Aku Tak Mengerti

Aku Tak Mengerti
Di luar naluri


__ADS_3

"kau tau sa, waktuku tidak lama"


"dimana kau sekarang?"


"dokter Juha bilang...pip.


" Arsaka... Arsaka.... SADEWA "


.


.


.


seorang pengendara motor aerox berlari memasuki rumah sakit setelah dia memarkirkan motornya di luar. Kedatangannya menarik atensi semua orang yang berada di rumah sakit.


"mas...dek...tong ya ampun ini motornya, HEY.... Berhenti" teriak salah satu petugas keamanan. Sedang laki-laki itu —Raksa— terlihat abai, sebelah tangannya tak henti terus menerus mendial nomor seseorang seraya bergumam


"angkat sialan...Arsaka..." ujarnya khawatir, seraya menekan tombol lift dengan tak sabaran.


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan cobalah beberapa saat lagi"


"sial, ada apa dengan hpnya? Apa hpku rusak?" kembali bibir itu mengumpat tatkala mendengar suara operator yang selalu menjawab panggilan.


"brengsek!! lift naik semua lagi" ujarnya kesal seraya mendongak melihat posisi lift yang baru saja naik.


Nampaknya rasa kaget bercampur khawatir berhasil melenyapkan otak jeniusnya, terbukti kini dia hanya bisa mematung di depan lift dengan deru nafas yang tak beraturan. hingga sudut matanya menangkap sebuah nama "tangga darurat".


"terkutuklah kau Arsaka!!" ujarnya kesal seraya tak henti mendial nomor Arsaka, walaupun pihak operator yang menjawabnya. tanpa berpikir panjang lagi tungkai panjangnya mulai berlari menaiki tangga darurat.


"Sial..hah... baru lantai hah...tiga lagi..." ujarnya seraya menguatkan pegangan pada sisi tangga menahan bobot badannya agar tidak jatuh, dia mendongak melihat berapa lantai kira-kira yang harus dia lewati sampai atap rumah sakit.


"oh shiiii...." ujarnya mendesis, tatkala dia melihat tingginya tangga yang bahkan tak dapat dia terka dengan mudah berapa lantai sampai atap.


Dua lantai sudah dia lewati, sisa sepuluh lantai lagi untuk sampai pintu atap.


Raksa bersandar sejenak pada dinding di sampingnya, mengumpulkan sebagian tenaga yang masih tersisa. Dia tak punya waktu banyak lagi, walau kakinya sudah mati rasa dia kembali berlari menaiki sisa tangga tersisa sampai atap.


Ntahlah besok dia akan melihat matahari terbit atau tidak.


Raksa manusia biasa bukanlah manusia super yang mempunyai kekuatan diluar nalar, jadi dia harus menahan kesadarannya minimal sampai pintu atap. Agar dia tidak berakhir di kamar mayat karena tewas akibat tergelincir di tangga darurat.


Kakinya sudah lemas, bajunya basah bermandikan keringat, penghilahatannya pun semakim memburam tak kala sampai di depan pintu atap.


BRAK!!!


"kau...hah...hah...hah...harus...hah...hah...membayar...hah...hah...nya sialan" ujarnya seraya menendang pintu atap dengan sisa kekuatan dan sisa kesadaran yang dia miliki, dia berlari dengan sempoyongan menghampiri seorang laki-laki dengan baju pasien yang terkapar di bawah sinar matahari.


"ck..hah... nam..hah... paknya ya...hah...ng a.hah.. kan menja...hah... di pasi... en aku bukan kau.. hah... ARSAKA!!!" sipemilik nama berdecak mengejek


"ck...ada apa dengan mu? kau terlihat tak berguna sekali" hardiknya seraya mengernyit menoleh bingung kearah Raksa yang jatuh tumbang terlentang di sampingnya.


Raksa diam, tak menanggapi perkataan Arsaka. Matanya memejam, nafasnya memendek, degup jantungnya berpacu kuat. rasanya kini dirinya sedang berada di antara hidup dan mati. Karena Raksa tak kunjung menjawab Arsaka kembali menoleh seraya berujar sarkas.


"kau terlihat bodoh kalau seperti itu, jangan sakarotulmaut di hadapanku brengsek!!!"


