
"Tungguu~ Jadilah party-ku~"
"Jangan terus mengejarku!"
"Ayolah~ "
"Tidak mau! Sudah berapa kali kubilang jangan mengejarku!"
"Aku tidak akan berhenti sampai kau mau!!"
Brakk!
"Aww...."
Aku menatap datar gadis pink ini yang sedang sibuk mengusap-usap pantatnya yang sakit.
"Kenapa kau berhenti tiba-tiba?" tanya gadis itu dengan suara parau. Mungkin dia benar-benar kesakitan.
"Salahmu sendiri menutup mata dan menabrakku. Jadi kau tidak ingin aku berhenti? Baiklah kalau itu maumu, aku akan pergi."
Baru selangkah, dia memegang pergelangan tanganku dan membuatku terpaksa berhenti.
"Kumohon... Aku terlalu takut mengajak orang lain."
Aku berbalik menghadapnya. Kulihat wajahnya yang murung. Matanya juga mulai berair. Dia beralih duduk bersimpuh.
"Lalu, kenapa kau mengajakku?"
"Karena kau berbeda," jawabnya singkat.
"Berbeda? Maksudmu?"
"Kau tidak terlihat menakutkan. Aku mengetahuinya dari matamu. Kau berbeda dari petualang lain, mereka menakutkan. Aku tidak suka cara mereka berkata ataupun bertindak. Mereka selalu berbangga diri dan sombong dengan peningkatan pada ranking-nya."
Aku menatap lekat gadis pink yang menundukkan kepalanya. Memang benar apa yang dikatakannya barusan. Itu terbukti di guild ketika aku untuk pertama kali memasukinya, mereka banyak yang memandang remeh diriku yang baru muncul di hadapan mereka. Jika dibilang pemula, itu sama sekali tidak salah. Aku disini belum sebulan penuh. Bisa dibilang aku merupakan pendatang baru. Bila berdasarkan kemampuan, aku setara dengan petualang kelas menengah. Mereka tidak menyadarinya sampai rank-ku dibacakan. Memangnya rank itu menentukan posisi seseorang? Kalau menurutku, rank atau tingkat itu hanyalah omong kosong. Aku tidak peduli rendah atau tinggi rank seseorang.
Gadis ini pasti juga berpikir demikian. Dia ini bukannya tidak peduli. Tapi dia membencinya. Hanya karena rank yang tinggi sudah membuat orang tersebut besar kepala. Apa jadinya jika orang itu dihadapkan pada seorang yang kuat seperti Demon King? Aku tidak yakin dia bisa menghadapinya. Bahkan berusaha mendekatinya pun pasti langsung mundur.
Gadis ini bukannya takut karena penampilan atau kekuatan. Dia takut dengan orang bertipe suka memanfaatkan orang lain. Orang bertipe ini sudah pasti termasuk orang yang takut menghadapi pertarungan sebenarnya, misalnya perang. Apalagi dengan Demon King. Biasanya orang macam ini senang memanfaatkan orang lain sebagai perisainya. Dia juga akan mengumpulkan orang-orang kuat melalui pidato bodoh yang terlalu menguras kata dan memprovokasi mereka sehingga banyak yang akan mengikuti jejaknya. Disaat pertempuran itulah dia akan menggunakan mereka seperti alat dan dia akan membuang mereka jika sudah tidak bisa dianggap berguna lagi.
Gadis ini takut akan dimanfaatkan oleh orang semacam itu.
Lalu, apakah yang dia lihat dari diriku ini bahwa aku tidak akan melakukan hal tersebut?
"Kalau aku berkata, aku suka memanfaatkan orang untuk kepentinganku sendiri dan menjadikan orang sebagai perisaiku, akankah kau percaya hal itu?"
__ADS_1
Dia mendongak sejenak lalu berdiri dan menatapku.
"Tidak. Aku percaya kau bukanlah orang semacam itu. Karena aku sudah bertemu dengan orang seperti itu dan dia mengambil temanku." Dia mengalihkan pandangannya ke samping bawah. Tidak lagi menatapku. Kedua tangannya juga terkepal kuat.
"Hanya aku yang menyadari apa yang akan dilakukan orang itu di lain hari. Temanku tidak setuju denganku dan memilih ikut dengan orang itu. Semua ini karena pidato busuknya. Kalau saja temanku tidak mendengarnya, mungkin aku sudah bersamanya hari ini. Beberapa minggu setelah aku meninggalkannya, aku mendengar berita dari orang-orang di guild. Party orang itu baru kembali dari dungeon dan temanku tidak bersama mereka. Orang itu mengatakan kalau temanku mengorbankan nyawanya demi mereka karena terjebak oleh sekawanan Ogre. Tapi ketika kutanya pada salah satu anggota party-nya, dia berkata lain. Apa yang dikatakannya itu benar-benar menambah kebencianku dan ketakutanku pada orang itu."
"Memangnya, apa yang dikatakannya?"
"Orang itu meninggalkan temanku saat dia masih sibuk melawan para Ogre yang menghadang mereka."
"...."
Aku tidak bisa berkomentar.
