
Untuk suatu alasan, aku berada di dunia lain yang disebut sisi lain bumi yang bernama Avrion. Dunia yang banyak memiliki potensi mana daripada bumi.
Seorang gadis bernama Erlia ternyata sudah berada dalam diriku selama 3 tahun. Dia menjelaskan secara tidak rinci mengenai 'kenapa aku berada dalam dunia ini?' dan menjadi misteri belaka. Dari semua penjelasannya, dia juga mengatakan kalau sebenarnya dia telah mengutukku. Ah bukan ... lebih tepatnya kalau dia memberi kutukan padaku. Abadi yang bisa mati? Itu sih sama saja dengan manusia lainnya. Tapi beda cerita lagi saat dia menjelaskan kutukan itu lebih jelas. Aku memang abadi untuk saat ini, akan tetapi Erlia bisa membunuhku kapan saja semudah bernafas dengan hanya mencabut kutukannya. Dalam artian lain, nyawaku sekarang ada di tangannya. Itu memang benar-benar kutukan.
Jika saja dia tidak menambahkan 'yang bisa mati'. Tidak, kurasa itu hanya memperburuk yang namanya 'kutukan'. Lebih baik seperti ini daripada abadi yang menderita karena hidup panjang dan tak bisa mati meski telah dihancurkan. Itu mengerikan.
Dalam penjelasannya juga dia menyebutkan '4 roh suci'. Sebenarnya apa itu? Dan Erlia bahkan tak menggubrisnya lagi setelah menjelaskan kutukan itu dan malah pergi. Kalau dibilang pergi itu salah. Kurasa ada semacam batasan waktu aku bertemu dengannya dan terakhir kali waktunya selama 15 menit. Itu waktu yang tidak biasa karena kalau memang dia sengaja pergi tidak mungkin waktunya bisa pas, tidak lebih tidak kurang sedetik pun.
Dan pada akhirnya dia belum menjawab pertanyaanku mengapa dia bisa berada dalam diriku.
Ah, sudahlah.
Akan kutanyakan lain waktu. Soal 4 roh suci itu kurasa bisa kutanyakan pada Putri Anna yang akan kutemui hari ini.
----------
Arelia terus menarik tanganku dengan tergesa-gesa melewati kota yang penuh orang berlalu lalang. Entah kenapa semua orang terus menatap kami dan berbisik-bisik yang tidak kumengerti. Ada juga yang terkejut seperti Arelia sebelumnya yang pertama kali melihatku. Apa memang ada yang salah denganku?
Mah ... berkat Arelia yang tak memberitahuku alasannya aku sudah tak peduli lagi.
Dia tak mempedulikan sekitarnya dan terus menarikku sampai akhirnya kami tiba di depan gerbang istana yang tinggi dan megah.
Setelah Arelia mengucap beberapa kata pada penjaga gerbang, kami masuk melewatinya tanpa masalah.
Masalah sebenarnya adalah ... di depanku kini berdiri istana yang besar dan megah dengan menara seperti Menara Jam di London, Inggris, hanya saja tak ada jam menempel disana.
Tapi tak ada waktu untuk mengaguminya sekarang. Arelia kembali menarik tanganku da masuk ke dalam istana tanpa ragu.
Di dalam ....
Seperti yang kuduga, istana memang berbeda dari bangunan besar lainnya. Lorong disini bahkan selebar 5 meter. Tak hanya itu, patung kesatria dengan gaya kedua tangan yang bersandar pada gagang pedang yang menancap di depan dan memiliki bentuk yang sama berjejer di sepanjang dinding lorong. Karpet biru panjang menghiasi lantai yang kami pijak.
Setelah berputar-putar istana, akhirnya kami sampai di taman. Tunggu, kenapa taman?
Di dekat air mancur bundar, seorang gadis tengah duduk di bangku taman sambil membaca buku.
