Aku Tak Mengerti

Aku Tak Mengerti
Destiny


__ADS_3

Suara ponsel yang terdengar nyaring membangunkan Mayla dari tidur nyenyaknya.


"Halo"


"....."


"APA KANTOR POLISI? Hah...bumi??..oh sat—SATRIA?" Ujarnya seketika bangun.


"....."


"Oh iya pak baik,....iya pak saya mohon maaf tunggu sebentar"


"Tuhan...... apalagi sekarang??" Gumamnya selepas menutup telpon, jelas-jelas kemarin Satria menelponnya dan terdengar baik-baik saja. Lalu sekarang?? kenapa anak itu sudah berada di kantor polisi. Walau mulutnya terus menggerutu Mayla tetap bangun menarik beberapa potong baju kemudian melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Keluar kamar mandi dia langsung membereskan keperluannya, sekalian untuk ke kampus nanti siang. tadinya dia bermaksud bangun siangan karena hari ini Mayla masuk siang kekampus, hanya saja karena Satria niat untuk bangun siangpun lenyap.


"Baru kemarin aku gajian, lalu apa lagi sekarang jangan bilang aku harus menebusnya di kantor polisi" gerutunya seraya mengunci pintu. Dia kemudian memesan ojek online beberapa menit setelah memesan, ojek onlinepun datang.


Disinilah dia sekarang, berdiri di depan gedung kantor polisi. Seumur-umur Mayla baru dua kali menginjakkan kakinya di kantor polisi pertama ketika dia membuat SKCK, dan sekarang ini kedua kalinya, karena Satria.


Dengan terburu Mayla masuk. Menghela nafas sejenak tepat ketika dia melihat punggung Satria duduk membelakanginya.


"Tuhan berikanlah aku kesabaran" gumamnya, sebelum kakinya merajut langkah ragu memasuki ruangan.


"Permisi"


"Oh iya silahkan, kalau boleh tau anda siapanya anak ini ya?"


"Saya—


"Dia kakak saya" sela Satria.


"Begini, mba. Sebenarnya saya sudah bosan melihat anak ini selalu saja berulah. Kemarin malam saya menangkap adik mba kembali balapan liar di jalan raya dan juga berkelahi", mendengar perkataan dari polisi di depannya jujur Mayla bingung. Bahkan dia tidak menerka sampai sejauh ini Takdir memberinya kejutan.


"Jika adik mba terus menerus seperti itu, demi keamanan terpaksa kami akan membawanya ke kantor pusat" tambah polisi itu.


"Jangan pak, saya akan memperingatinya. Saya minta maaf atas kelalaian saya sebagai kakak satria" ujar Mayla memohon. Ini baru pertama kalinya dia berurusan dengan polisi, seperti mimpi buruk rasanya. Duduk berhadapan dengan orang di depannya kini.


'Seseorang tolong siram dan bangunkan aku sekarang' ujarnya membatin.


"Baiklah, jika nanti saya melihat dia balapan liar lagi atau berkelahi, dengan terpaksa kami akan membawanya untuk di adili"


"Terima kasih banyak pak, apakah saya boleh membawa pulang adik saya?", polisi itu mengangguk.


"Silakan anda boleh membawanya",


"Ayo pulang" ajak Mayla menarik tangan Satria keluar. Kakinya mungkin merajut berjalan keluar dari kawasan kepolisian. Hanya saja pikiran Mayla bercabang. Diposisinya kini apa yang harus dia lakukan?


"Kamu lapar?" Tanya Mayla menoleh sekilas pada yang lebih muda. Mendengar pertanyaan diluar dugaan, jujur Satri kaget. Dia kira Mayla akan memarahinya seperti waktu itu, ketika dirinya dikejar pemilik rumah makan. dia bahkan sudah menyiapkan fisik dan batinnya sedari tadi untuk mendengar petuah membosankan sepanjang jalan. namun pertanyaan yang keluar malah di luar dugaan. Berbeda sekali dengan kakaknya—Jendral.


"Kamu lapar tidak?" Kembali Mayla bertanya karena Satria tak kunjung menjawab.


"La—lapar" jawan Satria gugup.


