
Mayla berjalan seorang diri, seraya sesekali menatap gelapnya langit malam. dia bersenandung mengikuti lagu yang sedang dia dengarkan lewat earphone, ditangan kanannya dia menggenggam sekaleng kopi yang sesekali dia teguk dalam langkahnya.
"sakit sekali" ujarnya seraya memegang tengkuknya yang sedikit sakit, karena terlalu sering menunduk sebagian badannya pun pegal karena dia terlalu royal dalam bekerja.
"Tuhan aku lelah" gumamnya seraya kembali meneguk kopi kalengan. Jujur saja dia sudah sangat lelah dan rasanya ingin menyerah, berniat hanya berserah dan berpangku tangan pada takdir.
Mimpi, cita-cita dan berjuta kesuksesan yang ingin dia raih sejak lama hilang, berganti dengan tangisan pahit yang menariknya pada kata masa depan suram.
kini keinginannya sederhana dia hanya ingin ibunya hidup bahagia di sisa usianya, dan dirinya tidak mau lagi menyusahkan sang ibu tercinta.
"sayangnya mati tidak semudah dugaanku" adalah percakapan yang terlintas di otaknya kini.
"kenapa dia berkata seperti itu" gumamnya, ntah kenapa Mayla melihat nada keputusasaan dari nada perkataan Arsaka waktu itu.
Mati? bukan sekali atau dua kali dia menginginkannya. bahkan dia sempat berpikir jika saja setelah meninggal manusia sudah selesai, mungkin banyak orang yang memilih meninggal dari pada menderita, tapi sayang mati tidak semudah itu. benar kata Arsaka.
sebutlah Mayla lebay, tapi kembali lagi ini karena dia mengalami kejadian yang tiba-tiba,layaknya sebuah ombak dahsyat yang tiba-tiba datang mengusik ketenangan warga pantai. seperti itulah yang Mayla rasakan.
Dari ujung sebuah gang seorang remaja laki-laki berlari tunggang langgang terlihat sedang kejar-kejaran dengan petugas keamanan dan dua laki-laki berapron.
"hei sialan berhenti kau"
"berhenti", namun remaja laki-laki itu terlihat tak peduli malah semakin menambah kencang larinya. umpatan demi umpatan pun keluar seiring kakinya berlari, mengabaikan teriakan orang-orang di belakangnya yang terus berseru penuh kekesalan dan amarah.
"Tunggu"
"berhenti" kembali kedua orang itu berteriak, sesekali remaja laki-laki itu menoleh, menatap waspada orang yang mengejarnya.
"sial" ujarnya seraya terus berlari, konsentrasinya terbagi karena sesekali menoleh ke belakang, hingga dia tak menyadari di depannya ada seorang perempuan.
DUAKH!
BRUUUK!
SRUK!
seseorang tiba-tiba saja menambrak Mayla dari belakang membuatnya tersungkur kedepan, dengan lutut dan telapak tangan yang menjadi sanggahan, menyambangi aspal gradakan.
"AH/ADUH" ucap keduanya bersamaan.
"ka Mayla", adalah satu perkataan yang terdengar kala Mayla tersadar dari tersungkurnya. walau malam hari, dan pandangannya tak begitu jelas Mayla dapat dengan mudah mengenali orang yang membuatnya terjatuh.
Kalau saja lutut dan tangannya tak kuat menahan bobot badannya, tentu saja bibirnya akan sumbing karena mencium aspal jalan yang gradakan di depannya. Mayla menoleh mendongak hendak melayangkan tanya sebelum si penabrak—satria— langsung menariknya memaksa kakinya yang sakit berlari mengikuti langkah cepat remaja laki-laki itu.
"wooy berhenti", sebuah suara berseru dari belakang keduanya.
"tunggu" susulnya lagi.
"sial" ujar satria. sedang Mayla kini tengah menahan sakit di lututnya. dia bahkan dapat merasakan rembesan darah yang menembus celananya.
