
11 tahun silam, seorang bocah berambut kelabu bermata hijau zamrud tengah berjalan tanpa tujuan di gang sempit yang bau dan kotor penuh lumpur karena hujan. Bajunya compang camping, robek disana sini. Beberapa luka lebam menghiasi kulitnya yang putih pucat karena sudah 2 hari ini dia tidak memakan apapun kecuali meminum air sungai yang kebetulan dia temukan di hutan sebelum sampai kemari. Perutnya yang terus berteriak meminta isi ulang itu tak dia pedulikan dan terus berjalan dengan sempoyongan.
Di ujung gang kecil yang dia lewati, sempat terlihat orang berpakaian rapi dilengkapi zirah perak di dada, lengan, dan kakinya. Serta pedang perak yang menggantung di pinggang kirinya. Bocah itu menghentikan langkahnya ketika orang tersebut mengulurkan tangan kanannya tepat di depan wajah sang bocah dengan sedikit membungkukkan badannya yang tinggi.
Pandangannya mengabur dan tak bisa melihat dengan jelas pria di depannya. Tubuhnya mulai lemas karena tak terisi makanan apapun kecuali air. Luka lebamnya juga masih terasa sangat menyakitkan. Awalnya dia ragu menyambut tangan yang lebih besar dari tangan mungilnya. Saat hendak menggapai tangan itu, tubuhnya tak dapat bertahan lagi hingga akhirnya dia pun tumbang di depan pria itu dengan tangan kanannya yang sedikit terangkat untuk menyambut tangan si pria.
Matanya mulai menutup. Tubuhnya yang lemas itu tak kuasa ia gerakkan. Dan akhirnya kegelapan merenggut pandangannya. Matanya pun menutup secara paksa.
----------
Kelopak mata kecilnya mulai terbuka dan menampakkan kilau hijau zamrudnya.
"Akhirnya kau bangun juga, bocah."
Suara yang sedikit berat tidak dikenalinya membuat dirinya harus mencari sumber suara tersebut di sebelah kanannya.
Seorang pria berzirah perak duduk di sampingnya dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Dia kemudian mengambil gelas yang berisi air putih yang sudah dia siapkan di meja kecil sebelah kanan kasur putih dan menyodorkannya pada si bocah yang mulai bangun untuk duduk.
"Minumlah ini dulu. Kau pasti kehausan, kan."
Dia menerimanya dan meneguknya dengan cepat sampai habis. Itu bukti kalau tenggorokannya sangat kering. Dia mengembalikannya dan pria tersebut meletakkan kembali gelas kosong itu ke tempatnya semula. Kemudian mengambil roti dan memberikannya.
"Makanlah ini. Kebetulan aku hanya punya ini."
"Tapi... bagaimana dengan paman?"
"Jangan khawatirkan aku. Ini, makanlah," ucapnya tetap menyodorkan roti yang belum juga diambil dari tangannya. "Lagipula aku baru makan tadi. Yahh... lebih dari sekedar roti sebenarnya... ahahaha...," lanjutnya seraya mengusap kepala belakangnya dan tertawa kering.
"Kalau begitu..." Bocah lelaki itu pun mengambil rotinya. "Aku akan memakannya."
Dia memakannya sampai tak tersisa. Memang tak sepenuhnya mengisi perut kosongnya, tapi itu lebih dari sekedar cukup daripada harus mati kelaparan.
"Etto... terima kasih, paman..." dia menggantungkan ucapannya dengan tatapan bertanya.
"Joan Stredle. Panggil aku Joan," sahut pria itu.
"Baiklah, paman Joan."
"Bagaimana denganmu?"
"Hanz. Hanz Venetria," jawab bocah itu dengan nada ceria.
"O-ok..." Joan sedikit terkejut dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba berubah dari sebelumnya yang tanpa ekspresi menjadi ceria. "Jadi.. Hanz, dimana kau tinggal? Karena sepertinya kau tersesat, aku akan mengantarmu ke rumahmu dimana pun itu."
"Aku..." Hanz menundukkan kepalanya dengan raut mukanya yang sedikit muram. "Aku... tidak punya."
Sejenak ruangan tersebut diisi keheningan di antara keduanya. Hanz tetap menunduk namun sesekali bulir-bulir bening jatuh dari kedua matanya. Joan yang mendengar maupun melihatnya hanya terdiam tak mampu berkata-kata.
__ADS_1
"Orang tuaku dibunuh. Rumahku hancur. Monster itu mengejarku dan memukuliku. Berjalan tanpa arah selama dua hari tanpa makan dan hanya sekali minum air sungai di hutan. Sampai paman datang...."