"semua..hah.. gara-gara..hah... kau sialan...ada...apa..hah..kau..menelponku...." jawab si lelaki Arganta yang masih berbaring terlentang tak berdaya di sampingnya. Arsaka mengernyit mencerna kemana maksud perkataan Raksa.


"gara-gara aku? kau yang bodoh aku belum selesai bicara tadi" jawab Arsaka seraya beranjak bangun, mendudukan dirinya bersender pada ban motor.


"kau...hah... mematikan telponnya..hah... sialan, bagaimana aku tidak khawatir" ujar Raksa tak mau kalah. Si lelaki Arganta masih terbaring mencari kesadaran.


"itu karena hpku habis batre sa" jawab Arsaka seraya menunjuk ponsel mati dengan dagu di samping Arsaka duduk. Raksa terdiam, dia mulai membuka mata, mencoba menetralkan nafas dan penglihatan yang sedikit memburam akibat peluh tadi.

__ADS_1


"akhirnya panjang" ujar Raksa, si lelaki sadewa mengernyit, bingung tak mengerti.


"apanya yang panjang"


"nafas" jawa Raksa tatkala dia berhasil menarik kesadarannya kembali, dia mendongak menatap penuh kekesalan pada Arsaka.


"gara-gara kau juga, aku sekarang melewatkan dua mata kuliah" ujar Raksa kemudian. Arsaka menoleh menaikkan sebelah alisnya seraya berujar sinis.


"bagus setidaknya kau belajar jadi manusia tak berguna" ujarnya. Raksa berdecak


"ck, aku hanya takut kau berubah menjadi seonggok daging tak bernyawa di atap rumah sakit, dan pengorbananku menjadi sia-sia" susul Raksa, Arsaka kembali tekekeh, setidaknya ada yang masih mempedulikannya.


Dari pada dengan keluarganya Arsaka jauh lebih dekat dengan Raksa, satu-satunya orang yang Arsaka percayai.


"aku tidak suka balas budi" ujar Arsaka. Raksa yang masih berbaring mendongak.


"aku kan sudah bilang itu tidak gratis, suatu saat kau harus membayarnya"


"jangan menyusahkanku, bangunlah brengsek" ujar Arsaka menarik pandangan acak dari gedung-gedung seraya mengulurkan tangan pada Raksa. Raksa terdiam menatap lekat gelang pasien yang melingkar di depannya.


"percaya atau tidak kakiku rasanya hampir copot karena menaiki tangga darurat" ujar si lelaki Arganta memelas.


"HEEEEY... tertinggal dimana otakmu sialan, rumah sakit ini bukanlah rumah sakit kuno yang menggunakan tangga di setiap lantai kecuali keluargaku ingin membayar berlipat ganda karena memperkerjakan seorang robot" ujar Arsaka melongo dia tak habis pikir dengan jalan pikiran Raksa. disamping kanan kiri rumah sakit ada tiga lif dengan kapasitas yang besar mengingat itu rumah sakit elit swasta.


"kemana kau buang kartu yang kuberikan?", Raksa mengernyit dia teringat sesuatu.


" sialan" ujarnya kenapa dia tidak mengingatnya samasekali, jika dia mendapatkan kartu akses dimana dia dapat menaiki lift khusus dokter atau karyawan.


"dokter dan pekerja disini manusia biasa kawan. bukan manusia super yang bisa terbang dan teleportasi menembus udara. atau robot yang tidak punya rasa lelah karena naik turun tangga sampai lantai limabelas, sa setidaknya gunakan lift barang sialan!!" ujar Arsaka beruntun dengan sarkasnya penuh kekesalan.


"oh Tuhan kemana kau bawa otak temanku ini" susulnya lagi saking kesalnya dia menendang kaki Raksa, dan hampir memukul pelipisnya. Siempu hanya diam tak melawan ataupun menyuarakan pembelaan diri. Hingga sebuah suara lewat speaker rumah sakit yang terdengar jelas menghentikan gerutuan panjang lebar si lelaki sadewa.


"dimohon untuk pemilik motor aerox merah dengan plat nomor xxxx, segera memindahkan motornya karena menghalangi pintu masuk rumah sakit. Sekian terima kasih"


"Aerox merah.....sa jangan bilang itu—


"Ka untuk kali ini jadilah orang yang berguna, gendong aku kebawah motorku menghalangi pintu masuk rumah sakit cepat" ujar Raksa seraya mendongak menatap melas Arsaka yang kini terdiam mencoba menahan emosi yang terkikis, sebelum benar-benar menyuarakan amarahnya.