"Warteg di sekitar sini dimana ya" ujar Mayla seraya celingak celinguk kesana kemari mencari, karena biasanya di setiap instansi atau kantor-kantor pasti ada warteg ntah itu untuk makan atau sekedar ngopi mengisi waktu istirahat.


"Nah itu dia" tunjuk Mayla seraya berjalan kearah warteg diekori Satria di belakangnnya.


"Kamu ngga memarahiku" tanya Satria ditengah langkah ragunya mengekori Mayla. Menoleh sekilas ke belakang Mayla memelankan langkah menyamakannya dengan langkah yang lebih muda.


"Sebenarnya ingin, tapi— aku lapar ayo masuk dulu" ujar Mayla tak sepenuhnya bohong, karena bangun tidur dia langsung dapat telpon dari kantor polisi. Hanya untuk minum segelas air saja tak sempat. Saking kagetnya.


"Nasi uduknya satu bu, kamu mau makan apa?" Tanya Mayla, satria bergeming. Dia cukup kesulitan mengartikan maksud dan tujuan yang lebih tua membawanya kesini.


"Satria" ulang Mayla kembali karena yang lebih muda tak menjawab. Satria menoleh masih bergeming.


"Iya...oh samain aja ka, tapi jangan pake orek"


"Terus mau pake apa? Kesini kamunya jangan menghalangi jalan" ajak Mayla seraya menarik Satria kedalam.


"Sebutin atau tunjuk yang kamu mau, aku yang bayar" ujar Mayla seraya duduk. Satria kemudian menunjuk satu persatu menu hidangan di depannya.


"Minumnya mau apa?"


"Air putih aja ka", Mayla mengangguk seraya menerima dua piring nasi pesanan keduanya.


"Nih makanan kamu" ujar Mayla seraya memberikan sepiring nasi berserta lauk pauk pada satria.


"Makan kamu nunggu apa?" Tanya Mayla tepat ketika dia menerima nasi uduk dan juga segelas air.


Selama makan tak ada percakapan yang keluar, keduanya tak ada yang berniat memulai obrolan atau sekedar mencari topik. Suara kendaraan menjadi teman suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring keduanya.


"Setelah ini aku mau ke kampus, kamu mau pulang atau mau ke sekolah?" ujar Mayla tepat ketika keduanya selesai makan. Mayla mengernyit atas keterdiaman yang lebih muda.


"Sat—


"Maaf....aku melibatkanmu dalam masalahku. Kamu seharusnya memarahiku, memukulku, atau membiarkanku di bawa dan ditahan. Bukan malah diam saja seakan tidak terjadi apapun ka" ujar Satria akhirnya, seraya menunduk tak berani menatap mata yang lebih tua.


"Masalahku sudah banyak, aku tidak mau menambah masalah lagi— Mayla menjeda kata-katanya seraya beranjak untuk membayar makanan keduanya.


"Kamu seharusnya tau mana yang baik dan yang buruk untuk dirimu, karena kamu sudah besar. Bukan anak kecil yang harus di dikte ini itu" ujar Mayla kemudian seraya berjalan keluar di ekori Satria di belakangnya.


"Setiap orang punya alasannya masing-masing. Apa aku harus menyalahkanmu karena kamu salah?" Tanya Mayla, seraya menoleh melihat yang lebih muda. Satria terlihat masih menunduk namun kakinya tak henti merajut mengekorinya.


"Aku tidak melihat orang dari satu sudut pandang, karena terkadang ada alasan dibalik semua yang dia lakukan. Aku juga bukan orang yang apatis. hanya saja, seseorang tidak akan melakukan sesuatu tanpa alasan. Walaupun itu hanya kesenangan semata"


"Kedepannya, aku berharap kamu berubah. Aku tau itu sulit, karena terbiasa. Tapi cobalah. Aku ngga melarang semua kesenanganmu, tapi coba rasakan apa dampak dari semua kesenanganmu apa yang kamu dapatkan selain dari kesenangan semu yang mudah lenyap begitu saja?. Dampaknya apa buat orang tuamu, sodara, orang lain dan teman-temanmu dari rasa senang sepintasmu itu" Mayla menjeda perkataan, menunggu respon yang lebih muda. Namun satria masih betah menunduk menatap acak pada jalanan.


