Aku Tak Mengerti

Aku Tak Mengerti
Ragu


__ADS_3

"eh denger-denger ka Jendral udah kuliah lagi"


"oh yang mantan ketua BEM Univ itu ya?"


"iya yang cuti kuliah"


"padahal udah mau semester akhir"


"sayang sekali ya"


dan banyak lagi, percakapan yang tak sengaja Mayla dengar sepanjang langkahnya menuju fakultas.


Rupanya topik 'Jendral' tidak hanya di bicarakan oleh mahasiswa di luar fakultasnya. Karena tepat ketika dia masuk fakultas topik Jendral menjadi pembahasan panas yang bicarakan di fakultasnya juga. termasuk kelasnya sekarang.


"iya aku denger Bang Jendral udah masuk lagi" saut perempuan yang duduk di depan, nampaknya perempuan itu terlihat menyauti pembicaraan dari perkumpulan mahasiswa yang duduk melingkar di belakang.


"banyak banget yang bicarain tau, hampir semua mahasiswa UNSENO. semunya bicarain bang jendral" saut laki-laki yang duduk disamping Mario.


"pastilah! bang Jendral itu orang penting kampus, makanya topiknya sampe ngalahin Demo UKT sama Kanigara" tambah Mario seraya menoleh kearah perkumpulan,


Minggu lalu memang BEM Univ mereka memang melakukan Demo penurunan UKT karena semakin sini biaya kuliah semakin mahal.


"sempet denger, bang Jendral juga ikutan Demonya" laki-laki yang baru datang menyahuti


"kan dia mantan ketua BEM ujang" respon Harvin terlihat laki-laki itu memberhentikan main gamenya. sedang Jerry hanya diam menyimak begitu juga Mayla yang memilih abai dengan pembahasan yang tiba-tiba mencuat di kampusnya.


"eh iya, itu banner masih ada di Adipati?" Jerry merespon.


"masih, dari belakang parkiran mobil juga kelihatan itu bener berjejer rapih banget, BEM Univ bener-bener menghias gedung Rektor dengan sangat suka cita" Jawab Mario, ketika dia teringat pagi tadi dia memarkirkan mobilnya tanpa sengaja dia melihat banner yang berjejer di depan gedung Rektor dengan sangat rapih.


"menghias dengan banner keritikan gitu?" saut harvin seraya mengernyit heran menoleh kearah Mario sangsi. Mario abai.


"berani banget ya anak BEM kita Demo kampus sendiri" Resha menyauti, seraya mempouse video kpopnya.


"ya mau gimana lagi, biaya kuliah semakin mahal kita bukan kalangan sultan yang lahir dari sendok emas" tukas Mario, kembali berhiperbola.


"dari sendok apa dong kita?" kembali Harvin menjadi si penyahut perkataan Mario. Jerry mengerjap dengan jalan pikir Harvin Karena laki-laki itu selalu saja mengartikan bahasa Mario dengan lugas.


"alumunium" saut Raksa tiba-tiba seraya berjalan ke arah kursi.


"sa baru datang?" tanya Arin menoleh kearah si lelaki Arganta, Raksa mengangguk seraya mengambil duduk di samping Jerry.


"bu Andara tumben lama" ujar Mayla yang mengundang banyak protesan dari semua mahasiswa di kelasnya, karena menanyakan bu Andara.


"biarin aja May, harusnya kamu bersyukur" ujar Mario kemudian.


"eh tau gosipnya bu Andara ngga?" saut Resha. menarik atensi Harvin, Mario dan Jerry.


"apa" sahut ketiganya.


"katanya bu andarshhhhh— dengan cekatan Harvin yang duduk di belakang Resha membekap mulutnya, membuat Resha pengap karena mencium bau rokok dari tangan laki-laki itu.


" bu Andara dateng" ujarnya kemudian.


Masuknya bu andara, secara tiba-tiba memberhentikan pembahasan panas yang sedang mereka bahas sedari tadi. mengundang suasana senyap, sepi, hening dan suara AC yang tiba-tiba menjadi terdengar nyaring di ruangan kelas.


