Aku Tak Mengerti

Aku Tak Mengerti
Naik Gaji


__ADS_3

Setiap manusia pasti pernah merasakan kejadian yang sangat memalukan. ntah itu bersama keluarga, kerabat bahkan orang yang belum kita kenal sama sekali.


Flashback—


Seorang siswa laki-laki tengah duduk seorang diri di kursi butut yang ada di gudang, terlihat sudah sedikit lapuk dan penuh debu namun masih bisa di gunakan. ponselnya berdering di samping dia duduk, decakan menjadi respon utama sebelum si pemilik mengangkatnya.


"kenapa?"


".... "


"aku justru merasa bahagia, kau pergi. tidak ada yang menyusahkan ku disini"


"... "


"ya... ya... ya... lakukan sesukamu sialan!—


BRUK!


Melonjak kaget, spontan laki-laki itu menjatuhkan ponselnya. bersiap melayangkan amarah pada si pembuka pintu yang tidak punya prikepintuan sama sekali. namun urung ketika melihat seorang siswa perempuan tengah berdiri membelakanginya. lamat laki-laki itu memperhatikan, bahkan mengabaikan seseorang yang disebrang sana tengah mengumpat dan menyumpah serapahi dirinya. karena pergi begitu saja tanpa memutus panggilan terlebih dulu.


"KALAU KAU MAU BUNUH DIRI JANGAN DI ATAP SEKOLAH" teriaknya membuat siswa perempuan yang terlihat hendak bunuh diri itu segera menoleh,


"SIAPA KAU? KELUAR JANGAN BERSEMBUNYI" ujar si perempuan, seraya memperhatikan sekitar.


".... "


"JAWAB!...SIAPA KAU?" kembali siswa perempuan itu bertanya, seraya tanpa henti menyapukan pandangan ke sekitar sudut di rooftop.


"NGGA PENTING AKU SIAPA, MUNGKIN JIKA KAU BUNUH DIRI DI TEMPAT LAIN AKU NGGA AKAN PEDULI. TAPI INI SEKOLAHKU" jawab siswa laki-laki itu. matanya tak pernah lepas memperhatikan siswa perempuan yang terlihat tengah mencari kesana kemari.


"HUBUNGANNYA APA?" kembali siswa perempuan itu merespon, seraya menghentikan langkah tepat ketika pandangannya menemukan sesuatu.


"INI SEKOLAH TERKENAL, NGGA LUCU KALAU TIBA-TIBA ADA DI KORAN KARENA ADA SISWINYA YANG BUNUH DIRI. MASA DEPAN SEKOLAH BISA SAJA HANCUR" ujar siswa laki-laki itu kembali. namun tak ada balasan setelahnya.


".... "


"SETIDAKNYA PIKIRKAN ITU, JANGAN MEMIKIRKAN DIRIMU SENDIRI"


".... "


"COBA PIKIRKAN, APA SETELAH MATI SEMUA SELESAI? TIDAK! JUSTRU TAMBAH RUMIT" pungkas siswa laki-laki itu, tenggorokannya lumayan sakit gara-gara terus berteriak. mencoba menyadarkan perempuan yang ntah siapa untuk tidak bunuh diri. Tidak lucu juga jika dirinya menjadi saksi bunuh diri seseorang di rooftop. Apalagi ini hari pertama dia masuk SMA, setelah mengikuti MOPD. akan sangat menyusahkan dirinya untuk kedepannya.


"AKU TAHU KAMU DI DALAM, KELUARLAH!" ujar siswa perempuan seraya mengetuk pintu gudang yang ada di rooftop.


"mampus dari mana dia tahu aku disini" ujar siswa laki-laki itu seraya menunduk dan bersembunyi di bawah meja butut. nampaknya siswa perempuan itu sudah mengetahui dimana dirinya. Gudang bangku bekas di rooftop, posisinya di samping tangga. Sehingga tak begitu terlihat, apalagi tengah dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. dan tak begitu jeli dengan sekitar.


