
Malam itu mungkin akan menjadi malam tak biasa buat Mayla karena dia akan pergi berdua bersama Rega. kemarin malam Rega mengajaknya sebutlah untuk menebus yang kemarin.
Beberapa baju kini memenuhi tempat tidurnya, sedari tadi Mayla sudah bingung harus menggunakan baju apa. Tadi sepulang kuliah dia buru-buru pulang dia bahkan mengabaikan chat Resha dan Arin yang menanyakan apakah dia akan ikut ke kafe nyopi yuk bersama yang lain atau tidak.
"kenapa tak ada yang cocok" ujarnya seraya tangannya terus mencari, karena semua bajunya hampir rata-rata kemeja dan celana jeans mungkin ada beberapa yang beda namun itu baju kerjanya.
"oh Tuhan, kenapa tak ada baju yang lain selain ini" rupanya Mayla baru menyadari jika setiap dia membeli baju yang dia beli hanya kemeja polos, jeans dan kulot saja. sungguh monoton. apalagi semenjak kedua orang tuanya bercerai dia lebih mengutamakan membayar biaya kuliahnya dari pada kebutuhan dirinya sendiri.
"coba ini kali ya" ujarnya seraya mengacungkan baju kemeja berwarna biru tua. namun dia melemparkannya setelah itu seraya berujar
"ketuaan warnanya, apa ini?" ujarnya lagi kali ini tangannya menarik sebuah baju blus berwarna hitam. kembali dia melemparkannya.
"kaya mau ngelayat ntar" ujarnya. bibirnya terus berkomentar sendirian mencari setiap baju dan celana yang kiranya pas untuk pergi dengan Rega. hingga pilihannya jatuh pada baju putih dengan celana kulot berwarna cream
"apa tidak aneh?" ujarnya lagi,
"AH PUSING BAJU YANG MANA" teriaknya,karena pusing memilih pakaian yang cocok tanpa sadar kantuk menjemputnya dia tertidur di atas tumpukan bajunya. kurang lebih setengah jam dia terlelap hingga dering ponsel sebuah panggilan dari seseorang berhasil membangunkannya.
[Calling]
"iya" ujarnya.
"dimana, mau ke kafe ngopi yuk ngga?", Mayla dapat dengan jelas mengenali si penelpon walau tanpa melihat nama yang tertera di ponselnya. dia Raksa.
"kenapa sa?" tanya Mayla sesaat ketika kesadarannya sudah terkumpul.
" mandi dulu sanah, terus buka chat dariku" ujar Raksa, seraya menutup panggilan Mayla pun mengikuti apa yang disuruh Raksa. tepat ketika Mayla keluar dari kamar mandi dia langsung membuka ponselnya, matanya membola ketika disana terdapat beberapa panggilan tak terjawab dari Rega.
"ASTAGA, aku lupa" ujarnya seraya memukul pelan keningnya. merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya melupakan janji dengan Rega. Pandangannya kini jatuh pada sudut kiri ponselnya, dia hanya punya waktu sekitar limabelis menit sekarang untung saja tadi bangun tidur dia langsung mandi, dengan cepat dia menarik baju asal kemudian memakainya, tak lupa dia memoles bibirnya namun tiba-tiba kegiatan memoles bibirnya terhenti kala dia mengingat kata-kata Raksa.
"ini lipstik kamu may", ntah kenapa ada kata-kata yang janggal disana. hingga masuk sebuah panggilan dari orang yang perkataannnya sedang dia pikirkan.
[calling Raksa]
" iya sa?" jawabnya.
"setidaknya balas chat grup agar mereka tidak menghubungiku terus" ujarnya membuat Mayla mengernyit tak mengerti, sampai dia teringat sesuatu
"ya ampun Sa aku lupa, kamu mau ikut sa?" tanya Mayla, Raksa terdiam beberapa saat sebelum dia kembali menjawab
"liat ntar, mau aku antar?" tanya Raksa, Mayla menggeleng dari pertanyaan Raksa Mayla dapat menerka bungsu Arganta itu tidak akan datang.
"ngga usah, aku juga takut ngga keburu ada janji soalnya" jawab Mayla,
"yaudah, kalau mau di antar chat aja" ujar Raksa, Raksa itu bukan lelaki yang akan bertanya lebih, kecuali itu menyangkut dirinya.
"iya sa, aku tutup ya" ujar Mayla seraya mamatikan panggilan. tepat setelah itu muncul pesan dari Rega
Ting!
Mayla langsung keluar, pandangannya langsung bertemu dengan Rega yang sesekali melihat jam tangannya.
"ka Rega" ujar Mayla seraya berjalan ke arah nya. Rega tersenyum memperlihatkan lesung pipitnya. Mayla terdiam terpesona oleh anak tunggal keluarga pradasa . bagaimana tidak Rega terlihat lebih tampan dari biasanya.