...•••...


Berbagai Banner yang berisi kritikan dan komentar untuk pihak Universitas berjejer rapih, menjadi penyambut sepanjang jalan Mayla merajut langkah menuju Gedung Organisasi.


seperti kemarin kata Arin yang menyuruh Mayla mendaftar untuk lomba pencarian Zeus dan Heranya UNSENO, kini perempuan itu sudah berdiri di depan gedung Organisasi. tempatnya BEM universitas berada.


UNSENO sendiri mempunyai tiga kawasan, kawasan pertama disebut dengan Patih. berisi perpustakaan, tempat parkir, lapangan—indoor dan outdoor— dan terakhir gedung serbaguna, gedung yang biasanya dipakai untuk acara tertentu saja. salah satunya HUT UNSENO.


Lantai teratas tempat parkir diisi ruang siaran— Radio Baswara FM—, khusus mahasiswa UKM broadcashting. Dan SMU (studio Musik UNSENO) tempat Band Kanigara latihan dan berkumpul.


kawasan kedua di sebut dengan Panglima isinya Gedung-gedung Fakultas mulai dari sarjana, Magister dan doktor. UNSENO sendiri memiliki empat belas program study magister dan doktor.


kawasan ketiga disebut Adipati isinya Gedung Rektor, dekan, Dosen beserta antek-anteknya, dan gedung Organisasi yang di tempati oleh BEM dan semua UKM UNSENO.


Semua bagian kawasan dibedakan oleh setiap tugu yang diberi nama dari setiap kawasan tersebut. sedang kantin Universitas berdiri di tengah dan di kelilingi oleh Adipati, Patih maupun Panglima.


Helaan nafas Mayla keluarkan, dia ragu dengan keputusannya mengikuti lomba pencarian Zeus dan Hera, yang nantinya akan memeriahkan ulang tahun UNSENO. kertas formulir itu dia pegang erat, kakinya ragu hanya untuk melangkah kembali—mulai memasuki gedung.


baru saja selangkah dia masuk gedung organisasi, terlihat banyaknya kegiatan dari setiap UKM di dalamnya.


"May ko masih disini?" Resha berteriak dari kejauhan seraya berlari kearahnya bersama Arin di belakangnya.


"Res kayanya aku mengundurkan diri saja, lagian mana pantes aku jadi Heranya, udahlah mending kita balik aja" ujar Mayla ragu, dia saja tak mau membayangkannya.


"kamu adalah harapan dari anak kelas kita agar bisa mengalahkan Kalista may, ayolah" bujuk Resha dengan nada memohon kedua tangan perempuan itu dia katupkan di depan dada, menatap Mayla penuh harap.


"siapa kalista? Lagian Aku ngga kenal" ujar Mayla kemudian. Mencoba mencari alasan.


"ayolah may, lumayan S2 di UNSENO siapapun mau may, s2 gratis" ujar Arin memohon seraya berkata dengan percaya diri jika dirinya akan memenangkan lomba.


Apakah mereka tidak bisa melihat jika Mayla tidak tertarik mengikuti lomba semacam ini.


"bukan masalah—


"udah ayo coba dulu may" susul Resha segera. seraya menarik tangan Mayla masuk begitu juga Arin yang melakukan hal yang sama.


"Tapi—


"kalian sedang apa?"—sebuah suara menyahuti mengintrupsi ketiganya, membuat ketiganya mematung dengan posisi Arin dan Resha hendak menarik Mayla masuk.


Disana tak jauh, tepat di bawah tangga seorang laki-laki berdiri menatap ketiganya keheranan.

__ADS_1


mengerjap polos adalah respon yang ketiganya berikan.


"eh ka jendral" Arin adalah yang pertama menyadari siapa laki-laki yang baru saja mengintrupsi ketiganya tadi—Jendral, laki-laki yang sedang menjadi buah bibir semua mahasiswa UNSENO.


"sedang apa kalian?" tanya Jendral seraya berjalan mendekat kearah ketiganya berdiri—disamping pintu masuk gedung Organisasi.


