Alfreiden Core

Alfreiden Core
Core 09 - [Pertemuan Kembali]


__ADS_3

"Huu~~... Seharusnya kau menolongku, bukan membiarkanku disiksa olehnya...."


"Maaf. Sebelum itu, apa yang kau lakukan di kamarku?"


"Shiki jahat...."


"Kenapa sekarang malah mengataiku jahat?" gumam Shiki yang berdiri tak jauh dari pintu kamarnya. "Baiklah, lakukan sesukamu," ucapnya pasrah seraya mendesah berat melihat Arelia yang tengkurap di atas ranjangnya dan membenamkan wajahnya di bantal milik Shiki.


"Apa dia selalu begitu?" tanya Shiki memecah keheningan yang terjadi sebelumnya.


Arelia mengangkat wajahnya dan kini dagunya lah yang bersandar di bantal.


"Unm." Dia mengangguk. "Kau tahu kisah 'Tragedi Bulan Darah'?" Arelia melirik ke kanan untuk memastikan jawaban Shiki.


Alih-alih menjawab dia hanya menggelengkan kepalanya sekali.


Arelia memutuskan untuk bangkit dan duduk di tepi ranjang menghadap Shiki yang masih memasang wajah datarnya... dia memang seperti itu.


Tak hanya itu, wajahnya berubah sedih mengingat cerita dari seseorang yang dia kenal sebagai sahabatnya. Hanz.


"Tentu saja kau tak tahu, ya... Tak ada pilihan lain, aku akan menjelaskan apa itu 'Tragedi Bulan Darah'. Sebelum itu, kemarilah."


Arelia memberi isyarat kepada Shiki untuk duduk di sampingnya.


Tanpa keraguan sedikit pun di hatinya, akhirnya Shiki duduk di samping Arelia dan bersiap mendengar kisahnya.


"Peristiwa yang dinamakan 'Tragedi Bulan Darah' ini terjadi sekitar 3 tahun yang lalu." Arelia pun memulai ceritanya.


"Itu belum lama ini."


Arelia mengangguk.


"Peristiwa ini bermula di sebuah kerajaan yang bernama Frelior. Aku pernah mengunjunginya hanya sekali saat aku masih kecil bersama orang tuaku. Itu merupakan kerajaan terindah yang pernah kulihat. Disana begitu tenang dan damai. Itulah pandanganku mengenai Kerajaan Frelior. Dari cerita orang-orang dan pemberitahuan dari Yang Mulia Raja, kerajaan tersebut secara mendadak diserang oleh seseorang yang sebelumnya pernah menghancurkan sebuah desa dan membunuh penduduknya dalam semalam. Bertepatan dengan malam bulan purnama merah, dia membantai warga dan keluarga kerajaan dengan brutal. Dikatakan bahwa mayat-mayat yang ditemukan di seluruh penjuru kerajaan tersebut sudah tidak utuh. Bisa dibilang tubuh mereka terpisah-pisah. Dan tak ada yang selamat dari insiden itu. Mengapa kami menyebutnya 'Tragedi Bulan Darah' itu karena bulan purnama yang berwarna merah menyinari darah yang tercecer di kerajaan tersebut. Selain itu, mengingat tak ada korban selamat, kami memperingati peristiwa tersebut setiap malam bulan purnama merah," jelas Arelia.


Mendengar cerita dari Arelia, Shiki hanya bisa terdiam menelaah kisah mengerikan dan keji itu. Dia tidak tahu harus merespon seperti apa. Jadi dia memilih untuk diam dan mendengar apapun yang akan dikatakan Arelia selanjutnya.


"Bicara soal itu, 2 bulan lagi bulan purnama merah akan muncul kembali."


"Oh, begitu." Itulah respon singkat dari Shiki yang masih memasang wajah datarnya.


"Jadi, apa hubungan ceritamu itu dengan Hanz? Kalau memang ceritamu itu tidak ada hubungannya maka tidak mungkin juga kau akan menceritakannya tanpa tujuan," lanjut Shiki yang seakan tidak tertarik dengan kelanjutan ucapan Arelia mengenai malam bulan purnama merah.


