Aku Tak Mengerti

Aku Tak Mengerti
Formulir


__ADS_3

Mayla terdiam seorang diri di study room. tangannya mengudara dengan pulpen digenggaman dia ragu hanya untuk membubuhkan nama di atas formulir.


"Dari FEB kan wakilnya ada empat orang. pas, dua laki-laki dan dua perempuan"


"tapi pasangannya nanti akan kami acak, sesuai dengan aturan dari pihak BEM Univ"


"kalian akan mengetahui pasangan kalian minggu depan, seminggu sebelum seleksi pertama dimulai"


selintas arahan pihak bem cukup membuatnya menyesali karena setuju dengan keinginan teman kelasnya, untuk mengikuti pencarian Zeus dan Hera UNSENO. dia hanya takut pasangannya bukan Raksa. beruntung jika pasangannya Raksa karena dia teman kelasnya, bagaimana jika Arsaka. karena setau dia Arsaka menjadi orang pertama yang mendaftar dulu.


"tunggu tadi aku dengar nama Lian, dia satu fakultas ya sama aku?" gumamnya. tak sengaja tadi dia mendengar nama Lian, ketika perempuan yang bernama Kalista melayangkan protes atas di acaknya pasangan pencarian Zeus dan Hera UNSENO.


"ah iya aku ingat, bukannya waktu itu aku pernah dengar juga ya nama Lian pas ganti kelas" monolognya kembali, dia teringat ketika pak Abian menggunakan kelas yang sama dengan kelas lain dulu.


Haachiimm...Hachiim... oh sial dia sedang tak enak badan jadinya hanya karena AC dia bersin. Mayla meraih remot AC dan mematikannya, lebih baik menahan panas seorang diri dari pada kegiatannya terganggu hanya karena bersin yang tak henti-henti.


kembali dia arahkan pandangannya pada selembar kertas bertuliskan FORMULIR PENDAFTARAN HERA UNSENO. Ingin rasanya Mayla mengundurkan diri sekarang. karena tak sedikitpun dia berniat untuk mengikuti pencarian seperti ini. hidupnya sudah berantakan karena takdir sialan yang menuntunnya pada jalan seperti sekarang. dia hanya takut menambah masalah, karena baginya kini setiap nafas yang dia hembuskan adalah masalah, ntahlah bagaimana nantinya biar takdir yang menjawab. hanya saja setidaknya sebelum masalah itu datang dia ingin menghindarinya, itu saja. jadi bisakah dia mengundurkan diri?


"apa aku mengundurkan diri aja ya?" kembali dia bergumam seraya menyimpan pulpen di samping kertas.


"aH... aku membutuhkan kopi" gumamnya frustasi. seraya hendak beranjak sebelum seseorang masuk membuka pintu ruangan study room.


"Raksa"


"hm"


"kenapa kamu disini?" tanya Mayla tatkala melihat presensi Raksa, terlihat laki-laki Arganta itu menarik kursi dan duduk di depan Mayla.


"kamu udah ngisi formulir?" tanya Raksa seraya mengeluarkan selembar kertas formulir dari dalam tasnya. Mayla menggeleng,pandangannya dia arahkan pada selembar kertas formulir di meja miliknya yang masih kosong.


"kayanya aku ngundurin diri aja sa, aku takut malu-maluin, aku juga ngga tau nanti gimana sa"


"isi aja dulu, atau kamu takut pasanganmu bukan aku?" tanya Raksa seraya mendongak menatap Mayla yang berdiri di depannya.


"iya, bagaimana jika pasanganku Arsaka?" tanya Mayla, mengingat pertemuan pertamanya di bawah tangga darurat Mayla cukup ketakutan dengan perangai laki-laki sadewa itu. memang mereka sudah saling kenal, hanya saja mereka masih begitu asing. begitulah Arsaka dimata Mayla.


Raksa cukup kaget dengan jawaban gamblang perempuan di depannya.


"kan aku masih ada, ya walaupun nanti jadi pasangan orang lain misalnya" ujar Raksa seraya membubuhkan nama Raksa Maulana di kertas formulirnya.