DUK....DUK....DUK!!


"KELUAR KAU" ujar siswa perempuan itu, seraya mengetuk pintu gudang terus menerus dengan keras. sedang di dalam, siswa laki-laki masih terus memperhatikan dari bawah kolong meja. padahal jika di pikir pintunya dia kunci dari dalam, jadi dia harusnya tidak begitu khawatir. namun karena situasi genting nampaknya siswa laki-laki itu melupakannya.


"MAY, KAMU SEDANG APA?"


"NIT HP KU JATUH PAS AKU MAU FOTO LANGIT" Jawab siswa perempuan itu. nampaknya perempuan itu sengaja memperbesar volume suara, agar dirinya mendengar dengan jelas. siswa laki-laki yang masih betah bersembunyi di kolong meja, merutuki dirinya sendiri yang seenaknya menerka jika siswa perempuan tadi hendak bunuh diri.


"YAAMPUN MAYLA, KO BISA? AYO KITA MINTA TOLONG KE BAWAH. CEPAT MAY!"


dirasa siswa perempuan tadi sudah pergi bersama temannya, siswa laki-laki itu keluar dari persembunyiannya.


"bego banget, baru juga masuk SMA masa iya udah ada masalah" ujarnya seraya menutup pintu gudang.


"sepertinya aku harus menghindarinya, arhg.... rasanya aku ingin pindah sekolah saja, ck...bego..bego!", siswa laki-laki itu terus mencaci maki dirinya sendiri, yang tidak berpikir panjang sebelum berujar tadi. sekarang dia harus bagaimana semoga saja siswa perempuan tadi tidak mengenali suaranya. dia hanya berharap semoga saja mereka tidak satu jurusan.


"Sa, jurusan kita kelasnya sudah dibagi ayo kebawah" seorang siswa laki-laki berseru membuat laki-laki itu segera menoleh.


"oke" , dia hanya berharap semoga saja Tuhan mengabulkan do'anya.


—End


Tuk... tuk... tuk...


Seseorang tiba-tiba saja mengetuk pelan meja, membuat lamunannya buyar dalam seketika. laki-laki itu mendongak, perempuan yang tadi ada dalam ingatan kini berdiri di depan, menatap penuh tanya ke arahnya.


"kenapa?" ujar laki-laki itu, seraya menyingkirkan es jeruk di meja yang sudah terlihat mencair.


dengan terburu perempuan itu menarik kursi di depannya,


"kamu melamun?" tanyanya terdengar kaget. menghela nafas sejenak, laki-laki itu menjawab.


"memang kenapa? aku ngga boleh melamun" tanya laki-laki itu tak habis pikir,

__ADS_1


"bukan begitu, hanya saja sedikit langka"


"aku juga manusia bukan robot, pasti bisa melamun"


"iya aku ta—


" May udah ketemu— Raksa disuruh ke pisces sama Dimas" sebuah suara mengudara memotong lanjutan perkataan si perempuan, membuat keduanya menoleh serempak. disana dari arah masuk kafetaria Neira berdiri, menatap keduanya bergantian.


"iya mba, sebentar lagi aku kesana" ujar Raksa, seraya beranjak mengambil gelas bekas es jeruk di meja.


" may ayo masuk, aku sendirian di ruangan. sepi rasanya" ajak Neira seraya berjalan mendekat ke arah Mayla. Mayla mengangguk seraya beranjak mengekori Neira keluar kafetaria.


"loh ka Rega ikut rapat ke atas?" tanya Mayla, kakinya tak henti merajut menyamakan langkah dengan Neira. Si senior terlihat terdiam, mengingat sesuatu sebelum menjawab.