"RAKSA MAULANA ARGANTA di sayap kanan rumah sakit ada jalan menuju atap yang biasa aku GUNAKAN!!" ujarnya menekan kata gunakan disana, sungguh kini dia tengah menahan amarahnya. menatap nyalang lelaki Arganta yang kini hanya tersenyum polos di sampingnya.


"matamu masih berguna kan? lihat disana! bahkan disana masih ada jalan yang berfungsi untuk naik keatas dengan kendaraan sialan" ujarnya penuh kekesalan seraya menarik dengan paksa tangan Raksa yang disambut kekehan oleh sang empu.


"siapa yang pasien sekarang, oh Tuhan jika saja membunuh itu di halalkan kau sudah ku buang dari atap rumah sakit brengsek!" ujar Arsaka seraya mulai menggendong Raksa di punggungnya.


"itulah yang kupikirkan sejak tadi"


"sial, berapa berat badanmu?"


"jangan terus berkicau kau membuat kakiku semakin tak bernyawa"


"apa hubungannya"


"ck besok-besok aku tak akan membuang waktu untuk menelpon orang bodoh seperti mu"


"bagus telpon lah udara ka dan berkicaulah dengannya"


"sialan"


mereka terus beradu omongan sampai pintu atap menelan keduanya.


...•••...


Mayla duduk seorang diri di kafetaria Andromeda. Hari ini dia pulang cepat, karena dosennya minta ganti jadwal. kilas balik percakapan dengan mamahnya terputar dengan spontan tepat ketika dia membuka sebuah pesan dari ayahnya.

__ADS_1


"ayah kamu ngga salah may"


"iya, ngga salah hanya saja akunya belum siap menerima semua ini" monolognya. pandangannya kini jatuh pada beberapa pesan yang sama sekali belum dia balas. hingga layar ponselnya berubah menjadi sebuah notifikasi panggilan dari ayahnya. Mayla bergeming tak berniat mengangkat sama sekali.


"may ngelamun aja, itu minuman belum diminum sama sekali" tanya Neira yang datang tiba-tiba. Kemudian mengambil duduk di depan Mayla.


"Eh iya ka. masih panas ka kopinya nunggu dingin" alibi Mayla untung saja kopinya memang masih panas karena dia memesan hot coffee. kembali ponsel di sampingnya menyala kini berubah menjadi notifikasi pesan yang nampaknya masih Mayla hiraukan.


"ngga kamu angkat yang nelpon? "tanya Neira seraya menyedot bubble teanya. Mayla menggeleng seraya mematikan hpnya.


"bukan orang penting ka" Jawab Mayla, dia kembali menyesap sedikit demi sadikit kopinya hingga pandanganya menangkap laki-laki yang kini memasuki kafetaria—Raksa.


"Raksa ada apa dengan jidatnya" ujar mayla, dia duduk di dekat pintu masuk jadi dengan jelas dapat melihat jidat Raksa yang membiru, Neira menoleh mengikuti arah pandangannya.


"aku kira kalian bakal datang barengan tadi" ujar Neira seraya mengalihkan atensi pada Mayla kembali. Mayla terdiam tak kunjung menjawab pandangannya masih pada lelaki Arganta yang kini tengah mengambil minuman dari mesin, dia teringat ketika Raksa yang tiba-tiba berlari setelah mendapatkan panggilan ntah dari siapa. untung mereka sedang tidak ada mata kuliah.


"ngga, pas jam kedua Raksa tiba-tiba ijin ka" ujar Mayla seraya kembali menarik atensi dari si lelaki Arganta. Mayla itu perempuan yang tidak banyak bicara dia terkadang bingung bagaimana caranya mengusir keterdiaman.


"Ka" Tanya Mayla, membuat Neira menoleh sesaat setelah menandaskan minumannya.


"kakak tau kalau Pak Arseno, ka Dimas, sama ka Rega satu angkatan?" Tanya Mayla sesaat setelah dia menimbang dengan banyak pertanyaan yang kira-kira cocok untuk menghalau keterdiaman mereka.


