Aku Tak Mengerti

Aku Tak Mengerti
kehujanan


__ADS_3

Sanggah menyanggah,dan saling mengeluarkan pendapat begitulah suasana di meja rapat kini.


sudah satu setengah jam, Mayla mengikuti rapat di kantornya. mendengarkan semua orang yang terus saja saling menyanggah seraya mengeluarkan pendapat yang berujung prokontra.


"begini pak, setelah saya berdiskusi dengan semua anak lacerta. Disamping menambah karyawan seperti yang Pak Arseno rencanakan tadi, saran kami lebih baik mendaftarkan Andromed ke playstore atau appstore pak. Selain bisa menambah pemasukan, juga bisa di jadikan sebagai pacuan dari komentar semua orang agar kita dapat melakukan pengembangan secara terus menerus. agar aplikasi Andromed dapat berjalan dengan lancar dan tentunya di kenal semua orang"usul Dimas.


"itu tidak mudah pak, aplikasi kami masih sangat membutuhkan banyak pengembangan" sanggah Reno kepala divisi IT andromeda.


"betul pak, ditambah aplikasi andromed kami belum sepenuhnya berjalan dengan lancar" susul karyawan samping Reno. divisi IT.


"dan lagi ketika saya mendengar komentar sebagian orang yang mencoba aplikasi Andromed, mereka kurang puas dengan aplikasi kami dan lebih memilih situs website yang biasa mereka gunakan" tambah Reno. Dia kembali teringat saat dirinya mengundang hampir seratus orang untuk gabung, diantaranya para softwere tester dan masyarakat awam yang tidak memahami program. hanya untuk menguji aplikasi akses awal mereka.


Andromed atau Android Media adalah sebuah aplikasi yang berhasil di buat pihak IT Andromeda. walaupun bukan perusahaan ternama dan berawal dari website, andromeda berhasil menampung semua penulis berbakat di luar sana. bahkan ada beberapa buku juga yang berhasil mereka terbitkan, walau tidak begitu banyak.


Awalnya hanya sebuah situs website yang di beri nama Andromed.com, hingga pihak IT Andromeda mencoba membuat aplikasi walau tidak sempurna seperti tutur Reno dan kawan-kawan.


"saya juga sering menerima komentar beberapa orang. kebanyakan memang mengeluhkan karena aplikasinya . makanya mereka lebih memilih situs website yang gratis dan mudah" ujar Raksa.


"betul saya juga pernah mendengar komentar yang sama, rata-rata mereka bilang katanya aplikasinya kebanyakan bug sering loading dan keluar sendiri" Mayla menambahkan.


"nah iya. ditambah ketika kita sudah melakukan tahap aplikasi akses awal, dulu banyak sekali yang mengeluhkan. akan sulit untuk menarik minat masyarakat kembali pak" tambah karyawan samping Reno.


"kalau masalah itu, kita bisa meminta bantuan pihak Marketing, untuk memasarkan. bagaimana menurut pak Hendrian?" jawab Agita seraya menoleh pada laki-laki yang sedari tadi hanya menyimak. Hendrian.


"betul kata bu Agit, kita bisa menggunakan pihak marketing untuk menarik masyarakat untuk beralih ke aplikasi andromed" susul Dimas seraya menoleh ke arah pak Hendrian juga.


"nah menurut pak Hendrian sendiri bagaimana?"


"kalau saya ikut Pak Arseno saja pak" jawab Hendrian seraya menoleh pada Arseno dengan sopan.


Arseno cukup lamat memperhatikan semua pendapat dari setiap divisinya dia membiarkan semua orang mengeluarkan opininya masing-masing, membiarkan perdebatan adu sanggah menyanggah di depannya mengalir begitu saja selama masih dalam pembahasan, karena itu wajar di sebuah diskusi selama tidak dengan emosi.


"sebelumnya saya mau bertanya dulu pada pak Reno. bagaimana pak apakah siap, untuk lebih melakukan peningkatan performa serta memperbaiki bug dari aplikasi?" tanya Arseno kemudian.