"ini ka kita mau daftarin temen kita mau ikutan lomba pencarian Zeus dan Hera UNSENO, mau tanya ka BEM fakultas FEB dimana ya tempatnya?" tanya Resha kemudian. sedang Mayla masih diam, memperhatikan laki-laki tinggi yang kini berjalan kedepannya.


"oh, lantai tiga paling ujung samping-sampingan sama BEM Psikologi" jawab Jendral seraya menunjuk kearah tangga dengan gestur memetakkan letak yang dimaksud, laki-laki itu tersenyum sekilas ketika pandangannya beradu dengan Mayla.


"siapa yang ingin mendaftar?" tanya Jendral kemudian.


"Mayla ka" jawab Arin segera. membuat Mayla menoleh segera dengan muka tak terbaca.


"oh yaudah keatas aja, semoga kepilih ya" ujar Jendral seraya tersenyum kearah ketiganya bergantian.


"aku denger ka Jendral jadi juri ya, di perlombaan nantinya?" tanya Resha lagi.


"liat nanti aja" jawab Jendral terseyum ramah, seraya berlalu keluar dari gedung organisasi. sedang ketiganya kini mulai berjalan menaiki tangga menuju lantai tiga seperti yang di katakan Jendral tadi.


Disini lah Mayla berada sekarang, kantin UNSENO. setelah tadi dia mendaftar untuk lomba pencarian Zeus dan Hera UNSENO, ketiganya memutuskan untuk pergi ke kantin.


kantin UNSENO itu memiliki empat lantai dengan berbagai stand makanan dan minuman disetiap lantai yang berbeda-beda. biasanya lantai pertama dan kedua diisi untuk mahasiswa UNSENO tingkat S1 sedang ketiga dan keempat biasanya hanya diisi mahasiswa magister sampai doktor. UNSENO membebaskan mahasiswanya untuk makan ataupun isitirahat dimanapun, satu yang menjadi kunci. jagalah kebersihan. tidak heran disetiap sudut kampus dan setiap sudut fakultas pasti terdapat tempat sampah dengan tiga jenis, atau tulisan serta himbauan bagi setiap mahasiswa agar selalu menjaga kebersihan.


Universitas senopati sendiri berdiri di kawasan yang sangat strategis jadi begitu para mahasiswa keluar kawasan Universitas, di depan ada minimarket dan beberapa kafe salah satunya, ngopi yuk! kafe yang selalu dijadikan mahasiswa teknik berkumpul. ataupun anak Kanigara.


"eh denger-denger bang Jendral jadi juri gantiin bang Arjuna" ujar Mario membuka percakapan. menarik atensi kelimanya dari makanan yang tengah kelimanya nikmati dalam diam.


"pasti sih itu, soalnya bang jendralkan mantan Zeusnya UNSENO juga sebelum bang Arjuna" saut Harvin segera, seraya maraih es jeruk dan menyedotnya.


"bang Arjuna kenapa emang?" tanya Jerry, laki-laki yang tengah menikmati Bebek bakar.


"katanya sih ngga bisa hadir" jawab Arin menyahuti seraya memasukkan sesendok nasi kemulutnya.


"oh iya ka Arjuna yang mahasiswa Fisip itu ya? Yang mantan ketua UKM Baswara" ujar Resha di tengah mengunyah baksonya. Arin mengangguk seraya meraih gelas minumnya.


"iya res. sekarang bang Arjuna udah kerja, jadinya dia sibuk" ujar Harvin.


"bakal seru sih nanti ulang tahun UNSENO selain ada lomba pencarian Zeus dan Hera, tahun ini ada kanigara juga yang bakal memeriahkan acara" ujar Jerry. sedang Mayla hanya diam menyimak, dia sendiri tak menaruh rasa penasaran dengan topik yang kini dibicarakan temannya.


"ngga kebayang, Lian jadi Zeus pasti tampan banget ya rin" ujar Resha penuh antusias begitu juga dengan Arin.


"pasti ganteng banget, udah gitu main band lagi, vokalis pula" tambah Arin dengan nada penuh puja.