"Ah aku terlalu banyak berbicara, maaf kan aku. mungkin karena aku kekenyangan...sudahlah aku duluan ya sebentar lagi aku masuk" ujar Mayla bohong. Karena faktanya jam masuk kuliahnya masih jauh. Tepat ketika Mayla hendak merogoh ponsel dari sakunya, Satria langsung menyela seraya menarik pelan tangan yang lebih tua, membawanya ke sebuah motor beat hitam yang masih terparkir di depan kantor polisi.


"Aku antar sekalian balikin motor" ujarnya.


Posisi kantor polisi dan Universitas tidak begitu jauh, kurang lebih setengah jam mereka sampai. Baru saja turun dari motor. sebuah teriakan menarik atensi keduany.


"Maylaaaa"


"Lo ko kalian udah di—"


"May kenapa kamu tidak mengangkat panggilan kami tadi. Cepat May Para Zeus dan Hera katanya disuruh kumpul ke Adipati, ayo may cepat Raksa sudah disana" Ajak Resha, belum sempat Mayla menjawab Arin langsung menarik tangan Mayla. Ketiganya berlari ke Adipati.


Disana sudah banyak mahasiswa yang berkumpul, Resha celingak celinguk kesana kemari mencari Raksa. Tak lama setelah itu Harvin berlari menghampiri membawa Mayla.


Tuhan Mayla belum siap ketemu Lian.

__ADS_1


"Sa....Mayla" ujar Harvin memberi kode. Raksa menoleh seraya menghampiri Mayla dan Harvin di belakang.


"Sa udah dari tadi?" Tanya Mayla, Raksa mengangguk.


"Aku kira kamu ngga bakal datang. Tumben susah di hubungi?" Ujar Raksa, karena tadi sebelum kumpul Raksa sempat menghubungi Mayla karena teman-temannya khawatir, Mayla sulit di hubungi.


"Ah itu tadi aku ada urusan jadinya ngga cek hp" jawab Mayla jujur, hanya karena telpon dari kantor polisi semua buyar. Raksa mengangguk tak bertanya lebih.


"Ngapain aja sa tadi? Udah lama ya?"


"Lumayan, pengarahan doang sama ambil nomor undian buat nanti" jawab Raksa.


"Udah? Aku keberapa?"


"Belum, masih pengarahan. Katanya pas akhir baru pengambilan nomor" jawab Raksa. Mayla mengangguk.


"Sa"


"Hm"


"Pipi kamu ko lebam? Kenapa?" Tanya Mayla. Raksa terdiam dia teringat perkelahian semalam dengan Arsaka karena ponsel yang tak sengaja terlindes ban motor. Namun Raksa nampaknya malas menjelaskan.


"Ngga papa, oh iya kamu nanti sama Arsaka buat pengambilan nomor. soalnya harus sama pasangan....dia disana" ujar Raksa seraya menunjuk punggung laki-laki yang terhalang beberapa barisan.


"Arsaka?" Mayla membeo. Raksa mengangguk.


"Pasangan kamu kan Arsaka, tunggu disini" belum sempat Mayla bertanya Raksa sudah pergi meninggalkannya, terlihat laki-laki itu kembali masuk ke barisan meninggalkan Mayla dengan keterkejutannya.


"Arsaka?...maksudnya... bukannya Li..." matanya membola tepat ketika dia mendapati Arsaka berjalan di belakang Raksa.


'EH...TUNGGU JANGAN BILANG Arsaka itu Li—'


"Iian tunggu aku" teriak Kalista seraya berlari menghampiri Arsaka.


'MAMPUS' —Mayla hanya bisa membatin mengutuk dirinya sendiri. Kini dia menyesali kenapa dia tidak mencari tahu Lian sebelumnya. Andai saja kemarin ponselnya tidak kehabisan daya, andai saja Rega tidak melupakan berkasnya, andai saja Mayla tidak ketemu Raksa, dan andai saja tadi polisi tidak menelponnya. mungkin dia tidak akan sekaget ini sekarang. Karena bisa saja dia sudah mencari tau siapa Lian.


