Aku Tak Mengerti

Aku Tak Mengerti
Dekat?


__ADS_3

Sudah tiga hari semenjak kejadian Raksa yang keluar tiba-tiba dari kelas, Laki-laki Arganta itu masih juga belum masuk kampus. menyisakan tanya di benak semua mahasiswa.


"aneh tumben sekali Raksa bolos tanpa alasan selama tiga hari pula" ujar Arin, mereka kini tengah berkumpul di kantin universitas.


"ada balasan dari Raksa jer?", Resha menoleh kearah laki-laki yang tengah menyedot jus alpukat di sampingnya. Jerry menggeleng semenjak saat itu Raksa memang sulit di hubungin bahkan Jerry sudah menyepam chat, namun tak ada balasan dari Raksa. seperti di telan bumi begitulah Raksa kini. hilang tanpa jejak dan kabar.


"may bukannya kau satu kantor harusnya kau lebih tau dong" ujar Harvin seraya menunjuk Mayla dengan sedotan limun. Mayla menggeleng


"dia tidak akan masuk kantor karena jadwalnya memang WFH, jadwal kami berbeda walau ada beberapa yang sama" jelas Mayla. sebenarnya Mayla tidak begitu ambil pusing dengan sikap Raksa hanya saja cara Raksa menghilang sungguh sangat aneh.


pasalnya Raksa biasanya tidak pernah menghilang selama ini. Sikap Dimas pun tak memperlihatkan keanehan sama sekali mungkin karena kesibukan yang menyita karena even andromeda di kantor sampai Dimas tak ingat dengan adik kandungnya? itu jelas tidak mungkin.


keberadaan orang yang selalu bersama kita sedari dulu tiba-tiba menghilang pasti memunculkan tanya apalagi ini Dimas kakak kandung Raksa. dari sana Mayla menyimpulkan kalau Raksa baik-baik saja hanya saja mungkin kini Raksa tengah berada di suatu kondisi yang tidak mungkin semua orang tau.


'tapi kenapa harus menghilang selama ini'—pikir Mayla.


"di sedot black hole kali si Raksa" Mario berseru dari meja sampingnya,


"dari pada mikirin Raksa mending pikirin abis ini kelas bu Andara bisa mati kita kalau ngga ada Raksa, yang mau kedepan siapa?" ujar Arin kemudian membuat beberapa mahasiswa fakultasnya, yang mendengar dan mengetahui bu Andara bergidik ngeri.


"tinggal siapkan saja peti mati, kita mati berjamaah" seru Mario yang membawa tawa siapa saja.


"bendera putih yo!, kita nyerah berjamaah" susul Harvin seraya mengacungkan tisue kekanan dan kekiri mengumpamakan bendera yang di maksud.


"katanya bu Andara lagi hamil doakan saja ada apa-apa jadinya ngga jadi masuk kelas" ujar Jerry yang di aminkan oleh seluruh mahasiswa disana.


"eh ayo masuk buru, bu Andara telat sedetik aja. suruh nutup pintu dari luar" ujar Resha. yang diangguki oleh semuanya.


Benar saja tepat ketika mereka memasuki kelas beberapa barang bu Andara sudah ada di dalam tinggal menunggu orang nya saja datang.


"nah kan bener" seru Mario sambil menunjuk meja dosen.


"Dosen gila" susulnya sembari melangkah kearah bangku samping Jerry.


Sudah hampir dua jam pelajaran Bu Andara belum juga datang. mereka sudah menunggu amat was was, mengingat kalau seperti ini tiba-tiba saja dosen tercinta mereka melakukan kuis. membuat hampir seluruh mahasiswa serangan jantung berjamaah.


"pasti nih dosen tiba-tiba ngomong, tutup buku kalian simpan dibawah, kita kuis!" ujar Mario seraya memperagakan bagaimana bu Andara berkata. mengundang tawa sekelas.


"tapi kalau di perhatiin tuh dosen kenapa ngga pernah absen ya" ujar Harvin


"kalau absen berarti matahari terbit dari barat" susul Mario seraya tertawa.


"kiamat dong badak" ujar Jerry yang sedari tadi hanya menyimak.


"lesu banget Jer si Raksa ngga ada tiga hari, Mayla aja yang tiap hari dekat Raksa kaya anak kembar. santai" ujar Harvin menoleh ke arah Jerry seraya menunjuk Mayla.


