
Aku menatap tajam lelaki di depanku. Berdiri dengan tenang tanpa sedikit pun menurunkan kewaspadaanku.
"Siapa kau ini? Apa yang kau inginkan dariku?"
"Aku tidak menginginkan apapun. Aku hanya menyapamu saja, Pangeran," jawabnya sambil tersenyum.
"Daritadi kau terus menyebut 'Pangeran', sebenarnya apa maksudmu?"
"Hoo~ Jadi Anda benar-benar tidak mengingatnya?" Dia kembali menunjukkan seringai iblisnya dan gerak-gerik tangannya seperti hendak mengambil sesuatu dari balik punggungnya yang tertutupi oleh jubah. "Kalau begitu, akan kubantu kau mengingat semuanya, Pangeran."
Tiba-tiba saja dia menghilang dari jarak pandangku. Aku masih merasakan hawa membunuh yang kuat berasal dari lelaki itu. Pasti dia tak jauh dariku.
Lalu, aku merasakan sesuatu di belakangku. Refleks, aku pun menoleh dengan cepat. Dan benar saja. Dia di belakangku, bersiap untuk menebaskan belati itu ke kepalaku. Tanpa pikir panjang, aku langsung menghindar ke kiri. Hampir saja belati itu mengiris telinga kananku.
Jadi, dia berniat membunuhku, kah....
Tak membiarkan aku bernapas lega, dia kembali melancarkan serangan horizontal. Aku berjongkok dan memutar kaki kananku untuk menggempur kakinya. Tapi aku menjagal angin. Ternyata dia menghilang lagi.
Aku menoleh ke belakang dan mendapati kaki kanannya yang sudah mendekatiku.
Buk! Whuuss... Brakk!
Kakinya berhasil menghantam dadaku dan aku terlempar jauh sampai punggungku menabrak dinding dengan keras. Ah, aku bisa mendengar suara tulang yang retak.
"Akh!"
Sial! Aku tak cukup cepat menghindarinya. Dia cepat sekali dan sangat kuat.
Dinding di belakangku retak. Tulang punggungku sepertinya patah. Darah segar mengalir dari ujung bibirku.
Dengan susah payah aku mencoba berdiri. Punggungku terasa sangat sakit setiap kali aku menggerakkan tubuhku.
Dia berjalan pelan mendekat.
"Ne, Pangeran, ini sama seperti waktu itu. Aku menebasmu dan kau menghindar. Kau menghindari seranganku semudah membalik tangan meskipun kau sudah terluka parah. Pantas saja kau bisa mengalahkan Demon King bersama 3 teman konyolmu itu." Dia mulai bernostalgia.
Hah? Apa yang dia bicarakan? Aku sama sekali tidak mengerti apa yang dia ocehkan.
"Tapi tetap saja kau kalah dariku, seperti sekarang ini. Ya kan, Pangeran?" lanjutnya.
Dia semakin mendekat dan akhirnya berhenti tepat di depanku.
Entah kenapa tubuhku tidak mau bergerak. Seolah membeku.
Tanpa kusadari, tangan kirinya sudah mencengkram leherku. Seiring waktu, cengkraman tangannya semakin menguat. Aku tidak bisa bernapas. Rasanya sesak dan sakit.
"Kkkhh... Le... paskan... aku...."
"Hihihihi... Ternyata kau masih sama seperti dulu. Pangeran yang lemah."
Dia semakin mengeraskan cengkramannya.
"Akh!" erangku.
Aku berusaha untuk melepaskan tangannya. Tapi itu sia-sia saja. Tangannya tak bergeming. Leherku serasa mau patah dan sesak ini menyiksa paru-paruku.
Apa yang harus kulakukan untuk membebaskan leherku dari tangannya?
__ADS_1
Aku yang terus berusaha lepas darinya, sementara dia seperti sedang berpikir keras.
"Hmm... kira-kira, dimana aku menusukmu waktu itu, ya? Hmmmm... Ah! Benar. Sepertinya di... SINI!"
Dia mengarahkan ujung belatinya ke jantungku dan melayangkannya dengan cepat.
Aku tidak akan membiarkanmu mengoyak jantungku!
Dengan cepat pula kuhentikan serangannya dengan kedua tanganku mencengkram tangannya yang memegang gagang belati itu. Alhasil, serangannya terhenti saat ujung bilahnya menyentuh pakaianku.
Fiuh... akhirnya berhasil.
Tapi ini bukan saatnya untuk merasa lega. Karena serangannya belum terhenti sepenuhnya. Pasalnya, dia terus mendorong tangannya. Dia membuatku harus menahan tangannya sekuat tenaga.