'bahaya May kamu terancam gagal move on lagi',
Mayla menggeleng mengusir pikirannya seraya menaiki motor Rega. karena terlalu lamat dia menikmati parfum yang di pakai Rega, dia tak menyadari kalau mereka sudah sampai.
"aku kira kamu ngga jadi tadi, soalnya chat aku ngga kamu bales may" ujarnya dikala motor Rega sampai di parkiran Mall. Mayla menggeleng.
"bukan, itu anu.... eu aku.... tadi ketiduran" jawab Mayla mengggit bibirnya dia merasa tidak enak karena mengabaikan Rega.
"maaf ya aku mengganggu is-
" ngga ka, ngga sama sekali, aku juga rencana mau keluar" susul Mayla segera. Rega terkekeh melihat reaksi Mayla.
Mereka pun mulai memasuki kawasan pembelanjaan —Mall. sepanjang mereka berjalan pandangan Mayla tak bisa lepas dari Rega yang berjalan di depannya.
'ya Tuhan punggungnya',
terlalu larut memandang punggung kakak tingkatnya Mayla sampai tidak sadar Rega memberhentikan jalannya sampai hidungnya tak sengaja menabrak punggung kokoh milik laki-laki pradasa.
"eh, May kenapa kamu jalan di belakang ku" ujarnya seraya tersenyum, yang secara spontan mengundang senyuman juga bagi Mayla.
__ADS_1
'tampan', kembali menggeleng Mayla kemudian menjawab
"ka Rega jalannya kecepetan" ujarnya jujur, karena Memang Mayla selalu gagal menyamakan langkahnya dengan Rega. Rega menggeleng tak habis pikir
" kamu kan bisa menegur ku, atau tarik tangan ku kan bisa" ujarnya.
"oh iya, nanti kalau terlalu cepat aku tarik baju ka Rega" jawab Mayla yang di respon gelengan oleh Rega.
"maaf ya, waktu itu aku bener-bener minta maaf" ujar Rega seraya menaiki eskaltor. Mayla mengangguk.
"ngga papa ka"
"waktu itu aku balik lagi, tapi kamu sudah tidak ada" ujarnya seraya menoleh kearah Mayla, tinggi Mayla hanya sebatas pundaknya.
"oh benarkah?" kaget Mayla mendongak menatap Rega. Rega tersenyum seraya mengangguk tak melepas pandang dari perempuan muda di sampingnya. dia teringat ketika pertama kali melakukan hal konyol menurutnya, berlari mencari Mayla kesetiap sudut Mall.
"maaf aku sangat lapar karena kemarin aku belum memakan apapun" jawab Mayla jujur.
"kenapa kamu yang minta maaf may"
mereka sudah sampai di lantai teratas mall. keduanya mulai merajut langkah kembali, berjalan ke arah bioskop.
"kamu yakin akan menonton film ini ka?" tanya Mayla penuh keraguan, pasalnya laki-laki yang kini berjalan di sampingnya, tidak menyukai film bergenre horor. karena Mayla sangat hapal apa yang di sukai Rega dan tidak.
Rega mengangguk mengusir keraguan karena pada kenyataannya laki-laki pradasa itu sangat tidak menyukai film horor. dia kembali teringat ketika Mayla memposting sebuah film di akun instagramnya, ntah karena merasa tak enak hati atau bagaimana Rega tak mengerti hingga dirinya mengajak Mayla untuk menonton film yang sama.
"ayo" Ajak Rega seraya menarik pelan tangan Mayla.
namun sebelum keduanya masuk ke dalam kawasan bioskop, seseorang tiba-tiba memanggil— menarik atensi keduanya.
"Rega", spontan secara bersamaan Rega dan Mayla menoleh, pandangannya bertemu dengan Aruna yang tengah berjalan kearah keduanya.
"kamu sedang apa?" tanya Aruna menatap lekat Rega, sedang Mayla malah melempar tanya yang tak berhasil dia suarakan.
'sedang apa?'
"Aku? bukannya tadi aku sudah bilang kalau aku mau mengajak Mayla menonton padamu" jawab Rega dengan nada heran,
"oh.....nonton apa? aku boleh gabung ngga ga" tanya Aruna yang sesekali dia melempar pandang pada Mayla. kembali Mayla bersuara dalam diamnya.
"Rega aku boleh gabung?, kita bisa menonton bertiga" ujar Aruna seraya memegang tangan Rega membuat sang empu menoleh, pasalnya Rega sangat ingat Aruna memperbolehkan waktu itu tepat ketika Rega bercerita jika dia merasa tidak enak karena telah meninggalkan Mayla sendirian.