"lagian ini bukan pasangan asli may, ini hanya pencarian Zeus dan Hera. kenapa kamu harus ribet" ujarnya lagi selepas mencentang kolom FEB di formulir.


Mayla terdiam lumayan lama.


"kenapa kamu tidak nyalain AC may?" kembali si lelaki Arganta melayangkan tanya. ntah Mayla sadar atau tidak kini Raksa sedikit banyak bicara dengannya. Mayla mendongak melihat kearah AC.


"aku lagi flu sa, jadinya aku matiin aja" jawab Mayla, Raksa mengangguk terlihat bungsu Arganta itu membuka hoodie hitam dan menyimpannya di sandaran kursi samping. menyisakkan kaos putih polos di tubuhnya.


"kalau panas nyalain aja sa"


"aku takut tertular flu karena kamu bersin-bersin" ujarnya seraya kembali mengisi formulir, sedang Mayla masih berdiri di depannya.


"yang lain kemana sa?" tanya Mayla seraya kembali duduk.


"ngga tau"


"aku ngundurin diri aja ah sa" ujarnya seraya menyimpan kertas formulir kosong ke dalam tas. Raksa terlihat tak peduli, baru saja Mayla hendak beranjak dengan tiba-tiba Arin masuk bersama temannya yang lain.


"apa aku bilang Raksa pasti disini, mana sini dua puluh ribu" ujar Mario seraya menengadahkan tangan kearah Harvin dan Jerry bergantian, tat kala mereka masuk.


"bukannya tadi kamu ke adipati sa?" tanya Jerry seraya menarik kursi di samping Raksa.


"iya setauku" tambah Harvin, laki-laki itu berdiri di belakang Jerry, menumpu pada sandaran kursi yang di duduki siketua kelas. sedang Mario menyender di dinding samping pintu masuk.


Raksa mengangguk.


"iya di suruh bawa formulir"


"udah diisi May formulirnya" tanya Arin terdengar antusias, begitu juga Resha keduanya langsung menghampiri Mayla. Raksa spontan melepas atensi dari formulir, laki-laki itu terlihat penasaran dengan jawaban Mayla. karena dia tau Mayla type perempuan people pleaser, dia akan mengikuti keinginan dan ekspetasi orang lain.


"a—aah itu belum rin" jawab Mayla.


'udah ku duga' — batin Raksa.


"sini kita bantu, kamu ngga usah khawatir masalah baju dan lain-lain udah kita siapin. iya ngga sha?" ujar Arin, Resha mengangguk.


"makasih" ujar Mayla seraya tertawa hambar.


"yang penting kamu pelajari semua wawasan negara kita sama Raksa, masalah lain-lain ada kita. tenang" tambah Resha.


"tapi gimana kalau pasangan Mayla bukan Raksa melainkan Lian?" tanya Harvin. Mayla mengernyit


"Lian" dia membeo. Harvin mengangguk.


"buat aku sih ngga papa, siapa tau Mayla jadi kenal Lian" ujar Resha. Arin mengangguk.


"iya, aku kesel kalista itu sombong. mentang-mentang dia satu-satunya perempuan yang bisa masuk di circle Kanigara" tambahnya. terdengar nada kekesalan dari kedua perempuan itu.


"iya bener banget, dia juga selalu mengyiakan semua gosip tentang dirinya dan Lian" ujar Resha kembali seraya duduk di samping Mayla.


"betultuh, jadinya semua orang berspekulasi mereka pacaran. Nyatanya ngga" ujar Arin menggebu-gebu, keduanya seakan menyimpan dendam terselubung pada perempuan bernama Kalista.


Mayla hanya bisa menghela nafas pasrah. dirinya yang tidak tau menau nampaknya harus terseret karena dua temannya.


sedang empat laki-laki di ruangan itu hanya diam. tak ada yang berkomentar tak ada yang menyanggah.


