Aku Tak Mengerti

Aku Tak Mengerti
Pulang


__ADS_3

Fajar yang menyapa bumi secara tak langsung mengantarkan bulan pada peristirahatannya, memberikan pekerjaan kepada Matahari yang tengah bersiap menggantikan bulan untuk berjaga. memaksa dengan egois setiap orang mulai meninggalkan tempat ternyamannya—tidur.


Namun berbeda lagi dengan perempuan yang masih saja betah bergumul di dalam selimutnya. mengabaikan fajar yang secara suka rela menyapa paginya, memberikan udara yang begitu segar walau sejenak. Dia Mayla.


Di bawah tempat tidur suara alarm hp yang di cash hampir berdering setiap menit, namun sang empu tak ada pergerakan sama sekali. hingga mentari pun mulai menggantikan fajar, mencoba membangunkan dengan sinarnya yang terlihat indah kala mentari mulai melepas peristirahatannya.


namun nampaknya kehadiran mentari untuk hari itu sia-sia karena Mayla masih belum juga terlihat pergerakan ingin membuka matanya.


Di bawahnya ponselnya memunculkan sebuah pengingat


'mengunjungi mamah' begitu isi pengingat yang tertera di ponselnya. Ntah mimpinya yang terlalu indah atau dia terlalu takut melihat kenyataan karena Mayla tak kunjung terbangun, hingga jam menunjukkan pukul sembilan pagi. dan Alarm hp itu berbunyi namun tetap, tidurnya tak terganggu sama sekali.


Kembali ponsel di bawahnya berkerja bukan mengeluarkan bunyi alarm seperti sebelumnya, melainkan sebuah panggilan. namun sudah beberapa panggilan masuk pun mayla tak bangun.


Jam menunjukkan pukul sebelas siang, Alarm hpnya kembali berdering Mayla menundukan kepalanya kesamping kasur, meraih hpnya dalam posisi telungkup.


BRUK....


"ASTAGA JAM 11" teriaknya menarik kesadaran dengan paksa, Mayla langsung berlari ke arah kamar mandi menghiraukan selimut yang jatuh. keluar dari kamar mandi dia merutuki dirinya melupakan fakta bahwa sekarang hari minggu.


"tunggu ko kaya ada yang lupa tapi apa?" tanya Mayla berjalan kearah kasurnya seraya memungut selimut yang terjatuh tadi, hingga sebuah panggilan masuk dari nomor Rega membuatnya sedikit kaget.


"eh ka Rega?"


[calling]


Rega


"iya ka ada apa?" tanya Mayla,


"kamu baru bangun may? dari tadi aku telpon" tanya Rega di sebrang,


"he he iya ka" jawab Mayla,


"mamah kamu bilang tadi katanya kamu mau datang berkunjung, makannya aku telpon" tanya Rega.terdengar suara grasuak grusuk di sebrang nampaknya Rega tengah dalam kesibukan lain.


"oh, iya ka", Mayla nampaknya melewatkan sesuatu.


"aku udah ijin sama mamah buat jemput kamu nanti, sekalian mengantarkan mamah kamu pulang" ujar Rega. Mayla terdiam beberapa saat tak kunjung menjawab.


"may aku lagi di toko kue, aku tutup dulu ya sampe bertemu nanti" ujar Rega terdengar memutus panggilan, sedang Mayla masih terdiam bahkan sampai panggilan berakhirpun ponselnya masih di telinga.


"mamah beli kue ke toko ka Rega,tumben???" monolognya mengudara seraya menurunkan ponselnya.


"mengantarkan mamah, berati mamah ada di toko kue?" kembali dia bertanya yang disambut keheningan. Mayla mengerjap hingga dia teringat akan perkataan Rega.


"aku udah ijin sama mamah buat jemput kamu"


"buat jemput kamu" Mayla membeo.


"AH APA YANG HARUS KU LAKUKAN" ujarnya berteriak memenuhi kamar kosannya, dia mengacak rambutnya berkali-kali seraya menutup kepalanya dengan bantal. kemudian melemparkannya keatas. berguling-guling kesamping kanan dan kiri.


"bagaimana ini Tuhan, sampai kapan ini aku tak sanggup tidak tau kah kau wahai ka Rega hati ini sulit melupakan mu" ujarnya dengan dramatis seraya menutup kepalanya dengan selimut.


"kenapa aku seperti bumi yang sulit keluar dari porosnya....eh kiamat dong ya" ujarnya lagi.


Lama dia terdiam memandang langit-langit kosannya, hingga sebuah pesan berhasil membuatnya terperanjat kaget hampir jatuh dari kasurnya.


Ting!



