
Pandangannya mungkin terlihat sedang memperhatikan laki-laki yang tengah menjelaskan materi di depannya, namun pikirannya ntah kemana karena tak ada satupun pelajaran yang dapat dia serap selama dua jam pelajaran.
"Saya rasa materi ini sampai disini saja, ada pertanyaan mengenai laporan biaya penjualan?"
"Tidak" Teriak serentak mahasiswa,
"baik, jika tidak ada pertanyaan lagi saya cukupkan pertemuan kita. sampai bertemu minggu depan" ujarnya seraya menutup laptop.
"ka, pak abian masih di brunei?" tanya salah satu mahasiswi di depannya. Rega— laki-laki itu menggeleng.
"setau saya sih kemarin beliau bilang sudah di Bangkok" jawabnya Menarik atensi seisi kelas.
"Ka rega tau kerjaan pak abian selain dosen manajemen produksi itu apa?" perempuan yang di ujung menyauti. Rega terdiam terlihat tengah mengingat sesuatu.
"Traveller" jawabnya kemudian.
"mungkin ngga sih ka, setiap negara pak abian bikin soal?" kali ini Mario yang bertanya selepas membereskan buku-buku ke dalam tas. Rega menoleh mengernyit, seraya melempar tanya tak mengerti.
"ngga tau, memang kenapa?"
"asal ka Rega tau, soal kuis kita kemarin bener-bener luar biasa susah ka" susul Harvin kemudian. Rega menghentikan kegiatannya sebentar menunggu perkataan selanjutnya yang sepertinya akan mahasiswanya lontarkan kembali, karena tak hanya kelas ini saja yang mengadu padanya mengenai sulitnya soal kuis dadakan yang pak abian berikan.
"hampir semua nilai kita di bawah enam, bahkan lebih banyak kurang dari tiga, bayangkan sesusah apa soalnya" tukas Jerry mengadu.
gara-gara pertanyaan Harvin tadi banyak mahasiswa dan mahasiswi yang bercerita. satu persatu mereka menyuarakan kekesalan, kebencian, dan kesedihan karena mendapatkan dosen sekelas pak abian.
sedang Rega hanya mendengarkan dia merasa jika dirinya kini tengah membuka bimbingan konseling untuk para mahasiswa nya.
"gini aja, kalian kumpulkan soal yang pak abian kasih. nanti saya bantu jelaskan ketika kalian tidak ada mata kuliah" tutur Rega kemudian, sesaat setelah dia selesai mendengarkan semua cerita dari setiap mahasiswa dikelas.
"serius ka?" tanya Resha antusias, Rega mengangguk.
"nanti kalian hubungi saja saya jika kelas kalian kosong dan soal kuisnya sudah kalian kumpulkan" jawab Rega menyakinkan, karena tak hanya pada kelas ini dia berkata demikian.
"boleh kita minta nomor ka rega" tanya Arin, karena semenjak Rega mengajar di kelas, mereka tak ada satupun yang mempunyai nomor ponselnya. kecuali Mayla dan Raksa mungkin? selain malu untuk meminta, nomor ponsel juga termasuk privasi.
"tentu saja" jawab Rega enteng, seraya berdiri menuliskan nomor ponselnya di whiteboard.
"ada lagi?" tanya Rega kemudian sesaat setelah dia menuliskan nomornya tadi. karena tak ada yang menjawab Rega menarik kesimpulan jika permasalahannya pun selesai.
"baiklah jika tidak ada lagi, saya pamit ya. Mayla bisa kamu bantu saya bawa makalah milik teman mu" ujarnya seraya menoleh pada perempuan yang sedari tadi diam tak mengeluarkan tanya ataupun mengadu seperti yang lain. cukup menarik tanya pada si lelaki pradasa. namun nampaknya perempuan itu tidak mendengar buktinya Mayla tak merespon sama sekali.
Arin yang merasa tak enak hatipun menyikut pelan, begitu juga Resha. Mayla yang nampaknya baru tersadar sesuatu menoleh bergantian pada dua teman di samping kanan dan kirinya.
"disuruh nganterin makalah yang tadi sama ka Rega" ujar Resha seraya menunjuk makalah yang menumpuk di depan Rega. Mayla yang baru saja menyadari jika kelas sudah selesaipun hanya bersikap patuh.
"kenapa ngga Jerry saja ka?" tanya salah satu mahasiswi disana.