"Mau kapan ambil antrian?" Tanya Raksa, Arsaka menggeleng seraya melihat situasi kedepan. Melihat padatnya mahasiswa yang berjubal di bagian pengambilan nomor, dia merasa malas.


"Pas di panggil aja—


"Fakultas Ekonomi Bisnis"


"Panjang umur, ayo May" tanpa aba-aba Arsaka langsung menarik tangan Mayla.


"Sa" teriak Mayla kaget seraya menoleh berharap Raksa melakukan sesuatu. Sedang Raksa abai, bungsu Arganta itu hanya mengekori di belakang bersama Kalista dengan muka kesalnya.


Bagi seorang Arsaka tak susah untuknya berjalan, karena secara otomatis mahasiswa langsung membelah kerumunan memberi jalan untuk Arsaka dan Mayla. terlebih keduanya kini tengah menjadi buah bibir semua mahasiswa.


Ntah ini hari apa Mayla tak tau, Ketika semua pasang mata terarah padanya ,dirinya hanya berharap lumpur hidup menghisapnya sekarang.


"Lalu apa gunanya aku menghindari lian kalau Arsaka itu ternyata Lian?" Gumam Mayla.


"Kenapa" tanya Arsaka tepat setelah mengambil nomor undian di meja. Mayla menggeleng mencoba bersikap sebiasa mungkin yang nyatanya sebaliknya.


"Muka kamu kenapa? Masih belum sembuh?" Tanya Mayla heran karena muka Arsaka masih lebam di beberapa bagian, hanya saja tak separah kemarin.


"Ngga papa" jawaban serupa Mayla dengar kembali.


"Nomor berapa?"


"Dua"


"HAH?"


"Dua belas" jawab Arsaka bercanda. Seraya menunjukkan bola undian berwarna putih pada Mayla.


"Sa kamu nomor berapa?" Tanya Mayla tepat ketika Raksa menghampiri bersama kalista.


"Dua"


"Dua apa?"


"Dua, may nomor dua" jawab Raksa seraya menunjukan bola undian putih, sama seperti yang Arsaka lakukan tadi.


"Oh"


"Sa"


"Hm"


"Ayo kekelas" ajak Mayla, dia hanya ingin cepat meninggalkan adipati sekarang. Raksa mengangguk.


"Eh bareng dong" ujar Arsaka. Oh Tuhan Mayla kan ingin menghindarinya,


keempatnya kini berjalan beriringan. Dengan posisi Mayla diapit Arsaka dan Raksa. Ntah, raga Mayla mungkin disini tapi nyawanya masih di pertanyakan.


... •••


...


"DEMI APA KITA BAKAL ADA AUDIT BULAN INI?" Teriak Dimas shock seketika terbangun menjatuhkan Jas Arseno yang sedari tadi menutupi mukanya, sipemilik jas mengangguk seraya meraih cangkir teh disampingnya.


Ketiganya kini ada di atas atap Sekolah. sudah lama mereka tidak kumpul seperti ini. Terakhir kali mereka berkumpul disana itu SMP sebelum takdir membubarkan paksa ketiganya. Tadi sepulang kantor Arseno sepakat mengajak keduanya keluar untuk membicarakan masalah Audit.


Dimas yang merindukan masa-masa SMP mengusulkan ide gilanya. Jadi disinilah mereka sekarang berkumpul di atas atap sekolah.


"Iya, tapi ngga tau kapannya" ujar Arseno seraya menyimpan kembali cangkir teh yang dia bawa dari warung depan sekolah di samping duduknya.


"Ko tumben banget audit akhir tahun gini biasanya kan awal tahun" ujar Rega, duduk bersila di samping Dimas yang kembali tiduran.


"Mungkin karena ini udah mau awal tahun ga" saut Dimas. si lelaki pradasa menggeleng


"Masih ada tiga bulanan lagi dim" ujarnya seraya menoleh mengacungkan tiga jari ,pada muka Dimas yang tak terlihat karena tertutupi jas Arseno.


"Ntah, mungkin mau pindah jadi akhir tahun" ujar Arseno seraya menselonjorkan kakinya, dengan kedua tangan yang menumpu ke belakang. menengadahkan kepalanya keatas, menikmati langit bertudung senja diatasnya.