"Mampus", dengan cepat dia menarik baju asal, kemudian berlari ke arah kamar mandinya. mengabaikan tempat tidurn yang masih berantakan. Kurang lebih lima menit dia sudah berganti pakaian.


" parfum ku mana?" ujarnya mengudara seraya mengubrak abrik tempat tidur yang sudah berantakan tambah berantakan. melupakan fakta bahwa dia sering sekali membawa parfum di dalam tas. karena tak kunjung menemukannya, dia beralih pada lipstik.


"aduh nanti aku harus gimana" ujarnya dia tak bisa membayangkan berdua bersama Rega, seraya menyimpan lipstiknya dia menarik sisir, membiarkan rambutnya terurai sampai punggung.


"ah pake laper lagi" ujarnya seraya berjalan kearah dapur, membuka kulkas kecil. mengeluarkan setumpuk roti tawar. baru saja hendak mengambil selai di kabinet dapur, namun sebuah klakson mobil membuatnya penasaran. menyimpan kembali rotinya dia merajut langkah ke arah pintu.


"ka Rega bawa mobil? tumben" ujarnya seraya membuka pintu, setau Mayla Rega itu paling tidak suka menggunakan mobil mengingat anak tunggal Pradasa itu paling tidak menyukai kemacetan. dan arah kekosan Mayla itu rawan macet.


"May udah siap?" ujar Rega yang baru saja keluar dari dalam mobilnya, membuat Mayla bergeming di tempat, sibuk mengagumi ketampanan anak tunggal keluarga pradasa.


"inget May dia milik orang lain" gumamnya, dia cepat-cepat mengusir pikirannya yang masih sempat-sempatnya mengagumi pacar orang,


"tunggu sebentar ka" teriak Mayla seraya kembali lagi kedalam kosan, dia mengambil tas dan buah tangan untuk sang ibu. seraya berlari keluar dia menggigit rotinya karena lapar.


Tak ada yang memulai percakapan tepat ketika mobil itu keluar dari kosan.


Mayla terus saja memandang kesamping, melihat kendaraan lain dengan kunyahan roti yang mengembung di pipinya.


kemesraan ini janganlah cepat berlalu... bip..

__ADS_1


terjadi kemacetan di arah... bip...


Rasa sesal didasar hati... bip...


untukmu yang duduk sambil berdiskusi... bip..


sedangkan Rega sedari tadi terus menerus, mengganti chanel radio mobilnya yang berakhir dia matikan. Rega menoleh kearah Mayla melihat apa yang di lakukan perempuan di sampingnya kini. sudut bibirnya terangkat secara tak sadar.


"kamu itu masih ngga berubah ya" ujar Rega menoleh, seraya sesekali pandangannya dia alihkan pada kemacetan di depannya. Mayla merajut dahi mencoba mencerna, maksud kata berubah yang di lontarkan laki-laki pradasa di sampingnya.


"masih kekanakan, liat remahan roti kamu dimana-mana" susul yang lebih tua disertai tawa, tanpa sadar membuat Mayla tersipu malu, dia dengan cepat memperbaiki dirinya.


"tumben ka bawa mobil" tanya Mayla seraya membuka tasnya mencari tisue, karena rotinya sudah habis. dan tangannya sedikit lengket.


"iya, aku kan lagi di toko kue, males ngeluarin motor jadinya pake mobil mamah" jawab yang lebih tua seraya mengalihkan pandangan ke jalanan kembali.


"mamah aku habis beli kue tadi ka? atau gimana ko ada di toko kue?" tanya mayla sedikit ragu karena mungkin saja Rega tidak mengerti maksud pertanyaannya. kalau di toko kue kan pasti beli kue, bukan beli ikan. tapi bukan kesana maksud dia bertanya. Pertanyaan Mayla menarik laki-laki yang lebih tua mengernyit.


"loh, mamah kamu kan kerja di toko kue mamah may" ujar yang lebih tua, tak melepas atensi dari kendaraan depannya yang mulai padat merayap. Mayla sedikit kaget, namun berhasil dia tutupi. Nampaknya memang ada sedikit informasi yang Mayla lewatkan.


"oh iya aku lupa" ujarnya bohong. pasalnya sang ibu belum pernah bercerita jika ibunya itu bekerja.


"oh disini rupanya",


Rega mengernyit seraya menoleh melihat perempuan muda di sampingnya.


"kenapa?" tanyanya. Mayla kemudian menunjukkan sebuah parfum yang tadi dia cari-cari.


"parfum ku ternyata disini" jawabnya. kembali tanganya merogoh mencari tisue yang nampaknya bergabung dengan barang-barang di dalam tas.


