
Trang! Sring! Prang!
Dentingan pedang beradu bergema di seluruh ruangan. Percikan-percikan bunga api yang dihasilkan dari pedang yang bergesekan menghiasi ruangan bagai lampu berkelip-kelip. Dua cahaya hitam merah dan hitam gelap melesat dengan kecepatan abnormal yang mengakibatkan mereka memiliki ekor panjang dengan warna yang sama mengikutinya.
Orang yang melihatnya pasti berpikir kalau itu adalah dua komet yang saling berbenturan dan meledak kecil bagaikan kembang api. Tentu saja itu bukan komet sungguhan. Itu adalah Shiki dan Penyihir Kabut.
"Aku tidak mengira kau bisa menyaingi kecepatanku walaupun kau seorang penyihir."
Shiki berdiri di lantai lalu melesat lagi menebaskan pedangnya secara vertikal tapi dengan mudahnya ditangkis.
"Tentu saja! Aku bukan penyihir biasa!"
Penyihir Kabut menapakkan kakinya ke lantai tepat di bawahnya setelah berhasil menangkis serangan Shiki barusan.
Pertarungan mereka berlangsung selama hampir setengah jam. Penyihir Kabut itu terlihat sedikit kelelahan dan keringat meluncur dari pelipisnya. Meski begitu, mata merahnya berbinar. Dia melayangkan seringainya kepada Shiki. Raut wajahnya memancarkan kepuasan.
Sedangkan Shiki, dia....
(Darimana kekuatan anak ini? Bahkan dia tidak terlihat lelah sama sekali?! Apa dia benar manusia?)
Itulah yang dipikirkan Penyihir Kabut terhadap Shiki yang sungguh berkebalikan darinya. Dia masih kering (tidak berkeringat maksudnya...-_-).
"Sudah lama aku tidak menghadapi seseorang sepertimu," ujarnya dengan senyum kepuasan yang masih melekat pada wajahnya.
"Benarkah?" tanya Shiki yang terlihat tidak terlihat tertarik. "Maaf, tapi aku tidak peduli," ujar Shiki yang kemudian menyarungkan pedangnya kembali pada sarung di pinggangnya dan berbalik menuju Hanz yang masih terduduk diam di belakang.
"Kuserahkan sisanya kepadamu, Hanz," ucap Shiki segera berlalu melewati Hanz ke arah pintu.
Tapi dia berhenti sebelum keluar dari ruangan tersebut. "Oh iya, Hanz." Dia menoleh sedikit ke belakang tanpa berbalik menatap Hanz yang kini sudah berdiri menghadapnya. "Jika memang kau masih membiarkannya hidup, katakan pada musuhmu itu, 'Kalau kau menginginkanku, jangan ganggu pihak lain yang tidak bersalah, tapi carilah aku tanpa membuat masalah pada yang lainnya'."
Setelah itu, Shiki mengatakan sesuatu lagi kepada Hanz lalu berbalik pergi keluar dari ruangan, meninggalkan Hanz yang masih terpaku dengan ucapan Shiki.
"Dia... tersenyum...?" Dia bertanya-tanya tanpa seorang pun menghiraukannya karena hanya dia saja yang bisa mendengarnya. Sementara Penyihir Kabut itu berjarak beberapa meter jauhnya dari tempatnya berdiri.
Dengan perasaan kaget, dan sesuatu yang begitu menyakitkan terasa di lubuk hatinya. Sudah lama dia tidak merasakan perasaan ini lagi dan membuatnya terasa lebih perih dari sebelumnya. Walaupun dia baru saja akrab dengannya, tapi yang dia rasakan lebih dari itu. Seolah dia telah mengenalnya lama sekali. Karena kata-kata itu, meskipun dia laki-laki, tanpa sadar cairan bening menetes jatuh dari mata kanannya.
"Kenapa kau mengatakan 'selamat tinggal'?"
