
"Jadi, bagaimana?"
"Bagaimana apanya?"
"Nia! Dia akan ikut bersama kita. Apa kau menyetujuinya? Katakan saja kau menyetujuinya!"
Aku melanjutkan kegiatan makanku tanpa menghiraukan Irie lagi. Sebenarnya, membiarkan Nia ikut tidak masalah. Tapi yang menjadi masalahnya adalah keberadaanku di antara mereka. Bagaimana jika penyerangan seperti di kerajaan juga menimpa mereka? Dengan begitu, bukankah keselamatan mereka berada pada keputusanku?
Aku senang mendapat teman seperti mereka. Tapi saat mengetahui kalau aku menjadi incaran semua negara dan kerajaan di seluruh dunia, maka tak ada jaminan mereka akan hidup aman bila bersamaku. Aku tidak ingin menghancurkan kehidupan mereka hanya gara-gara diriku. Jika mereka bersamaku, bahaya akan terus mengejar mereka, menjadikan mereka target sebelum aku. Itu sama saja menyamakan mereka dengan tumbal. Aku tidak mau hal buruk menimpa mereka.
Apalagi akhir-akhir ini aku merasakan kehadiran seseorang. Meski samar, tapi aku masih bisa merasakan dia ada di sekitar kami. Mengawasi di balik kegelapan.
"Itu namanya pemaksaan, bukan? Yah, kalau itu maunya dia, aku tidak akan melarangnya untuk ikut bersama kita."
Mata Irie tampak berbinar-binar setelah mendengar keputusanku pada akhirnya. Begitu juga dengan Nia.
Sejak kapan mereka menjadi akrab?
"Nia, rambutmu terlihat kotor dan berantakan," ujarku setelah melihat rambut biru panjang milik Nia yang ujungnya tidak rata dan bahkan ada kotoran yang menempel. Bukti kalau dia tidak diizinkan untuk membersihkan tubuhnya.
Irie yang mendengarku pun segera memeriksa ujung rambut Nia dengan saksama.
"Ah, kau benar," celetuk Irie setuju. "Kau mau aku merapikannya?" tanya Irie pada Nia dibalas anggukan malu begitu mengetahui kalau rambutnya kotor dan diingatkan olehku yang notabene merupakan satu-satunya lelaki di sini.
Irie mengambil sesuatu dari balik bajunya dan mengecek ketajamannya.
"Kupikir kau tidak bersenjata. Ternyata kau menyembunyikan pisau di balik bajumu," celetukku.
Ketika bilahnya bersinar saat terkena pantulan cahaya, itu mengingatkanku akan penyebab diriku terlempar ke dunia ini. Perantara yang digunakan pun sama untuk mengirimku ke kegelapan abadi. Omong-omong soal pisau, aku penasaran, bagaimana keadaan 3 begundal itu, ya? Entah kenapa aku merasa ingin sekali melihat mereka di sel dan tertawa keras di depan wajah surut mereka. Tapi sayangnya, aku tidak bisa tertawa.
"Tentu saja untuk persiapan bila sewaktu-waktu aku diserang. Walaupun aku seorang Healer, tidak menaruh kemungkinan bahwa aku tidak akan diserang, bukan?"
Yah, dia benar. Cukup bagus untuk memikirkan kemungkinan seperti itu dalam kedamaian yang tak bisa diperkirakan kapan hilangnya ini.
Semenjak Demon King mati, perang tak pernah terpecah kembali di dunia ini. Perdamaian dipastikan dapat bertahan selama Demon King tidak ada. Namun memikirkan kedatanganku kemari dalam beberapa hari langsung diincar, kurasa perdamaian tidak akan bertahan lama.
Tidak. Sebelum itu bahkan kedamaian tidak selalu ada. Tragedi Bulan Darah adalah bukti terbesarnya. Dalang di balik insiden itu hanya satu orang. Ya, satu orang.
Tunggu, kenapa aku tidak yakin kalau itu hanya satu orang? Entah mengapa aku merasa tak hanya dia, tapi ada yang lain... Ah! Sudahlah.
__ADS_1
Daripada memikirkan itu, aku harus memikirkan rencana selanjutnya. Kupikir berdiam di sini terlalu berbahaya untuk mereka. Orang-orang yang mungkin mengejarku bisa saja datang hari ini atau besok.
Sebelum itu, sudah seharian aku tidak mandi. Rasanya lengket karena keringatku sehabis bertarung dengan Marcus.
"Aku mandi dulu," ujarku seraya beranjak menuju satu-satunya kamar mandi di ruangan ini.
Mengenai penginapan ini, Aku dan Irie menggabungkan uang kami untuk membayar penginapan 1 kamar dengan 2 tempat tidur seharga 5.800 rist. Sisa uangnya kami gunakan untuk kebutuhan sehari-hari, misalnya makan. Awalnya Irie malu karena kami tinggal 1 kamar. Tak ada pilihan lain sebab tak ada kamar kosong lain. Semua sudah terisi.
"Oh, baiklah. Nia, bagaimana kalau kita mandi bersama?"
"Baik, kak Irie."
Hm... mereka seperti kakak beradik saja. Mereka cepat sekali akrabnya.