"Oh, itu... sebenarnya... Hanz adalah satu-satunya orang yang selamat dari kejadian itu. Teman-temannya yang sudah dia anggap sebagai keluarganya, terbunuh malam itu," jelas Arelia dengan nada yang sedikit rendah.


Jadi itu... alasan dia memiliki kesedihan mendalam di hatinya meskipun sudah dia tutupi dengan sempurna melalui senyumnya. Dia kehilangan hal yang berharga sama sepertiku. Batin Shiki.


Drap! Drap! Drap! Drap!


Terdengar suara langkah kaki berlari terburu-buru. Tidak hanya satu, namun banyak. Tak lama kemudian....


Brakk!


Pintu kamar terbuka keras menampakkan seorang prajurit istana yang terlihat panik.


"Arelia-sama! Ada buronan negara masuk ke dalam dan menyerang istana!" teriak prajurit tersebut yang tetap panik.


"Buronan negara?" Arelia yang dari tadi masih murung, kini menampakkan wajah serius dengan tatapannya yang mulai menajam. "Apakah maksudmu... Penyihir Kabut?"

__ADS_1


"Benar!" jawab prajurit itu dengan lantang.


"Baiklah. Dimana Hanz?" tanya Arelia yang sekarang sudah berdiri dan berjalan keluar. Tentunya dia masih memakai zirah peraknya dan rok putih selutut dengan pedangnya yang tersarung di pinggang kirinya.


"Hanz-sama sekarang sedang mencarinya."


Arelia menoleh ke belakang dimana Shiki sedang duduk di tepi ranjangnya.


"Shiki, berlindunglah ke ruang bawah tanah istana," ucapnya kemudian kembali melangkahkan kakinya keluar kamar lalu berlari bersama prajurit yang tadi menjemputnya.


"Penyihir Kabut, kah... Kurasa dia orang yang merepotkan."


----------


"Ini terlalu mendadak!" geram Raja menggebrak pegangan di sisi kanan singgasananya yang merupakan tempat untuk bersandarnya tangan.


"Aku tidak menyangka orang itu berniat akan mengambilnya secepat ini," lanjutnya yang masih terlihat kesal.


"Tenanglah, Yang Mulia. Anda tahu sendiri, dari laporan Arelia mengenai latihannya dengan Shiki-sama, kekuatannya tidak bisa kita remehkan. Bahkan menurut Arelia sendiri dia mungkin saja bisa mengalahkan buronan itu."


"Kau benar juga, Gravius." Raja mulai terlihat tenang. Namun kekesalannya soal kedatangan buronan itu masihlah belum hilang.


"Tapi, bagaimana jika terjadi sebaliknya?" tanya Raja yang sedikit panik.


"Anda tidak perlu khawatir, Yang Mulia. Kalau saja itu terjadi, saya sendiri yang akan turun tangan."


"Baiklah. Kuserahkan padamu, Gravius."


"Baik," jawab Gravius sambil membungkuk hormat ala bangsawan.


----------


Seorang pelayan wanita tengah bersikeras membujuk Anna yang berjalan cepat di lorong istana.


"Tidak sebelum aku menjemputnya," jawab Anna tanpa menoleh.


"Tapi, mungkin saja Shiki-sama juga telah pergi menuju ruang bawah tanah."


"Itu tidak mungkin. Aku mengenal dia itu orang seperti apa. Jika dihadapkan dengan hal semacam ini, dia tidak akan bersembunyi sementara yang lain bertarung mati-matian. Seperti ketika dia menyelamatkanku dengan mempertaruhkan nyawanya waktu itu. Kalau kau mau, pergilah dulu! Aku akan menyusul nanti bersama Shiki-kun."


Pelayan itu nampak memikirkan perkataan majikannya dan sekarang otaknya berputar untuk berpikir apa yang akan dia lakukan saat ini.


"Tidak! Biarkan saya ikut, Ojou-sama!" ucapnya lantang.


Senyuman terlihat mengembang di bibir merah mudanya. Dia menoleh dan menampakkan wajah senangnya terhadap pelayan yang masih mengikuti di belakangnya.


"Terima kasih, Silvia."


