyum sebisa mungkin tidak merajuk atau memperlihatkan jiwa manja pada sang ayah.


"Mayla juga merindukan ayah" jawab Mayla, tanpa menjawab sang ayah langsung memeluknya. begitu juga Mayla.


"ayah" sebuah suara mengudara dari belakang keduanya. Mayla menoleh, menemukan seorang laki-laki remaja yang berdiri tak jauh darinya.


oh Tuhan, apalagi ini


Disinilah mereka sekarang, duduk bertiga di restoran seafood yang tak jauh dari kosan Mayla.


"May kenapa diam saja, nanti dingin makanannya" ujar sang ayah, Mayla mengerjap sudah lama dia tidak datang ke restoran seafood seperti ini. karena termasuk mahal baginya.


"ayah aku mau cah kangkung kita tambahkan lagi ya" ujar laki-laki remaja samping ayahnya. menarik atensi Mayla dari banyaknya makanan di depannya. Karena mereka terlihat akrab.


'hey ! yang kamu sebut ayah itu adalah ayahku'


"may selain makanan di meja ada yang ingin kamu tambahkan juga biar sekalian" ujar sang ayah. Mayla menggeleng.


"ini sudah cukup ayah"


"oh iya may ayah lupa memperkenalkan kalian, May ini Bumi Satria Negara panggilannya Satria dia akan menjadi adik tiri kamu, dan satria ini Mayla Nirwana Azzara dia anak ayah yang sering ayah ceritakan yang nantinya akan menjadi kakak tiri kamu satria" ujar sang ayah memperkenalkan keduanya.


'sudah kuduga'


"hm,iya"


"yaudah sekarang kita makan ayo, cah kangkung kamu sudah datang satria. May ayo makan jangan diam saja" ujar sang ayah menengahi kekakuan keduanya.


Sudah lama Mayla tidak makan dengan sang ayah, sifat serta sikap sang ayah pun tak ada yang berubah hanya saja kini semua itu sudah terbagi. Jujur Mayla sedikit tak iklas melihat perhatian ayahnya terbagi, namun dia bisa apa. Marah? jelas tidak dia hanya akan memperumit dirinya sendiri kalau dia mengikuti hawa nafsunya.


"May bagaimana kuliah kamu? uang jajan dari ayah masih ada?" tanya sang ayah di sela mengunyahnya.


"ngga ada yang spesial, masih banyak ayah" jawab Mayla seraya menarik gelas minumnya. bahkan uang itu tak pernah Mayla sentuh sedikitpun.


"kalau butuh apa-apa kamu bisa menghubungi ayah atau mamah kamu may" susul sang ayah, Mayla mengangguk, ntah kenapa rasa makanan yang dia makan kini sedikit terasa hambar.


"may kamu bisa menolak kalau kamu ngga mau datang ke pernikahan ayah nanti" ujar sang ayah kemudian. secara tak langsung memberhentikan kunyahan Mayla.


"aku akan datang, kalau aku tidak sibuk ayah", sang ayah mengangguk memaklumi.


" ayah aku sudah selesai" ujar satria. sekaliagus menutup pembicaraan keduanya. karena makanan sudah habis sedang makanan di depan Mayla masih tersisa sang ayahpun meminta agar makanan itu di bungkus, selain itu ayahnya juga membelikan beberapa lauk pauk yang Mayla yakini jika itu tak kan habis dalam seminggu.


'mamah dan ayah sama saja, mereka kira semua ini bisa ku makan sendirian?'


di perjalanan mereka hanya diam, terutama Mayla dan Satria seakan ada tembok pembatas yang namanya kecanggungan. Satria yang fokus dengan ponselnya begitu juga Mayla yang betah melihat ke luar jendela, memperhatikan ruko-ruko sepanjang kosannya.


"may kamu bisa kapan saja menemui ayah, jangan sungkan ayah masih ayah kamu. ada apa-apa ayah disini, kami disini May meskipun kami sudah berpisah" pesan sang ayah seraya mengelus lembut rambut Mayla. Mayla mengangguk. tak dapat berkata apa-apa. mungkin dulu Mayla akan manja, merajuk dan memeluknya dan tak pernah dia lepaskan, tapi kini beda dirinya sudah terbiasa berteman dengan kesendirian, bernafas dengan kehampaan membentengi diri dengan kata baik-baik saja.


sepeninggal sang ayah Mayla merajut langkahnya ke dalam kosan. baru saja dia hendak duduk di kursi belajarnya. suara klakson yang terdengar nyaring mampu membuat siapa saja bangun dan menarik langkah kesal karena menganggu. termasuk dirinya.


"siapa sih" ujarnya seraya membuka pintu kosannya, pasalnya suara klakson tadi bersumber dari depan kosan Mayla. ternyata yang keluar bukan hanya Mayla melainkan semua penghuni kosan.


Tak jauh dari sana seorang laki-laki masih duduk di atas motornya, sesekali menyalakan klakson hingga bibirnya tersenyum tatkala laki-laki itu melihat Mayla keluar.

__ADS_1


"Haaaaaaiiiiiiiiii" teriaknya melambaikan tangan kearah Mayla.


"oh Tuhan, aku kira masalahku sudah selesai" gumamnya. tak melepas pandangan dari laki-laki berkucir dengan anting serta celana robek-robek kurang bahan—Arsaka.


