
Penyerangan terhadap istana Kerajaan Alfreiden malam itu berhasil digagalkan. Hampir tak ada kerusakan berlebihan kecuali di aula pertemuan.
Pertempuran hebat yang berawal dari Shiki melawan hingga Hanz menghabisi Penyihir Kabut mengakibatkan lantai, dinding, dan sekitarnya rusak parah. Raja memerintahkan agar kembali merestorasi aula pertemuan.
Akhirnya, semuanya kembali seperti sebelum penyerangan. Wajah lega para penghuni istana nampak hampir di semua tempat di dalam istana. Mengerjakan tugasnya sehari-hari. Semuanya kembali tenang dan damai karena kematian Penyihir Kabut dan tak akan ada teror lagi seperti pembantaian di desa Rugin dan Kerajaan Frelior.
Kecuali mereka bertiga. Anna, yang mencarinya dimanapun sejak penyerangan berlangsung, sampai dia tak sengaja tertidur di kamar orang yang dia cari. Hanz, yang mendengarnya dari telinganya dan melihat dengan mata kepala sendiri ucapan yang tak ingin dia dengar dari seseorang yang baru saja dekat dengannya. Arelia, mendengar kabar langsung dari Hanz yang menceritakan semuanya.
Mereka bersedih. Mereka mencarinya ke seluruh pelosok kerajaan ini tapi tetap tak menemukannya. Perasaan putus asa mulai menghinggapi mereka.
Hati mereka terasa seperti tertusuk ribuan pedang. Kaki mereka lemas, tak kuat lagi berjalan menyusuri tempat-tempat yang tak mungkin mereka lalui.
Apakah mereka harus mencari di dalam tanah? Tidak mungkin. Karena mereka bukan mencari tikus tanah.
Apakah di laut? Mereka akan kelelahan di tengah jalan, maksudnya berhenti di tengah laut dan pastinya mereka bukan mencari ikan.
Lalu, apakah di atas langit? Mereka tidak bisa terbang. Tanpa bantuan sayap burung tentunya. Mustahil mereka meminjam sayap burung yang bahkan ukurannya jauh lebih kecil dari mereka.
Kalau begitu, dimana lagi mereka harus mencarinya?
Apa mereka akan menunggu sampai dia kembali?
Itu tidak pasti. Karena bisa saja dia tidak kembali lagi ke kerajaan ini dan tinggal atau berkelana di suatu tempat yang jauh dari mereka.
Sang Raja yang mendengar berita hilangnya seseorang yang penting bagi kerajaan pun turut menyebarkan titahnya untuk segera menemukannya apapun yang terjadi dan tentu saja dalam keadaan hidup.
Terduduk sendirian di kursi tahta-nya sembari memijat pelipisnya yang berdenyut, memikirkan konsekuensi menghilangnya orang yang dicari-cari. Dia tahu, cepat atau lambat para petinggi kerajaan di seluruh negeri akan mengincarnya untuk dijadikan bawahannya atau bahkan berniat membunuhnya. Mengingat kehadirannya yang telah mengguncang dunia, tak lepas dari kekhawatiran serta harapan akan kekuatan besar yang dia miliki. Dia bisa menjadi harapan dunia yang sudah terpecah belah ini sekaligus menjadi ancaman terbesar kehancuran dunia ini di masa mendatang. Dengan salah satu roh suci di dalam tubuhnya itu bukanlah hal mustahil untuk menghancurkan dunia dalam seminggu.
Sudah ratusan tahun sejak kematian Demon King yang telah meneror kehidupan di dunia selama berabad-abad tanpa henti. Kemunculan 4 orang ras manusia dengan masing-masing memiliki satu roh menjadi sebab malapetaka bagi sang Demon King yang keji. Tak ada yang tahu bagaimana mereka melakukannya. Namun, satu hal yang mereka yakini, 4 orang tersebut merupakan pahlawan yang telah menyelamatkan dunia dari teror mengerikan yang berlangsung lama. Selang beberapa tahun setelah kematian Demon King, satu persatu pahlawan itu menutup usia. Bukannya karena usia tua. Mereka bahkan belum genap melewati 25 tahun. Mereka meninggal tanpa sebab yang diketahui. Roh yang mendiami tubuh mereka sebagai bagian dari kekuatannya pun meninggalkan tubuh dingin dan kaku itu dan pergi ke suatu tempat yang jauh. Semua orang begitu mengagumi para pahlawan sampai-sampai menyebut keempat roh yang telah berpindah ke tempat tak diketahui tersebut sebagai 4 roh suci.