__ADS_1
"AKU SUDAH TIDAK KUAT" teriak Mayla ditengah berlarinya, namun satria tak menjawab. dia malah semakin mempercepat larinya. ditambah dia masih mendengar derap langkah kaki yang berlari tak jauh di belakang mereka.
"BERHENTI KU BILANG" teriak Mayla lagi seraya manarik tangannya dari cekalan Satria dengan sisa kekuatannya, membuat mau tak mau yang lebih muda berhenti. namun pandangannya tetap menatap waspada pada sekitar takut-takut orang tadi dapat mengejarnya.
"kamu... hah.. kenapa... hah... malah membawaku. ..hah..berlari" ujar Mayla dengan ngosngosan kedua tangannya kini menjadi tumpuan, menekan kedua lututnya yang sakit dalam posisi membungkuk.
Mayla menoleh, menatap nyalang kearah yang lebih muda, dia mengernyit meskipun pencahayaan yang minim dia dapat dengan jelas melihat kening satria yang memar dan goresan samar di sepanjang lengannya.
'apa yang bocah ini lakukan sebenarnya'
satria bungkam dia memalingkan wajahnya kemanapun asal tidak pada objek di depannya. calon kakak tirinya. dia pun tidak tau kenapa malah menariknya berlari.
"JAWAB!" teriak Mayla, dia tak habis pikir kenapa orang-orang baru yang dia temui selalu membuatnya kaget dengan tingkah tak terbaca. Satria terdiam pandangannya menatap waspada ke belakang punggung Mayla, dia takut orang-orang tadi muncul dan kembali mengejarnya. abai dengan pertanyaan yang Mayla lontarkan.
karena satria tak kunjung menjawab membuatnya sedikit kesal. ditambah anak remaja di depannya ini adalah orang yang akan menjadi adik tirinya nanti. menambah kekesalanya semakin menjadi.
"KENAPA KALIAN SEMUA DATANG MEMBAWA MASALAH DALAM HIDUPKU, MASALAH KU SUDAH BANYAK" teriaknya seraya terisak, sedih bercampur lelah begitulah kini, dirinya sungguh sangat menyedihkan. bayangkan saja, dia baru saja pulang bekerja. kuliah sambil bekerja itu tidak seperti dalam drama-drama dimana semua itu terlihat sangat mudah dan menyenangkan, nyatanya dia harus membagi waktunya setiap hari. belum lagi ada jadwal yang tak terduga membuat semua jadwal yang sudah dia buat berantakan, dan dia harus kembali mengulangnya lagi. belum lagi jam tidur yang tersita banyak karena kerjaan.
sangat memuakan bagi Mayla.
"berhenti menangis kamu sudah besar ka" ujarnya seraya menarik Mayla bersandar pada lampu jalan. Satria dapat melihat orang yang akan menjadi kakak tirinya itu menangis terisak.
"SUDAH CUKUP KAMU MENCURI AYAHKU, APA MASIH BELUM PUAS?" teriak Mayla, dia hilang kendali. dia tak bermaksud mengajak calon adik tirinya berantem di tengah malam,atau mengungkit yang sudah terjadi dan menyalahkannya. hanya saja kedatangannya kini membuat hidupnya semakin rumit.
"BERHENTI MENANGIS AKU BILANG" teriak Satria tak kalah.
"AKU TAK MENANGIS TAPI AIR MATAKU TAK BISA KU HENTIKAN. AKU CAPE, AKU SUDAH CAPE KAMU DATANG MEREBUT SEMUANYA DARI KU, KEBAHAGIAAN KU, KELUARGA KU" teriak Mayla penuh emosi bahkan dia tak peduli jika dirinya kini ada di pinggir jalan. teriakan Mayla berhasil menarik atensi beberapa pengendara motor yang lalu lalang di jalan raya malam itu.
"HAH SUDAHLAH LUPAKAN, ANGGAPLAH AKU TAK PERNAH MEMBICARAKANNYA! AKU HANYA CAPEK DENGAN HIDUPKU! " susul Mayla segera seraya mengusap kasar air mata dengan punggung tangan, dia kemudian beranjak hendak berjalan kembali sebelum, satria berseru.