"ngga, setauku tadi dia ada urusan. sekalian menemui penulis menggantikan Dimas yang lagi rapat" jawab Neira seraya mendorong pintu ruangan. memilih mengangguk dan tak bertanya lebih, Mayla berjalan kearah komputernya dan mulai mengerjakan kerjaan.


sudah satu jam setengah, Mayla habiskan sakit di matanyapun sudah sangat terasa. apalagi hampir setiap malamnya Mayla habiskan untuk mengerjakan draf kerjaan miliknya.


dirinya seorang perkerja lepas bukan seperti pekerja tetap yang akan mendapatkan gaji UMR di setiap bulannya. Jika tidak dengan giat dan rajin dia tidak akan mendapatkan penghasilan yang lumayan. karena gaji yang dia dapatkan tergantung seberapa banyak dia menyelesaikan draf kerjaan.


Tak ada percakapan, Mayla yang melihat Neira disibukkan kerjaan enggan mengganggu. apalagi seniornya itu tengah mengejar deadline, ditambah event kantor yang akan berlangsung sebentar lagi. hingga seseorang yang memasuki ruangan menarik atensi keduanya.


"Rega/Ka Rega" ujar keduanya bersamaan tatkala melihat presensi Rega memasuki ruangan.


"Dimas belum selesai rapatnya?" tanya Rega seraya menarik kursi kerja, dan langsung membaca beberapa berkas yang ada di mejanya.


"pengajuannya udah disetujui?" tanyanya kembali, seraya membuka lembaran berkas dan mulai membacanya dengan teliti.


"kata Dimas, udah ga. sepertinya sebentar lagi mereka selesai udah hampir dua jam soalnya. alot banget" jawab Neira. Rega mengangguk seraya beranjak mengambil cangkir.


"May kamu ngga ikut ke atas?" tanya Rega seraya berjalan ke arah pantri. Mayla menggeleng.


"ngga ka", mengangguk sekilas tanpa bertanya lagi, Rega berlalu.


Jujur sejak kemarin dimana Mayla meninggalkan Rega dan Aruna berdua di rumah makan, ntah kenapa dia merasa tak enak. karena tak berkata lebih dulu, biar bagaimana pun Mayla masih punya rasa pamrih. Dia pun tak berkata apa-apa ataupun menyimpan pesan pada si lelaki pradasa. selepas dia meninggalkannya kemarin.


Sudah seminggu dirinya dan Rega sedikit renggang. Harusnya Mayla senang karena dia berniat menjauh dan menghindari Rega tapi, ntah kenapa sikap dingin si lelaki Pradasa sedikit membuat hatinya tercubit. apalagi melihat Rega yang berlalu seperti tadi. nampaknya penyakit over thingkingnya dengan sengaja sedang dia undang.


Memilih abai, dan kembali berkutat dengan kerjaan. Mayla mulai tenggelam bersama beberapa draf miliknya. begitu juga Rega dan Neira terlihat dua seniornya itu kini tengah membicarakan event kantor.


kurang lebih lima belas menit setelah Rega datang, Dimas, Agita dan Raksa kembali.


"udah ketemu Aruna ga?" Dimas melayangkan tanya seraya berjalan kearah kubikel miliknya, mengabaikan Rega yang melotot penuh dendam kearahnya. beruntung tak ada yang memperhatikan. sedang yang lainnya langsung berjalan kearah kursi masing-masing.


"Masa?, oh iya aku membawa dua kabar mau kabar apa dulu?" ujar Dimas, seraya keluar dan bersender di depan kubikel miliknya. abai dengan keberadaan si wakil divisi yang kini menatapnya jengkel.


"buruk" jawab Rega segera.


"kabar buruknya, maaf banget buat Mayla dan Raksa waktu WFO kalian akan bertambah. dan kabar baiknya platform kita mulai di daftarkan secara GRATIS di app store dan play store, oh iya gaji kalian berdua juga akan bertambah tentunya" pungkas Dimas menjelaskan.


