Aku Tak Mengerti

Aku Tak Mengerti
Foto


__ADS_3

"kalian berdua ngga papa kan kita tinggal sebentar, ngga lama ko sampai jam empatan. soalnya kita bakal Rapat ke atas untuk bahas event Andromeda sama Arseno" ujar Dimas di tengah mengemasi beberapa berkas yang hendak dia bawa, terlihat Rega, Neira dan Agita sudah mulai membereskan laptop dan alat tulis untuk mereka bawa juga ke meja rapat.


"iya ka" ujar Mayla, sedang Raksa hanya mengangguk, bungsu Arganta itu masih fokus dengan beberapa bendel di tangannya.


"baik-baik ya kalian di dalam berdua" ujar Neira.


"iya, kami bentar ko. kalau ada apa-apa kasih tau aja di grup" tambah Agita. Mayla mengangguk sedang Raksa hanya diam, menurutnya tak penting sekali menjawab perkataan dua senior perempuannya yang sudah dia terka berujung pengejekkan.


"udah biasa kan kalian berdua, kemana-mana juga kalian berdua kan?, udah kaya orang pacaran" ujar Neira, Agita terkekeh. Sudah Raksa duga, jika ujungnya akan seperti ini.


"Dim ayo" ajak Rega seraya keluar dari kubikel, tak seperti Neira dan Agita yang mengejek Raksa dan Mayla. Dimas dan Rega memilih abai.


Selepas keempatnya pergi, baik Mayla dan Raksa mulai menyibukkan diri dengan kerjaan masing-masing. apalagi ketika platform mereka sudah gratis pekerjaan mereka bertambah tiap harinya. belum lagi yang dari website, ditambah kini mereka juga harus menyunting beberapa berkas yang langsung di kirim ke perusahaan.


"kenapa banyak sekali typonya,....ya ampun aku sudah tak sanggup" keluh Mayla seraya melempar satu bendel kertas ke meja. matanya sudah lelah, kepalanya sedikit pusing. seminggu ini kerjaan kantor sangat padat membuatnya kesulitan membagi waktu.


"istirahat aja dulu, udah berapa judul draf yang kamu kerjain?" tanya Raksa terlihat laki-laki itu masih fokus dengan monitor, tak menoleh sama sekali.


"baru tiga, kepalaku pusing sekali. kenapa ya pak Arseno punya pikiran via manual gini kan ngerjainnya males, gimana coba? masih untung yang dari website atau platform bisa pake aplikasi. kalau yang manual ginikan repot" ujar Mayla seraya menelungkupkan badan ke atas keyboard komputer. Raksa menoleh sekilas sebelum dia kembali fokus dengan bendel kertas di tangannya.


"karena setiap manusia tidak sama, orang yang ngirim via manual bisa saja tidak tau cara ngirim lewat web atau platform may" jelas Raksa dengan bijak. Mayla menoleh sekilas, tanpa mengubah posisi


"sa aku mau kopi, kamu mau?" tanya Mayla, tanpa menoleh Raksa menggeleng, Mayla kemudian beranjak berjalan kearah pantri.


Tepat ketika dia hendak mencari cangkir tiba-tiba saja dia merasa kepalanya pusing, pandangannya buyar. Mayla hampir jatuh, namun keberadaan Raksa yang tiba-tiba ada di belakang Mayla secara tak langsung menahan tubuhnya tak terjatuh.


"hAH—Raksa..kenapa kamu bisa disini" ujar Mayla kaget, dia spontan berbalik mendorong tubuh Raksa agar tak begitu menghimpitnya. setau dia Raksa tadi tengah sibuk dengan bendel kertas di mejanya. sedang si bungsu Arganta tak menoleh sama sekali laki-laki itu terlihat tengah sibuk mencari sesuatu di kabinet atas


"aku haus" ujarnya seraya menjauh, terlihat bungsu Arganta itu berjalan kearah meja seraya mengambil gelas kosong. sedang Mayla masih bergeming diposisi tak melakukan apapun


"kamu jadi buat kopi may?" tanya Raksa menoleh sekilas sebelum menuangkan air kedalam gelas, pertanyaan Raksa sekaligus menarik kesadaran mayla dari keterdiamannya tadi


"i—iya..jadi"


"jangan terlalu sering minum kopi may, aku duluan" ujar Raksa seraya berlalu.