Mayla yang namanya di sebut menoleh, kalau di pikir iya juga Mayla dan Raksa itu dekat tapi ntah kenapa terasa jauh. Mayla tidak pernah tau kegiatan Raksa begitupun sebaliknya. bertukar kabar seadanya. lalu artian dekat yang mereka maksudkan apa?


Kelas yang tadinya gaduh dalam sekejap senyap, bersamaan dengan kenop pintu yang di putar dari arah luar. debaran jantung dari setiap mahasiswa pun berlomba, seluruh pasang mata tertuju ke arah pintu menunggu dengan penasaran apakah benar orang di balik pintu itu bu Andara. hingga tepat ketika pintu itu di buka, secara bersamaan dalam hati mereka menghitung mundur siap menyerah atau bahkan mati berjamaah.


"tegang banget" sebuah suara familiar mengudara, disana Raksa berdiri sambil bersender pada daun pintu. sontak semua mahasiswa melemparinya dengan Kertas.


"RAKSA" ujar semua mahasiswa hampir bersamaan, sedang si bungsu Arganta mulai melangkah kearah bangku samping Jerry. melempar tasnya asal kemudian membaca buku seperti biasanya. seakan tak terjadi apa-apa. mengabaikan pertanyaan yang keluar dari mulut setiap mahasiswa di kelas.


"selama tiga hari kemana?" tanya Jerry tepat ketika Raksa sampai di tempat duduknya. tanpa mengalihkan pandangan dari buku Raksa menjawab.


"ada"


"sa ada tugas" ujar Arin,


"hm"


"oh iya kau satu kelompok sama Jerry" ujar Resha.


"oke"


"jangan berteman sama jaelangkung sa, jadinya gini datang tak di jemput pulang tak di antar" ujar Mario.


"hm", fokus laki-laki Arganta itu masih pada buku bacaan, menjawab sekenanya pertanyaan yang di lemparkan kepadanya. Kedatangan Raksa ke kelas seakan menjadi seorang pahlawan yang siap mengorbankan jiwa dan raganya untuk menjadi tumbal dosen killer bu Andara.


sedang Mayla perempuan itu masih betah menjadi penyimak sama sekali tak melempar tanya pada lelaki Arganta yang kini tengah menatapnya.


...•••...


Ntahlah sebuah kebiasaan atau apa Mayla selalu mengasingkan diri sendirian, terduduk sendiri di bangku depan minimarket pinggir ngopi yuk! Kafe, hanya untuk menyesap kopi kalengan yang jadi favoritnya seraya menikmati wifi gratis. Kata dekat yang Mario lontarkan dengan bercanda tadi justru menyimpan tanya pada Mayla, dia teringat dengan percakapannya bersama Arsaka tiga hari lalu.


"kamu menyukai Raksa?"

__ADS_1


"bukannya kamu dekat dengan Raksa",


" lesu banget Jer si Raksa ngga ada tiga hari, Mayla saja yang tiap hari dekat Raksa kaya anak kembar santai"


sebuah percakapan singkat yang menaruh Arti dekat yang berbeda. dekat bukan berarti suka bukan, tidak semua orang dekat karena mereka saling menyukai. lagi pula ntah kenapa sampai detik ini Mayla masih belum bisa melupakan Rega.


"ngapain sendirian?" , sebuah tanya mengudara dari seorang laki-laki yang kini berdiri di depannya.


'ya tuhan panjang umur sekali'


"ka Rega? sedang apa ka?" tanya Mayla, Rega mengacungkan sebuah kresek seraya berujar


"abis dari minimarket" jawabnya. Mayla terdiam untuk beberapa saat dia tak dapat mencerna otaknya dengan baik ntah kenapa dia selalu saja tak bisa memanjangkan percakapan jika itu bersama Rega. kelu begitulah lidah Mayla kini.


'mungkin ka Rega punya kekuatan super bisa melumpuhkan lidah orang' —pikir Mayla. karena demi apapun dia hanya bisa menatap Rega sedari tadi sampai kini Rega duduk di kursi depannya pun Mayla masih diam.


"oh iya may kamu sibuk ngga sabtu sore, rencana aku mau mengajakmu pergi-


"pergi kemana?" susul Mayla cepat, karena langka sekali seorang Galvino Rega mengajak Mayla pergi, oh dia sepertinya baru saja diangkat ke udara karena Rega mengajaknya pergi. kencan misalnya.


