
Kekayaan, ketenaran, rumah besar, terkenal, semua itu hanya sebagai bayangan bagiku. Tak memiliki pengaruh besar sampai membuatku menjadi manusia yang lebih buruk dari monster.
Ayahku memiliki perusahaan besar, Ibuku adalah seorang model, dan aku ....
... Aku hanyalah siswa SMA normal seperti yang lain sampai beberapa saat lalu.
Waktu itu aku duduk di bangku kelas sambil membaca novel yang belum sempat kuselesaikan. Hari yang begitu tenang, sampai mereka datang ....
"Hei! Berikan semua uangmu pada kami."
Berhubung aku terlalu sibuk membaca sampai aku tak menyadari kedatangan mereka, karena kesal salah satu dari mereka menarik kerah bajuku sampai aku berdiri dengan paksa. Bukuku terjatuh ke atas meja.
"Hei! Kau tidak mendengarku? Kubilang, berikan semua uangmu!"
"Aku tidak mau."
"Hah?! Kau berani menentangku?! Akan kukatakan sekali lagi, berikan semua uangmu!"
"Tidak mau."
Aku mencuri pandang ke arah yang lain, kukira mereka akan menolongku atau melakukan sesuatu pada orang-orang ini, tapi ternyata mereka semua menjauhi kami dengan tubuh bergetar karena takut. Sepertinya aku tidak bisa berharap kepada mereka.
"Hahh ... Sepertinya tidak ada pilihan lain ...."
Dia bergumam dan kemudian mulai melepaskan tangannya dari bajuku. Tak kusangka dia melepasku begitu saja.
Tapi, pemikiran itu hanyalah kenaifan belaka.
Dua orang laki-laki di belakangnya berjalan mendekatiku dan mencengkeram tanganku, memindahkanku ke belakang bangku.
Ah, aku lupa mengatakannya, mereka adalah siswa dari kelas 3, tentu saja dengan SMA yang sama denganku. Mereka hanya bertiga. Meski begitu, mereka terlihat kuat. Mungkin sebentar lagi aku akan dibuat bonyok oleh mereka mengingat aku sekarang berada di area paling belakang kelasku tepat di belakang bangkuku sambil dipegang erat sampai kedua tanganku tidak bisa digerakkan sama sekali. Ketiga orang ini adalah tukang pemeras uang di sekolahku. Mereka kadang melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Tapi kebanyakan mereka melakukan secara terang-terangan. Aku sampai dibuat heran oleh mereka. Mengapa tidak terlihat guru sama sekali? Apakah mereka tidak peduli siswanya diperas (uang) begitu?
Dan sekaranglah giliranku. Menjadi korban selanjutnya ....
"Akan ku katakan sekali lagi, kali ini terakhir kalinya, BERIKAN SEMUA UANGMU PADAKU!"
.
.
.
.
"Tidak mau."
Tatapan dingin yang dia tujukan padaku membuat tubuhku membeku seketika. Keringat dingin mengucur di dahiku. Kakiku tidak henti-hentinya bergetar. Perasaanku yang terus mengatakan, "Aku akan mati!"
Yang kemudian akhirnya ....
Buakh!!
Sebuah tinju melayang ke perutku.
Seolah tidak membiarkanku untuk mengeluarkan suara karena kerasnya pukulan yang dia lontarkan, kepalan tangannya kembali melayang ke pipiku. Sekali lagi dia melayangkannya ke pipiku satunya dengan keras. Akibatnya, aku bisa merasakan darah mengalir keluar dari ujung bibirku.
Dia terus menerus melakukannya. Sampai titik dimana dia meluncurkan tendangan ke dadaku dengan keras. Dan itu memberikan efek yang membuatku hampir tidak bisa bernapas. Kesadaranku juga mulai hilang. Tapi, seakan tidak membiarkanku hilang kesadaran, dia melayangkan tinjunya lagi ke pelipis.
Itu membuat kepalaku sakit.
Kedua siswa yang memegangku, mulai melepasku. Mungkin mereka sudah lelah menghadapiku, atau mereka sudah merasa bosan menghajarku yang bahkan tidak bisa melawan.
Ahh... aku tidak peduli lagi jika mereka mengambil uangku setelah ini.
Setelah itu, kakiku terasa lemas bahkan untuk bergerak pun terasa sakit di sekujur tubuhku. Aku ambruk ke lantai dengan keras.
Yah, hasil yang cukup gila menurutku.
Aku berakhir tak sadarkan diri tanpa ada seorang pun yang mau menyelamatkanku.
Sebagai hasilnya, ketika aku sadar aku telah kehilangan semua uangku. Uang yang seharusnya kugunakan untuk pulang ke rumah juga mereka ambil. Akibatnya, aku pulang dengan berjalan kaki. Sampai di depan rumah, aku pingsan karena kelelahan terlebih lagi dengan luka-luka yang kudapatkan dari mereka bertiga.
Sejak hari itu, mereka terus merampas uangku dengan paksa.