----------


"Cih! Dimana dia?!" Arelia yang tengah berlari di sepanjang lorong istana bagian utara, mendecah kesal karena tidak menemukan apa yang dicarinya.


Dia sendirian sebab prajurit yang menjemputnya telah dia perintahkan untuk berpencar mencari si buronan.


Seluruh penghuni istana sibuk dengan kedatangan tamu tak diundang yang sekarang dicap sebagai buronan level SS. Para pelayan sibuk menyelamatkan diri dan keluarga kerajaan menuju ruang bawah tanah istana yang merupakan tempat perlindungan teraman di kerajaan ini. Sedangkan para prajurit membantu knight mencari buronan tersebut untuk ditangkap maupun dibunuh.


Mendengar laporan prajurit itu sebelumnya, Arelia tidak perlu cemas untuk keluar istana dan menyelamatkan warga karena Penyihir Kabut itu tidak menyerang luar istana. Dia hanya menyerang bagian dalam istana.

__ADS_1


Sekilas, Arelia menampakkan raut kekhawatiran di wajahnya.


"Semoga Hanz tidak bertemu dengannya...."


----------


Di suatu tempat di dalam istana, tepatnya di aula pertemuan yang sangat luas, seorang pemuda berdiri di ambang pintu yang dari awal sudah terbuka sejak dia datang. Tubuhnya kaku, matanya menajam, kedua tangannya mengepal keras. Dia terdiam menatap sesosok pria misterius yang berdiri di tengah-tengah ruangan tersebut dengan menyunggingkan seringai iblis yang memperlihatkan gigi putihnya yang rata.


"Kau...," geram Hanz menggeretakkan giginya. "Beraninya kau menampakkan wajahmu setelah yang kau lakukan pada mereka semua!" teriak Hanz mengeluarkan semua kekesalan dan amarah yang telah dia pendam selama 3 tahun ini.


"Hah? Apa yang kau bicarakan?" tanya pria itu dengan nada sedikit mengejek.


"Rugin dan Frelior."


"Rugin dan Frelior? Apa itu? Apakah semacam senjata? Monster? Iblis?"


"Cih! Ternyata kau benar-benar melupakannya," gumam Hanz kesal.


"Tunggu dulu." Pria itu terlihat memperhatikan Hanz dari atas ke bawah lalu kembali lagi memandang wajahnya dengan ekspresi aneh. "Sepertinya aku pernah melihatmu..." Dia memutar otaknya untuk berpikir keras. Kemudian, seakan mendapat pencerahan, "Ah! Aku tahu kau! Kau anak lemah itu, kan?"


"Anak lemah, kah...," gumam Hanz menutup matanya mencerna julukan yang diberikan kepadanya.


"Dulu, kau sudah berani menolakku. Sekarang rasakan akibatnya, bocah!" Bukan dengan wajah marah, namun dia memperlihatkan raut kesenangan disertai tawa yang keras. Kemudian dia melancarkan serangan dengan melemparkan jarum-jarum beracun berukuran kecil ke arah Hanz.


"Hm... tidak buruk juga..." Hanz yang masih menutup mata itu kembali membuka matanya dan menangkis semua jarum dengan cepat menggunakan pedangnya yang sudah dia keluarkan dari sarungnya.


"Ha! Tidak buruk juga bagi anak lemah sepertimu!" ucap pria itu dengan nada meremehkan.


"Kau pikir serangan semacam itu mampu mengalahkanku. Kalau begitu, akan kuperlihatkan padamu... apa itu serangan."


Hanz melesat secepat angin dari depan lalu menebaskan pedangnya ke arah leher pria itu namun berhenti tepat sebelum bilah tajam pedangnya menyentuh kulit leher pria itu.


Tiba-tiba tubuhnya terasa panas dan dingin diwaktu bersamaan. Seluruh tubuhnya juga terasa nyeri bagaikan ditusuk ribuan jarum. Kakinya tidak bisa ia gerakkan, begitu juga dengan tangannya yang melemas hingga pedang itu jatuh dari pegangannya.


"A-apa... yang ter-jadi?" Hanz memaksakan bibirnya bergerak dengan suara bergetar.