'Lian ya? '


Sedang Mayla hanya menjadi pendengar setiap. dia sendiri masih memikirkan nama seseorang, tadi ketika dia mendaftar tak sengaja dia melihat nama-nama si pendaftar dari fakultasnya, dan tidak ada nama Lian yang katanya bakal terpilih secara otomatis sebagai Zeusnya UNSENO. Melainkan ada satu nama yang dia kenali Arsaka yang menempati urutan pertama dan di susul kalista di urutan kedua.


"May raksa mana?" tanya Jerry menoleh kearah Mayla. Mayla menggeleng


"aku ngga tau jer"


"Enak ya jadi si Raksa, dia mau pergi kapan aja bebas ngga ribet sama matakuliah, nilainya pasti bagus— Mario menjeda perkataan sejenak seraya menyedot es teh.


"—ngga kaya kita memperhatikan dosen sampai keringat bercucuran pun, tetep aja dengan suka rela menyumbangkan nilai rendah di setiap matkul" ujar Mario kemudian.


"iya terkadang aku penasaran, otaknya terbuat dari apa itu si Raksa" saut Harvin seraya menarik sebatang rokok dari bungkusnya.


"mungkin pas pembagian otak dia paling pertama, otaknya belum terkontaminasi sama hal-hal ghaib kaya kita vin" Jawab Mario.


"hal-hal ghaib?" saut Harvin memberhentikan kegiatannya—memantik ujung rokok dengan gasolin.


"udah ngga usah di respon vin" ujar Jerry segera.


berbagai topik mereka bicara kan mulai dari topik study sampai topik Jendral yang rupanya masih bertahan di urutan pertama topik hangat UNSENO, yang berhasil menggeser kanigara dan Demo UKT yang dilakukan BEM univ mereka. menjadi topik pelepas penat kala mereka menikmati makanan di kantin universitas.


...•••...


Mayla berlari tepat ketika dia turun dari busway, tangannya sesekali mengecek jam. sudah hampir sejam Mayla telat dari perjanjian ketemuanya dengan Rega. seperti janjinya kemarin dia akan bertemu dengan Rega setelah kampus selesai, namun dia tidak pernah memperkirakan jika dosen terakhir akan lama datangnya dan mengorupsi jam mata kuliah. bisa saja mungkin sekarang Rega sudah pulang kan, karena lama menunggunya datang?


Diluar dugaan laki-laki pradasa itu masih ada disana, Mayla langsung berlari kearah dimana Rega duduk.


"maaf ka aku telat" ujar Mayla segera, tepat ketika perempuan itu duduk di sebrang Rega.


"ngga papa aku juga baru datang" ujar yang lebih tua seraya menarik ujung bibirnya,


"aku kira, ngga akan jadi may" ujarnya kemudian.


"maaf ka, dosen terakhirku lama datangnya, soalnya katanya ngga akan datang eh malah datang, waktu istirahat ka Rega udah lewat gimana dong" ujar Mayla dia merasa tak enak hati, apalagi melihat dua gelas minuman yang hanya tersisa es batu di depan meja Rega. terlihat jika laki-laki tua di depannya sedang berbohong ketika berkata dia baru datang.


"kamu pasti lapar, aku pesenin dulu ya" ujar Rega seraya memanggil pelayan kearah nya.


"iya pak, mau nambah lagi minumannya? atau bagaimana?" tanya pelayan tersebut. membuat Rega memejamkan matanya sekilas dengan muka memberengut kesal, sebelum dia menoleh kearah Mayla mengabaikan pertanyaan pelayan tadi.


"mau makan apa may?"


"oh—ini boleh ka sama ini" tunjuk Mayla. Rega mengangguk.


"aku pesen ini sama ini, bayarnya sekarang atau nanti?" tanya Rega,


"boleh nanti juga tidak apa-apa pak" jawab pelayan itu sebelum beranjak pergi hendak menyiapkan pesanan.


"kamu tau dari mana ada rumah makan disini may?" tanya Rega kemudian. sedang Mayla, perempuan itu masih berpikir bagaimana berbicara kepada Rega jika ada orang yang ingin bertemu dengan laki-laki itu.