Zrtt... Zzrrtt... Zzrrrrtt....
Bersamaan dengan itu, percikan-percikan petir berwarna biru muncul di kedua tangannya. Dengan awal ukuran yang kecil kemudian membesar memenuhi seluruh tubuhnya.
-----------
Tap... Tap... Tap....
Langkah pelan sepasang kaki bergema di lorong yang sepi dan gelap dengan cahaya yang remang-remang. Karena rambut dan pakaian yang serba hitam, hanya tampak wajah yang putih pucat dan mata ungu yang tajam namun terkesan datar.
__ADS_1
Dalam pikiran, kata-kata itu muncul.
"Itu karena aku menginginkanmu. Jika saja aku tidak merampasmu dari kerajaan ini segera, mungkin yang lain akan memperebutkanmu. Bahkan Demon King yang sudah mati pun pasti akan menginginkanmu disisinya."
Perkataan Penyihir Kabut itu masih terngiang di kepalaku sejak pertarungan tadi. Apa maksudnya menginginkanku? Kenapa semuanya menginginkanku? Bahkan Demon King katanya? Lagipula apa istimewanya diriku ini?
"Sudah lama tidak melihatmu tersenyum, master."
Suara lembut yang terdengar senang bergema di pikiranku. Tepatnya ini telepati.
(Kau bisa melihatnya?)
Seperti biasa aku bicara lewat pikiranku agar tak ada yang mencurigaiku sebagai orang gila. Meski aku tahu disini tidak ada orang sama sekali.
"Bukannya melihat, tapi aku bisa merasakannya," jawabnya dengan nada riang masih terkesan berwibawa.
Aku penasaran, dimana sifat marahnya itu?
(Erlia, apa kau masih marah dengan yang kukatakan waktu itu soal buah dadamu yang kau ayunkan dengan sengaja di depanku?)
*Note: Ingat ketika Erlia dan Shiki pertama kali bertemu di Arcore?*
"JANGAN UNGKIT MASALAH ITU LAGI!! SHIKI HENTAI!"
*Note: Hentai artinya mesum*
Dia marah.
----------
Kilatan biru terlihat melintas berkali-kali di langit-langit ruangan mengejar cahaya hitam bagai komet berekor itu. Suara pedang berbenturan menjadi pelengkapnya.
Hanz dengan pedang yang telah dilapisi petir biru menyerang dengan membabi buta. Penyihir Kabut terus menghindar dan menangkis serangannya dengan pedang di genggaman tangannya.
"Aku tidak punya urusan denganmu, bocah keparat!" teriak penyihir itu seraya menangkis tebasan menyamping yang berasal dari Hanz.
"Diam kau!!" Bentak Hanz kesal lalu menyerang lagi. Kali ini tebasan dari atas disertai petir biru yang juga menyambar ke tubuh Penyihir Kabut.
Zrraashh!....
"AAAAKKHHH!!!"
Serangannya berhasil membuat penyihir itu memekik kesakitan dan jatuh ke lantai dengan keras.
"Sialan KAU!!" geramnya sembari menahan rasa sakit di tubuhnya.
"Rasakan ini!! Rain of Spear, Browlinder!"
__ADS_1
Bersamaan dengan teriakan yang menggema di penjuru ruangan, ratusan tombak merah melayang di langit-langit ruangan dan mulai menghujani tanpa celah. Tentu saja si pembaca mantra terhindar dari serangan itu. Akibat benturan tombak yang menancapi lantai, debu-debu tebal beterbangan dan menyebabkan seluruh ruangan tertutup sepenuhnya.
Dengan perkiraan percaya dirinya membuat dia menyengir dan hampir tertawa puas. Karena tak seperti yang dia pikirkan, Hanz tiba-tiba muncul di depannya dengan pedang di tangan kanannya yang mulai mengayunkan pedangnya secara horizontal. Sasarannya adalah....
Zlaash....