Mengabaikan mereka, aku membuka pintu kamar mandi lalu masuk ke dalamnya dan menutup kembali pintunya.
Segera saja kubuka satu persatu pakaianku, mengguyur tubuhku dengan air. Huuu... dingin.
Setelah itu, aku keluar sambil menggosok-gosokkan handuk pada rambutku yang sengaja kubasahi.
Saat aku menutup pintu....
Dan teriakan itu berasal dari Irie yang sekarang menutup mata dengan kedua tangannya. Selain itu, wajahnya sangat merah.
"Maaf, tak ada pilihan lain karena rambutku masih basah dan aku tidak mau membasahi baju atasku."
"T-tapi... setidaknya pakailah apapun untuk menutupi badanmu! Ini memalukan...," keluhnya.
Namun, setelah itu dia malah membuka kedua tangannya dan menatap tubuhku dengan intens.
"Ada apa?" tanyaku merasa aneh begitu ditatap dengan penasaran oleh Irie.
"Itu... t-tubuhmu penuh luka...."
Oh, itu maksudnya. Dia memang tidak pernah melihat tubuhku saat telanjang dada begini. Pantas saja dia penasaran.
"Ini sudah lama sekali. Kurasa sekitar... 3 tahun lalu. Yah, aku tidak begitu ingat mengapa aku bisa mendapat banyak luka sayatan seperti ini. Yang pasti... itu masalah besar yang tidak kutahu apa sebenarnya."
Dia mendekat dan menyentuh salah satu luka sayatan berbentuk "X" di antara bahu kiri dan dada kiriku. Warnanya tidak lagi merah seperti luka pada umumnya, namun sudah berubah putih karena sudah lama sembuh dan membekas.
__ADS_1
"Luka ini... mereka berusaha membunuhku. Karena makhluk itu.." Tanpa sadar, aku menggumamkan sesuatu yang tak jelas. Bibirku bergerak sendiri tanpa kuperintah. Bahkan aku sendiri tidak mengerti maksud dari perkataanku.
"Aku tidak tahu apa masalahmu hingga hampir dibunuh. Tapi yang terpenting sekarang, kau masih hidup meski di dunia yang berbeda. Masalah itu bisa kau tinggalkan sekarang dan memikirkan bagaimana kau akan hidup di sini."
Dia benar. Walau aku tidak tahu masalah apa itu, harusnya aku merencanakan bagaimana aku akan hidup selama berada di dunia ini. Karena inilah tempatku sekarang. Duniaku tinggal.
Daripada itu, masalahnya sekarang adalah....
"Irie, di sini ada anak kecil. Sebaiknya kau menjauh dariku sebelum dia berpikiran yang aneh-aneh."
Nia yang melihat posisi kami berdua, wajahnya memerah dan asap mulai keluar dari ujung kepalanya lalu bagai meledak dengan suara *poof*, dia langsung tumbang.
"Nia!!"
Irie langsung berlari menghampiri Nia yang terkapar.
——————————
"Ne, Shiki, bukankah kita seperti keluarga," ucap Irie sambil mengusap lembut kepala Nia yang sudah tertidur pulas di ranjang milik Irie. "Kau seperti ayahnya dan aku ibunya."
Aku yang berbaring di ranjangku dengan kedua tangan yang kulipatkan sebagai bantalan kepalaku, terkejut sekaligus merasa aneh dengan ungkapan Irie yang mendadak.
"Tidakkah kau merasa malu setelah mengatakan hal itu?"
"Aku memang malu mengatakannya, tapi entah apa yang merasukiku hari ini, aku merasakan kebahagiaan setelah menyadarinya. Mungkin ini yang dirasakan orang tua kita yang telah merawat kita tanpa mengharapkan imbalan apapun. Mereka akan melakukan apa saja demi membahagiakan kita. Menurutmu, seandainya Nia adalah putrimu, apa yang akan kau lakukan untuknya?"
Kalau Nia adalah putriku... kira-kira apa yang akan kulakukan sebagai ayahnya? Bayangkan saja Nia diculik atau semacamnya, mungkin yang harus kulakukan saat itu juga....
"Tentu saja aku akan melindunginya, apapun yang terjadi, takkan kubiarkan siapapun melukainya. Selain itu, aku juga akan membahagiakannya sesuai yang dia inginkan. Aku tidak akan memaksakan kehendaknya untuk memilih pilihannya. Tunggu, kenapa malah membicarakan hal itu?"
Aku baru sadar kalau pembicaraan kami melenceng jauh.
"Tidak ada salahnya untuk mempersiapkan masa depan, kan? Lagipula, aku puas dengan jawabanmu mengenai keputusanmu dalam menjaga anakmu nanti," terang Irie disertai tawa kecil di akhir.
Dia benar-benar membuatku memikirkan masa depan yang bahkan belum kugapai.
Setelah Irie menyelimuti Nia dengan selimut yang sudah tersedia dari penginapan, dia beranjak pergi menuju pintu keluar dari ruangan ini. Sebelum gagang pintu ditarik, dia menoleh ke arahku sambil tersenyum.
"Maukah kau menemaniku?"
__ADS_1