Tapi, dalam beberapa dekade, 2 dari 4 roh suci itu akhirnya ditemukan. Tak seperti sebelumnya yang mendiami dalam tubuh manusia. Salah satunya yang merupakan roh pengikat, ditemukan mendiami sebuah gua besar yang dikelilingi rantai perak yang nampak lebih keras dari adamantium dan lebih kokoh dari baja. Sedangkan satunya lagi, ditemukan mendiami sebuah bola biru seukuran bola basket tepat di tengah sebuah kerajaan besar. Saat itu kerajaan tersebut tengah diserang kerajaan lain. Semburan api panas dari mulut naga merah yang mereka bawa, hampir melelehkan semua tempat di kerajaan tersebut. Disaat jeritan manusia memenuhi udara yang semakin panas akan semburan api yang mendekat dengan cepat, bola tersebut bersinar terang dan serangan itu pun berhasil digagalkan dengan mudah.
Pasalnya, roh dalam bola biru tersebut merupakan roh pelindung.
Setelah itu, roh tersebut bersaksi dengan tulisan putih di atas tanah kerajaan itu menjawab pertanyaan semua orang bahwa mereka, 4 roh suci, tidak bisa lagi memasuki tubuh manusia karena kekuatan mereka yang melebihi batas kemampuan manusia dan sebagai gantinya mereka merasuki benda apapun yang mereka lihat pertama kali.
Dengan mengingat cerita dari mendiang kakeknya dulu, Raja mulai tenang dan memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa menemukannya. Dia sadar bahwa roh itu begitu berharga bagi kerajaannya. Saat itu juga dia menyadari satu hal.
"Belum pernah sekalipun 4 roh suci itu memasuki tubuh manusia lagi selama ratusan tahun ini, kan?" Dia bergumam tak percaya.
Matanya melebar seakan dapat keluar kapan saja. Mulutnya menganga ingin mengatakan sesuatu tapi tak berhenti bergetar. Dengan susah payah, akhirnya dia bisa mengucapkan dan bertanya pada dirinya sendiri.
"Dan roh pelindung itu ada pada tubuhnya sekarang. Mungkinkah... Shiki adalah pahlawan yang baru? Tidak, itu tidak mungkin. Hanya keempat pahlawan terdahulu saja yang mampu menampung 4 roh suci. Selain itu, Demon King juga sudah mati dan tak ada tanda-tanda dia akan bangkit kembali. Lalu, apa sebenarnya Shiki itu?"
----------
"Shiki-kun... dimana kau sekarang?" Kepalanya dia tengokkan ke kanan dan kiri untuk menemukan sosok lelaki yang dicarinya. Namun apa daya? Usahanya sia-sia. Sosok itu telah menghilang dari pandangan dan semakin jauh dari mereka.
__ADS_1
"Anna, sudahlah. Kita cari lagi esok pagi. Ini sudah terlalu larut." Gadis rambut karamel panjang itu menepuk bahu Anna yang terlihat begitu cemas. Di bawah matanya bahkan sudah ada kantung hitam. Menandakan kedua matanya sudah lelah dan butuh istirahat.
Ya, mereka bertiga mencari sampai malam.
"T-tapi..." Anna terlihat masih ingin menolak dan meneruskan pencariannya lagi. Tak peduli walaupun langit sudah gelap menunjukkan kekejamannya yang telah menelan senja yang indah.
"Anna-ojou, yang dikatakan Arelia benar. Kita harus istirahat dan melanjutkan pencarian besok. Aku tahu kau sedih karena kepergiannya tanpa pamit. Bukan kau saja, tapi kami semua juga sedih. Aku berhutang budi padanya karena menyelamatkanku yang sudah di ambang kematian sewaktu melawan penyihir itu. Bukan itu saja, dia juga memberiku kesempatan untuk membalaskan dendam keluargaku. Selain itu, jika kita tidak segera kembali ke istana, aku takut Yang Mulia Raja akan mengirim seluruh pasukan untuk mencarimu, Anna-ojou," terang Hanz di sebelah Anna.
Mendengar apa yang telah dikatakan oleh Hanz, Anna hanya bisa mendesah berat.
Sebenarnya dia tidak ingin kembali sebelum menemukan Shiki. Tapi, apa boleh buat? Ayahnya tidak akan rela kehilangan putri semata wayangnya.
Mereka bertiga, dengan berat hati, meninggalkan kota dan kembali menuju istana.
Sepanjang jalan, Anna terus menudukkan kepalanya. Matanya sayu. Jemarinya dia usapkan pada keningnya sejenak. Jejak kenangan itu masih terasa melekat sejak kemarin malam. Cairan bening meluncur lurus di pipi kirinya.
Dia tidak bisa mendeskripsikan perasaannya yang sebenarnya saat ini. Dia tidak tahu apakah dia harus bahagia atau marah ataukah sedih. Lelaki itu membuat hatinya luluh tapi juga membuat bingung.