"euuu, anu ka Rega mending, kakak nontonnya sama Ka Aruna aja. soalnya aku lupa ka ada janji dengan Raksa" ujar Mayla tak sepenuhnya bohong memang dia ada janji kan dengan teman-temannya di kafe sebrang kampus mereka. tapi bukan Raksa.
"tapi May-
"ngga papa may?, terus kamu bagaimana? " sela Aruna segera, Mayla mengangguk.
"ngga papa ka, aku bisa nonton lain waktu. ka Rega ka Aruna aku duluan ya" ujarnya seraya meninggalkan keduanya.
"kalau tau akhirnya bakal kaya gini lagi, mendingan besok-besok aku tolak saja" ujarnya. kini dia bingung harus kemana, atau ke kafe ngopi yuk bergabung dengan temannya yang lain? tapi Mayla tidak begitu suka keramaian.
Dia mengedarkan pandangannya banyak orang yang berlalu lalang dengan kesibukan yang berbeda-beda. Cukup larut Mayla terdiam hingga dia merasakan perutnya kembali lapar, kakinya kembali merajut langkah memasuki food court.
"ntah kenapa ini seperti drama korea yang ku tonton dua kali" gumamnya seraya menyapukan pandangan memperhatikan stand makanan yang ada.
"May", sebuah suara mengudara. Mayla menoleh menemukan Arseno bersama anak laki-lakinya terlihat merajut langkah kearahnya.
"mama" ujar si kecil sadewa, Mayla tersenyum sudah berapa kali Mayla mengajarkan si kecil untuk menyebutkan "kakak" begitu juga Arseno. Namun si kecil kekeuh menyebutnya "mama".
"pak Arseno, bapak ko bisa disini? eu maksudnya bapak udah pulang kerja? bukan maksud saya bapak ko--, Mayla terus mengulang pertanyaan karena dia merasa kalau pertanyaan yang dirinya lontarkan selalu saja pertanyaan yang sangat harviah. Kebingungan Mayla melontarkan tanya berhasil mengundang tawa yang lebih tua.
"sadar atau tidak kamu menanyakan hal yang sama dua kali" ujar yang lebih tua. Mayla terdiam, ah iya dia ingat. ketika pertama kali dirinya bertemu dengan Arseno di tempat makan dulu.
"may saya mau ngantri makan, bisa tolong pegang anak saya dulu?" ujar Arseno, Mayla menggangguk sembari berjongkok. dia mengulurkan tanganya menarik pelan tangan kecil itu seraya berujar
"sama aku dulu yuk, biarkan papah kamu menggantri" ujar Mayla, si kecil langsung menurut bahkan merentangkan tangan minta di gendong.
"kamu mau pesen makan di tempat yang sama seperti kemarin may?" tanya Arseno, Mayla terdiam pertanyaan yang Arseno lontarkan hampir sama ketika dulu mereka bertemu.
"kamu mau pesan makan dimana may?"
"iya pak, sama"
"cari tempat duduk, biar ini saya yang bawa" ujar Arseno. Mayla kemudian mengangguk dia membawa serta anak atasannya itu kesalah satu tempat duduk yang tak jauh disana, dan masih dalam jangkauan pandangan Arseno. kurang lebih lima menit Arseno sudah sampai membawa pesenan mereka berdua.
__ADS_1
"lama ngga?" tanyanya seraya menarik pelan anaknya dari Mayla dan mendudukannya dalam pangkuan, Mayla menggeleng.
"terkadang aku iri dengannya, aku melihat bagaimana suaminya memperlakukannya sangat baik"
"anak mereka sangat lucu"
"aku juga ingin menikah muda kalau hubungan ku sama seperti mereka yang harmonis"
"sudah dua kali aku melihat pasangan suami istri muda itu"
beberapa percakapan yang berhasil Mayla dan Arseno dengar.
'apa mereka tuli? jelas-jelas aku memanggilnya pak, suami?'
"may ayo makan" ujar Arseno, mayla mengangguk mengusir pikirannya.
namun belum juga suapan pertama bibir kecil itu mengeluarkan suara
"ma es klim" jujur Arseno merasa tak enak, apalagi melihat perempuan muda di depannya terlihat kaget.
"may maaf—
"ngga papa pak" sela Mayla segera.
"kalau gitu saya mau mencari es krim dulu sebentar" ujar Arseno seraya menyapukan pandangan mencari stand es krim yang anaknya inginkan,
"biar saya saja, bapak tunggu disini" susul Mayla segera menawarkan diri. Karena Arseno sedikit kesusahan menggendong si kecil Sadewa, laki-laki itu mengangguk kemudian menyodorkan uang yang langsung di tolak Mayla.