Reno terdiam untuk beberapa alasan, menarik nafas dalam sebelum berujar


"saya usahakan, Aplikasi andromed akan terus melakukan pengembangan sistem. agar lebih baik lagi" jawabnya percaya diri yang secara tak langsung membangkitkan semangat untuk dua karyawan yang duduk di samping kanan dan kirinya. mereka mengangguk bersama.


"karena kan awalnya kami hanya berfokus pada pengembangan website pak, kami usahakan sebisa kami" susul Reno.


"saran dari saya, kalian lebih utamakan user experience. Karena sebuah aplikasi tidak akan berjalan apabila tidak ada user. Utamakan kenyamanan pengguna" usul Arseno.


"baik pak, akan kami lakukan semampu kami dan sebisa kami" jawab Reno.


"Baik, untuk pihak marketing apabila saya berhasil dapat persetujuan pihak HO apa kalian bersedia lebih giat lagi untuk memasarkan aplikasi Andromed?" tanya Arseno beralih pada Hendrian selaku ketua divisi.


"baik kami usahakan pak" jawab Hendrian di angguki pegawai marketing yang lain.


"saran dari saya, kamu perbanyak memasarkan nantinya, coba cari strategi pemasaran yang baru agar bisa menambah pengguna untuk aplikasi kita. Nanti bisa saya diskusikan lagi bersama Divisi pemasaran"


"untuk pihak penyuntingan, bagaimana kalian siap jika dalam baiknya, bisa saja banyak cerita pendek, puisi dan karya sastra lainnya yang masuk. apa kalian tidak akan keteteran?" tanya Arseno kali ini beralih menoleh kearah Dimas selaku ketua divisi penyuntingan.


"kami siap dan akan kami usahakan" jawab Dimas.


"mungkin kedepannya kalian bisa menambahkan proofreader kalian selain Mayla dan Raksa" susul Arseno yang diangguki Dimas.


"Senin saya akan mengikuti training kepemimpinan yang di selenggarakan HO. nanti coba saya diskusikan disana. semoga saya bisa memastikan pihak HO dan mendapat persetujuan, kalian siapkan saja aplikasinya terutama untuk Divisi Pak Reno pastikan ketika dari pihak HO melakukan percobaan nanti tidak ada kesalahan, dan satu lagi usahakan dari segi grafis jauh lebih menarik itu bisa menjadi sebagai nilai tambah bagi user nantinya. jadi untuk rapat selanjutnya akan saya sampaikan keputusan dari pihak HO" tutur Arseno panjang lebar. tak butuh lama Arseno menjawab, mengingat sepak terjangnya dalam dunia kepemimpinan cukup luas, dia dapat dengan mudah mencerna semua pendapat yang dikeluarkan dari setiap divisi.


"sebelumnya saya minta maaf karena mendadak mengubah jadwal. karena saya perhatikan cukup banyak dari karyawan andromeda sendiri kuliah sambil bekerja. maka dari itu dengan banyak pertimbangan dari kepala divisi masing-masing saya memutuskan untuk mengganti jam dan hari dimana kalian dapat meluangkan waktu kalian untuk rapat" pungkas Arseno seraya mengakhiri rapat.


Tak terasa rapat yang alot pun selesai, walau belum mendapatkan jawaban dari pihak HO setidaknya rasa kesanggupan dari berbagai divisinya cukup membuat Arseno lebih percaya diri dan memberikan keyakinan pada dirinya.


satu persatu karyawan mulai meninggalkan meja rapat begitu juga Mayla.


"bagaimana hasilnya?" tanya Neira menyambut dengan tanya kedatangan Dimas, Mayla, Raksa dan Agita.


"hasilnya gimana besok" jawab Dimas.


"Arseno menyanggupi?" tanya Rega mendongak melirik ke arah Dimas yang akan memasuki kubekelnya. Dimas mengangguk.


"iya ga, sudah cepat kalian pulang. besok kalian kuliah lagi kan?" tanya Dimas menoleh kearah Raksa dan Mayla bergantian, Raksa mengangguk.


