
Sinar mentari menyeruak, menenggelamkan suatu belahan dunia yang lain dalam cahaya indah dan hangat yang menenangkan. Suara ratusan langkah kaki manusia memenuhi sebuah kota besar yang nampak ramai. Orang dewasa memulai aktivitas bekerjanya. Anak-anak dengan semangat yang membara bermain-main di sepanjang jalan, taman, dan tempat lainnya. Banyak bangunan dari yang besar, tinggi, pendek, kecil, dan sebagainya menghiasi kota besar ini. Terlihat di kejauhan, bangunan istana megah yang tidak kalah indahnya dengan istana kerajaan Alfreiden.
Tapi yang menjadi perhatianku bukanlah itu, melainkan bangunan besar di dekat gerbang istana. Atap prisma segitiga yang berwarna coklat kemerahan. Dinding persegi panjang kokoh berwarna merah maroon.
Aku sempat berpikir. Jika saja ada banteng di sekitar sini, mungkin bangunan itu akan hancur lebur dalam sekali sundulan.
Namun yang menjadi titik perhatianku sepenuhnya adalah pada papan persegi panjang berwarna putih yang menggantung di atas pintu besi berdaun ganda.
ADVENTURER GUILD
Tulisan inilah yang menjadi pusat perhatianku.
Aku melompat turun dari tembok besar pembatas kerajaan dan kota. Tembok ini cukup tinggi dan tebal. Oleh karena itu, aku harus mendarat di atap rumah warga kemudian turun lagi ke tanah di gang kecil yang cukup sempit.
Aku keluar dari gang tersebut dan berjalan di jalan setapak yang dilalui warga sekitar. Aku berjalan biasa saja tanpa mengkhawatirkan orang lain mengenaliku.
Sebelumnya aku menemukan jubah hitam yang terselampirkan di atas tanah ketika aku masih di perjalanan menuju kota ini. Ujung bawah jubah hitam bertudung itu nampak bergerigi seolah kain ini telah disobek paksa. Aku mengira jubah ini ditinggal begitu saja oleh seorang petualang karena sudah kotor. Aku pun mencucinya di sungai yang tak sengaja kutemukan lalu mengeringkannya dengan menyalakan api unggun sementara menghangatkan tubuhku dimalam yang dingin.
Dan beginilah. Aku memakai jubah itu untuk menutupi baju bangsawan ini tanpa mengenakan tudungnya agar orang lain tak mencurigaiku sebagai orang jahat.
Setelah beberapa lama aku berjalan sambil mengamati sekitar, tak terasa aku sudah sampai di depan bangunan guild.
Tanpa adanya keraguan sedikitpun di hati, aku pun melangkah mendekati pintu besi itu lalu membukanya.
Mataku langsung tertuju pada meja panjang lurus di depanku. Seorang wanita seksi berambut coklat yang bergelombang hingga pinggul diikat di belakang.
Aku memutar bola mataku, melirik sekeliling.
Sebelumnya aku mendengar kebisingan di tempat ini. Namun sejak kedatanganku di ambang pintu, kebisingan itu mendadak hening dan semua mata tertuju kepadaku. Mungkin karena aku sedikit terlalu keras membukanya, membuat mereka terkejut.
Tapi tak hanya itu.
Selama aku melangkahkan kakiku mendekati meja panjang yang jauh di depanku atau bisa disebut counter resepsionis, bisikan bisikan mulai terdengar di telingaku. Ada yang memandangku aneh, kagum, senang, meremehkan, benci, dan lain sebagainya.
"Lihat, rambutnya hitam. Orang yang mencurigakan."
"Wah~ Dia tampan dan keren!"
"Benar, aku suka matanya!"
"Heh... Pemula datang lagi. Kuyakin dia tidak lebih kuat dari goblin. Tubuhnya bahkan kurus begitu, HAHAHAHA!!!"
Beberapa orang di dekatnya pun ikut tertawa oleh ucapannya yang sedikit menghinaku. Tapi tak apalah. Aku tidak punya waktu mengurusi orang seperti dia yang membuang-buang waktunya untuk menghina orang lain.
Tempat ini dilengkapi dengan meja dan kursi seperti cafe, hanya saja lebih sederhana. Dan semua orang yang ada di sini, duduk di sana.
Tidak menghiraukan mereka yang sibuk membicarakanku, aku terus melangkah lurus dan sampai di depan counter, menghadap wanita itu.
"Selamat datang di Adventurer Guild kami, Tuan. Apakah tuan ini ingin mendaftar menjadi petualang?" sambutnya dengan senyum kecil.