"o—oh ..i—iya Sa" jawab Mayla gugup seraya meraih cangkir untuk membuat kopi. ntah kenapa tubuhnya terasa sangat lelah, kepalanya sedikit pusing. memang akhir-akhir ini dia merasakan gejala flu ringan, seperti bersin-bersin dan batuk tapi itu jarang. dia selalu berencana setiap pulang kerja mampir ke apotek dekat kosannya tapi dia selalu saja lupa. selesai membuat kopi dia keluar, terlihat Raksa tengah kembali sibuk dengan beberapa draf baru miliknya.


"ini apa?" tanya Mayla tepat ketika dia menaruh cangkir kopi di meja. Mayla melihat botol putih tergeletak ntah milik siapa. tanpa melepaskan atensi dari monitor Raksa menjawab


"obat"


"buat ku?"


"memang itu meja siapa?"


"dari mana kamu tau aku sakit?" jawab Mayla seraya mengambil satu pil dari dalam botol, karena setau Mayla Raksa type laki-laki yang cuek terhadap sekitar. bungsu Arganta itu menoleh sekilas sebelum kembali menandai bendel kertas dengan stabilo.


'padahal aku tidak menyuruh minum obatnya sekarang' —pikir Raksa,


"tadi tak sengaja aku merasakan suhu tubuhmu panas" jawabnya seraya menyodorkan air minum yang tadi sempat dia bawa. ketika tadi mereka berdekatan tak sengaja dia merasakan jika suhu tubuh Mayla lumayan panas. dan kebetulan dia masih menyimpan obat paracetamol di tas.


"eh inikan air minum kamu Sa?"


"kamu akan meminumnya dengan kopi? lagian aku belum meminumnya sama sekali, minum aja" ujar si lelaki Arganta, karena dia memang belum sempat meminum airnya sama sekali. padahal Mayla bermaksud mengambil minum ke pantri.


"ah o—oke, makasih" ujar Mayla sebelum meminum obat itu, sebenarnya dia sedikit ragu minum obat ketika di kantor. namun karena dia sedang tak enak badan dan takut sakitnya bertambah parah berakhir menyusahkan yang lain, jadinya dia meminumnya. tapi Mayla melupakan satu fakta jika setiap efek samping obat pasti mengantuk.


"kamu ngga curiga aku bisa saja memberimu obat perangsang" ujar si lelaki Arganta tanpa melepas atensi dari bandel kertas yang tengah dia tandai, karena kaget Mayla langsung terbatuk-batuk dia tersedak air yang baru saja di minumnya.


"M—maksudnya?"


"aku bercanda, itu paracetamol...lain kali jangan langsung diminum. semua orang tidak sama may" ujar Raksa seraya menoleh dia menyimpan bendel kertas yang sudah dia tandai di meja, Ntahlah Mayla tak pernah berpikiran sampai kearah sana karena dia percaya dengan Raksa. Menghela nafas sejenak guna menetralkan rasa kagetnya Mayla berujar


"makasih obatnya sa",


"hm, Sama-sama"


"aku selalu berencana setiap pulang kerja akan mampir ke apotek, tapi aku lupa....lagian uangku sekarang sisa seratus ribu dan bulan ini masih ada semingguan lagi" ujar Mayla terdengar frustasi seraya membuka dompet dan melemparkan asal ke meja. Raksa yang tengah kembali disibukan dengan draf barunya menoleh, pandangan laki-laki itu tak sengaja jatuh pada sebuah foto yang ada di dompet Mayla.


"itu foto siapa?" tanya Raksa, dagunya terarah pada foto yang dia maksud. Mayla mengernyit seraya mengambil dompetnya.

__ADS_1


"yang ini?" tanya Mayla meyakinkan seraya mengeluarkan foto yang di maksud Raksa.


lelaki Arganta itu mengangguk seraya menarik kursi mendekat guna memperjelas penglihatan pada foto yang Mayla pegang sekarang.


"ini aku sama temen ku....bisa di bilang dia ini teman pertama ku sa" jawab Mayla seraya menunjuk seorang anak kecil berkepang dua di dalam foto itu.


"oh ya?" walau sekilas raut kaget si lelaki Arganta cukup terlihat jelas, Mayla mengangguk


"tapi sayang, sepertinya dia bisu atau tuli aku ngga tau" susul Mayla kemudian,


"kenapa begitu?" tanya Raksa, dengan tiba-tiba dia menarik foto itu dari tangan Mayla. lamat dia memperhatikan, di dalam foto itu terlihat dua anak kecil yang sedang berangkulan. yang satu badannya gemuk dan satunya lagi berbadan kecil dengan rambut berkepang dua. karena terlalu dekat Mayla menggeser kursinya sedikit menjauh.