"cuman ngga padat ka" jawab Mayla. seraya memasukkan beberapa buku kedalam tasnya, namun ntah kenapa dia merasa ada satu buku yang hilang.


'apa tertinggal di meja rapat ya?'


"ayo pulang" ajak Raksa, Memilih abai dan merasa tidak enak hati pada Raksa Mayla mengekorinya keluar dari ruangan Lacerta. Namun setelah menimbang cukup lama, untuk mencari dan balik lagi ke ruang rapat atau tidak dia akhirnya memutuskan untuk kembali ke pisces mengingat itu buku yang Mayla butuhkan.


"sa aku mau balik lagi kamu mau nunggu apa mau duluan?" tanya Mayla, menarik kernyitan di dahi lelaki Arganta.


"kenapa balik lagi?"


"buku aku kayanya ketinggalan deh di pisces" jawab Mayla. Raksa terdiam beberapa saat, sebelum kembali berujar


"aku antar, ayo"


"jangan, kalau mau kamu tunggu aja, aku cepet ko" tolak Mayla seraya meyakinkan Raksa. dia merasa tidak enak hati menyusahkan Raksa, walaupun dia sedikit ketakutan ke lantai paling atas kantornya.


"Yaudah, hati-hati palingan ada OB yang lagi bersih-bersih" ujar Raksa.


"iya aku sebentar doang lagian bentar lagi ujan" susul Mayla seraya berjalan meninggalkan Raksa di parkiran.


sesampainya di lobi Mayla bingung akan memilih lift atau tangga. Jika memakai tangga dia pasti kelelahan naik ke lantai enam selain itu akan memakan waktu. tapi jika naik lift mungkin kah dia akan di makan hantu?.

__ADS_1


Setelah berdebat dengan pikirannya cukup lama, dia memutuskan untuk menaiki lift.


"bismillah, semoga tidak ada apa-apa" ujarnya seraya menekan tombol enam.


tepat ketika lift datang rasa waswas yang bercampur takut hampir mengurungkan niatnya masuk sebelum dia melihat Rega keluar dari lift rasa takutnya langsung hilang di gantikan dengan keterkejutan keduanya.


"ka Rega/Mayla" ujarnya bersamaan.


"mau kemana?" tanya Rega seraya keluar.


"ada urusan ka, aku duluan ya" ujar Mayla memasuki lift, dengan tak sabaran dia menekan tombol agar pintu lift tertutup. Ntah dia yang tak sabaran ingin sampai ke lantai enam atau dia tak mau berlama-lama dengan Rega. hanya hatinya yang tau.


Ting—Lift pun sampai di lantai enam, pemikirannya tentang lift berhantu sirna, tenggelem bersama pikirannya yang sedari tadi memikirkan Rega. karena ntah kenapa rasa sukanya pada Rega sulit di cabut mungkin karena berakar cukup kuat di hatinya. Mayla selalu mencoba menghindar namun semakin dia menghindar Tuhan seakan menariknya semakin dekat.


suasana koridor yang lumayan mencekam berhasil mengembalikannya pada rasa takut. dengan ragu-ragu dia melangkah, nampaknya pihak cleaning service sudah mematikan lampu lantai teratas mengingat jarang sekali di pakai jika tidak ada rapat.


menekan kenop pintu dia mulai menyalakan senter hp, merajut langkah dengan cepat berjalan ke meja rapat.


"dimana ya?" ujarnya seraya terus mencari di sekeliling meja rapat, karena tidak mungkin terjatuh di sekitaran balkon.


'apa mungkin di bawah meja?'


dengan rasa ragu Mayla merangkak masuk ke bawah meja, bermaksud mencarinya hingga dia melihat buku yang dia cari tadi tergeletak cukup jauh dan sulit dia jangkau, nampaknya terdorong ketika cleaning service membersihkan ruangan.


di rasa bukunya sudah dia dapatkan dia hendak merangkak keluar, sebelum hembusan angin masuk membuat bulu kudukanya merinding bersamaan dengan pintu yang terbuka dari arah balkon, berasil mengurungkan keinginan dirinya keluar dari kolong. Mayla terdiam, gelisah bercampur takut menyeruak memenuhi hati dan pikirannya. dia merutuki dirinya sendiri yang menolak Raksa hanya karena merasa tidak enak. terkutuklah rasa tidak enaknya.