"cie yang naik gaji" ujar Agita,


"jaga kondisi May, sa jangan terlalu kecapean, apalagi kalian bakal sering WFO" ujar Neira menambahkan.


"iya ka makasih"


"hm"


"oh iya satu lagi bentar— ujarnya seraya kembali kedalam kubikel. si kepala divisi keluar menarik kursi, seraya membawa laptop dan kresek hitam kecil.


"dan mulai sekarang kalian wajid ikut training perusahaan kita. aku udah daftarin mayla sama Raksa kalian akan kebagian training bersama—


"—tenang saja kelas kalian tidak akan sama dengan senior ataupun pekerja tetap disini. jadi aman" ujar Dimas terlihat si kepala divisi sesekali membaca tulisan ntah apa itu dari laptop yang dia pangku.


"iya ka"


"Hm"


" jadi secepetnya kalian kirimkan jadwal kuliah kalian sama aku ya, biar nanti ngga bentrok sama training kantor. aku juga harus liat kondisi biar kalian ngga kecapean juga nantinya" tambah si kelapa divisi seraya beranjak menyimpan laptopnya di kursi, untuk menyimpan keresek kecil di meja.


"itu apa dim?" tanya Neira.


"Name tag" jawab agita.


"Name tag apa?, kita ganti lagi dim? atau name tag buat event?" tanya Rega seraya keluar dari kubikel dimas.


"itu Name tag dan landyard Andromeda buat Mayla dan Raksa. jadi mulai sekarang setiap ke kantor gunakan itu" jelas Dimas kembali, seraya mengeluarkan dua name tag dan lanyard dari dalamnya.


"oh iya kalian udah setahunan ya sama kita, selamat ya" ujar Neira antusias.

__ADS_1


Jika sudah setahun. meskipun pekerja lepas, di Andromeda akan memiliki Name tag. dan biasanya mereka pun akan dapat kesempatan untuk menjadi perkerja tetap disana. Selain mendapatkan name tag merekapun mulai mengikuti trining perusahaan. gunanya agar karyawan bisa lebih giat dalam bekerja. selain training, Andromeda juga menyediakan berbagai fasilitas salah satunya konseling agar karyawan dapat dengan mudah menumpahkan keluh kesahnya dan juga rasa stressnya selama bekerja.


"ayo dong di pake" ujar Agita antusias. Mayla langsung menggunakannya begitu juga Raksa, laki-laki itu lamat memperhatikan Mayla. Ah iya mereka sudah setahun bekerja bersama. sungguh tak terasa.


kondisi kembali kondusif setelah Dimas masuk kedalam kubikelnya bersama Rega, terlihat keduanya kini tengah membicarakan sesuatu namun tak begitu terdengar jelas.


Mayla dan Raksa pun mulai menenggelamkan diri dalam draf kerjaan masing-masing, begitu juga dua senior mereka.


...•••...


Arsaka tengah berkumpul bersama teman-temannya di studio musik. namun ada yang berbeda, kali ini terlihat ada seorang perempuan bergabung bersama mereka.


"gimana yan?" tanya Elang. Arsaka yang tengah mengisi formulir pendaftaran lomba Band menoleh, memberhentikan kursor di tanda centang.


"lagi diisi nih, cuman disini tertulis harus menginap di luar kota selama lomba band berlangsung"


"akomodasi kita?" tanya Ganindra, laki-laki itu terlihat tengah memainkan bass sambil duduk di atas cajon. Arsaka menggeleng


"akomodasi, penginapan dan uang makan, pihak lomba yang tanggung"


"gasss aja lah" ujar Julius seraya memutar stik drum ke udara, Ganindra mengangguk


"kapan lagi, healing sambil lomba"


"yang jadi masalah kita itu beda fakultas. apamungkin pihak Universitas ngijinin?" tanya Arsaka.


