Alfreiden Core

Alfreiden Core
Core 19 - [Langit Berbintang]


__ADS_3

Kami berdua duduk di atap penginapan, memandang ke atas langit malam yang dingin ini. Ribuan bintang memenuhi langit dengan bermacam warna yang tak dapat disebutkan.


"Indahnya...," kagum Irie dengan mata berbinar menengadahkan kepala menghadap langit penuh bintang ini.


"Sudah lama aku tidak melihat bintang bersama orang lain. Kira-kira, apakah Yumi berada di sana? Di antara bintang itu? Kalau memang begitu, mungkinkah dia sekarang melihatku dari sana?" gumam Irie.


Karena tak ada orang lain lagi di sini selain kami berdua, suara Irie cukup jelas terdengar di telingaku. Sekalipun dia merendahkan suaranya sampai hampir tak terdengar bagai angin lewat.


"Yumi... Dia teman yang kau ceritakan padaku itu?" tanyaku, dia memang tak menyebut identitasnya dan hanya menyebut namanya.


Dia mengangguk. Ada sedikit rasa perih di raut wajahnya yang tertutup bayangan rambutnya.


Mungkin kalau kuteruskan pembicaraan ini, dia akan semakin berat untuk membicarakannya. Wajar saja dia seperti itu, karena dia baru saja kehilangan teman satu-satunya. Walaupun itu sudah beberapa hari yang lalu.


Tiba-tiba aku teringat pertarunganku dengan Marcus sebelumnya. Setelah kuperhatikan, ada yang aneh dengannya. Selain itu, penjelasan Arelia sebelumnya juga membuatku heran dan penasaran.


"Irie, ada yang ingin kutanyakan. Kalau kau tidak bisa menjawabnya, itu tidak mengapa."


"Apa itu?" tanya Irie begitu mengalihkan perhatiannya padaku.


"Seseorang pernah bilang kepadaku, pedang dan sihir tidak bisa dipelajari atau digunakan dalam satu waktu."


"Yah, itu benar. Karena energi positif dan negatif akan saling bertabrakan jika menggunakannya bersamaan. Di dunia kami, mayoritas penduduk di sini adalah penyihir. Pengguna pedang atau senjata lainnya jarang ada di dunia ini. Tapi ada juga beberapa orang yang bisa menguasai sihir dan pedang. Namun kebanyakan, mereka lebih mengutamakan sihir daripada yang lain."


"Marcus itu... Dia pengguna pedang yang cukup hebat. Benturannya sangat keras. Gerakannya juga cepat. Keahlian dia memainkan pedang memang tak bisa diremehkan. Tapi kemampuan pengendalian sihirnya lumayan. Serangannya bahkan tepat mengenai titik vitalku. Sihir yang dia pakai itu bekerja secara sembarangan guna menghancurkan pihak lawan. Tapi dia mengonsentrasikan serangannya untuk menghancurkan titik vital lawan terlebih dahulu. Akibatnya, walau hanya satu, dia berhasil melumpuhkanku."


"Yah... sebelum itu, kau sudah mengalahkannya duluan," ujar Irie, tersenyum kecut.


"Kau hebat sekali, kau tahu itu?" lanjutnya kembali menatap bintang sambil tersenyum. "Dari dulu, tak ada yang sanggup mengalahkan Marcus. Kekuatannya diperkirakan menyamai para knight kerajaan. Dia merupakan petualang rank tertinggi di kerajaan Hullian ini. Meskipun tak sebanding dengan Kerajaan Alfreiden, sih... Oh, iya. Kau bilang, kau dari Kerajaan Alfreiden, kan? Kau pasti tahu seorang knight bernama Hanz di sana?" Tiba-tiba dia bertanya dengan antusias seolah telah mendapat jackpot.


"Y-ya.. Bisakah kau tak terlalu dekat denganku seperti ini?"


Dia mencondongkan tubuhnya terlalu dekat... Seharusnya tidak begini juga, kan, kalau bertanya pada seseorang?


Dan balasan atas jawabanku adalah....


Matanya berbinar-binar dan aku mendapat serangan pertanyaan darinya.


"Wah!! Bagaimana penampilannya? Apakah dia masih tetap keren? Pekerjaannya sempurna, kan? Dia masih lajang, kan? Apakah dia sangat kuat?...."


Dia ini... semacam fans beratnya, ya? Dari semua pertanyaannya yang sampai sekarang masih belum berhenti, kurasa dia hanya melihat bagian luar Hanz. Lalu, kalau dia melihat adegan hukuman pada Arelia, bagaimana reaksinya akan hal itu?


"Aku tidak bisa menjawabmu kalau pertanyaanmu dilancarkan sekaligus. Kau ini penggemarnya?"


"Ya, aku sangat mengaguminya. Aku mengagumi semua knight di Kerajaan Alfreiden. Mereka sangat tangguh. Knight kerajaan lain mungkin tak-"

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan di sini?...."


Perkataan Irie terpotong olehku yang saat ini berdiri dari tempatku, menatap tajam seseorang yang kini berada di bawah atap ini. Tepatnya seorang pria berambut merah dengan pedang hitam besar di punggungnya. Yang tidak lain adalah....


"...Marcus."


"Ada yang ingin kubicarakan dengan kalian. Aku ingin...."


Dia memakai perlengkapan seperti akan berburu. Senjatanya pun dia bawa. Jika dia berniat membalas kekalahannya, maka aku hanya harus melumpuhkannya. Tidak, orang yang berniat membunuh, dia harus bersiap untuk dibunuh. Dan berlaku sebaliknya. Aku tidak harus menahan diri.