Rasa takutnya bertambah dengan munculnya suara langkah kaki yang samar terdengar.


"hantu kah"


"atau jangan-jangan pencuri?, atau psikopat?"


Dia terus menerka-nerka milik siapa langkah kaki itu. bisa saja orang yang berniat mencuri berkas kantor seperti di cerita-cerita yang pernah dia baca atau mungkin saja psikopat yang tengah bersembunyi dari kejaran?. Deru nafasnya semakin tak karuan ketika matanya menangkap sebuah sepatu yang melangkah ke arahnya. dalam batinnya Mayla terus berdoa semoga saja dia masih di selamatkan dan bisa pulang dalam keadaan sehat. si pemilik sepatu terhenti di depan meja, menarik debaran jantung berpacu semakin cepat milik Mayla. matanya memejam tak dapat berpikiran jernih lagi. Hingga sorot mata seseorang yang tiba-tiba dan tak sengaja tersorot oleh senter ponselnya menarik pita suara keduanya untuk berteriak.


AAAAAAAAAA........DUKK!


"kepalaku" Teriaknya.


"Mayla?, Astaga hati-hati may" ujar Arseno yang pertama mengenali Mayla, seraya membantu menyingkirkan kursi yang menghalangi.


" pak Arseno, bapak ko disini?" tanya Mayla sesaat setelah dia berhasil keluar dari kolong meja seraya mengelus kepalanya yang berdenyut karena terantuk meja rapat.


"saya habis nelpon adik saya tadi di balkon" jawab Arseno menunjuk ke arah balkon dengan dagunya.


"kamu sendiri ngapain disini may?" susulnya lagi.


"ini pak saya mencari buku, eh taunya terjatuh di kolong meja" jawab Mayla seraya menunjukkan buku di tangannya. Arseno mengangguk tak ingin bertanya lebih.


"minta tolong apa pak?"


"begini, saya kan ada training ke pemimpinan hari senin depan dan tidak sempat menjemput Rehan, nenek dan ibunya sedang sibuk biasanya mereka yang jemput untuk menggantikan saya, sedangkan adik saya ada keperluan, kamu bisa bantu saya menjemput Rehan, nanti saya kasih tau tempatnya dimana" ujar Arseno menjelaskan panjang lebar. Mayla terdiam untuk beberapa alasan pasalnya kenapa atasannya itu mempercayainya apa dia tidak takut karena bisa saja Mayla mnculik Rehan atau parahnya menjualnya?


"may"


"iya Pak, boleh tapi jam berapa ya pak?" tanya Mayla


"jam sepuluh atau paling telat jam setengah sebelasan Rehan keluar may dari TK" jawab Arseno karena dia sangat hapal jam berapa keluarnya sang anak.


"oh iya pak kebetulan saya sudah selesai kelas, soalnya mata kuliah ketiga lumayan jauh jaraknya nanti saya----


"masalah ongkos, kamu tenang saja nanti saya yang tanggung" sela Arseno segera. belum sempat Mayla menjawabnya sebuah pesan dari Raksa masuk.


Ting!



"pak maaf saya harus segera ke bawah, saya lupa kalau raksa menunggu di parkiran" ujar Mayla merasa tak enak. Arseno mengangguk sebelum keluar mereka membereskan dulu meja dan kursi ruang rapat.


keduanya kini merajut langkah ke arah lift.