"kenapa" ulangnya seraya menoleh seakan menunggu jawaban


"karena selama kita berteman, dia tak pernah berbicara apapun. dia lebih banyak diam" jelas Mayla tanpa menoleh sedikitpun, seulas senyum terbit dari bibir perempuan itu, dia kembali teringat saat pertama kali dia mengenal teman kecilnya. Raksa menatap lekat Mayla


"kenapa kamu langsung ngira dia bisu? hanya karena dia tidak pernah bicara" ujar Raksa, sesekali dia mengalihkan pandangannya pada foto yang sedang dia pegang.


"karena semenjak aku bertemu dengannya dia tak pernah berbicara, padahal aku sudah mengajaknya bicara tapi dia tetap diam" ujar Mayla, dia kembali teringat saat pertama kali dia mengajaknya berkenalan, teman kecilnya itu malah berlari ntah kemana. awalnya Mayla mengira mungkin saja dia tak menyukainya namun ketika Mayla sendirian, temen kecilnya itu selalu datang menemani, ntah itu memberinya makanan atau sekedar menemaninya duduk. hanya saja teman kecilnya itu tak pernah berbicara. semenjak itu Mayla mengira jika teman kecilnya itu mungkin saja bisu atau tuli.


"mungkin dia tak menyukaimu" ujar Raksa.


"tidak mungkin, karena dia selalu menemaniku selama aku di rumah sakit. dia pernah memberiku sesuatu, lihat aku masih menyimpannya sampai sekarang aku bahkan melaminatingnya agar tidak rusak" ujar Mayla menambahkan, seraya menunjukkan sebuah kertas bergambar smile berwarna merah muda yang dilaminating kearah Raksa. bungsu Arganta itu segera mengambilnya,


"ini bekas lolipop may, ngapain kamu laminating segala" ujar Raksa dengan spontan, Mayla menggeser kursinya mendekat


"masa?" ujar Mayla tak percaya, Raksa menoleh seraya menunjuk logo lolipop yang dia maksud.


"lihat, ini merek lolipop. lolipop seperti ini banyak diwarung-warung di dalamnya memang ada tulisannya sama seperti ini..percis" ujarnya seraya membalikkan kertas, di belakang kertas itu bertuliskan 'senyumlah'.


Mayla mengangguk dia sepertinya baru menyadari jika itu bungkus lolipop. tapi rupanya perempuan itu tak menyadari kenapa Raksa langsung dengan mudah menerka jika itu bungkus lolipop, dan ada tulisan di belakangnya. atau mungkin bungsu Arganta itu sempat membelinya?


"meskipun ini hanya bungkus lolipop tapi ini sangat berarti buatku makanya aku menyimpannya"


"terserah kamu saja, tunggu...tadi kamu bertemu dengannya dirumah sakit? " tanya Raksa seraya menyimpan kertas itu dimeja. Kembali tangannya meraih foto yang tadi.


"iya...sekarang dia dimana ya? aku yakin dia pasti tumbuh menjadi perempuan yang cantik" ujar Mayla kemudian, tepat ketika Mayla mengatakan kata cantik spontan Raksa menoleh.


"kamu yakin dia tumbuh menjadi perempuan yang cantik? bagaimana jika teman kecilmu itu, tumbuh menjadi laki-laki tinggi dan tampan?" ujar Raksa tiba-tiba, Mayla spontan menoleh


"memang kalian pernah mandi bersama sampai kamu keukeuh nyangka dia perempuan hanya karena cantik?" sanggah Raksa, Mayla terdiam sejenak dan menggeleng setelahnya.


"tapi dia perempuan, lihat dia di kepang dua. dia imut dan lucu, ya walaupun selama kita...huaahh...ketemu aku ngga pernah liat dia pake huaaah rok. kenapa aku mengantuk" ujar Mayla sesekali dia menguap, ntah kenapa dia merasa sedikit mengantuk. Raksa terdiam tak menyanggah kembali, Mayla benar siapa saja pasti sudah mengira jika anak kecil berkepang dua dalam foto itu perempuan.


'sepertinya efek samping obatnya mulai bekerja' —pikir Raksa.


"itu hanya perkiraan kamu saja may, ngomong-ngomong kenapa muka kamu dulu sangat jelek dan gendut sekali?" ujar Raksa mengejek.


"berarti sekarang aku cantik ya?" ujar Mayla ntah sadar atau tidak karena kantuk kini mulai menguasainya.


"sepertinya aku salah bicara, lupakan saja" ujar Raksa seraya menyimpan foto itu dimeja. Mayla tertawa di tengah rasa kantuknya, terbukti perempuan itu kembali menguap.