Ciuman pertamanya bahkan rela ia berikan tanpa lelaki itu sadari.
Namun, malam itu merubah pemikirannya.
Buktinya ada pada keningnya saat ini.
Ya, jejak kenangan yang melekat pada keningnya itu adalah kecupan dari Shiki, lelaki peluluh hatinya.
Pikirannya sekarang berubah.
"Benarkah Shiki mengecup keningku untuk membalas ciumanku? Kalau begitu, berarti dia sudah menyadarinya."
Meski dia tidak bisa melihat wajahnya sendiri, namun dia tahu kalau sekarang wajahnya memerah.
----------
"Hahh... bodoh sekali aku...."
"Ada apa, master? Kenapa sampai mendesah begitu?"
"Aku lupa kalau aku tidak punya pakaian lagi selain ini," keluhku seraya melirik ke bawah, tepatnya bajuku.
"Hm?"
Sepertinya dia tidak mengerti maksudku.
"Kalau sampai orang melihatku dengan pakaian mewah ini, dia akan mengira bahwa aku adalah pangeran yang kabur dari kerajaan. Seragam sekolahku, kaos, dan jaketku tertinggal di lemari. Hahh... bodohnya aku kabur begitu saja tanpa mengambil pakaianku."
Akhirnya aku kembali mendesah.
__ADS_1
Kini aku duduk bersandar di bawah pohon yang rindang. Malam memang begitu cepat datang. Sudah 2 malam ini aku berada di luar kerajaan. Sekarang aku tiba di hutan sebelah utara kerajaan. Yang kudengar dari penduduk setempat, hutan ini bernama Esden. Namanya hampir sama dengan hutan Elden, tempat pertama kupijakkan kakiku di dunia ini. Selain namanya, hutan Esden ini sama dengan hutan Elden yang penuh tekanan mana yang berasal dari bunga kristal. Hanya saja hutan ini lebih aman dari hutan Elden.
Pedang perak yang kusandarkan di sampingku ini adalah satu-satunya senjataku dan yang menemaniku ikut merasakan hawa dingin yang menusuk tulang. Aku sendirian duduk termenung memandang bulan sabit yang ukurannya 2 kali lebih besar dari bulan di duniaku sebelumnya. Sebenarnya aku tidak benar-benar sendirian.
Aku berpikir, dari novel-novel fantasi yang pernah kubaca, dunia fantasi tempat tokoh utama memulai petualangannya, aku ingat ada semacam bangunan dengan perkumpulan para petualang yang memburu monster untuk mencari uang lewat quest. Kalau tidak salah mereka menyebutnya 'Guild'.
Dunia ini juga tak ada bedanya dengan dunia fantasi. Kalau begitu, apakah disini juga ada guild?
"Erlia,"
"Ada apa, master?"
"Kau tidak masalah menyebutku master?"
"Tenang saja, master. Ini memang keinginanku sendiri, jadi master tidak perlu khawatir."
"Tidak, bukan itu yang kukhawatirkan...," gumamku. Meski tidak dapat didengar siapapun, tapi sebagai roh yang tinggal di dalam tubuhku, aku yakin dia mendengarnya dengan jelas. Namun sengaja dia diam saja tanpa menggubris ataupun bertanya alasanku mengatakan itu.
"Baiklah."
Aku mendesah lagi. Kurasa dengan terpaksa aku menerimanya.
"Erlia, apa disini ada guild?" tanyaku langsung pada inti.
"Kenapa? Master tertarik?"
"Sepertinya memang ada ya?"
"Kalau master tertarik, aku akan memandu master ke tempat itu."
"Apa ada quest-nya juga?"
"Ada. Tentu ada upahnya. Tergantung questnya berbahaya atau tidaknya. Semakin berbahaya semakin besar bayaran untuk questnya."
Mendengar penjelasan singkatnya, aku mengangguk mengerti dan tak lupa kata 'oh' menyertainya.
"Menarik. Aku semakin penasaran dengan perasaan para tokoh utama novel fantasi. Baiklah. Erlia, antar aku ke guild besok."
"Sesuai keinginan, master."
Kalau dia berdiri di depanku, mungkin sekarang ini dia membungkukkan badan sambil mengangkat ujung roknya.
"Sebelum itu, segel kembali kekuatanku hingga 10% tersisa. Akan gawat kalau semua orang panik karena kekuatanku. Bisa-bisa mereka semua mengira aku adalah Demon King."
Sementara memikirkan bagaimana aku mengisi hidupku dengan berpetualang, tepat di sela-sela pemikiranku muncul pikiran lain.
"Apa yang Anna dan lainnya lakukan di sana saat ini?" gumamku sembari kembali menatap sayu bulan sabit di atas.
__ADS_1