"kamu tau kan mamah bentar lagi ulang tahun, nah aku pengen kamu pilihin kado buat mamah soalnya cuman kamu yang paling dekat dengan mamah" ujar Rega. seketika membuat Mayla ntah kenapa tak dapat menahan senyuman.


"tapi itu dulu ka, sekarang bahkan aku belum sempat mengunjungi toko kue mamah ka Rega" jawab Mayla, karena kesibukan kerja dan kampusnya Mayla tidak sempat berkunjung ke toko mamahnya Rega, padahal dia sempat berjanji pada mamahnya Rega akhir minggu ini setelah mengunjungi mamahnya Mayla akan mampir ke toko Kue mamah rega.


"sama aja, apa bedanya dulu dan sekarang" ujar Rega sambil tertawa memperlihatkan lesung pipit yang ntah kenapa menambah tampan pada si empu.


'Tuhan cukup sampai sini saja, tolong tarik diri ini pada kenyataan' —Rega dengan lesung pipit dapat membuatnya menjadi orang ke-3 dalam hubungan lelaki pradasa itu. Mayla menggeleng melepaskan pikiran yang jika terlalu dalam mampu membawa Mayla terperosok kedalamnya.


'jangan lagi'


"may kamu masih disini kan?" tanya Rega seraya mengayunkan tangannya di depan muka Mayla.


"ah iya ka, kenapa ngga sama Ka Aruna" tanya Mayla, terkutuklah dirinya yang kini tengah memanggil sakit hatinya sendiri.


"iya tadinya mau sama Aru tapi dia ngga bisa soalnya ada acara" jawab Rega, membuat Mayla yang tadinya sedang mengudara kini sudah jatuh mendarat di kenyataan. secara imajiner lagu babydoll pun terputar.


"oh iya ka, nanti aku antar" jawaban yang spontan bahkan tak Mayla pikirkan berulang.


Rega mengangguk seraya tersenyum, menambah kesan manis pada paras tampannya, awalnya dia tak berniat mengajak Mayla namun ntah kenapa perkataann tadi keluar dengan natural tatkala dia melihat Mayla duduk sendirian di depan minimarket. dia bahkan tak meminta ijin atau pun mengajak Aruna sama sekali karena sudah dua hari ini Aruna mendiaminya, hanya karena pertengkaran kecil mereka.


Dimana Aruna yang selalu mempertanyakan kedekatannya dengan Mayla. Bagi Rega kedekatannya dengan Mayla wajar tak ada yang aneh sebatas kakak dan adik namun kenapa Aruna harus memunculkan perdebatan kala itu.


"dekat..... seperti adik kakak" jawab Mayla seadanya. Rega terdiam. benar tak ada yang salah dari kedekatan mereka.


"kamu benar, aku duluan ya ada urusan. kopi kamu buat aku ya" ujar Rega, membuat Mayla tak mengerti. tapi sebelum dia melempar tanya, Rega sudah lebih dulu mengganti kopi yang sudah Mayla minum seteguk tadi dengan cingcau panda yang dia tinggalkan di meja . sedang Mayla melongo hingga kursi bekas Rega kini sudah diisi Raksa, Mayla masih belum sadar.


"tumben beli cingcau panda" tanya Raksa tepat ketika dia duduk di depan Mayla, pandangan Mayla spontan jatuh pada cingcau panda yang kini ada di mejanya.


"sa"


"hm"


"menurut mu apa arti kata dekat itu?" tanya Mayla pandangannya tak lepas dari kaleng cingcau panda yang tadi. Raksa terdiam sesaat setelahnya dia berujar


"dekat dalam artian apa? kan banyak, dekat sesama teman, sahabat, keluarga, kakak adik, atau...pacar. banyak arti dekat coba lebih spesifik lagi" tanya Raksa menoleh ke arah Mayla.


"menurutmu kita dekat seperti apa?" tanya Mayla, membuat Raksa mengernyit.


"menurutmu seperti apa?" bukannya menjawab Raksa malah menyuarakan tanya menambah Mayla bingung.


"ck sudahlah, ayo pergi sebentar lagi kelas mulai" ujar Raksa tujuannya menemui Mayla memang ingin mengajaknya ke kelas.