Aku mengerti perasaannya. Walaupun tidak pernah merasakannya sendiri, entah mengapa aku mengetahuinya. Perasaan dendam itu....
"Baiklah. Aku akan berparty denganmu."
"Benarkah?" tanyanya bersemangat dengan mata berbinar.
"Tapi dengan satu syarat."
"Apa itu?" Masih dengan suara bersemangat dan mata berbinar. Hanya saja kali ini tambah parah.
"Bila waktunya nanti tanpa sengaja kau mengetahui semua tentang diriku, berjanjilah untuk tidak membocorkannya pada orang lain."
"Shiki. Kau bisa memanggilku Shiki," balasku setelah melihatnya memasang ekspresi penuh tanda tanya.
"Hoi, jangan seenaknya memeluk orang!" tegurku.
Dia bahkan tidak menghiraukanku dan hanya menyengir sebelum akhirnya dia melepas pelukannya.
"Jadi, namamu?"
"??" Dia mengedipkan matanya beberapa kali tak mengerti pertanyaanku karena masih terpengaruh kesenangannya dengan persetujuanku untuk berparty dengannya.
"Kalau aku tidak mengetahui namamu, bagaimana aku harus menyebutmu? Tidak mungkin juga aku akan terus-terusan memanggilmu dengan sebutan 'kau'. Bukannya itu terdengar aneh? Jadi, siapa namamu?"
"Irie Spelcatra," jawabnya sambil tersenyum.
Nama di dunia ini benar-benar aneh. Tapi aku cukup menyukainya.
"Ayo, kita ke guild untuk mendaftarkan namamu ke dalam party-ku," ajaknya sambil menarik tanganku.
Namun karena aku masih diam di tempat, sementara dia menarikku dengan keras, akibatnya dia terjungkal ke belakang dengan pantatnya mendarat terlebih dahulu dan menimbulkan suara yang cukup keras.
__ADS_1
"Aduduh... sakit~" rintihnya sembari mengelus-elus pantatnya.
"Maaf, sebelum itu, aku harus menyelesaikan quest-ku dulu," ucapku.
Dia menghentikan kegiatannya dan menoleh padaku dengan memiringkan kepalanya.
"Quest? Quest apa?"
"Mencari tanaman Ephir."
"Ephir, kah?" Dia menyilangkan tangan di depan dadanya sambil berpikir keras. Kemudian seakan mendapat pencerahan disertai 'Ah!', dia kembali berdiri dan menjawab pertanyaannya sendiri.
"Aku tahu dimana mencari Ephir!"
----------
"Gua?"
Berkat pengetahuan Irie mengenai keberadaan Ephir, kami menjelajahi hutan lebat dan berhenti di depan sebuah gua. Hampir tak ada cahaya yang masuk karena terhalangi oleh rimbunan daun dari pohon-pohon tinggi di sekitar kami. Padahal ini masih siang. Namun di sini lebih seperti malam hari.
Selain itu, gua misterius di depan kami ini terlihat cukup menakutkan dan aneh. Kenapa kusimpulkan 'menakutkan'? Itu karena gua ini lebih gelap dari jurang. Keadaan sunyi di hutan cukup menambah kesan mengerikan di dalamnya. Dan mengapa gua ini aneh, karena gua ini dililit rantai emas yang berkilau. Selain menyeramkan dan aneh, gua ini juga terlihat indah. Di sekitar rantai emas tersebut, terdapat banyak tanaman merambat dengan bunga berwarna putih, merah, ungu yang menambah kesan keindahannya.
Deg!
Tiba-tiba saja, dadaku terasa sakit bagai dihantam palu besi yang besar dan berat. Rasanya sesak dan sangat menekan.
Deg!
Kini semakin terasa sakit dan berat sampai aku hampir kehabisan napas. Apa yang terjadi?
Aku ingin menanyakan itu pada Irie. Namun mulutku tersekat dan tak sempat mengeluarkan suara apalagi kata-kata itu.
Deg!
Untuk ketiga kalinya jantungku berdegup pelan sekaligus berat, kakiku lemas dan tak sanggup lagi menahan beban tubuhku hingga aku pun jatuh tersungkur sembari *** dadaku berharap rasa sakit ini segera menghilang.
"Shiki! Apa yang terjadi denganmu?! Shiki! Bangunlah! Shiki!"
Aku mendengarnya, Irie. Tidak perlu berteriak begitu. Aku ingin menjawabnya, tapi aku juga tidak mengerti dan aku tidak bisa mengeluarkan suaraku karena rasa sakit ini sangat menyiksaku.
Walau ini terasa sakit, tapi tidak sampai mematikan kelima inderaku. Irie dengan paniknya, membalikkan tubuhku dalam posisi berbaring.
"Vivera?!"
Kemudian, kesadaranku ditarik begitu saja dalam kegelapan setelah Erlia mengatakan sesuatu yang aneh. Lagipula, apa maksudnya "Vivera" itu? Apakah semacam nama seseorang?
__ADS_1
Selain itu, Erlia terdengar seperti mengenalnya....