Arelia menarik tanganku lagi dan mendekati gadis tersebut dengan berlari. Kami berhenti tepat di hadapannya. Rambut pirang sepanjang pinggang dan mata biru laut. Kesan pertamaku padanya adalah dia cantik seperti Erlia yang tak lama kutemui beberapa saat lalu.
"Putri Anna, saya membawa seseorang yang saya yakin anda akan tertarik padanya."
Dia menutup bukunya.
"Arelia-chan, sudah kubilang kan tidak usah seformal itu padaku. Lagipula kita teman sejak kecil. Kau sudah kuanggap seperti kakakku sendiri."
Dia menaruh bukunya di bangku dan memperhatikan kami.
"Jadi ... siapa yang kau bawa?"
"Shiki, ini adalah Putri Anna. Putri pertama Kerajaan Alfreiden," ucapnya mengenalkan gadis tersebut padaku.
"Anna, dia Raizen Shiki. Aku bertemu dengannya hari ini."
"Anna Louin de Alfreiden. Senang bertemu denganmu, Raizen-sama." Anna sedikit membungkukkan badan dan mengangkat ujung gaunnya hingga terangkat sedikit ke atas. Memberikan khas salam kaum bangsawan.
"Saya juga merasa terhormat bertemu dengan Anda." Aku sedikit membungkukkan badan dengan tangan kanan di dada. Salam bangsawan dibalas salam bangsawan juga.
"Anna-sama, mengingat saya bukanlah siapa-siapa jika dibandingkan dengan Anda yang merupakan Putri Kerajaan, saya tidak ingin Anda bersikap formal dan cukup panggil saya dengan biasa saja. Saya merasa tidak enak pada Anda."
"Hmm ... kalau begitu, boleh kupanggil Shiki-kun?"
"Jika Anda tidak keberatan."
Melihat sikapku dia hanya tertawa kecil.
"Shiki-kun, kau bisa memanggilku Anna saja. Sejujurnya aku tidak suka kalau temanku terlalu formal padaku."
Aku hanya bisa mendesah. Kurasa aku tidak bisa menolak.
"Baiklah, Anna. Apa itu cukup?"
Membalas pertanyaanku Anna menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Shiki-kun, kau sudah bertemu dengan Erlia-sama, bukan?"
Eh? Bagaimana dia tahu? Arelia bahkan belum memberitahunya. Selain itu, Arelia tidak tahu namanya.
"Kau pasti berpikir bagaimana aku tahu itu kan. God Eyes. Aku bisa melihat semuanya dengan mataku. Aku bisa melihat kebenaran dalam dirimu. Sebaik apapun kau berbohong, kau tidak bisa menipu mataku."
Jadi ini yang Arelia maksud dengan tidak ada yang bisa membohongi Anna.
Hahh ... ini berarti dia tahu identitasku yang sebenarnya.
"Demi keselamatan Shiki-kun aku tidak akan membocorkan identitasmu pada siapapun. Ini juga untuk kebaikan Kerajaan," ucap Anna.
"Kalau begitu ... Shiki-kun, mulai hari ini kau akan tinggal di istana bersamaku," lanjut Anna dengan senyum yang mengembang.
"............... huh?"
__ADS_1
-----------
Hari-hariku sebagai orang biasa yang tinggal di istana akhirnya dimulai.
Sudah 2 hari sejak Anna membiarkanku tinggal di istana.
Mereka memberiku kamar yang luas dengan kasur besar dan perabotan kelas satu yang lain. Ini terlalu berlebihan untukku namun apa boleh buat. Seharusnya aku bersyukur mereka membiarkanku tinggal disini daripada tidur di luar yang tak jelas.
Awalnya Raja ragu tapi akhirnya dia mengijinkannya. Tentu saja Anna tidak memberitahunya identitas asliku.
Seperti biasa, Anna duduk di bangku taman sambil membaca buku kesukaannya. Dengan cahaya matahari pagi membuat mahkota kecil di kepalanya bersinar. Gaun putih miliknya yang anggun menambah kesan kecantikannya yang melebihi seorang dewi.