"oh iya apalagi Elios nyalonin jadi presdir BEM, ribet nanti" ujar Elang seraya beranjak membuka kulkas meraih minuman dingin dari sana. melemparkan satu ke ganindra dan satunya dia bawa duduk kembali di samping Arsaka.


"Santai kali lang, lombanya kan ngga sampe berbulan-bulan. masih bisa" jawab Elios seraya berjalan keluar, ntah mau kemana.


"kamu juga kan daftar lomba pencarian Zeus Hera yan" siperempuan yang sedari tadi menyimak berujar.


"oh iya bener kata kalista"


"masalah itu gampang, tidak begitu penting untukku" ujar Arsaka. namun tiba-tiba dia terdiam saat mengingat sesuatu.


"kita batalkan saja yan" ujar Elang, diangguki Julius dan Ganindra. Arsaka menoleh


"kau yang paling antusias lang, kenapa jadi kau juga yang membatalkan. gini aja karena hadiahnya lumaya kita coba saja mendaftar" pungkas Arsaka akhirnya. seraya menekan submit mengirim formulir berupa gform.


"kamu akan membatalkan lomba Zeus dan Hera yan? fakultas kita mengirimkan dua Zeus dan dua Hera. nantinya berubah jadi dua Hera satu Zeus" protes kalista, Arsaka menoleh sekilas. sebelum kembali dia menyibukkan diri, melihat daftar nama band yang ikut serta dalam lomba.


"siapa aja emang nya?"


"dari kelas sebelah, aku lupa yang Hera namanya siapa. cuman yang jadi Zeusnya. mahasiswa yang pernah ngisi materi ke kalas kita waktu itu" jawab Kalista. mendengar perkataan Kalista, Arsaka menghentikan kursornya seketika.


'Raksa???'


"liat nanti aja"


"yan ada yang nyari di luar" tunjuk Elios, manager kanigara itu terlihat menunjuk seorang perempuan yang tengah membelakangi.


"siapa?" tanya Arsaka seraya beranjak.


"aku tak mengenalnya, kau lihat saja"


...•••...


"May" sebuah suara familiar mengudara, Mayla menoleh menemukan Rega kini berdiri tak jauh di belakangnya.


"ka Rega" ujar Mayla kaget, namun dengan cepat perempuan yang muda menutupi dengan senyum canggungnya.


"belum pulang?" tanya Rega. Mayla kembali menggeleng.


"mau pulang—bersama" ajak yang lebih tua, membuat perempuan muda di depannya ta dapat menutupi keterkejutan kedua kalinya.


selama motor Rega meninggalkan parkiran kantor tak ada percakapan yang keluar, sipengemudi terlihat fokus ke jalanan. sedang Mayla terlalu lamat memperhatikan si pengemudi di depannya.


bolehkah kali ini Mayla egois, karena dia ingin memeluk Rega sekarang. laki-laki yang mengajarkan cinta dan luka dalam bersamaan.


"may" si pengemudi bersuara seraya memelankan motornya.


"iya ka"


"kamu tidak kedinginan?" tanya Rega, karena dia merasakan angin malam kini sangat menusuknya. padahal dia sudah menggunakan jaket.


"sedikit" ujar Mayla jujur.


"peluklah", namun karena kondisi keduanya sedang di atas motor. Mayla tidak begitu jelas mendengarnya.

__ADS_1


"iya ka?", menghela nafas sejenak, Rega meraih tangan Mayla. melingkarkan tangan si perempuan muda pada pinggangnya. Kaget, jelas saja. Mayla hanya berharap semoga Rega tidak merasakan betapa kencang degup jantung miliknya. Tolong sadarkan Mayla jika seseorang yang dia peluk kini milik orang lain.


Dibalik helm fullface si pengemudi tersenyum, tatkala merasakan, lingkaran tangan si perempuan muda yang semakin erat. Ah kenapa dia merasa bahagia. Tolong sadarkan dia jika dirinya milik seseorang sekarang.


__ADS_2