"kamu tak ada niatan menanyakan kabarku? atau kenapa aku tidak masuk kemarin?" tanya Raksa disela perjalanan mereka ke kelas. Raksa kira Mayla akan mengirimi pesan atau setidaknya bertanya kenapa sudah hampir tiga hari dia tidak masuk kelas, tapi naas rupanya ponselnya malah penuh dengan notifikasi Jerry yang menanyakan kabar dirinya.


"aku sudah, tapi lupa ngga terkirim pas aku cek sa" jawab Mayla, Raksa menoleh menghela nafas seraya menggeleng karena cuman pikiran Mayla yang tak bisa Raksa prediksi.


"terserah"


...•••...


seorang perempuan bertudung hoodi hitam mendorong pintu minimarket 24 jam. dia Mayla.


Mayla langsung berjalan menuju rak mie setelah mengambil keranjang belanjaan karena dirasa dia akan belanja cukup banyak, kemudian memasukan beberapa mie,saus dan bumbum-bumbu instan ke dalamnya. setelah itu dia berjalan ke tempat minuman mengambil botol air mineral, kopi dan susu kotak dingin. dirasa sudah selesai dengan keperluannya Mayla berbalik hendak menuju kasir sebelum tangan seseorang terulur menghalangi jalan.


'jam tangan ini', ntah kenapa jam tangan ini terlihat familiar di pandangannya kini. Bukan karena jam ini banyak yang pakai karena murah, melainkan dia tahu siapa pemilik jam tangan ini. Dia Arseno atasan Mayla.


Namun nampaknya Arseno tidak menyadarinya, laki-laki itu fokus memilih minuman yang ada di depannya. Tanpa peduli dengan Mayla, hingga untuk beberapa detik netra keduanya bertemu.

__ADS_1


"Mayla/pak Arseno" ucap keduanya secara bersamaan.


"Pak Arseno sedang apa disini?" Mayla merutuki dirinya sendiri, karena melayangkan pertanyaan retoris pada atasannya yang jelas-jelas sudah terjawab dengan adanya atasannya di tempat minuman. pasti membeli minum ngga mungkin beli daging.


'semoga saja beliau paham maksud saya'


"beli ini, banyak banget itu mie?" ujar Arseno mengacungkan teh botol seraya dagunya terarah ke keranjang belanjaan yang dipenuhi dengan lima mie instan dan 2 mie cup miliknya.


'maksud saya kobisa bapak di dekat kosan saya' ingin rasanya dia suarakan.


"oh iya Pak. bapak mau, kebetuan saya mau seduh mie cup kalau mau saya bikin dua porsi?" tanya Mayla. sebenarnya Mayla sedikit sungkan untuk menawari atasannya itu , mengingat tiga hari lalu dia mendapatkan penolakan dari atasannya. tapi di luar dugaan Arseno mengangguk.


"saya tunggu di depan ya", Mayla mengangguk. kurang dari lima menit mie cup keduanya jadi.


"maaf pak sedikit lama, tadi soalnya bayar dulu" kata Mayla,sambil menyimpan dua cup mie di meja depan minimarket dan menaruh tas belanjaan di samping duduknya. Arseno mengangguk sambil menyimpan teh botolnya.


"ngga papa may, lagian saya juga ngga buru-buru" kata arseno menoleh melihatnya.


mereka terdiam beberapa detik tak ada yang berniat membuka suara. Lebih memilih menikmati pandangan masing-masing. kala malam tiba lampu-lampu milik gedung- gedung pencakar langit akan menyala memberikan kata indah yang sederhana.


"pak itu dimakan mie nya nnti ngembang ngga enak?"ujar Mayla menunjuk mie yang sedari tadi Arseno aduk. sedang dirinya bahkan sudah menandaskan beserta kuahnya.


"masa sih kalau dibiarkan terlalu lama ngembang?" tanya Arseno sambil menyendokkan mienya namun tak kunjung dia makan.


"maaf pak bapak emang belum pernah makan mie cup kaya gini atau mie instan barangkali?" tanya Mayla lagi. Arseno terdiam bukan ngga pernah lebih tepatnya memang jarang, karena pembantu di rumahnya jarang sekali menyediakan mie instan apalgi dalam cup seperti ini.


"jarang" , sekali lagi Mayla kaget dengan jawaban Arseno dia hampir saja tersedak dengan minumannya. demi apa? jadi selain Kopi dia juga tidak pernah Makan mie instan? Dari semua orang yang Mayla temuin ternyata masih ada orang yang belum merasakan nikmatnya mie instan. Apa kabar dengan dirinya yang terkadang menjadikan mie instan sebagai makanan pokok. apalagi pas tanggal tua.