"ngga usah, sebentar ya pak" ujarnya seraya beranjak meninggalkan Arseno, tak begitu lama dia mengantri es krim pesenannya pun sudah jadi.
"antri ya?" tanya Arseno tepat ketika Mayla memberikan satu buah es krim yang langsung di terima si kecil. Mayla menggeleng.
"ngga pak"
"ayo makan, jangan dianggurin terus itu makanan kamu" ujar Arseno seraya menunjuk makanan Mayla dengan dagunya. Mayla mengangguk.
Dalam beberapa menit keheningan mengudara merebut alih keadaan. yang terdengar hanya suara orang lain di sekitar mereka.
"pah mau es klim" bibir kecil dalam pangkuan Arseno kembali bersuara, mengundang sang ayah menunduk hingga bertemu dengan sendok penuh es krim yang diberikan oleh tangan kecil anaknya.
"ko kamu tau anak saya suka coklat?" tanya Arseno tepat setelah dia menerima suapan es krim dari sang anak.
"karena biasanya anak kecil suka coklat" ujar Mayla sesaat setelah dia lamat tenggelam memperhatikan pasangan ayah dan anak di depannya. sebenarnya tadi Mayla sempat bimbang dalam memilih rasa ice cream. di tambah dia lupa menanyakan kepada atasannya apa rasa ice cream yang anaknya suka.
kebetulan orang di depannya memesan ice cream dengan rasa coklat mungkin saja anak atasannya itu menyukai coklat juga meskipun dia sedikit ragu, karena mengingat fakta ayah dari anak itu yang selalu membuatnya kaget. jarang makan mie instan dan tidak pernah meminum kopi.
"May", terlalu sering dia berdialog dengan hatinya tanpa menyadari panggilan atasannya.
"iya pak" jawab Mayla segera, seraya menoleh kearah atasannya.
"jangan melamun, ada yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Arseno seraya mengunyah pelan makanannya. Mayla menggeleng pandangannya jatuh pada anak kecil yang kini tengah menujukkan tangan kecilnya yang kotor akibat es krim pada sang ayah. Arseno kemudian menarik tisue seraya membersihkan tangan kecil itu. Mayla tersenyum ntah kenapa dia jadi kangen pada ayahnya. dia melihat Atasannya itu sangat telaten mengurus putranya. sungguh sosok ayah yang luar biasa, selain menjadi seorang pemimpin di kantor, Arseno juga adalah ayah yang siap siaga kepada sang anak.
"kayanya kita ketemu setiap malam minggu, kamu tidak pergi dengan pacar kamu?" tanya Arseno, Mayla mengernyit. hingga dia kembali teringat dulu ketika mereka bertemu. malam minggu di jam dan waktu yang hampir sama.
"aku tidak punya pacar pak"
"jadi kamu kesini sengaja mau makan?"
"jelas tidak, kebetulan tadi saya mau nonton tapi telat datangnya" ujar Mayla tak sepenuhnya bohong, Arseno mengangguk tak bertanya jauh. karena sang anak terus saja menyuapinya es krim.
Kurang lebih setengah jam lebih mereka selesai, anak kecil yang tadinya tertawa dan terus saja menyuapi ayahnya es krim kini sudah memejamkan matanya, tertidur pulas di pangkuan sang ayah. Arseno.
"ayo saya antar pulang" ajak Arseno, ntah kenapa Mayla mengangguk. seperti sudah terbiasa dengan ajakan atasannya.
selama perjalanan fokus Mayla di rebut oleh anak kecil yang duduk di samping Arseno. Mayla lamat memperhatikan anak kecil yang masih terlihat tak terganggu walau pun sang ayah sedang menyetir di sampingnya.
"namanya Rehan Naufal sadewa, dari pertama kamu melihat anak saya kamu terus memperhatikannya kenapa? " tanya Arseno, Mayla menoleh rupanya Arseno menyadari jika dirinya sering memperhatikan anaknya.
"nama yang bagus....soalnya dia sangat tampan pak" susul Mayla segera tepat setelah dia menarik atensi dari anak kecil itu.
"seperti papahnya" jawab Arseno, Mayla mengangguk seraya tersenyum karena apa yang di katakan atasannya itu benar. Arseno memang tampan dan mereka sangat mirip.
"ah iya, maaf padahal saya sudah menganjarkannya memanggil kamu kakak. tapi ntah kenapa dia malah menyebut kamu mama" ujar Arseno tak enak. yang lebih muda mengangguk mengerti.
"ngga papa pak, saya juga senang kalau punya anak seperti Rehan"
__ADS_1
perjalanan yang memakan waktu satu jam pun sampai, Mayla keluar dari mobil Arseno setelah dia berpamitan dan mengucapkan Terima kasih pada atasannya itu.