'selamat datang masalah, selamat tinggal kedamaian' —Mayla membatin, setidaknya ekspetasinya dengan masalah sudah dia pikirkan.


padahal dari semester pertama dia sangat menghindari nama Lian, mengingat laki-laki itu sangat terkenal. dia hanya takut terbawa arus masalah. sudah cukup masalah tentang kedua orang tuanya, yang membuat Mayla hampir kehilangan kesadaran. nyatanya di semester tiga nampaknya semua akan berubah, dia akan mengetahui siapa laki-laki yang selalu menjadi buah bibir semua perempuan di kampusnya. Lian.


"may mana sini aku bantu isiin" kembali Arin bersuara, melepas lamunan Mayla tentang Lian. Mayla menoleh seraya memberikan kertas formulir yang baru saja dia ambil dari dalam tas.


"panas banget ini" ujar Jerry seraya mengipas-ngipas muka dengan kertas selebaran yang dia bawa.

__ADS_1


"ACnya aku matiin jer" ujar Mayla.


"pantesan panas may" jawab Mario, Mayla mengangguk seraya menghidupkan AC kembali. dinginnya AC langsung mengenai sebagian tubuhnya. karena dingin dan kondisi tubuhnya kurang fit, hanya untuk berdiri dan pindah saja Mayla kesulitan. kedua tangannya saling menggenggam kuat di bawah meja setidaknya cukup membantu agar telapak tangannya tetap hangat.


"Rin, duduk sini aku udah selesai" ujar Raksa seraya beranjak dia mengambil hoodie di belakang kursi yang di duduki Jerry.


"makasih sa" ujar Arin seraya membawa formulir milik Mayla.


"hm", Raksa beranjak laki-laki Arganta itu berdiri memunggungi AC di samping Mayla.


"pegang ini" ujarnya seraya menjatuhkan hoodie. Mayla mendongak sedang Raksa terlihat tak perduli. dia memegang kuat hoodie milik Raksa, setidaknya tangan dan tubuhnya sedikit menghangat atas bantuan dari hoodie, dan si pemilik yang berdiri disampingnya kini. karena tanpa sadar Raksa berdiri menghalangi Mayla dari dinginnya AC.


"oh iya sa, kamu udah siap buat presentasi nanti?" tanya Mario, Raksa mengangguk.


Haachiiim...haaachiiim....


"May bersin kamu kayanya nambah parah, matiin aja ACnya" ujar Resha.


"iya matiin aja jer, si Raksa yang berdiri di bawah AC Mayla yang bersin" tambah Harvin, Jerry hendak mematikan AC sebelum Mayla menggeleng segera menolak


"jangan nanti panas, kalau ngerjain di luar di gajebo panas banget soalnya. mending disini" tambah Mayla.


"udah minum obat may?" tanya Arin, Mayla mengangguk.


"udah"


"sa ngga dingin berdiri di situh?" tanya Resha seraya menoleh kearah si lelaki Arganta.


"dinginlah" jawab Raksa jujur.


"udah belum ngisinya rin?" tanya Raksa kemudian seraya menoleh kearah perempuan yang kini duduk di kursinya. Arin menggeleng.


"dikit lagi nih, sha bantuin isi sini. Jer pindah dulu dong" ujar Arin mengusir Jerry, Jerry mengangguk terlihat si ketua kelas berdiri di tengah-tengah Harvin dan Mario.


"biar aku aja rin" ujar Mayla. Resha menggeleng.


"udah kamu diam aja May, kamu aja bersin terus dari tadi pindah sini ke kursi yang ini biar Raksa duduk" ujar Resha seraya beranjak. Mayla mengangguk kemudian berpindah ke tempat Resha.


"oh iya sa, tawaran bu Andara tentang asisten dosennya gimana. kau Terima ngga?" tanya Harvin, Raksa menggeleng.


"belum tau, gimana nanti aja"


"may kamu bisa belajar wawasan negara kita bareng Raksa, ya walaupun kalian bisa aja ngga jadi pasangan" ujar Mario. Jerry mengangguk.


"iya, bener may. setidaknya Raksa bisa membantumu belajar nantinya, wawasan Negara itu banyak banget soalnya" tambahnya.