"aku aja kaget May pas raksa bilang mereka saling kenal"


"bukannya ka Neira satu angkatan sama ka dimas ya?" tanya Mayla lagi. Neira mengangguk


"iya aku sama Agita satu universitas sama Dimas tapi kita beda fakultas May, tapi sepertinya pak Arseno beda dengan kita. mungkin dia satu univ sama Rega, emang kenapa may? jangan bilang kamu suka duda lagi" ujar Neira terselip nada canda dalam perkataannya. Mayla terkekeh kini dia sedikit menyesali lolosnya pertanyaan yang tadi berhasil dia keluarkan.


"eh ngga ka bukan gitu, hanya saja aku melihat mereka sangat akrab" jawab Mayla tak sengaja pandangannya jatuh pada tiga laki-laki yang terlihat tengah berbincang seraya memasuki kafetaria, Neira mengernyit merajut dahinya, kembali mengikuti arah pandang Mayla. Disana Dimas, Rega dan Arseno mulai memasuki kafetaria. kehadiran ketiganya pun mulai merebut atensi semua karyawan yang ada di sana. salah satunya Mayla.


Hingga arah pandangnya tak sengaja bertemu dengan Arseno yang tak sengaja menoleh kearahnya. untuk beberapa detik pandangan itu bertemu sebelum Dimas mengintrupsi Arseno karena laki-laki yang kini menjabat sebagai pemimpin Andromeda itu masih berdiri di depan pintu masuk kafetaria.


"ka masih lama?" tanya Mayla seraya menandaskan kopinya. Neira mengangguk seraya berujar


"aku masih nunggu agit, dia sebentar lagi kesini"


"aku duluan ya ka" ujar Mayla seraya pamit meninggalkan Neira.


Mayla berjalan seorang diri hingga tepat di depan pintu masuk ruangannya dia bertemu dengan Raksa yang sepertinya hendak masuk juga. Mayla menoleh


"tadi kemana sa?" tanya Mayla seraya berjalan mengekori Raksa,


"ada urusan"


"Pak Jonatan pindah jam ya?" tanya Raksa seraya menduduki kursinya.


"iya, nantii jadinya jam limaan. kepala kamu kenapa sa?" tanya Mayla lagi. Raksa terdiam untuk beberapa saat. dia teringat kejadian siang tadi yang hampir mengantarkan keduanya berakhir di ruangan paling ujung rumah sakit. kamar mayat.


"terbentur" jawab Raksa seraya menoleh kearah Mayla. Mayla mengangguk tak berniat bertanya lebih jauh lagi penyebab kepalanya memar mengingat Raksa menjawab dengan seadanya, dia kembali memfokuskan pandangan pada layar monitor di depannya. ntah kenapa dia mengingat muka Arseno yang sama percis dengan Rehan atau sebaliknya Rehan lah yang mirip Arseno? ,seakan sang anak takut di sebut bukan anaknya. karena cetakan muka Rehan kecil sangat mirip dengan ayahnya. Arseno. tanpa sadar Mayla tertawa.


"may", Mayla menoleh


" iya sa?"


"kenapa?, cerita yang kamu revisi lucu sampai kamu ketawa?" tanya Raksa awalnya dia ingin abai namun sudut matanya menangkap kejanggalan dari teman yang duduk di sampinyanya. Mayla.


"iya cerita yang lagi aku revisi lucu" jawab Mayla tanpa sadar dia belum membaca sama sekali cerita atau novel yang tengah dia revisi, Raksa melongokkan kepalanya yang sukses membuat Mayla kaget karena pipi keduanya hampir bersentuhan kalau saja Mayla tidak segera menjauh, walau sedikit tertahan oleh tangan Raksa yang memegang belakang kursi Mayla.


Raksa mengernyit pasalnya cerita yang sedang Mayla revisi kini adalah cerita Mafia berdarah dingin,


"letak lucunya dimana?" ujar Raksa seraya menarik diri namun satu tangannya masih di belakang kursi Mayla. bahkan wangi tubuh si lelaki Arganta dapat dengan mudah Mayla cium, Mayla mengerjap seraya men-scroll mousenya kebawah dia tersenyum canggung mengingat kebodohannya. karena itu adalah novel bergenre thriller sama sekali tidak ada sentuhan komedinya sedikitpun.


belum sempat Mayla melakukan pembelaan diri Neira, Agita, Rega dan Dimas mulai memasuki kantor membuat Raksa menarik diri seutuhnya dan kembali fokus dengan kerjaannya begitu juga dirinya.

__ADS_1


__ADS_2