Aku tidak mau lagi merasakan rasa sakit itu lagi. Karena hal itu, aku langsung memberikan uangku pada mereka tanpa harus dipaksa. Itu terus berlangsung hingga aku naik kelas 2.
Tapi itu tidak lagi hari ini. Mereka tidak tahu kalau sebenarnya aku telah memendam perasaanku.
Perasaan dendam yang terus berkembang hari demi hari. Terus menumpuk sampai ingin meledak.
Kuputuskan untuk hari ini aku tidak perlu lagi menuruti mereka dan memberi mereka semua uangku.
__ADS_1
Aku akan melawan mereka.
Akan kupastikan mereka tidak akan mendapat apapun yang mereka inginkan.
Aku hanya harus menolak mereka.
Aku tidak peduli lagi jika mereka harus membunuhku sekalipun demi mendapatkan uangku.
Aku akan melakukannya hari ini.
Aku berdiri menatap awan yang melintas sambil mendengarkan musik melalui earphone yang terpasang di kedua telingaku dan tersambung dengan Smartphone yang kubawa di saku celanaku.
Angin sejuk yang membawa ketenangan menerpa rambut hitamku. Ketenangan yang kurasakan ini tak berlangsung lama.
"Hei! Berikan uangmu padaku."
Aku berbalik dan mendapati mereka bertiga sudah berdiri di hadapanku. Dengan tatapan mengerikan seperti biasa untuk menekanku, ya. Baru kali ini aku menyadarinya. Karena aku sudah terbiasa dengan itu.
Tatapan dingin mereka mungkin jika orang lain mengalaminya mereka akan lari terpontang-panting untuk menghindari orang-orang ini.
Yah, menurutku itu tatapan biasa. Tidak memengaruhiku sama sekali. Kakiku yang dulu sering gemetar menghadapi tatapan mereka dan ingin menghindarinya, sekarang kakiku cukup tenang untuk bisa berdiri tegak di hadapan mereka.
Mungkin karena dendamku yang menumpuk hingga aku tidak merasakan apapun dari mereka?
Memikirkan hal itu, tanpa sadar pemimpin mereka menarik kerah bajuku sampai aku sedikit terangkat.
"Berikan uangmu! Kau tidak mendengarku, hah? Berikan uangmu!"
Ah, dia marah.
"Tidak mau."
Aku membalasnya dengan datar.
Mungkin aku tidak menyadari ini dulu. Tapi sekarang, entah kenapa aku merasa terganggu dan membuatku kesal.
"Kau berani menentangku?! Berikan semua uangmu padaku! Cepat! Atau aku akan ...."
"Akan apa? Membunuhku? Silahkan, lakukan semaumu. Tapi ...."
Aku mulai menatapnya dingin.
Yah, dengan suara sedikit mengancam mungkin cukup.
Dia mulai menggemeretakkan giginya karena kesal denganku.
"Aku tahu, dengan uangku saja tidak akan cukup untuk kalian, kan? Aku tahu kalian juga merampas dari siswa lain yang lemah menghadapi kalian. Apa kau bertanya 'Dari mana kau mengetahuinya?', semacam itu? Sayangnya, aku melihatnya sendiri. Jika kau tidak ingin aku mengadukannya pada guru, hentikan tindakanmu itu yang terus merampas uang tanpa tahu perasaan orang yang sudah kalian rampas uangnya."
"Kau ... Beraninya KAU!!"
Dua anak buahnya mulai memegang kedua tanganku dengan erat. Seperti sebelumnya, aku tidak bisa bergerak sedikit pun.
Buakk!
Begitu melepaskan tangannya dari kerah bajuku dan langsung meluncurkan kepalan tangannya dengan keras ke perutku. Rasanya lebih kuat dari yang dulu sampai aku memuntahkan darah.
Memang ada sedikit jeda, tapi setelah itu dia menghantam pelipisku dengan kepalan tangan yang sama.
Selama 4 menit dia terus menghajarku tanpa henti.
Ah, aku bisa merasakan beberapa tulang rusukku patah.
"Hahh ... hahh ... hahh ...."
Melihat dia mulai kelelahan dengan keringat yang mengucur dari keningnya, aku menyunggingkan bibirku yang sedikit berdarah.
"K-kenapa ... kau lelah? Tak kusangka kau bisa kelelahan seperti itu."
"Kenapa kau ... Bagaimana bisa kau bertahan setelah kuhajar sebanyak itu?"
"Siapa yang tahu?" Aku mengangkat bahuku.
"Berikan uangmu padaku ..."
"Hoya, kau masih saja meminta. Kau benar-benar keras kepala, ya."
Aku membalasnya dengan nada yang meremehkan.
"Setelah apa yang kau lakukan padanya ...."
Tatapan dingin mengancam muncul dariku dan membalikkan keadaan yang membuat mereka merinding.
__ADS_1
Kedua tanganku juga dibebaskan. Meski aku berdiri dengan terhuyung-huyung namun akhirnya aku bisa berdiri tegak di depan mereka.