Namun tenagaku tak cukup karena sebagian kugunakan untuk menahan rasa sakit di leherku yang masih terkunci oleh tangan kirinya.
"Hihihihi... Wuahahahahahaha!!!" Tawa mengerikannya keluar seiring ujung belatinya menembus pakaianku.
Tanganku gemetar ketika mendorong balik tangannya. Aku sama sekali tak bisa menahan tangannya ini. Dia... sangat kuat!
"Kuh! Siapa... kau... se-benarnya? Kena-pa kau... la-kukan ini... pada-ku?"
Dia melebarkan seringaiannya.
"Tentu saja untuk membuatmu ingat diriku, Pangeran. Hihihi...."
Sial, tanganku tidak kuat lagi....
Jleb!
"Ahkhh...."
Tak sengaja aku melirik ke arah pintu penginapan dan melihat seseorang yang kukenal keluar dari sana. Tak lama kemudian, anak kecil keluar dari tempat yang sama. Dan mereka melihatku.
"Ti... dak.... Jangan... kema... ri...." Tanpa sadar aku mengutarakan isi pikiranku.
Tentu saja mereka berdua tidak dapat mendengar suaraku. Yang bisa mendengarku sekarang hanya....
"Hee~ Sepertinya ada kekasih dan putrimu datang untuk menolongmu. Lihatlah wajah panik mereka, sungguh indah. Hihihi...."
"Bukan, bo-doh. Jika... kau sam-pai menya-kiti mereka, akan kugorok... lehermu... se-karang juga...."
Dia kembali mengalihkan pandangannya ke arahku.
"Kau yakin, Pangeran? Kau bahkan tak bisa menarik keluar belati ini dari tubuhmu. Lalu, apa yang bisa kau lakukan dengan keadaanmu saat ini?"
Dia benar. Tangan kirinya masih belum pindah dari leherku. Selain itu, dia juga masih memegang gagang belati ini dan mendorongnya agar aku tidak terlepas darinya.
"Tidak ada, kan? Kalau begitu...."
Dia melepas cengkramannya di leherku, begitu juga dengan belati yang mulai dia tarik keluar dari dada kiriku. Tapi aku tidak akan membiarkan dia menyakiti teman-temanku.
Grep.
Terpaksa aku harus menahan tangan kanannya di gagang belati itu dengan kedua tanganku sebelum dia menariknya kembali. Meskipun jantungku berlubang, aku tidak akan mati semudah itu. Tapi kalau itu Irie, Nia, dan Marcus, mereka akan mati dalam sekejap setelah sebuah senjata menembus jantung mereka.
"Sudah kubi-lang, takkan... kubiar-kan... kau me-nyakiti... mereka...."
__ADS_1
Bukannya dia kecewa, dia malah melebarkan seringainya lagi seolah baru saja mendapatkan mangsa yang langka.
"Sepertinya aku tidak perlu susah-susah untuk membawamu pergi."
"Eh?"
Jadi tujuannya bukan membunuhku lalu membunuh mereka, tapi dia ingin membawaku?
"Selamat tidur, Pangeran."
Dia mengayunkan tangan kirinya dan menghantam keras leherku.
Tubuhku lemas. Kemudian kesadaranku ditarik dengan cepat, kembali menemui kegelapan.
——————————
Irie dan Nia terdiam di depan penginapan begitu melihat lelaki misterius telah melumpuhkan Shiki dengan mudah hingga membuatnya hilang kesadaran. Lelaki itu mengangkat tubuh Shiki lalu menyandarkannya ke bahunya, hendak membawa Shiki pergi.
Mereka berdua membeku, tak bisa melakukan apa-apa untuk menyelamatkan Shiki. Irie tak memiliki kemampuan bertarung seperti Shiki. Dia hanyalah seorang Healer. Jika Shiki saja bisa kalah dari orang itu, lalu bagaimana dengannya yang standar bertarungnya di bawah Shiki? Tentu saja kemungkinan untuknya menang cuma nol.
Sedangkan Nia, dia hanya gadis biasa yang kebetulan memiliki kemampuan diatas Healer biasa seperti Irie maupun Shiki. Dia bisa menyembuhkan apapun dengan bayaran tubuhnya. Luka gores pada Nia akan menggantikan luka penderitanya. Sebagai buktinya, luka kecil di ibu jarinya adalah bayaran dia telah menyembuhkan Shiki sebelumnya. Dengan kemampuan semacam itu, apa gunanya itu untuk melawan orang yang lebih kuat dari Shiki?
