
Aku membuka mataku yang terasa berat.
Gelap ....
Benar-benar gelap ....
Aku tidak bisa melihat apapun.
"Apakah aku buta?"
Aku memutar kepalaku ke kiri dan ke kanan mencoba mencari cahaya.
Dan aku menemukannya.
Cahaya yang merupakan ujung dari kegelapan ini.
Aku segera bangkit dari tempatku terbaring dan berjalan ka arah cahaya tersebut berasal. Semakin aku mendekat, semakin terang cahaya itu menyilaukan mataku.
Aku mengangkat tangan kananku untuk menghalangi cahaya yang masuk ke mataku.
Setelah beberapa langkah, memastikan bahwa aku sudah benar-benar keluar dari kegelapan itu, ku turunkan tanganku dan memperhatikan sekitar.
Saat itu, aku pun menyadari sesuatu ....
"Ini ...."
Semua yang ada di depanku benar-benar berbeda dari duniaku. Tak satupun disini yang kukenali.
"... dimana?"
Pohon-pohon berdaun lebat berwarna hijau kekuningan. Bunga-bunga yang mirip seperti kristal berwarna-warni. Udara yang begitu segar.
Ini benar-benar berbeda dari duniaku sebelumnya.
Melihat semua ini, ada sesuatu yang terus berputar di pikiranku.
"Apakah aku sudah mati?"
"Apa aku berada di surga?"
"Ini terlalu indah untuk sebuah dunia. Mungkin aku sudah di surga."
Pikiran itu terus berputar memenuhi otakku. Sebagai alih-alih menyingkirkan pemikiran bahwa aku telah mati, aku pikir ini adalah mimpi. Mimpi yang indah setelah semua penderitaanku.
Dumm! Dumm! Krakk!! ....
Seluruh pikiranku buyar begitu aku mulai mendengar suara langkah kaki raksasa dan seperti menabrak pohon untuk lewat. Terlebih lagi dengan guncangan semacam gempa kecil yang dihasilkannya.
Dumm! Krakk!! Dumm! Dumm! ....
Dan suaranya semakin jelas. Getarannya juga semakin besar. Burung-burung beterbangan menjauh dari asal suara tersebut.
Suara itu terus mendekat diikuti guncangan, lalu ....
... Aku melihatnya.
Awalnya dia hendak berlari melewatiku, namun begitu dia menyadari keberadaanku, dia berhenti.
Aku terbengong melihat sesuatu yang tak seharusnya ada di dunia ini.
Dua tanduk besar runcing berwarna hitam di kepalanya. Tubuhnya mirip gorila dan berwarna merah seperti daging. Cakar panjang di kedua tangannya yang masing-masing memiliki 5 jari. Tingginya sekitar 5 meter. Dan mata merah terang dengan kilatan putih. Terlebih lagi, wajahnya seperti serigala.
Berdiam disini bukanlah pilihan. Namun aku sama sekali tidak bisa menggerakkan kakiku. Seluruh tubuhku membeku karena takut. Apalagi monster itu berada tepat di depanku.
Dia mengangkat cakarnya tinggi-tinggi dan mengayunkannya.
Jika itu mengenaiku, mungkin aku akan merasakan mati untuk kedua kalinya.
Aku ingin berteriak. Aku ingin meminta tolong. Tapi, mulutku kaku. Jantungku berdebar kencang. Cakar itu terus mendekat. Tubuhku seluruhnya telah tertutupi bayangan monster. Tak ada harapan aku selamat dari ini. Siapapun, tolong aku!
Trangg!
Mataku terus terbuka melihatnya. Sesuatu menghadangnya. Tidak, bukan sesuatu. Tapi seseorang. Tak tahu pasti seperti apa rupanya karena dia berdiri memunggungiku sambil menahan kelima cakar itu dengan pedangnya. Sosoknya terlihat begitu kuat sehingga bisa menahan serangan dari monster yang bahkan melebihi ukuran tubuhnya yang ramping meskipun memakai armor dengan ukiran indah di seluruh tubuhnya kecuali bagian kepalanya. Dengan rambut panjang selutut berwarna coklat seperti karamel, aku tidak percaya dia bisa bergerak secepat itu. Semua itu cukup membuatku yakin kalau dia seorang gadis. Gadis berpenampilan seperti knight.
Sementara sibuk memikirkan itu, gadis itu dengan gerakan secepat kilat sudah memotong tubuh sang monster menjadi dua.
"Kau tidak apa-apa?" tanya gadis itu sambil menyarungkan kembali pedangnya di pinggangnya.
Perasaan takjub melihatnya membuatku tak sadar dengan pertanyaannya dan aku hanya terdiam tanpa menjawab sepatah katapun.
Heran kenapa aku tidak kunjung menjawabnya, dia menoleh padaku.
"Eh? Ah, unm. Aku baik-baik saja."
__ADS_1
Kenapa aku gugup?
Mata yang sama dengan warna rambutnya. Tidak buruk. Ternyata dia cantik juga...
Setelah mendengar jawabanku, seharusnya dia merasa lega. Namun, raut wajahnya berkata lain. Dia terlihat sangat terkejut begitu melihat wajahku.