Tapi jika dia memang ingin bicara baik-baik, tak ada salahnya untuk mendengarkannya. Mengingat sikapnya yang keras kepala, pastinya dia akan meminta ulang pertandingannya denganku.


"...bergabung dengan party kalian."


Dia mengucapkan itu sambil membungkukkan badannya.


Sungguh mengejutkan. Setelah apa yang dia lakukan padaku. Memfitnahku lalu mengajakku adu kekuatan yang sebenarnya dia tujukan untuk menyombongkan kekuatannya pada semua orang bahwa dialah orang terkuat. Dan sekarang, dia meminta agar bergabung dengan kami?


"Katakan tujuanmu sebenarnya, mengapa kau ingin bergabung dengan kami?" Tanpa menurunkan kewaspadaanku, aku menatapnya tajam.


"Aku tahu aku menyombongkan kekuatanku."


Oh, dia mengakuinya. Tidak buruk.


"Kepercayaan diriku akan kekuatanku yang tak terkalahkan di kerajaan ini membuatku menyesal setelah dikalahkan olehmu yang bahkan tak menggunakan sihir sedikit pun. Saat itu aku menyadari, bahwa dunia ini luas. Masih banyak yang lebih kuat dariku. Masih banyak yang lebih berpengalaman dariku. Setelah melihat kemampuanmu dalam menangkis setiap seranganku tanpa celah sedikit pun, aku berpikir untuk belajar itu darimu. Aku ingin melihat caramu bertarung, karena terlalu sedikit yang kau tunjukkan di pertarungan kita."


"Siapa 'dia' yang kau maksud?" tanya Marcus.


"Satu-satunya knight wanita di Kerajaan Alfreiden. Kalian pasti mengerti yang kumaksud," jawabku sembari menyilangkan tangan di depan dada.


"Arelia-sama? Tidak mungkin!!" celetuk Irie.


Reaksimu keliru, Irie. Seharusnya kau terkejut bukannya malah antusias begini. Ekspresimu tidak cocok dengan penolakanmu. Batinku setelah melihat matanya yang berbinar.


Dia ini bodoh atau tak pandai berekspresi?


"Jika itu benar seperti yang kau katakan, maka tidak heran kalau aku kalah darimu. Dari kata-katamu sebelumnya, sepertinya kau pernah melawannya."


"Yah, bisa dibilang pertarungan kami sangat gila. Gara-gara kami, arena pertarungan kerajaan untuk sementara tak bisa digunakan karena bagian dalamnya hampir hancur."


Entah kenapa, setelah mendengar perkataanku, mereka berdua memutih.


""Kalian seperti monster...,"" ucap mereka bersamaan.


"Kenapa dengan kalian?"

__ADS_1


——————————


Aku berbaring sambil menatap kosong langit-langit kamar yang gelap ini. Dua orang gadis di sini sudah tertidur lelap di satu ranjang. Sedangkan satu pria tidur di sebelahku, tepatnya di lantai.


"Lalu, kenapa kau tidur di sini?" tanyaku.


"Tenggat waktu di penginapanku sudah berakhir. Aku juga tidak menemukan penginapan lain yang kosong," jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya padaku dan tetap menutup matanya.


"Hah... terserah."


Aku hanya bisa pasrah.


Kini bertambah lagi orang dalam kelompokku. Awalnya seorang gadis aneh yang memaksaku untuk bergabung dalam party-nya, tapi malah menjadikanku ketua kelompok. Lalu seorang gadis kecil yang sengaja kutolong karena tak tahan dengan siksaan yang dia dapat, juga ikut. Dan sekarang, pria 20 tahunan sombong yang menantangku lalu kalah, kemudian bertobat dan ingin bergabung dengan kelompokku. Hah... aku pusing.


Kurasa aku akan keluar sebentar.


Aku pun keluar dari penginapan dan menghembuskan napas panjang di teras depan. Memandang lagi langit penuh bintang yang masih belum pudar warnanya. Aku baru sadar kalau langit di dunia ini lebih berwarna dan bervariasi daripada di Bumi.


Bintang-bintang yang sangat banyak, bertaburan dimana-mana bagaikan pelangi raksasa yang muncul setiap malam. Sedangkan di Bumi, aku hanya melihat beberapa. Samar-samar dan tak terlalu memuaskan.


Kalau saja langit di Bumi seperti ini, mungkin setiap malamnya akan lebih terang.


.


.


.


Hmm... Sepertinya aku tidak sendirian di sini. Kira-kira, siapa, ya?


"Hei, aku tahu kau di sini. Tunjukkan dirimu," ujarku tanpa mengalihkan pandanganku ke mana pun, karena aku tidak tahu pasti keberadaannya.


Sekelebat bayangan muncul dari sisi rumah warga menuju ke arahku kemudian berhenti tak jauh di depanku. Cahaya bulan membantuku untuk melihat sosoknya.


Dia memakai jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajahnya yang gelap karena tertutupi hoodie-nya. Tapi aku bisa melihat bibirnya yang menyunggingkan seringai iblis.


"Anda mengingatku, Pangeran?" tanyanya sembari membuka perlahan hoodie jubahnya dan menampakkan rambut biru gelap serta mata merahnya yang semerah darah.


"Siapa kau?"


"Eh? Kau tidak mengingatku?"


"...."


Siapa dia? Dia berlagak seolah mengenalku. Dia juga menyebutku "Pangeran", apa maksudnya itu? Mungkin dia salah orang.

__ADS_1


"Sayang sekali...," keluhnya. "Kalau begitu, akan kubantu Anda mengingatnya."


__ADS_2