"bapak ngga keluar?" tanya Mayla tepat ketika lift melewati lantai lima, tempat ruangan Arseno berada. Arseno menggeleng


"saya antarkan kamu ke bawah" jawabnya. Mayla mengangguk mau menolakpun liftnya sudah berjalan turun. Ntah atasannya itu terlalu baik atau rasa ketakutan Mayla yang kentara dia tidak tau,


Melihat perempuan muda di sampingnya yang telihat gelisah sedari keluar ruangan rapat, mengurung kan niatnya untuk menekan tombol lima di samping lift tadi. karena dia mengira jika perempuan muda itu mungkin saja memiliki trauma sendirian di dalam lift. sedang mengenai lift berhantu Arseno tidak tau karena dia baru saja memimpin di Andromeda dan dirinya tidak pernah menaruh rasa penasaran terhadap yang lain selain pekerjaan.


lift pun terbuka di lantai dasar. Mayla keluar bersama Arseno menarik atensi para klining service yang tengah beres-beres.


"eh itu bukannya pak Arseno pemimpin baru andromeda"


"wah iya betul, baik sekali ya beliau sampai mengantarkan bawahannya"


"katanya ada gosip, beliau itu anak dari salah satu yang berpengaruh di BumiSaka grup"


begitulah beberapa percakapan yang tak sengaja Mayla denger tepat ketika dia merajut langkahnya ke parkiran kantor.


"sa maaf kamu nunggu lama jadinya"


"ngga papa, aku kira kamu pingsan di dalam" jawabnya, seraya memberikan helm kearah Mayla. Mayla terkekeh dia tak enak hati apa lagi melihat parkiran sudah hampir kosong, hanya tersisa motor Raksa dan nampaknya mobil Arseno di depan. dirasa Mayla sudah menaiki jok belakangnya, Raska mulai melajukan motor meninggalkan parkiran Andromeda.


"Sa bagaimana jika nanti pulangnya kamu kehujanan?" ujar Mayla sedikit berteriak, mengingat banyak sekali petir dan guntur yang saling bersahutan di perjalanan mereka.


"Hujan bukan masalah buat ku" jawabnya.

__ADS_1


'tapi masalah buatku'


kira-kira dua ratus meteran lagi motornya sampai di depan kosan dan tepat saat itu juga hujan mengguyur keduanya.


"kamu mau neduh?" tanya Raksa seraya menoleh ke arah Mayla di tengah menyetir. Mayla menggeleng.


"sedikit lagi sampai, apa kamu mau neduh?"


"ngga, tanggung kalau aku. pegangan May"jawab Raksa dia menarik tangan Mayla pelan untuk memeluk pinggangnya seraya menarik gas mempercepat laju motornya.


"AYO KEDALAM DULU" ajak Mayla, Raksa menggeleng.


"AKU MAU PULANG, CEPATLAH MASUK" usir raksa mendorong pelan Mayla karena sedikit basah kuyup.


"HUJAN SEMAKIN BESAR"


"AKU BISA BERTEDUH DIMANAPUN" jawab Raksa.


cukup lama Mayla dan Raksa berdebat. Mayla terus mengajak raksa masuk karena dia merasa tidak enak, mereka kehujanan itu ulahnya yang terlalu lama di lantai enam, sedang Raksa terus menolak ajakan mengingat itu kosan perempuan dan malam hari. membuat keduanya kehujanan di depan kosan.


"eh itu Mayla bertengkar sama kekasihnya?"


"iya sampai teriak-teriak begitu"


"tapi bukannya itu tukang yang dulu pernah kesini ya"


"bukan, dia sering kesini mengantar Mayla pasti kekasihnya"


Begitulah kira-kira percakapan beberapa perempuan yang melihat Mayla dan raksa.


"baiklah" ujar Raksa akhirnya karena melihat Mayla sudah basah kuyup, ditambah keduanya menarik atensi beberapa perempuan yang mulai keluar dari kosan yang berhasil tertangkap sudut matanya.


Raksa mengekori Mayla masuk dia membiarkan pintu kosan terbuka.


"mau minum teh hangat, coklat panas atau air hangat?" tawar Mayla sesaat ketika mereka masuk. Raksa terdiam cukup lama. dirinya sedikit mengigil akibat kehujanan. begitu juga Mayla.


"teh aja" jawabnya.