"pelajari aja kaya tarian-tarian daerah, atau alat musik daerah terus lagu kebangsaan, terus sejarah kaya VOC sama itu apa sih namanya Jer" tanya Harvin tiba-tiba, seraya menoleh kearah Jerry di sampingnya. kebiasaan laki-laki itu kalau kebingungan mau ngomong apa, pasti nanya orang di sampingnya. tanpa dia sadari nyatanya orang di sampingnya pun kebingungan dengan apa yang laki-laki itu maksud.


"apa?" bingung Jerry.


"pasal" ujar Harvin kembali.


"dia yang bertanya dia yang menjawab" seloroh Mario.


"jangan lupa juga, wawasan UNSENO kaya... kapan di diriinnya, ada berapa fakultas terus berapa meter siapa tau aja ada. soalnya yang kemarin katanya ada" tambah Resha. sedang Mayla yang di beri petuah hanya diam.


'jadi ini aku mau pencarian Zeus dan Hera apa mau lomba cerdas cermat sih' —kembali Mayla membatin. salahkan dirinya yang tidak mau atau malas hanya untuk mencari tau tentang lomba pencarian Zeus dan Hera di UNSENO.


"eh gimana kalau habis dari sini kita beli kopi dulu ke depan sebelum pelajaran bu Andara" usul Harvin.


...•••...


"kamu udah ngisi formulirnya yan?" tanya Kalista seraya menoleh kearah Arsaka. keduanya kini tengah berada di kelas. Arsaka menggeleng, mengambil formulirnya saja ke adipati dia malas.


"kenapa harus di acak sih pasangannya" ujar Kalista kemudian, Arsaka spontan menoleh.


"diacak?" Kalista mengangguk


"iya tadi kamu ngga dateng, jadinya ngga tau. jadi kita itu pasangannya bakal di acak gitu dari satu fakultas" ujar perempuan di sampingnya.


"jadi bisa aja aku pasangannya sama yang lain? ngga sama kamu?" tanya Arsaka meyakinkan. Kalista mengangguk memanyunkan bibirnya kesal.


"iya, gimana kalau kamu bukan pasangan aku yan"


"ya ngga gimana-gimana", ini bukan jawaban Arsaka melainkan Elang yang kini berjalan menghampiri keduanya.


'berarti bisa aja pasangan aku Mayla?' —Batin Arsaka.


"ngapain kamu ke sini" tanya Kalista, Elang tak menjawab lelaki itu hanya terlihat mengeluarkan selembar kertas dari tasnya.


"nih formulir udah di ambil dari adipati" ujarnya kemudian seraya memberikan formulir kearah Arsaka. sedang Arsaka terlihat abai.


"batas pengisiannya sampai besok, jangan lupa kalau males ngisi dikertas, nih udah aku fotoin juga barcode buat google form tinggal di scan gampang" tuturnya kemudian seraya memperlihatkan barcode yang dia foto tadi.


"pantesan tadi mau aku ambil sekalian katanya punya Lian udah ada yang ngambil" seloroh Kalista.


"sekalian aja soalnya ngambil buat anak fakultas teknik juga" jawab Elang seraya duduk di samping Arsaka.


"dari teknik, berapa orang lang?" tanya Kalista, Elang menggeleng.


"yang jelas Arsi ngga ada, boro-boro ikut perlombaan mikirin tugas aja udah keleyengan" tambah Elang. karena setau dia kelasnya tak ada yang ikut. ngga tau kalau yang lain. sedang Arsaka terlihat abai pandangan laki-laki Sadewa itu jatuh pada kertas formulir yang baru saja Elang berikan—FORMULIR PENDAFTARAN ZEUS UNSENO.


"oh iya, Julius ngasih tau ngga katanya nanti bang firgo mau ke studio mau ngomongin buat radio kampus yan" tambah Elang, Arsaka mengangguk karena dia baru saja nerima pesan dari Firgo. nampaknya ketua UKM Baswara itu mendapatkan nomor dari Julius.