"oh iya..huaaah..kalau suatu saat aku bisa kete..huaah..mu lagi dengannya aku kenalkan pada..huaaah..mu nanti. kamu pasti jatuh cinta padanya" ujar Mayla kemudian, sesekali matanya akan tertutup dan terbuka. Mayla masih mencoba mempertahankan kesadarannya


"hm—tapi bagaimana bisa kamu mengetahui rupa dewasanya hanya bermodalkan foto jadul dan ngga jelas gini" ujarnya seraya nenunjuk foto. foto itu memang sangat usang, bahkan gambar fotonya tak begitu jelas. warna cetakan kertasnyapun hampir memudar.


"kalau ada takdir pasti kita ketemu, aku sangat berharap ketemu dengannya...huaaah" ujar Mayla seraya menelungkupkan badan pada keyboard, nampaknya kantuk sudah merebut seratus persen kesadarannya. Bungsu Arganta itu tak melepas atensi dari perempuan di sampingnya.


"mengapa aku sangat...huaaah...mengantuk" ujar Mayla kembali sebelum menjemput alam mimpi—tidur. lamat Raksa memperhatikan Mayla. tangannya mengudara hendak mengelus kepala perempuan disampingnya.


"bagaimana jika....justru setiap hari kamu ketemu dengannya may?" gumam Raksa, Mayla kembali mendongak ditengah kesadaran dan rasa kantuk.


"Hah?", Raksa menggeleng tangan yang mengudara tadi terulur kesandaran kursi, mencegah pergerakan kursi Mayla agar perempuan itu tak terjatuh.


"tidurlah" ujar Raksa pandangannya dia alihkan pada secangkir kopi yang terlihat sudah tak mengepul di sudut meja.


Tolong ingatkan karena keduanya melupakan pekerjaan yang harusnya mereka kerjaan sekarang.


...                                          •••...


"yan ada undangan dari radio kampus" ujar Elang seraya memasuki studio, menggenggam amplop putih ditangannya. Arsaka menoleh melepas atensi dari cangkir kopi di sudut jendela.

__ADS_1


"dari siapa?" tanya Arsaka,


"Kirana, tadi dia ngasih sekalian ke ruang siaran" jawab Elang seraya duduk dia menyimpan amplop putih di meja.


"yang lain mana?" tanya Elang kemudian, seraya menarik satu batang rokok dan melemparkan bungkusnya sembarang. Arsaka menggeleng merajut langkah menghampiri Elang.


"pada sibuk kali, Ganindra lagi ada kelas. Julius ada kerja kelompok tadi katanya. kalau Elios kan budak organisasi" jawab Arsaka seraya melempar korek dari sakunya ke arah Elang. dia meraih amplop yang di simpan temannya tadi.


"ini buat kapan?" tanya Arsaka seraya membuka amplop putih, di dalamnya berisi kertas rundown acara Baswara Radio.


"di acara apa katanya? jam berapa?" tanya Arsaka kembali seraya duduk di samping Elang.


"naon?" dengan tiba-tiba Ganindra berseru dari arah pintu masuk. menarik atensi Elang tapi tidak untuk Arsaka.


"loh, aku kira kau bersama Raksa tadi. itu yang di luar aerox merah punya siapa anak UKM baswara?" susul nya lagi. karena tadi tepat ketika dia memarkirkan motor di depan, dia melihat motor Aerox merah terparkir. makanya dia langsung menerka jika di dalam studio mungkin tengah ada Raksa sahabatnya Arsaka.


"memang motor raksa dra" jawab Arsaka. kembali dia menolehkan kepalanya kearah Elang.


"jam berapa? di segmen acara apaan?"


"hey kisanak disitu udah ada tanggal dan waktunya, di acara serba serbi siang" jawab Elang seraya menunjuk kertas rundown acara radio yang masih di pegang Arsaka.


"tadi juga, aku ngiranya itu motor Raksa dra. tapi pas masuk studio mau nanya lupa gara-gara si Kirana yang nyuruh ngasih amplop" ujar Elang menoleh kearah Ganindra, memang tadi juga Elang sempat menerka hal yang sama dengan Ganindra namun kedatangan Kirana yang tiba-tiba, membuyarkan pertanyaan yang hendak dia layangkan kearah temannya ketika masuk ke studio.


"oh iya, jadi ingat. tadi juga si Dion ngasih tau katanya lian di suruh ngisi acara di radio kampus" ujar Ganindra, drummer kanigara itu terlihat langsung membuka kulkas mencari sesuatu. rupanya perkataan Elang barusan mengingatkannya pada pertemuan tak sengaja dirinya dengan Dion tadi, arah ke studio musik. melupakan pertanyaan selanjutnya yang hendak dia tanyakan atas keberadaan motor milik Raksa.