"Monster apa maksudmu?"
"Mata merah. Rambut coklat. Jubah dan baju serba hitam. Penyihir Kabut." Tanpa sadar Hanz meremas selimutnya dengan kuat.
Perasaan takut dan marah itu kembali dia rasakan dan menekan dadanya yang sedikit sesak. Darahnya naik sampai kepalanya. Ingin sekali dia mencabik-cabik orang yang telah membunuh orang tuanya dan menghancurkan rumahnya.
"Penyihir Kabut..." Joan menelaah ciri-ciri yang telah disebutkan oleh Hanz. "Kapan itu terjadi?"
"2 hari sebelum paman menemukanku."
"Itu berarti 3 hari yang lalu. Bersamaan dengan itu...," gumam Joan sambil menaruh tangan di dagu.
"Apakah kau tinggal di desa Rugin?" tanya Joan tiba-tiba.
Hanz menjawabnya dengan hanya mengangguk.
"Sudah kuduga," gumam Joan lagi. "Sebenarnya, Hanz, bukan orang tuamu saja yang dibunuh, tapi semua orang di desa Rugin ditemukan sudah tak bernyawa. Dan kau adalah satu-satunya yang selamat dan berhasil bertahan hidup."
Mendengar penjelasan dari Joan, Hanz terdiam dengan mulut sedikit terbuka. Dia tidak menyangka, selain orang tuanya, semua orang telah dibunuh. Orang-orang di desa yang terlihat ramah. Hanz mengenal semua orang di desanya dan menyayangi mereka layaknya menyayangi orang tuanya.
Perasaan dendam itu kemudian muncul di hatinya. Semakin ingin dia mencabik-cabik dan menghancurkan sampai tak tersisa sekecil apapun monster berwujud manusia yang disebut-sebut Penyihir Kabut.
Namun apa daya? Tubuh kecilnya yang lemah dan tak bisa sihir ataupun beladiri. Ingin melawan penyihir yang bahkan mampu menghancurkan satu desa sendirian dalam semalam.
Joan sedikit terperanjat dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba lagi.
"Apa kau yakin bisa melawannya, nak?" tanya Joan dengan serius.
Hanz mengangguk tanpa menghilangkan tatapannya yang dipenuhi tekad.
"Kebetulan paman adalah salah satu knight di kerajaan Frelior. Paman akan melatihmu dan apa kau mau bergabung juga seperti paman?"
Hanz pun mengangguk tanpa ragu.
"Baiklah. Paman akan melatihmu hingga kau mampu melawannya. Sampai saat itu, jangan harap paman akan lembut padamu, ok!" Dengan senyum lebar, Joan menyodorkan kepalan tangan kanan untuk tinju pelan.
"Ya, mohon kerjasamanya, paman!" Hanz menyambutnya dengan meninju pelan kepalan tangan Joan dan tersenyum lebar.
----------
Hari-hari yang keras penuh tantangan terpaksa dia hadapi dengan sepenuh hati demi menjadi kuat untuk membalas kehancuran desanya.
Memasak di pagi hari. Awalnya dia tidak bisa. Namun Joan mau mengajarinya sampai masakannya cukup enak untuk dimakan.
Setelah memasak barulah dia belajar pedang.
__ADS_1
Di siang hari Joan harus bertugas sebagai knight di kerajaan. Oleh karena itu Hanz beristirahat sejenak lalu membersihkan rumah dan mencuci baju yang kotor. Tentu saja bukan Joan yang menyuruhnya, karena Joan mengatakan padanya, "Lakukanlah sesukamu. Kau mau bermalas-malasan pun aku tak peduli. Yang penting, jangan paksakan dirimu."
Jadi dia bertindak sesuka hatinya dengan membersihkan rumah dan mencuci.
Di sore hari, Joan kembali dari bertugas dan mengajari Hanz mengenai sihir. Memang banyak kendala karena kesulitan mencari tahu sihir Hanz.
Setiap orang hanya mempunyai satu jenis sihir. Entah itu Fire, Water, Earth, Air, Dark, Light, Lightning dan sebagainya. Pernah ada satu orang yang mampu menampung 2 jenis sihir dan itupun masih lemah dibandingkan dengan yang hanya mempunyai satu. Selain itu tak pernah ada lagi yang menggunakan lebih dari 1 jenis sihir. Termasuk penyihir Trensent dan Demon King sekalipun. Akan tetapi, meskipun Demon King hanya memiliki satu jenis sihir yaitu Kegelapan, sihir yang misterius karena kabarnya hanya Demon King sajalah yang memilikinya. Dia tak bisa dikalahkan walaupun manusia menyerang dengan satu aliansi yang mencakup penyihir terkuat di seluruh dunia, termasuk 3 orang penyihir Trensent.