"keluar yu, laper nih" ujar Arsaka seraya beranjak dia menyampirkan sarung gitar motif bunga anggrek di pundak, tanpa peduli dengan formulir yang kini kembali di bawa Elang. karena Arsaka meninggalkan keduanya, pergi duluan.


ketiganya merajut langkah hendak pergi kearah kantin. seperti biasa, sihir seorang Arsaka membuat siapa saja mahasiswa tak melepas atensi darinya. apalagi kemarin Arsaka mengunggah video cover dirinya di laman youtube kanigara. membuat namanya makin melejit di laman sosial media.


Nampaknya kepopuleran lelaki Sadewa tidak hanya sampai UNSENO, nyatanya beberapa mahasiswa dari kampus lain bahkan orang luar pun mengetahui Arsaka.


Arsaka hendak berbelok tiba-tiba di kagetkan dengan kopi yang baru saja menyapa mukanya, beruntung kopi itu dingin.


spontan semuanya berteriak.

__ADS_1


"Liaaaan" kecuali seseorang yang terlihat jatuh di depannya dalam posisi tengkurep


"kopiku" ujarnya berseru lirih. terlihat perempuan di depannya ini tak kunjung bangun dia menyembunyikan mukanya, jujur Arsaka sedikit penasaran. perempuan itu seakan betah dalam posisi tengkurep mencium lantai koridor. Kalista hendak melayangkan amarah, sebelum Arsaka meninggalkan perempuan tengkurep tadi, seraya mengusap kasar mukanya dengan tangan.


Namun langkah laki-laki Sadewa itu kembali terhenti tepat ketika dia sayup-sayup mendengar perkataan seseorang.


"May kamu ngga papa?" ,spontan Arsaka berbalik, terlihat perempuan tadi di papah oleh teman-temannya.


'May?' —batin Arsaka.


"kamu ngga papa?" tanya kalista seraya memberikan tisue kearah Arsaka, Arsaka menggeleng.


"ngga"


"siapa sih dia, harusnya dia minta maaf bukannya tengkurep kaya tadi"


"perempuan tadi pasti malu, makanya boro-boro minta maaf. bisa nahan sakit aja untung boro-boro nahan malu buat liatin muka depan Lian" ujar Elang. sedang Arsaka laki-laki itu terlihat abai,


...•••...


"hidung kamu kenapa may, sakit?", Mayla menoleh melepas kejadian memalukan tadi di Koridor.


" ah ngga papa, pak Arseno belum pulang?" tanya Mayla. Arseno menggeleng,


"aku ada janji mau ajak dimas keluar sama Rega tapi kayanya mereka lupa" ujarnya.


"kenapa kamu belum pulang?"


"belum pak, nunggu HP penuh" seraya menunjuk ponselnya yang masih di cash. Arseno hendak berbalik menutup pintu, namun urung terlihat yang lebih tua kembali menyembulkan kepalanya.


"mau pulang bareng ngga?" tawar yang lebih tua. awalnya Mayla hendak menolak namun mengingat uang di dompetnya sisa lima puluh ribu diapun mengiyakan aja kan atasannya.


"oke tunggu di lobby ya" ujar Arseno, Mayla mengangguk. sepeninggal Arseno mayla langsung membereskan perlengkapannya, dia hanya tidak enak jika atasanya yang menunggu. tanpa peduli dengan batrei ponsel yang baru terisi tiga belas persen dia langsung mencabutnya, memasukkan ke tas tanpa menghidupkan terlebih dulu.


Di luar ruangan ketika hendak mengeluarkan nametag untuk dia scan absensi pulang, tiba-tiba saja sebuah kartu undangan jatuh. sekelebat ingatan tentang percakapannya dengan calon sang ibu tiri kembali terulang.


"jadi"


"begini May, sebelumnya aku mau minta maaf karena ada alasan papa mu mau menikahi ku"


"hm" Mayla hanya mendengung tanpa merasa penasaran dengan alasan sang ayah menikahi perempuan di depannya. hatinya sudah membeku dia seakan membiasakan semua yang tiba-tiba terjadi padanya. toh penceraian ayah dan ibunya pun udah berjalan hampir tiga tahun, apa yang harus dia harapkan? mungkin dulu dia belum begitu menerima ya walaupun sekarang juga dia masih belum, hanya saja dia kini membiasakan.