Hm? Apa ada yang salah?
"K-kau ..." dengan wajah yang masih terkejut, dia memberikan reaksi seolah mengenalku.
"Hm? Ada apa?"
"T-tidak. Bukan apa-apa."
Dengan begitu dia kembali ke wajah semulanya yang nampak tenang dan bersahabat.
Dia berjalan mendekatiku dan mengulurkan tangan kanannya kepadaku. Dia tersenyum hangat.
"Perkenalkan. Saya Arelia Fortes. Knight sekaligus pengawal pribadi Putri Kerajaan Alfreiden."
Aku pun menyambutnya dengan tersenyum.
"Namaku Raizen Shiki. Salam kenal."
Dan tentu saja setelah aku melepas uluran tangannya, aku membungkuk sedikit untuk memberi hormat kepadanya.
Tapi, aku tak menyangka bisa mendengar langsung meski aku pernah membaca dari novel fantasi yang pernah aku baca.
Seorang knight, kah ....
"Ahahaha ... Anda benar-benar sopan, ya."
Dia tertawa kecil.
Walaupun dia seorang gadis yang seusia denganku, tetap saja dia terlihat seperti wanita dewasa dari perilakunya. Dan suara lembutnya membuatnya lebih mirip seorang ibu daripada seorang knight dan pengawal.
Kesampingkan itu, aku penasaran dengan reaksinya setelah melihat wajahku untuk pertama kali. Dia seolah-olah sudah mengenalku.
"Maaf, kalau boleh aku ingin menanyakan sesuatu."
"Ah, silakan. Anda bisa menanyakan apapun."
Dia menanggapiku tanpa terlepas dari senyumnya.
"Oh, itu ... sebenarnya tidak."
Tidak, ya. Kalau bukan begitu, lalu apa karena ada sesuatu di wajahku?
"Tapi tadi ... kenapa terkejut melihatku? Apa ada yang salah dengan wajahku?"
Senyumnya menghilang berganti serius begitu mendengar pertanyaanku yang kelihatannya telah menyinggung sesuatu.
"Tidak ada."
Tidak ada? Hanya itu? Lalu kenapa kau terkejut?
"Sebelum itu, mengapa Anda bisa berada disini?"
Kalau kau bertanya kepada seseorang setidaknya hapus dulu tatapan intimidasimu. Aku ingin mengatakan itu, tapi sebaiknya jangan. Mungkin aku akan berakhir seperti terakhir kali. Aku tidak ingin mengalami rasa yang menyakitkan itu lagi.
—————
"Oh, jadi seperti itu. Tapi, aneh sekali Anda tiba-tiba berada di hutan Elden. Apa Anda yakin tidak ingat apapun? Keluarga misalnya. Atau tempat tinggal. Jarang sekali saya bertemu dengan orang yang kehilangan seluruh ingatannya namun bisa mengingat jelas namanya seperti Anda."
"Aku juga tidak mengerti kenapa bisa seperti itu."
Tentu saja aku tidak akan mengatakan yang sebenarnya. Kuharap ini baik-baik saja. Aku tidak yakin identitasku tidak akan terungkap. Apalagi mengetahui dia seorang knight yang baru saja membunuh monster sekali tebas. Tapi kurasa dia percaya.
"Raizen-sama, aku akan memberitahukan satu hal padamu."
Ah, dia mengganti cara bicaranya. Gawat! Apakah dia menyadarinya?
Untuk suatu alasan, aku merasa tertekan dan berkeringat dingin.
"Tidak ada yang bisa membohongi Putri Anna."
Aku tidak bisa menahan keterkejutanku. Putri Anna? Mungkinkah dia adalah Putri Kerajaan Alfreiden yang dia sebut sebelumnya? Jika memang begitu, nyawaku dalam bahaya. Kalau identitasku terungkap, kerajaan akan memusnahkanku.
Bagaimana tidak, berasal dari dimensi berbeda tentu saja mereka akan menganggapku sebagai eksistensi berbahaya yang bisa dengan mudah mengganggu keseimbangan dunia mereka.
Tunggu, kenapa aku berpikir begitu? Ah, sudahlah. Jika memang identitasku akan terungkap, kurasa aku tidak bisa menyembunyikannya lagi. Terpaksa aku akan memberitahukan yang sebenarnya pada mereka. Kalau mereka memutuskan untuk membunuhku, biarlah. Tapi kuharap itu tidak terjadi.
"Raizen-sama, sebelum menemui Putri Anna, saya ingin mengajak Anda ke suatu tempat. Tapi sebelum itu, saya harap Anda menutup rapat mulut Anda tentang tempat yang akan saya tunjukkan. Karena ini rahasia negara. Tidak, rahasia Kerajaan. Anda mengerti?"
__ADS_1
Kalau memang rahasia Kerajaan, lalu kenapa memberitahuku?
Selain itu, kenapa aku merasa semakin dalam bahaya?
"Baiklah. Aku janji."