Ah, maaf, sepertinya melantur terlalu jauh. Penjelasan selanjutnya akan diuraikan di episode, tidak, maksudku chapter berikutnya.
Kembali ke topik.
Akhirnya mereka mengetahui sihir milik Hanz setelah beberapa kali percobaan. Sihir miliknya adalah Lightning.
Sihir jenis ini memiliki berbagai ragam warna. Salah satunya adalah milik Hanz. Warna sihir milik Hanz, petir biru. Sihir ini juga termasuk dalam Magic Area atau disebut sihir skala besar.
Setelah 5 tahun berlatih, kini usianya sudah beranjak 12 tahun, keahlian pedang dan sihirnya meningkat pesat. Usaha dari bekerja kerasnya pun membuahkan hasil walau dia sesekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya akibat dari efek terlalu memaksakan tubuhnya untuk berpedang, belajar sihir, dan membersihkan rumah meski tidak ada yang menyuruhnya. Namun berkat kerja kerasnya lah sekarang tubuhnya menjadi lebih kuat.
Dulu dia terus-terusan kalah dalam berduel dengan Joan dalam seni pedang maupun sihir, sekarang tak ada kesulitan sama sekali untuk mengalahkannya dalam sekejap. Joan begitu terkejut dengan perubahan drastis kekuatan Hanz.
Usianya yang terbilang muda, seorang knight yang dipercayai kerajaan bahkan Raja pun mengakuinya, dapat dia kalahkan dengan mudahnya semudah mematahkan lidi. Itu membuat Joan bertanya-tanya darimana kekuatan Hanz sebenarnya berasal.
3 tahun kemudian, sesuai saran Joan dulu, Hanz pun direkomendasikan oleh Joan kepada Raja untuk menjadi salah satu knight kerajaan.
Di hari pengujian yang ditonton seluruh penduduk kerajaan maupun sekitarnya, sebelum diakui secara sah menjadi knight, Hanz diharuskan melawan seorang knight terkuat di kerajaan tersebut untuk menguji kekuatannya.
Memang melawan knight terkuat itu lebih sulit dari saat latih tanding dengan Joan. Tapi tak menolak kemungkinan bahwa Hanz hanya bermain main sementara knight tersebut kesulitan dengan napasnya yang mulai tersengal-sengal.
Semua orang yang melihatnya pun merasa heran mengapa knight itu kelelahan dan pemuda itu sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia berkeringat.
Sampai saat itu juga, keheranan mereka pun terjawab.
"Jangan bermain-main denganku, bocah! Keluarkan kemampuan aslimu padaku dan jangan meremehkanku! Dasar bocah tengik!"
Karena luapan amarah yang merasa dipermainkan sejak awal dimulainya pengujian, dia tidak sadar image nya yang dia jaga agar berwibawa telah hancur begitu dia mengatakan kata-kata kasar kepada pemuda yang bahkan 10 tahun lebih muda darinya yang di dengar semua orang termasuk rajanya sendiri.
Namun apa yang selanjutnya dikatakan Hanz, merusak harga dirinya sebagai knight terkuat.
"Apa yang kau katakan, paman? Tentu saja aku tidak akan mengerahkan seluruh kemampuanku. Jika itu terjadi, maka tidak akan menyenangkan tanpa hiburan yang pas untuk pengujian ini. Aku yakin semua yang melihat ini berpikiran sama denganku," ucap Hanz dengan nada yang sedikit meremehkan namun terkesan dingin.
"Kuberitahukan satu hal padamu, paman. Kekuatanku bukan untuk dipertontonkan. Ingat itu!" lanjut Hanz dengan penuh penekanan pada setiap kata yang ia lontarkan dengan tatapan tajam dan dingin.
Setelah itu tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi, yang mereka lihat hanyalah knight tersebut mendadak jatuh tersungkur tak sadarkan diri. Dan pemuda yang melawannya sudah menuruni arena dengan santainya seolah tak terjadi apapun pada mereka berdua.
Mereka semua yang melihatnya terbengong tak percaya dengan yang mereka lihat barusan. Tak ada apapun selain keheningan yang menyertai. Namun akhirnya semua orang di sana mulai menyorakinya dengan semangat.
Sang Raja kemudian menyatakan pengakuan bahwa, Hanz Venetria, telah menjadi knight resmi terkuat sekaligus termuda sepanjang sejarah Kerajaan Frelior.
__ADS_1