Kendati demikian, seseorang di belakang mereka menolak untuk menerima kenyataan betapa lemahnya mereka di hadapan lelaki misterius itu sampai tak bisa berbuat apapun demi menyelamatkan Shiki yang sudah tak berdaya. Dia melesat maju, mengangkat tinggi-tinggi pedangnya, lalu mengayunkannya sekuat tenaga.
Whooosh...!
Namun sayangnya, yang dia tebas hanya udara kosong. Tak ada siapapun di sana. Dia mengedarkan pandangannya mencari sosok lelaki misterius itu. Tapi hasilnya nihil.
Lelaki itu menghilang bersama Shiki yang sudah dibawa pergi.
"Sial!!" rutuknya kesal sembari membanting pedangnya hingga menancap di tanah.
Begitu kesalnya atas kegagalan untuk menolong Shiki, rahangnya mengeras sampai terdengar suara gemeretak giginya. Dia ingin sekali melakukan sesuatu untuk menebus kesalahannya pada Shiki dengan mencoba untuk mencegahnya dibawa pergi oleh orang yang tak dikenal itu.
Sementara itu, Irie yang melihat Shiki dibawa pergi begitu saja, kakinya melemas hingga tak mampu menyangga tubuhnya lagi sampai jatuh berlutut. Perasaan perih di hatinya muncul kembali seperti sebelumnya. Seperti saat dia kehilangan temannya, Yumi. Dan kini dia harus kehilangan seseorang yang baru beberapa hari ini dia anggap teman.
Tak hanya dia, Nia juga merasa demikian. Pasalnya, dia menganggap Shiki dan Irie penyelamat hidupnya. Jika dia kehilangan salah satunya, maka sama saja dia disiksa lagi seperti yang dia alami.
Keduanya sama-sama meneteskan bulir bening dari mata mereka. Mereka berdua menangis dengan alasan yang sama. Kehilangan teman.
Tapi seseorang menentangnya.
"Kita harus mencarinya! Apapun caranya, kita harus menemukannya dan membawanya kembali pulang!" Marcus mengutarakan pikirannya.
"Tapi bagaimana?! Kita bahkan tidak tahu orang itu membawanya kemana, bukan?! Itu sama saja kita seperti mencari jarum di tumpukan jerami!" sergah Irie yang mulai ditutupi keputusasaan.
"Cih! Lalu apa yang akan kita lakukan? Membiarkan orang itu membunuhnya? Dan menunggu dia mengembalikan jasadnya? Kalau itu maumu, maka aku akan tetap mencarinya walau sampai ujung dunia sekalipun, lalu membawanya pulang dengan selamat," balas Marcus.
"Kau tidak mengerti, Marcus. Sepertinya aku harus mengatakan ini padamu. Kebenaran mengenai Shiki," ujar Irie dengan kepala tertunduk dan tangan terkepal. "Maafkan aku, Shiki. Kau bisa menghukumku nanti...," gumamnya kemudian.
"Sebenarnya, meskipun orang itu membunuhnya berapa kali pun, itu akan percuma. Kalau orang misterius itu lelah dengan percobaan pembunuhannya yang gagal, dia mungkin akan mengembalikan Shiki pada kita dan mencobanya lagi lain waktu. Sampai saat itu tiba, kita hanya harus menunggunya. Kau lihat sendiri, kan, orang itu menghilang dalam sekejap mata tanpa meninggalkan jejak. Kita tidak mungkin bisa menemukannya. Yang ada nantinya kita akan dilanda keputusasaan dan keinginan untuk berhenti. Lalu tanpa sadar kita akan berusaha melupakannya. Aku tidak mau itu terjadi. Jadi kupikir kita harus menunggunya. Kalau orang itu belum mengembalikan Shiki pada kita, terpaksa kita harus mencarinya seperti yang kau katakan sebelumnya."
Marcus yang mendengar pernyataan tak terduga dari Irie, nampak ingin sekali membantahnya. Tapi saat dia mulai membuka mulutnya, dia dipaksa harus mengurungkan niatnya karena pernyataan Irie masih berlanjut.
"Kau tahu mengapa aku mengatakan semua itu? Alasannya karena...."
Keheningan menyeruak sementara Marcus menunggu lanjutan ucapan Irie. Dia sama sekali tidak bisa menebak apa yang akan dikatakan Irie selanjutnya. Jadi dia hanya diam menantinya.
__ADS_1
Irie mendongakkan kepalanya kembali, menatap serius Marcus yang terdiam membisu di tempatnya. Bibirnya pun mulai bergerak, melanjutkan kata-katanya yang sempat terhenti.
"...Shiki abadi."