Setelah itu tak terjadi apa-apa diantara kami. Keheningan. Walaupun dengan suara-suara burung dan hewan lain, tak ada yang bisa memecah keheningan ini. Sudah 5 menit kami berjalan dari tempat dia menemukanku. Sebenarnya seberapa luas hutan ini?
"Arelia-san,"
"Ada apa?"
"Bisakah kau tidak berbicara formal padaku? Aku merasa ... sedikit tidak nyaman."
"T-tapi ... Raizen-sama itu ...."
"Kenapa?"
"T-tidak. Bukan apa-apa."
"Jadi? ...."
"Baiklah ...."
Hm? Kenapa dia merasa lega? Berarti sebenarnya kau memang tidak ingin bicara formal padaku. Yah ... mau bagaimana lagi, rasanya aneh. Selain itu, entah kenapa aku merasa dia menyembunyikan sesuatu dariku.
—————
"Kita sudah sampai."
Hm? Sudah sampai?
Pohon-pohon di depan kami tidak bisa dikatakan sebagai sebuah jalan. Karena pohon-pohon tersebut saling merapat satu sama lain dan tidak bisa dilewati begitu saja. Dan jalan yang kami lewati juga berhenti di depan rimbunan pohon. Bisa dikatakan ini jalan buntu. Tidak ada apapun disini yang menunjukkan sebuah tempat.
"Arelia-san, ini ...."
Sebelum kulanjutkan, Arelia bertumpu pada lutut kanannya dan menyentuh tanah di depannya dengan telapak tangan kanan. Seolah merespon sentuhannya, muncul lingkaran dengan simbol-simbol aneh berwarna biru dan tanah di sekitar kami mulai bergetar. Aku juga merasakan suatu energi aneh pada lingkaran itu.
"Kau juga merasakannya, kan? Mungkin kau sebut aneh, tapi inilah yang disebut mana. Energi yang digunakan sebagai tenaga utama dalam sihir." Seakan dia tahu pikiranku dia menjelaskan.
"Mana, kah ... Jadi seperti ini rasanya," gumamku.
"Ara ... sepertinya kau tidak pernah merasakan mana?"
Ah, aku menggali kuburanku sendiri.
Tunggu, bukankah dia duluan yang menjelaskannya padaku?
"Arelia-san,"
"Hm? Apa?"
"Kumohon jangan memancingku ...."
"Memancing? Apa maksudmu?"
"Tidak ... lupakan."
Dia kembali fokus pada lingkaran sihir (sepertinya) dan menggumamkan sesuatu.
"Fortune. Dewi yang memberi keberkahan kepada kami dengan melindungi, dengan keberuntungan tak terhingga yang membuat keamanan, kenyamanan, dan kedamaian. Dengan ini kami memohon, bukakan pintu suci dengan jalan yang kau berikan. Open Gate!"
Tiba-tiba terdengar suara yang mirip seperti terbukanya gerbang besar. Disaat yang bersamaan, di depan kami terbuka semacam gerbang yang tak terlihat dindingnya. Kupikir ukurannya besar, ternyata ukurannya sama saja dengan pintu rumah dua pintu.
Di dalam sangat gelap tanpa ada sekalipun cahaya yang masuk meskipun ini masih siang hari.
"Ayo, masuk," ajaknya seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam melalui pintu yang terbuka.
Aku mengangguk dan mengikutinya.
Setelah melangkah masuk, cahaya kebiruan menyala satu persatu dari kristal di dinding lorong seolah menyambut kami dan menunjukkan jalan. Pintu di belakang kami juga menutup sehingga tidak ada jalan keluar untuk kami.
"Ayo, ikuti aku," ucap Arelia sambil melangkahkan kakinya.
Tanpa basa-basi lagi, aku mengikutinya.
Udara disini sedikit dingin. Semakin ke dalam, mana yang kurasakan semakin kuat. Arelia terus melangkah ke depan tanpa menghiraukanku dan diam seribu bahasa. Dia jelas membawaku ke suatu tempat dan menyembunyikan sesuatu dariku. Walaupun sudah beberapa menit berlalu, aku masih ingat dengan keterkejutannya ketika melihat wajahku. Dia juga berbicara formal padaku seolah berbicara kepada orang yang berpangkat lebih tinggi darinya, misalnya Raja. Tentu saja itu membuatku penasaran. Tapi mau bagaimana lagi ... dia tidak ingin memberitahukannya kepadaku.
Tak lama kemudian, kami sampai di sebuah ruangan luas yang tepat di tengahnya terdapat beberapa akar yang menjulang ke atas yang meliuk-liuk mengitari satu sama lain. Tapi ada yang berbeda. Di tengah, akar-akar tersebut tidak merapat seperti di bawah dan atas, melainkan menjauh dan hasilnya seolah ada suatu lingkaran yang seharusnya berada di dalam. Namun itu kosong. Dan di sekeliling kami, tepatnya pada dinding terdapat obor api yang menerangi ruangan sehingga kami dapat melihat dalam ruangan tersebut.
Arelia yang berada di depanku berhenti melangkahkan kakinya dan berbalik menatapku. Dia tersenyum.
"Selamat datang di Arcore."
__ADS_1