"May" yang lebih tua bersuara, dia merasa heran atas keterdiaman perempuan muda di depannya.


"iya—oh itu kebetulan aku sempat kesini sama Raksa ka dulu" ujar Mayla kala lepas dari lamunan. Rega mengangguk hendak bertanya lebih namun dering ponsel milik Mayla mengurungkannya. terlihat jika perempuan muda di depannya menghela nafas sejenak sebelum ijin untuk beranjak mengangkat panggilan.

__ADS_1


[Calling]


Aruna


"alamatnya aku kirim sekarang ya ka" ujar Mayla segera, karena bingung dia tidak mengucapkan apapun dan langsung pada topiknya.


"makasih ya may, aku kesana sekarang" ujar Aruna terdengar bahagia. yang pertama menutup panggilan adalah Mayla dia langsung mengirimkan lokasi tempat dimana Rega dan dirinya sekarang.


"lama ya ka" ujar Mayla menarik atensi Rega dari buku menu yang kini sedang dia perhatikan. Rega menggeleng hendak bertanya siapa yang menelpon Mayla, namun urung.


"ah tidak, oh iya ayo makan. nanti keburu dingin ikannya" ujar Rega seraya menutup buku menu dan menyimpannya di meja.


"ka sebenarnya— ada orang yang ingin bertemu denganmu dan sebentar lagi dia akan sampai" ujar Mayla, Rega mengernyit.


"siapa?"


"ka Aruna ka" ujar Mayla setelah dia berpikir keras haruskah dia katakan sekarang atau nanti. Rega terdiam, tersenyum sekilas.


"oh o—ke"


kurang lebih sepuluh menit Aruna sampai, Mayla kemudian beranjak untuk ijin pergi. meninggalkan dua kekasih yang kini tengah saling diam menatap makanan yang sudah dingin di meja.


Dan disinilah Mayla sekarang, berjalan di trotoar jalan seorang diri. Ntahlah apa yang dia lakukan itu benar atau salah, dia tidak tahu. Dia hanya bisa merutuki dirinya sendiri merasa tak enak dengan Rega karena tidak jujur sebelumnya. apalagi mengingat laki-laki pradasa itu melewatkan waktu istirahat yang harusnya kembali ke kantor dan malah menunggunya seperti tadi.


"sudah lah may" ujarnya bermonolog mendoktrin otaknya jika apa yang dilakukan sudah benar.


"lupakan" ujarnya kemudian, seraya sesekali meminum air putihnya.


langkahnya seketika terhenti tepat ketika sebuah motor aerox merah berhenti di depannya.


"Raksa" teriak Mayla, laki-laki itu —Raksa— menoleh seraya berdehem.


"ko kamu tau aku ada disini?" tanya Mayla kemudian, menarik kernyitan di dahi si bungsu Arganta. Mayla kembali teringat dulu, paska Raksa mengetahui angkot yang Mayla tunggangi ketika telat hendak pergi ke kampus.


"maksudnya?"


"kamu ingat dulu waktu aku telat sa, kamu bisa tau aku di angkot mana kan? kamu bisa melacak seseorang sa?" Mayla bertanya seraya berjalan menghampiri si lelaki Arganta yang kini masih duduk di motornya.


"aku tidak sejenius itu sampe bisa melacak seseorang, ngga ada kerjaan sekali aku melacakmu" jawab Raksa kemudian seraya menoleh sekilas, sebelum pandangannya dia alihkan pada penjual rujak tak jauh di depannya.


"terus ko kamu bisa tau waktu itu angkotnya?" tanya Mayla mengejar rasa penasarannya dulu. Raksa terdiam sejenak. Terlihat jika laki-laki arganta itu tengah mengingat sesuatu.


"waktu itu aku sedang mengisi bensin, dan ngga sengaja melihat mu dari sebrang jalan. Hanya untuk memastikan makanya aku menelponmu " jelas Raksa seraya turun dari motor, berjalan menghampiri penjual rujak.


"oh begitu, terus sekarang?" tanya Mayla seraya berlari mengejar Raksa.