"Sebenernya sih mau awal apa akhir itu bebas kita ngga ada masalah sama keuangan" tambahnya lagi. Dimas langsung menyela


"Bukan begitu, hanya saja proses pengajuan printer pasti akan terganggu" ujar Dimas seraya menarik jas Arseno dari mukanya.


"Liat ruangan lacerta, ruangan kami udah kaya tempat penampungan kertas" ujarnya kemudian seraya bangun menumpukan satu tangannya pada lutut yang dia tekuk salah satu. Membiarkan jas mahal Arseno jatuh menyentuh tembok semen.

__ADS_1


"Kalau ada audit bisa kacau masalahnya no bukan apa-apa, kalau masalah laporan keuangan kan itu aman-aman aja kita semua sesuai prosedur, ngga ada korupsi ataupun pencucian uang. tapi gimana, printer lacerta bakal di undur lagi proses approvment ke pusat" tambahnya seraya melempar pandangan kesal kearah Arseno.


"Kayanya ngga bakal ke ganggu.... eh kayanya iya dim bener ke ganggu. Tapi aku udah bilang papah sih kemarin" ujar Arseno. kembali tangannya meraih cangkir teh, meminumnya perlahan.


"Gimana kata om Hares?" Tanya Rega, Arseno menoleh sekilas sebelum menyimpan kembali cangkir di samping duduknya.


"Yah sama papah juga bakal ngelakuin sesuai prosedur, ngga langsung gitu aja approvement" ujarnya.


"Om Hares memang luar biasa, kenapa kamu ngga bilang om Juang Dim" tanya Rega seraya beranjak bangun berjalan kearah pagar pembatas atap.


"Papah juga sama, masalahnya tuh proposal masih nyangkut di bagian finance HO. sialan emang, kepalanya siapa sih pake liburan segala" ujar Dimas bersungut-sungut karena kesal.


"Bukan liburan dim, cuti melahirkan. Tapi bukan itu hambatannya. Itu karena kamu minta enam printer dim, kamu kira mudah kalau satu dua masih mungkin" jawab Arseno. Karena jika satu atau dua dia masih bisa menghandle tapi kalau lebih dari dua itu sudah urusan pihak HO.


"Yah gimana, kami butuh semua dari pada ganggu pekerjaan" ujar Dimas membela diri. Arseno mengangguk paham.


"Oh iya penulis yang kamu temui kemarin gimana? Udah ada kejelasan?" Tanya Arseno. Rega yang sedang bertumpu pada pagar pembatas atap berbalik.


"Kemarin sih dia baru milih paket, tapi belum ttd kontrak, eh iya no. nanti kamu yakin bakal ngundang 50 penulis pemula dan 50 penulis senior? Apa ngga kebanyakan?" Tanya Rega, Arseno menggeleng mengubah posisi bersila menghadap Rega.


"Ngga, itu udah aku sesuaikan dengan buget yang di approvment pihak HO" ujarnya. Dia kembali teringat rapat alot bersama Divisi Corvus mengenai bugdet event andromeda nantinya.


"Adik kamu gimana?" Tanya Rega kembali.


"Dia minta bayaran sesuai harga bandnya, dan berapa kali dia tampil"


"Aku kira gratis" seloroh Dimas seraya beranjak bangun dia melemparkan jas pada sipemilik sebelum meraih dua kaleng soda, yang langsung dia lemparkan salah satunya pada Rega.


"Ngga bakal Dim, katanya dia butuh uang buat lomba band. minta ke papah malah di marahin kemarin sampe babak belur...terkadang aku kasihan sama dia papah paling ngga suka anaknya masuk jalur seni" jawab Arseno sebelum kembali meraih cangkir teh dan menandaskannya.


"Karena itu juga Arsaka berubah" tambahnya.


"Adik kamu punya jalannya sendiri" ujar Dimas, Rega menoleh setelah melepas pandangan dari motor ninja merah yang diapit dua mobil di samping warung kopi depan Sekolahnya.


"Oh iya pengobatannya masih berjalan?" Tanyanya. Arseno mengangguk sekilas sebelum dia jatuhkan pandangannya pada rumah sakit elit yang tertangkap pandangannya. Gansa Medika.