"mandilah dulu pake air hangat, aku tunggu di luar. sekalian aku mau memberitahu mas dimas takutnya dia khawatir" susul Raksa sebelum keluar,


Di luar Raksa merogoh ponsel dan mendial nomor Dimas. terdengar suara sambungan disana sebelum sebuah seruan dari sebrang membuatnya spontan menjauhkan ponselnya.


['Calling Mas dimas]


"DIMANA KAMU SA?" teriak Dimas menjawab panggilan.


"mas jangan berteriak aku tidak budek, aku di kosan Mayla mas kehujanan" jawab Raksa jujur.


"AWAS YANG KETIGA SETAN SA, APALAGI LAGI HUJAN" jawab Dimas jenaka di sebrang telpon.


"Puji Tuhan mas, Tuhan masih memberikan kewarasan buat ku" jawab Raksa,


"YAUDAH SYUKUR KALAU KAMU MASIH WARAS, MAS TUTUP YA, HUJAN GEDE SUARA KAMU NGGA JELAS" ujar Dimas.


"iya mas, tolong kasih tau mamah sama papah ya, bentar lagi aku pulang" pungkas Raksa seraya menutup panggilan,


"sa tehnya sudah jadi" teriak Mayla dari dalam.


"udah mandinya?" tanya Raksa seraya menarik teh di meja belajar Mayla, Mayla menggangguk.


"mau bikin mie atau--


" nga usah ini udah cukup" jawab Raksa sesaat setelah dia menyesap tehnya, membantu suhu tubuhnya lumayan menghangat.


"duduk sa" ujar Mayla menarik kursi belajarnya karena disana hanya ada satu kursi dan satu meja. Raksa menggeleng seraya duduk bersila di lantai.


"kamu saja, baju ku basah" ujarnya. Mayla terdiam dia tengah berdialog dengan pikirannya karena tidak mungkin kan Mayla menawarkan bajunya? atau menyuruh membuka baju agar bajunya kering?


"mau pinjam bajuku?" tawar Mayla ragu, karena dia sudah dapat menerka Raksa pasti akan menolaknya, seperti dugaan Mayla Raksa menggeleng.


"ngga makasih, bentar lagi juga kering"


"foto siapa itu?" susulnya seraya munjuk poster boy band di dinding kamarnya.mayla menoleh


"Oh itu EXO boyband kesukaan ku" jawab Mayla penuh antusias, berbanding terbalik dengan Raksa.


"oh, oke. itu al-Quran?" tanya Raksa lagi seraya menunjuk Al-Quran yang Mayla simpan di nakas. Mayla kembali mengangguk.


Dulu Mayla kira Raksa dan Dimas itu beragama yang sama mengingat keduanya adalah kakak beradik. sebelum Mayla melihat story instagram Raksa sedang merayakan Natal bulan Desember lalu bersama temannya. dari situlah Mayla mengetahui jika kakak beradik ini berbeda agama.


Jujur Mayla sedikit menaruh rasa penasaran sekaligus kagum pada keduanya, walau mereka berbeda agama tapi keduanya hidup rukun dalam satu rumah. lalu bagaimana dengan kedua orang tua raksa? mayla belum tau karena bungsu Arganta itu jarang sekali menceritakan lebih dalam prihal kehidupan keluarganya,


Lamat Mayla memperhatikan Raksa dibawahnya. sesekali bungsu Arganta itu akan menarik poni basahnya kebelakang karena menghalangi pandanganya bermain game.


"berhenti menatapku seperti itu lagi" ujarnya seraya mendongak kearah Mayla.


"Eh"


"dari pada terus menatapku begitu, mending bantu aku menjawab brain test" ujar Raksa seraya menunjukkan game yang sedari tadi dia mainkan.


permainan brain test menghapus keabu-abuan dan memberikan warna baru kedekatan untuk keduanya. bahkan Mayla secara tak sadar sudah berpindah duduk di samping Raksa.


kali ini Hujan datang tidak membawa luka lama bagi Mayla karena dengan keberadaan Raksa Mayla berhasil melupakan hujan yang sering membuatnya kembali terluka.

__ADS_1


__ADS_2