Seperti yang diharapkan dari penjaga counter guild. Dia langsung tahu tujuanku sebelum aku mengajukannya.
Sementara menjawabnya, aku hanya menganggukkan kepalaku singkat.
Dia kemudian mengambil sesuatu di balik meja lalu meletakkannya di depanku. Benda itu adalah batu persegi putih yang seukuran telapak tanganku.
"Tolong teteskan darah Anda di atas batu ini."
Aku menggigit ibu jariku lalu kuteteskan darah yang keluar ke atas batu sesuai arahan wanita itu.
Tes.
Zzzsstt.... shashh...
Sedetik setelah darahku menyentuh permukaan, batu itu tiba-tiba mengeluarkan listrik kuning lalu menghilang digantikan sedikit asap putih yang mengepul ke atas dan menghilang tanpa sisa.
Ada yang berbeda. Batu itu tak lagi berwarna putih, tapi berwarna biru tua.
"Tampaknya anda berada di rank A."
Rank A??
Sejak pemberitahuan mengenai tingkatku tadi, suara berisik orang-orang sudah tak terdengar lagi. Aku menoleh ke belakang untuk memastikan penyebab apa yang membuat mereka diam mendadak begitu. Dan yang kulihat....
__ADS_1
Mereka terkesiap.
Mata mereka membelalak tak percaya seakan bisa keluar kapan saja jika mereka biarkan dan semakin melebarkannya. Semoga saja tak terjadi. Akan menjadi neraka bagiku kalau mereka melakukannya.
(Hei, Erlia. Kau disana?)
"Aku selalu disini, master."
(Bukankah seharusnya kapasitas mana-ku untuk saat ini setara dengan tingkat D? Ada apa sebenarnya dengan tingkat A ini?)
"Sebenarnya, master... Bukan hanya 'mana' saja yang memengaruhi tingkat seseorang. Tapi juga keunggulannya dalam kemampuan fisik. Mengingat master yang telah berlatih kendo atau apalah namanya itu, bersama kakek master, tak diragukan lagi bahwa kemampuan fisik master telah memenuhi syarat untuk menutupi kapasitas 'mana' yang sedikit itu dan menjadikan master berada di tingkat A."
(Begitu, aku mengerti. Terima kasih, Erlia.)
Setelah aku kembali mengarahkan pandanganku pada wanita resepsionis itu, dia berdiri membelakangiku dan melakukan sesuatu yang tidak bisa kulihat dari sini. Tapi aku hanya diam menunggunya. Tak lama kemudian, dia berbalik menghadapku dan memberikan benda berbentuk persegi panjang tipis yang mirip dengan kartu ATM, kepadaku.
"Ini kartu guild Anda. Identitas Anda secara otomatis sudah tercantum pada kartu ini. Mohon digunakan sebaik mungkin."
Aku menerimanya dan menatap lekat-lekat kartu guild milikku.
Yang tertera di sana adalah....
-----------------
---------------
**Raizen Shiki
Rank : A
Gender : Male
Age : 16
Race : Human, Unknown
From : Earth
Quest : -
- Weapon : -
- Guard : -
- Accessory : -
Rist : 0**
---------------
-----------------
Benar yang dikatakannya, bahkan asalku diketahui dan tertulis dengan tepat. Tapi... rasku itu... kenapa ada 2?
Ras Manusia dan Tidak Diketahui. Aku tidak mengerti kenapa disitu tertulis Tidak Diketahui. Apakah aku semacam makhluk buas? Monster? Iblis? Vampir? Setengah manusia? Ataukah... Dewa?
Baiklah, jangan pikirkan itu.
Soal data yang paling bawah, Rist... kalau tidak salah, Rist itu mata uang di dunia ini.
Sewaktu aku masih tinggal di istana, aku mendengar dari beberapa prajurit menyebutkan jumlah uangnya dengan diakhiri kata "Rist". Sebab itulah, aku yakin "Rist" adalah nama mata uang disini. Di dunia ini.
"Jika Anda ingin, Anda bisa langsung meminta quest. Quest di sini sangat banyak. Anda bisa memilih. Tapi Anda hanya bisa memilih quest sesuai rank anda. Tidak bisa lebih diatasnya. Ini, silakan," jelasnya sembari menyodorkan tumpukan kertas yang ada di atas meja di depanku.
Apa yang tertulis disana hanya ditujukan untuk petualang rank A ke bawah. Aku bertanya padanya kenapa harus rank A ke bawah, dan dia menjawab kalau quest di atas rank-ku itu sulit. Lalu dia menjelaskan bahwa semakin tinggi rank atau tingkat seorang petualang maka semakin sulit pula quest yang diterimanya. Begitulah.