"aku sedang mencari tukang rujak, dan kebetulan tukang rujaknya disini" jelas si bungsu Arganta.


"mau rujak ngga?" tanya Raksa kemudian. Mayla mengangguk.


"Dua ya pak"


keduanya kini tengah duduk di bangku panjang samping trotoar jalan.


"kamu sendiri ngapain disini?" tanya Raksa. sekaligus menghentikan kegiatan Mayla mengaduk rujaknya. menoleh sekilas sebelum dia menusukkan garpu pada buahnya dia menjawab


"ada urusan tadi"


"oh"


Tak ada percakapan setelahnya, Raksa bukan tipikal laki-laki yang penasaran dengan segala hal bukan juga type laki-laki yang akan memikirkan sesuatu apalagi bukan urusannya.


karena pedas, berhasil menelan rujak Mayla langsung minum. kegiatan itu dia lakukan secara terus-menerus. Sedang Raksa memilih abai walau sebenarnya dia hendak berujar sesuatu namun selalu urung.


"pedes" selalu kata itu yang terlontar dari mulut perempuan di sampingnya seraya meraih air minum untuk kesekian kalinya, Raksa kembali menoleh hendak mengatakan sesuatu namun ketika melihat muka perempuan itu sedikit memerah dengan mata yang berair karena kepedesan, dia kembali urung.


"kamu ngga pedes" tanya Mayla keheranan pasalnya laki-laki disampingnya terlihat baik-baik saja tidak seperti dirinya yang kelabakan karena merasa pedas.


"pedes" ujarnya seraya beranjak, terlihat jika laki-laki itu kini berjalan kearah pedagang asongan untuk membeli minuman.


"sa bukannya tadi kamu udah beli minum ya?" tanya Mayla lagi, Raksa mengangguk seraya meminum airnya.


"terus, kenapa kamu beli lagi?" tanya Mayla. Raksa menoleh seraya menutup botol airnya dia berujar.


"air yang setiap kamu minum itu punyaku may, sedang kan milikmu disana" ujar Raksa seraya menunjuk sebotol minuman di bawah kaki Mayla. Mayla terdiam, mengingat sesuatu. dia menyentuh bibirnya.


"sa"


"hm" ujarnya tepat ketika dia duduk kembali, selesai membuang bekas rujak milik keduanya.


"katanya kalau kita minum di botol yang sama kita— ciuman" ujar Mayla menoleh kearah Raksa,


"teori dari mana itu?" tanya Raksa seraya menoleh


"aku pernah mendengarnya, katanya ciuman tak langsung", Raksa beranjak seraya mengikis jarak seketika membuat Mayla memundurkan kepalanya tak berani menatap laki-laki Arganta di depannya.


"ciuman itu dimana kedua belah bibir saling menyatu" tukas Raksa seraya menyentuh bibir merah Mayla sekilas.


"aku aja belum pernah merasakan bibirmu,darimana ciumannya" ujarnya kemudian seraya menjauhkan tubuh dan beranjak dia kembali berujar


"ayo aku antar pulang"


Sedang Mayla masih terdiam dengan sikap langka Raksa yang tiba-tiba seperti tadi.


selama perjalanan tak ada percakapan dari keduanya, keduanya sibuk tenggelem dalam pikiran masing-masing. Raksa sedikit merutuki dirinya sendiri karena melakukan hal langka seperti tadi. sedang Mayla dia kembali teringat dengan Rega dan Aruna.


"apa yang mereka bicarakan tadi ya, apa mereka udah baikan?"monolognya seraya mengeratkan pegangan pada pinggang si bungsu Arganta. membuat Raksa menoleh terlihat jika siempu kini tengah menutupi sebuah masalah. memilih abai Raksa menepuk pelan tangan Mayla, menarik atensi perempuan itu dari rasa over thingking yang kambuh tiba-tiba.

__ADS_1


"lihat itu" ujar Raksa. disana terlihat langit bertudung jingga yang jadi terlihat jauh lebih indah, karena bercampur dengan sinar matahari yg mulai meredup menuju peristirahatannya.


__ADS_2