Aku mendekatinya. Tapi setelah beberapa langkah ....
Duaarrr!
Suara ledakan di kota membuat langkahku terhenti dan berbalik.
Asap hitam terlihat mengepul ke atas langit. Dari yang kulihat letaknya tak jauh dari sini. Sepertinya istana ini diserang.
"Penyusup!"
"Ada penyusup!"
"Penyusup memasuki istana! Panggil bantuan!"
Teriakan prajurit kerajaan terdengar di seluruh penjuru istana.
Aku kembali berbalik melihat reaksi Anna mengingat dia Putri Kerajaan ini aku yakin dia tidak akan tinggal diam.
Seperti dugaanku, Anna berdiri dari tempatnya duduk dan tak sengaja melihatku.
"Shiki-kun?"
Di balik bayangan di belakang Anna, aku melihat seseorang berbaju hitam memegang sesuatu yang panjang di tangan kanannya sedikit demi sedikit mulai menampakkan dirinya.
Pantulan cahaya matahari langsung mengenai dirinya dan ....
... pedang di tangannya.
"Anna! Awas! Di belakangmu!"
Menyadari peringatanku Anna langsung berbalik dan melihat orang misterius berbaju hitam tengah melaju ke arahnya sambil menodongkan pedangnya lurus.
Tanpa sadar kakiku sudah melangkah dan berlari menuju Anna berdiri. Anehnya lariku sangat cepat dan mencapai Anna dalam waktu kurang dari 1 detik.
Tapi meskipun dengan kecepatan seperti itu, itu tak mengubah bahwa orang misterius itu sudah hampir mencapai Anna.
Dan akhirnya ....
Jleb!
... pedang itu menembus perutku.
"Guahh!! ...." Aku memuntahkan darah.
"Shiki-kun!!"
Dengan tenaga yang tersisa aku mencoba untuk berbicara.
"Anna ... larilah ... Aku yang akan mencegahnya pergi."
"T-tapi ...."
"Sudah, pergilah! Tak usah khawatirkan aku. Ugh! ..."
Dia mencoba menarik pedangnya dari tubuhku tapi dengan segera kugenggam pedang itu meski tanganku terluka karena tajamnya pedang untuk mencegahnya pergi.
Sial ... ini menyakitkan!
"Cepat pergilah! Cari Arelia dan bantu aku menangkap orang ini!"
Ya, tidak ada cara lain. Dengan begini dia akan pergi tanpa harus terluka. Setidaknya hanya ini yang bisa kulakukan untuk menyelamatkannya.
"B-baiklah. Shiki-kun, bertahanlah. Aku akan segera membantumu. Aku akan mencari Arelia dan membantumu. Jadi bertahanlah! Jangan mati ... Shiki-kun ...."
Kata terakhir yang kudengar darinya sebelum pergi meninggalkanku sendiri bersama orang misterius ini.
Sementara orang yang kuhadapi ini terus mencoba menarik keluar pedangnya tapi dengan semua usahaku pedangnya tertahan dengan kedua tanganku memegang bilah tajamnya.
Berapa lama aku akan bertahan dari ini?
Pandanganku mulai buram. Kakiku terasa lemas. Dan rasa sakit ini terus menyiksaku. Ini bahkan lebih sakit dari sebelumnya.
Sial ... aku tidak bisa memikirkan hal lain selain ini. Bisa dibilang ini bunuh diri.
Darah terus keluar dari lukaku. Tubuhku semakin lemas seakan aku bisa jatuh kapan saja.
__ADS_1
Dia tak mau melepas pedangnya. Sepertinya hanya ini senjata yang dia miliki untuk membunuh Anna.
"Shiki ...."
Tiba-tiba suara seseorang yang kukenal menggema di pikiranku.
"Er-lia? ...."