"sudah biasa kalau ketua kelas, saya mau Mayla" jawab Rega kemudian, seraya menoleh kearah Mayla yang tengah memangku buku makalah di depannya.
"Mayla kamu ambil makalahnya lalu ikuti saya ya, saya pamit selamat siang" pungkas Rega seraya melangkah meninggalkan kelas, yang diekori Mayla di belakangnya.
tak ada percakapan, karena semenjak keluar kelas Mayla tak mengeluarkan kata apapun, kakinya memang tak henti merajut langkah namun nampaknya jiwa dia di antah berantah, ntah dimana. Mayla bahkan tak sadar jika Rega sudah tertinggal cukup jauh, karena laki-laki pradasa itu dengan ramah menjawab semua mahasiswa yang menyapa ataupun bertanya di sepanjang koridor kampus.
Terlalu dalam dia tenggelam dalam pikiran hingga dirinya tak menyadari jika ada pintu kaca tepat di depannya. beruntung tangan Rega sigap membuka pintu kaca itu, gerakan tiba-tiba yang laki-laki pradasa lakukan rupanya membuat Mayla tersadar, perempuan itu menoleh seraya mendongak. matanya membola, pegangan pada tumpukan makalah dia perkuat. tepat ketika pandangannya jatuh pada manik legam milik laki-laki pradasa yang kini menatapnya juga.
"ada masalah may? kenapa sedari tadi kamu melamun" tanya Rega kemudian, posisi mereka itu masih di depan pintu dimana Rega berdiri di belakang Mayla, tangannya menahan pintu kaca agar sedikit terbuka. sedang keduanya tertahan dalam pandangan masing-masing. karena perbedaan tinggi keduanya. yang lebih tua menunduk sedang yang muda mendongak.
Baru saja Mayla hendak menjawab, sebelum kepala seseorang yang tiba-tiba muncul dari bawah celah pintu berhasil mengagetkan keduanya.
"Hayo lagi ap.... Anj----duuuh", karena kaget Rega yang tadinya menahan pintu langsung melepaskannya, sedang Mayla spontan menjatuhkan tumpukan makalah yang berhasil mengenai kepala seseorang yang kini terhimpit kaca.
"sIALAAN PRADASA!" teriak orang itu kemudian, siapa saja yang mendengar teriakan itu pasti sudah bisa menerka betapa geramnya sipemilik suara.
"loh ka Dimas? ngapain di sini ka?" tanya Mayla kaget dia langsung mendorong pintu kaca membantu Dimas. seraya membereskan kembali makalah yang berjatuhan tadi.
Dimas yang masih merasakan sakit di lehernya akibat terjepit pintu kaca pun tak begitu merespon.
Bukannya berniat menolong seperti yang di lakukan Mayla, Rega malah melempar tanya seakan tak terjadi apapun.
"ngapain dateng jam segini dim?, aku kira bakal kesini agak siangan" ujarnya seraya kembali mendorong pintu kaca dan menarik Mayla masuk. mengabaikan Dimas yang masih meringis kesakitan.
"tadinya mau sore, tapi karena aku lapar jadinya aku berniat mengajakmu makan diluar. tapi malah sial begini" jawab Dimas mengekori keduanya. seraya tangannya terus saja memijat bagian leher.
awalnya Dimas memang akan datang ke kampus Rega itu sore, tapi karena perutnya lapar dan dia bosan makan di kafetaria kantor , dia pun memutuskan untuk mengajak sahabatnya itu makan keluar mengingat hanya satu kelas yang sahabatnya ajar.
"sudah berapa lama kau menunggu dim?" tanya Rega kemudian, sesaat setelah dia duduk seraya menyimpan beberapa buku dan laptop di meja.
__ADS_1
"hampir setengah jam" jawab Dimas jujur, laki-laki itu langsung menyender pada meja kerja, memunggungi Rega.
"apa tidak bosan ka menunggu sampai setengah jam" tanya Mayla lagi, seraya menyerahkan tumpukan makalah tadi pada Rega. Dimas menoleh dengan muka melasnya.
"bosan banget may, tadi itu aku berniat pulang eh malah kejepit ulah si pradasa sialan" tukasnya dengan penuh kekesalan seraya melipat kedua tangan di dada. Mayla meringis membayangkan betapa sakitnya itu, sudah terjepit eh kejatuhan tumpukan makalah pula.