"A-apa maksudmu?"
Wajah ketakutannya tak bisa disembunyikan lagi. Kakinya gemetar. Keringat dingin mengucur semakin deras dari keningnya.
Raut wajah yang kutunggu-tunggu. Seperti yang diharapkan dari mereka.
"Aku melihatnya. Aku tahu kau melakukannya. Kau ... hanya demi mendapat uang yang kau inginkan, kau bahkan berani membunuh siswa kelas 1. Tapi sepertinya kau tidak akan dengan mudahnya membunuh seseorang begitu saja, kan?"
Sambil tetap mempertahankan tatapan dinginku, aku mengeluarkan ponselku yang sudah kupersiapkan dari awal dan menunjukkan sebuah foto kepada mereka. Dalam foto tersebut, terlihat mereka menyeret tubuh seorang siswa kelas 1 ke balik semak-semak dengan darah sebagai jejaknya.
Begitu melihat foto tersebut, wajah mereka memucat seperti orang mati.
"Apa yang akan kalian lakukan jika kusebarkan ini?"
"Cih! Kau ... kau kelewat batas!"
Dengan wajahnya yang masih memucat, dia mengeluarkan amarahnya.
Aku menyunggingkan bibirku dan menghilangkan tatapan dinginku sebelumnya.
"Ara, bukankah terbalik? Seharusnya kalianlah yang kelewat batas."
"Kau ... AKAN KUBUNUH KAU!!"
Dia mengambil sesuatu dari belakang pinggangnya dan mengangkatnya ke atas. Pisau. Mengkilat dengan mata pisaunya yang terlihat tajam dengan ujung yang runcing.
Aku tahu dia mengarahkannya kemana. Dengan kakiku yang bahkan untuk menyangga tubuhku saja hampir tidak kuat, aku tidak bisa berjalan kemana-mana. Dengan begini, aku tidak bisa menghindarinya. Apalagi dengan jarak dia berdiri di depanku. Terlalu dekat.
Bagi orang sepertinya yang tidak tahu apa-apa, dengan ceroboh dia mengarahkan pisaunya padaku.
Jleb!
"Ugh! ...."
Pisau itu dengan lancar menancap di dada kiriku dan membuatku memuntahkan darah.
Manusia, jika terkena serangan di dada kiri, meski dapat bertahan sekalipun akan tetap mati dengan cepat.
Mungkin dia terburu-buru karena panik atau dia memang tidak tahu. Ini akan menjadi kedua kalinya mereka melakukannya. Membunuh!
Aku bisa merasakan besi dingin itu. Rasanya sangat perih. Aku merasakan darah mulai mengalir keluar dari dadaku. Ini lebih menyakitkan dari luka-luka sebelumnya yang pernah kurasakan.
Kesadaranku mulai ditarik. Namun aku tidak bisa membiarkannya sebelum aku menyelesaikan ini.
"Sayangnya ... meski kalian membunuhku ... Ini ... adalah akhir bagi kalian. Aku sudah memberitahukan ... pada semua guru ... yang ada disini ... dan memberikan foto itu ... kepada m-mereka. Selain itu ... aku juga memberitahu lokasi ... dimana kau mengubur mayatnya."
Dengan sedikit paksaan, aku menyeringai dengan perasaan yang benar-benar puas.
"Skakmat ...."
Usaha terakhirku terbayarkan. Beberapa polisi dan guru datang menyergap mereka bertiga dan segera mengambil pisau berlumuran darahku dari tangan si pemimpin. Tapi, mereka terlambat.
Kesadaranku ditarik ke dalam kegelapan bersamaan dengan beberapa teman sekelasku dan guru menghampiriku dan menangkap tubuhku yang tumbang. Samar-samar aku mendengar mereka meneriaki namaku hingga di titik tertentu aku tidak bisa mendengar suara mereka lagi.
Tidak ada yang kurasakan selain rasa sakit dan dingin yang mulai menjalar ke seluruh tubuhku. Kehangatan menghilang sepenuhnya dari tubuhku.
Entah kenapa aku merasa tidak ada penyesalan jika aku mati.
Ayah dan Ibuku jarang pulang ke rumah. Aku selalu sendirian.
Tidak seperti laki-laki yang lain, aku tidak pernah punya majalah porno, dan aku tidak pernah bernafsu untuk melakukan hal-hal yang mereka sebut "Surga yang sesungguhnya".
Itulah mengapa aku dijauhi semua teman sekelasku.
Ah, kalau begitu aku tidak akan menyebutnya teman.
Tidak ada yang peduli padaku.
Tidak ada yang mengajakku berbicara.
Aku seperti dianggap tidak pernah ada.
Pikiranku mulai tenggelam. Semuanya begitu gelap. Aku ... tidak merasakan apapun.
Sepertinya, tidak ada tanda-tanda aku hidup di dunia ini.
Mungkin inilah yang manusia takuti ....
Kematian.
__ADS_1