"aku akan mengantarkan mu" ujarnya seraya berjalan mengikuti Mayla tak jauh di belakangnya. dia menatap punggung rapuh itu masih terisak.
"maaf" ujarnya, helaan nafas berat keluar. seiring tungkai kakinya melangkah mengikuti perempuan lebih tua darinya.
"kamu ngga tau, aku juga menderita ka" susulnya lagi.
Mayla merajut langkahnya tanpa peduli dengan calon adik tirinya yang mengikuti di belakangnya. hingga tanpa di sadari kini dia sudah sampai di depan gerbang kosannya.
"malam mba Mayla" ujar satpam disana. Mayla menoleh, berhenti sejenak
"malam pak" jawabnya, dia melirik sekilas kearah satria
"dia adikku" susulnya menunjuk satria untuk memberitahu satpam disana agar membiarkannya masuk. dia memang membenci calon adik tirinya tapi dia masih punya hati nurani. Mayla pun tak habis pikir kenapa satria belum pulang jam segini karena laki-laki remaja itu masih lengkap dengan seragam sekolahnya. apa kedua orang tuanya? ah orang tua ya?
"kak", Mayla menoleh
"masuklah dulu, aku akan mengobati lukamu" jawab Mayla. satria terdiam seraya menyentuh luka di sikut dan di keningnya bergantian. rupanya calon kakak tirinya lebih menyadari lukanya dari pada dirinya sendiri.
Tak—suara gelas yang beradu dengan lantai menarik atensinya dari pandangan acak kamar kosan yang menjadi objek pertamanya.
__ADS_1
"sekarang katakan, bagaimana bisa kamu di kejar-kejar seperti tadi sat" tanya Mayla seraya manaruh kotak p3k di depannya. Satria terdiam untuk beberapa alasan. dia mendesis ketika tak sengaja Mayla menekan luka di sikut dan keningnya.
"panjangkan namaku, sedikit ambigu ketika kamu memendekkannya di awal nama" ujarnya, membuat Mayla menghela nafas karena yang lebih muda seakan tak peduli dengan pertanyaannya.
"yasudah! jawab satria, kamu tau. kamu hampir membuatku serangan jantung tadi. betapa takutnya aku" kesal Mayla menuntut jawaban, menarik atensi yang lebih muda menatapnya. ntah perempuan di depannya kini punya kelainan atau bagaimana karena dia dapat melihat sisi dewasa yang berbeda dengan tadi.
"kamu punya kelainan jiwa atau bagaimana?, kenapa tadi kamu terisak sambil berteriak? dan sekarang lihatlah kamu sungguh berbeda" tanya yang lebih muda, membuat Mayla seketika menarik nafas karena kesal.
"kamu mau tau, asal kamu tau aku habis pulang kerja, dua nilaiku ada yang di bawah rata-rata dan lagi aku cape kamu tiba-tiba menabrakku dan membuatku tersungkur" jawabnya menggebu-gebu penuh kekesalan. saking kesalnya dia tak sengaja kembali menekan luka milik satria. membuat yang lebih muda kembali mengaduh.
"sebenarnya..... orang-orang yang mengejarku tadi.....itu mereka-----
" mereka apa satria?" sela Mayla tak sabaran.
"ck mereka pegawai rumah makan, aku di kejar karena aku----
"jangan bilang kamu kabur karena tidak membayar makanan?" susul Mayla segera. anggukan adalah bentuk respon dari yang lebih muda kini. membuat Mayla kesal bercampur marah dalam diamnya. bagaimana mungkin? apa sang ayah tidak pernah memberinya uang? sampai remaja di depannya ini tak mampu membayar?
"dompetku ketinggalan dan mereka tak percaya, makanya aku kabur dari pada di suruh mencuci piring di dapur" ujar yang lebih muda menambahkan.
nampaknya wajah bingung Mayla tercetak jelas, dia tak harus susah payah bertanya kembali alasan menyebalkan yang membuatnya tersungkur tadi, oh Tuhan ini pertama kalinya dia tersungkur di jalanan dan itu ulah dari calon adiknya. betapa kesalnya dia.