Tadi Dimas memang berniat pulang karena sudah setengah jam lebih dia menunggu, Rega tak kunjung datang dan waktu istirahatnya pun hampir habis. namun ketika langkahnya hendak mencapai pintu kaca, dia melihat Rega dan Mayla dalam posisi yang sedikit ambigu. Jiwa isengnya pun muncul ke permukaan. berniat mengagetkan dan membuat keduanya malu malah berakhir dengan dirinya yang terhimpit pintu kaca dan kejatuhan tumpukan makalah. sial sekali.
Rega yang sedari tadi sibuk dengan beberapa makalah di depannya terkekeh.
"salah sendiri ngagetin, aku kira hantu kepala buntung tadi" ujarnya kemudian. menarik kekesalan si sulung Arganta. terbukti kini Dimas tengah menatap Rega nyalang.
"apa?? kepala buntung??, muka setampan ini!...sialan" umpatnya kemudian.
"pak Dimas, sudah ada Reganya? " tanya salah satu teman Rega yang baru saja masuk. Si sulung Arganta menoleh dengan ramah menjawab
"sudah" jawabnya, sulung Arganta itu masih saja memijat lehernya pelan karena rasa sakitnya masih tersisa. sedang Rega terlihat tengah mencari sesuatu di laci meja.
Dimas sudah terbiasa keluar masuk ruangan Rega di kampus karena tidak sekali dua kali sulung Arganta itu menemui Rega. teman-teman asisten dosen Rega pun hampir semua tau walau hanya sebagian yang mengenal Dimas. satu yang tak mereka ketahui bahwa Dimas adalah kakak kandung Raksa.
"pakai itu setidaknya bisa mengurangi rasa sakit" ujar Rega seraya melemparkan satu buah koyo ke arah Dimas. membuat si sulung Arganta mengernyit setelah melihat koyo itu di meja.
"Bau, aku mau ke kantor apa kata karyawan nanti. sialan" jawab Dimas setelahnya seraya membuang muka, tak sengaja pandangannya jatuh pada gedung perpustakaan universitas.
"ck, bilang saja habis diurut" jawab Rega tak mau ribet. sedang Dimas tak menaruh atensi ataupun merespon. sulung Arganta itu masih betah melihat aktivitas di perpustakaan yang dapat dia lihat dengan jelas dari tempatnya berdiri sekarang.
Mayla yang menjadi penyimak dua sahabat itu sedikit kaget karena baru pertama kali dia melihat interaksi Dimas dan Rega berbicara dalam bahasa informal.
Jujur Mayla sedikit menaruh rasa penasaran dengan kemunculan Dimas di ruangan Rega. namun rasa penasaran itu hanya sampai pada batinnya yang tak berhasil dia suarakan.
"pantesan kau waktu itu ingin berpindah tempat, ternyata tujuanmu ingin melihat setiap perempuan cantik yang masuk ke perpustakaan" susul Dimas seraya berjalan kesamping jendela besar di belakang Rega duduk. membuat Mayla spontan menoleh ternyata memang benar perpustakaan terlihat jelas dari tempat Rega duduk sekarang.
"gila kau dim, bukan itu alasannya" jawab Rega spontan memutar kursi kearah Dimas, sebelum pandangannya kembali dia alihkan pada Mayla sekilas.
Dimas tertawa terbahak-bahak bahkan dia melupakan rasa sakitnya yang tadi. Nampaknya dia mengetahui maksud dari Rega yang tiba-tiba saja melempar pandangan pada Mayla. yang bahkan perempuan muda itu tak menyadarinya sama sekali karena fokus memperhatikan kegiatan di dalam perpustakaan yang terlihat jelas dalam pandangannya.
"may tumben kamu kesini?" tanya Dimas menoleh kearah Mayla menarik atensi perempuan itu dari pandangannya.
"aku di suruh ka Rega bawa makalah" jawabnya. Dimas yang mendengar jawaban Mayla kembali terbahak nyaring hingga menarik atensi seluruh asisten dosen disana. sedang Mayla mengernyit tak mengerti karena letak lucunya dimana?
"ada yang lucu ka?" tanya Mayla bingung. Dimas masih tertawa seraya memberikan gestur 'tidak' lewat tangannya. walau tak begitu nyaring tapi mengundang tanya bagi Mayla.