"Masih, kemarin Dokter Juha menelponnya suruh chek-up rutin"


"Kondisinya gimana?" Tanya Dimas, sesaat setelah dia menegak sodanya.


"Adik ku, terlalu candu sama rokok jadinya malah makin parah. Dokter Juha bilang takutnya kalau seperti itu terus di usia 25 tahun ginjalnya tidak berfungsi" ujar Arseno, otaknya dengan otomatis menyimpan rekaman percakapan di telpon kemarin bersama dokter Juha, dokter itu mengatakan jika ginjal adiknya di takutkan akan berhenti berfungsi jika Arsaka tidak mengubah pola hidupnya dan masih merokok.


"Jadi ingat Raksa sampe mau mendonorkan ginjalnya untuk adikmu, aku kira itu hanya bualan doang" ujar Dimas. dia kembali teringat saat adiknya berjanji akan mendonorkan ginjalnya ketika sudah berusia 18 tahun. Dimas sempat mengira itu hanya bualan anak kecil belaka, kasarnya pengganti peran permen dan balon yang selalu dijadikan jalan keluar ketika anak kecil menangis. nyatanya tepat ketika Raksa berusia 18 tahun lebih, adiknya itu dengan berani melakukan donor ginjal demi Arsaka.


Arseno mengangguk mana mungkin dia melupakan niat luar biasa Raksa. Jika saja Raksa tidak menolong adiknya, mungkin saja sekarang Arsaka masih terbaring di rumah sakit atau parahnya meninggal.


"Iya aku ingat, anehnya ginjal mereka cocok. Apa mungkin karena mereka hidup bersama dari kecil" ujar Arseno heran, tidak hanya Arseno yang merasa heran bahkan Dimas dan Rega pun kaget waktu itu.


"Kamu ingat saat Raksa mengalami kecelakaan? Arsaka bahkan mendonorkan darahnya meskipun nyawanya dipertaruhkan.Ntah kenapa keduanya saling terikat" ujar Dimas. Dia teringat tepat ketika mendapatkan sebuah rekaman dari dokter yang menangani kecelakaan Raksa dulu. Rekaman itu berisi perkataan Arsaka yang rela mendonorkan darahnya meskipun dia baru saja keluar operasi tiga bulan lalu. Arseno mengangguk.


"Iya, aku ingat dan anehnya darah mereka pun sama"


Perkataan Arseno menjadi penutup karena kini ketiganya terdiam. Rega dan Dimas sama-sama menumpukan tangan mereka pada pagar pembatas atap seraya meminum soda memandang jauh ke depan. Sedang Arseno masih betah duduk bersila di tembok atas, ketiganya tenggelam dengan pikiran masing-masing.


"Jangan-jangan kalian bukan kakak kandung mereka lagi" saut Rega, menarik atensi Dimas dan Arseno bersamaan.


"Sembarangan kau Galvino" ujar Arseno dan Dimas barengan. perkataan rega mengingatkan keduanya pada masalah pelik yang keduanya sudah kubur dalam. Arseno yang waktu itu sedang dalam masa keterpurukan tidak mengingat sang adik yang sedang berjuang di rumah sakit, kebiasaannya hanya merokok dan merokok dalam setiap harinya sehingga tidak mampu mendonorkan ginjal begitupun sang ayah sibuk mengurusi perusahaan yang hampir kolaps.


Sedang posisi Dimas ketika Raksa kecelakaan itu jauh. Begitupun kedua orang tuanya. Yang dapat menolongnya waktu itu hanya Arsaka.


...•••


...


"Sudah berapa kali aku bilang, jangan sia-sia kan ginjal yang sudah ku donorkan" ujar Raksa seraya menarik batang rokok dari mulut Arsaka dan membuangnya ketanah.


Tadi setelah Raksa membelikan ponsel baru untuk Arsaka sebagai ganti ponselnya yang terlindes ban motor kemarin. Bungsu sadewa itu mengajak Raksa pergi. Disinilah keduanya sekarang duduk berdampingan di atas motor masing-masing. Masalahnya keduanya ngga tau mereka dimana.