"kamu bisa menyuruh keluargamu, untuk mengantarkan dompet atau bahkan membayar makanan mu, astaga aku tak habis pikir. kalau kamu berbicara dan bukannya malah mengajakku berlari tadi! mungkin aku bisa membantumu dan membayar uang tagihan makanmu. bukan membuatku dalam masalah karena bertemu dengan mu" ujar Mayla panjang lebar dengan nada penuh emosi tanpa jeda. membuat yang lebih muda bungkam beberapa saat.
"apa aku bisa berpikir disaat suasana sedang genting?" yang lebih muda menyuarakan tanya. mencoba mencari pembelaaan diri agar calon kakak tirinya tidak menumpahkan emosi padanya.
"sudahlah, semua sudah terjadi. mungkin sudah takdir" jawab Mayla memendekkan kata, dia malas berdebat dengan calon adik tirirnya. ntah kenapa dia seakan terkunci dengan kata takdir. takdir. takdir. dan takdir.
suara jam dinding yang terdengar nyaring seakan mengisi suasana keduanya, perkataan Mayla tadi seakan mengakhiri percakapan di tengah malam. keheningan kini mulai manarik dinding kecanggungan yang keduanya ciptakan dalam keterdiaman.
Yang lebih muda kembali menatap acak sekitar kamar kosan Mayla. dia mengernyit menyuarakan tanya dalam diamnya. pasalnya tak ada satupun foto yang terpajang di sana. di nakas terlihat hanya ada tumpukan Al-quran dan juga lampu tidur. di meja belajar hanya ada tumpukan buku serta kertas yang merebut space yang kosong. hampir memenuhi seluruh meja belajarnya. di dinding hanya ada beberapa poster ntah foto siapa Satria abai.
"ada satu alasan kenapa ayah mu menikahi ibuku" ujarnya mengusir keheningan. menarik atensi dari lantai marmer yang menjadi objeknya. dia menoleh kearah Mayla yang tengah menyender pada lemari pakaian di depannya.
helaan nafas menjadi respon yang lebih tua sebelum dia berujar
"waktu sudah malam, mending kamu pulang", Mayla tak menaruh atensi pada yang lebih muda. dia beranjak kemudian menaruh kotak p3k yang sedari tadi ada dalam pangkuan ke dalam kabinet dapur.
"akupun sama sepertimu, bahkan aku orang pertama yang menolak" susul Satria segera, mendongak menoleh ke arah Mayla.
"pulanglah, besok kita ke tempat makan yang tadi. biar aku yang membayar" jawab Mayla tepat ketika dia menutup kabinet dapurnya, dia tak sempat berdiskusi dengan pikirannya, karena lisannya bersuara tanpa diperintah.
Tanpa menaruh atensi lebih Mayla melangkah kearah pintu. Satria terdiam dia tak menyangka akan mendengar perkataan barusan.
"ayo aku antar keluar" ajak Mayla tak ingin mendengar apapun itu jawaban yang keluar dari calon adik tirinya. mau tak mau satria mengekori.
sepeninggal satria Mayla kembali memasuki kosannya dia membaringkan tubuhnya di kasur, menatap langit-langit kamar tak berkedip. membiarkan sudut matanya basah seiring kedipan spontan motoriknya, secara alami nalurinya mengatakan calon adik tirinya tidak salah. kenapa dia harus menumpahkan amarahnya seperti tadi. namun kembali lagi dia hanya lelah.
"maafkan aku" ujarnya, dan hening malam yang menjawabnya kala itu. waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. namun Mayla masih terjaga dalam diamnya.
__ADS_1
kata—maaf— menjadi pengganti sapaan—Halo— yang harusnya terucap dalam lisan keduanya, dua calon sodara tiri yang saling meruntuhkan tembok tak kasat mata yang bernama keterasingan.
Kedekatan bukanlah awal dari mereka saling mengenal, melainkan sebuah masalah yang siadik tiri bawa secara tak sadar membuat keduanya dekat, walau mereka belum menjadi sodara tiri seutuhnya.