Kilatan keperakan bercampur biru itu melintas melewatinya dengan lurus bagai tanpa hambatan.
Brukk!
Sesuatu jatuh dengan keras dan menggelinding di lantai menyisakan sebuah tubuh tanpa kepala yang memuncratkan banyak darah di lehernya. Dan tubuh tersebut tumbang ke belakang.
Tetesan cairan merah kental jatuh satu persatu dari ujung pedang perak yang menggantung ke bawah. Tangan putih dengan noda merah tengah memegangnya dengan erat penuh ketegangan dan sedikit gemetar. Wajahnya menampakkan kesedihan sekaligus rasa senang. Kesedihan karena kehilangan hal berharga baginya. Dan senang karena akhirnya bisa membalaskan dendam keluarganya yang merupakan seluruh penduduk Kerajaan Frelior.
Air mata yang sebelumnya keluar dan bisa dibendung. Sekarang air matanya kembali menyeruak keluar tak dapat dibendung lagi. Kakinya lemas dan jatuh berlutut sambil berusaha menahan tangisnya.
Hatinya sangat sakit. Begitu sakit hingga dia meremas dadanya sendiri kuat-kuat.
Malam itu, Hanz kembali menangis keras dengan perasaan menyakitkan yang masih membenam di hatinya.
----------
Sepasang mata ungu tengah memandang sosok cantik bagai bidadari yang tertidur pulas di atas ranjang. Walaupun ruangan ini gelap dengan remang-remang cahaya bulan yang memancar dari jendela di samping kirinya, rambut pirang keemasan yang panjang itu cukup berkilau. Gaun berwarna cream dengan renda di lengan dan ujungnya serta mahkota emas berukuran kecil masih menempel lekat di kepalanya.
Di samping bawah ranjang di hadapan lelaki itu, seorang gadis pelayan berambut merah juga tertidur pulas, duduk di bawah bersandar pada tepi ranjang.
Wajah mereka begitu damai, namun raut kekhawatiran juga menyertainya.
Lelaki itu menundukkan kepalanya. Melangkah pelan mendekati si gadis yang terbaring tidur di ranjang. Rambut hitamnya melambai mengikuti anggukan jalannya. Pedang perak yang tersarung di pinggang kirinya ikut bergoyang menimbulkan suara denting kecil gesekan antara sarung pedang dengan bilah pedangnya di dalam.
Setelah dekat, dia menghentikan langkahnya. Kembali menatap si gadis berambut pirang.
Gadis itu adalah Anna.
"Shiki... Shiki...."
Dia sedikit terlonjak kaget mendengar Anna menyebut namanya meskipun dalam tidurnya.
Kedua ujung bibirnya sedikit terangkat ke atas. Senyum tulusnya muncul begitu saja ketika dia sangat menginginkannya. Hanya sebentar, ujung bibirnya pun kembali seperti semula. Kembali ke wajah datarnya yang biasa. Namun, di balik itu, perasaan menyesal muncul di hatinya.
Tapi itu tak membuatnya ragu untuk mendekatkan wajahnya hingga wajah mereka berdua begitu dekat sampai bisa merasakan napasnya masing-masing. Shiki sedikit menaikkannya lalu mencium kening Anna dengan lembut agar tak membuatnya terbangun.
"Maafkan aku, Anna. Hanya ini yang bisa kulakukan untukmu. Aku tidak bisa membalas ciumanmu waktu itu."
Dia pun menjauh dan kembali berdiri menatap Anna yang masih tertidur pulas. Tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi, Shiki melangkahkan kakinya keluar. Namun, dia berhenti tepat sebelum kakinya melewati ambang pintu.
"Selamat tinggal, Anna...."
__ADS_1
Kemudian dia melanjutkannya dan meninggalkan Anna yang damai dengan tidurnya. Ketika daun pintu tertutup, terdengarlah suara Anna lagi.
"Jangan... tinggalkan aku... Shiki...."