" Eh jangan pak kalau ngga pernah nanti bapak ngga suka" ujar Mayla tepat ketika Arseno hendak menyuapkan mienya. yah memang sih dilihat dari pakaiannya saja Arseno itu dari kalangan atas, tidak heran jika atasannya itu jarang atau bahkan tak pernah merasakan mie instan yang menurutnya makanan seribu umat.


"ngga papa lagian saya laper" ujar Arseno kembali menyuapkan mienya, mengunyahnya santai. sedang Mayla was was takut-takut atasannya itu sakit perut atau lebih parahnya kejang-kejang.


"pak kalau nanti bapak sakit perut atau kejang-kejang gimana pak?" tanya Mayla, tanpa sadar mengundang tawa pada Arseno.


"ngga akan May, tenang saja" ujarnya. tepat setelah itu teriakan anak kecil mengudara menarik Arseno segera beranjak.


"jagoan ayah sudah bangun" ujar Arseno menggendong seorang anak kecil dan mendudukannya dalam pangkuan. Mayla mengerjap dia teringat ketika dulu Arseno berkenalan,


"dan saya sudah menjadi duda",


'duda beranak satu?'


Pandangan Mayla tak lepas dari Arseno dan anak kecil dalam pangkuan atasannya itu.


"may makasih ya, nampaknya anak saya mengantuk kembali tadi dia terbangun karena saya keluar mobil. Mau saya antar pulang?" tanya Arseno. sedang Mayla masih terdiam untuk beberapa alasan.


"ngga usah pak kosan saya dekat" tolak Mayla dengan halus.


"ngga papa sekalian saja lagian saya belum ganti uang mie yang tadi kan, ayo--- eh tapi tunggu may bisa kamu belikan susu bubuk untuk anakku di dalam. mereknya bebas kebetulan Rehan tidak rewel" ujar Arseno, karena dia sedikit kesusahan mengeluarkan uang akibat anaknya yang kini tidur di pangkuannya. Mayla mengangguk.


tepat ketika Mayla hendak membayar, penjaga kasir itu berujar


"mba saya kira belum berkeluarga bukannya mba masih kuliah"


"hah" dan Mayla melongo bingung.


Arseno memutuskan mengantarkan Mayla dia juga tidak lupa mengganti uang yang terpakai tadi, selepas mobil Arseno pergi Mayla kini di kagetkan dengan datangnya sebuah motor.


"habis dari mana?" tanya Arsaka si pengemudi motor yang baru saja mematikan mesinnya.


"minimarket" jawab Mayla seadanya. baru saja tadi dia mengingat Arsaka kini orang yang dia ingat ada di depannya.


'sepertinya besok-besok aku jangan mengingatnya'


"hay, kenapa diam lagi sih" ujar Arsaka bingung.


"ada apa? kenapa kesini?" tanya Mayla yang masih menjingjing belanjaannya.


"ada pertanyaan lain ngga?" tanya Arsaka, kini laki-laki sadewa itu sudah bersender di motornya.


"menurutmu apa arti kata dekat" ujar Mayla ntah kenapa terlintas pertanyaan itu di pikirannya mengingat tadi Raksa tidak menjawabnya.


"dekat" Arsaka membeo, Mayla mengangguk karena pegal perempuan itu menyimpan keresek belanjaannya di bawah.


"seperti ini" di luar dugaan Arsaka mencondongkan kepalanya mengikis jarak kearah Mayla membuat perempuan itu spontan memejam, dan detik berikutnya Mayla mendengar tawa nyaring Arsaka.


"Ha... ha... ha cepatlah masuk sebelum aku benar-benar menciummu" ujar Arsaka seraya menarik diri, sedang Mayla masih dalam keterkejutannya. melihat Mayla yang malah terdiam dengan iseng Arsaka menyentil kening perempuan itu seraya berujar kembali

__ADS_1


"masuk atau aku ikut masuk sekarang", spontan Mayla langsung menjauh seraya membawa barang belanjaan nya dia berujar


" berhenti membuat ku kaget ka" teriak Mayla. sedang Arsaka tertawa, pandangannya tak lepas dari perempuan yang kini hilang di balik pintu kosan.


__ADS_2