"kamu mencari apa may?" tanya Rega karena sedari tadi dia perhatikan, perempuan di sampingnya terus saja mencari sesuatu di dalam tasnya.


"tisue ka tapi sepertinya aku lupa membawanya tadi" , Rega menggeleng seraya menarik tisue di mobilnya.


"ini kan ada May, ya ampun"


"oh iya may, maaf ya kemarin itu.....aku benar-benar minta maaf, itu diluar perkiraan ku May, aku kira--"


"ngga papa ka, bukan masalah besar bagiku" sela Mayla segera, ketika dia mengerti kemana arah pembicaraan mereka. Rega mengangguk walaupun dia masih tak enak hati meninggalkan Mayla sendirian.


"oh iya kemarin kamu kemana? langsung pulang atau gimana?" tanya Rega. pasalnya kemarin ketika dia memutuskan balik lagi ke tempat Mayla, perempuan itu sudah tidak ada. pesan dan panggilannya pun sama sekali tidak Mayla balas. Rega menerka mungkin saja Mayla marah.


"aku nyari makan ka kemarin. ke lantai atas" jawab Mayla tak sepenuhnya bohong. Karena lapar, kemarin dia memang ke lantai atas, hanya saja dia tidak menceritakan jika dirinya bertemu dengan Arseno.


"oh iya, aku khawatir soalnya kamu ngga bales chat sama telpon aku may" ujar Rega seraya menarik rem, tepat ketika mobilnya memasuki kawasan SPBU.


"nanti aku tunggu di depan ya"


Mayla keluar dia merajut langkah menuju minimarket di pinggiran kawasan SPBU. menarik dua kopi kalengan dan air putih, hingga tangannya mengudara ketika pandangannya menemukan cincau cap panda. Seraya menarik minuman itu Mayla berjalan kearah kasir.


"ada lagi yang ingin di tambahkan ka?", Mayla menggeleng hingga seseorang datang seperti menyerobot antrian, menarik atensi Mayla.


"loh ka Rega?"


"satukan saja belanjaannya" ujar Rega seraya mengeluarkan kartu debit dari dompetnya. Lamat Mayla memperhatikan laki-laki di sampingnya.


'ingat may dia milik orang!!', seakan ditarik paksa oleh kenyataan Mayla menggeleng.


"kenapa?, ada yang menggangu pikiran kamu?",


"eh ngga ka, makasih ka", Rega mengangguk seraya berjalan keluar menarik pelan tangan Mayla.


Keduanya kini mulai melanjutkan perjalanan kembali, hingga tak terasa Perjalanan yang memakan waktu dua jam setengah itupun sampai.


Beberapa menit setelah itu, gerbangnya terbuka menampilkan seorang perempuan setengah baya yang terlihat cantik walau sudah termakan usia. mamah Mayla— Aulina.


Mayla segera keluar, di susul Rega yang langsung membuka pintu kedua mobilnya. mengambil paper bag berisi kue untuk ibunya Mayla.


"mah" ujar Mayla menghampiri sang ibu seraya memeluknya, berbeda lagi dengan Rega yang langsung mencium tangan pada mamah Mayla sesaat setelah dia memberikan paper bag tadi.


"makasih ya nak Rega sudah mau repot-repot menjemput Mayla" ujar sang ibu dengan ramah . Rega mengangguk seraya berujar


"iya tante, kan ini Rega yang minta tadi" jawab Rega tak kalah ramah.


"keluarga kalian sudah cukup banyak membantu kami, Terima kasih Nak Rega" ujar Aulina -ibu Mayla- seraya memperlihatkan paper bag yang tadi di berikan Rega.


"iya tante"


"may ajak Rega masuk, Ayo mari masuk nak Rega" ajak Aulina seraya menarik pelan tangan Rega,


"aku mau tante, tapi bagaimana dengan toko kue mamah. lagian Rega takut mengganggu kebersamaan kalian, Mayla sudah sangat merindukan tante" ujar Rega ramah, seraya menoleh ke arah Mayla. Mamah Mayla mengangguk mengerti atas penolakan halus Rega.


sepeninggal Rega, sang ibu membawa Mayla masuk kerumah.

__ADS_1


"mah lapar" ujar Mayla dengan manja sesaat setelah dia duduk di ruang tamu. membuat sang ibu tersenyum seraya berujar


"mamah tau kamu pasti belum makan, ayo sini mamah sudah siapkan makanan kesukaan kamu" ujar sang ibu, Mayla langsung berlari menghampirinya kedapur.


"May bagaimana dengan kuliah kamu" tanya sang ibu seraya menyendokkan nasi kedalam piring untuk dia kasih kepada anaknya.