'akan ku kuliti kau hidup-hidup'—batin Rega kriminal.
seakan dapat mendengar suara hati Rega, Dimas tiba-tiba berujar seraya menyatukan kedua tangannya di dada sambil sedikit membungkuk.
"ampun pak", Mayla mengernyit tapi memilih abai,
"ka Dimas kenal Jerry" tanya Mayla kemudian, Dimas menggeleng.
"hanya tau"
"May"—sebuah suara yang tak asing mengudara. Dimas, Rega dan Mayla spontan menoleh menemukan Raksa yang berdiri di belakangnya.
"udah selesai? yang lain udah nunggu soalnya. ayo!" ajaknya kemudian,
Oh iya Mayla baru ingat. karena kemarin kemaleman, makanya mereka berencana merampungkan tugas video di kampus.
"oh iya aku lupa. ka Rega, ka Dimas aku duluan ya mau kerja kelompok dulu" ujar Mayla seraya pamit. sedang Raksa si bungsu Arganta itu sudah mendahului keluar tak mau terlalu lama dengan si sulung di dalam.
"kita ngerjainnnya dimana sa?" tanya Mayla seraya menyamakan langkah dengan langkah lebar si bungsu Arganta.
"di gazebo"
"eh ngga jadi DPR, katanya mau disana" tanya Mayla lagi, karena memang kemarin mereka berencana mengerjakannya disana, sekalian mendinginkan otak, sebelum ketemu mata kuliah selanjutnya.
UNSENO mempunyai satu pohon beringin yang terawat kelestariannya, pohon besar dan tinggi yang sudah belasan tahun itu berdiri di tengah-tengah kampus. berdekatan dengan gedung FEB dan Vokasi.
pohon yang biasanya kerap dikaitkan dengan hal-hal mistis itu sudah menemani setiap generasi mahasiswa UNSENO. sama seperti halnya mitos dimana selalu ada keanehan yang keluar dari pohon beringin, begitu juga yang ada di UNSENO. pohon beringin itu selalu saja mengeluarkan udara dingin yang justru malah menarik mahasiswa untuk berkumpul di bawahnya.
konon pohon beringin itu sudah ada dari sebelum UNSENO berdiri, ketika disana masih lahan kosong berhektar-hektar.
"tempatnya dipake sama anak Kanigara" jawab Raksa. Mayla menangguk tak ingin bertanya lebih.
"May lama sekali kamu, ngapain di ruangan ka Rega" pertanyaan Resha menjadi penyambut datangnya Raksa dan Mayla. sedang Harvin terlihat sedang fokus dengan laptopnya.
Bingung. satu kata yang terlintas dalam otaknya, tidak mungkin kan dia menceritakan secara gamblang apa yang terjadi di ruang asisten dosen?
__ADS_1
"dimana yang lain?" bukannya menjawab Mayla malah bertanya balik, tepat ketika pandangannya tak menemukan Arin, Jerry dan Mario disana.
"mereka beli cemilan ke minimarket depan" jawab Harvin masih tak melepas atensi dari layar. Mayla menangguk seraya duduk di samping Harvin.
"udah sampai mana" tanya Raksa, Harvin menoleh
"baru sampai menit ke tiga belas nih" jawabnya.
"gantian aja" ujar Raksa kemudian, Harvin mengangguk seraya beranjak dia mengeluarkan sekotak rokok dari dalam sakunya.
"perlu bantuan" ujar Mayla menawarkan diri. Raksa menggeleng.
Beberapa menit setelah kedatangan Raksa dan Mayla. Arin, Jerry dan Mario pun datang dengan dua kresek besar penuh cemilan yang mereka beli di minimarket depan.
"May kamu tadi lama banget di ruangan ka Rega ngapain?" tanya Arin, pertanyaan yang sama Mayla dengar kembali.
"tadi aku juga menanyakan hal yang sama, tapi dia malah diam" tukas Resha seraya memilih beberapa cemilan yang hendak dia buka.
"iya perasaan aku tidak sampai selama itu" susul Jerry. laki-laki itu duduk bersila menghadap Mario.
"mencurigakan nih Mayla, udah sering kepergok bareng lagi. hati-hati May jadi orang ketiga" Mario menyauti terselip nada candaan dari perkataannya. Harvin yang duduk dibelakang Mario berseru.
"jangan mau jadi yang ketiga may, mending yang pertama"
Mayla hanya diam, perempuan itu tak merespon apapun.