"ada apa" ujar Mayla tepat ketika dia sampai di depan Arsaka.


"suntuk, mau ikut denganku kita telusuri panjangnya malam" ajak Arsaka tiba-tiba. membuat Mayla harus mencerna dua kali maksud tujuan si bungsu sadewa di depannya. Mayla mengernyit seraya berujar


"maksudnya?"


"ck.. aku mengajakmu pergi apa kurang jelas"


"sekarang?"


"tahun lalu may" jawab Arsaka setengah kesal.


"jadi mau atau tidak? ah... jelas tidak tapi kali ini aku memaksa dan jangan di tolak" ujar Arsaka seraya memakaikan helm pada Mayla.


"naiklah, tenang meskipun aku nakal dan tidak jelas, tapi aku bukan lelaki murahan yang suka melecehkan perempuan" ujarnya, Mayla masih menimbang karena ini pertama kalinya Mayla pergi dengan orang baru, tapi di sisi lain dia membutuhkan pelampiasan dari kesedihannya tadi.


"May percaya padaku, aku akan mengantarmu dalam keadaan sehat tak kurang satu apapun" susul Arsaka meyakinkan Mayla. Mayla mengangguk menaiki motor Arsaka.


'Tuhan semoga aku baik-baik saja'


Keduanya kini mulai menyusuri panjangnya malam, Mayla tak tahu kemana Arsaka akan membawanya, tanpa dirinya ketahui Arsaka sendiri juga tak tahu akan kemana membawa Mayla pergi. dia hanya mengikuti jalan yang mungkin tak kan berujung walau bensin motornya habis sekalipun.


"kita akan kemana?" ujar Mayla berteriak dari belakang punggungnya.


"ngga tau" jawab Arsaka, di tengah mengemudikan motornya. membuat Mayla merajut dahinya, tak mengerti.


"liat aja nanti" susul Arsaka lagi seraya memperlambat laju motor. Mayla memejam merasakan hembusan Angin malam yang menerpa wajahnya, air matanya tanpa di duga menetes ntah apa sebabnya. dia teringat bagaimana sang ayah yang selalu dia hindari, mungkin bisa saja penyebab air matanya jatuh kini, atau karena angin malam yang terlalu jahat? terakhir kali Mayla ketemu dengan ayahnya waktu itu ketika Mayla pulang dari kampus.


Motor Arsaka berhenti, menarik tanya bagi Mayla.


"kenapa berhenti?" tanya Mayla penuh curiga. Arsaka terdiam, seraya memperhatikan jalanan.


"kita di jalan tol May"


"HAH?"


"Astaga, budek lama-lama" ujar Arsaka menutup telinga seraya menoleh ke arah Mayla.


"ko bisa ka, terus gimana kita pulang?" tanya Mayla kaget. Arsaka terkekeh.


"ya pulang, tinggal pulang. aku juga ngga sadar kalau ini jembatan layang jalan tol" jawab Arsaka. dia tidak sepenuhnya bohong karena suasana malam hari dia tidak begitu jelas melihat jalanan, dia hanya mengikuti saja kemana motor itu membawanya hingga dia mengernyit ketika dia tak menemukan motor di sekitarnya, dan beberapa meter dari sana walau tak begitu jelas pandangannya dapat melihat gerbang tol.


"lihat" susul Arsaka seraya menunjuk banyaknya bangunan yang terlihat kecil dari kejauhan.


"indah" ujar Mayla, Arsaka mengangguk. keduanya kini berdiri menyender pada motor.


"may kalau kamu berniat bunuh diri disini tempat yang tepat" ujarnya seraya menoleh kanan kiri. Mayla mengangguk mengiyakan, disini ramai lalu lalang kendaraan tapi Mayla yakini kalau terjadi apa-apa suaranya tak akan terdengar meskipun berteriak sekalipun.


"kamu saja ka" ujar Maya jenaka, sesusah apapun hidupnya dan seberat apapun masalahnya Mayla berjanji tidak akan menyia-nyiakan hidup, dengan bunuh diri. tidak akan pernah lagi.


"sayangnya mati tidak semudah dugaanku" jawab Arsaka , menarik atensi Mayla. Arsaka menghela nafas seakan mencoba mengeluarkan berbagai masalah yang sengaja dia kunci dalam dirinya sendiri.


Angin malam menghembus menerbangkan rambut keduanya sekaligus mendinginkan kekacauan perhelatan batin yang tak pernah keduanya suarakan. karena keduanya sama-sama memendam masalah masing-masing, Sama-sama menyimpan rahasia yang mereka kunci sangat rapat.


"ka kenapa tadi kamu menemuiku?" tanya Mayla menoleh ke arah Arsaka.


"hanya ingin" jawabnya tak melepas antensi dari pandangannya.


Ntahlah karena setelah pertengkaran hebat dengan ayahnya tadi, Arsaka memutuskan untuk pergi namun dia bingung harus kemana. hingga laju kuda besi itu mengantarkannya pada kosan Mayla.


Mayla menatap bias kedepan berharap Tuhan masih memberinya sebuah asa. Ntahlah Mayla tak mengerti.


Meet the cast :

__ADS_1


SATRIA



__ADS_2