"ngga ada yang spesial, hanya dosen ku benar-benar bervariasi" jawab Mayla yang tak melepas atensi dari sang ibu, yang kini tengah sibuk memasukkan lauk pauk kedalam piring untuknya.


"mamah akan membuatku kesusahan bernafas" ujar Mayla mengingat sang ibu, yang tak henti terus saja menambahkan makanan ke piring anaknya. sang ibu tersenyum,jauh di lubuk hatinya sebenarnya dia merasa khawatir, sang anak yang memilih untuk menjauh membuatnya hampir tiap pagi dan malam berpikiran, apakah sang anak makan dengan baik atau tidak.


"ayo mah kita makan bersama" ujar Mayla menarik kursi kosong di sampingnya yang langsung di duduki sang ibu.


Selesai makan mereka pun melepas rindu dengan saling bercerita, mulai dari dosen Mayla yang menyebalkan sampai pekerjaannya yang membuat Mayla terasa cape,dan melelahkan. bagi Mayla ibu adalah tempat untuk pulang, tempat untuk berkeluh kesah, tempat untuk menangis, tempat untuk berbagi dan tempat untuk mengadu.


"mah Mayla mau ke kamar ya" ujarnya.


Tepat ketika dia membuka pintu pandangannya jatuh pada sebuah pigura yang disimpan di nakas. bohong kalau Mayla tak merindukan ayahnya, buktinya ketika dia melihat foto sang ayah rasa rindu itu kembali mengusik relung hatinya.


"aku merindukan mu ayah" ujarnya seraya mengusap pelan foto sang ayah.dia kembali teringat kala sang ayah yang selalu memeluknya memberikannya kehangantan.


"may"—sebuah panggilan mengudara dengan cepat dia mengusap air matanya, seraya menyimpan pigura dia menoleh menemukan sang ibu yang tengah merajut langkah kearahnya.


"mamah" ujarnya,


"kemari mamah ingin memelukmu, sudah lama mamah tidak memeluk anak manja mamah" ujar sang ibu seraya manarik anaknya ke dalam pelukan hangatnya. Mayla kembali menangis ketika sang ibu mengusap pelan kepalanya seraya memberi kata-kata mantra untuk menguatkannya.


"tak apa menangislah, mamah paham semua ini terasa begitu cepat dan tak nyata bagimu. maaf kan kami may"


"kalian ngga salah, hanya saja Mayla yang belum bisa menerima" susul Mayla segera, seraya manarik diri dari pelukan sang ibu.


"kata ayah kamu ,katanya kamu ngga pernah menerima uang darinya, kenapa sayang?" tanya sang ibu seraya menghapus air mata dipipi anaknya, yang ntah kenapa sangat sulit sang empu hentikan.


"sudah cukup ayah membayar biaya kosan mah, masalah hidup ku aku bisa mengusahankannya sendiri dengan hasil kerjaku" ujar Mayla, bukan dia tak mau menerima uang dari sang ayah, karena mengingat sang ayah yang sudah membayar biaya kosan dalam setiap bulannnya, selain itu kedua orang tuanya pun membayar biaya semesternya. bagi Mayla itu sudah cukup. ketika kasih sayang mereka masih mereka berikan walaupun keduanya sudah berpisah. Mayla masih beruntung memiliki kedua orang tua yang sayang padanya.


Sang ibu terdiam sesaat, sebelum dia kembali mengelus sayang kepala anaknya seraya menarik sang anak dalam pelukannya. Membiarkan sang anak kembali menangis.


Karena lelah menangis Mayla pun tertidur di pelukan sang ibu.


Tepat pukul empat sore Mayla terbangun, dia merasa bebannya sedikit terangkat setelah lama menangis dalam pelukan sang ibu. Dia pun mulai bersiap untuk pulang, meskipun nyatanya Mayla enggan meninggalkan rumah. Kamar itu masih sama tak ada yang berubah satupun , yang berubah hanyalah pemilik kamar itu yang sudah dewasa dan kenangan di dalam kamar itu yang sudah lama tiada. menarik kenop pintu Mayla keluar dari kamarnya, mengunci kenangan pahit yang membuatnya semakin takut melangkah kedepannya.


"May kamu sudah bangun" ujar sang ibu, Mayla mengangguk merajut langkah kearah sang ibu. hingga pandangannya jatuh pada Rega yang tengah duduk berdampingan dengan ibunya.


"Rega sudah menjemputmu May, jangan telat makan jangan lupa kabarin mamah kalau sampai ya sayang" ujar sang ibu dengan penuh kasih, dia kembali menarik Mayla dalam pelukannya seakan enggan melepas anak semata wayangnya pergi kembali. Mayla mengangguk.