"Aku lupa mengatakan satu hal. Aku bisa menciptakan penghalang. Kau bisa menggunakannya untuk mengurung orang itu."
"Penghalang? Tapi bagaimana caranya?"
"Hei! Apa yang kau bicarakan?!" Setelah sekian lama akhirnya orang misterius ini membuka mulutnya.
Tapi aku tak menghiraukannya dan terus mendengarkan Erlia.
"Cukup ikuti aku. Pertama lepaskan pedang itu. Jangan membantah dan turuti aku."
Aku melepaskan peganganku pada pedang tersebut dan membiarkan orang itu menariknya kembali.
"Ugh! ...."
Sial, itu sakit!
"Kedua, fokuskan aliran mana ke tanganmu dan bayangkan apa yang akan kau ciptakan. Dalam kasus saat ini, kau harus menciptakan penghalang."
Aku mengikuti arahannya. Aku merasakan sesuatu yang hangat mirip yang kurasakan di Arcore waktu itu mulai terkumpul di tangan kananku.
"Bagus, kau mengikuti arahanku dengan baik. Ketiga arahkan tanganmu pada orang itu dan katakan 'Barrier Prison' kemudian itu akan terlepas dengan sendirinya."
Sesuai ucapanya, aku mengangkat tangan kananku ke arahnya dengan cepat sebelum dia kabur.
"[Barrier Prison]!"
Seketika sebuah dinding biru tembus pandang muncul mengelilingi dan mengurung orang itu di dalamnya.
"Hah! Apa ini?! Keluarkan aku!"
Dia berteriak sambil menggedor dinding yang kuciptakan.
Tapi itu menguras banyak mana. Ditambah dengan lukaku, aku tidak bisa mempertahankan keseimbanganku hingga akhirnya aku jatuh tersungkur di atas tanah yang penuh rerumputan.
Rumput yang kutimpa berlumuran darah yang terus keluar dari luka di perutku.
"Shiki-kun!!!"
"Shiki!!"
Dua gadis berlari ke arahku. Siapa lagi kalau bukan Anna dan Arelia.
Di belakang mereka ada satu orang yang tak kukenal. Lelaki yang memakai armor perak berbaju hitam dengan garis putih dan kain biru di bahu kanannya. Rambut abu-abu dan mata hijau. Kesan pertamaku padanya adalah kemungkinan besar dia salah satu knight sama seperti Arelia.
"Shiki-kun, bertahanlah!"
Meskipun kau bilang begitu, aku tidak bisa menahan lagi. Mataku terasa berat dan aku tak bisa menggerakkan tubuhku sedikit pun.
"Shiki-kun!"
Mataku yang berat akhirnya menutup dan memisahkanku dari dunia.
Hanya kegelapan yang kulihat.
Disaat itu pula kesadaranku menghilang.
----------
Perlahan tapi pasti aku membuka mataku.
Langit-langit yang tidak asing.
Perasaan ini ... kurasa aku di kamarku yang baru-baru ini kutempati.
"Kau sudah bangun?"
Aku menoleh ke sumber suara yang terdengar tak jauh dariku.
"Anna ...."
"Hahh ... syukurlah ... kukira kau tak akan bangun lagi ...."
"Memangnya berapa lama aku tak sadarkan diri?"
"17 hari. Ya ampun ... kau terlalu memaksakan diri. Dengan luka parah seperti itu kau malah menggunakan sihir tingkat tinggi. Kau tahu, kami kesusahan menghancurkan penghalang yang kau buat. Tapi untunglah setelah 5 hari penghalang itu melemah dan kami bisa menghilangkannya dengan sihir tingkat menengah. Tapi tetap saja itu sulit."
Terlihat di wajahnya yang lelah dia telah mengalami hal sulit sementara aku tidur disini.
"Benarkah?"
__ADS_1
Dia mengangguk merespon pertanyaanku.
"Ya. Sungguh ini membuatku heran ... Shiki-kun, siapa sebenarnya dirimu?"