"kami mengundangmu untuk hadir di pernikahan kami, mungkin terdengar menyakitkan hanya saja papamu sangat ingin anaknya menghadirinya" ujar perempuan tua itu seraya menyimpan undangan di meja untuk Mayla.


"hm, aku usahakan datang" ujar Mayla seraya memasukkan undangan itu kedalam tas.


"ada lagi" tambah Mayla. tak ada raut bahagia, ataupun sedih yang terpancar dari muka perempuan itu.


"May..... Mayla... ", sebuah suara berseru membuat Mayla tanpa sadar menjatuhkan kembali undangan yang tengah dia pegang.


Hachiiim... beruntung bersin menarik kesadarannya, dengan cepat dia meraih kembali undangan itu. kemudian Mayla menoleh menemukan Arseno yang berdiri di belakanganya.


"pak Arseno"


"ayo, saya kira kamu udah di bawah"


"belum pak, saya baru selesai absen"


keduanya kini melangkah kearah lif, mitos tentang hantu di lift sempat terlintas sejenak di pikiran Mayla tadi. nyatanya kini dia melupakan itu, hanya karena jatuhnya undangan.


"kamu melamun?" tanya Arseno, karena dia merasa perempuan muda di sampingnya kini tengah melamun. Mayla menggeleng.


"ngga pak"


"jangan banyak melamun, saya takut mitos lif malam yang sering karyawan bicarakan nyata adanya" ujar yang lebih tua di akhiri tawa seraya keluar dari lif. Mayla menoleh


"memang bapak tau yang lif malam itu" tanya Mayla seraya memasuki mobil. Arseno yang kini sudah di belakang kemudi setir mengangguk.


"banyak yang bicarain, tapi saya beruntung setiap pulang ngga ada hal aneh yang saya rasakan" ujarnya seraya memutar kemudi, mulai meninggalkan parkiran kantor. karena memang desas desus tentang lif malam berhantu cukup membuatnya merinding ketika tahu, hanya saja Arseno tidak begitu peduli dengan hal mistis.


"oh iya may, kamu mau bagel? sekitar sini ada bagel yang enak. kamu pasti suka" ujarnya seraya menginjak pedal rem, karena lampu berubah menjadi merah.


ingin rasanya Mayla berteriak,


'pak aku tidak punya uang' — namun sayang tak sampai dia suarakan.


"aku yang traktir may" tambah Arseno seraya melepas pedal rem. dia memutar kemudi ke sebelah kiri. Mayla spontan menoleh


'apa pak Arseno bisa mendengar hatiku?'


"turunlah, kita sudah sampai" ujar Arseno seraya turun dari mobil diikuti Mayla di belakangnya.


"pesenlah menu bagel yang kamu mau" ujar Arseno seraya menunjuk menu disana. Mayla mendongak menatap Arseno.


"bapak bisa dengar suara hati saya?" tanya Mayla tiba-tiba, Arseno mengernyit


"ngga, emang kenapa?"


"ah, ngga papa pak" Mayla kemudian menunjuk menu bagel yang termurah.


"ini"


"tunggu disana, aku—


"Arseno" dengan tiba-tiba seseorang berseru dari arah pintu masuk. Mayla menoleh begitu juga Arseno. terlihat seorang perempuan kini berjalan kearah keduanya.


"kamu beli bagel juga?", Arseno mengangguk. perempuan itu terlihat mengalihkan pandangan kearah Mayla.


"dia siapa? jangan bilang calon ibu buat Rehan? dia sangat muda gala" ujar perempuan itu menambahkan. sedang Arseno tak menjawab sama sekali.


"kamu duduk duluan aja, nanti saya nyusul" ujar Arseno seraya menoleh kearah Mayla. Mayla mengangguk patuh, tak lupa berpamitan pada perempuan yang kini berdiri di depannya.


Siapakah perempuan itu??

__ADS_1


__ADS_2