"Hahaha lucu sekali lalu harus ku bilang, jangan sia-sia kan darah yang sudah ku donorkan begitu?" Ujar Arsaka mengejek seraya kembali menarik satu batang rokok dari bungkusnya. Abai dengan peringatan sibungsu Arganta.


"Sayangnya aku baru saja melakukan donor darah" jawab Raksa jujur karena memang baru kemarin dia melakukan donor darah—acara BEM UNSENO— Menarik atensi Arsaka yang hendak menyulutkan korek pada ujung rokok.


"Sialan, oh iya ingat dulu aku sempat menelponmu yang di atap rumah sakit waktu itu. Dan aku melupakannya gara-gara kau berlari lewat tangga darurat", Raksa mengangguk seraya menelentangkan tubuhnya di jok dengan posisi kaki di stir motor.


"Dokter Juha bilang bisa saja diusia 25 tahun nanti ginjalku kembali tidak berfungsi" ujar Arsaka, bersamaan dengan keluarnya kepulan asap tebal dari mulutnya.


"Ck jangan ngelawak di malam hari, setidaknya kamu masih bisa bernafas sampai sekarang...Makanya hiduplah dengan pola hidup sehat" ujar Raksa kemudian seraya menoleh sekilas kearah Arsaka sebelum dia memejamkan mata.


"Ck orang yang hidup dengan pola hidup sehat saja sakit" kilah Arsaka membela diri , seraya melipat sebelah kakinya ke atas.


"Jika suatu saat apa yang dikatakan dokter juha nyata berarti umurku tinggal lima—"


"Sayangnya aku tidak mau ikut meninggal, ginjalku sudah sisa satu tidak mungkin aku donorkan lagi sialan jadi jagalah brengsek, Jangan bodoh, hiduplah selagi Tuhan memberimu nafas. Nikmatilah seakan hidupmu seribu tahun lamanya" sela Raksa segera, bungsu Arganta itu bahkan berbicara tanpa jeda, seraya membuka mata menatap jengah kearah Arsaka.


"Apapun yang terjadi aku tidak akan melupakan jasa mu sa" ujar Arsaka tanpa menoleh.


"Hm jadi berhentilah merokok, atau ku cabut ginjal yang sudah kuberikan"


ujar Raksa kemudian seraya melepas pandangan menatap langit malam tanpa hamparan bintang. Arsaka menoleh


"Serem sekali" ujarnya seraya menjauh menutup bagian dada dengan kedua tangannya.


"Oh iya kamu udah tau siapa perempuan yang waktu itu mengalami kecelakaan denganku?" Tanya Raksa, mengingat donor darah Raksa jadi teringat kejadian di puncak dulu. Arsaka menggeleng, kembali menyesap rokoknya perlahan.


"Belum, pihak rumah sakit tidak memberi tahu dengan alasan privasi. Yang aku ingat bagian kening sebelah kirinya mengeluarkan banyak darah dan lukanya pasti membekas sampai dewasa" karena seingatnya perempuan itu terluka parah dengan luka di sekitar mukanya. Arsaka sempat menerka mungkin saja mukanya akan cacat ketika dewasa nanti.


"Siapa kira-kira orang bodoh yang bunuh diri tengah malam di puncak?" Tambahnya. Raksa menggeleng seraya menoleh kearah Arsaka.


"Ntah, dan siapa orang bodoh yang diam terlalu lama di atap rumah sakit sampai pingsan?"


"Setidaknya aku tidak bermaksud bunuh diri, lalu siapa orang bodoh yang rela memperaruhkan nyawanya demi orang yang tak dia kenal" jawab Arsaka membela diri seraya beranjak membuang puntung rokok. Raksa terdiam diapun masih mempertanyakan dirinya, kenapa dia rela mempertaruhkan nyawanya.


"Eh tunggu memang kau tak melihat mukanya waktu itu?" Tanya Raksa penasaran.


"Bagaimana bisa aku mengingat mukanya, sementara kau terkapar hampir tewas sialan" ujar Arsaka dengan nada ketus seraya berjalan menghampiri setelah membuang puntung rokoknya tadi.


"Ka"


"Hm"


"Kau tau kita dimana sekarang?"

__ADS_1


"Engga" jawabnya enteng.


__ADS_2