"iya mah"


"ini bawa buat disana, tante dianna juga menitipkan kue tadi untukmu. sudah mamah masukan semua di dalam" ujar sang ibu seraya memberikan kantong penuh makanan. Mayla mengangguk, menerima pemberian sang ibu.


"makasih mah"


"tante Rega berangkat ya" ujar Rega seraya menarik pelan kantong makanan dari tangan Mayla dia tak lupa mencium tangan mamah Mayla.


"mamah sehat ya, kalau Mayla ada waktu Mayla akan pulang" ujar Mayla kembali memeluk sang ibu.


"hati-hati di jalan may" ujar sang ibu tersenyum.


Mayla tak melepas pandang dari sang ibu meskipun mobil Rega sudah keluar dari halaman. Menghela nafas sejenak Mayla sesekali menatap kaca mobil ketika mobil Rega bergabung dengan kendaraan lainnya di jalan raya. dia kembali teringat dengan perkataan sang ibu,


"jangan membenci ayahmu, dia tidak salah. kami berpisah karena kami merasa sudah tidak ada kecocokan",


terlalu larut Mayla tenggelam dalam ingatannya sampai dia tak sadar sedari tadi Rega memanggilnya.


"Menangislah May" ujar Rega tiba-tiba, membuatnya menarik atensi dari kendaraan beralih menatap laki-laki yang lebih tua.


"sudah kenyang, aku sudah menangis tadi ka", Rega terkekeh mengundang kernyitan perempuan muda di sampingnya.


"kamu ingat, dulu kamu sering menangis padaku ketika ada mengerjaimu" ujar Rega yang sesekali menoleh kearah Mayla.


"aku ingat".


"dan kamu akan datang padaku untuk meminta pelukan" ujar Rega, fokusnya masih pada kemacetan di jalan.


'bolehkah sekarang aku meminta itu ka'


"jujur waktu kedua orang tuamu bercerai aku pun kaget May, karena tak ada keburukan dari mereka. bukan hanya aku, mamah dan ayahku pun sama kagetnya" ujar Rega dia jadi teringat tepat ketika dia mendengar kabar, bahwa Mayla ke pengadilan untuk menghadiri perceraian orang tuanya. Rega yang waktu itu disibukkan dengan skripsi, karena mengejar kelulusan pun hanya bisa mendengar kabar karena tak bisa meluangkan waktu sedikitpun.


"iya aku pun sama kagetnya ka, karena memang tak pernah ada pertengkaran di rumah" jawab Mayla karena memang selama Mayla ada di rumah baik itu pulang sekolah atau pas hari libur, kedua orang tuanya tak pernah bertengkar, ataupun saling menjauhi satu sama lain. nampaknya kedua orang tua Mayla sangat pintar menutupi sesuatu, sampai sang anak merasa kaget dengan kabar yang bahkan tak sempat dia pikirkan sedikitpun.


"mereka punya alasan, aku yakin keduanya masih sangat menyayangimu" ujar Rega tangannya mengudara hendak memegang tangan Mayla namun urung. dia kembali mengalihkannya pada setir mobil, memegangnya cukup erat.


Bohong kalau Rega tak tau Mayla menyukainya, Rega itu laki-laki dewasa dia sudah bisa membedakan dengan mudah. Apalagi Rega sempat mengetahui jika perempuan muda di sampingnya sempat menyukainya dulu. hanya saja dia belum mengerti siapa yang hatinya inginkan? karena dia selalu menyangkal kalau apa yang dia rasakan, itu hanya sebatas rasa sayang kakak terhadap adiknya. Tapi semakin dia menyangkal ntah kenapa, rasa itu semakin tumbuh memonopoli hatinya seakan menutup akses masuk siapapun, yang ingin memasukinya meskipun itu kekasihnya sendiri— Aruna.


Rasa khawatir, perhatian yang dirinya berikan Rega yakini itu hanya sebatas perhatian seorang kakak, walau ntah semenjak kapan perempuan muda yang terpaut lima tahun darinya itu, kembali memenuhi pikirannya yang lambat laun mungkin bisa menggeser posisi Aruna, namun kembali hati itu menyangkal, keberadaan Aruna menjadi bukti kalau semua itu hanya sebatas biasa.

__ADS_1


Rupanya lelaki Pradasa itu terlalu sering menyangkal rasa wajar yang justru sebaliknya, hingga tanpa dia sadari mungkin saja kini dia tersesat di dalam penyangkalan yang dia buat.


'aku harap aku melakukan hal yang benar may'—batin Rega.


__ADS_2