"ini yang nyimpen es batu di kulkas siapa?"susul ganindra tanpa sengaja dia melihat kotak es batu yang menumpuk lumayan banyak di prizer ketika dia hendak menarik minuman dari dalamnya. Arsaka menoleh


"Elios, katanya buat lembur di ruangan BEM" jawab Arsaka, karena dia yang menjadi saksi manajer kanigara itu membuat es batu tadi pagi, katanya untuk melembur nanti malam.


"denger-denger si Elios mau nyalon jadi ketua bem" ujar Elang seraya mematikan puntung rokok, ganindra menoleh


"iya lang" seraya berjalan menghampiri Elang dan Arsaka, terlihat drumer kanigara itu membawa beberapa ciki-cikian yang berhasil dia temukan di kulkas.


"makin sibuk aja si Elios" ujar Elang tangannya terulur mengambil satu ciki di meja.


"asal jangan nelantarin kita aja" susul Arsaka segera. Ganindra menoleh


"ngga akan lah, kita kan udah janji bakal sehidup sekoit bersama. baik suka maupun duka" ujarnya seraya duduk di tangan-tangan kursi, samping Arsaka.


"buset, dalem banget" ujar Elang menimpali ditengah mengunyah ciki yang dia buka tadi.


"tebel tuh yan dompetnya?"


ketiganya menoleh bersamaan, dari arah pintu Julius masuk sembari membawa laptop yang terlihat masih dia buka. nampaknya gitaris kanigara itu hendak mengerjakan tugas kampus di studio musik.


"ini punya Raksa" jawab Arsaka seraya menyimpan dompet Raksa di saku celananya.


"oh iya, itu motor di depan motor Raksa kan? anaknya kemana?" tanya Julius penasaran seraya celingak celinguk mencari keberadaan Raksa.


"itu yang mau kita tanyakan tadi" ujar Elang, Ganindra mengangguk setuju. namun naas pertanyaan itu selalu saja terlupakan karena banyak hal.


"tunggu kenapa dompetnya ada disini, kalau orangnya ngga ada?" tanya Julius keheranan seraya menyimpan laptop di meja, sedang dirinya duduk lesehan di bawah.


"panjang ceritanya"


"makalah apaan yus ini?" tanya Elang mengalihkan topik, seraya menunjuk laptop milik Julius di meja. Elang cukup mengerti sikap Arsaka, makanya dia tidak bertanya jauh penyebab dompet Raksa yang ada di tangan temannya. karena dia juga cukup menyimpan rasa penasaran.


"biasa lang, tugas" ujar Julius. terlihat gitaris kanigara itu hendak mengetik kembali, namun urung ketika dia teringat sesuatu.


"oh iya, itu...tadi bang Firgo ngasih tau, katanya Lian suruh ngisi acara di radio siang. sesuai permintaan semua mahasiswa" ujar Julius seraya mendongak menatap ketiganya bergantian, karena kebetulan ketua UKM Baswara satu fakultas dengannya—Firgo. kembali Arsaka mendengar hal serupa dari orang yang berbeda ketiga kalinya. Arsaka menoleh, dagunya terarah pada selembar kertas di meja


"udah, tuh rundown acaranya" .Ganindra langsung mengambilnya.


"wah ada bang jendral juga nanti yan" ujarnya kemudian, Arsaka mengernyit dia tidak begitu memperhatikan isi rundown acara radio, untuk mencari namanya saja dia malas.


"bakal seru nih kayanya yan" ujar Elang, sedang Arsaka abai, seseorang yang menemuinya kemarin berhasil membuatnya cukup kepikiran sampai sekarang.


...                                      •••...


walau kondisi tubuhnya tak begitu baik, malamnya Mayla masih memaksakan diri berkutat dengan kerjaan kantor dan juga tugas kampusnya. beruntung tadi Raksa memberinya obat setidaknya itu dapat mengurangi gejala flu yang dia rasakan.

__ADS_1


jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tapi Mayla tak berniat menghentikan kerjaan nya. bahkan kini dia sudah beralih dengan beberapa tugas kampusnya. meskipun deadlinenya masih jauh tetap dia kerjakan, setidaknya dia bisa istirahat lebih tenang setelah semua tugasnya selesai. walau baginya kini beristirahat adalah ketidak mungkinan.


"oh Tuhan, ini sangat melelahkan" ujarnya seraya melempar kecamata sembarang ke meja.


__ADS_2