Akhirnya aku mengambil salah satu quest ber-rank F. Mencari tanaman herbal yang bernama Ephir. Tanaman yang mirip sulur tanaman anggur namun berwarna biru. Tanaman di sini benar-benar aneh. -_-
Dalam perjalanan aku bertemu sekelompok makhluk hijau kerdil yang membawa senjata pemukul dari kayu. Yap, itu goblin. Makhluk yang dikatakan paling mesum diantara semua monster yang ada.
Aku tidak mengira bakal melihat dengan mata kepalaku sendiri monster buruk rupa yang menjijikkan ini.
Diriku yang berjalan melewati mereka dengan tenang tanpa menghiraukan mereka yang menatapku lekat-lekat disertai hawa membunuh. Hoho... kalian mengincarku, ya....
__ADS_1
Satu persatu dari mereka mulai berlari mendekatiku.
Sudut di bibirku terangkat. Senyum licik dan terkesan dingin itu sudah lama tak kutunjukkan kembali setelah 3 berandalan menyebalkan itu.
"Master menyeramkan. Senyummu menyeramkan."
Tiba-tiba Erlia kembali bersuara. Dia terdengar sedikit... ketakutan?
(Kenapa tidak bilang dari awal? Kau juga terdengar ketakutan....)
"Itu karena master sudah menyentuh akar penghubung. Master pasti melihatnya kan akar-akar besar yang berbelit di tengah? Itulah akar penghubung. Sebelum itu, master belum benar-benar terhubung denganku, jadi... aku tidak bisa bicara seperti ini dengan master."
(Maksudmu... telepati? Apakah memungkinkan untukmu bisa ke-)
Para goblin menyerangku dengan kayu pemukul itu ke kepalaku. Kalau saja aku tidak berkelak ke belakang, mungkin kepalaku sudah retak dihantam kayu yang terlihat cukup berat itu.
"Cih! Mereka bahkan tidak membiarkanku menyelesaikan kata-kataku."
Dengan sedikit kesal, aku menyerang mereka satu persatu dengan tendangan, pukulan, bantingan, dan lainnya. Mereka yang merasakan serangan beruntunku tadi langsung tersungkur.
Aku yang melihat bahwa tak ada yang tersisa dari mereka pun dapat mendesah lega. Sempat aku berpikir begitu, tapi....
Buakh!
Sesuatu yang berat menghantam punggungku dengan keras.
"Akh!" erangku yang merasakan perih di punggungku.
Kutengokkan kepalaku ke belakang, dan ternyata ada satu lagi....
...Goblin!
"Itu sakit, kau tahu?"
Meskipun begitu, dia tak akan mengerti dengan ucapanku.
Kulancarkan tendangan berputar ke belakang mengarah tepat di kepalanya. Hantaman keras dari kaki kananku membuatnya tersungkur dengan darah yang keluar dari kepalanya.
"Hahh... Akhirnya selesai juga
..."
"Master lelah?"
"Tidak, aku hanya kesal. Entah mengapa, para goblin ini mengingatkanku pada berandalan itu," ujarku datar.
"Tadi itu... master ingin mengatakan apa?"
"Ah, bukan apa-apa."
....
"Kau bicara dengan siapa?"
Kutengokkan kepalaku ke kanan setelah mendengar suara gadis. Aku mendapati seorang gadis yang berdiri di samping pohon yang tak jauh dariku. Rambutnya merah muda sebahu. Mata yang berwarna sama dengan rambutnya itu tengah menatapku aneh.
Aku terdiam sejenak memikirkan apa yang akan kujawab padanya.
"Bukan urusanmu," ucapku datar seraya berbalik menuju tujuanku sebenarnya, mencari tanaman herbal dan menyelesaikan quest ini dengan cepat.
"Hei! Tunggu!"
Aku mendengar suara berlari lalu mendapati seseorang berdiri di samping kananku dan menyamakan langkahnya denganku.
"Apa?" tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku ke arahnya.
"Kau... seorang petualang juga?" tanyanya yang terdengar malu-malu.
Aku melirik padanya. Kepalanya tertunduk dan aku bisa melihat rona merah itu terpampang jelas di pipinya. Jari-jarinya tengah bergelut malu dengan kedua tangan lurus ke bawah, bersatu ke depan.
"Memang kenapa?" tanyaku lagi.
"M-ma-maukah kau... berparty... denganku?"
__ADS_1
"...Eh?"