"tadi kami ketemu di depan toilet asisten dosen" bohong Raksa, laki-laki Arganta itu terlihat tak melepas atensi dari layar laptop, masih mengedit video melanjutkan pekerjaan Harvin tadi.
"jadi kamu lama di toilet may?" tanya Arin sesaat setelah dia duduk di samping Raksa seraya membuka ciki menawarkan, yang langsung di tolak oleh si lelaki Arganta.
"begitulah" jawab Mayla singkat.
"kita kira di ruangan ka Rega" ujar Resha kemudian.
"emang boleh mahasiswa pakai toilet itu?" tanya Harvin, laki-laki itu terlihat kesusahan membuka kuaci karena tak berniat melepaskan rokoknya.
Raksa terdiam, tak disangka jawaban asalnya tadi ditanggapi serius oleh Harvin. padahal dia berniat membantu Mayla menjawab, karena kalau tidak di jawab rasa penasaran teman-temannya pasti menumpuk dan tak akan henti mereka menanyakan hal yang sama. membuatnya jengah karena terganggu.
"emang kenapa? mahasiswa ngga boleh vin?" tanya Resha penasaran.
"katanya sih bakal kena hukuman yang pakai itu toilet" susul Harvin segera sesaat setelah dia berhasil membuka satu kuaci dan memakannya. Laki-laki itu tengah bersandar pada tiang penyangga gazebo. dengan kuaci di depannya.
Mario yang kini berdiri di belakang Raksa menyauti
"iya, sempet denger juga"
"Mungkin karena Mayla datangnya sama ka Rega jadi ya ngga papa" ujar Jerry di tengah mengunyah kacang atomnya.
topik tentang toilet asisten dosenpun berlanjut pada kisah horor yang masih menyangkut toilet tersebut membuat pertanyaan awal Resha dan Arin terlupakan dalam sekejap. sedang tiga perempuan sisanya tengah sibuk memperhatikan Raksa yang sedang mengedit video kelompok mereka.
Terlihat dari kejauhan seorang laki-laki berkuncir tengah memperhatikan Mayla seraya memetik gitar, bersila menyender di bawah pohon beringin.
"yan gimana nih", Arsaka—laki-laki yang sedari tadi memetik gitar menoleh tepat ketika Elang menyikutnya.
"apa?" tanyanya seraya menyimpan tangan di badan gitar berhenti memetik senar.
"mau ngga ikut lomba band, hadiahnya lumayan" ujar Elios kemudian. Arsaka menoleh kearah Elios yang duduk berselonjor memunggunginya.
"kapan lombanya yos?" tanya Arsaka. Ganindra yang tiduran di samping Elang menyauti bersama dengan keluarnya kepulan asap dari mulutnya.
"Akhir tahun, buat nyambut tahun baru katanya. Memeriahkan"
"schedule kita padet ngga?" tanya Arsaka seraya menoleh kembali kearah Elios selaku manager Kanigara.
"nanti aku cek lagi yan" jawab Elios menarik kakinya bersila seraya berbalik kearah Arsaka langsung membuka ponselnya. karena padetnya kegiatan Kanigara, Elios tidak begitu hafal dengan jadwal yang sudah dia buat sendiri.
"kita bakal ngisi dua acara besar soalnya, kita juga harus mikirin kesehatan tubuh jangan sampai ada yang sakit, merepotkan!" tutur Arsaka kemudian seraya mengeluarkan sebatang rokok yang langsung dia simpan di ujung bibir.
"oh iya yang event kantor bang Arseno kapan itu yan?" tanya Julius seraya melempar korek kearah Arsaka.
Arsaka yang hendak memantik korek urung, pertanyaan basis kanigara itu seakan mengingatkan pada pertemuan pertamanya dengan Mayla.
'Ah sial'
"dua bulanan lagi, bulan depan itu festival kampus. pasti bakalan cape banget belum lagi kita ngisi kafe-kafe kan" Saut Elang, keyboardist kanigara. laki-laki itu duduk bersila di samping Arsaka.
"iya juga sih, tapi hadiahnya lumayan bikin band kita terkenal" ujar Ganindra,
__ADS_1
"yakin yan, bakal kamu lepas gitu aja?" susulnya kemudian.
"dari pada kalian sakit semua, menyusahkan!" tukas si bungsu sadewa.