"Hahahaha!!!" Pecahlah tawa pria misterius itu di hadapan Hanz yang jatuh berlutut. "Kau pasti tidak sadar kalau salah satu jarumku tadi menggores kulitmu, bukan?"


"Ti-tidak mung... kin...."


"Kalau kau tidak percaya, coba periksa tangan kananmu."


Dengan usahanya menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, dia mencoba mendekatkan tangan kanannya di depan wajahnya agar bisa melihat goresan yang pria itu bicarakan. Dan benar saja, kini terpampang jelas meskipun kecil, dia bisa melihat goresan di punggung tangan yang sejalur dengan jari kelingking. Sedikit darah segar mengalir dari luka kecilnya. Namun kulit di tepian luka gores itu memiliki warna berbeda yaitu ungu. Menandakan racun itu telah memasuki tubuhnya.


"Sudah terlewat 3 tahun aku membuat racun itu. Ternyata usahaku tidak sia-sia. Bahkan untuk orang yang telah mengalahkan knight terkuat di kerajaan hantu itu. Hahahahaha!!...."


Kerajaan hantu yang di sebutkan pria itu adalah Kerajaan Frelior. Karena tak ada penghuni lagi di sana. Yang ada hanya puing-puing bangunan yang hangus terbakar.


Hanz yang mendengar sindiran pria itu hanya bisa menggerutu dalam hati. Merutuk dirinya sendiri yang dia pikir masihlah lemah bahkan untuk menghindari luka kecil itu dia tidak bisa. Apakah yang dia lakukan selama ini sia-sia? Apa latihannya bersama paman Joan tidak berguna? Apakah hidupnya kini akan berakhir begitu saja? Sia-siakah dia bertahan hidup dengan dibekali dendam, amarah, kesedihan, dan kenyataan pahit? Dan tak adakah yang bisa menolongnya? Jika memang begitu, maka berakhirlah hidupnya disini tanpa arti apapun bagi orang lain. Begitulah yang dipikirkan Hanz ketika pria itu mengacungkan tombaknya yang entah darimana dia dapatkan bersiap menembus tubuh Hanz yang sudah tak berdaya.


Akan tetapi, dengan cepat pemikiran itu ditepis oleh suara seseorang dan suara benda terlempar.


"Seginikah usahamu melawannya? Apa kau mau menyerah begitu saja?" tanya seorang lelaki berambut hitam kelam memakai setelan hitam bercampur merah gelap di beberapa bagian berdiri di antara Hanz dan pria itu dengan tangan kanannya yang memegang pedang terangkat ke samping seolah dia baru saja menangkis sesuatu dan melemparnya ke sembarang tempat. Dan ternyata tombak yang sebelumnya berada di tangan pria itu telah terlempar jauh dari mereka dan mendarat di lantai dengan keras. Itulah suara benda terlempar yang Hanz dengar.


"Hanz, aku tahu kau dendam pada pria ini. Tapi jangan penuhi hatimu dengan itu untuk melawan Penyihir Kabut ini. Penuhi hatimu dengan perasaan orang-orang yang kau lindungi itu. Percuma kau lawan dia dengan hatimu yang mulai gelap. Amarahmu akan mempengaruhi ketenanganmu. Kau akan kesulitan melawannya bahkan dengan seluruh kekuatanmu jika tidak dengan perasaan yang tenang. Aku paham dengan perasaanmu itu. Lagipula aku juga pernah mengalaminya sebelum datang kemari. Tenangkan dulu dirimu, aku yang akan mengulur waktu untukmu. Setelah kau tenang, aku akan membiarkanmu menghabisinya sepuasmu," ucapnya tanpa menoleh dengan suara datar dan menurunkan tangannya kembali.


Hanz mencoba mencerna kata-kata yang dilontarkan kepadanya. Dia mulai bangkit. Kakinya gemetar menahan tubuhnya. Seluruh tubuhnya juga terasa sakit. Namun, setelah itu dia tidak merasakan apapun. Tubuhnya terasa seringan sebelum dimasuki racun. Tentu saja dia merasa heran dan bertanya-tanya.

__ADS_1


"Siapa yang menyembuhkanku?"


__ADS_2